Refleksi Akhir 20an : Andai Dari Dulu..(Chapter 1)

Note : This post is divided into several chapters. Please take your time to read it, no need to rush, each story will takes 3-4 minutes reading. So enjoy reading!

Helow, helow~

Apa kabar? Ya ampun udah lama banget gue gak bikin post disini. I feel so much guilty for being a passive blogger lately. Buat gue, menulis itu penting untuk menjaga kesehatan mental gue. Tapi jarangnya gue nulis ini memang dikarenakan oleh keputusan gue untuk mengambil prioritas lain, yaitu ngurusin tetek bengek usaha yang membutuhkan fokus dan konsentrasi tingggi, udah gitu masih upside down. Gue sadar kalau ada banyak hal yang perlu dikorbankan, salah satunya keluangan waktu untuk menulis. Tapi, a lot of things happened to me in the past few months, belajar dari kegagalan satu ke kegagalan lainnya. Gue dapat kesempatan belajar hal-hal baru yang selama ini gak pernah gue tau, lewat buku, Instagram, ketemu orang, seminar, dll. Dan akhirnya gue tersadar kalau bertambah dewasa itu berarti kita semakin mematangkan diri.. wawasan, karakter, hingga pola pikir. Beuh berat amat sih ini ngomongnya?

Kali ini, postingan pertama gue di tahun 2019 engga bahas soal traveling. Tapi hal lain yang gue pikir patut gue bagi ke para pembaca, yang sepertinya pembaca tulisan gue ini lebih muda dari gue (ya gak sih?).

FYI, bentar lagi gue akan meninggalkan status being twenty something, sebulan lagi (jika Allah kasih umur) gue akan berumur 30 tahun! Tiga puluh tahun? OMG..

Waktu gue kecil liat orang umur 30 tahun itu kayak udah tua banget ya, hehehe.. dan bentar lagi gue akan menjadi early thirty something.

Excited? Hmmm.. gue belum ada jawaban yang tepat untuk ini.

Yang pasti, being late 20s cukup banyak memberi pelajaran hidup buat, hingga gue seringkali berpikir “andai gue tau ini dari dulu..”. Rasanya seperti ucapan penyesalan, tapi bukan untuk menyatakan kemunduran diri, tapi refleksi ke depan biar lebih getol lagi untuk membuka diri akan hal-hal baru.

Berada di fase umur akhir 20an, gue selalu diingatkan lagi tentang “apa tujuan hidup lo?” “apa sih yang lo kejer selama ini?” pokoknya mencari tau makna menjalani hidup, pelan-pelan gue menemukan petunjuk-petunjuk yang mengarah pada jawaban yang gue cari. Umur segini tuh biasanya akan mikir mikir soal eksistensi diri, kemapanan, social life hingga urusan duit.

Okay, Gue pengen bahas sesuatu yang jauh lebih noble dari pengejaran yang terasa gak ada habisnya, tentang sesuatu yang bikin gue nyesel kenapa gue gak tau dari dulu, sesuatu yang gue yakin bakal berdampak dalam hidup gue dan gue pikir sepertinya penting banget gue share ke para pembaca, siapa tau kalian bisa lebih eling (sadar) lebih awal dari gue. Terlepas dari seberapa eksis lo di dunia nyata atau dunia maya, seberapa tajir lo dari hasil kerja keras lo, yang terpenting adalah mindset, mindset, mindset. Cara lo berpikir akan menentukan lo akan menjadi apa di kemudian hari. Kita seringkali merasa percaya kalau apa yang kita pahami, apa yang kita percayai ini sudah sempurna. Kalau dari pengalaman gue sih, bahaya banget kalau masih punya mindset kayak gitu! Gue sekarang percaya kalau pola pikir itu akan berkembang, ketika kita mau ngebuka diri akan hal baru, bahkan pada hal yang gak kita percaya.

Gue ingin nulis ini karena gue yakin ada banyak orang diluar sana yang berada di posisi gue sekarang, yang lagi nyari makna hidup, mengejar mimpi, menaikkan kualitas hidup, pusing dengan social pressure dan in the end, become a life success!

Moga-moga pembaca disini tidak sedang terjebak dalam hidup yang salah ya, mungkin gak terjebak, hanya belum tau aja. Oke, gue pengen berbagi beberapa poin penting yang cukup membuat pola pikir gue jauh lebih baik dan bijak.

  1. Financial Literacy a.k.a Melek Keuangan

Lahir dari keluarga kelas menengah yang selama ini menganut prinsip hidup ala Poor Dad. “Poor Dad” adalah sebuah istilah yang dipopulerkan oleh buku Rich Dad Poor Dad karangan Robert Kiyosaki, istilah ini merupakan sebuah mindset yang sering tertanam pada kelompok kelas menengah yang gak dapet pendidikan keuangan sejak dini. Gampangnya gini, kita diberi gambaran hidup bahwa kita terlahir di dunia itu harus mengikuti formula berikut:

(1) happy-happy jadi anak kecil

(2) masuk ke sekolah formal bertahun-tahun, jadilah yang terbaik secara akademik

(3) cari kerja yang bonafit dan aman dari pemecatan (no matter how much you hate the work, but at least you’ll get a good money and you won’t get fired

(4) work, work, work, have a stable career, be the best employee, don’t make any mistake, get promotion, get a raise

(5)  build a nice house, nice car, holiday abroad twice a year.

(6) Pensiun, bahagia di masa tua.

Selesai.

