It’s Okay To Be Wrong

Waktu jadi mahasiswa di Jerman, gue pernah menantang diri gue sendiri untuk melakukan sesuatu yang belum pernah gue lakukan.

Salah satunya adalah belajar bahasa baru. Pada dasarnya, gue senang belajar bahasa, karena ini subjek yang paling dekat dengan masyarakat, sekali belajar, bisa langsung dipake. Eropa telah mengajarkan gue bahwa being bilingual is normal, being tri-lingual (bisa 3 bahasa) is also normal. Maksudnya, orang-orang di Eropa sudah terbiasa menguasai bahasa lebih dari dua. Gue sebenarnya tri-lingual sih Indonesia, Inggris, Sunda. Hehe. Gue jadi tertantang untuk belajar bahasa lain selain bahasa Inggris. Alhasil gue belajar bahasa Jerman disana, karena kepake banget untuk sehari-hari disana.

Waktu lagi (more…)

Read More

Catatan Akhir Tahun 2016

Yeayy, Back again to my ritual at the end of the year!
Alhamdulilah wa syukurlah, Allah masih kasih saya nikmat sehat dan segala nikmat yang tidak terhitung jumlahnya.Tepat saya menulis tulisan ini, saya sedang dalam perjalanan bus dari Cambodia menuju perbatasan Cambodia-Vietnam. Ini kali ketiga saya tahun baru di luar negeri, and my choice is Ho Chi Minh City!

Hmm, Teknologi udah semakin canggih, menulis catatan kayak gini mungkin keliatan kuno dibanding the best nine picture di Instagram atau video satu tahun buatan Facebook yang bisa ngasih rangkuman aktivitas satu tahun, tapi buat saya nulis itu ada sensasi tersendiri, nulis menjadi ruang aktualisasi saya untuk menuangkan isi kepala saya yang penuh dengan mimpi besar 🙂

Tahun 2016 adalah tahun keberanian. Ini tahun transisi hidup saya yang penuh dengan lika liku, ibarat metamorphosis, mungkin saya sedang berubah dari kecebong kaki empat menjadi katak muda. Well, I know that tidak semua orang bisa ‘melihat’ lika liku hidup saya, sebagian besar hanya bisa melihat ‘ih enak ya bisa jalan-jalan terus.. ” hehehe. #okesipgapapa #itsokayIlikemyself #ngikut kirana

Setengah tahun pertama di 2016 itu merupakan tahun kritis saya dalam menyelesaikan tesis. Beribu cobaan yang saya hadapi selama mengerjakan tesis telah menempa saya, mulai dari keterlambatan pencairan beasiswa, (hingga detik ini belum cair, Beasiswa B*krie sangat mengecewakan! Tidak recommended untuk kamu yang S2 di dalam negeri) hingga saya harus berjuang pantang panting mencari biaya penelitian dan living cost, penelitian yang seringkali ditambah Konten nya hingga saya cukup mabok, akhirnya pembimbing memberi ACC di ujung masa studi saya dengan melakukan seminar dan sidang, belum lagi urusan tetep banget administrasi sekolah yang jelimet (maklum ‘German efficiency’ masih kebawa ke Indonesia, jadi ya agak shocking). Tapi, alhamdulilah, semua bisa dilalui dengan penuh air mata dan pengorbanan ini melahirkan gelar MSi. Alhamdulilah, tujuan saya sekolah bukan untuk gelar, tapi untuk mencapai kematangan berpikir yang lebih baik. Kalau mau bicara gelar doank sih, saya juga ga tau mau diapain tuh gelar, hahaha. Saya ingin mengucapkan terima kasih untuk semua rekan dan kolega yang udah banyak bantu saya melalui masa sulit ini, mulai dari yang bantu kasih kerjaan untuk nyambung hidup hingga bantu Fotokopiin. Saya ga mau sebut namanya satu per satu, biarkan Allah yang mencatat sebagai amal buat mereka, amiiin.

Setengah tahun berikutnya, hidup saya menjadi lebih baik, lebih tepatnya My life got better because I spent much of my time to fulfill my passion.
2016, I started my life as a Writer, menjadi penulis buku Student Traveler rasanya luar biasa!
Saya mendapat banyak kesempatan untuk Traveling around Indonesia untuk bedah buku dan berbagi kisah saya sebagai seorang Student Traveler dan Penulis. Kepuasan pribadi buat saya ketika melihat ada orang yang membaca buku saya, dan mereka termotivasi untuksekolah keluar negeri atau sekedar menginjak kan kaki di luar negeri. Kalo bahasa keinginannya sih #goals. Hehe.
Undangan berdatangan mulai dari Sd di Bekasi, SMP Internasional di Cibubur, hingga Universitas di Malang. The best thing is that I got a chance to meet new people because of their interest on my book and travel world. GA nyangka kalau pembaca buku saya bukan cuma mahasiswa, tapi anak SD, Smp, bahkan orang tua.

