9 Must-Visit-Spots : My Crazy Rich Asian Trip in Singapore

Singapura udah bukan lagi negara yang asing buat kebanyakan orang Indonesia, termasuk gue.  Negara kecil yang gue injak pertama kali waktu jaman SD, kemudian negara ini juga sempat membuat gue menang lomba nulis (ceritanya bisa dibaca disini ), sampe menjadi saksi bisu backpacking kere  bersama sahabat gue. Hehehe. Negara ini entah kenapa mampu menyihir gue lagi untuk balik kesana, padahal gue sempet males ke Singapore, kemudiaaann… gue nonton film Crazy Rich Asian dan lanjut baca novelnya, tiba-tiba gue (more…)

Read More

20 – 30 : In Between

Rasanya kayak baru kemarin gue menginjakkan diri ke umur gue yang ke 20. well I know not-so-yesterday, but not-so-10-years-ago.. rada lebay sih kalau bilang baru kemarin..

Tapiii, gila men, 10 tahun sudah berlalu.. gue keinget waktu gue masuk ke umur 20 tahun.. gue yang begitu enerjik ngelakuin apapun, punya segudang mimpi, suka kesana kesini, dan siap melihat dunia, pokoknya unstoppable! Yeah, that time was the highest energy I had in me.

Gue mengawali hidup gue sebagai twenty something dengan mimpi yang tergenggam erat di tangan gue. Gue gak peduli orang ngomong apa, It’s all ABOUT ME! (egois kan? Hehe)

Betapa excitednya gue menapaki umur 20, karena saat itu gue tahu, umur 20 itu masa terbaik untuk ngelakuin apa aja yang lo mau.. lo sah secara orang dewasa, dan lo sah buat apa aja, itu yang gue pikirin. (lo mikir gitu juga gak?)

Buat gue, umur 20 itu sangat sangat amat krusial, lo akan mutusin pilihan hidup setelah kuliah (kerja, lanjut sekolah, usaha atau ngapain kek yang penting tetep solat), lo akan mutusin untuk menikah (gue dulu punya target menikah umur 23 tahun, meski meleset 3 tahun, tapi gue sadar ternyata menikah itu bukan perkara target-targetan, lo mo jadi manten atau jadi sales sih Nis?), lo akan menemukan siapa aja orang yang akan tetap stay dalam hidup lo (well, I know that I can’t make everyone happy), lo akan mengenal  lebih dekat dengan uang (nah ini seru banget buat dikupas), dan lo akan bisa meluruskan tujuan hidup lo ke depan. Bahkan to be honest, I don’t even care about money, NOT YET till I reach 27 years old. Hahaha.

Pesan Papa Kiyosaki kan gini “In your 20s, Work to Learn, not to Earn

Soooo, gue mutusin untuk menghabiskan 10 tahun dalam fase umur 20an itu dengan mengejar mimpi yang gue inginkan.. travel the world, publish a book (even I published two books), appeared on TV and newspaper (my first media appearance was in SINDO Newspaper!), win international award, run a business,  study abroad, buy a piano dan main sepuasnya, I wanna live my life with what I want to see, what I want buy, what I want to do..

And yes, I did it. Meski gak semua mimpi or jajaran dream list tercapai, but I’m glad I made some of it. Awal nginjak umur 20 tahun, gue ngira hidup ini kayak garis linier.. lo menulis mimpi, lo berusaha kerja keras dan lo bakal dapetin itu semua. Nope, that’s not how life works Kecuali lo keluarga Cendana dan siap sama tanggungan akhirat untuk berbuat gak bener

Gue bisa dapetin apa yang gue impikan, BUT.. it’s all take blood and sweat, I had to go through rejection, failure, or even mental breakdown. Gue sadar di antara berusaha dan hasil yang diinginkan, ada sebuah variabel yang benar-benar di luar kontrol gue sendiri. In the end, I can’t always get what I want.

That’s how I learned about LIFE in my twenties.

