Catatan Akhir Tahun 2016

Yeayy, Back again to my ritual at the end of the year!
Alhamdulilah wa syukurlah, Allah masih kasih saya nikmat sehat dan segala nikmat yang tidak terhitung jumlahnya.Tepat saya menulis tulisan ini, saya sedang dalam perjalanan bus dari Cambodia menuju perbatasan Cambodia-Vietnam. Ini kali ketiga saya tahun baru di luar negeri, and my choice is Ho Chi Minh City!

Hmm, Teknologi udah semakin canggih, menulis catatan kayak gini mungkin keliatan kuno dibanding the best nine picture di Instagram atau video satu tahun buatan Facebook yang bisa ngasih rangkuman aktivitas satu tahun, tapi buat saya nulis itu ada sensasi tersendiri, nulis menjadi ruang aktualisasi saya untuk menuangkan isi kepala saya yang penuh dengan mimpi besar 🙂

Tahun 2016 adalah tahun keberanian. Ini tahun transisi hidup saya yang penuh dengan lika liku, ibarat metamorphosis, mungkin saya sedang berubah dari kecebong kaki empat menjadi katak muda. Well, I know that tidak semua orang bisa ‘melihat’ lika liku hidup saya, sebagian besar hanya bisa melihat ‘ih enak ya bisa jalan-jalan terus.. ” hehehe. #okesipgapapa #itsokayIlikemyself #ngikut kirana

Setengah tahun pertama di 2016 itu merupakan tahun kritis saya dalam menyelesaikan tesis. Beribu cobaan yang saya hadapi selama mengerjakan tesis telah menempa saya, mulai dari keterlambatan pencairan beasiswa, (hingga detik ini belum cair, Beasiswa B*krie sangat mengecewakan! Tidak recommended untuk kamu yang S2 di dalam negeri) hingga saya harus berjuang pantang panting mencari biaya penelitian dan living cost, penelitian yang seringkali ditambah Konten nya hingga saya cukup mabok, akhirnya pembimbing memberi ACC di ujung masa studi saya dengan melakukan seminar dan sidang, belum lagi urusan tetep banget administrasi sekolah yang jelimet (maklum ‘German efficiency’ masih kebawa ke Indonesia, jadi ya agak shocking). Tapi, alhamdulilah, semua bisa dilalui dengan penuh air mata dan pengorbanan ini melahirkan gelar MSi. Alhamdulilah, tujuan saya sekolah bukan untuk gelar, tapi untuk mencapai kematangan berpikir yang lebih baik. Kalau mau bicara gelar doank sih, saya juga ga tau mau diapain tuh gelar, hahaha. Saya ingin mengucapkan terima kasih untuk semua rekan dan kolega yang udah banyak bantu saya melalui masa sulit ini, mulai dari yang bantu kasih kerjaan untuk nyambung hidup hingga bantu Fotokopiin. Saya ga mau sebut namanya satu per satu, biarkan Allah yang mencatat sebagai amal buat mereka, amiiin.

Setengah tahun berikutnya, hidup saya menjadi lebih baik, lebih tepatnya My life got better because I spent much of my time to fulfill my passion.
2016, I started my life as a Writer, menjadi penulis buku Student Traveler rasanya luar biasa!
Saya mendapat banyak kesempatan untuk Traveling around Indonesia untuk bedah buku dan berbagi kisah saya sebagai seorang Student Traveler dan Penulis. Kepuasan pribadi buat saya ketika melihat ada orang yang membaca buku saya, dan mereka termotivasi untuksekolah keluar negeri atau sekedar menginjak kan kaki di luar negeri. Kalo bahasa keinginannya sih #goals. Hehe.
Undangan berdatangan mulai dari Sd di Bekasi, SMP Internasional di Cibubur, hingga Universitas di Malang. The best thing is that I got a chance to meet new people because of their interest on my book and travel world. GA nyangka kalau pembaca buku saya bukan cuma mahasiswa, tapi anak SD, Smp, bahkan orang tua.