THE GROW OF ECOFUNOPOLY 

This year, I learned that consistency and patience are the key to build my dream. Now I’m talking about my long-life baby: ECOFUNOPOLY. 7 tahun sudah saya mengembangkan Ecofunopoly hingga detik ini. Ecofunopoly adalah produk dari zona ketidaknyaman hidup saya yang banyak mengajarkan saya tentang Kreativitas, pengorbanan, bisnis, dan inovasi. Saya berani untuk tidak mengambil kehidupan yang lebih mapan dengan tetap bersama karya yang saya bangun. Bonding yang begitu kuat ini tanpa disadari membuat diri saya seperti sekarang ini, saya merasa lebih yakin dan percaya atas apa yang sudah saya kembangkan sejak lama. Saya akan menyangkal kalau ada yang bilang Ecofunopoly itu sudah sangat sukses, buat saya, Ecofunopoly adalah sebuah perjalanan, perjalanan tiada akhir. Sukses itu relatif, tapi perjalanan sebuah karya itu endless. Alhamdulilah, tahun 2016 ini Ecofun mendapat banyak kesempatan untuk berkolaborasi bersama instansi nasional, seperti Kebun Raya Bogor (Thanks to Reza), Kementerian LH dan Kehutanan (thanks to mbak Nahdya), Taman Nasional Gunung Leser (thanks to Mas Koes), DKPP Tangkil, dan masih banyak lagi. Kolaborasi ini memberikan banyak feedback untuk Ecofunopoly ke depannya.

Momen paling membahagiakan tahun ini bersama Ecofunopoly adalah ketika kami meraih 1st Prize Winner kompetisi Indonesia Socio pressure Challenge 2016. Setelah proses yang begitu panjang, alhamdulilah tim Ecofun berhasil mendapat predikat ini, dan insya Allah kami akan mengeluarkan produk terbaru dengan tema baru! Tunggu tanggal mainnya ya 🙂
Saya juga ingin menghaturkan ucapan terima kasih kepada seluruh teman-teman, saudara, kolega yang sudah membantu kami dalam proses kompetisi. Saya percaya keberhasilan kami ini bukan capaian individu, tapi berkat dukungan dari banyak pihak.
Tahun ini cukup banyak keputusan besar yang saya ambil, salah satunya dengan mendirikan CV. Ecofun Indonesia, sebuah social enterprise yang bergerak di bidang pendidikan lingkungan dan sains, berkat bantuan mbak Renny dan mas Ojan, CV ini bisa berdiri (Thank you). Berhubung baru berdiri, belum kerasa apa-apa sih, paling merasa keren aja pas laporan pajak di kantor pajak., pegawainta bertanya, “Apa ibu ini direktur CV. Ecofun Indonesia? Mohon ttd disini”. Beuuh, mau bilang engga, tapi aktanya tertulis gitu,.. Wkwkwk. Jadi budir-budiran dulu (budir=ibu direktur), inshaAllah segera jadi beneran ya, amiiin.
Terlepas dari kisah budir dadakan, tahun ini inshaAllah I’m starting my new life as a Social Entrepreneur. Saya sadar hidup ini misteri dan tidak pernah bisa kita duga. Lulus S1, saya ingin menjadi dosen, hingga saya langsung mengambil S2, namun pada perjalanannya, saya mendapat pencerahan baru dan terinspirasi dari orang-orang yang saya temui., ternyata semua berkata lain. Meski di hati kecil saya masih ingin menjadi dosen. Saya teringat Martha Tilaar dulu ditolak menjadi seorang dosen, namun ternyata dialah menjadi pengusaha besar yang luar biasa menginspirasi. Belum kesempatan jadi dosen, eh saya malah diundang sebagai dosen tamu Universitas Pancasila, padahal saat itu saya belum lulus.

MET BANG ANDY

Kejutan lain lagi datang dari Jakarta, tiba-tiba saya dihubungi oleh Kompas TV, mereka mau meliput Ecofunopoly di Big Bang Show! Yup, TV show tentang social Entrepreneurship yang dihost oleh Andy F. Noya! Senengnya luar biasa, karena buat saya diliput oleh bang Andy itu tingkatan tertinggi peliputan media dalam bidang sosial, inget banget banyak orang yang mendoakan termasuk mama dan sahabat saya supaya bisa masuk ke Kick Andy, eh ternyata kesempatan di tahun ini, meski bukan Kick Andy, tapi tetap bersama bang Andy. Awal Desember silam, saya tapping bersama bang Andy yang super humble di studio Silver, kami bermain Ecofunopoly raksasa. Ga pernah terbayang sih bisa main Ecofunopoly bareng beliau. Hihihi. Alhamdulilah. (Fabiayyi ala irobbikuma tukazzibaan).
InshaAllah liputan nya akan hadir Hari Minggu tgl 8 Januari 2017 jam 20.00 di Kompas TV, jangan lupa nonton ya!

