My Article ‘Woman and Tourism’ on A Magazine

“Through travel I first became aware of the outside world; it was through travel that I found my own introspective way into becoming a part of it.”

– Eudora Welty –

Malam kemarin sepulang dari bertapa untuk menyelesaikan tesis, saya menemukan sebuah paket dibalut kertas coklat yang ditujukan kepada saya. Wah paket apa nih?

13269255_10208292402741483_7365586410002884635_n

Perasaan engga belanja online deh, haha. Pas nemu nama tertuju-nya, tertulis ‘Annisa Potter’.

Semenjak punya buku dengan nama pena ‘@annisaa_potter’, menerima paket dengan nama ini seolah tidak terasa aneh. hehe.

Oh, ternyata paket ini kiriman dari Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Industri Pariwisata, Kementerian Pariwisata RI!

Saya baru ingat kalau bulan April silam, saya pernah diminta oleh mbak Fina, salah satu staf Kemenpar untuk membuat tulisan tentang Perempuan, merayakan hari Kartini, dan tulisannya akan dimuat di majalah internal Kementerian Pariwisata. I feel so honoured to get this offer. Saya ingat sekali bulan April sedang hectic banget, tapi alhamdulilah saya bisa menyelesaikan tulisan saya.

13343138_10208292402861486_1882647509647112569_n

Buru-buru saya langsung buka paketnya, isinya ada dua majalah berjudul Destinasi & Industri Pariwisata edisi III bulan April 2016,  di bagian kanan bawah cover, ada logo “Pesona Indonesia” yang sudah tidak asing lagi buat saya. Saya langsung buka majalah tersebut dan mencari tulisan saya.

13321892_10208292343379999_209126770198735260_n

Waaaaah, senangnya tulisan saya dimuat di rubrik Insight dengan total 2 halaman. Saya senyum-senyum sendiri, hihi. Judul tulisan nya adalah “Kekuatan Perempuan Dalam Pariwisata Indonesia”. Di tulisan ini saya sedikit membawa bumbu feminisme dimana pariwisata atau dunia traveling bukanlah aktivitas yang bisa dilakukan oleh kamu adam. Selain itu, ada banyak figur-figur wanita Indonesia yang telah menjadi icon dalam berhasil menaikkan popularitas pariwisata Indonesia! 

13331122_10208292343740008_2010407769562682470_n

Daripada saya banyak memberi spoiler, saya akan berikan artikel yang sudah di-scan, siapa tau ada yang mau baca secara lengkap. (Majalah ini masih untuk kalangan internal Kementerian Pariwisata Indonesia, jadi belum diedarkan secara umum).

Scan_20160605

Halaman 1

Scan_20160605 (2)

Halaman 2

Book Review ST MenPar

Buku Student Traveler on Book Review

Ingin PDF-nya?

Klik Gambar di bawah ini untuk mendapat pdf-nya!

Selain majalah, saya mendapatkan aneka souvenir cantik dengan logo ‘Pesona Indonesia’, huwaaah, makasih yaaa~ <3

Terima kasih untuk mbak Fina atas kesempatan yang diberikan, semoga artikelnya bermanfaat !

Hidup wanita Indonesia, hidup pariwisata Indonesia~~~

Salam,

@annisaa_potter who loves #WONDERFULINDONESIA & #PESONAINDONESIA

Don’t forget to follow @ceritadestinasi on Instagram!

 

Read More

Ngabuburit di Teluk Kuantan

20130804-232528.jpg

Tahun ini, gue sekeluarga mudik ke Riau. It’s been 3 years I’ve never been to my father’s hometown. 🙂
I miss the food, family, and some local stuff 🙂
Ini adalah haru kedua gue di riau (Tepat gue menulis blog ini), tiba di Pekanbaru di hari pertama, lalu hari kedua gue melakukan perjalanan ke Teluk Kuantan, menjenguk sodara disana, lalu melanjutkan lagi ke destinasi akhir, Cerenti.
Ada yang sudah pernah dengar Teluk Kuantan?
Teluk Kuantan adalah salah satu kabupaten terbesar yang ada di provinsi Riau, letaknya sekitar 170 km dari kota Pekanbaru. Kabupaten ini terkenal dengan wisata Pacu Jalur, semacam olahraga air menggunakan perahu panjang berisi sekitar 14 orang, lalu mereka dayung rame-rame dipimpin oleh pawang. Konon, pawang ini memakai jampi-jampi supaya para pendayung bisa selalu kuat mendayung sampai finish. Wow.

