20 – 30 : In Between

Rasanya kayak baru kemarin gue menginjakkan diri ke umur gue yang ke 20. well I know not-so-yesterday, but not-so-10-years-ago.. rada lebay sih kalau bilang baru kemarin..

Tapiii, gila men, 10 tahun sudah berlalu.. gue keinget waktu gue masuk ke umur 20 tahun.. gue yang begitu enerjik ngelakuin apapun, punya segudang mimpi, suka kesana kesini, dan siap melihat dunia, pokoknya unstoppable! Yeah, that time was the highest energy I had in me.

Gue mengawali hidup gue sebagai twenty something dengan mimpi yang tergenggam erat di tangan gue. Gue gak peduli orang ngomong apa, It’s all ABOUT ME! (egois kan? Hehe)

Betapa excitednya gue menapaki umur 20, karena saat itu gue tahu, umur 20 itu masa terbaik untuk ngelakuin apa aja yang lo mau.. lo sah secara orang dewasa, dan lo sah buat apa aja, itu yang gue pikirin. (lo mikir gitu juga gak?)

Buat gue, umur 20 itu sangat sangat amat krusial, lo akan mutusin pilihan hidup setelah kuliah (kerja, lanjut sekolah, usaha atau ngapain kek yang penting tetep solat), lo akan mutusin untuk menikah (gue dulu punya target menikah umur 23 tahun, meski meleset 3 tahun, tapi gue sadar ternyata menikah itu bukan perkara target-targetan, lo mo jadi manten atau jadi sales sih Nis?), lo akan menemukan siapa aja orang yang akan tetap stay dalam hidup lo (well, I know that I can’t make everyone happy), lo akan mengenal  lebih dekat dengan uang (nah ini seru banget buat dikupas), dan lo akan bisa meluruskan tujuan hidup lo ke depan. Bahkan to be honest, I don’t even care about money, NOT YET till I reach 27 years old. Hahaha.

Pesan Papa Kiyosaki kan gini “In your 20s, Work to Learn, not to Earn

Soooo, gue mutusin untuk menghabiskan 10 tahun dalam fase umur 20an itu dengan mengejar mimpi yang gue inginkan.. travel the world, publish a book (even I published two books), appeared on TV and newspaper (my first media appearance was in SINDO Newspaper!), win international award, run a business,  study abroad, buy a piano dan main sepuasnya, I wanna live my life with what I want to see, what I want buy, what I want to do..

And yes, I did it. Meski gak semua mimpi or jajaran dream list tercapai, but I’m glad I made some of it. Awal nginjak umur 20 tahun, gue ngira hidup ini kayak garis linier.. lo menulis mimpi, lo berusaha kerja keras dan lo bakal dapetin itu semua. Nope, that’s not how life works Kecuali lo keluarga Cendana dan siap sama tanggungan akhirat untuk berbuat gak bener

Gue bisa dapetin apa yang gue impikan, BUT.. it’s all take blood and sweat, I had to go through rejection, failure, or even mental breakdown. Gue sadar di antara berusaha dan hasil yang diinginkan, ada sebuah variabel yang benar-benar di luar kontrol gue sendiri. In the end, I can’t always get what I want.

That’s how I learned about LIFE in my twenties.

Dulu gue bermimpi, gue ingin masuk universitas negeri, dapat IPK yang bagus dan pengalaman layak yang bisa mengantarkan gue mendapat beasiswa Master dan Doktoral, lalu saat lagi sekolah gue menikah dengan lelaki pilihan gue, lalu ngelahirin anak di luar negeri, terus ballik ke Indonesia, bisa kembali ngajar jadi dosen, hidup cukup, suami satu kerja mapan, anak sehat sehat dan pinter (kalau bisa ngikutin pola yang sama kayak gue), rumah sederhana tapi ada taman belakang buat buat duduk ngopi-ngopi, dan happily ever after.

That’s my Princess story.

Itu definisi gue hidup gue yang lurus dan bahagia.

Kalau lo tau perjalanan hidup gue, pasti lo bilang “lah yes bukannya kesampean ya?”

Yeah, I know I made it come true, meski  ada yang meleset juga.