Student Traveler’s Life
Nah, ini nih bagian paling enak dalam hidup saya: traveling!
Selama 2016, saya berhasil menginjak kan kaki ke 6 negara baru hingga membuat saya resmi menginjak kan kaki ke 28 negara!

Januari yang dingin saya terbang menuju Hong Kong untuk mengikuti program Make A Difference, disitulah saya menginjak kan kaki di negara ke 23. Menyerupai Hot milk tea, solo traveling ke Tian Tân Buddha di tengah kabut putih, hingga mendapat teman-teman baru. Mindset saya berubah terhadap HK, dari negara belanja menjadi negara maju yang kaya akan sejarah dan budaya. Layaknya orang Portugis di masa lampau, Macau adalah negara ke 24 yang saya singgahi.

September silam datang kejutan luar biasa. Saya mendapat invitation untuk hadir di MiSK Global Forum di Riyadh, Saudi Arabia, acaranya Pangeran Arab S Bulan November, Arab Saudi menjadi negara ke-25 yang saya ingatkan, dan perjalanan inilah yang membawa saya ke tanah suci untuk umroh. Subhanallah, (Fabiayyi ala irobbikuma tukazzibaan). Selama enam hari, saya berhasil mengunjungi empat kota besar di Saudi: Riyadh, Mekkah, Madinah, dan Jeddah. Perjalanan ini lagi lagi mengingatkan saya bahwa rejeki dari Allah itu benar-benar tak terduga dan dahsyat. Cerita lengkapnya bisa dibaca di postingan berjudul “Middle East Trip” di Web ini yaaa.

TRAVELING  IS AN INVESTMENT 

Sejak jadi penulis buku Traveling, saya sudah tidak lagi melihat Traveling sebagai liburan semata. Traveling buat saya adalah investasi. Memang tidak semenjanjikan investasi fisik, tapi saya percaya Traveling itu long term benefit. Saat ini saya berada di border Cambodia-Vietnam berkat royalti buku yang saya dapatkan (plus hunting tiket murah). Saya pikir daripada royalti dipakai untuk jajan yang bs habis dalam beberapa minggu, saya pikir investasi karena kembali ke dunia Traveling akan lebih baik. Jadilah saya pergi ke Indochina untuk mencari inspirasi baru dalam menulis. Saya menjelajahi Phnom Penh, Siem Reap, Don Khon, hingga Ho Chi Minh, ternyata semua negara ini memakan pandangan baru untuk saya. Traveling lebih banyak mengajarkan saya untuk lebih mencintai daripada membenci. Saya jujur sedih banget di Indonesia, sosial media dipakai untuk perang politik dan SARA, belum lagi media media yang sudah dipenuhi kepentingan, hingga saya ga tau mana yang benar, alhasil pikiran jadi ikut keruh. Alhamdulilah Traveling akhir tahun ini lebih menyegarkan kembali otak saya, dan mengingatkan kembali untuk lebih membuka hati dan pikiran terutama dalam membangun hubungan dengan orang yang berbeda kepercayaan dan adat. Sepertinya sebagian besar orang Indonesia feel worry too much, mudah tergiring opini dan beda sedikit langsung ribut.Semoga saya tidak termakan hal seperti itu dan tetap menjadi muslim yang rahmatan Lil alamin.

Resolusi 2017?
Pertama-tama, saya ingin mengucapkan syukur Alhamdulilah Suami, Ayah, Mama, Ibu Mertua dan kedua adik saya masih diberi sehat walafiat oleh Allah SWT.

Resolusi pertama saya adalah kesehatan untuk semua orang yang saya cintai.

Resolusi kedua: Ecofunopoly bisa lebih banyak membawa dampak lebih besar lagi dan menjadi ladang amal bagi semua orang yang terlibat.

Resolusi ketiga: Mendapat kepercayaan dari Allah untuk menjadi orang tua. We keep praying for little Andik or little Annisa. Jika memang belum waktunya, semoga kami bisa lebih sabar menghadang judgement banyak orang tentang kenapa kami belum memiliki momongan. Beginilah endonesah, ada yang jomblo belum nikah nikah, yang ribut tetangga, ada yang udah nikah tapi belum punya anak eh yang mikirin sodara lapis ketujuh (ga kenal kenal amat), Lebih berharap lagi, semoga kami dijauhin dari orang macam gitu. Amiiin

Resolusi keempat : dilancarkan dalam penerbitan buku kedua STUDENT Traveler (ups bocoran deh!). InshaAllah tahun depan buku kedua saya terbit, tunggu tanggal mainnya yah!

Resolusi kelima: Memperbaiki diri dan introspeksi diri, lebih mendekatkan diri kepada Allah, lebih rajin ibadah sunnah dan rajin solawat setiap saat.

