Make A Difference Forum 2016 – Hong Kong

January has brought me into the new place I’ve never been before.
Yes, I am back as a student traveler!

Bulan September silam, saya melihat informasi di Facebook mengenai sebuah program berjudul Make A Difference Forum or MaD Asia. Sebenarnya saya sudah mengetahui program ini sebelumnya dari adik kelas saya Iqoh. Menurut Iqoh, program ini menarik sekali untuk diikuti karena konsep acaranya sedikit berbeda dan tidak konvensional macam seminar. Setiap tahunnya, program MaD Asia ini memiliki tema-tema yang berbeda, dan kali ini tema yang diangkat adalah Village Reinvented. Acara ini ingin mengulik ide-ide, sudut pandang dan pemikiran anak muda tentang kampung halamannya (Village disini bisa diartikan desa atau kota). Pikiran saya tersambung langsung dengan Ecofunopoly, board game lingkungan milik saya yang diproduksi di kampung halaman saya.
“Hmm, sepertinya Ecofunopoly bagus nih untuk diperkenalkan disana..” pikir saya. Saya ingin sekali membuat Ecofunopoly go international. To make something big, we should start from small things, right? 😉
Daaann, program ini diadakan di…. Hong Kong!
I’ve never been to HK before, but I want to go there someday. Hong Kong dalam imajinasi saya adalah scene-scene dalam film yang dibintangi oleh Jackie Chan, Bruce Lee, dan Andy Lau. Masa kecil saya banyak sekali dihabiskan dengan nonton film Mandarin. Hehehe.
So, I think joining this program is a good opportunity for me to fulfill my dream! Kapan lagi bisa jalan-jalan keluar negeri sambil mamerin karya kita sendiri plus updating ilmu?
Dan, yang menariknya lagi dari program ini adalah ada skema subsidi bagi peserta. Subsidi ini diberikan dalam bentuk uang USD yang akan digunakan untuk biaya perjalanan ke Hong Kong! Wah, ini sih menggiurkan banget buat student, hehe.
Satu bulan setelah saya daftar dengan mengisi formulir via online, saya mendapatkan pengumuman diterima sebagai peserta bersubsidi. Alhamdulilah~ Setelah saya hitung-hitung, uang subsidinya hanya cukup untuk membiayai tiket pesawat sebesar 50% dan ada sisa sedikit untuk biaya transportasi lokal selama di HK. Kemudian, saya mencoba mengajukan proposal bantuan dana ke Direktorat Kemahasiswaan IPB untuk menutupi biaya tiketnya. Alhamdulilah, approved! *Thanks Ditmawa!*
Namanya juga student, harus pintar-pintar mengakali budget kalo traveling keluar negeri, untungnya peserta dari Indonesia tidak cuma saya saja tetapi ada beberapa mahasiswa Indonesia lainnya. Kami pun berkenalan lewat dunia maya dan sepakat membentuk grup untuk diskusi bersama-sama agar bisa berhemat selama di HK. Alhamdulilah, kami mendapat tebengan menginap gratis di KJRI (Konsulat Jenderal Republik Indonesia) Hong Kong selama kita berada di HK (Thanks to Shinta!) dan saya tidak perlu membayar visa alias gratis masuk HK sebagai turis!
Komponen pengeluaran utama sudah tercover, hati pun tenang dan siap untuk traveling! Hihihi.

IMG_20160121_231333

 

DAY ONE : OPENING

Program MaD Asia dimulai pada hari Jumat jam 8 malam tanggal 22 Januari 2015. Setiba di HK Jumat pagi, saya gunakan seharian itu untuk jalan-jalan, lalu lanjut ke lokasi acara. Malam itu acara diadakan di Kwai Tsing Teather, sebuah gedung teather besar yang terletak di dekat MTR Kwai Fong. Sebelum pembukaan, seluruh peserta dikumpulkan di lobi untuk melakukan registrasi ulang. Karena program ini memiliki banyak sesi acara dalam satu waktu (ada assembly, diskusi, ekskursi, dll) dan antisipasi supaya tiap sesi tidak overload, maka setiap peserta diharapkan melakukan pre registrasi dengan memilih 3 sesi via online, anehnya saya sudah melakukan pre-registrasi, ternyata tidak terekam. Alhasil sesi pilihan saya tidak tercantum di ID card, alhasil saya tidak bisa ikutan sesi yang saya pilih karena sudah full-booked. Hiks 
Pembukaan acara dimulai dengan penayangan video tentang petikan-petikan kata dari para peserta tentang Village. Saya suka sekali dengan penyajian visual dalam acara MaD Asia ini. Terlihat sungguh ‘tidak biasa’ dan artistik. I realized that this program really wants to enhance creativity among the youth. I love creativity. Imagine if the world has no creativity at all? Pretty scary for me.

