Refleksi Akhir 20an : Andai Dari Dulu.. (Chapter 4 – End)

8. Ajaran Dogmatik

Disclaimer: This might be a sensitive topic for some people. But I do believe my blog readers are well-educated enough to respect different values that other people believe in.

(baca chapter 3 disini)

Gue terlahir dari keluarga yang cukup moderat dalam beragama. Gak ada aliran tertentu yang kita ikutin, kita mengikut apa yang dijalankan oleh orang sekitar kita, selama kita yakini itu positif secara spiritual. Bokap gue lahir dari keluarga yang lebih relijius dibanding keluarga emak gue, kalau diukur dari seringnya beribadah both wajib and Sunnah. Bokap gue ngajarin gue untuk solat, ngaji, beramal baik dari kecil, dengan cara yang agak konservatif.
Yang menarik, setiap hari minggu kan suka ada acara TV yang nayangin orang Kristen nyanyi-nyanyi atau sinetron reliji agama Kristen, waktu gue nyalain itu, dan bokap gue liat, bokap gue Cuma bilang “apaan tuh acara-acara Kristen, dosa, ganti ganti..”
Dari situ, gue sempat beranggapan kalau orang Kristen itu menyeramkan, gue sendiri gak merasa fanatik, hidup di lingkungan yang cukup dominan muslim, gue gak banyak dapet kesempatan untuk berinteraksi dengan orang yang berbeda agama. Gue baru bener-bener bisa punya temen beda agama pas SMP, dan gue penasaran banget untuk tahu tentang agama lain, tapi ragu ragu karena takut dosa. Rasanya, kalau nyari tau soal agama selain Islam itu dosa besar.
Belum lagi soal Yahudi, agama yang ‘gak pernah’ ada di Indonesia (hingga belakangan ini gue baru tau kalau ada kelompok minoritas Yahudi di Indonesia) selalu jadi bahan pembicaraan, yang berawal dari konflik Israel-Palestina. Karena Palestina sendiri mayoritas muslim dan terjajah, dan Israel yang mayoritas Yahudi menyerang lahan mereka. Hampir semua orang Indonesia memihak pada Palestina, dan menganggap Israel itu penjahat kelas berat, gue setuju sampai situ.. hingga kemudian muncul pemahaman kalau semua Yahudi itu orang jahat dan laknat. Pokoknya kalau denger kata Yahudi, itu udah pasti diasosiasikan dengan kejahatan dan musuh Islam. Inilah yang menjadi sebagian besar kepercayaan orang Islam di Indonesia (at least orang disekitar gue), dan itu terus tertanam bertahun-tahun lamanya.
Gue mengakui pendidikan agama gue masih sangat dangkal, modal belajar agama di sekolah formal, ikut kelas TPA, dan sesekali ke guru ngaji, gue sendiri mengenal agama Islam itu Cuma satu dan semua orang memercayai hal yang sama.
Masuk ke universitas, gue mulai membuka diri, dan merasa lebih nyaman pada perbedaan, kemudian gue mulai mengenal agama yang dipadu dengan politik. Awalnya gue sendiri gak peduli politik, tapi ternyata politik itu sangat kental dalam diri kita, dan itu gak lepas dari agama juga.
Politik inilah yang membuat kepecayaan orang terhadap agama jadi lebih runyam, bahkan bisa mengarah ke konflik karena munculnya perbedaan.Gue sendiri sempat kaget ketika menyadari kalau di dunia ini ada banyak orang Islam yang berbeda-beda kelompok, perbedaan nya pun beragam, dari cara beribadah, membuat keputusan, dan lain lain. Gue juga pernah diberi tau kalau memang benar aka nada banyak golongan agama Islam, dan hanya ada satu golongan yang berada di jalan yang benar.
Darisitulah gue lihat ada kelompok yang merasa berada di ajaran yang paling benar, dan mereka berusaha satu sama lain mempengaruhi agar berada di jalan yang sama. Caranya pun beragam, ada yang halus, ada yang to the point, bahkan ada yang dogmatik.
Momen-momen inilah yang kadang membuat gue pusing liat orang saling debat untuk membenarkan ajarannya, tapi sampai lupa menjadi orang yang beragama secara sesungguhnya, gue lebih banyak nemuin orang berdebat, berargumen dibanding orang yang saling berusaha respek atas pilihannya dalam menjalani agama.