Sekitar sore gue tiba di rumah maktuo (uwa) di Teluk Kuantan. Perjalanan dari Pekanbaru ke Teluk Kuantan mengabiskan waktu sekitar 4 jam.
Selama di jalan, gue ga bisa tidur, jadi tiba di rumah sodara gue, liat kasur, brukk.. Gue pun tertidur.

Sekujur Badan gue mulai berkeringat (welcome to Sumatera dear..), gue dener sayup-sayup suara orang2 yg rame. Pas kebangun, ternyata udah banyak yang dateng!
Dengan muka bantal gue menyapa sodara-sodara gue :p

“Nis mau ikut ka eci ga beli sate topuang? Kamu kan pengen makan itu..” Tanya nyokap gue.
Gue tanpa mikir (gue msh agak teler),
“Oh iya boleh..”

Ka eci dan okta, sepupu gue dah siap berangkat. Gue buru2 cuci muka dan pasang kerudung, ade gue, inna dan thia plus dila, keponakan juga ikut.

Oke, itung2 ngabuburit di teluk kuantan! Yuk yak yuukk… 😀

Bedanya bogor dengan teluk kuantan bisa dilihat dari kemacetan di jalan. teluk kuantan ini bebas macet! Disini ga ada angkot, mobil pribadi juga jarang, kalo motor banyak, cuma ga sebanyak di bogor :p

Kita naik mobil menuju arena pacu jalur. Kata sepupu gue, ada banyak tukang jualan makanan disana.

Cuma 10 menitan, kita udah sampai di spot Pacu Jalur. Masuk ke gerbangnya, gue udah bisa liat deretan gerobak-gerobak makanan yang sibyk ngurusin pembeli.

“Ini ramenya pas puasa aja ya?” Tanya gue ke okta, sepupu gue yang baru aja lolos jadi sarjana kedokteran.
“Iya kak..” Jawab dia pelan.

Oh, pasar kaget ya.

Karena waktu udah mulai petang, kita harus segera beli makanan yang dipesan. Sepupu gue langsung ke satu gerobak dengan tulisan “sate pariaman”. Karena ada banyak jenis sate, dan sate yang selalu gue idam-idamkan adalah sate topuang (baca disini).
Sepupu gue meyakinkan bahwa sate ini adalah sate topuang.

Pas gue cek bumbu di tungkunya,
Yes right. Bumbunya warna orange (kalo bumbu sate padang itu warna kuning keijo-ijoan).
Kita pun pesan 2 porsi, ga lupa gue kinta sambel merah yang asin superlezat. :9

Sambil nunggu sate jadi, di depan pandangan gue adalah sungai kuantan berwarna coklat. Sejauh mata memandang, gue melihat hamparan plaza besar dan di tengahnya adalah menara sekitar 6 meter dengan dua dayung menyilang dan menancap di ujungnya.

Gue pun berjalan mendekati sungai kuantan yang lebarnya lebih dari 10 meteran. Gue pun tiba di tribun untuk nonton pacu jalur. Tribunnya berbentuk tangga berundak-undak. Saat itu, enga banyaj orang yang duduk disitu.

“Kalau ada pertandingan, ramai sekali disini ka, orang berbadan kecil bisa tak nampak” jelas Okta dengan aksen Melayu.
Terbatang sih kalau tribun ini ramai. Badan sebesar gue bisa-bisa tenggelam di kerumunan, haha.

Kompetisi pacu jalur diadakan sekitar bulan Agustus setiap tahunnya. Tergantung pada waktu puasa kapan tahun itu, jadi bisa sebelum puasa atau setelah lebaran. Budaya islam kuat banget ya.. 🙂

Tiba-tiba dari sebelah kanan sungai, gue lihat dua perahu ramping berjalan. Ternyata anak-anak lokal lagi pada main.

“Dek, dek, tuh liat ada yang lagi latian pacu jalur!” Teriak gue ke adek gue yang bungsu.

Dua perahu yang dikendarai oleh masing2 14 anak seumur 12 tahunan melaju cepat. Sampai titik tertentu, satu perahu masih melaju cepat, dan satu perahu mulai melambat, yang dayung dah capek. Hehe..

Beruntung juga mampir ke arena pacu jalur, bisa liat aktivitas pacu jalur, meski amatir.