Resolusi keenam : Lebih banyak Traveling ke negara baru! Tentunya gratis donk, hihi.

Resolusi ketujuh : semoga akan ada banyak Kejutan kejutan hidup yang lebih luar biasa lagi, dan tentu atas Ridho Allah Swt dan Ridho suami. Amiiin.

Oke deh sekian Catatan Akhir Tahun 2016, saya siap bertemu 2017!

Salam Student Traveler dari Vietnam!
Vielen dank und auf wiedersehen!

Baca cerita seru saya Traveling gratis ke berbagai negara di buku Student Traveler ya! Buku tersedia di Gramedia, Gunung Agung dan toko buku terdekat. Pesan online bisa ke www.penebar-swadaya.net.

Read More

MIDDLE EAST TRIP – SAUDI ARABIA CHAPTER 2

Baca Chapter 1 disini.

JEDDAH-RIYADH ON AIR

“Wanita adalah properti domestik di Arab, sehingga mereka jarang tersenyum untuk menjaga diri dari kaum lelaki”. Itu kalimat yang saya baca di buku ‘Mekkah dan Madinah’. Wuih properti? Naik Saudia kedua rute Jeddah-Riyadh membuat saya jadi terbiasa dengan agenda tukar kursi sebelum take off. Kasian juga si abang berwajah Oriental curhat ke saya kalau dia udah switch kursi dua kali dengan orang Arab dan pindahin barang dua kali, hashtag-nya #AbangLelahDek.

Tepat di samping kanan saya ada wanita bercadar yang memangku anak laki-laki nya yang berumur sekitar 1 tahun. Si anak rewel ga mau dipangku ibunya. Anak Arab itu udah dasarnya ganteng, matanya bagus banget! Si anak itu ga sengaja nendang paha saya, akhirnya si ibunya bilang sori dengan nada dingin. Saya hanya balas senyum.   Si anak ini kayanya ingin main, akhirnya sesekali saya ajak funny-eye-contact.

Midnight Arrival at Riyadh

Sampai King Khalid International Airport, kami menunggu jemputan dari panitia MGF. Saya salut dengan kesigapan panitia-nya. Bersama koper-koper besar, kami diarahkan menuju mobil jemputan. Liassion Officer kami bicara dengan nada ribut, kami pun disuruh segera naik mobil. Saya dapat pesan dari Mama, kalau di Arab, jangan sekali-kali perempuan naik mobil duluan sebelum ada laki-laki yang kita percaya masuk mobil. Saya minta satu orang cowok untuk naik mobil duluan, akhirnya mas Joseph naik mobil yang saya naiki.

Perjalanan dari airport ke hotel membutuhkan waktu 30 menit. Kota Riyadh malam itu cukup terang benderang. Namanya ibu kota, suasana-nya modern sekali, tidak seperti Arab yang digambarkan kisah-kisah Nabi jaman dahulu. Mobil kami menyusuri jalan utama yang kanan-kirinya berdiri gedung megah dengan lampu yang terang. Ketika mobil berbelok ke satu gedung. Alhamdulilah, akhirnya bisa istirahat juga. Jam 11.30 malam bisa check-in di hotel Rosh Rayhaan by Rotana (psst, it’s 5 star-hotel J). Jangan bilang ini acara pangeran Arab kalau tiap orang dapat kamar pribadi, wow! Alhamdulilah, saya dapat kamar nomor 627 di lantai 6, jadi dapat view kota Riyadh.

Anak Ciawi Ketemu Smart Room

Mata udah berat banget saat masuk kamar. Saat chip-card saya masukan ke lubang kartu untuk menyalakan lampu. TV-pun menyala, dan disitu tertulis “Welcome, Annisa Arsyad!”. Uuuuu… saya tahan rasa kantuk sejenak dengan room tour. Pertama-tama buka kamar mandi-nya. “Uwaaaaaw…” it’s just like a 5 star-bathroom. Ada bath-tub, shower, toilet, dan washtafel, and  just for me!

dscf2686

Lalu saya pergi menuju tempat tidur, kamar ini punya banyak lampu, dan tombol on-off nya itu ada disamping tempat tidur. Ada 8 tombol, akhirnya saya pencet-pencet semua, ngecek tombol mana dan lampu mana. Kurang lebih setengah jam, saya adaptasi dengan smart room ini, sempet ngerekam video juga. Hehe.