Gue percaya spiritualitas orang itu terbentuk dari lingkungan, budaya, dan persepsi yang berbeda-beda. Dulu, ada anggapan sekelompok orang yang melihat seorang muslim Indonesia menimba ilmu di negara minoritas Islam, kemudian membawa pemikiran baru tentang kehidupan beragama, lalu ia dianggap melenceng, dan tidak sejalan dengan apa yang sudah diajarkan dan itu mutlak gak bisa diubah. Padahal, Allah SWT menciptakan manusia dengan otak, yang berfungsi untuk berpikir.
Hanya sayangnya, ajaran-ajaran dogmatik inilah yang tidak mendorong otak kita untuk berpikir. Pokoknya terima, gak usah dipikirin, diresapi, dan dimaknai, kalau engga gitu bakal jadi dosa.
Ajaran dogmatic inilah yang kadang-kadang membuntukan pikiran kita, akal sehat kadang gak digunakan, karena ya berpegang teguh pada ajaran yang bisa saja memberi dampak yang kurang baik, dan ini juga membuat orang gampang tersulut dan marah karena perbedaan ajarang yang ada, debat lagi deh..
Gue sendiri gak mau ngasi ngasi sampel ajaran-ajaran apa, dan perbedaan apa yang beredar, but one thing that I have to say that being a religious person (for me) means that you have to use your brain to accept all those kind of teachings. Karena kalau gak pake otak, kita akan mudah berpaham radikal, ekstrem, dan mudah membenci orang.
Ini pun termasuk soal agama-agama lain, selama ini gue melihat agama non Islam sebagai agama yang membahayakan, justru asumsi gue salah. Bukan agama yang membuat mereka bahaya, tapi orangnya sendiri yang bikin bahaya. Orang Islam juga ada yang berbahaya, tapi bukan Islamnya, tapi kelakuan orangnya.
Dulu, gue mengira semua orang Yahudi jahat dan pembenci Islam, sekarang gue punya beberapa teman Yahudi yang baik-baik dan gak semuanya mendukung Israel. Sama halnya, dengan teroris yang mengaku Islam, dan banyak orang yang gak menyalahkan agamanya, tapi si orang nya yang terpapar radikalisme. Sedihnya, agama Islam yang sering dipake jadi alat untuk konfrontasi sama orang-orang biadab, dan yang disasar itu orang-orang sulit ekonomi, karena mudah untuk disusupi pemahaman dogmatis yang negative, sehingga membunuh orang gak bersalah itu dianggap baik.
Gue geram banget kalau liat kasus bom terus denger kata “Allahuakbar”, trus nonton film-film berbau propaganda yang memadukan scene orang habis bebuat jahat sama suara azan, sedih banget liatnya. Tapi gue sendiri beruntung liat orang-orang asing yang gue temui tidak melihat itu sebagai hal yang benar, mereka sendrii paham kalau itu Cuma propaganda, dan mereka percaya orang Islam pada dasarnya orang baik. Tapiii, pasti ada juga orang yang membenci Islam.
Gue sendiri juga udah engga gitu sungkan untuk berbicara soal agama lain dengan temen-temen gue. Karena niat gue sendiri bukan untuk berpindah, dan gue percaya just because I’m having conversation about other religion doesn’t mean keimanan gue bakal turun. It’s not a threat at all, I believe that.
Gue mencari tahu tentang agama lain, supaya gue bisa belajar menghormati mereka sebagai manusia. Di Al Qur’an pun diajarkan kalau kita harus menghormati sesama manusia. Orang Kristen, Yahudi, Ateis, Zoroastrian, Mormon, apa pun itu juga diciptakan oleh Allah SWT di dunia ini dengan satu alasan. Bahkan babi pun diciptakan oleh Allah SWT untuk sebuah alasan.
Tidak melulu berpegang pada dogma juga ngajarin gue untuk lebih waras dan mencerna segala informasi yang seringkali gak mendasar dan gak jelas. Contohnya?
Pernah dengar berita tentang Pokemon itu artinya “Aku Yahudi” dalam bahasa lokal suku Yahudi? Terus Pikachu artinya “Jadilah Yahudi?” Terus tiba-tiba muncul lagi berita Hey Tayo yang juga artinya Aku Yahudi dari bahasa sebuah negeri entah dimana? Udah gitu berita ini disebar kemana-kemana, dan orang percaya gitu aja. Nah inilah kalau kadang kita baca info sambil beranggapan bahwa segala hal yang gak Islam itu ancaman besar tanpa berpikir panjang.
In the end, gue sendiri masih belajar agama, sebagai manusia yang penuh dosa, perjalanan spiritual gue gak akan pernah berhenti sampai ajal menjemput, dan semoga gue bisa menjalani kehidupan spiritual gue di jalan yang benar. Amin.