THE GROW OF ECOFUNOPOLY 

This year, I learned that consistency and patience are the key to build my dream. Now I’m talking about my long-life baby: ECOFUNOPOLY. 7 tahun sudah saya mengembangkan Ecofunopoly hingga detik ini. Ecofunopoly adalah produk dari zona ketidaknyaman hidup saya yang banyak mengajarkan saya tentang Kreativitas, pengorbanan, bisnis, dan inovasi. Saya berani untuk tidak mengambil kehidupan yang lebih mapan dengan tetap bersama karya yang saya bangun. Bonding yang begitu kuat ini tanpa disadari membuat diri saya seperti sekarang ini, saya merasa lebih yakin dan percaya atas apa yang sudah saya kembangkan sejak lama. Saya akan menyangkal kalau ada yang bilang Ecofunopoly itu sudah sangat sukses, buat saya, Ecofunopoly adalah sebuah perjalanan, perjalanan tiada akhir. Sukses itu relatif, tapi perjalanan sebuah karya itu endless. Alhamdulilah, tahun 2016 ini Ecofun mendapat banyak kesempatan untuk berkolaborasi bersama instansi nasional, seperti Kebun Raya Bogor (Thanks to Reza), Kementerian LH dan Kehutanan (thanks to mbak Nahdya), Taman Nasional Gunung Leser (thanks to Mas Koes), DKPP Tangkil, dan masih banyak lagi. Kolaborasi ini memberikan banyak feedback untuk Ecofunopoly ke depannya.

Momen paling membahagiakan tahun ini bersama Ecofunopoly adalah ketika kami meraih 1st Prize Winner kompetisi Indonesia Socio pressure Challenge 2016. Setelah proses yang begitu panjang, alhamdulilah tim Ecofun berhasil mendapat predikat ini, dan insya Allah kami akan mengeluarkan produk terbaru dengan tema baru! Tunggu tanggal mainnya ya 🙂
Saya juga ingin menghaturkan ucapan terima kasih kepada seluruh teman-teman, saudara, kolega yang sudah membantu kami dalam proses kompetisi. Saya percaya keberhasilan kami ini bukan capaian individu, tapi berkat dukungan dari banyak pihak.
Tahun ini cukup banyak keputusan besar yang saya ambil, salah satunya dengan mendirikan CV. Ecofun Indonesia, sebuah social enterprise yang bergerak di bidang pendidikan lingkungan dan sains, berkat bantuan mbak Renny dan mas Ojan, CV ini bisa berdiri (Thank you). Berhubung baru berdiri, belum kerasa apa-apa sih, paling merasa keren aja pas laporan pajak di kantor pajak., pegawainta bertanya, “Apa ibu ini direktur CV. Ecofun Indonesia? Mohon ttd disini”. Beuuh, mau bilang engga, tapi aktanya tertulis gitu,.. Wkwkwk. Jadi budir-budiran dulu (budir=ibu direktur), inshaAllah segera jadi beneran ya, amiiin.
Terlepas dari kisah budir dadakan, tahun ini inshaAllah I’m starting my new life as a Social Entrepreneur. Saya sadar hidup ini misteri dan tidak pernah bisa kita duga. Lulus S1, saya ingin menjadi dosen, hingga saya langsung mengambil S2, namun pada perjalanannya, saya mendapat pencerahan baru dan terinspirasi dari orang-orang yang saya temui., ternyata semua berkata lain. Meski di hati kecil saya masih ingin menjadi dosen. Saya teringat Martha Tilaar dulu ditolak menjadi seorang dosen, namun ternyata dialah menjadi pengusaha besar yang luar biasa menginspirasi. Belum kesempatan jadi dosen, eh saya malah diundang sebagai dosen tamu Universitas Pancasila, padahal saat itu saya belum lulus.