IMG_20160122_195426

Pembukaan ini juga diiringi oleh penampilan dua orang penari kontemporer dengan alunan musik yang lambat dan syahdu. Saya begitu menikmati penampilannya, di dalam ruang teather, ada sekitar 300-400 peserta MaD yang duduk tenang mengikuti acara pembukaan, sebagian besar mereka berasal dari HK dan China Mainland. Acara dilanjutkan ke Opening Keynotes. Ada 3 sesi opening keynotes. Dari 3 sesi tersebut, ada satu sesi yang bikin mata saya melek (sesi lainnya bikin ngantuk, karena saya belum istirahat cukup, dan hanya tidur sebentar-sebentar di pesawat, hehe) yaitu “Conflict Kitchen” oleh Dawn Weleski dari Amerika Serikat. Mbak Weleski ini menceritakan on going projectnya berjudul Conflict Kitchen, sebuah restoran yang menyediakan makanan-makanan dari negara yang berkonflik dengan Amerika Serikat dan lokasinya berada di AS. Jadi, di resto ini pengunjung engga Cuma menikmati hidangan lokal dari negara konflik aja tapi juga sambil diskusi tentang budaya, politik, dan isu panas. Restauran yang sudah buka ada resto Iran, Afganistan, Korea Utara, dan Palestina. Wow seru banget ga sih? Konsepnya oke banget menurut saya. Saya jadi ingat waktu makan nasi goreng kismis di restoran Irak di Swedia. Entah saya merasa atmosfernya agak berbeda ketika saya tahu itu restoran Irak, negara yang selalu kena konflik. Conflict Kitchen bisa dilihat disini www.conflictkitchen.org.

IMG_20160122_211406

Pembukaan selesai, saya dan seluruh peserta kembali ke lobi utama. Suhu saat itu luar biasa dingin sekali dan saya hanya membawa coat tipis yang biasa dipakai untuk musim semi. Ternyata udara di Hong Kong sedang drop! :O
Di lobi utama, akhirnya saya bisa berkenalan dengan teman-teman peserta dari Indonesia, selama ini ngobrol lewat dunia maya, akhirnya ketemu di HK. Total kami ada 10 orang, empat perempuan, sisanya laki-laki. Ada Putri, Sinta, Furqon, Jainal, Hinu, Imron, Zulfikar, dan Feno. Saya juga ketemu teman lama waktu di IPB, namanya Isma! Saat ini Isma lagi S3 di Hokkaido University, yes she is my same-age friend, and now taking a PhD study! Wow.
Karena hari sudah malam, kami semua langsung kembali ke KJRI untuk beristirahat. Ini pengalaman pertama kalinya buat saya menginap di KJRI, dulu waktu di Jerman, saya hanya sebatas berkunjung untuk lapor diri di KJRI Hamburg. Menginap di KJRI sungguh anugerah bagi mahasiswa. Udah gratis, nyaman pula! KJRI Hong Kong berada di sebuah gedung di Causeway Bay, hanya beberapa meter dari Victoria Park. Daerah KJRI ini sangat amat Indonesia. Belok dikit pasti nemu orang Indonesia, hehe. Kantor KJRI ini terdiri dari beberapa lantai, kami menginap di lantai 6. Satu lantai ini ada semacam satu apartemen yang terdiri dari empat kamar tidur , satu ruang TV dan dua kamar mandi. Fasilitas lengkap banget, mulai dari TV dengan channel Indonesia, pemanas air, sampai microwave. Waw~
Waktu sudah larut malam, time to sleep!

DAY TWO : DO IT YOURSELF

Sesuai kesepakatan, kami patungan untuk membeli bahan makanan untuk sarapan dan makan siang. Karena program MaD tidak memberikan makan siang dan sepertinya agak susah kalau beli makanan, kita memutuskan untuk bawa bekal. Di KJRI tidak ada dapur, jadi kami memasak di apartemen milik komunitas BMI (Buruh Migran Indonesia) bernama Irsyad yang terletak hanya beberapa meter dari KJRI. Setiap harinya, kami sarapan disana dan bawa bekal makanan dari sana. Harga makanan berat di HK lumayan menguras kantong, bisa sekitar 60,000-100,000 rupiah untuk sekali makan!

