24 Hours Summer in Austria

“… Raindrops on roses and whiskers on kittens ..
.. Bright copper kettles and warm woollen mittens …
… Brown paper packages tied up with strings …
These are a few of my favorite things …. ?

– My Favourite Things – Julie Andrews from Sound of Music movie

Pernah nonton film Sound of Music?

Film legedaris tahun 60an ini menceritakan tentang seorang postulant bernama Fraulein Maria (Julie Andrews) yang dikirim ke rumah keluarga Von Trapp untuk mengasuh enam anaknya. Disitulah Fraulein Maria mengajak anak-anak tersebut berpetualang sambil bernyanyi-nyanyi. Setting film ini berlokasi di kota Salzburg, Austria pada saat Perang Dunia II berlangsung, dan film ini diangkat dari kisah nyata.

Hal yang menarik bagi saya adalah film tersebut menyuguhi indahnya pemandangan alam Salzburg.  Dipadukan dengan alunan soundtrack lagu-lagu ala Broadway, film ini menjadi sangat membekas di benak para penonton termasuk saya, sampai-sampai lagu My Favourite Things dimainkan ulang oleh pianis Jazz cilik asal Indonesia, Joey Alexander, bahkan bisa mengantar dia ke ajang Grammy Awards!

Oke singkat cerita sih, I really really wanna go to Salzburg someday! I wanna have my own ‘Sound of Music’ experience!

5. day two (43)

Setelah mengecek peta, ternyata kota Salzburg ini ternyata kota paling dekat dengan Jerman bagian Selatan!

Saat saya mengenyam studi di Jerman, saya langsung menitikan kota Salzburg sebagai ‘a place to see before I die’. Pada awal musim panas sekitar bulan Mei,saya iseng membuka web agen travel murah, saya menemukan tiket kereta express dari Goettingen (Jerman) ke Salzburg (Austria) only for 58 Euro untuk Pulang Pergi! Wow, jarang-jarang saya nemu kereta segini murah. (Konon, kunci untuk dapet tiket murah itu booking jauh-jauh hari). Saya langsung tawarkan tiket murah itu ke ibu Dr. Sintho Wahyuning Ardie, dosen saya dari IPB yang kebetulan sedang short exchange di kampus saya. Senangnya lagi, beliau mensponsori tiket keretanya (Huwaaah~ Thanks ibu~ >.< Rejeki anak solehah banget nih, hihi..) Tanpa berpikir panjang, kami langsung book dua tiket PP dan siap untuk berpetualang ke Salzburg!

Berhubung kami traveling-nya saat weekend, jadi kami hanya berangkat Sabtu pagi, dan pulang Minggu sore. Hihihi, keliatan gaya banget yak, liburan weekend perginya ke Austria. Maklum Jerman-Austria itu kayak pergi dari Bogor ke Banten! 😀

 BANGUN KESIANGAN

Suatu pagi di musim panas, saya terbangun dari tempat tidur, dan beberapa detik setelah nyawa terkumpul, Saya mengambil hp untuk melihat jam (Di kamar saya tidak ada jam dinding). Loh kok hpnya mati? Saya langsung buru-buru liat jam tangan yang ada di meja. Oh MY GOD..

Jam 6.50 pagi!

Jam berapa kereta saya berangkat? Jam 7.10 pagi! 20 menit lagi kereta berangkat.

Pagi ini adalah waktu keberangkatan saya ke Salzburg. Saya langsung charge HP. Parahnya lagi, saya mengandalkan alarm hanya di HP saja, karena HP mati otomatis alarm tidak menyala. Sesaat setelah saya charge HP, saya melihat ada sekian missed calls dari ibu Sintho yang muncul di HP saya. Ya ampun, how stupid I am.. Suasana serba panik, saya langsung SMS beliau,kalau saya langsung berangkat dan saya meminta beliau untuk berangkat lebih dulu jika ingin, namun ternyata beliau ingin menunggu saya. Waduh!

Jarak dari Dormitory saya ke stasiun kota memakan waktu sekitar 20 menit dengan sepeda. Saya langsung buru-buru ganti baju, dan langsung mengambil tas ransel yang sudah saya siapkan sejak semalam. (Untung sudah packing).