dscf2684

Kasur-nya ngajak bobo banget

Di ujung kamar, disediakan meja yang ada pemanas air, air mineral gratis, snack (berbayar), dan teh-kopi-gula. Wuidih, teh nya Dilmah euy! Kalo di Giant, sekotak harganya 100 ribuan lebih, bisa dapet Sariwangi 10 kotak! Okay, time to rest! MiSK Global Forum – Day 1 Saudi never stop surprising me, even at breakfast. Jam 7.30 saya pergi menuju lantai Mezzazine, tempat restoran berada. Breakfastnya buffet, dan waaaaw banget! Judulnya breakfast-rasa-makan siang. Banyak banget menunya! Semua wanita diwajibkan untuk pakai Abaya hitam, semacam gamis panjang yang menutup aurat dan tidak membentuk badan. Panitia MGF menyediakan Abaya, tapi sesuai prediksi Abaya-nya kedodoran di badan saya. Untung saya bawa gamis (pinjem punya Mama). Kami dijemput oleh shuttle bus dari hotel menuju venue MiSK Global Forum di Four Seasons Hotel. Hanya perlu 5 menit perjalanan dari hotel ke Four Seasons, masih sama-sama ring 1 kota Riyadh. Semua peserta turun dari bus, panitia berabaya hitam mengarahkan peserta perempuan menuju pintu masuk khusus wanita. Cewe-cowo dipisah!

dscf2710

Dissa, mbak Reky, and Me at Ladies Entrance MGF 2016

Hall-nya super besar dan bisa menampung ribuan orang. Seat peserta dibagia dua zona dan dibatasi oleh pagar putih. Yang bikin saya amazed dari acara ini, baru aja nyampe, kita udah disuguhi aneka jenis snack dan minuman. Kalau kayak gini mah kita kayak sapi digemukin, makan terus! Dibalik panggung utama, disediakan sofa-sofa nyaman yang didepannya ada layar besar yang menampilkan panggung utama MiSK. Disitu peserta bisa duduk santai sambil menikmati snack, jika tidak mau duduk di kusi ruang utama.

dscf2737

Ladies Zone

Di setiap kursi, ada satu goodie bag putih berlogo MiSK. Saya, mbak Reky, dan Disssa duduk manis di baris ketiga dari depan. Lalu, kami membuka isi goodie bag. *excited* Pertama ada notebook, lalu ada flash disk, dan ada satu kotak putih, saat saya buka, eh apa nih? Benda berbentuk persegi warna silver metalik, eh iPhone? Saat saya keluarkan benda itu dari kotaknya, oh ternyata Power Bank, wkwkwk. Asli bentuknya mirip iPhone loh!

dscf2717

Main Stage

Ada Bill Gates!

Jam 9 pagi, MiSK Global Forum resmi dibuka dengan Welcoming Video dari Bill Gates. Om Bill meminta maaf karena ga bisa hadir ke MiSK Forum (sayang sekaliii, terakhir saya lihat Bill Gates itu di kartun the Simpsons, hehe), dan dia nyebut project-nya dia di Indonesia bersama Microsoft! Sesi dilanjutkan ke Panel Sesion, dua wanita Arab dan dua pria Arab maju, mereka presentasi secara bergantian. Jadi, Arab Saudi ini sedang mengusung “Saudi Vision 2030” secara besar-besaran. Di bawah kerajaan Arab, negara ini mempromosikan visi mereka sebagai “heart of the Arab and Islamic World, the investment powerhouse, and the hub connecting three continents”. ( lebih lanjut bisa dilihat vision2030.gov.sa).

Kalau dari artikel yang pernah saya baca sih, si Pangeran Arab ini ingin mengubah paradigm negara Arab yang selama ini fokus ke minyak bumi menjadi negara yang mengandalkan SDM yang kuat, khususnya anak muda. Empat orang Arab di depan ini bisa dibilang figur anak muda yang sukses sebagai changemaker,innovator dan entrepreneur. Saya duga sih, forum ini juga ingin menunjukkan ke semua orang tentang isu wanita di Arab. Wanita di Arab kan sering dianggap terkekang dan hak-nya lebih rendah dari laki-laki, tapi sebenarnya engga gitu-gitu amat. Ada satu wanita Arab yang jadi panelis bercerita kalau dia bisa sukses membangun rumah tangga, dan juga bisnisnya di bidang pendidikan.

Awalnya, acara berlangsung formal dan khidmat, terus makin kesini saya rada keganggu karena banyak peserta wanita yang lalu lalang sambil bawa snack atau minuman. Kok acara formal gini bisa wara wiri ya? Tapi sepertinya sih wara wiri yang saya lihat terlihat biasa disini. Sesi berikutnya lebih cetar lagi, pembicaranya CEO Siemens! Saya jadi ingat dulu saya pernah ke pabrik pertama Siemens di Goslar. I saw how Siemens started the company from a small factory. Btw, modal banget ya ini acara bisa ngundang beragam world top executive.