MET BANG ANDY

Kejutan lain lagi datang dari Jakarta, tiba-tiba saya dihubungi oleh Kompas TV, mereka mau meliput Ecofunopoly di Big Bang Show! Yup, TV show tentang social Entrepreneurship yang dihost oleh Andy F. Noya! Senengnya luar biasa, karena buat saya diliput oleh bang Andy itu tingkatan tertinggi peliputan media dalam bidang sosial, inget banget banyak orang yang mendoakan termasuk mama dan sahabat saya supaya bisa masuk ke Kick Andy, eh ternyata kesempatan di tahun ini, meski bukan Kick Andy, tapi tetap bersama bang Andy. Awal Desember silam, saya tapping bersama bang Andy yang super humble di studio Silver, kami bermain Ecofunopoly raksasa. Ga pernah terbayang sih bisa main Ecofunopoly bareng beliau. Hihihi. Alhamdulilah. (Fabiayyi ala irobbikuma tukazzibaan).
InshaAllah liputan nya akan hadir Hari Minggu tgl 8 Januari 2017 jam 20.00 di Kompas TV, jangan lupa nonton ya!

Student Traveler’s Life
Nah, ini nih bagian paling enak dalam hidup saya: traveling!
Selama 2016, saya berhasil menginjak kan kaki ke 6 negara baru hingga membuat saya resmi menginjak kan kaki ke 28 negara!

Januari yang dingin saya terbang menuju Hong Kong untuk mengikuti program Make A Difference, disitulah saya menginjak kan kaki di negara ke 23. Menyerupai Hot milk tea, solo traveling ke Tian Tân Buddha di tengah kabut putih, hingga mendapat teman-teman baru. Mindset saya berubah terhadap HK, dari negara belanja menjadi negara maju yang kaya akan sejarah dan budaya. Layaknya orang Portugis di masa lampau, Macau adalah negara ke 24 yang saya singgahi.

September silam datang kejutan luar biasa. Saya mendapat invitation untuk hadir di MiSK Global Forum di Riyadh, Saudi Arabia, acaranya Pangeran Arab S Bulan November, Arab Saudi menjadi negara ke-25 yang saya ingatkan, dan perjalanan inilah yang membawa saya ke tanah suci untuk umroh. Subhanallah, (Fabiayyi ala irobbikuma tukazzibaan). Selama enam hari, saya berhasil mengunjungi empat kota besar di Saudi: Riyadh, Mekkah, Madinah, dan Jeddah. Perjalanan ini lagi lagi mengingatkan saya bahwa rejeki dari Allah itu benar-benar tak terduga dan dahsyat. Cerita lengkapnya bisa dibaca di postingan berjudul “Middle East Trip” di Web ini yaaa.

TRAVELING  IS AN INVESTMENT 

Sejak jadi penulis buku Traveling, saya sudah tidak lagi melihat Traveling sebagai liburan semata. Traveling buat saya adalah investasi. Memang tidak semenjanjikan investasi fisik, tapi saya percaya Traveling itu long term benefit. Saat ini saya berada di border Cambodia-Vietnam berkat royalti buku yang saya dapatkan (plus hunting tiket murah). Saya pikir daripada royalti dipakai untuk jajan yang bs habis dalam beberapa minggu, saya pikir investasi karena kembali ke dunia Traveling akan lebih baik. Jadilah saya pergi ke Indochina untuk mencari inspirasi baru dalam menulis. Saya menjelajahi Phnom Penh, Siem Reap, Don Khon, hingga Ho Chi Minh, ternyata semua negara ini memakan pandangan baru untuk saya. Traveling lebih banyak mengajarkan saya untuk lebih mencintai daripada membenci. Saya jujur sedih banget di Indonesia, sosial media dipakai untuk perang politik dan SARA, belum lagi media media yang sudah dipenuhi kepentingan, hingga saya ga tau mana yang benar, alhasil pikiran jadi ikut keruh. Alhamdulilah Traveling akhir tahun ini lebih menyegarkan kembali otak saya, dan mengingatkan kembali untuk lebih membuka hati dan pikiran terutama dalam membangun hubungan dengan orang yang berbeda kepercayaan dan adat. Sepertinya sebagian besar orang Indonesia feel worry too much, mudah tergiring opini dan beda sedikit langsung ribut.Semoga saya tidak termakan hal seperti itu dan tetap menjadi muslim yang rahmatan Lil alamin.