Dulu gue bermimpi, gue ingin masuk universitas negeri, dapat IPK yang bagus dan pengalaman layak yang bisa mengantarkan gue mendapat beasiswa Master dan Doktoral, lalu saat lagi sekolah gue menikah dengan lelaki pilihan gue, lalu ngelahirin anak di luar negeri, terus ballik ke Indonesia, bisa kembali ngajar jadi dosen, hidup cukup, suami satu kerja mapan, anak sehat sehat dan pinter (kalau bisa ngikutin pola yang sama kayak gue), rumah sederhana tapi ada taman belakang buat buat duduk ngopi-ngopi, dan happily ever after.

That’s my Princess story.

Itu definisi gue hidup gue yang lurus dan bahagia.

Kalau lo tau perjalanan hidup gue, pasti lo bilang “lah yes bukannya kesampean ya?”

Yeah, I know I made it come true, meski  ada yang meleset juga.

Cara gue nulis mimpi di atas itu, seolah olah gue ini mobil di jalan tol, berjalan mulus tanpa hambatan (tol nya pake tol jerman ya, kalau tol indo kurang cocok jadi perumpamaan). Gak ada jalan bolong, lo bisa high speed boleh, low speed boleh, estimasi waktu sampai bisa diprediksi, pokoknya alus deh kayak kaki bayi, adem ayem kayak ubin musola.

Ternyata gue gak dapet jalan Tol, tapi jalan arteri Kalimalang Bekasi (ni ada beritanya https://news.okezone.com/read/2019/02/17/338/2019068/jalan-arteri-kalimalang-bekasi-rusak-parah-dipenuhi-lubang-seperti-kolam)

Apa yang gue impikan itu hanyalah impian putri dongeng.. gak ada yang mulus, semua berkelok kelok,ada lubang, ada mogok, ada yang malak.

Iya sih, gue dapet beasiswa keluar negeri, tapi setelah gue ditolak lebih dari 10 lamaran beasiswa.

Iya sih, gue bisa menang award, tapi setelah berkali kali gagal kompetisi, (bahkan sedihnya gue pernah ikut lomba, dimana gue pernah dikontak kalau gue masuk finalis dan diundang ke acara penganugerahan, dan finalis akan diumumkan saat pengumuman pemenang di panggung, dan saat gue dateng, nama gue sama sekali gak disebut sebagai finalis. Kayaknya panitia nya lagi iseng bikin prank ke gue)

Iya sih, gue bisa merit dengan lelaki pilihan gue, which I love him sooo much. Tapi setelah bertahun-tahun jomblo, sempet mikir kenapa gue gak laku-laku dari jutaan lelaki Indonesia, bahkan sempet dipepet ama akhi akhi psycho (serius horror banget ini), belum lagi family pressure yang selalu nanyain mana pacar gue, kapan nikah, plus dengan paket banding-bandingin dengan sepupu gue yang sudah pada menikah duluan, eh ternyata jodoh gue lagi sekolah di Jerman. Wak waaaww.. Untung perjalanan gue ke Jerman dibayai ama Erasmus (thanks to Erasmus for sponsoring for my true love finding mission)

Dan hal hal lain yang belum tersampaikan.. my husband and I are still struggling to have a baby (I never talk about this before on my blog) sadly some people think that we don’t wanna have a baby because they just see that I always travel for fun and never think about the future of my family, which that makes feel sucks (that’s why I never talk to anyone about this except my very close trusted friends..

And, my dream to be a lecture.. when I can teach students and run meaningful research, yang ada beres S2 malah jadi pengangguran, cari kerja idealis susah, sampe akhirnya mutusin kerja apa aja yang penting menghasilkan uang dan ngerepotin ortu. I’ve been passed through that time. I always remember where I work at campus and study master at the same time. I came back at home at 10 pm, even more than that, and the next day I have to take a class at 8 am in the morning. Seems normal, but I need to take 2 hours from my home to campus one way. Saat itu rasanya 1 hari itu kayak 40 jam.

Cita cita terpendam gue untuk jadi dosen masih berada di angan-angan gue. Ketika gue tau gue sulit untuk jadi dosen setelah beres sekolah, gue banting setir jadi wirausaha, tanpa modal usaha dan tanpa ilmu bisnis yang mumpuni. Keputusan hidup macam apa ini??? (zoom in zoom out mata kayak sinetron)

Lebih lucu lagi, ternyata gue sebenarnya udah jalan bikin usaha bersama game kesayangan gue, tapi gue sendiri gak paham apa itu bisnis. Jadilah gue menjalani usaha pake teori yang gue punya, lo produksi barang, tambah nilai lebih dari biaya produksi, terus lo jual deh. I adopted that concept for couple of years, after I began to learn what actual business is, dari mana? Dari business model canvas!