Ka eci datang bawa sekantong sate topuang dan empat bungkus es sari tebu.

“Yuk kita pulang, udah sore” ajak ka eci.
Kita pun beranjak dari tempat duduk, dan meninggalkan tribun pacu jalur.
Well, someday I really wish to come here again, and see the real “Pacu Jalur” competition.

Ngabuburit singkat ternyata membawa memori gue terhadap Teluk Kuantan ini. Gue ga pernah lupa bahwa darah Melayu sangat mengalir deras dalam badan gue.

Sore itu, gue bisa menikmati waktu menjelang berbuka tanpa kena macet, tanpa pake emosi dengan ulah pengendara motor. Memang inilah waktunya menikmati dunia di luar kota Bogor yang saat ini penuh sesak, macet, dan penuh emosi saat sedang di jalan. 🙂

20130804-232216.jpg

20130804-232313.jpg

20130804-232256.jpg

20130804-194037.jpg

Read More

Lanskap Perdesaan Kecamatan Cerenti Riau

Manusia tidak lepas dari interaksi dengan lingkungan. Manusia dan lingkungan (atau kita sebut dengan lanskap) akan menghasilkan suatu pertukaran persepsi, perilaku, dan lain-lain. Manusia mendapat pengaruh dari lanskap, dan lanskap memperoleh pengaruh dari manusia. Pada kali ini, saya ingin sharing tentang tugas pertama saya untuk mata kuliah Interaksi Manusia dan Lanskap. Lokasi yang menjadi studi kasus daam tulisan saya adalah Lanskap Perdesaan di kecamatan Cerenti Riau.

Kecamatan Cerenti terletak di Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau. Kawasan ini merupakan kampung halaman ayah saya yang asli berdarah Melayu. Karakteristik dari kecamatan Cerenti ini adalah lanskap perdesaan yang terbentuk dari berbagai elemen lanskap baik alamiah maupun non-alamiah yang dipengaruhi oleh interaksi sosial budaya masyarakat setempat. Kecamatan Cerenti ini terletak di sepanjang jalur utama (jalan provinsi) yang dibatasi oleh kecamatan Peranap dan kota Rengat. Bentukan lahannya bergelombang (undulating).

 

 

Ilustrasi Denah Tapak Perdesaan Kecamatan Cerenti, Riau (klik untuk memperbesar)

Dari segi lanskap, tata guna lahan (land-use) di kecamatan Cerenti ini memiliki dominansi antara pemukiman dan perkebunan. Ditemukan pula lahan terbangun yang umumnya dibangun untuk pertokoan dan bangunan lain yang mendukung kegiatan ekonomi.

Struktur lanskap pemukiman di kecamatan Cerenti umumnya homogen. Dari bentuk fisik bangunan, umumnya rumah-rumah di kecamatan ini berbentuk rumah panggung. Rumah ini merupakan rumah yang dibangun pada masa lampau dan sebagian rumah panggung yang ada masih bertahan sedangkan sebagian lainnya telah diubah menjadi rumah masa kini (menggunakan semen).

 Bentuk Rumah dan pekarangan desa

Setiap rumah umumnya memiliki pekarangan depan dan belakang yang cukup luas. Pekarangan depan maupun belakang umumnya ditanami pohon-pohon buah tropis, seperti rambutan, kelapa, durian, dan lain-lain. Rumput-rumputan dan semak-semak liar tumbuh di sekitar pohon. Diantaranya tanaman semak tersebut ada beberapa jenis tanaman yang umumnya digunakan sebagai bahan makanan. Fungsi pemukiman ini digunakan sebagai area untuk memenuhi kebutuhan pangan maupun papan.

Karet

Di kecamatan ini, terdapat sungai bernama Batang Kuantan. Sungai ini merupakan anak sungai dari Sungai Indragiri. Keberadaan sungai ini sangat vital yaitu sebagai pemenuhan kebutuhan air minum bagi warga setempat. Selain itu, sungai ini digunakan oleh warga untuk kegiatan ekonomi yaitu dengan beternak ikan dan udang menggunakan keramba.  Sungai kuantan ini pun menjadi salah satu jalur transportasi yang menghubungkan pulau utama ke pulau-pulau kecil. Transportasi air yang digunakan berupa perahu, rakit, sampan, dan speed boat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perkebunan : kebutuhan ekonomi

Pasar : ruang publik sekaligus

Sungai Kuantan : Keramba (Kiri), Perahu Kayu (Kanan)

Kecamatan Cerenti memiliki landmark atau penanda yang menunjukkan identitas areanya, yaitu tugu kampung baru. Tugu ini berdiri di tengah jalan utama yang menghubungkan Cerenti dengan kota Rengat. Tugu ini terletak berdekatan dengan pasar besar yang menjadi aktivitas ekonomi utama.