Cara gue nulis mimpi di atas itu, seolah olah gue ini mobil di jalan tol, berjalan mulus tanpa hambatan (tol nya pake tol jerman ya, kalau tol indo kurang cocok jadi perumpamaan). Gak ada jalan bolong, lo bisa high speed boleh, low speed boleh, estimasi waktu sampai bisa diprediksi, pokoknya alus deh kayak kaki bayi, adem ayem kayak ubin musola.

Ternyata gue gak dapet jalan Tol, tapi jalan arteri Kalimalang Bekasi (ni ada beritanya https://news.okezone.com/read/2019/02/17/338/2019068/jalan-arteri-kalimalang-bekasi-rusak-parah-dipenuhi-lubang-seperti-kolam)

Apa yang gue impikan itu hanyalah impian putri dongeng.. gak ada yang mulus, semua berkelok kelok,ada lubang, ada mogok, ada yang malak.

Iya sih, gue dapet beasiswa keluar negeri, tapi setelah gue ditolak lebih dari 10 lamaran beasiswa.

Iya sih, gue bisa menang award, tapi setelah berkali kali gagal kompetisi, (bahkan sedihnya gue pernah ikut lomba, dimana gue pernah dikontak kalau gue masuk finalis dan diundang ke acara penganugerahan, dan finalis akan diumumkan saat pengumuman pemenang di panggung, dan saat gue dateng, nama gue sama sekali gak disebut sebagai finalis. Kayaknya panitia nya lagi iseng bikin prank ke gue)

Iya sih, gue bisa merit dengan lelaki pilihan gue, which I love him sooo much. Tapi setelah bertahun-tahun jomblo, sempet mikir kenapa gue gak laku-laku dari jutaan lelaki Indonesia, bahkan sempet dipepet ama akhi akhi psycho (serius horror banget ini), belum lagi family pressure yang selalu nanyain mana pacar gue, kapan nikah, plus dengan paket banding-bandingin dengan sepupu gue yang sudah pada menikah duluan, eh ternyata jodoh gue lagi sekolah di Jerman. Wak waaaww.. Untung perjalanan gue ke Jerman dibayai ama Erasmus (thanks to Erasmus for sponsoring for my true love finding mission)

Dan hal hal lain yang belum tersampaikan.. my husband and I are still struggling to have a baby (I never talk about this before on my blog) sadly some people think that we don’t wanna have a baby because they just see that I always travel for fun and never think about the future of my family, which that makes feel sucks (that’s why I never talk to anyone about this except my very close trusted friends..

And, my dream to be a lecture.. when I can teach students and run meaningful research, yang ada beres S2 malah jadi pengangguran, cari kerja idealis susah, sampe akhirnya mutusin kerja apa aja yang penting menghasilkan uang dan ngerepotin ortu. I’ve been passed through that time. I always remember where I work at campus and study master at the same time. I came back at home at 10 pm, even more than that, and the next day I have to take a class at 8 am in the morning. Seems normal, but I need to take 2 hours from my home to campus one way. Saat itu rasanya 1 hari itu kayak 40 jam.

Cita cita terpendam gue untuk jadi dosen masih berada di angan-angan gue. Ketika gue tau gue sulit untuk jadi dosen setelah beres sekolah, gue banting setir jadi wirausaha, tanpa modal usaha dan tanpa ilmu bisnis yang mumpuni. Keputusan hidup macam apa ini??? (zoom in zoom out mata kayak sinetron)

Lebih lucu lagi, ternyata gue sebenarnya udah jalan bikin usaha bersama game kesayangan gue, tapi gue sendiri gak paham apa itu bisnis. Jadilah gue menjalani usaha pake teori yang gue punya, lo produksi barang, tambah nilai lebih dari biaya produksi, terus lo jual deh. I adopted that concept for couple of years, after I began to learn what actual business is, dari mana? Dari business model canvas!

Serius this is one of the funniest thing in my life. Ketika jutaan anak muda terjun ke dunia usaha, dengan business model yang cetar, dan keyakinan diri bahwa they are the future of the world.

Gue sendiri terjun ke dunia usaha karena, simple, gue punya produk yang gue kembangkan bertahun-tahun dan gue sepertinya emang gak jodoh ama dunia kerja, gak dapet mulu. Hahaha.