Resolusi 2017?
Pertama-tama, saya ingin mengucapkan syukur Alhamdulilah Suami, Ayah, Mama, Ibu Mertua dan kedua adik saya masih diberi sehat walafiat oleh Allah SWT.

Resolusi pertama saya adalah kesehatan untuk semua orang yang saya cintai.

Resolusi kedua: Ecofunopoly bisa lebih banyak membawa dampak lebih besar lagi dan menjadi ladang amal bagi semua orang yang terlibat.

Resolusi ketiga: Mendapat kepercayaan dari Allah untuk menjadi orang tua. We keep praying for little Andik or little Annisa. Jika memang belum waktunya, semoga kami bisa lebih sabar menghadang judgement banyak orang tentang kenapa kami belum memiliki momongan. Beginilah endonesah, ada yang jomblo belum nikah nikah, yang ribut tetangga, ada yang udah nikah tapi belum punya anak eh yang mikirin sodara lapis ketujuh (ga kenal kenal amat), Lebih berharap lagi, semoga kami dijauhin dari orang macam gitu. Amiiin

Resolusi keempat : dilancarkan dalam penerbitan buku kedua STUDENT Traveler (ups bocoran deh!). InshaAllah tahun depan buku kedua saya terbit, tunggu tanggal mainnya yah!

Resolusi kelima: Memperbaiki diri dan introspeksi diri, lebih mendekatkan diri kepada Allah, lebih rajin ibadah sunnah dan rajin solawat setiap saat.

Resolusi keenam : Lebih banyak Traveling ke negara baru! Tentunya gratis donk, hihi.

Resolusi ketujuh : semoga akan ada banyak Kejutan kejutan hidup yang lebih luar biasa lagi, dan tentu atas Ridho Allah Swt dan Ridho suami. Amiiin.

Oke deh sekian Catatan Akhir Tahun 2016, saya siap bertemu 2017!

Salam Student Traveler dari Vietnam!
Vielen dank und auf wiedersehen!

Baca cerita seru saya Traveling gratis ke berbagai negara di buku Student Traveler ya! Buku tersedia di Gramedia, Gunung Agung dan toko buku terdekat. Pesan online bisa ke www.penebar-swadaya.net.

Read More

#InovasiBuatSaya

Waaah, hari ini ga nyangka dapet tag dari Wina (temen SMA dan temen sekampus),

Beberapa hari lalu, gue diminta wina untuk ngirim 1-2 kalimat tentang inovasi. Gue kira buat dipake di acara kantornya (Green TV IPB). Eh ternyata untuk programnya Kemenristek RI!

Wah seneng banget, wajah gue bisa nampang bareng beberapa tokoh penting di Indonesia. Well, I still don’t deserve the title of ‘Tokoh’. hihihi. Tapi anggap aja rejeki bisa nampang bareng Adi Nugroho, Mien R Uno, Nadiem Makarim dlll.

Quote #InovasiBuatSaya !

13427839_10156969954605654_280916512457139661_n

Thanks Kemristek RI for having me!

Don’t forget to follow IG account @ristekdikti!

Read More

Europe Day!

What’s on May 9th?

It’s Europe Day!

13178848_10153783595043392_4780927395034823381_n

Eropa ternyata punya hari jadi juga loh!
Mengutip dari postingan bu Destriani Nugroho di grup fb Erasmus Indonesia :

” 9 May – diperingati sebagai awal Eropa bersatu dan disebut Hari Eropa.

