MY FIRST FELLOWSHIP EXPERIENCE AT DELOITTE USA

 

Going to USA for the first time was an unbelievable moment in my youth life. I got rejected 6 times to go to USA before, but soon I realized that I got the answer in 2017, I was selected as YSEALI Fellowship program. To be honest, I’ve never experienced Fellowship before. But I knew that this is the right time for me to go with a special mission.

Since last year, I am running a small social enterprise in Indonesia with my growing up board game, Ecofunopoly. I knew that I need  a room to grow myself and SE bigger, not only locally but also globally. And I choose YSEALI as a way to achieve it. Thank God, YSEALI (more…)

Read More

10 Fakta Unik tentang Yangon

Jujur, Myanmar bukan salah satu negara impian gue untuk didatangi. Gue hampir ga pernah ngepoin negara ini. Tapi, kalau ada trip gratis kesana, siapa yang mau nolak? Hehe. Alhamdulilah, gue dapat kesempatan untuk mengunjungi negara ASEAN satu per satu, jadinya gue malah ketagihan untuk melihat negara ASEAN lainnya. Sampai bulan April silam, delapan negara ASEAN sudah gue kunjungi, tinggal Myanmar dan Brunei Darussalam aja yang belum.

DSCF3241

Beautiful Shwedagon Pagoda, Yangon at night

Berkat project YSEALI berjudul Ecofun Go ASEAN yang sedang gue jalankan, gue berhasil menapaki negara ASEAN ke-9: Myanmar! Untuk project YSEALI ini, gue memilih tiga negara : Indonesia, Filipina, dan Myanmar. Gue lihat tiga negara ini cukup mewakili mayoritas budaya dan kepercayaan yang mereka anut. Indonesia dengan Islam-nya, Filipina dengan Kristen-nya, dan Myanmar dengan Buddhism-nya. Yangon adalah kota tujuan gue untuk melakukan misi project, selama satu minggu gue mengeksplor sebagian kecil daerah Yangon dan sekitarnya.

DSCF3057

Enjoying sunset in Kandawgyi Lake, Yangon

Ternyata (more…)

Read More

Catatan Akhir Tahun 2015

Time flies so fast!

And, this is my 7th ‘Catatan Akhir Tahun’, Gila ya engga terasa banget dalam hitungan jam kita akan memasuki tahun 2016. J

Alhamdulilah, saya bersyukur kepada sang Maha Pencipta yang telah memberikan kesempatan bagi saya untuk menuliskan Catatan Akhir Tahun (CAT) yang ketujuh selama saya menjadi seorang blogger lepas. Hidup ini sepatutnya untuk dinikmati dan disyukuri banyak-banyak, oleh karena itu saya selalu menyisihkan waktu saya di akhir tahun dan menuliskan bentuk rasa syukur saya berupa sebuah catatan rangkuman atas apa yang telah saya alami sepanjang tahun. My life is just beyond my expectation, even there’s an high and low.

Tahun 2015 telah banyak membawa perubahan dalam hidup saya. Perubahan dalam diri, perubahan status, perubahan angka, dan lain-lain.

Mimpi-mimpi saya satu per satu sudah bisa dicoret di tahun ini, Alhamdulilah.

Some of greatest moments in my life happened in 2015. I’m so so so grateful with it.

EXPLORING SCANDINAVIAN

Saya memulai awal tahun 2015 dengan berkelana ke Eropa Utara. Saya menghabiskan malam tahun baru di sebuah kota kecil di Swedia, bernama Malmo. Malam yang dingin di Malmo, saya bisa menyaksikan bagaimana orang-orang Eropa merayakan tradisi merayakan Tahun Baru di pusat kota, dengan menikmati iringan musik band sambil menyeruput champagne. Lalu, pada klimaksnya diakhiri dengan menyalakan kembang api raksasa. Akhirnya saya bisa merasakan langsung seperti apa merayakan Tahun Baru di Eropa seperti yang biasa saya lihat di TV. Pada tanggal 1 Januari 2015, saya memulai perjalanan dari Lund, Swedia menuju Oslo, ibu kota Norwegia dengan bus lokal.

12

For once in my life, I spent my 1st day in the year by crossing the country border. Menyusuri dataran Skandinavia saat musim dingin was amazing! I wish I could do it again in another country, J

Perjalanan menuju Skandinavia telah resmi membuat saya menjelajahi 22 negara!