Buru-buru saya mengayuh sepeda dengan kencang menuju stasiun. Untung banget saya berada di Jerman, karena saat weekend jalanan biasanya sepi , jadi mengendarai sepeda bisa lebih leluasa. Pikiran saya sudah kemana-mana dan campur aduk. Pertama, saya sudah merasa akan ketinggalan kereta. Kedua, saya sudah membuat orang menunggu , dan yang menunggu itu dosen saya. Parahnya lagi, tiket yang kami beli adalah tiket promo, alhasil tiket tidak bisa dikembalikan uangnya!

Setiba di stasiun dengan nafas terengah-engah (sampai kaki engga kerasa pegalnya akibat mengayuh sepeda yang super kencang), saya langsung lari menemui bu Sintho.

Jam di stasiun menunjukkan pukul 7.20 pagi. We missed the train for 10 minutes.

Saya meminta maaf ke bu Sintho, namun anehnya, beliau justru lebih kalem dari saya, she said “everything happened for a reason”. Hahaha.

Setelah bisa mengatur nafas, saya pelan-pelan berpikir untuk mencari cara supaya kita bisa berangkat. Aha!

Saya : “Oh iya bu, kalau kita naik kereta yang jam berikutnya aja gimana? Kan biasanya dalam sehari ada beberapa jadwal kereta dengan tujuan sama.”

Bu Sintho : “Barusan saya tadi ke loket service, terus nunjukin tiket ini, katanya tiket ini engga bisa untuk jam berikutnya, dan kalau kita tetep naik , konsekuensinya bisa diturunin di jalan”

Saya : “Hmm, iya sih bu, karena tiketnya murah, jadi ga bisa diapa-apain..”

Saya langsung berpikir ulang, andai harus membeli lagi, mungkin akan dikenakan harga yang luar biasa mahal, bisa sampai € 150 per orangnya!

Waktu terus berjalan, tiba-tiba saya langsung membayangkan what if I cancelled my trip to Salzburg.. aaaaarrgh tidak!

That’s not gonna happen.

Saya : “Oke bu, kita hajar aja naik kereta berikutnya, perkara diturunin atau engga, itu urusan belakangan ya bu, kalau kita diturunin di jalan, nanti kita pikirkan lagi, at least we try.. Hehe, gimana bu?”

For once in my life, saya ngajakin travel nekat ke dosen sendiri. What is life without a risk? 😀

Bu Sintho : “Boleh, saya sih hayu aja, toh saya juga belum pernah ngalamin kayak gini..”

Wow! Syukurlah, bu dosen ini mau juga diajak nekat! Hehe.

So we decided to the next train, next departure is 8.10 am.

Note: Disarankan untuk tidak meniru apa yang saya lakukan setelah ini, hihi.

Sambil menunggu kereta ICE datang di Gleis (Jalur – Jerman), saya lagi memikirkan skenario apa yang paling bagus supaya kami bisa bertahan di kereta sampai Munich. FYI, Kereta kami menuju Salzburg akan transit sekali di Munich. Perjalanan akan memakan waktu tidak singkat, 6 jam dari Goettingen ke Munich, lalu 2 jam kurang beberapa menit dari Munich ke Salzburg.

Ting!

Saya : “Bu! Kita pura-pura jadi turis yang ga bisa bahasa Jerman aja bu.. pura-pura oon gitu.. toh kan di tiketnya tertulis jam 7.10, nah kalau kondekturnya ngecek, terus bilang kereta yang kita naikin ini salah, kita pura-pura engga ngerti aja bu… Gimana?”

Bu Sintho *sambil senyum-senyum* : “….. oke, saya nanti diem aja ya Nis..”

Beliau mungkin mikir “ya ampun ini bocah, bisa-bisanya ya bikin skenario di saat genting gini” hahaha.