Serius this is one of the funniest thing in my life. Ketika jutaan anak muda terjun ke dunia usaha, dengan business model yang cetar, dan keyakinan diri bahwa they are the future of the world.

Gue sendiri terjun ke dunia usaha karena, simple, gue punya produk yang gue kembangkan bertahun-tahun dan gue sepertinya emang gak jodoh ama dunia kerja, gak dapet mulu. Hahaha.

Masuk ke dunia usaha, wew.. it’s like a hunger game arena, lo meleng dikit, langsung ditusuk ama lawan. Hahaha.. engga dink.. dunia usaha itu asik kok, “asik” ya. Lupa dikasi kutip.

Kalau orang bilang “enak ya usaha, atur waktu sendiri, bebas kemana mana, tinggal nyuruh nyuruh, trus duit banyak..”

Entah ni orang kayanya pake referensi orang sukses di MLM ya.. cuma yang bagus-bagusnya aja.

Dari pelajaran gue sih, usaha itu enak, kalau udah tau pahitnya, pahitnya gak Cuma sekali, tapi berkali kali, dan enaknya ya selama bisa menggenggam manis pahitnya itu. Hehehe.

Gue mengaku kalau gue masih early stage banget di dunia usaha. Esensi utama menjadi wirausaha itu ya belajar gak abis-abis. Gue belajar jadi customer service, hingga berani mindahin tugas ini ke orang lain. Gue belajar jadi pengrajin daur ulang, hingga gue coba kasih kerjaan ini ke ibu ibu yang membutuhkan uang, gue merangkap hampir banyak pekerjaan untuk usaha gue, CEO hanyalah titel, kerjaan ya palugada. Hahaha.

Hal yang gue suka dari dunia wirausaha itu mendapat banyak mentor. Gue sadar di dunia ini, lo gak bisa sendiri, bisnis juga gak bisa sendiri. Gue beruntung banget bisa menemukan banyak mentor-mentor yang ngajarin gue tentang arti hidup.

 

Yes, hidup ini ternyata keras men. Hidup ini seperti grafik saham, bisa jatuh sejatuh-nya, bisa naik setinggi-tingginya, kita gak tau kapan datang dan kapan pergi.

But hey, that’s a life, right?

Gue tau apa mimpi-mimpi gue, cara eksekusinya, tapi ternyata gue gak bisa tau hasilnya apa. And that’s the lesson I got from being 20s.

Refleksi lagi dari kata Papa Kiyosaki, you work to learn, not earn. Hidup ini gak Cuma soal angka.

Tanggal berapa lo merit, berapa gaji yang lo dapet, berapa banyak teman yang lo punya. It’s not a number. Number will always be there, dan ternyata gue belajar berproses.. berproses seperti adanya manusia yang sebenarnya gak bisa apa-apa, gue sadar ternyata gue bukan superhero yang bisa ngelakuin apa aja, dan bisa mewujudkan segalanya dengan tingkat presisi yang tepat.

10 tahun gue belajar bagaimana gue bisa bermimpi, bagaimana gue bisa achieve, bagaimana gue gagal, dan bagaimana gue bisa move on. Semua itu proses. Bahkan sampai detik ini perlu proses.

PROSES. PROSES. PROSES.

Semua gak akan bisa gue capai kalau engga melalui serangkaian proses. I’m glad I spent my whole 20s taking so many process, whether it ‘s successful  or failure. Both taught me a good lesson.

Di beberapa momen, gue bersyukur banget gue mendapat kegagalan, di umur yang muda ini. Cara gue memandang kegagalan itu jauh berbeda dengan sekarang. Beda banget. Dan ini yang menjadi kebanggaan diri gue menjadi orang dewasa.

Gue bersyukur banget kalau ternyata hari hari yang telah gue lewati selama 10 tahun terakhir telah gue habiskan ini lebih banyak untuk experience statisfaction than material satisfaction.

I’m glad, so glad. Gue mungkin menyesal jadi kere, tapi gue lebih nyesel lagi kalau gue gak punya banyak pengalaman, apalagi traveling.