Setiap tanggal 9 Mei masyarakat negara-negara anggota Uni Eropa (UE) merayakan Hari Eropa atau Schuman Day guna memperingati pembentukan organisasi Masyarakat Eropa yang didasarkan pada deklarasi yang disampaikan mantan Menlu Perancis Robert Schuman pada 9 Mei 1950.

Dalam deklarasi yang dibacakan dihadapan media di Paris, Menlu Schuman mengusulkan pembentukan lembaga supra nasional Eropa yang bertugas untuk melakukan pengelolaan batu bara dan baja bersama-sama dan mencegah berulangnya konflik antar negara… “

Untuk merayakan Europe Day ini, kedutaan Uni Eropa di Indonesia mengadakan rangkaian acara bertemakan Eropa selama bulan Mei, mulai dari formal Reception, EU Run (Lari berjamaah), hingga nonton film! Seru ya?

Nah, sebagai alumni dari beasiswa Uni Eropa, Erasmus Mundus, saya kecipratan rejeki untuk dapat undangan Reception Day. Ada kuota khusus yang diberikan untuk alumni Erasmus, alhamdulilah saya dapat jatah untuk bisa ikutan.
Berhubung ini acara spesial yg ada dihadiri tamu-tamu spesial juga, saya penasaran banget seperti apa sih Reception Day yang akan menyuguhi masakan Eropa untuk menu makan malam. Uuuu.. Gonna be awesome and yummy.
Senin (9 Mei) sekitar jam 6.30, saya pergi menuju hotel Dharmawangsa bersama Steven Cavéll, ‘spouse’ saya. Hah spouse?
Yup, jd kan kalau acara dinner formal satu undangan itu untuk dua orang, nah jadi para alumni Erasmus antar cewe dan cowo dipasang-pasangkan sebagai spouse, supaya dapat kuota dobel. Haha. Setelah diatur mbak Eva, ‘spouse’ saya itu Steven Cavéll, alumni Erasmus yang pernah studi di Portugal tahun 2013.
Setibanya di depan hotel Dharmawangsa (mobil Steven hanya dapat parkir di bahu jalan) saya kaget melihat ada tank militer besar yang markir tidak jauh dari mobil Steven. Buset, ampe pake tank segala ya. Mungkin isu national security yg belakangan ini lagi naik sejak terjadi kasus pemboman di beberapa negara di Eropa.
Syukurlah kami tiba tepat waktu di Lobby hotel. Disitu saya bertemu dengan teman-teman alumni Erasmus lainnya, dan berkenalan ulang takut pada lupa. Hehe.
Menurut undangan elektronik yang saya terima, dress code yang disarankan adalah formal attire atau batik. Untuk Reception day ini, saya mengenakan dress polos berwarna biru gelap mengkilap sampai bawah lutut, lalu mengenakan legging hitam dan sepatu balet warna biru donker. Warna baju saya pas banget ama warna Uni Eropa, Blue!

Mbak Eva langsung mengajak ke ruang utama.  Masuk ke dalam ruangan, sudah berdiri bapak Vincent Guerrend, Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, dia menyalami semua tamu yang hadir termasuk saya. Halo pak Vincent! :p
Wow.. Ternyata acaranya berbentuk standing party. Dalam ruangan tersebut, berdiri ‘gubuk-gubuk’  makanan untuk makan malam para tamu. Ruangan sudah dipenuhi oleh para tamu undangan baik orang Indonesia maupun bule-bule yang di sinyalir mayoritas bule Eropa.
Erik teman saya menyikut lengan saya.
‘ter, ter, itu duta besar US untuk Indonesia! ‘ sambil nunjuk ke arah bapak bertubuh tinggi, kurus, dan berambut putih. Oh ternyata, tamunya ada yang dari kedutaan negara lain. Setelah saya google, nama beliau adalah Robert….
Karena acara belum resmi mulai, saya mampir ke satu booth yang ada bendera Biru-Kuning. Warna ini sudah engga asing banget buat saya, it’s a Viking country, Sweden!