ACTING “TURIS” DI KERETA

Dan, kereta ICE pun datang, sambil dag dig dug serrr, kami berdua memasuki kereta. Di kereta ICE ini, kalau kita tidak memesan kursi, maka kita boleh duduk dimana saja, asalkan di kursi itu tidak tertulis nama pada label kecil dekat kursi. Kereta yang kami naiki cukup penuh, sehingga kami perlu waktu mencari kursi. Saat berjalan di koridor dalam kereta, saya bertemu dengan staf wanita berseragam Deutsche Bahn (perusahaan kereta Jerman) yang sedang berkeliling mengecek tiket penumpang. Staf wanita itu memandang kami yang kebingungan, disitulah saya memulai aksi.

(Note : Please don’t try this ya! Haha)

Saya memasang wajah kebingungan, dan bertanya ke staf wanita tersebut.

Saya : “Excuse me.. do you.. mmm, speak English?” saya sengaja bertanya dengan bahasa Inggris yang dibuat terbata-bata.

Staf : “Yes, of course, how can I help you?”

Saya (masih pasang muka bingung) : “Hmm.. where we can sit in this train?”

Ini jurus pertama saya, bertanya seolah-olah saya tidak mengerti tentang seat kereta.

Staf : “Actually, you can sit anywhere you want, as long as it’s free…”

Saya : “Oh thank you, so can we sit here?” saya sambil nunjuk dua kursi kosong dekat saya.

Staf : “Yes, of course!” sambil senyum.

Saya mengucapkan terima kasih dengan bahasa Inggris (kalau momen begini ga boleh keceplosan ngomong Jerman, bisa gagal nih skenario!)

Kami berdua duduk. Eh, si stafnya langsung mendekati kami dan berkata: “Ticket please..”

JEDARR!

Hati, perut, dan pikiran saya bergejolak. It feels like it’s the end of the world. Saya langsung membuka sleting tas perlahan dan mengambil selembar kertas A4 yang merupakan tiket kami berdua, lalu saya serahkan kepada si staf itu.

“duh siap-siap diturunin di perhetian berikutnya nih..” pikir saya saat menyerahkan tiket itu. Bu Sintho sangat kalem dan stay cool. Saya ga berani memandang mata staf itu.

‘CEKREK’

Terdengar suara jepretan kecil pada kertas yang saya berikan.

“There you go, thank you very much!” sahut si staf sambil menyerahkan tiket saya yang sudah ditandai dengan alat jepretan. Eh? Saya bengong, bu Sintho juga bengong.

“Oh my God, kita lolos bu!” sahut saya dengan mata terbelalak senang. Bu Sintho yang tadinya kalem dan agak tegang, langsung mengeluarkan senyuman gembiranya.

“Itu stafnya engga ngecek ya?” tanya bu Sintho ke saya.

“Hmm, mungkin dia cuma ngecek destinasi dan kereta aja kali ya bu.. atau apa karena kita berlagak oon, jadi pas dia liat tiket kita jam 7.10, karena kita turis, kita jadinya dimaklumi ya?” tanya saya sambil terheran-heran.

I should win an Oscar for Best Actress in “Chasing the Train to Salzburg” movie! (langsung dilemparin tomat ama Meryl Streep).

Lolos pengecekan aja saya masih heran dan masih menjadi misteri, tapi syukurlah… Kita engga diturunin di jalan, hati pun lega dan gembira. Pelajaran buat saya banget nih untuk engga boleh kesiangan di hari keberangkatan.

Salzburg, we’re coming soon! (belum nyampe kotanya aja, udah bikin uji nyali aja.. hihihi)

Enam jam menuju Munich saya habiskan dengan ngobrol-ngobrol bersama bu Sintho. Beliau adalah dosen yang meraih gelar Doktor di usia muda dari Tokyo University, salah satu universitas terbaik di Jepang. Ngobrol dengan beliau rasanya lebih seperti teman dibanding dosen. Hihihi.

We had so many conversations sampai engga terasa kalau kita ngobrol terus selama 6 jam! Hihihi.. Perjalanan dari Goettingen ke Munich memberikan pemandangan alam yang sangat cantik, I should never missed a chance to enjoy it from the window!

Sekitar jam 2 siang, kita tiba di Munich. Waktu transit hanya sekitar 45 menit. So, kita memutuskan untuk muter-muter area stasiun sambil mencari makan siang. It’s funny that I visited Munich for two times, first one was only transit in Munich Airport, but this one only in the Train station.