Gue bersyukur selama 10 tahun terakhir, I’ve been traveled around the world (most of them are free).

Gue keliling Eropa, backpacking, solo travel, magang ke Amerika, keliling Indochina sama suami, pergi ke Pakistan dua kali (trip terakhir bikin jantung mo copot), tiga kali ke Australia dalam misi belajar dan bisnis, bawa Skripsi ke Korea, ke Arab Saudi bareng bos bos start-up.

I am so much blessed that I had a chance to see the world, lebih tepatnya keliling dunia di usia muda, di luar kemampuan finansial gue, karena banyak orang baik di luar sana yang ngasi gue kesempatan ini.

Kalau mau pake itungan angka, maybe I have to spend almost a billion rupiah to travel around 33 countries. I know I couldn’t afford it, but what is life without a surprise? I even made it without those bunch of money on my bank account!

Sebagai wanita yang lahir dari keluarga kelas menengah dan still try to make a living, travel is seen as tertiary needs. Gue senang bisa ngewujudin tanpa harus merepotkan orang tua dan tanpa harus ngutang. Bersama tulisan ini, gue ingin menyampaikan rasa terima kasih untuk semua sponsor trip gue! Gue doakan kalian masuk surga!

I know that my journey is not ended here, so have to continue my amazing life as a Student Traveler.

Gue jadi curiga, apa jangan-jangan gue belum move on ya jadi anak umur 20an, hehehe… kok rasanya kayak ngulik ngulik masa lalu terus belum move on. :p

Well, waktu gak bisa kita ulang, tapi gak bisa kita stop juga. Ini yang gue takutkan, gue bisa aja takut gak punya uang, tapi gue lebih takut sama gak punya waktu, atau melewati waktu gitu aja.

10 tahun terakhir ini gue sadar betapa berharganya waktu. Untuk apa?

Untuk mengetahui hal yang gue gak tahu, buat gue hal yang paling ngeri itu ketika lo gak tahu apa aja yang berguna buat hidup lo kelak!

Gue baru belajar bisnis di akhir umur 20an, while some people start at early 20s.

Gue baru belajar investasi di akhir umur 20an, while Warren Buffet started when he was 12 years old.

2 tahun terakhir, gue tercerahkan sama dunia Investasi. Gue akui gue masih snob banget, baru mengenal yang namanya reksadana, saham, emas, dll… I wish that I could know earlier. Then, my life would be different. Dan kemungkinan besar, dunia ini yang akan jadi prioritas gue saat gue masuk ke kepala tiga. Gue sadar banget kalau selama ini mindset gue tidak tepat, gue bikin keputusan yang salah, dan lain lain. Gue stop pegang mindset lama gue, dan pergi menuju mindset baru.

Belajar investasi ini ngajarin gue lebih dari sekedar duit. Even gue sadar, kalau entrepreneurial world itu gak Cuma soal duit (yang masih merasa ini non-sense, it’s okay, gue juga pernah kok kayak gitu,, hehe).

Catatan ini sebenarnya gue buat untuk nostalgia kembali masa-masa 20an gue, gue berharap diri gue yang nanti menginjak umur 40, 50, atau 80.. (bila Allah memberi umur) gue bisa buka notes ini dan senyum senyum sendiri. (moga moga gue versi tua gak serius serius amat ya, hihihi).

Catatan ini juga gak mau lagi gue buat terlalu klise, terlalu goal oriented. Biasanya kan kalo nulis isinya catatan catatan keberhasilan, llist apa aja yang udah tercapai. Ke depannya, gue ingin menulis lebih banyak soal proses, dibanding hasil. Gue tetap bermimpi, tetap punya goal, tapi gue akan sharing banyak prosesnya dibanding achievementnya. Lagi lagi soal proses, gue dapet pencerahan baru dari seorang investor bernama GaryVee, he enlightened me about harsh life fact, yang kadang kita gak mau denger, kita gak mau terima.

Makin dewasa, gue ingin gue semakin jujur terhadap diri gue sendiri dan menghadapi realita tanpa harus mengubur mimpi. Karena selama nafas masih berhembus, selama otak kaki tangan gue masih ada, gue selalu puny acara untuk mencoba lagi. Sepahit apapun masalah yang gue hadapi, gue harus jalani, dan pastinya mengambil semua konsekuensi hidup yang gue pilih kelak. Because I am the only person who can take responsibility of my own action. Gue gak mau bikin bikin resolusi aneh aneh untuk masa depan gue, because that thing is just sooo cliché. Hahaha.