GETTING MARRIED

Tiga minggu pertama di bulan Januari saya habiskan di Eropa untuk keperluan implementasi project Ecofunopoly. Dan kemudian saya kembali ke tanah air untuk menjalani rutinitas normal. Namun ada satu hal yang berbeda kali ini, rutinitas normal saya ditemani oleh agenda yang cukup diidamkan oleh para wanita : menyiapkan pernikahan. Ya, sejak resmi bertunangan dengan seorang lelaki yang (tidak sengaja) saya temui di Goettingen, ketika kami menempuh studi di Jerman, saya disibukkan oleh persiapan pernikahan yang akan dilangsungkan pada tanggal 15 Mei 2015 (If I write it in numbers, it’s so ‘cantik’, 15-05-2015). Selama kurang lebih empat bulan, saya menyiapkan pernikahan saya, mulai dari daftar KUA, tes kesehatan, mencari cincin, membeli seserahan (and lucky me, karena awal tahun Eropa ada banyak diskon besar-besaran, saya beli sebagian seserahan di Jerman, hihihi), fitting baju, pilih catering, dan masih banyak lagi. Setelah kesepakatan keluarga, Akad Nikah dilangsungkan di rumah, dan Resepsi dilangsungkan di Gedung Biotrop keesokan harinya. Adat yang dipilih adalah adat Jawa (I’m halfblood of Javanese, and my hubby is full blood of Javanese). J

Setelah melewati kerempongan persiapan pernikahan dan segala ritual pra nikah, 15-05-2015 I officially became Mrs. Andik Fatahillah. This 2015, I changed my status from a single woman to be a wife. J

13

Couple days after wedding, I continously fulfilled my dream when I’m married : Go to Bali for honeymoon. I believed that Bali is the best destination for honeymoon. Ubud is my dream place to spend honeymoon with my beloved husband. Menikah itu memang benar menambah rejeki. Baru nikah beberapa hari, rejeki kami berdua pun ditambah dengan mendapatkan tawaran untuk memperpanjang our honeymoon days di Lombok!

Kolega dekat saya dan suami di Goettingen menawarkan rumahnya, sehingga kami tidak perlu sewa hotel selama di Lombok. Berhubung saya belum pernah ke Lombok, we took the offer! Alhamdulilah, NTB menjadi provinsi ke-14 yang saya kunjungi.

Our honeymoon was completely amazing and adventurous! Bayangin aja, saya dan suami menyusuri Lombok dari Selatan ke Utara dengan menggunakan motor tua selama 8 jam! Hahaha. mungkin ga bisa disebut honeymoon sih, tapi honeypacker (honeymoon backpacker), hehehe. But we did enjoy it though.

After honeymoon, I lived together with my husband only in a short period, just for a month. Because he hasn’t finished his study, so he should go back again to Germany at the end of January. Yes, I’m sad, but we must separated for a while.

LIVING AS NEWLYWED-STUDENT-COUPLE

Since both of us still have no settled job at that time, we relied our living on our own savings, we lived in my parents house for free a.k.a nebeng. Yes, being married as students is not easy financially, but it taught us a lot. Saya mulai percaya bahwa Allah swt sudah menyiapkan rejeki bagi orang yang menikah.

Tiba-tiba saya mendapat tawaran dari mbak Indri untuk mengajar bahasa Indonesia untuk mahasiswa S3 Jerman secara freelance. Syukur Alhamdulilah, ternyata rejeki Allah itu terbukti ada. Tahun 2015 telah mengajarkan saya bahwa we should live our life with no fear.

Kadang-kadang tekanan hidup dan tekanan sosial selalu memberikan ketakutan-ketakutan pada manusia. Being 20s in this hard life sometimes is not easy to handle. But, I did through all over it, and still running… This year has taught me that we can make a plan, we can do our best, and in the end.. put less worry and don’t expect too much, so then life will be more easy for you. That is my lesson learned in my 26 years old life.

Setelah menikah, saya resmi punya dua orang tua, pada awal bulan puasa, saya pertama kalinya pergi ke rumah Mertua, hihihi. Salah satu fase yang harus dilewati setiap wanita ketika resmi jadi istri orang adalah berkunjung ke rumah Mertua, alhamdulilah (I think) I did it well as daughter-in-law. Hehe.

Minggu ketiga bulan Ramadhan, suami pun kembali ke Goettingen untuk menyelesaikan tesisnya yang tertunda. Now, I realized why being LDR between husband and wife is much harder than LDR-nya orang pacaran (nanti kalau udah nikah akan ngerasain sendiri kok, hehehe).

PUBLISHING A TRAVEL BOOK

Suami pergi, ternyata rejeki itu engga pergi. Empat hari sebelum lebaran, I got unexpected call. And, it changed my life.