9. A Definiton of Success

Beberapa kali menjadi pembicara di beberapa seminar dan workshop, satu kata yang sering beredar dalam percakapan: “Sukses”
“Bagaimana Ecofunopoly bisa menjadi sesukses seperti sekarang?”
“Apa arti sukses dalam hidup kakak?”
“Tips and trick supaya menjadi orang sukses seperti apa?
Sukses..sukses.. sukses!!!

Dari banyaknya percakapan yang gue alami dengan banyak orang, gue jadi bertanya kembali ke diri gue “Sukses itu apa?”
Gue sempet heran ya, sukses itu kalau ibarat bentuk atau benda seperti apa?
Sebuah titik, garis, lingkaran atau apa?
Ini menarik untuk dipertanyakan, karena gue juga heran kalau orang suka merespons,
“Wah hebat kamu ya nis, udah sukses..”
Sukses membawa usaha jadi untung? Mungkin iya.
Sukses karena menerbitkan buku dari blog pribadi? Mungkin iya juga.
Sukses dapat beasiswa sekolah keluar negeri yang selama ini diidam-idamkan? Mungkin iya.
Menyatakan sukses untuk beberapa hal spesifik mungkin bisa benar, jadi formulanya:

Cita-cita + usaha + berhasil = sukses

Ada lagi yang merespon, “wah lu sih dah sukses, dah gak perlu ada yang dikejar lagi. Apa apa gampang lah..”
Eh, wait, wait, jadi maksudnya, sukses itu adalah ujung dari segala kerja keras kita? Trus kalau udah diujung, then we don’t have anything to do or to achieve?
Kalau sukses sebuah ujung, lalu kapan kita merasa berada di ujung?
Apakah sukses itu sebuah capaian satu hal atau akumulasi dari berbagai capaian kita?
Apakah sukses itu kombinasi dari kemapanan finansial, membina keluarga yang samara, terkenal dan dihormati yang terus-terus menerus ada dalam hidup kita?
Atau,
Apa sukses itu kita selesai dengan diri kita sendiri, dan gak ada lagi yang harus dikejar, tanpa mengukur seberapa banyak yang sudah kita punya atau kita beri ke orang lain, intinya it’s just enough?
Gue mencoba mencari-mencari makna sukses dari beberapa figure yang gue anggap sukses di bisnis.
Disitu gue dapet beberapa pola pikir sukses mereka, ada yang bilang kalau sukses itu proses tiada akhir dan gak ada ujungnya.
Mungkin kita ingin achieve di satu titik, tapi setelah berhasil mencapai titik tersebut, dan dianggap sukses, kita pasti gak berhenti disitu, kita akan pergi ke titik yang lebih tinggi, supaya lebih sukses, dan terus terus .. jadilah sebuah garis yang tak berujung.
Gue setuju dengan paham ini, karena gue gak bisa mengartikan sebuah kesuksesan itu ibarat titik ujung yang mutlak. Dan setiap orang punya level sukses yang berbeda-beda dan menjalaninya dengan perjuangan yang berbeda pula. Gak ada garis start dan finish yang jelas, jalurnya juga gak sama panjang, gak sama mulusnya.
Seiring dengan bertambahnya dewasa, cara gue mendefinisikan sukses itu pun berubah, dari sekedar mencapai achievement satu ke yang lain, tapi sebagai sebuah garis panjang yang ujungnya adalah kematian.