Sebenarnya ada banyak banget sih kenangan yang ingin gue flashback dalam tulisan ini, tapi biarkan saja gue kenang dalam diri gue, dan tulisan mungkin bisa menjadi representasi catatan hidup yang kelak ingin gue kenang nanti nanti..

Last but not least,I was so much inspired by many things I’ve seen. I was fascinated by movies, public figures, books, etc. I can give you some examples: Habis demam Bohemian Rhapsody, gue ngefans banget sama Brian May, a legendary Queen guitarist, but he got his PhD in Astrophysics, how cool is that? Ada lagi, Yalitza Aparicio, seorang aktris dari Meksiko yang masuk nominasi Oscar berkat peran utamanya di film yang amat ciamik ROMA buatan Alfonso Cuaron, FYI, she’s not even an actress! She is a teacher, and ROMA is her first movie. I love to see a lot of people who cross boundaries, see the outer space as their limit, yang gak pernah dipikir banyak orang bakal terjadi.

So, I have one wish that might be crazy to accomplish, but I think I want to do something that I’ve never done before, even I have a skill to do it, but maybe someday when the time is right. Maybe write a movie script, be a Zumba instructor, or maybe direct a movie?

This might be my last post I write during my twenties..

Dear Life,

 

I just want to let you know that I’m leaving my 20s soon…

Thank you for all life lessons..

Now I am ready to be a new thirty..

I won’t ask you “Please be nice..” because I know life isn’t always nice,

But please make me stronger, make me better.

 

Regards,

Annisa

 

 

 

 

 

Read More

Refleksi Akhir 20an : Andai Dari Dulu.. (Chapter 4 – End)

8. Ajaran Dogmatik

Disclaimer: This might be a sensitive topic for some people. But I do believe my blog readers are well-educated enough to respect different values that other people believe in.

(baca chapter 3 disini)