Bulan Februari silam, saya iseng mengirimkan sebuah naskah berisi cerita traveling yang diambil dari blog saya (cerita lengkapnya bisa dibaca disini) dengan judul Student Traveler. Sempat tidak ada kabar berbulan-bulan, kemudian pada akhir Juli saya mendapat telepon dari mbak Tiya, editor dari Penerbit Penebar Plus. Mbak Tiya dan direktur dari Penerbit ingin bertemu dengan saya untuk membahas terkait dengan naskah yang saya kirimkan.

Perasaan campur aduk datang, saya bertanya-tanya apakah mereka sudah baca naskah saya? Kira-kira apa pendapat mereka ya? Karena saya belum dapat kabar apa-apa, kemungkinan terburuknya adalah naskah ditolak.

Dua hari kemudian, saya bertemu dengan mbak Tiya dan Pak Rudi, Direktur Penebar Swadaya.

Unexpectedly, before I started the conversation with them, Pak Rudi said, “We’re going to publish your book on August..”

Eh?!

Is that true?

“Pak, emang naskah saya beneran diterima pak? Soalnya saya belum dapat kabar apa-apa…” tanya saya heran dan kaget setelah mendengar pernyataan pak Rudi.

They said yes. Yes! Oh my God, do I have to say again? It’s Yes!

Kebahagiaan terpancar langsung dari wajah saya. I just can’t believe that I’m going to publish a book!

I’m not a writer, not a good writer exactly. But, 2015 gave a big luck on me.

Saya hanyalah seorang blogger lepas yang mungkin tidak punya talent menulis hebat, but I invest my time since 2008 to write in a blog, and to prove that everyone can write, include me. Saya hanya sekedar orang yang suka menulis tentang apa yang saya sukai, dan sudah berjalan selama 7 tahun. My 7 years investment on writing produced a book, Subhanallah.

Percakapan kami dilanjutkan dengan topik persiapan penerbitan, editing konten, rencana launching, dan lain-lain.

I told my parents and husband right after that. They’re just feeling so much happy as I was.

Proses menuju naik cetak buku ternyata cukup menyita energi dan waktu. My editor and I put so much energy on it, finally at the end of August, naskah buku di-ACC untuk diterbitkan.

Lebih menyenangkan lagi, saya mendapatkan endorsement dari one of my favourite travel wirter, Trinity ‘The Naked Traveler’! Rasanya ga percaya, dapat endorse dari mbak Trinity yang bukunya selalu saya baca. She is my influence, I guess. J

September 6th 2015 was one of the awesome moments in my whole life. I launched my book “STUDENT TRAVELER” in my campus, IPB at the time The 2nd Bi Annual Returnee Seminar was held.

5

Nothing’s happier in my life when I saw people bought my book enthusiastically. The book was sold out!

The hard work was paid off. Alhamdulilah.

Tahun 2015 telah mengajarkan saya bahwa ternyata tidak ada yang kebetulan,  semua sudah diatur di waktu yang tepat, di tempat yang tempat. Every moment whether it’s good or bad, every person you’ve met, every thing you’ve done are gifts. I learn so much from it. Passing through quarter life crisis isn’t always bad. It gave me a lesson.

Akhir bulan September, buku saya resmi terbit di seluruh Gramedia dan toko buku se-Indonesia. Betul memang ada kebahagiaan yang tidak bisa dibeli dengan uang, salah satunya adalah ketika melihat buku sendiri yang dipajang di etalase toko buku. That was priceless.

“There is a happiness that you can’t buy with money. That kind of happiness is priceless.” – @annisaa_potter

On September, I began my new life as a book writer. For the purpose of book promotion, I was introduced my self as @annisaa_potter. Misi utama dari buku Student Traveler ini sederhana saja. Saya hanya ingin meyakinkan anak-anak muda, bahwa nothing is impossible, termasuk traveling and going abroad. Melihat dunia adalah hak semua orang, tanpa pandang who you are, who is your parents, are you rich or not. Pergi keluar negeri bukanlah milik orang kaya saja, tapi buat siapa saja yang ingin terus belajar, ingin menjadi lifetime learner, ingin membuka wawasan, dan ingin lebih memahami makna hidup. I do believe money does matter to do traveling, but there are many ways to travel without our own money.

Dengan buah pemikiran kita, dengan karya kita, dengan segala hal yang dihasilkan dari otak kita, we surely can fulfill our dream to go abroad. I’ve done it for 6 years, and it’s still counting..

12195759_752963108181170_2107027580822403589_n

Setelah menerbitkan buku, saya belajar bereksperimen seputar marketing, self-branding, the power of social media, and so on. There are many things that I learned outside from book, I learned it from my own life, and it was awesome. Neverending learning was truly awesome.