Masuk ke dunia usaha, wew.. it’s like a hunger game arena, lo meleng dikit, langsung ditusuk ama lawan. Hahaha.. engga dink.. dunia usaha itu asik kok, “asik” ya. Lupa dikasi kutip.

Kalau orang bilang “enak ya usaha, atur waktu sendiri, bebas kemana mana, tinggal nyuruh nyuruh, trus duit banyak..”

Entah ni orang kayanya pake referensi orang sukses di MLM ya.. cuma yang bagus-bagusnya aja.

Dari pelajaran gue sih, usaha itu enak, kalau udah tau pahitnya, pahitnya gak Cuma sekali, tapi berkali kali, dan enaknya ya selama bisa menggenggam manis pahitnya itu. Hehehe.

Gue mengaku kalau gue masih early stage banget di dunia usaha. Esensi utama menjadi wirausaha itu ya belajar gak abis-abis. Gue belajar jadi customer service, hingga berani mindahin tugas ini ke orang lain. Gue belajar jadi pengrajin daur ulang, hingga gue coba kasih kerjaan ini ke ibu ibu yang membutuhkan uang, gue merangkap hampir banyak pekerjaan untuk usaha gue, CEO hanyalah titel, kerjaan ya palugada. Hahaha.

Hal yang gue suka dari dunia wirausaha itu mendapat banyak mentor. Gue sadar di dunia ini, lo gak bisa sendiri, bisnis juga gak bisa sendiri. Gue beruntung banget bisa menemukan banyak mentor-mentor yang ngajarin gue tentang arti hidup.

 

Yes, hidup ini ternyata keras men. Hidup ini seperti grafik saham, bisa jatuh sejatuh-nya, bisa naik setinggi-tingginya, kita gak tau kapan datang dan kapan pergi.

But hey, that’s a life, right?

Gue tau apa mimpi-mimpi gue, cara eksekusinya, tapi ternyata gue gak bisa tau hasilnya apa. And that’s the lesson I got from being 20s.

Refleksi lagi dari kata Papa Kiyosaki, you work to learn, not earn. Hidup ini gak Cuma soal angka.

Tanggal berapa lo merit, berapa gaji yang lo dapet, berapa banyak teman yang lo punya. It’s not a number. Number will always be there, dan ternyata gue belajar berproses.. berproses seperti adanya manusia yang sebenarnya gak bisa apa-apa, gue sadar ternyata gue bukan superhero yang bisa ngelakuin apa aja, dan bisa mewujudkan segalanya dengan tingkat presisi yang tepat.

10 tahun gue belajar bagaimana gue bisa bermimpi, bagaimana gue bisa achieve, bagaimana gue gagal, dan bagaimana gue bisa move on. Semua itu proses. Bahkan sampai detik ini perlu proses.

PROSES. PROSES. PROSES.

Semua gak akan bisa gue capai kalau engga melalui serangkaian proses. I’m glad I spent my whole 20s taking so many process, whether it ‘s successful  or failure. Both taught me a good lesson.

Di beberapa momen, gue bersyukur banget gue mendapat kegagalan, di umur yang muda ini. Cara gue memandang kegagalan itu jauh berbeda dengan sekarang. Beda banget. Dan ini yang menjadi kebanggaan diri gue menjadi orang dewasa.

Gue bersyukur banget kalau ternyata hari hari yang telah gue lewati selama 10 tahun terakhir telah gue habiskan ini lebih banyak untuk experience statisfaction than material satisfaction.

I’m glad, so glad. Gue mungkin menyesal jadi kere, tapi gue lebih nyesel lagi kalau gue gak punya banyak pengalaman, apalagi traveling.

Gue bersyukur selama 10 tahun terakhir, I’ve been traveled around the world (most of them are free).

Gue keliling Eropa, backpacking, solo travel, magang ke Amerika, keliling Indochina sama suami, pergi ke Pakistan dua kali (trip terakhir bikin jantung mo copot), tiga kali ke Australia dalam misi belajar dan bisnis, bawa Skripsi ke Korea, ke Arab Saudi bareng bos bos start-up.