Gue terlahir dari keluarga yang cukup moderat dalam beragama. Gak ada aliran tertentu yang kita ikutin, kita mengikut apa yang dijalankan oleh orang sekitar kita, selama kita yakini itu positif secara spiritual. Bokap gue lahir dari keluarga yang lebih relijius dibanding keluarga emak gue, kalau diukur dari seringnya beribadah both wajib and Sunnah. Bokap gue ngajarin gue untuk solat, ngaji, beramal baik dari kecil, dengan cara yang agak konservatif.
Yang menarik, setiap hari minggu kan suka ada acara TV yang nayangin orang Kristen nyanyi-nyanyi atau sinetron reliji agama Kristen, waktu gue nyalain itu, dan bokap gue liat, bokap gue Cuma bilang “apaan tuh acara-acara Kristen, dosa, ganti ganti..”
Dari situ, gue sempat beranggapan kalau orang Kristen itu menyeramkan, gue sendiri gak merasa fanatik, hidup di lingkungan yang cukup dominan muslim, gue gak banyak dapet kesempatan untuk berinteraksi dengan orang yang berbeda agama. Gue baru bener-bener bisa punya temen beda agama pas SMP, dan gue penasaran banget untuk tahu tentang agama lain, tapi ragu ragu karena takut dosa. Rasanya, kalau nyari tau soal agama selain Islam itu dosa besar.
Belum lagi soal Yahudi, agama yang ‘gak pernah’ ada di Indonesia (hingga belakangan ini gue baru tau kalau ada kelompok minoritas Yahudi di Indonesia) selalu jadi bahan pembicaraan, yang berawal dari konflik Israel-Palestina. Karena Palestina sendiri mayoritas muslim dan terjajah, dan Israel yang mayoritas Yahudi menyerang lahan mereka. Hampir semua orang Indonesia memihak pada Palestina, dan menganggap Israel itu penjahat kelas berat, gue setuju sampai situ.. hingga kemudian muncul pemahaman kalau semua Yahudi itu orang jahat dan laknat. Pokoknya kalau denger kata Yahudi, itu udah pasti diasosiasikan dengan kejahatan dan musuh Islam. Inilah yang menjadi sebagian besar kepercayaan orang Islam di Indonesia (at least orang disekitar gue), dan itu terus tertanam bertahun-tahun lamanya.
Gue mengakui pendidikan agama gue masih sangat dangkal, modal belajar agama di sekolah formal, ikut kelas TPA, dan sesekali ke guru ngaji, gue sendiri mengenal agama Islam itu Cuma satu dan semua orang memercayai hal yang sama.
Masuk ke universitas, gue mulai membuka diri, dan merasa lebih nyaman pada perbedaan, kemudian gue mulai mengenal agama yang dipadu dengan politik. Awalnya gue sendiri gak peduli politik, tapi ternyata politik itu sangat kental dalam diri kita, dan itu gak lepas dari agama juga.
Politik inilah yang membuat kepecayaan orang terhadap agama jadi lebih runyam, bahkan bisa mengarah ke konflik karena munculnya perbedaan.Gue sendiri sempat kaget ketika menyadari kalau di dunia ini ada banyak orang Islam yang berbeda-beda kelompok, perbedaan nya pun beragam, dari cara beribadah, membuat keputusan, dan lain lain. Gue juga pernah diberi tau kalau memang benar aka nada banyak golongan agama Islam, dan hanya ada satu golongan yang berada di jalan yang benar.
Darisitulah gue lihat ada kelompok yang merasa berada di ajaran yang paling benar, dan mereka berusaha satu sama lain mempengaruhi agar berada di jalan yang sama. Caranya pun beragam, ada yang halus, ada yang to the point, bahkan ada yang dogmatik.
Momen-momen inilah yang kadang membuat gue pusing liat orang saling debat untuk membenarkan ajarannya, tapi sampai lupa menjadi orang yang beragama secara sesungguhnya, gue lebih banyak nemuin orang berdebat, berargumen dibanding orang yang saling berusaha respek atas pilihannya dalam menjalani agama.
Gue percaya spiritualitas orang itu terbentuk dari lingkungan, budaya, dan persepsi yang berbeda-beda. Dulu, ada anggapan sekelompok orang yang melihat seorang muslim Indonesia menimba ilmu di negara minoritas Islam, kemudian membawa pemikiran baru tentang kehidupan beragama, lalu ia dianggap melenceng, dan tidak sejalan dengan apa yang sudah diajarkan dan itu mutlak gak bisa diubah. Padahal, Allah SWT menciptakan manusia dengan otak, yang berfungsi untuk berpikir.