Kemarin dengar podcast “orang yang selesai itu tidak pernah merasa selesai, selesai itu ya artinya mati”. Damn, ini deep banget sih.

There is no single definition of success; everyone can define their own success.

Mertua gue yang engga beres sekolah, kemudian fokus dagang di pasar, hingga bisa beli property tanah dan nyekolahin semua anaknya sampe jadi sarjana, termasuk suami gue, dan sekarang mertua gue hidup sederhana saja. Apa itu sukses? Buat gue iya.
Seseorang yang dari keluarga kurang mampu, kemudian belajar rajin, hingga dapat beasiswa keluar negeri, kemudian pulang mengabdi sebagai PNS, meski gajinya mungkin tidak seberapa dari temannya yang kerja di perusahaan swasta. Apa itu sukses? For me, it’s a yes, if he doesn’t compare his salary with others. That will makes him less successful.
Sukses gak ada satu measurement, standar sukses hidup di Indonesia bukan cuma hidup bahagia dengan satu pasangan dan dua anak, kerja mapan tanpa resiko dipecar, jabatan dan gaji naik tiap tahun, punya rumah standar KPR, liburan setahun dua kali dengan satu mobil Avanza.

Not that simple Ferguso…

Buat gue, kita bisa bikin standar kesuksesan ke diri sendiri, tanpa harus mendapat pengakuan sukses dari orang lain, kecuali orang itu selalu bersama kita dalam suka dan duka, dan paham betul upside down-nya kita.
Buat gue, gak bisa disebut sukses kalau Cuma dilihat kulitnya, hasilnya atau endingnya, tanpa lihat prosesnya. Kalau kayak gitu, bisa –bisa malah jadi toxic success, seperti kasus penipuan Umroh First Travel atau Fyre Festival. Kita ingin jadi Anniesa Hasibuan dan Andik Surrachman yang bisa keliling dunia, shopping mewah, diakui sukses banyak orang, tapi ternyata prosesnya nipu orang gak bersalah hanya demi mengejar kenikmatan semu.
Daripada ingin jadi mereka, mending jadi kami aja, pasangan Annisa Hasanah dan Andik Fatahillah yang masih ngayal-ngayal untuk bisa liburan keluar negeri tanpa biaya, hunting voucher makanan enak yang jarang kita beli, dan dapet jatah hotel gratis! That’s our success story! hehehe :p

Last but not least, I would like to thank to Allah SWT for giving me such a wonderful life during my 20s. I’m so happy to receive all blessings, trusts and opportunities from You.

Anyway thanks for reading my Going 30 reflection story! Drop your thought or story here on comment box ya.

Read More

Refleksi Akhir 20an : Andai Dari Dulu.. (Chapter 3)

5. Frugal Living

 read previous chapter 2 here

Dua tahun mengarungi hidup dalam dunia wirausaha udah ngasi gue banyak kesempatan ketemu orang-orang baru, diantaranya orang-orang yang sudah lama melintang usaha, sukses dalam tolak ukur : untung, tapi penampilan dia tidak terlihat seperti orang yang sukses dan punya segalanya. Nah loh? Kok bisa?

Gue akhirnya menemukan satu istilah baru “Frugal Living”.

Frugal Living is simply happily living with less.

Yup, gue ketemu banyak orang dan figure yang mengadopsi hidup frugal alias sederhana, apapun kondisi ekonominya, or at least menyesuaikan kemampuan ekonomi secara pantas.

Menurut gue, tantangan terbesar saat ini buat (more…)

Read More

Refleksi Akhir 20an : Andai Dari Dulu.. (Chapter 2)

2. Am I a True Enterpreneur?

(baca chapter 1 disini)

Jaman sekarang, begitu mudah memberi label pada diri kita ini siapa.