I am so much blessed that I had a chance to see the world, lebih tepatnya keliling dunia di usia muda, di luar kemampuan finansial gue, karena banyak orang baik di luar sana yang ngasi gue kesempatan ini.

Kalau mau pake itungan angka, maybe I have to spend almost a billion rupiah to travel around 33 countries. I know I couldn’t afford it, but what is life without a surprise? I even made it without those bunch of money on my bank account!

Sebagai wanita yang lahir dari keluarga kelas menengah dan still try to make a living, travel is seen as tertiary needs. Gue senang bisa ngewujudin tanpa harus merepotkan orang tua dan tanpa harus ngutang. Bersama tulisan ini, gue ingin menyampaikan rasa terima kasih untuk semua sponsor trip gue! Gue doakan kalian masuk surga!

I know that my journey is not ended here, so have to continue my amazing life as a Student Traveler.

Gue jadi curiga, apa jangan-jangan gue belum move on ya jadi anak umur 20an, hehehe… kok rasanya kayak ngulik ngulik masa lalu terus belum move on. :p

Well, waktu gak bisa kita ulang, tapi gak bisa kita stop juga. Ini yang gue takutkan, gue bisa aja takut gak punya uang, tapi gue lebih takut sama gak punya waktu, atau melewati waktu gitu aja.

10 tahun terakhir ini gue sadar betapa berharganya waktu. Untuk apa?

Untuk mengetahui hal yang gue gak tahu, buat gue hal yang paling ngeri itu ketika lo gak tahu apa aja yang berguna buat hidup lo kelak!

Gue baru belajar bisnis di akhir umur 20an, while some people start at early 20s.

Gue baru belajar investasi di akhir umur 20an, while Warren Buffet started when he was 12 years old.

2 tahun terakhir, gue tercerahkan sama dunia Investasi. Gue akui gue masih snob banget, baru mengenal yang namanya reksadana, saham, emas, dll… I wish that I could know earlier. Then, my life would be different. Dan kemungkinan besar, dunia ini yang akan jadi prioritas gue saat gue masuk ke kepala tiga. Gue sadar banget kalau selama ini mindset gue tidak tepat, gue bikin keputusan yang salah, dan lain lain. Gue stop pegang mindset lama gue, dan pergi menuju mindset baru.

Belajar investasi ini ngajarin gue lebih dari sekedar duit. Even gue sadar, kalau entrepreneurial world itu gak Cuma soal duit (yang masih merasa ini non-sense, it’s okay, gue juga pernah kok kayak gitu,, hehe).

Catatan ini sebenarnya gue buat untuk nostalgia kembali masa-masa 20an gue, gue berharap diri gue yang nanti menginjak umur 40, 50, atau 80.. (bila Allah memberi umur) gue bisa buka notes ini dan senyum senyum sendiri. (moga moga gue versi tua gak serius serius amat ya, hihihi).

Catatan ini juga gak mau lagi gue buat terlalu klise, terlalu goal oriented. Biasanya kan kalo nulis isinya catatan catatan keberhasilan, llist apa aja yang udah tercapai. Ke depannya, gue ingin menulis lebih banyak soal proses, dibanding hasil. Gue tetap bermimpi, tetap punya goal, tapi gue akan sharing banyak prosesnya dibanding achievementnya. Lagi lagi soal proses, gue dapet pencerahan baru dari seorang investor bernama GaryVee, he enlightened me about harsh life fact, yang kadang kita gak mau denger, kita gak mau terima.

Makin dewasa, gue ingin gue semakin jujur terhadap diri gue sendiri dan menghadapi realita tanpa harus mengubur mimpi. Karena selama nafas masih berhembus, selama otak kaki tangan gue masih ada, gue selalu puny acara untuk mencoba lagi. Sepahit apapun masalah yang gue hadapi, gue harus jalani, dan pastinya mengambil semua konsekuensi hidup yang gue pilih kelak. Because I am the only person who can take responsibility of my own action. Gue gak mau bikin bikin resolusi aneh aneh untuk masa depan gue, because that thing is just sooo cliché. Hahaha.