Hanya sayangnya, ajaran-ajaran dogmatik inilah yang tidak mendorong otak kita untuk berpikir. Pokoknya terima, gak usah dipikirin, diresapi, dan dimaknai, kalau engga gitu bakal jadi dosa.
Ajaran dogmatic inilah yang kadang-kadang membuntukan pikiran kita, akal sehat kadang gak digunakan, karena ya berpegang teguh pada ajaran yang bisa saja memberi dampak yang kurang baik, dan ini juga membuat orang gampang tersulut dan marah karena perbedaan ajarang yang ada, debat lagi deh..
Gue sendiri gak mau ngasi ngasi sampel ajaran-ajaran apa, dan perbedaan apa yang beredar, but one thing that I have to say that being a religious person (for me) means that you have to use your brain to accept all those kind of teachings. Karena kalau gak pake otak, kita akan mudah berpaham radikal, ekstrem, dan mudah membenci orang.
Ini pun termasuk soal agama-agama lain, selama ini gue melihat agama non Islam sebagai agama yang membahayakan, justru asumsi gue salah. Bukan agama yang membuat mereka bahaya, tapi orangnya sendiri yang bikin bahaya. Orang Islam juga ada yang berbahaya, tapi bukan Islamnya, tapi kelakuan orangnya.
Dulu, gue mengira semua orang Yahudi jahat dan pembenci Islam, sekarang gue punya beberapa teman Yahudi yang baik-baik dan gak semuanya mendukung Israel. Sama halnya, dengan teroris yang mengaku Islam, dan banyak orang yang gak menyalahkan agamanya, tapi si orang nya yang terpapar radikalisme. Sedihnya, agama Islam yang sering dipake jadi alat untuk konfrontasi sama orang-orang biadab, dan yang disasar itu orang-orang sulit ekonomi, karena mudah untuk disusupi pemahaman dogmatis yang negative, sehingga membunuh orang gak bersalah itu dianggap baik.
Gue geram banget kalau liat kasus bom terus denger kata “Allahuakbar”, trus nonton film-film berbau propaganda yang memadukan scene orang habis bebuat jahat sama suara azan, sedih banget liatnya. Tapi gue sendiri beruntung liat orang-orang asing yang gue temui tidak melihat itu sebagai hal yang benar, mereka sendrii paham kalau itu Cuma propaganda, dan mereka percaya orang Islam pada dasarnya orang baik. Tapiii, pasti ada juga orang yang membenci Islam.
Gue sendiri juga udah engga gitu sungkan untuk berbicara soal agama lain dengan temen-temen gue. Karena niat gue sendiri bukan untuk berpindah, dan gue percaya just because I’m having conversation about other religion doesn’t mean keimanan gue bakal turun. It’s not a threat at all, I believe that.
Gue mencari tahu tentang agama lain, supaya gue bisa belajar menghormati mereka sebagai manusia. Di Al Qur’an pun diajarkan kalau kita harus menghormati sesama manusia. Orang Kristen, Yahudi, Ateis, Zoroastrian, Mormon, apa pun itu juga diciptakan oleh Allah SWT di dunia ini dengan satu alasan. Bahkan babi pun diciptakan oleh Allah SWT untuk sebuah alasan.
Tidak melulu berpegang pada dogma juga ngajarin gue untuk lebih waras dan mencerna segala informasi yang seringkali gak mendasar dan gak jelas. Contohnya?
Pernah dengar berita tentang Pokemon itu artinya “Aku Yahudi” dalam bahasa lokal suku Yahudi? Terus Pikachu artinya “Jadilah Yahudi?” Terus tiba-tiba muncul lagi berita Hey Tayo yang juga artinya Aku Yahudi dari bahasa sebuah negeri entah dimana? Udah gitu berita ini disebar kemana-kemana, dan orang percaya gitu aja. Nah inilah kalau kadang kita baca info sambil beranggapan bahwa segala hal yang gak Islam itu ancaman besar tanpa berpikir panjang.
In the end, gue sendiri masih belajar agama, sebagai manusia yang penuh dosa, perjalanan spiritual gue gak akan pernah berhenti sampai ajal menjemput, dan semoga gue bisa menjalani kehidupan spiritual gue di jalan yang benar. Amin.