Mengamati Kerudung Wanita Arab

Meski pembicara yang hadir cetar membahana, badan saya agak lemes, baru tidur 3 jam plus capeknya perjalanan kemarin mungkin masih nempel di badan. Akhirnya saya bangkit dari kursi untuk cari kopi ke belakang panggung. Di belakang panggung ini ada space yang cukup luas untuk duduk di sofa berbentuk lingkaran dan di depannya ada screen besar yang menayangkan pembicara di panggung utama, dipojokan ruangan ada buffet kue-kue manis, dan di sebelahnya ada mesin kopi. Nah, itu yang kumau! Then, I ordered Hot Latte.

Sambil menyeruput latte panas, saya mengamati peserta wanita yang sedang asik menikmati snack time-nya, 70% dari peserta di forum ini orang Arab. Saya amati wajah mereka luar biasa cantik, nearly perfect. Kulit putih mulus terawat, mata indah, hidung super mancung, bibir merah. Ya ga kaget juga sih, kalau laki-laki disini dikenal dengan nafsu-nya yang gede, wong wanitanya cakep-cakep begini, hehe. Jadi, syariat Islam sangat dijunjung disini. Tapi, uniknya, gaya berpakaian wanita Arab juga beragam, khususnya gaya berkerudung. Sebagian dari mereka pakai niqab (cadar) sehingga semua tertutupi kecuali mata dan telapak tangan, sebagian lagi pakai abaya dengan gaya berkerudung orang Indonesia (menampakkan wajah dan telapak tangan), dan ajaibnya, ada sebagian wanita yang memakai abaya tapi kerudung-nya menampakan jambul rambutnya. Kok bisa beda gini ya? Kata mbak Reky, sejak tahun lalu, pemerintah Arab konon memperbolehkan gaya kerudung ‘jambul’ begini, konon mereka lebih ‘longgar’. Hmm, kenapa yah?

Setelah makan siang, sesi dilanjutkan ke parallel session, jadi ada beberapa sesi di ruangan berbeda, dan kita bisa milih. Saya pergi ke sesi “Better Luck Next Time : Why Concepts Fail” karena pembicaranya itu Global Vice President Youth Venture ASHOKA! I’m curious to meet her, since I’ve been awarded ASHOKA Young Changemaker in 2009. Sesi yang saya ikuti ini ternyata tidak se-serius di ruang utama. Kursi-kursi dibuat seperti lingkaran, sehingga terasa lebih akrab. Ms. Nancy dan satu pembicara lainnya berbagi cerita soal pengalaman hidupnya yang tentu tidak lepas dari kegagalan. Sambil mendengar cerita mereka, saya lihat peserta-nya mostly orang Arab semua, yang cowo berpakaian terusan putih dan sorban merah putih, dan yang cewe pakai Abaya hitam semua. Well, jarang-jarang juga sih, hampir ga pernah ikut forum yang peserta-nya pakai pakaian seperti ini. Hehe. Sesi selesai saya sempatkan diri untuk kenalan dengan Ms. Nancy dan bertukar kartu nama. J

Ketemu Orang Mesir Pertama yang Mendaki Everest

Sesi yang saya pilih berikutnya engga kalah seru, kali ini terkait dengan Dunia saya: Traveling. I joined “Expedition to Success: In Conversation with the Explorer”. Pembicaranya adalah Omar Samra, dia adalah Founder Wildguanabana, sebuah Adventure Travel Company. Belum berhenti disitu, pasti yang baca profil dia akan ternganga deh. Omar Samra ini orang Mesir pertama yang pernah mendaki Puncak Everest, dan dia pernah menjelajahi kutub Utara dan Selatan. Wow! Dengar kata Everest, kok jadi inget film Everest yang nyeremin itu ya? Nontonnya aja Tegang banget, gimana naik beneran ya?

Eh, belum selesai, perusahaan dia merupakan perusahaan pertama di Timur Tengah dan Africa yang Carbon Neutral! Personal achievement dia lebih cetar lagi: masuk sebagai 50 Powerful Arabs Bussinessmen di salah satu majalah besar dan Arabia Business’s 100 Most Powerful Arabs Under 40s. Omar mulai berbagi cerita seputar pengalaman hidup-nya sebagai seorang professional worker yang sukses, kemudian dia tinggalkan stable job-nya untuk mengejar mimpinya. Mulailah dia mengembara dengan mendaki gunung-gunung tertinggi di dunia, salah satunya Everest. Saya begitu hanyut dengar ceritanya. Kemudian, dia membuka bisnis travel agent company yang bisa sekaligus menyalurkan mimpinya. FYI, dia juga sudah berkeluarga dan memiliki anak, namun istrinya baru aja meninggal dunia. L dscf2745 Selesai dia sharing, pertanyaan berdatangan berjubel dari peserta, mulai dari bagaimana menghandle itu semuanya, sampai ‘what’s next?’. Omar menjawab pertanyaannya satu-satu dengan kalem. Satu quote bagus dari dia adalah we are just a tiny part in this universe, 99,99% hidup kita ini dikendalikan oleh alam semesta, dan kita hanya bisa mengendalikan hidup kita 0,00001% aja, jadi kita tidak perlu panik pada hal-hal kecil, dan terus berusaha. Oh, bang Omar, I’m your new fan! Setelah sesi beres, saya samperin bang Omar ini, mau minta foto bareng. Alhamdulilah, bisa ngobrol sedikit bareng dia. He is sooooo humble! Udah pintar dan sukses, humble lagi. Buat yang ga humble, duh kelaut aja deh! Hehe. Sempet sharing soal Student Traveler dan pengalaman trip saya ke 25 negara ke bang Omar, then he asked me which country that interests me most. Germany! For sure. Hehe.

dscf2746

Bang Omar Tinggi bangett !