Sebenarnya ada banyak banget sih kenangan yang ingin gue flashback dalam tulisan ini, tapi biarkan saja gue kenang dalam diri gue, dan tulisan mungkin bisa menjadi representasi catatan hidup yang kelak ingin gue kenang nanti nanti..

Last but not least,I was so much inspired by many things I’ve seen. I was fascinated by movies, public figures, books, etc. I can give you some examples: Habis demam Bohemian Rhapsody, gue ngefans banget sama Brian May, a legendary Queen guitarist, but he got his PhD in Astrophysics, how cool is that? Ada lagi, Yalitza Aparicio, seorang aktris dari Meksiko yang masuk nominasi Oscar berkat peran utamanya di film yang amat ciamik ROMA buatan Alfonso Cuaron, FYI, she’s not even an actress! She is a teacher, and ROMA is her first movie. I love to see a lot of people who cross boundaries, see the outer space as their limit, yang gak pernah dipikir banyak orang bakal terjadi.

So, I have one wish that might be crazy to accomplish, but I think I want to do something that I’ve never done before, even I have a skill to do it, but maybe someday when the time is right. Maybe write a movie script, be a Zumba instructor, or maybe direct a movie?

This might be my last post I write during my twenties..

Dear Life,

 

I just want to let you know that I’m leaving my 20s soon…

Thank you for all life lessons..

Now I am ready to be a new thirty..

I won’t ask you “Please be nice..” because I know life isn’t always nice,

But please make me stronger, make me better.

 

Regards,

Annisa

 

 

 

 

 

Read More

Catatan Akhir Tahun 2016

Yeayy, Back again to my ritual at the end of the year!
Alhamdulilah wa syukurlah, Allah masih kasih saya nikmat sehat dan segala nikmat yang tidak terhitung jumlahnya.Tepat saya menulis tulisan ini, saya sedang dalam perjalanan bus dari Cambodia menuju perbatasan Cambodia-Vietnam. Ini kali ketiga saya tahun baru di luar negeri, and my choice is Ho Chi Minh City!

Hmm, Teknologi udah semakin canggih, menulis catatan kayak gini mungkin keliatan kuno dibanding the best nine picture di Instagram atau video satu tahun buatan Facebook yang bisa ngasih rangkuman aktivitas satu tahun, tapi buat saya nulis itu ada sensasi tersendiri, nulis menjadi ruang aktualisasi saya untuk menuangkan isi kepala saya yang penuh dengan mimpi besar 🙂

Tahun 2016 adalah tahun keberanian. Ini tahun transisi hidup saya yang penuh dengan lika liku, ibarat metamorphosis, mungkin saya sedang berubah dari kecebong kaki empat menjadi katak muda. Well, I know that tidak semua orang bisa ‘melihat’ lika liku hidup saya, sebagian besar hanya bisa melihat ‘ih enak ya bisa jalan-jalan terus.. ” hehehe. #okesipgapapa #itsokayIlikemyself #ngikut kirana

Setengah tahun pertama di 2016 itu merupakan tahun kritis saya dalam menyelesaikan tesis. Beribu cobaan yang saya hadapi selama mengerjakan tesis telah menempa saya, mulai dari keterlambatan pencairan beasiswa, (hingga detik ini belum cair, Beasiswa B*krie sangat mengecewakan! Tidak recommended untuk kamu yang S2 di dalam negeri) hingga saya harus berjuang pantang panting mencari biaya penelitian dan living cost, penelitian yang seringkali ditambah Konten nya hingga saya cukup mabok, akhirnya pembimbing memberi ACC di ujung masa studi saya dengan melakukan seminar dan sidang, belum lagi urusan tetep banget administrasi sekolah yang jelimet (maklum ‘German efficiency’ masih kebawa ke Indonesia, jadi ya agak shocking). Tapi, alhamdulilah, semua bisa dilalui dengan penuh air mata dan pengorbanan ini melahirkan gelar MSi. Alhamdulilah, tujuan saya sekolah bukan untuk gelar, tapi untuk mencapai kematangan berpikir yang lebih baik. Kalau mau bicara gelar doank sih, saya juga ga tau mau diapain tuh gelar, hahaha. Saya ingin mengucapkan terima kasih untuk semua rekan dan kolega yang udah banyak bantu saya melalui masa sulit ini, mulai dari yang bantu kasih kerjaan untuk nyambung hidup hingga bantu Fotokopiin. Saya ga mau sebut namanya satu per satu, biarkan Allah yang mencatat sebagai amal buat mereka, amiiin.