Saya memutuskan untuk beli Doner box berisi irisan ayam dan kentang goreng seharga  € 4. Kota Munich atau biasa juga disebut München merupakan kota dengan biaya hidup tertinggi di Jerman. Bahkan harga Doner box yang normal-nya  € 3, disini  € 4.

Saya dan bu Sintho langsung pergi menuju jalur kereta yang akan berangkat menuju Salzburg. Kereta yang kami naiki berwarna hitam ini memiliki kursi yang berhadap-hadapan. Kami pun langsung duduk di kursi yang masih kosong. Beberapa menit kemudian, kereta sudah penuh dengan penumpang.

Saya pernah dengar kalau daerah Bavaria atau Jerman Selatan (dimana kota Munich berada), warganya agak kurang welcome dengan orang asing. Konon, banyak terjadi pelecehan dan kekerasan di daerah ini. Di dalam kereta, saya merasakan atmosfernya. Entah kenapa, suasana yang saya rasakan agak berbeda dengan suasana yang saya dapat di Jerman Utara, salah satunya kota Goettingen, tempat saya sekolah. Ada remaja perempuan di depan saya yang memandang saya begitu sinis. Ketika saya berbicara dengan ibu Sintho dengan bahasa Indonesia, tiba-tiba dia langsung melirik sinis. Bu Sintho juga ikut merasakan hal yang sama. Lalu, ketika saya ingin mengambil handphone dari tas. Sesaat saya membuka retsleting, mata dia langsung mengarah ke tangan saya yang membuka tas, masih dengan pandangan sinis. Saya heran sendiri, apa tingkah saya mencurigakan?

Sekitar pukul 15.30, kereta kami pun tiba di Salzburg, Austria.

TOUCHDOWN, AUSTRIA~

Senior saya yang sudah pernah ke Salzburg sebelumnya sempat bilang kalau kota Salzburg itu tidak besar, sehingga bisa diakses dengan jalan kaki. Karena kami hanya memiliki waktu sekitar 24 jam di Salzburg sampai esok hari, kami memutuskan untuk membeli tiket 24-STUDENKARTE (24 Hours Ticket) seharga € 3,30 untuk naik bus dalam kota.

day one (2)

Setelah mendapat peta dari pusat informasi di stasiun, kami langsung menaiki bus menuju pusat kota. Bahasa resmi  di Austria adalah bahasa Jerman, tepatnya Austrian German. Saya dengar dari teman saya orang asli Jerman, kadang-kadang mereka pun menemukan kesulitan untuk memahami bahasa Jermannya orang Austria. Hihi, aneh ya, mungkin berbeda aksennya. Austria ini sudah cukup lama diokupasi oleh Jerman. FYI, Adolf Hitler lahirnya di Austria loh, bukan di Jerman.

Setelah menaiki bus, kami memutuskan untuk pergi menuju Mirabell Garten. Tidak sampai 10 menit, kami pun tiba di taman tersebut. Ternyata spot wisata terdekat dari Stasiun kereta itu Mirabell Garten, dan bisa jalan kaki juga dari stasiun.

MIRABELL GARDEN

Cuaca di Salzburg sore itu cukup mendung, untungnya tidak hujan. Memasuki Mirabell garten, I can feel the atmosphere of “Sound of Music”. Huwaaah~ Meski mendung, Mirabell Garten tetap memancarkan aura terangnya yang berasal dari bunganya yang berwarna warni.

“Uwaaaah, cantik banget bunganya..” takjub saya melihat bunga-bunga berwarna kuning, merah, orange yang ada di depan mata saya.

Mirabell Garten ini adalah sebuah taman bergaya simetris yang berisikan aneka bunga-bunga berwarna-warna, juga dilengkapi dengan patung-patung berwarna putih pucat. Di tengah taman, terdapat Mirabell Palace bergaya Baroque yang dibangun pada abad 16.

Bagi fans Sound of Music, pasti akan familiar kalau lihat taman ini. Marabell Garden ini adalah taman saat anak-anak Von Trapp bernyanyi “Do Re Me” bersama Fraulein Maria, di taman ini kita akan melihat patung Pegassus dan Dwarf Garden. Dalam hati, saya sambil bersenandung “Do Re Me, Do Re Me… “. 😀

day one (20)

Dari Mirabell Garten ini, kita bisa melihat dari kejauhan sebuah bangunan tua yang berada di atas bukit , Festung Hohensalzburg.

