Ambarawa Railway Museum

 ‘ …. Naik Kereta Api… Tut tut tut … Siapa hendak turut … ‘

‘ …. Ke Bandung, Surabaya, Boleh lah naik dengan percuma … ‘

Sepertinya lirik lagu Naik Kereta Api perlu di-modif untuk masa kini, karena kereta yang beroperasi saat ini adalah kereta listrik, bukan kereta api dengan bahan bakar batu bara. Hehe, Dan sayangnya pula naik kereta itu engga bisa naik dengan percuma, tapi harus bayar, hehehe.

I LOVE TRAINS!

Diantara semua moda transportasi, Kereta adalah kendaraan umum favorit saya.

Dari segi efisiensi, kereta tidak mengenal macet dalam perjalanan, kecuali kalau ada gangguan teknis atau sinyal.

Dari segi energi, kereta memiliki emisi karbon terendah dibanding moda transportasi lain, karena bisa mengangkut banyak penumpang,

Dari segi kenikmatan perjalanan (this is what I like most), naik kereta menyuguhkan pemandangan berbentuk frame yang senantiasa berubah setiap detiknya. And, biasanya rel kereta ditempatkan di area-area yang cantik pemandangannya!

Everytime I travel somewhere, local or abroad, I really want to ride and experience the local train. Tentunya, setiap daerah, setiap negara pasti memiliki jenis kereta yang berbeda-beda. Trying to ride different kind of trains is a very fun activity!

Sejak menjadi pecinta kereta, ada sebuah museum yang amat sangat ingin saya lihat di Jawa Tengah : Museum Kereta (Indonesia Railway Museum)! Museum ini berlokasi di kota Ambarawa, kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Sudah lama sekali saya ingin menyambangi kota Ambarawa ini, Sejarah banget ga sih kalau denger nama Ambarawa? Pada tahun 1945 pasca kemerdekaan pernah terjadi perang di kota ini.

Kali ini perjalanan saya ke Ambarawa dimulai dari Kaliwungu, sebuah kecamatan di Kendal, yang merupakan kampung halaman suami. Saya pergi bersama suami, ibu mertua, kakak ipar dan keponakan krucil-krucil yang super rame. Perjalanan dari Kendal menuju Ambarawa memakan waktu sekitar 2 jam dengan mobil.

Dari kejauhan, saya sudah bisa melihat papan tinggi bertuliskan “INDONESIAN RAILWAY MUSEUM”. Memasuki area parkir, saya sudah bisa melihat potongan kereta lokomotif yang berjejer di sisi kiri lapangan parkir. Tiket masuk ke Museum ini cukup terjangkau, cukup membayar Rp 10,000 untuk orang dewasa, Rp 5,000 untuk anak-anak 3-12 tahun, dan Gratis untuk anak di bawah tiga tahun.

IMG_20160106_132835

Sepertinya museum ini baru saja direhab, karena gedung selamat datang-nya masih tercium cat barunya 😀

Setelah pengecekan tiket, saya melihat ada sebuah koridor panjang yang di sisi kirinya ada deretan gerbong kereta tua. Siang itu begitu terik, untungnya koridor ini memiliki atap yang teduh. Setelah menyusuri koridor sekitar 100 meter, di dinding sebelah kanan terpasang gambar panjang berbahan spanduk berisikan timeline sejarah kereta api di Indonesia dari tahun 1800an, pendudukan Belanda, pendudukan Jepang, pasca kemerdekaan, hingga masa kini. I found a lot of interesting facts there about Indonesian railway.

FACTS ABOUT INDONESIAN RAILWAY AND TRAIN :

  • Gagasan Kereta Api Pertama di Indonesia muncul pada tahun 1840
  • Kereta api pertama kalinya dioperasikan pada tanggal 10 Agustus 1876 di antara Stasiun Samarang (Semarang) dan Halte Tangoeng (Tanggung).
  • Tahun 1869, Angkutan Trem pertama kalinya dioperasikan di Batavia (Jakarta). Namun, tremnya menggunakan kuda, (seperti Delman).
  • Jalur Kereta Jakarta-Bogor diresmikan pada tahun 1873, jalur ini menjadi jalur penting karena menghubungkan dua pusat pemerintahan Hindia Belanda. (Penting nih buat pengguna aktif Commuter Line Jakarta-Bogor! Hehe)
  • Kereta Berpendinin Udara pertama di Indonesia muncul tahun 1954.
  • INKA, PT. Industri Kereta Api adalah Industri Kereta Api PERTAMA di Asia (Indonesian Proud!)

IMG_20160106_135048

Di timeline tersebut, disajikan foto-foto berisi momen jaman dahulu, mulai dari bung Karno mengemudikan lokomotif, Presiden Soeharto meresmikan kereta Argo Bromo tahun 1995 hingga poster iklan kereta Api pada jaman penjajahan Belanda dengan bahasa Belanda.

IMG_20160106_134438

Senangnya kalau sudah pernah belajar bahasa Belanda atau Jerman (bahasa Jerman dan Belanda punya banyak kemiripan), kalau liat gambar atau foto jadul dengan tulisan bahasa Belanda / Jerman, pasti senyum-senyum sendiri liatnya.

IMG_20160106_134327

Caption gambar-nya lucu “… Lokomotif ini sekembalinja dari Bogor, djalannya lebih tjepat daripada berangkatnnja..” hehe..