Hari kedua acara, kami berangkat sama-sama menuju Kwai Tsing Teather. Sesi pertama yang saya ikuti adalah Opening Discussion Free Market. Yak, ada satu sesi menarik di program MaD ini yang saya pengen banget ikutan, namanya Free Market. Jadi sesi ini akan ada bazaar yang diisi oleh stand para peserta untuk peserta. Stand harus berisi tentang sesuatu yang lokal dan berasal dari ‘village’ kita. Peraturan pertama dari Free Market ini adalah tidak boleh ada transaksi uang atau fundraising. Saya mendaftarkan Ecofunopoly dalam Free Market, that would be awesome!

IMG_20160123_102555

Opening Discussion for Free Market

Kiri : Helen, Tengah : Furqon, Kanan : Jainal

Saya kebagian ngisi di hari keesokannya (Minggu), tapi peserta wajib untuk ikut opening discussion dulu sekalian persiapan teknis Free Market. Diskusi diadakan di depan gedung, dan udara dingin bangettt… Saya agak menyesal kenapa saya bawa jaket begitu tipis. 
Diskusi ini dipimpin oleh Helen, panitia MaD yang murah senyum banget. Dalam waktu 45 menit, diskusi pun selesai. Karena saya tidak punya sesi sesuai pilihan, saya bisa masuk ke sesi mana saja, asalkan tidak penuh peserta. Teman-teman yang lain pergi ke sesi Assembly, saya pun memilih sesi DIY project (DO IT YOURSELF). DIY ini lagi ngetren banget sekarang, saya jadi penasaran pengen ikutan sesinya.
Memasuki ruangan DIY bersama peserta lain (mostly Chinese), saya langsung diarahkan ke satu meja oleh panitia, dan dijelaskan tentang sesi DIY. It’s so funny, if there is no me at the room, they will speak in Cantonese. Hampir semua peserta di dalam situ dari China dan Hong Kong. Karena saya ada disitu, akhirnya ada satu panitia yang bantu menerjemahkan pembicaraan selama sesi berlangsung. Hal yang tidak mengagetkan buat saya jika datang ke negara berbahasa Mandarin, mereka semua akan berbicara bahasa lokal, meski dalam acara berlabel internasional. Saya pernah mengalami hal yang sama waktu ikutan kongres dan workshop di China 6 tahun silam. Acara boleh diberi judul internasional’, tapi kalau udah sama-sama ketemu antar peserta, mereka akan berbicara fully Mandarin, alhasil peserta dari luar berasa alien, termasuk saya, hehe. Saya pun sempat merekam obrolan mereka dengan suara kencang, dan saya upload di Instagram. Huehehehe *jahil*

IMG_20160123_113918
Okay, back to DIY, jadi di sesi, kita diminta untuk membuat alat penyaring air dari zat flouride. Pertama, kita diminta untuk mengetes level kandungan florida dalam air sampel dengan alat yang disediakan, setelah tahu berapa levelnya, kita membuat alat untuk menjernihkan air dengan bahan bekas (botol air mineral plastik) dan material pasir untuk menyaring air. Di sesi ini, saya berkenalan dengan Jiao Nan, peserta yang berasal dari China. Dia mengajak untuk kerja bikin bareng. Untungnya, dia bisa bahasa Inggris dengan baik. Kalau engga, bisa-bisa balik lagi saya ke tragedi adu mulut ama supir taksi China dahulu kala. Hahaha.

IMG_20160123_120827

We’re making the filter tool with full of excitement. It’s kind of experimental making. Rasanya kayak balik jadi anak SMA! Setelah ngoprek-ngoprek bahan bekas yang disediakan, voilaaa~ jadilah alat penyaring air kami!
Setelah alatnya jadi, kita diminta untuk mengetes air sampelnya dengan alat itu. Entah saya kok malah deg-degan ya, kira-kira berhasil ga ya? Pelan-pelan kita tuangkan air ke dalam pasir, lalu air muncul dari lubang bawah botol. Air yang muncul kita ambil lagi untuk di-tes.
The result was so cool~! Ternyata hasilnya berubah, level kandungan yang awalnya 3 (makin tinggi angkanya, makin tinggi kandungan flouridenya), trus setelah diuji pake alat yang kita buat, langsung turun ke nol! Wow~ asli keren.