Studler Tips. Make sure that you  take a picture from Mirabell Garten with Festung Hohenslazburg as the background! It’s so beautiful~

MOZART HOUSE

Meninggalkan Mirabell Platz, kami berjalan mendekati pusat kota. Tepat di sudut jalan, saya melihat rumah dengan tulisan “Mozart Wohnhaus” (Rumah Tinggal Mozart).

day one (94)

Siapa yang tidak kenal Mozart? Bernama lengkap Wolfgang Amadeus Mozart, dia adalah seorang pianis yang menghasilkan banyak masterpiece lahir di kota kecil ini. Rumah tersebut telah dijadikan museum dan souvenir shop. Saya memasuki souvenir shop dan disana ada banyak aneka jenis souvenir berbau musik. Saya membeli beberapa kartu pos dan perangko, lalu saya mengirimkan postcard kepada teman saya yang bekerja sebagai guru biola di Bogor.

Studler Tips. Kirimlah postcard (Postcard hanya 40 sen dan perangko € 1,70) ke teman dekat kamu yang sangat menyukai musik klasik dari kota musik, seperti Salzburg (Austria), Eisenach (Jerman), atau Warsawa (Polandia). They will love it!

Kami melanjutkan perjalanan dengan menyeberangi Staatsbrücke, jembatan utama kota Salzburg yang menyatukan Inner Stadt (Inner Town) dan Alt Stadt (Old Town). Di Jembatan ini, saya disuguhi oleh panoramic view kota Salzburg yang indah sekali, sungai Salzach yang mengalir tenang, tampak kejauhan rumah-rumah bergaya klasik dan dibelakangnya lagi bukit hijau, it’s so European.

day one (130)

Saat berada di jembatan ini, alunan Le Nozze di Figaro karya Mozart terngiang-ngiang di kepala saya.

Udara sejuk membuat saya nyaman berkeliling kota , cukup dengan mengenakan coat tipis saja. DI jembatan ini pula saya melihat benda-benda tak asing lagi, Gembok Cinta. Aneka gembok cinta sudah terpasang penuh di pagar jembatan besi tersebut. FYI, ada beberapa toko suvenir di dekat jembatan yang menjajakan gembok cinta, harganya sekitar € 5.

3. Salzburg city (18)

 

AUSTRIAN CULINARY : SALZBURG NOCKERL

Hari semakin sore dan dingin, saya dan bu Sintho ingin mencicipi makanan yang khas sambil minum minuman hangat. Memasuki area Old Town, kami menyusuri jalan bernama Getreidegasse, salah satu jalan tertua di kota Salzburg yang berisikan aneka toko-toko bernuansa klasik dan antik (Jalan ini Instagramable banget!). Menyusuri jalanan tua ini, kami menemukan sebuah cafe bernama The Mozart Cafe. Di dekat pintu masuk, kami melihat ada sebuah gambar makanan berbentuk seperti cake, disitu tertulis Austrian authentic menu.

Hmm, looks yummy, then we decided to go inside and have a short break.

Menu yang kami lihat itu namanya Salzburg Nockerl, semacam sweet soufflé yang berbahan dasar kuning telur, gula, tepung, dan vanilla. Kami memesan 1 porsi Nockerl seharga  € 12 dan dua cangkir minuman panas seharga € 2 per cup.

Cafe-nya cozy dan bernuansa vintage. Untung kami dapat duduk di dekat jendela, sehingga kami bisa mengintip jalan Getreidegasse dari jendela. Beberapa menit kemudian, seporsi Nockler datang ke meja kami. Wow, besar juga ya!

Saya sentuh sedikit Nockler-nya ternyata lembut dan kenyal, mirip puding tapi lebih lembut lagi. Guten apetit!

Ternyata telur-nya berasa banget, tapi enak!