Sebagai orang Indonesia, bangga juga melihat Indonesia pernah memiliki catatan positif dalam sejarah perkeretaapian. Hanya sayang saja, kenapa informasi ini hanya disajikan dalam bentuk poster spanduk tidak permanen. Museum-museum di Eropa yang pernah saya lihat kebanyakan menyajikan informasi museum dengan elegan, sebenarnya tidak harus mahal namun penyajiannya lebih pantas dari cetakan spanduk.

Saya pun menyusuri ke sisi lain Museum, jadi sebenarnya museum kereta api ini dulunya stasiun, di dalam museum, saya menemukan bangunan stasiun yang bernuansa kolonial Belanda. Lokasi Museum ini pun bisa dibilang strategis, dari bangunan stasiun saya bisa melihat pemandangan view Gunung Merbabu yang sangat cantik. Disana, saya bisa membayangkan seperti apa atmosfer Jawa tempo dulu yang berpadu dengan arsitektur kolonial Belanda. So great~ Saya merasa seperti kembali ke masa lalu dengan time machine.

IMG_20160106_141353

Memasuki gedung stasiun, sudeenly I remember something.. This is just similar with… Oh Copenhagen Train Station! Entah saya merasa bangunan stasiun Ambarawa ini mirip dengan stasiun kereta Copenhagen Denmark, bernuansa bata berwarna coklat tua dan krem di bagian dindingnya, plafon atap dan tiang-tiangnya berupa besi abu-abu yang kokoh. Langit-langit gedungnya begitu tinggi! Berada di stasiun ini saya langsung teringat dengan scene-scene film-film perang dunia yang latar stasiunnya kurang lebih seperti ini. Konon, lokasi ini sering kali dipakai untuk lokasi film bertema tempo dulu.

IMG_20160106_141309

Di Museum ini, kita juga bisa naik kereta wisata tujuan Ambarawa – Tuntang seharga Rp 50,000 PP. Namun kereta ini hanya beroperasi pada hari Minggu saja, wah padahal saya pengen naik.

Menyusuri area stasiun, saya bisa menemukan display barang-barang yang menjadi properti stasiun jaman dahulu. Mulai dari mesin pencetak tiket, timbangan, dan masih banyak lagi. DI sebelah stasiun, ada barang-barang kuno seperti topi masinis dari masa ke masa, telepon, tiket, stik untuk semboyan, lampu handsign, dan masih banyak lagi.

IMG_20160106_140659

Yang menarik adalah saya pernah hidup di masa ketika tiket itu masih sepotong kartu kecil persegi panjang berwarna pink. Kalau pengecekan kartu kita di-bolongin. Wow! Am I that old? hahaha. Kalau anak-anak sekarang sih tau tiket sudah bebentuk kartu plastik seperti ATM.

Berhubung saya bareng tiga keponakan kecil-kecil, pikiran saya sedikit teralihkan ketika bermain bersama mereka, berpura-pura jadi penjual tiket dan penumpang di loket, lalu naik kereta sambil dadah-dadah seolah akan berpisah. I think I should my future kids here. 😀

IMG_20160106_142344

Puas bermain, mata saya teralihkan ke kereta lokomotif bagian depan yang mengingatkan saya pada sesuatu. HOGWARTS EXPRESS TRAIN!

Di museum ini, ada banyak potongan-potongan kereta lokomotif jadul berwarna hitam persis dengan kereta Hogwarts Express. Hanya dengan melihat kereta ini, saya sudah bisa berimajinasi seperti di negeri dongeng atau scene jaman perang yang pernah saya tonton di film-film favorit. Teringat kisah empat bersaudara : Peter, Susan, Edmund, dan Lucy Pevensie yang berpisah dengan ibunya di peron kereta pada film The Chronicles of Narnia, ingat juga scene perpisahan tentara perang denga istrinya saat perang dunia berlangsung… Fantasy genre is always my favorite!

Saya pun mencoba beradegan bak istri tentara yang akan ditinggal suaminya untuk berperang.

IMG_20160106_145634

“Jangan lupa kirim telegram ya mas.. Hiks, tapi yang paling penting, kirim wesel ya mas, biar bisa beli gincu 500k” (Kira-kira akting saya diberi nilai berapa ya? :p)

Di sisi lain dari museum, surprisingly saya menemukan deretan huruf raksasa berwarna putih bertuliskan “I-(logo Love)-AM-BARAWA)”. Wow.. just similar with “I-AM-STERDAM” di Belanda. Sepertinya museum ini ada kolaborasi dengan Belanda, sehingga sampai-sampai museum ini bikin replika huruf raksasa untuk spot foto.

IMG_20160106_144758

I am very enjoyed with the self-guided museum tour. Namun, satu hal yang disayangkan lagi di museum ini (dan kebanyakan museum di Indonesia) belum menyediakan brosur atau peta informasi. Menurut saya, penyediaan brosur ini penting loh bagi pengunjung. Memang sudah ada papan kecil berisi info setiap diorama, tapi menurut saya masih belum cukup. Museum-museum di Eropa bahkan sudah menyediakan alat audio untuk self-guided tour bagi pengunjung yang ingin muter-muter sendiri sambil mendengarkan penjelasan setiap fitur atau diorama dalam museum. Esensi dari mengunjungi museum kan bukan sekedar datang, lihat-lihat dan selfie saja, tetapi mendapatkan ilmu yang baru mengenai tema museum yang diangkat. Museum is just like a book, it give us lot of knowledge.

IMG_20160106_144233

Saya jadi ingin lebih memahami dalam-dalam bagaimana pengelolaan museum di Indonesia, kepemilikan-nya, budgeting-nya, dan lain-lain. Semoga museum di Indonesia bisa lebih informatif, menarik, dan nyaman seperti museum di Eropa!