Rumpi Cantik bareng Wanita Arab di Toilet

Karena sudah waktunya solat Zuhur, saya pergi menuju musola. Ada satu ruangan yang disediakan untuk solat, pas saya ke musola, kok ga ada tempat wudhu-nya ya? Alhasil saya ke Toilet. Di area washtafel, ada dua wanita Arab yang lagi benerin make up-nya. Saya rencana mau wudhu di washtafel, kok rada sungkan ya? Masa’ di negara Arab ga ada keran khusus wudhu? Saya beranikan diri nanya ke wanita Arab disitu.

“Excuse me, do you know where I can do.. wuudhu?” Tanya saya sambil praktekan cara berwudhu. Takutnya spelling wudhu saya salah, hehe,

“You can do here.. “ jawab si wanita itu senyum sambil nunjuk washtafel. “Oh, so it’s allowed to take wudhu here?” Tanya saya lagi ragu.

“Sure! No problem! Sorry we don’t have a proper place to do wudhu in here.. I travel to Malaysia and other Muslim countries, they provide a place to do wudhu..” jawab dia lagi.

Hehehe, saya jawab gapapa, tapi kok aneh juga ya ini negara dimana Islam turun pertama kali, tapi engga ada tempat wudhu di Four Seasons Five Star Hotel, tepat di tengah ibu kota. Yasudahlah, saya sudah biasa wudhu di washtafel. Alhasil kami berkenalan, ternyata dia peserta MiSK Global Forum juga, namanya Anud. Dia kerja di kantor pemerintahan Riyadh. Anud ini cantiknya superrrr deh! Dia ga pakai cadar, tapi pakai kerudung tertutup. Saya cerita kalau ini pertama kalinya saya ke Arab Saudi, and I’m super excited. Baiknya, dia menawarkan diri untuk menjadi guide kalau misal saya mau pergi ke suatu tempat di Riyadh. But, unfortunately, the schedule is really tight. Duh, padahal pengen banget muter-muter Riyadh.

Karena Anud begitu ramah, saya beranikan diri nanya apakah wanita disini benar-benar engga boleh keluar sendiri kecuali ditemani mahramnya. Saya baca di internet, bahkan wanita berdua pergi pun dilarang. Selama naik kendaraan di Riyadh, saya emang ga pernah liat wanita jalan sendiri juga sih. Jadi penasaran banget. Dia jawab santai, “engga juga sih”. Intinya, menurut dia boleh-boleh aja pergi sendiri. Hmm gitu ya? Jujur saya penasaran banget soal hak-hak wanita di Arab.

Awwww, Meet The Legend of Social Entreprise! Guess Who?

Beres solat Zuhur dan Jamak Ashar, saya dikirimi WA dari mbak Reky, “mbak dimana? Sekarang Prof. XX loh.. ”. Saya buru-buru pergi menuju main Stage. He is the one that I really want to meet!

Masuk ruang duduk wanita, tampak di panggung, seorang pria paruh baya berpakaian khas Asia Selatan, celana dan atasan hijau lumut dan rompi krem, rambut beruban, Yes, it’s Professor Muhammad Yunus, Noble Peace Prize Winner for his innovation, Grameen Bank, Bank untuk orang Miskin di Bangladesh! Berkah banget bisa melihat beliau langsung dan mendengar presentasinya dalam topic “Unpacking Global Citizenship Decision Making and Challenges of the Globalized World”. Buat saya yang sedang menggeluti dunia Social Entreprise, dia itu bagai the Legend of Social Entreprise! Dia memulai cerita bagaimana dia mengkritik bank-bank konvensional yang dia anggap aneh, karena meminjamkan uang kepada orang yang sudah punya uang, tapi bukan kepada orang yang tidak punya uang. Banker konvensional menganggap di Prof. Yunus ini aneh, karena dia meminjamkan uang kepada orang yang tidak bisa ngasih jaminan. Akhirnya dia membangun Grameen Bank di Bangladesh untuk poor people. Bank pun berkembang hingga menjadi national bank dengan 9 juta nasabah di Bangladesh.