My 2014 New Year’s Eve was in Malmo, Sweden. <3

Di booth Sweden, saya melihat aneka brosur serta baki besar berisi potongan-potongan roti yang diberi topping. Penjaga stand, laki-laki muda bule mempersilahkan untuk nyoba, ketika saya tanya ini namanya apa, mereka bingung sendiri, haha. Yaudah saya nyoba, hmmm.. akhirnya saya bisa mencicipi keju Eropa lagi (di rumah makannya selalu keju Kraft, hihi).

Nafsu makan saya tiba-tiba meningkat, memang waktunya makan malam sih, akhirnya saya melakukan ‘Tawaf” melihat gubuk-gubuk yang tersedia di dalam ruangan bareng beberapa teman Erasmus.

Saya pergi ke sudut ruangan yang semakin jauh dari pintu masuk, kemudian saya melihat beberapa gubuk yang menjajakan makanan mulai dari European food sampai Indonesian Food. Dari makanannya, kerasa banget kalau acara ini antara Eropa-Indonesia. Pilihan makanan saya jatuh pada Ravioli!

Ravioli ini semacam pasta, tapi mirip pangsit, jadi ada isinya. saya mengenal Ravioli justru dari Masterchef US, bukan pas jalan-jalan ke Italia, haha. Saya mengambil dua buah Ravioli isi bayam. Yummy, enaknya! Raviolinya diberi mayo, jadi gurih banget.

“Eh itu ada Prabowo!!” teriak salah satu teman saya. Mata saya langsung mencari-cari apa benar ada pak Prabowo. Eh ternyata benar! Pak Prabowo sedang duduk di roundtable putih untuk VIP, dan sedang ngobrol dengan sosok yang juga tidak asing lagi, Pak Hidayat Nur Wahid. Wuih, ternyata receptionnya juga ada pejabat-pejabat negara. Mbak Eva langsung berinisiatif untuk ngajak foto bareng Erasmus alumni. Pas mbak Eva mau nyamperin, seorang lelaki muda datang menyela, diduga ajudannya. Wuih, ternyata ajudan Pak Prabowo ada tiga orang!

Di sisi lain, pak Hidayat sepertinya tidak dikawal ajudan.

Ajudan itu ternyata meminta waktu 3 menit untuk foto bersama. Kami menunggu di dekat situ, dan akhirnya kami bisa foto bareng! Saya dan Erik mengenalkan diri sebagai mahasiswa IPB. Denger kata IPB, beliau langsung tertarik, “oh ini semua IPB?” Saya jawab, “engga bapak, hanya kami berdua saja..”.

13179383_10153761447123155_5039244232438755414_n

Tahun lalu, saya tidak sengaja ketemu Ex-Cawapres RI, Pak Hatta Rajasa di bandara Soetta, kami akan menaiki pesawat yang sama. Eh tahun ini, malah ketemu Ex-Capresnya. HIhihi. Mungkin berikutnya, saya akan ketemu pak Jokowi dan JK sepaket, entah dimana. Semoga saja ketemunya sambil bawa Ecofunopoly. 😀

Selesai berfoto, ternyata MC Reception memulai acara. Di tengah ruangan, ada panggung bernuansa biru yang akan digunakan untuk pembukaan. Acara dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan dilanjutkan ke lagu Uni-Eropa, Ode to Joy. (kalau denger musiknya, pasti tau deh! Coba aja google :D).

Acara dilanjutkan dengan pembukaan oleh Menteri Perdagangan RI, Bapak Thomas Lembong. Before I met him in person, I didn’t know exactly who he is. I mean, what he has done, what is he doing now.

Menurut sumber terpercaya, beliau adalah orang yang super smart dan menguasai 8 bahasa asing. Saat beliau memulai speechnya, suddenly I remember Gita Wiryawan dan BJ Habibie. Cara ngomongnya mirip, suara berat dan very fluent in English. Wow. Kalau ngeliat beginian, orang Indonesia itu banyak yang keren dan luar biasa ya?