IMG_20160123_121440

Saya udah lama engga bikin eksperimen macam gini, jadi excited sendiri! Eskperimen DIY pun selesai, saya dan Jiao Nan tidak lupa berfoto. 

IMG_20160123_121905With Jiao Nan and our masterpiece water filter tool (lol)

IMG_20160123_122000

Our DIY product

Engga kerasa sudah masuk waktu makan siang, saya pun dapat info kalau reimburse subsidy sudah bisa dilakukan saat itu. Saya langsung pergi ke ruang panitia untuk mendapat subsidy uang dolarnya. Jadi, sistem subsidy dalam acara ini bentuknya reimbursement. Uang akan diberikan jika kita tiba di lokasi acara itu, Saya langsung menyiapkan invoice tiket pesawat sebagai tanda bukti, dan subsidy pun saya terima! Alhamdulilah~
Beres ngurus reimbursement, saya langsung pergi makan siang (lebih tepatnya makan sore) di kursi lobi hotel. Hari menjelang sore, dan saya tidak ada schedule khusus sore itu, akhirnya saya memutuskan untuk pergi untuk jalan-jalan di pusat kota Hong Kong.

DAY THREE : FREE MARKET

The last day has come!

Acara MaD Asia sebenarnya full-nya hanya dua hari saja, jadi semua berjalan begitu cepat. Agenda saya di hari ketiga adalah join Free Market! Yuhuu~
So excited for Free Market! But unfortunately, I got a bad news from the commitee. Cuacanya sedang tidak oke untuk aktivitas outdoor, suhu sedang turun dan berangin, alhasil lokasi Free Market dipindah ke tempat yang lebih teduh. I must be strong!
Dengan membawa satu set lengkap Ecofunopoly English version, datanglah saya ke lokasi Free Market, dimana disitu sudah ramai peserta yang membuka lapak. Saya teringat kalau saya engga bawa properti apa-apa untuk stand, hanya satu set Ecofunopoly. Oh I need a table for displaying Ecofunopoly!
Thank God, I met Helen, I asked her if I could borrow a small table, then she said yes. Alhamdulilah dipinjemin meja. Lapak-lapak sudah lumayan penuh, alhasil saya buka lapak di bagian paling pojok dan agak jauh dari keramaian. Untungnya saya dibantu Jainal buat naruh meja, dan saya bisa langsung menata Ecofunopoly di atas meja. Udara saat itu luar biasa dingin menusuk, saya memutuskan untuk pakai sarung tangan (punya putri, hehe). Ecofunopoly sudah siap di-display, saya pun duduk menunggu pengunjung. Karena masih sepi, alhasil saya bikin video selfie bareng Ecofunopoly dan angin yang berhembus kencang. Sebelah kiri saya, duduk seorang peserta perempuan bersama deretan botol-botol kaca berisi cairan, setelah saya kepo-in ternyata stand dia itu tentang massage alias pijet! Dan botol itu isinya minyak pijet! Aduh mau banget dipijet, tapi apa daya harus jaga stand. :p

Tiba-tiba datang seorang peserta perempuan dari Cina, dia minta izin untuk buka lapak di sebelah saya. Duh saya lupa nama dia siapa, but I had a nice conversation with her, we talked about language. She was surprised that I can speak a little Mandarin (secara dulu pernah les sebulan, terus berhenti, haha). Saya pun nanya-nanya apakah orang berbahasa Cantonese dan Mandarin bisa saling mengerti satu sama lain, dia bilang bisa sedikit-sedikit. Hmm, apakah ibarat orang Indonesia dan Malaysia, we speak different language but we understand each other, just like Spanish and Italian. (see? Language is so fun!). Saat asik ngobrol, datanglah visitor pertama saya, eh ternyata visitornya si mbak yang buka jasa pijet disebelah (Damn, I forgot her name!), huehehehe..
Dia penasaran what’s on my table. So I asked her, “Do you wanna play?”
She said excitedly : “Yes!”