3. Salzburg city (52)

Setelah short break sambil mencicipi makanan khas Salzburg, kami melanjutkan perjalanan mengitari area Getreidegasse yang cantik. Setiap sudut jalan begitu klasik, deretan toko-toko yang menjual makanan, asesoris, pakaian, dll menggunakan sign toko bertemakan vintage.

3. Salzburg city (26)

Di Jalan Getreidegasse nomor 9, saya menemukan rumah bertuliskan “Mozart Geburtshaus” (Rumah Lahir Mozart). Disinilah pianis ternama duSintho abad 18 lahir. Bagi yang belum tau siapa Wolfgang Amadeus Mozart, silahkan cari “Symphony no.40 Molto Allegro” di YouTube.  Musik-musiknya begitu familiar dan sering di remake oleh musisi masa kini.

Studler Tips. Belilah Mozart Kugeln (Mozart Ball) untuk oleh-oleh! Mozart Ball ini sebenarnya coklat berbentuk bola bergambar Mozart, harganya Cuma 50 sen saja! Cocok untuk oleh-oleh mahasiswa. Hihi.

Hari semakin gelap, saya dan ibu Sintho memutuskan untuk kembali ke halte dan pergi menuju hostel.

HOTEL TANPA PENJAGA

Hostel yang saya pesan berada di pinggir kota. Waktu sebelum berangkat, saya agak kesulitan mencari penginapan murah, entah sudah full booked atau memang tidak banyak hostel murah disediakan di Salzburg. Saya menemukan sebuah hostel di pinggir kota seharga € 40 per orangnya untuk Standard Double Bed Private Ensuite. Hostelnya berada di pinggir kota bagian Timur Salzburg sehingga kami harus naik bus khusus menuju luar kota. Halte bus terletak di dekat Mirabell Garten. Ternyata bus yang kami naiki itu bukan bus kota, tapi seperti bus pariwisata yang seatnya menghadap ke depan semua. Kami naik bus dengan membayar tiket 4 euro per orangnya (tiket 23 jam tidak berlaku untuk bus ini). Menurut info dari website, perjalanan memakan waktu sekitar 15 menit. Hari sudah gelap, saya hanya bisa melihat siluet bukit-bukit yang sudah berwarna hitam. Bus kami terus menanjaki jalan. Sepertinya hostelnya terletak di dataran tinggi. Entah malam itu saya seperti merasa sedang naik bus ke Cisarua Puncak, hahaha.

Karena takut terlewat, saya langsung mendekati supir, dan bertanya halte terdekat hotel. Supirnya terlalu fokus nyetir, akhirnya saya engga berani nanya. Alhasil saya pasang mata mencari sign hostelnya, semoga aja terbaca, karena sudah gelap sekali. Tiba-tiba bus berhenti, dan supirnya memelototi saya.

“Oh here?” tanya saya kepada si supir.

Supir itu mengangguk kalem. Kami pun turun, dan setelah bus pergi, saya tidak bisa melihat siapapun kecuali saya dan ibu Sintho. Sepi banget!

Tepat di seberang kami, ada papan besar bertuliskan Hotel Berghof Graml. Alhamdulilah, sampai juga! Sepertinya hotelnya bagus, dan tidak seperti hostel. Memasuki lobi utama, kami tidak menemukan siapapun, bahkan di meja resepsionis, engga ada yang jaga. Saya mendekati meja resepsionis, dan disitu saya menemukan sebuah kunci dan di sebelahnya bertuliskan nama “Annisa Hasanah”.

What?

“Bu, apa ini kunci kamar kita ya? Kok main taro aja?” tanya saya heran.

Bu Sintho juga ikut kebingungan. Saya cek jam, oh sudah jam 9 malam! Apakah pegawai sudah pulang semua? Tapi kan biasanya hotel itu selalu ada pegawai yang jaga.

4. Berghof Graml Hotel (2)

Ini hotel hebat bener ya, naruh kunci di meja, dan berasumsi bahwa yang mengambil kunci adalah orang yang benar. Gimana kalau bukan ya? Ah, saya kelamaan tinggal di Indonesia, yang meleng dikit dicolong, hehe. Bahkan saya belum bayar lunas kamarnya loh! Ini main ngasih kunci aja, hahaha. Salzburg ini keren juga tingkat kepercayaannya. Karena sudah lelah, kami memutuskan untuk langsung masuk kamar dan beristirahat. We still have half day to go!

