Catatan Akhir Tahun 2016

Yeayy, Back again to my ritual at the end of the year!
Alhamdulilah wa syukurlah, Allah masih kasih saya nikmat sehat dan segala nikmat yang tidak terhitung jumlahnya.Tepat saya menulis tulisan ini, saya sedang dalam perjalanan bus dari Cambodia menuju perbatasan Cambodia-Vietnam. Ini kali ketiga saya tahun baru di luar negeri, and my choice is Ho Chi Minh City!

Hmm, Teknologi udah semakin canggih, menulis catatan kayak gini mungkin keliatan kuno dibanding the best nine picture di Instagram atau video satu tahun buatan Facebook yang bisa ngasih rangkuman aktivitas satu tahun, tapi buat saya nulis itu ada sensasi tersendiri, nulis menjadi ruang aktualisasi saya untuk menuangkan isi kepala saya yang penuh dengan mimpi besar 🙂

Tahun 2016 adalah tahun keberanian. Ini tahun transisi hidup saya yang penuh dengan lika liku, ibarat metamorphosis, mungkin saya sedang berubah dari kecebong kaki empat menjadi katak muda. Well, I know that tidak semua orang bisa ‘melihat’ lika liku hidup saya, sebagian besar hanya bisa melihat ‘ih enak ya bisa jalan-jalan terus.. ” hehehe. #okesipgapapa #itsokayIlikemyself #ngikut kirana

Setengah tahun pertama di 2016 itu merupakan tahun kritis saya dalam menyelesaikan tesis. Beribu cobaan yang saya hadapi selama mengerjakan tesis telah menempa saya, mulai dari keterlambatan pencairan beasiswa, (hingga detik ini belum cair, Beasiswa B*krie sangat mengecewakan! Tidak recommended untuk kamu yang S2 di dalam negeri) hingga saya harus berjuang pantang panting mencari biaya penelitian dan living cost, penelitian yang seringkali ditambah Konten nya hingga saya cukup mabok, akhirnya pembimbing memberi ACC di ujung masa studi saya dengan melakukan seminar dan sidang, belum lagi urusan tetep banget administrasi sekolah yang jelimet (maklum ‘German efficiency’ masih kebawa ke Indonesia, jadi ya agak shocking). Tapi, alhamdulilah, semua bisa dilalui dengan penuh air mata dan pengorbanan ini melahirkan gelar MSi. Alhamdulilah, tujuan saya sekolah bukan untuk gelar, tapi untuk mencapai kematangan berpikir yang lebih baik. Kalau mau bicara gelar doank sih, saya juga ga tau mau diapain tuh gelar, hahaha. Saya ingin mengucapkan terima kasih untuk semua rekan dan kolega yang udah banyak bantu saya melalui masa sulit ini, mulai dari yang bantu kasih kerjaan untuk nyambung hidup hingga bantu Fotokopiin. Saya ga mau sebut namanya satu per satu, biarkan Allah yang mencatat sebagai amal buat mereka, amiiin.

Setengah tahun berikutnya, hidup saya menjadi lebih baik, lebih tepatnya My life got better because I spent much of my time to fulfill my passion.
2016, I started my life as a Writer, menjadi penulis buku Student Traveler rasanya luar biasa!
Saya mendapat banyak kesempatan untuk Traveling around Indonesia untuk bedah buku dan berbagi kisah saya sebagai seorang Student Traveler dan Penulis. Kepuasan pribadi buat saya ketika melihat ada orang yang membaca buku saya, dan mereka termotivasi untuksekolah keluar negeri atau sekedar menginjak kan kaki di luar negeri. Kalo bahasa keinginannya sih #goals. Hehe.
Undangan berdatangan mulai dari Sd di Bekasi, SMP Internasional di Cibubur, hingga Universitas di Malang. The best thing is that I got a chance to meet new people because of their interest on my book and travel world. GA nyangka kalau pembaca buku saya bukan cuma mahasiswa, tapi anak SD, Smp, bahkan orang tua.

THE GROW OF ECOFUNOPOLY 

This year, I learned that consistency and patience are the key to build my dream. Now I’m talking about my long-life baby: ECOFUNOPOLY. 7 tahun sudah saya mengembangkan Ecofunopoly hingga detik ini. Ecofunopoly adalah produk dari zona ketidaknyaman hidup saya yang banyak mengajarkan saya tentang Kreativitas, pengorbanan, bisnis, dan inovasi. Saya berani untuk tidak mengambil kehidupan yang lebih mapan dengan tetap bersama karya yang saya bangun. Bonding yang begitu kuat ini tanpa disadari membuat diri saya seperti sekarang ini, saya merasa lebih yakin dan percaya atas apa yang sudah saya kembangkan sejak lama. Saya akan menyangkal kalau ada yang bilang Ecofunopoly itu sudah sangat sukses, buat saya, Ecofunopoly adalah sebuah perjalanan, perjalanan tiada akhir. Sukses itu relatif, tapi perjalanan sebuah karya itu endless. Alhamdulilah, tahun 2016 ini Ecofun mendapat banyak kesempatan untuk berkolaborasi bersama instansi nasional, seperti Kebun Raya Bogor (Thanks to Reza), Kementerian LH dan Kehutanan (thanks to mbak Nahdya), Taman Nasional Gunung Leser (thanks to Mas Koes), DKPP Tangkil, dan masih banyak lagi. Kolaborasi ini memberikan banyak feedback untuk Ecofunopoly ke depannya.