 

 Tugu Kampung Baru

Dari sisi masyarakat (society), suku yang mendiami kecamatan Cerenti ini adalah suku Melayu. Budaya masyarakat Melayu sangat lekat dengan interaksi sosial yang tinggi. Mereka senang bersosialisasi, berkumpul, dan ngobrol-ngobrol. Oleh karena itu, ruang publik atau ruang sosial akan sangat penting keberadaannya untuk aktivitas mereka. Ruang publik di kecamatan Cerenti berbeda dengan di perkotaan yang umumnya berupa taman kota atau pusat perbelanjaan yang modern. Ruang sosial masyarakat Cerenti terklasifikasi dari golongan umur dan gender.

Pasar merupakan ruang publik untuk seluruh golongan masyarakat, mulai dari tingkatan anak-anak hingga lansia. Anak-anak umumnya berinteraksi sosial di jalan atau di tugu, lalu pria dewasa umumnya berinteraksi sosial di kedai kopi. Aktivitas yang dilakukan pria dewasa hanya sekedar ngobrol-ngobrol saja. Sedangkan kamu wanita dewasa umumnya berinteraksi di tengah kerumunan pasar selagi berbelanja. Pasar juga menjadi area rekreasi utama bagi masyarakat setempat. Hari senin merupakan hari pasar.

Selain pasar, ruang publik lainnya adalah sungai, perkebunan, pekarangan belakang rumah, dan tempat ibadah. Sungai merupakan salah satu ruang sosial bagi warga setempat khususnya ibu rumah tangga dan anak-anak. Ibu rumah tangga melakukan aktivitas seperti mencuci pakaian, perabotan rumah tangga, dan memandikan anaknya di sungai sehingga terjadi interaksi sosial saat mereka sedang mencuci. Aktivitas yang umumnya dilakukan di perkebunan adalah menakik karet (mengambil getah karet) untuk dijual hasilnya. Pria kategori remaja dan dewasa umumnya melakukan aktivitas ini sehingga perkebunan menjadi salah satu ruang penting bagi mereka.

Kedekatan masyarakat dengan alam dapat terlihat dari jenis makanan lokal setempat. Sebagian besar makanan umumnya mengambil dari lingkungan sekitar pemukiman dan dari alam, misalnya siput kecil dari sungai, ikan hasil budidaya di keramba, dan tanaman paku muda yang didapat dari semak-semak (untuk dijadikan sayur).

Pengaruh asing atau dari luar area juga dialami di perdesaan kecamatan Cerenti. Saat ini, banyak sekali bangunan rumah yang berubah dari rumah panggung menjadi rumah berpondasi semen. Pemakaian warna primer pada dinding luar dan genting membuat rumah terlihat mencolok. Dinding luar di sebagian rumah pun dilapisi oleh keramik yang umumnya digunakan untuk alas lantai. Kejadian ini disebabkan oleh salah satu anggota keluarga yang telah merantau ke kota-kota besar yang umumnya memiliki bangunan bergaya modern, mereka memperoleh persepsi baru terhadap membangun rumah, sehingga sekembalinya ke kampong halaman. Mereka mencoba merenovasi rumah

Seperti yang telah dijelaskan dalam perkuliahan Interaksi Manusia dan Lanskap pada pertemuan pertama, suatu lanskap dipengaruhi oleh kondisi alam (sumberdaya alam, bentuk lahan, iklim, dll), sosial, budaya, filosofi, politik, ekonomi, kepercayaan, teknologi, dan pengaruh asing (dari luar area/ teritori). Untuk studi kasus pada kawasan perdesaan di kecamatan Cerenti ini, karakteristik lanskap lebih banyak dipengaruhi oleh faktor ekonomi, budaya, dan pengaruh dari luar area.

Sekian dan Terima kasih.

 

Salam,

Annisa Hasanah

Mahasiswa Pascasarjana Arsitektur Lanskap IPB ‘2012

 

Read More