Luar biasanya lagi, beliau pun ngasih pinjaman ke pengemis (bayangin, pengemis itu nasabah di Grameen Bank!), tapi dengan syarat dia harus bawa product untuk dijual saat mengemis, lalu dalam beberapa tahun pengemis itu sudah engga lagi menjadi pengemis, tapi mereka berubah jadi door-to-door salesmen. Waaaw. Denger cerita ini jadi sadar kenapa beliau bisa dapat penghargaan sekelas Noble. Ada beberapa quote dari beliau yang benar-benar menginspirasi saya.

dscf2748

“Human being wasn’t born to work for somebody else.”

“I’m not a Job Seeker, I’m a Job Creator. That’s what I am.”

“Job is a sacrifice of our creative power.Job is not a destination.”

“We didn’t came to the planet, and said ‘where is my job?’”

“You decide what is your destination, what is your purpose of life.”

“Poverty is not in the poor. Poverty is in the system that we built in.”

“Charity money has one life. Social business money has endless life.”

“Three Megapower: Youth,Technology, Social Business.”

Prof. Muhammad Yunus, Noble Peace Prize Winner

(Speech Prof. Yunus bisa dilihat di link ini ya, dijamin inspiring!)

Prof. Yunus’s speech boosted up my mood that day.

Setelah beliau meninggalkan panggung, saya, Dissa, dan mbak Reky langsung pergi ke backstage untuk menemui beliau. Serunya di acara ini, kita boleh nyamperin pembicara langsung di backstage loh! Hihi. Backstage sudah penuh orang-orang yang antri untuk ketemu Prof. Yunus. Dengan sabar kami bertiga menunggu. OMG, Prof. Yunus is just 3 meters from me! Setelah beliau beres diliput media, kami langsung menghampiri beliau. “Hello Professor Yunus.. my name is Annisa from Ecofun Indonesia” sapa saya sambil memberikan name card. Beliau memberikan kartu nama-nya ke kami bertiga (Uhuy!). Karena antrian beliau panjang banget, kami langsung berfoto secara bergantian. Untung ada Michael, dia sukarela motoin saya dengan Prof. Yunus. Thanks Michael!

dscf2752

Wandering Around Four Seasons Hotel

Meski masih ada sesi berjalan, saya memutuskan untuk jalan-jalan sekitar Four Season Hotel. Kami hanya punya dua hari disini, takutnya besok engga bisa muter-muter, akhirnya saya wandering around sendiri. Eh, ternyata saya ketemu si Darun di dekat entrance, ternyata dia pengen jalan-jalan juga. Let’s go! Menara Four Season Hotel ini menjadi salah satu landmark utama kota Riyadh. Bentuk tower itu pipih, dan bagian atasnya bolong, mirip seperti pembuka tutup botol. Kalau malam hari, justru mirip Mordor-nya Lord of The Rings, haha. And, I wish to have one single photo with it! Saya dan Darun berfoto di depan hotel. Sedih juga ya, perempuan terbatas untuk kemana-mana, hiks.

dscf2766

Four Seasons Hotel, Landmark of Riyadh (mirip Mordor kan?hehe)

Lalu, saya masuk kembali ke dalam hotel, dan nyari taman bergaya Arab di dalam hotel, sempet lihat di website-nya (Maklum lulusan Arsitektur Lanskap, pasti bawaannya pengen liat taman! Hehe). Pas lagi nyari tamannya, eh ada mbak Ajeng dan mas Zaky lagi duduk di dekat lobi utama hotel. Ternyata mereka mau balik duluan ke hotel untuk istirahat, mbak Ajeng kayanya kecapean banget. Alhasil kami ngobrol-ngobrol dulu disitu. Mbak Ajeng awalnya ngajakin pulang bareng naik uber, sebenarnya saya capek buanget sih dan pengen istirahat. Tapi barang-barang saya masih tertinggal di ruang acara. .

dscf2784

With Start Up CEOs Couple, mbak Ajeng (Hijup.com) & mas Zaky (Bukalapak.com). Orang sebelah saya lagi hits dengan iklan ‘Sakit Jiwa’-nya Bukalapak di TV! Hehe

Mereka pun pergi duluan, kami lanjut jalan-jalan. EH ternyata taman yang saya cari engga ada, disana hanya ada pohon-pohon palem palsu yang dijejer, jadi terlihat seperti taman. Walah.

dscf2787

Batang Pohon boongan ternyata..

Jam 6.30 sore, kami dijemput oleh bus untuk kembali ke hotel. Jam 7.30, kami dijemput lagi untuk dinner. To be honest, I’m very exhausted that evening. Pengen istirahat di hotel, tapi kok sayang ya kalo ga ikutan. Malam ini kita akan dibawa ke satu tempat untuk cultural excursion sekaligus dinner, eh tapi kita engga diberi tahu akan dibawa kemana, dan ternyata kita dibawa ke tempat yang tidak terduga, suatu tempat bernama … To be continued.  

Read More