9. A Definiton of Success

Beberapa kali menjadi pembicara di beberapa seminar dan workshop, satu kata yang sering beredar dalam percakapan: “Sukses”
“Bagaimana Ecofunopoly bisa menjadi sesukses seperti sekarang?”
“Apa arti sukses dalam hidup kakak?”
“Tips and trick supaya menjadi orang sukses seperti apa?
Sukses..sukses.. sukses!!!

Dari banyaknya percakapan yang gue alami dengan banyak orang, gue jadi bertanya kembali ke diri gue “Sukses itu apa?”
Gue sempet heran ya, sukses itu kalau ibarat bentuk atau benda seperti apa?
Sebuah titik, garis, lingkaran atau apa?
Ini menarik untuk dipertanyakan, karena gue juga heran kalau orang suka merespons,
“Wah hebat kamu ya nis, udah sukses..”
Sukses membawa usaha jadi untung? Mungkin iya.
Sukses karena menerbitkan buku dari blog pribadi? Mungkin iya juga.
Sukses dapat beasiswa sekolah keluar negeri yang selama ini diidam-idamkan? Mungkin iya.
Menyatakan sukses untuk beberapa hal spesifik mungkin bisa benar, jadi formulanya:

Cita-cita + usaha + berhasil = sukses

Ada lagi yang merespon, “wah lu sih dah sukses, dah gak perlu ada yang dikejar lagi. Apa apa gampang lah..”
Eh, wait, wait, jadi maksudnya, sukses itu adalah ujung dari segala kerja keras kita? Trus kalau udah diujung, then we don’t have anything to do or to achieve?
Kalau sukses sebuah ujung, lalu kapan kita merasa berada di ujung?
Apakah sukses itu sebuah capaian satu hal atau akumulasi dari berbagai capaian kita?
Apakah sukses itu kombinasi dari kemapanan finansial, membina keluarga yang samara, terkenal dan dihormati yang terus-terus menerus ada dalam hidup kita?
Atau,
Apa sukses itu kita selesai dengan diri kita sendiri, dan gak ada lagi yang harus dikejar, tanpa mengukur seberapa banyak yang sudah kita punya atau kita beri ke orang lain, intinya it’s just enough?
Gue mencoba mencari-mencari makna sukses dari beberapa figure yang gue anggap sukses di bisnis.
Disitu gue dapet beberapa pola pikir sukses mereka, ada yang bilang kalau sukses itu proses tiada akhir dan gak ada ujungnya.
Mungkin kita ingin achieve di satu titik, tapi setelah berhasil mencapai titik tersebut, dan dianggap sukses, kita pasti gak berhenti disitu, kita akan pergi ke titik yang lebih tinggi, supaya lebih sukses, dan terus terus .. jadilah sebuah garis yang tak berujung.
Gue setuju dengan paham ini, karena gue gak bisa mengartikan sebuah kesuksesan itu ibarat titik ujung yang mutlak. Dan setiap orang punya level sukses yang berbeda-beda dan menjalaninya dengan perjuangan yang berbeda pula. Gak ada garis start dan finish yang jelas, jalurnya juga gak sama panjang, gak sama mulusnya.
Seiring dengan bertambahnya dewasa, cara gue mendefinisikan sukses itu pun berubah, dari sekedar mencapai achievement satu ke yang lain, tapi sebagai sebuah garis panjang yang ujungnya adalah kematian.

Kemarin dengar podcast “orang yang selesai itu tidak pernah merasa selesai, selesai itu ya artinya mati”. Damn, ini deep banget sih.

There is no single definition of success; everyone can define their own success.

Mertua gue yang engga beres sekolah, kemudian fokus dagang di pasar, hingga bisa beli property tanah dan nyekolahin semua anaknya sampe jadi sarjana, termasuk suami gue, dan sekarang mertua gue hidup sederhana saja. Apa itu sukses? Buat gue iya.
Seseorang yang dari keluarga kurang mampu, kemudian belajar rajin, hingga dapat beasiswa keluar negeri, kemudian pulang mengabdi sebagai PNS, meski gajinya mungkin tidak seberapa dari temannya yang kerja di perusahaan swasta. Apa itu sukses? For me, it’s a yes, if he doesn’t compare his salary with others. That will makes him less successful.
Sukses gak ada satu measurement, standar sukses hidup di Indonesia bukan cuma hidup bahagia dengan satu pasangan dan dua anak, kerja mapan tanpa resiko dipecar, jabatan dan gaji naik tiap tahun, punya rumah standar KPR, liburan setahun dua kali dengan satu mobil Avanza.

Not that simple Ferguso…

Buat gue, kita bisa bikin standar kesuksesan ke diri sendiri, tanpa harus mendapat pengakuan sukses dari orang lain, kecuali orang itu selalu bersama kita dalam suka dan duka, dan paham betul upside down-nya kita.
Buat gue, gak bisa disebut sukses kalau Cuma dilihat kulitnya, hasilnya atau endingnya, tanpa lihat prosesnya. Kalau kayak gitu, bisa –bisa malah jadi toxic success, seperti kasus penipuan Umroh First Travel atau Fyre Festival. Kita ingin jadi Anniesa Hasibuan dan Andik Surrachman yang bisa keliling dunia, shopping mewah, diakui sukses banyak orang, tapi ternyata prosesnya nipu orang gak bersalah hanya demi mengejar kenikmatan semu.
Daripada ingin jadi mereka, mending jadi kami aja, pasangan Annisa Hasanah dan Andik Fatahillah yang masih ngayal-ngayal untuk bisa liburan keluar negeri tanpa biaya, hunting voucher makanan enak yang jarang kita beli, dan dapet jatah hotel gratis! That’s our success story! hehehe :p

Last but not least, I would like to thank to Allah SWT for giving me such a wonderful life during my 20s. I’m so happy to receive all blessings, trusts and opportunities from You.

Anyway thanks for reading my Going 30 reflection story! Drop your thought or story here on comment box ya.

Read More