Inilah mindset yang tertanam dalam diri gue selama ini, kerja keras, jadi yang terbaik, disitulah kita bakal bahagia. Jadilah gue orang yang mengikuti pola itu, dan ada satu hal yang terlewat: Pendidikan Keuangan. Ternyata selama ini gue hidup di mindset Poor Dad. Tanpa bermaksud menyalahkan siapa siapa, termasuk ortu yang sudah membesarkan gue, gue baru ngeh sama pendidikan keuangan saat jadi orang dewasa. Itu kenapa fase kanak-kanak dan fase ABG gue hanya melihat uang sebagai alat untuk membeli kesenangan, beli mainan, beli makanan, dll. Gue tidak paham akan kekuatan memiliki pendidikan keuangan akan mengubah the way I think about money.

Pendidikan keuangan emang gak diajarkan di sekolah (guru-guru sekolah kita sendiri sebagian besar masuk ke dalam golongan Poor Dad), karena sistem pendidikan kita menganut mindset Poor Dad. Guru-guru sekolah juga mungkin sebagian besar menganut formula yang gue jelaskan tadi. Gue sekalipun gak pernah diberi saran sama guru “Annisa, perkuat skill keuangan mu, maka kamu bisa jadi apa saja dikemudian hari, tanpa harus bergantung pada active income..”

Saran-saran umum yang dikasi ke gue sebagai seorang murid “belajar yang rajin, nanti bakal diterima di universitas ternama..” “jadilah murid paling pinter, nanti bakal dapet kerjaan yang bagus, gaji besar..”

Semua saran itu gak salah, hanya ada bagian yang missing. Gue sadar kalau banyak orang termasuk gue hidup dalam pengejaran pasif income, dan tidak tahu banyak soal pasif income. Inilah pendidikan yang didapat oleh “Rich Dad”, istilah yang menggambarkan orang yang melek finansial dan tahu kalau kita gak bisa terus-terusan ngejer active income dari profesi yang kita tekuni.

Jadi, maksudnya jadi karyawan itu jelek? Jadi paling pinter itu jelek?

Nah, disini gue pun tidak bermaksud mendiskritkan profesi karyawan dan orang pintar lalu mendefinisikan kelompok “Rich Dad” itu para pengusaha. Bukan, bukan itu maksudnya.

Yang gue ingin tekankan adalah betapa kelompok Poor Dad ini menganggungkan formula di atas tadi, dan mengesampingkan pendidikan keuangan. Seolah-olah urusan uang itu baru boleh dibicarakan kalau sudah dewasa dan akan ngalir dengan sendirinya. Gue sering membayangkan waktu umur 12 tahun gue udah melek finansial, uang uang THR lebaran gue engga akan angus begitu aja untuk memuaskan nafsu membeli ini itu.

Itulah kenapa sekarang seminar tentang financial literacy bertaburan dimana-mana, banyak orang yang mengalami masalah keuangan atau ingin membicarakan soal keuangan, tapi gak tau kemana. Bukannya mereka kere atau gak punya, sekali lagi menjadi melek keuangan itu engga didasari pada status pekerjaan (mau karyawan, mau freelance, mau usaha, bebas) dan status keuangan kita sekarang, mau banyak duit, lagi ngutang. Bangun mindset melek finansial itulah yang harus dimulai sejak dini, apapun profesi kita. This financial knowledge has impacted me most to these days.. gapapalah sekarang masih snob-snob dulu. Hehehe.

Syukur alhamdulilah, sekarang gue dan orang-orang sekitar gue sama sama senang diajak upgrade diri untuk lebih melek finansial. Gue mau berterima kasih juga sama akun @jouska_id yang makin meyakinkan diri gue untuk menaruh pendidikan keuangan sebagai ilmu baru yang harus terus dipegang.

  1. Am I a True Enterpreneur?

 

Continue reading Chapter 2 : Am I a True Enterpreneur? here

Read More

MUSEUM BATIK : KODE-KODEAN ALA ORANG JAWA

Saya kira Generasi Milenial lah yang mempelopori “kode-kodean”, ternyata jauh sebelum itu, (jauuuh dari generasi Tik Tok Alay), orang Jawa jaman dahulu lah yang memulai kode-mengkode. Bukan dengan kata-kata, tapi dengan media yang jauh lebih elegan, yaitu dengan motif Batik.

Menurut saya, sebagian besar kondisi museum di Indonesia ini menyedihkan sekali.. usang, tidak up-to-date, dan minim cerita. Derajatnya mungkin jauh dengan mall-mall yang makin terupdate. Mungkin itulah kenapa banyak generasi muda yang lebih asik tiktok-an daripada ngepoin perjuangan pahlawan memerdekakan Indonesia. Kondisi ini berbeda dengan museum yang pernah saya kunjungi di negara lain terutama di Eropa dan Amerika yang umumnya kekinian, sarat dengan cerita dan enak dilihat. (Moga-moga ini bukan gejala post-travel-abroad syndrome ya, begitu mengagumi luar negeri, lalu merendahkan negeri sendiri).

Eh, Ternyata, tidak semua seperti itu lo. Ada beberapa museum yang saya temukan sangat menarik, salah satunya museum yang baru saja saya kunjungi di kota Solo yang menjadi ciri khas kota itu sendiri: Museum Batik.

Kota Solo ini sebenarnya kota yang selalu ingin saya kunjungi, namun sayangnya sejak kecil setiap saya ikut mudik keluarga ke Madiun dengan angkutan darat, kota Solo hanya jadi tempat singgah saja., gakpernah muter-muter, apalagi bermalam. Akhirnya belasan tahun kemudian, saya kesampaian juga berwisata ke kota ini!

Buat saya, Solo itu kota penuh sejarah dan budaya. Salah satu keraton Jawa ada disini, meski saya dengar katanya kondisinya agak (more…)

Read More