Momen paling membahagiakan tahun ini bersama Ecofunopoly adalah ketika kami meraih 1st Prize Winner kompetisi Indonesia Socio pressure Challenge 2016. Setelah proses yang begitu panjang, alhamdulilah tim Ecofun berhasil mendapat predikat ini, dan insya Allah kami akan mengeluarkan produk terbaru dengan tema baru! Tunggu tanggal mainnya ya 🙂
Saya juga ingin menghaturkan ucapan terima kasih kepada seluruh teman-teman, saudara, kolega yang sudah membantu kami dalam proses kompetisi. Saya percaya keberhasilan kami ini bukan capaian individu, tapi berkat dukungan dari banyak pihak.
Tahun ini cukup banyak keputusan besar yang saya ambil, salah satunya dengan mendirikan CV. Ecofun Indonesia, sebuah social enterprise yang bergerak di bidang pendidikan lingkungan dan sains, berkat bantuan mbak Renny dan mas Ojan, CV ini bisa berdiri (Thank you). Berhubung baru berdiri, belum kerasa apa-apa sih, paling merasa keren aja pas laporan pajak di kantor pajak., pegawainta bertanya, “Apa ibu ini direktur CV. Ecofun Indonesia? Mohon ttd disini”. Beuuh, mau bilang engga, tapi aktanya tertulis gitu,.. Wkwkwk. Jadi budir-budiran dulu (budir=ibu direktur), inshaAllah segera jadi beneran ya, amiiin.
Terlepas dari kisah budir dadakan, tahun ini inshaAllah I’m starting my new life as a Social Entrepreneur. Saya sadar hidup ini misteri dan tidak pernah bisa kita duga. Lulus S1, saya ingin menjadi dosen, hingga saya langsung mengambil S2, namun pada perjalanannya, saya mendapat pencerahan baru dan terinspirasi dari orang-orang yang saya temui., ternyata semua berkata lain. Meski di hati kecil saya masih ingin menjadi dosen. Saya teringat Martha Tilaar dulu ditolak menjadi seorang dosen, namun ternyata dialah menjadi pengusaha besar yang luar biasa menginspirasi. Belum kesempatan jadi dosen, eh saya malah diundang sebagai dosen tamu Universitas Pancasila, padahal saat itu saya belum lulus.

MET BANG ANDY

Kejutan lain lagi datang dari Jakarta, tiba-tiba saya dihubungi oleh Kompas TV, mereka mau meliput Ecofunopoly di Big Bang Show! Yup, TV show tentang social Entrepreneurship yang dihost oleh Andy F. Noya! Senengnya luar biasa, karena buat saya diliput oleh bang Andy itu tingkatan tertinggi peliputan media dalam bidang sosial, inget banget banyak orang yang mendoakan termasuk mama dan sahabat saya supaya bisa masuk ke Kick Andy, eh ternyata kesempatan di tahun ini, meski bukan Kick Andy, tapi tetap bersama bang Andy. Awal Desember silam, saya tapping bersama bang Andy yang super humble di studio Silver, kami bermain Ecofunopoly raksasa. Ga pernah terbayang sih bisa main Ecofunopoly bareng beliau. Hihihi. Alhamdulilah. (Fabiayyi ala irobbikuma tukazzibaan).
InshaAllah liputan nya akan hadir Hari Minggu tgl 8 Januari 2017 jam 20.00 di Kompas TV, jangan lupa nonton ya!

Student Traveler’s Life
Nah, ini nih bagian paling enak dalam hidup saya: traveling!
Selama 2016, saya berhasil menginjak kan kaki ke 6 negara baru hingga membuat saya resmi menginjak kan kaki ke 28 negara!

Januari yang dingin saya terbang menuju Hong Kong untuk mengikuti program Make A Difference, disitulah saya menginjak kan kaki di negara ke 23. Menyerupai Hot milk tea, solo traveling ke Tian Tân Buddha di tengah kabut putih, hingga mendapat teman-teman baru. Mindset saya berubah terhadap HK, dari negara belanja menjadi negara maju yang kaya akan sejarah dan budaya. Layaknya orang Portugis di masa lampau, Macau adalah negara ke 24 yang saya singgahi.

September silam datang kejutan luar biasa. Saya mendapat invitation untuk hadir di MiSK Global Forum di Riyadh, Saudi Arabia, acaranya Pangeran Arab S Bulan November, Arab Saudi menjadi negara ke-25 yang saya ingatkan, dan perjalanan inilah yang membawa saya ke tanah suci untuk umroh. Subhanallah, (Fabiayyi ala irobbikuma tukazzibaan). Selama enam hari, saya berhasil mengunjungi empat kota besar di Saudi: Riyadh, Mekkah, Madinah, dan Jeddah. Perjalanan ini lagi lagi mengingatkan saya bahwa rejeki dari Allah itu benar-benar tak terduga dan dahsyat. Cerita lengkapnya bisa dibaca di postingan berjudul “Middle East Trip” di Web ini yaaa.