Acara pun resmi dibuka. Saat peresmian, si Erik Never Stop, temen gokil saja engga henti-hentinya bikin video  snapchat pake iPadnya di samping saya. Pas lagi recording, ternyata pak Prabowo berdiri di belakang kami!

It’s funny, kalau di Indonesia, mgkn pejabat berdiri di belakang rakyat jelata seperti kami, rasanya seperti tidak pantas. Tapi kalau event Eropa ini, sepertinya lebih terlihat ‘equal’. Malah, duta besar Uni Eropa untuk Indonesia berdiri juga di belakang, tanpa duduk di seat dan diperlakukan seperti raja. Standing party itu bebas banget!

Acara resmi dibuka, MC mempersilahkan kami untuk menyantap makan malam. Yak lanjooot!

Malam itu, saya bisa mencicipi makanan yang sehari-hari tidak pernah saya makan, di Indonesia, mana pernah saya makan European Food, paling banter Sosis Bratwurst Kanzler yang siap goreng, Haha. Saya mencicipi mulai dari Smoked Salmon yang super lezat, Bitterballen (Jerman), Frikadellen, Fish and Chips (Inggris), Paella Seafood (Spanyol), Churros (Spanyol), Herring cake (French), dan masih banyak lagi.

Namanya juga orang Indonesia, rasanya engga lengkap kalau belum makan nasi, akhirnya makan malam saya perpanjang ke Nasi Campur The Dharmawangsa! *Forget the calories please*

Sambil icip-icip makanan, tidak sengaja kami berdiri dekat pak Thomas Limbong. Si Steven ternyata mau foto bareng, saya ikutan juga untuk titip foto, karena hp saya mati total.

Colek dikit, beliau langsung memberikan senyuman maksimalnya, gile ya, muda banget ini orang, udah jd entrepreneur plus menteri pulak. He has a very excellent communication skills. Sepertinya dia terbiasa mixing bahasa saat bicara, jadi alhasil nyampur-nyampur gitu ngomongnya. Berhubung beliau menteri perdagangan, saya memanfaatkan momen untuk memberikan kartu nama saya.

Saya “Pak Thomas, sorry actually I’m nothing, but I’d like to give you this.. I run a small company, we sell environmental boardgame”

He received very carefully and said “Oh I’m sorry I forgot my namecard.. ”

I said it’s fine. At the end of conversation, he said “nice to meet you mbak Nisa..”

Wah, he mentioned my name! jarang-jarang loh pejabat bisa inget nama rakyat jelat yang aku mah apa atuh dalam waktu singkat hihi. Kesan pertama bertemu pak Tom ini menyenangkan!

13055531_10208127838747486_4022429144589684039_n

Ruangan semakin dipenuhi oleh tamu-tamu, sebagian menikmati makanan, sebagian lagi asik ngobrol, dan sebagian lagi asik berfoto ria. Para Erasmus alumni pun engga mau ketinggalan foto bareng. So honoured banget nih bisa diundang atas nama alumni beasiswa Erasmus! 😀

13164440_10153761441393155_2746395054004382578_n

Acara semakin malam, musik jedag jedug mulai diputar. Menurut undangan , memang tertulis ada acara dancing. Saya kira bakal ada dancing formal ala-ala kerajaan Eropa gitu, eh ternyata malah dugem, Haha.

Selagi orang asik joget, saya asik lihat-lihat booth.

berhubung hari sudah malam, saya pulang diantar Steven ke hotel tempat saya menginap.

It was a great night. I feel so proud for being an Erasmus alumni!

Selamat hari Eropa! Yuk bagi yang bermimpi sekolah ke Eropa, daftar yuk beasiswa Erasmus!

Jangan mulai dengan kata “tapi.. ” dulu, mulailah pelajari infonya disini dan jangan menyerah ya!

Salam,

@annisaa_potter

Read More