Setengah tahun berikutnya, hidup saya menjadi lebih baik, lebih tepatnya My life got better because I spent much of my time to fulfill my passion.
2016, I started my life as a Writer, menjadi penulis buku Student Traveler rasanya luar biasa!
Saya mendapat banyak kesempatan untuk Traveling around Indonesia untuk bedah buku dan berbagi kisah saya sebagai seorang Student Traveler dan Penulis. Kepuasan pribadi buat saya ketika melihat ada orang yang membaca buku saya, dan mereka termotivasi untuksekolah keluar negeri atau sekedar menginjak kan kaki di luar negeri. Kalo bahasa keinginannya sih #goals. Hehe.
Undangan berdatangan mulai dari Sd di Bekasi, SMP Internasional di Cibubur, hingga Universitas di Malang. The best thing is that I got a chance to meet new people because of their interest on my book and travel world. GA nyangka kalau pembaca buku saya bukan cuma mahasiswa, tapi anak SD, Smp, bahkan orang tua.

THE GROW OF ECOFUNOPOLY 

This year, I learned that consistency and patience are the key to build my dream. Now I’m talking about my long-life baby: ECOFUNOPOLY. 7 tahun sudah saya mengembangkan Ecofunopoly hingga detik ini. Ecofunopoly adalah produk dari zona ketidaknyaman hidup saya yang banyak mengajarkan saya tentang Kreativitas, pengorbanan, bisnis, dan inovasi. Saya berani untuk tidak mengambil kehidupan yang lebih mapan dengan tetap bersama karya yang saya bangun. Bonding yang begitu kuat ini tanpa disadari membuat diri saya seperti sekarang ini, saya merasa lebih yakin dan percaya atas apa yang sudah saya kembangkan sejak lama. Saya akan menyangkal kalau ada yang bilang Ecofunopoly itu sudah sangat sukses, buat saya, Ecofunopoly adalah sebuah perjalanan, perjalanan tiada akhir. Sukses itu relatif, tapi perjalanan sebuah karya itu endless. Alhamdulilah, tahun 2016 ini Ecofun mendapat banyak kesempatan untuk berkolaborasi bersama instansi nasional, seperti Kebun Raya Bogor (Thanks to Reza), Kementerian LH dan Kehutanan (thanks to mbak Nahdya), Taman Nasional Gunung Leser (thanks to Mas Koes), DKPP Tangkil, dan masih banyak lagi. Kolaborasi ini memberikan banyak feedback untuk Ecofunopoly ke depannya.

Momen paling membahagiakan tahun ini bersama Ecofunopoly adalah ketika kami meraih 1st Prize Winner kompetisi Indonesia Socio pressure Challenge 2016. Setelah proses yang begitu panjang, alhamdulilah tim Ecofun berhasil mendapat predikat ini, dan insya Allah kami akan mengeluarkan produk terbaru dengan tema baru! Tunggu tanggal mainnya ya 🙂
Saya juga ingin menghaturkan ucapan terima kasih kepada seluruh teman-teman, saudara, kolega yang sudah membantu kami dalam proses kompetisi. Saya percaya keberhasilan kami ini bukan capaian individu, tapi berkat dukungan dari banyak pihak.
Tahun ini cukup banyak keputusan besar yang saya ambil, salah satunya dengan mendirikan CV. Ecofun Indonesia, sebuah social enterprise yang bergerak di bidang pendidikan lingkungan dan sains, berkat bantuan mbak Renny dan mas Ojan, CV ini bisa berdiri (Thank you). Berhubung baru berdiri, belum kerasa apa-apa sih, paling merasa keren aja pas laporan pajak di kantor pajak., pegawainta bertanya, “Apa ibu ini direktur CV. Ecofun Indonesia? Mohon ttd disini”. Beuuh, mau bilang engga, tapi aktanya tertulis gitu,.. Wkwkwk. Jadi budir-budiran dulu (budir=ibu direktur), inshaAllah segera jadi beneran ya, amiiin.
Terlepas dari kisah budir dadakan, tahun ini inshaAllah I’m starting my new life as a Social Entrepreneur. Saya sadar hidup ini misteri dan tidak pernah bisa kita duga. Lulus S1, saya ingin menjadi dosen, hingga saya langsung mengambil S2, namun pada perjalanannya, saya mendapat pencerahan baru dan terinspirasi dari orang-orang yang saya temui., ternyata semua berkata lain. Meski di hati kecil saya masih ingin menjadi dosen. Saya teringat Martha Tilaar dulu ditolak menjadi seorang dosen, namun ternyata dialah menjadi pengusaha besar yang luar biasa menginspirasi. Belum kesempatan jadi dosen, eh saya malah diundang sebagai dosen tamu Universitas Pancasila, padahal saat itu saya belum lulus.