TRAVELING  IS AN INVESTMENT 

Sejak jadi penulis buku Traveling, saya sudah tidak lagi melihat Traveling sebagai liburan semata. Traveling buat saya adalah investasi. Memang tidak semenjanjikan investasi fisik, tapi saya percaya Traveling itu long term benefit. Saat ini saya berada di border Cambodia-Vietnam berkat royalti buku yang saya dapatkan (plus hunting tiket murah). Saya pikir daripada royalti dipakai untuk jajan yang bs habis dalam beberapa minggu, saya pikir investasi karena kembali ke dunia Traveling akan lebih baik. Jadilah saya pergi ke Indochina untuk mencari inspirasi baru dalam menulis. Saya menjelajahi Phnom Penh, Siem Reap, Don Khon, hingga Ho Chi Minh, ternyata semua negara ini memakan pandangan baru untuk saya. Traveling lebih banyak mengajarkan saya untuk lebih mencintai daripada membenci. Saya jujur sedih banget di Indonesia, sosial media dipakai untuk perang politik dan SARA, belum lagi media media yang sudah dipenuhi kepentingan, hingga saya ga tau mana yang benar, alhasil pikiran jadi ikut keruh. Alhamdulilah Traveling akhir tahun ini lebih menyegarkan kembali otak saya, dan mengingatkan kembali untuk lebih membuka hati dan pikiran terutama dalam membangun hubungan dengan orang yang berbeda kepercayaan dan adat. Sepertinya sebagian besar orang Indonesia feel worry too much, mudah tergiring opini dan beda sedikit langsung ribut.Semoga saya tidak termakan hal seperti itu dan tetap menjadi muslim yang rahmatan Lil alamin.

Resolusi 2017?
Pertama-tama, saya ingin mengucapkan syukur Alhamdulilah Suami, Ayah, Mama, Ibu Mertua dan kedua adik saya masih diberi sehat walafiat oleh Allah SWT.

Resolusi pertama saya adalah kesehatan untuk semua orang yang saya cintai.

Resolusi kedua: Ecofunopoly bisa lebih banyak membawa dampak lebih besar lagi dan menjadi ladang amal bagi semua orang yang terlibat.

Resolusi ketiga: Mendapat kepercayaan dari Allah untuk menjadi orang tua. We keep praying for little Andik or little Annisa. Jika memang belum waktunya, semoga kami bisa lebih sabar menghadang judgement banyak orang tentang kenapa kami belum memiliki momongan. Beginilah endonesah, ada yang jomblo belum nikah nikah, yang ribut tetangga, ada yang udah nikah tapi belum punya anak eh yang mikirin sodara lapis ketujuh (ga kenal kenal amat), Lebih berharap lagi, semoga kami dijauhin dari orang macam gitu. Amiiin

Resolusi keempat : dilancarkan dalam penerbitan buku kedua STUDENT Traveler (ups bocoran deh!). InshaAllah tahun depan buku kedua saya terbit, tunggu tanggal mainnya yah!

Resolusi kelima: Memperbaiki diri dan introspeksi diri, lebih mendekatkan diri kepada Allah, lebih rajin ibadah sunnah dan rajin solawat setiap saat.

Resolusi keenam : Lebih banyak Traveling ke negara baru! Tentunya gratis donk, hihi.

Resolusi ketujuh : semoga akan ada banyak Kejutan kejutan hidup yang lebih luar biasa lagi, dan tentu atas Ridho Allah Swt dan Ridho suami. Amiiin.

Oke deh sekian Catatan Akhir Tahun 2016, saya siap bertemu 2017!

Salam Student Traveler dari Vietnam!
Vielen dank und auf wiedersehen!

Baca cerita seru saya Traveling gratis ke berbagai negara di buku Student Traveler ya! Buku tersedia di Gramedia, Gunung Agung dan toko buku terdekat. Pesan online bisa ke www.penebar-swadaya.net.

Read More

Make A Difference Forum 2016 – Hong Kong

January has brought me into the new place I’ve never been before.
Yes, I am back as a student traveler!

Bulan September silam, saya melihat informasi di Facebook mengenai sebuah program berjudul Make A Difference Forum or MaD Asia. Sebenarnya saya sudah mengetahui program ini sebelumnya dari adik kelas saya Iqoh. Menurut Iqoh, program ini menarik sekali untuk diikuti karena konsep acaranya sedikit berbeda dan tidak konvensional macam seminar. Setiap tahunnya, program MaD Asia ini memiliki tema-tema yang berbeda, dan kali ini tema yang diangkat adalah Village Reinvented. Acara ini ingin mengulik ide-ide, sudut pandang dan pemikiran anak muda tentang kampung halamannya (Village disini bisa diartikan desa atau kota). Pikiran saya tersambung langsung dengan (more…)

Read More