GETTING MORE MULTIPLE IDENTITIES

As a quote says, “Knowledge is nothing without regeneration”. Saya berkomitmen pada diri sendiri, selagi bisa, selagi mampu, saya harus bisa berbagi cerita dan pengalaman saya kepada siapa saja yang membutuhkan pencerahan.

Since I published my own book and became alumni of Georg August University Goettingen, Germany, I just got more multiple identities. Biasanya saya sering diundang untuk menjadi pembicara sebagai Founder Ecofunopoly, usaha board game berbasis ligkungan yang saya ciptakan atau sebagai Leader Komunitas Sosial EcoFunCommunity, biasanya engga jauh seputar topik isu lingkungan, pendidikan lingkungan, usaha kecil menengah, atau ecopreneurship. Kali ini, undangan untuk sharing bertambah lagi topiknya: travel writing, motivasi go abroad, kepenulisan dan jurnalistik, dan beasiswa keluar negeri. Syukur alhamdulilah masih diberi kesempatan untuk mengamalkan ilmu yang didapat, meski saya yakin saya masih jauh di atas sempurna. I’m still a learner, but I just love to share it. I’m so thankful.

12187890_752960908181390_1149660832345241232_n

IMPROVING ECOFUNOPOLY

Alhamdulilah, meski sibuk dengan urusan buku, saya masih diberi kesempatan untuk mengembangkan Ecofunopoly, board game yang menjadi bagian hidup saya sejak tahun 2009. Bulan November silam, Ecofunopoly terpilih sebagai salah satu pemenang Program Wirausaha Muda dari Kementerian Koperasi dan UKM Republik Indonesia. Program ini memberikan bantuan dana untuk pengembangan usaha kecil, rencananya dana ini akan digunakan untuk produksi ulang dan repackaging Ecofunopoly. Selain itu, pada bulan Oktober silam, Ecofunopoly bergabung dalam CRC 990, sebuah payung kerjasama penelitian Indonesia-Jerman untuk berpartisipasi dalam acara German Science Fair di Museum Nasional Jakarta. Ecofunopoly versi bahasa Indonesia dan bahasa Jerman di-display pada booth CRC dan DFG (Deutsche Forschung gemeinshaft). Saya sempat mengenalkan game-nya ke Bapak Ilham Habibie. Kehadiran Ecofunopoly dalam German Science Fair telah mengundang media dan blogger untuk meliput. I found a lot of articles about Ecofunopoly after the event.

Saya juga sempat diundang sebagai narasumber dalam acara Earth Day di Sekolah Bogor Raya untuk menceritakan tentang Ecofunopoly dan praktik bersama para murid untuk bermain Ecofunopoly, selain itu mendapat undangan sebagai guru tamu di Sekolah Alam Bogor. As usual, Kids are very enthusiastic with games.

For the first time in 2015, Workshop Ecofunopoly didatangi oleh rombongan dosen dan mahasiswa Shiga University Jepang. Mereka tertarik dengan daur ulang dan isu lingkungan. Sebanyak 24 mahasiswa Jepang dan Indonesia datang ke rumah saya di Ciawi yang menjadi lokasi workshop Ecofunopoly untuk melihat proses pembuatan pion dari daur ulang, pengecatan pion, dan praktik bermain Ecofunopoly. They were very enthusiastic. Even the Sensei (lecturer in Japanese) that she was very surprised that Ecofunopoly was created by me in a young age. Thank you Sensei!

12376035_883409131755842_5290643687694256036_n

Semoga Ecofunopoly terus memberikan manfaat positif bagi masyarakat dan lingkungan, khususnya generasi muda. We’re still improving, both environmentally, social, and economically. Wish us good luck for the next years!

NEW YEAR’S EVE 2015 : KEEP SIMPLE AND SURROUNDED BY THE PERSON YOU LOVE

New Year’s Eve saya kali ini kembali lagi seperti biasanya, staying at home, but now I was accompanied by my beloved husband. Alhamdulilah, Sabtu silam, suami sudah lulus dan kembali ke pangkungan istri, hehe. One of my Year’s End gift : Hubby is home. Since married, I want to keep my life as simple as it used to be. Sometimes, being simple and balance is very luxury in these hard world. No need to push myself so hard, put less expectation, and no need to rush in life. Being ambitious is good, but still, not crossing the line.

Just do what I want, work with passion and joy, care for people who loves you and just enjoy every single moment of life.  

I do wish that 2016 will bring me more maturity, more happiness, and more expected journey!

Goodbye Amazing 2015, See you Soon 2016.

With love,

@annisaa_potter

 

 

 

 

Read More