THE QUIET VON TRAPP’S HOUSE

Good Morning Salzburg!

“To awaken quite alone in a strange town is one of the pleasantest sensations in the world”

– Freya Stark

Saya langsung terlelap di kamar yang super nyaman ini, saat membuka jendela, saya melihat pemandangan pinggir kota Salzburg berupa bukit-bukit hijau. Cantiknya kota ini, kagum saya dalam hati.

Jam 7 pagi kami langsung pergi sarapan di lantai 1. Akhirnya saya bisa menemukan kehidupan di hotel ini. Di restoran, adan serombongan turis asal Cina yang sedang sarapan. Setelah saya sarapan, saya langsung lapor ke resepsionis (akhirnya muncul juga resepsionisnya) untuk laporan bahwa saya sudah masuk kamar. Saya mencoba berkomunikasi dengan bahasa Jerman dengan si mbak resepsionis. Alhamdulilah it works! 😀

Setelah melunasi sisa sewa hotel, kami langsung pergi menuju spot wisata berikutnya!

Our next destination is Von Trapp’s House!

Ada salah satu scene menarik dalam film Sounds of Music, dimana ada adegan ketujuh anak Von Trapp sedang bermain gembira bersama Fraulein Maria di danau depan rumah Von Trapp dengan kapal kayu. Disitu saya bisa melihat menakjubkan, kombinasi danau, pepohonan dan bukit yang sedap dipandang mata. I wanna see it!

Setelah searching di google map, saya mendapatkan rute bus, namun sayangnya busnya tidak sampai lokasi, alhasil kita harus jalan kaki. Lokasi rumah Von Trapp berada di Leopoldskronn Palace, bagian Selatan kota Salzburg. Setelah kami turun dari bus, ternyata jalan menuju rumah Von Trapp itu super sepi! Saya tidak bisa melihat siapa-siapa kecuali hamparan semak-semak hijau. Setelah lebih dari 30 menit jalan kaki, tibalah kami di depan pintu gerbang palace-nya. Sayang sekali, ternyata akses menuju palace (rumah Von Trapp) bukan untuk umum. L

Tidak patah semangat, akhirnya saya mencari jalan untuk bisa (minimal) melihat rumahnya. Saya dan bu Sintho mencari jalan ke belakang gedung yang ternyata ada hamparan danau yang sangat luas. Kami berjalan mengitari rumah Von Trapp, hingga akhirnya kita bisa melihat rumah dari sekitar 200 meter dari titik saya berdiri.

5. day two (10)

“Wuaawww… “ takjub saya. Ini toh danau yang jadi lokasi anak-anak Von Trapp nyanyi lalu kecebur di danau. Hihi. Tidak pernah menyangka saya akan dapat kesempatan lihat lokasi nya Sound of Music. Saya speechless sesaat. Pemandangan di sekitar danau itu sungguh menawan. Dari jauh, saya bisa melihat gunung Alpen yang berdiri menjulang.

Puas memandangi rumah Von Trapp, kami pun kembali menuju pusat kota.

Hanya dengan bermodal peta, saya mencari cara untuk pergi ke pusat kota tanpa harus melewati jalan tadi. Dengan menggunakan insting, saya mengambil jalan lain. Bismillah~

Bukan adventourous namanya kalau engga tersesat. Akhirnya saya membawa ibu Sintho menuju jalur kesesatan, haha. Mana ga ada orang lagi, hadeuh. But, we keep walking…

Saya menemukan sebuah bukit yang di atasnya ada semacam kastil. Eh bentar dulu, apa itu Festung Hohensalzburg ya?

Saya langsung mengecek ulang peta, jadi nambah ragu hehe.

Kami pun berpapasan dengan dua orang lokal. Setelah konfirmasi ulang, ya itu adalah Festung Hohensalzburg dari tampak belakang, hore! We’re not lost!

Orang lokalnya bilang kita harus mendaki untuk sampai ke Hohensalzburg. Oke siap!