_DSC_RL_182
Akhirnya saya bermain Ecofunopoly berbahasa Inggris perdana bersama mbak pijet dan seorang peserta cowo asal Hong Kong (kalau ga salah namanya Nexian *kok kayak merk hp ya?*). Sekitar 20 menit, kita bermain seru , hingga si mbak pijet jadi pemenangnya. Saking serunya kita main, ternyata mengundang kameramen panitia untuk mengabadikan momen kami bermain.
Si mbak pijet dan Nexian kembali lagi jaga lapaknya, dan kali ini saya kebanjiran visitor. Selama kurang lebih dua jam saya jaga lapak sambil nahan dingin, tapi berusaha untuk menebar senyum ke para visitor. Sambil bermain, saya sedikit interview beberapa orang tentang hukum dan aturan lingkungan di kampung halamannya. Menariknya lagi, ketika saya bermain Ecofunopoky bersama orang-orang asing, saya bisa sharing budaya dengan mereka. This is the essence of traveling : a cultural exchange. But specifically, I wanna have cultural exchange on environmental issues. Rasa dingin menusuk terobati dengan kehangatan pengunjung yang sangat penasaran dengan Ecofunopoly. ^_^
Engga terasa waktu sudah menunjukkan jam 2 siang, artinya Free Market sudah berakhir. Saya diminta untuk segera bersih-bersih (padahal masih ada visitor yang datang) dan kembali ke lobi untuk closing discussion.
Saya sempatkan makan siang dahulu sebelum ikutan closing discussion. Diskusi diadakan di lobi gedung, dan pas saya datang, peserta sudah membuat lingkaran mengerubungi dua tiang yang akan diapakai untuk menempel kertas berisi kesan-kesan selama mengikuti Free Market. Again, the discussion was served in Cantonese and Mandarin. Helen sadar kalau saya engga ngerti, akhirnya dia minta si nexian untuk bantu terjemahin isi diskusinya ke saya. Well, they were so kind and helpful, I do apreciate their efforts. 

_DSC_RL_350
Saya juga diminta untuk menuliskan kesan-kesan selama ikut Free Market di potongan karton dan kemudian ditempel di tiang. Setiap peserta yang menulis kesan-kesan harus menyampaikan secara oral tentang projectnya dan kesan-kesannya. Nexian tetap membisikan pembicaraan yang sedang berlangsung, sesekali dia missed, dan minta maaf. Hehehe.. mei kuan si! *tidak apa-apa

_DSC_RL_297
Berhubung pernah belajar Mandarin, saya ingat beberapa kata-kata bahasa Mandarin. Saya engga mengerti secara utuh, tapi saya paham kata per kata. Sesekali saya dengar kata yang familiar, saya cek ke Nexian apa kata ini artinya benar. And mostly my answers are correct. Not bad juga ya ingatan saya sama bahasa keriting ini, hehe.
Akhirnya giliran saya sharing tiba, iseng saya buka pembicaraan saya dengan kata ‘Da jia hao!’ (dibaca : ta cia hao!, artinya Halo semuanya!). Sontak mereka langsung senyum-senyum liat saya membuka pembicaraan. Saya langsung melanjutkan “Sorry I can’t speak Cantonese and Mandarin, so I will speak English..” sambil senyum.
For about three minutes, I shared about my experiences in joining this Free Market, how I earned positive atmosphere from the visitors, etc. “I really had a good time in HK, thank you!”

_DSC_RL_341

“Da Jia Hao!” (Nexian is the one who stood up next to me, with white hat)

That’s my closing statement.
Sesi diskusi diakhiri dengan foto bersama. Setelah diskusi selesai, saya didatangi oleh beberapa peserta yang excited dengan Ecofunopoly. Sebagian dari mereka punya project terkait dengan environmental education, so mereka jadi ‘kepo’ dengan Ecofuopoly. Hehe.

Acara dilanjutkan ke sesi terakhir dari keseluruhan program, Closing Dialogue yang diadakan di dalam ruang teather.

_DSC_RL_365

The program was quite fun, except for the trouble I had when I did pre-registration. Acara ini diadakan setahun sekali, dan engga banyak persyaratan yang aneh-aneh untuk daftar. Syaratnya cukup umur dari 18-35 tahun dan memiliki keinginan untuk mejadi pembaharu muda dan mau belajar menjadi seorang yang kreatif!
Cukup isi formulir yang templatenya disediakan dari mereka then send with email!

Cek aja di web-nya www.mad.asia. Pendaftaran dibukan sekitar bulan September-Oktober, acara diadakan pada bulan Januari di tahun berikutnya. Buat yang berminat, silahkan pelajari infonya di website and Good Luck!

Last but not least, I would like to say all MaDees (both commitee and participants) for having me involved in this MaD program, terutama juga teman-teman rombongan MaD Indonesia atas segala bantuannya~

Salam,
@annisaa_potter