MET BANG ANDY

Kejutan lain lagi datang dari Jakarta, tiba-tiba saya dihubungi oleh Kompas TV, mereka mau meliput Ecofunopoly di Big Bang Show! Yup, TV show tentang social Entrepreneurship yang dihost oleh Andy F. Noya! Senengnya luar biasa, karena buat saya diliput oleh bang Andy itu tingkatan tertinggi peliputan media dalam bidang sosial, inget banget banyak orang yang mendoakan termasuk mama dan sahabat saya supaya bisa masuk ke Kick Andy, eh ternyata kesempatan di tahun ini, meski bukan Kick Andy, tapi tetap bersama bang Andy. Awal Desember silam, saya tapping bersama bang Andy yang super humble di studio Silver, kami bermain Ecofunopoly raksasa. Ga pernah terbayang sih bisa main Ecofunopoly bareng beliau. Hihihi. Alhamdulilah. (Fabiayyi ala irobbikuma tukazzibaan).
InshaAllah liputan nya akan hadir Hari Minggu tgl 8 Januari 2017 jam 20.00 di Kompas TV, jangan lupa nonton ya!

Student Traveler’s Life
Nah, ini nih bagian paling enak dalam hidup saya: traveling!
Selama 2016, saya berhasil menginjak kan kaki ke 6 negara baru hingga membuat saya resmi menginjak kan kaki ke 28 negara!

Januari yang dingin saya terbang menuju Hong Kong untuk mengikuti program Make A Difference, disitulah saya menginjak kan kaki di negara ke 23. Menyerupai Hot milk tea, solo traveling ke Tian Tân Buddha di tengah kabut putih, hingga mendapat teman-teman baru. Mindset saya berubah terhadap HK, dari negara belanja menjadi negara maju yang kaya akan sejarah dan budaya. Layaknya orang Portugis di masa lampau, Macau adalah negara ke 24 yang saya singgahi.

September silam datang kejutan luar biasa. Saya mendapat invitation untuk hadir di MiSK Global Forum di Riyadh, Saudi Arabia, acaranya Pangeran Arab S Bulan November, Arab Saudi menjadi negara ke-25 yang saya ingatkan, dan perjalanan inilah yang membawa saya ke tanah suci untuk umroh. Subhanallah, (Fabiayyi ala irobbikuma tukazzibaan). Selama enam hari, saya berhasil mengunjungi empat kota besar di Saudi: Riyadh, Mekkah, Madinah, dan Jeddah. Perjalanan ini lagi lagi mengingatkan saya bahwa rejeki dari Allah itu benar-benar tak terduga dan dahsyat. Cerita lengkapnya bisa dibaca di postingan berjudul “Middle East Trip” di Web ini yaaa.