Kami pun berjalan menuju bukit Hohensalzburg itu. Perjalanan kami menuju bukit disuguhi oleh pemandangan alam yang luar biasa cantik. Ada satu bukit hijau di sisi kiri, dan siluet biru gunung di sisi kanan. Diantara dua bukut-gunung dibelah oleh jalan setapak yang dikelilingi oleh rumput yang hijau dan luas. Luar biasa cantiknya~

Ketika kita tahu nafas saya seolah-olah ‘terambil sesaat’ karena saking terpananya oleh apa yang ada di depan mata lihat. Traveling memberikan saya kepuasan batin yang tidak terkira.

Diliat-liat, Pemandangannya kayak imajinasi anak SD kalau disuruh bikin gambar gunung! Hehe.

5. day two (29)

FESTUNG HOHENSALZBURG

Nafas kami sudah terengah-engah, tandanya kami sudah berjalan jauh. Saya bisa melihat sebuah benteng tinggi dan tepat di depan saya ada pintu yang tinggi mungkin tiga kali lipat dari badan saya. Finally we arrived in Festung Hohensalzburg!

Untuk memasuki area kastil ini, setiap orang harus membeli tiket seharga € 8. Kastilnya ternyata sangat luas. Dibangun pada abad ke-10, kastil ini merupakan salah satu kastil medieval terbesar di Eropa. Saya memasuki area inner courtyard, dimana di antara bangunan kastil ada semacam plaza yang di tengahnya ada pohon tua hitam tidak berdaun (dan terlihat menyeramkan). Di plaza ini, terasa sekali suasana middle age-nya!

day two (98)

Saya kembali dalam kastil, saat ini sebagian area kastil Hohensalzburg sudah dijadikan sebagai museum, ada museum Marionette dan Fortress museum. Saya mengunjungi Fortress museum, disana saya melihat koleksi barang-barang pada zaman Medieval, mulai dari senjata, pakaian, hingga alat untuk menyiksa! Ada sebuah ruangan display yang menampilan alat-alat besi tajam untuk menyiksa tawanan atau penjahat berikut juga dengan ilustrasi penyiksaannya, Hiiiii serem banget deh liat gambarnya. Kok tega banget ya..

View terbaik untuk melihat panorama kota Salzburg ternyata ada di kastil ini!

Ada sebuah teras berpagar dimana pengunjung bisa melihat indahnya kota Salzburg yang berada diantara perbukitan. Once I arrived there, oh I was so speechless.. It is so perfect and beautiful.

Jika pernah melihat postcard panorama Salzburg, sepertinya gambar dari spot ini. Dari teras kastil, saya bisa melihat kota tua tampak atas yang dicirikan oleh kubah besar tembaga berwarna hijau mint (disebut Dom). Lebih jauh lagi, saya bisa melihat sungai Salzach, dan lebih jauh lagi bukit hijau yang terhampar horizontal. This is the view that I should never forget.

Setelah puas mengelilingi kastil, kami pun ‘turun bukit’ dengan menggunakan Festungsbahn, semacam kereta berlapis kaca bening yang digerakkan oleh kabel dari pusat Old Town ke Kastil dan sebaliknya. Tibalah kami di rute terakhir sebelum meninggalkan kota Salzburg nan cantik… Old Town!

day two (174)

Salzburg Old Town terkenal dengan bangunan-bangunan berarsitektur bergaya Baroque yang mana masuk ke dalam UNESCO World Heritage List. Kota tua ini juga sudah pernah berpindah kekuasaan mulai dari Holy Roman Empire, Bavarian, hingga penjajahan Jerman (Anschluss) dibawah Nazi saat Perang Dunia II, hingga Austria berdiri sebagai negara. Sore itu, saya melihat ada pertunjukkan musik di Kapitel Platz, orang-orang sedang menikmati indahnya sore di musim panas sambil menonton konser musik dan minum bir. View seperti ini umum sekali dilihat di Eropa saat musim panas. J

Bagi yang ingin jalan-jalan ke Salzburg ternyata bisa loh dilakukan dalam waktu 24 jam. It is proven that Salzburg took my breath away only for 24 hours!

5. day two (74)

 Bu Sintho and Me in IC Train, Heading back to Goettingen