TRAVELING  IS AN INVESTMENT 

Sejak jadi penulis buku Traveling, saya sudah tidak lagi melihat Traveling sebagai liburan semata. Traveling buat saya adalah investasi. Memang tidak semenjanjikan investasi fisik, tapi saya percaya Traveling itu long term benefit. Saat ini saya berada di border Cambodia-Vietnam berkat royalti buku yang saya dapatkan (plus hunting tiket murah). Saya pikir daripada royalti dipakai untuk jajan yang bs habis dalam beberapa minggu, saya pikir investasi karena kembali ke dunia Traveling akan lebih baik. Jadilah saya pergi ke Indochina untuk mencari inspirasi baru dalam menulis. Saya menjelajahi Phnom Penh, Siem Reap, Don Khon, hingga Ho Chi Minh, ternyata semua negara ini memakan pandangan baru untuk saya. Traveling lebih banyak mengajarkan saya untuk lebih mencintai daripada membenci. Saya jujur sedih banget di Indonesia, sosial media dipakai untuk perang politik dan SARA, belum lagi media media yang sudah dipenuhi kepentingan, hingga saya ga tau mana yang benar, alhasil pikiran jadi ikut keruh. Alhamdulilah Traveling akhir tahun ini lebih menyegarkan kembali otak saya, dan mengingatkan kembali untuk lebih membuka hati dan pikiran terutama dalam membangun hubungan dengan orang yang berbeda kepercayaan dan adat. Sepertinya sebagian besar orang Indonesia feel worry too much, mudah tergiring opini dan beda sedikit langsung ribut.Semoga saya tidak termakan hal seperti itu dan tetap menjadi muslim yang rahmatan Lil alamin.

Resolusi 2017?
Pertama-tama, saya ingin mengucapkan syukur Alhamdulilah Suami, Ayah, Mama, Ibu Mertua dan kedua adik saya masih diberi sehat walafiat oleh Allah SWT.

Resolusi pertama saya adalah kesehatan untuk semua orang yang saya cintai.

Resolusi kedua: Ecofunopoly bisa lebih banyak membawa dampak lebih besar lagi dan menjadi ladang amal bagi semua orang yang terlibat.

Resolusi ketiga: Mendapat kepercayaan dari Allah untuk menjadi orang tua. We keep praying for little Andik or little Annisa. Jika memang belum waktunya, semoga kami bisa lebih sabar menghadang judgement banyak orang tentang kenapa kami belum memiliki momongan. Beginilah endonesah, ada yang jomblo belum nikah nikah, yang ribut tetangga, ada yang udah nikah tapi belum punya anak eh yang mikirin sodara lapis ketujuh (ga kenal kenal amat), Lebih berharap lagi, semoga kami dijauhin dari orang macam gitu. Amiiin

Resolusi keempat : dilancarkan dalam penerbitan buku kedua STUDENT Traveler (ups bocoran deh!). InshaAllah tahun depan buku kedua saya terbit, tunggu tanggal mainnya yah!

Resolusi kelima: Memperbaiki diri dan introspeksi diri, lebih mendekatkan diri kepada Allah, lebih rajin ibadah sunnah dan rajin solawat setiap saat.

Resolusi keenam : Lebih banyak Traveling ke negara baru! Tentunya gratis donk, hihi.

Resolusi ketujuh : semoga akan ada banyak Kejutan kejutan hidup yang lebih luar biasa lagi, dan tentu atas Ridho Allah Swt dan Ridho suami. Amiiin.

Oke deh sekian Catatan Akhir Tahun 2016, saya siap bertemu 2017!

Salam Student Traveler dari Vietnam!
Vielen dank und auf wiedersehen!

Baca cerita seru saya Traveling gratis ke berbagai negara di buku Student Traveler ya! Buku tersedia di Gramedia, Gunung Agung dan toko buku terdekat. Pesan online bisa ke www.penebar-swadaya.net.

Read More

#InovasiBuatSaya

Waaah, hari ini ga nyangka dapet tag dari Wina (temen SMA dan temen sekampus),

Beberapa hari lalu, gue diminta wina untuk ngirim 1-2 kalimat tentang inovasi. Gue kira buat dipake di acara kantornya (Green TV IPB). Eh ternyata untuk programnya Kemenristek RI!

Wah seneng banget, wajah gue bisa nampang bareng beberapa tokoh penting di Indonesia. Well, I still don’t deserve the title of ‘Tokoh’. hihihi. Tapi anggap aja rejeki bisa nampang bareng Adi Nugroho, Mien R Uno, Nadiem Makarim dlll.

Quote #InovasiBuatSaya !

13427839_10156969954605654_280916512457139661_n

Thanks Kemristek RI for having me!

Don’t forget to follow IG account @ristekdikti!

Read More