Founder … CEO..  Influencer.. Enterpreneur.. Author..

Gampang banget! Apalagi semenjak  masuknya social media ke dalam hidup kita, we need to declare ourselves , so that the world knows who we are.. Gak perlu pake sertifikat, gak perlu izin, we can declare ourselves freely. Eksistensi kita harus ada, supaya kita bisa diterima.

Sekarang banyak sekali muncul para entrepreneur, entrepreneur baru.. founder baru.. hingga akhirnya gue nanya ke diri gue, sebenarnya Enterpreneur itu apa ya? Apakah orang yang membangun usaha sendiri, punya beberapa karyawan, dan menjual produk, dan dapat untung kah?

Atau orang yang memiliki mindset entrepreneurial, apapun profesinya? Kalau dagang di pasar, jual cabe, punya satu karyawan, apa itu juga disebut entrepreneur?

Waktu gue mutusin untuk fokus bangun usaha tepat setelah sekolah, gue sendiri gak pedeuntuk menyebut diri gue sebagai seorang entrepreneur. Gue justru lebih nyaman menyebut diri gue sebagai Owner dari usaha gue sekaligus bekerja sebagai Game Designer. Karena gak mau terjebak dalam istilah itu, padahal capaian gue sendiri bersama usaha yang gue bangun belum mencapai ke titik itu secara sepenuhnya. Perlu beberapa waktu buat gue untuk berani bilang kalau gue adalah seorang social entrepreneur di hadapan banyak orang. Karena gue sendiri masih berjuang untuk menjadi seorang the real entrepreneur, atau mungkin gak akan pernah merasa seperti itu, karena the true enterprise is actually a lifetime learner, dan gue ga mau menjadi jumawa padahal belum ada apa apanya, ilmu pun masih secuil. Gue ingin menjadi apapun yang gue mau. Istilah wirausaha, karyawan, freelancer, pendidik, pakar,  apa pun itu hanya penamaan aja, sekedar untuk isian form. Orang lain boleh mendefiniskan gue itu apa dan siapa, yang pasti tidak akan membatasi diri gue untuk mengerjakan apa yang gue mau.

3. Terjun ke Dunia yang “Membahayakan” : Pasar Modal

Poin ini masih related sama poin nomor satu. Awal tahun ini, gue dan suami mutusin untuk belajar hal baru: terjun ke Pasar Modal, atau istilah santainya: Main Saham. Setelah nikah beberapa tahun dan mengarungi dinamika rumah tangga kelas menengah yang penuh warna warni, kami berdua sadar kalau kita gak bisa gini gini aja, harus ada hal baru yang kita pelajari.

Kami berdua pun menelan buku-buku Robert Kiyosaki, bapak kapitalis Amerika itu telah berhasil “menakut-nakuti” kami tentang sistem yang mengatur uang di dunia. Meski ada beberapa poin yang bersebarangan dengan prinsip gue, satu hal yang cukup membuat gue terngiang-ngiang adalah pasar modal. Orang seringkali ngomong saham si anu, saham lagi turun, saham naik, tapi gue sendiri engga ngerasain langsung kayak apa.

Berbekal keberanian dan ilmu pas-pasan, gue dan suami berani buka akun untuk main saham. Saat beberapa orang terdekat gue tau kalau kita mulai main saham, ada yang bilang “hati hati kalo main saham..” atau “bahaya lo itu main saham-saham, bisa ilang duitnya..”

 

Hehehehe, disini gue pengen ketawa. Banyak banget yang mengasosiasikan saham = bahaya. Seolah-olah kita naro duit untuk main saham, tiba-tiba besok bisa ilang tanpa bekas. (eh tapi emang bisa sih, coba nonton the Big Short). Menarik bahwa saham itu diartikan sebagai dunia yang sebaiknya dihindari, dan cari investasi yang aman-aman aja. Gue bukan berarti gak setuju sama persepsi saham=bahaya, emang “bahaya” kalau mindset kita main saham itu untung terus, dan ilang duit itu merugikan. Lucunya, orang yang bilang ke gue saham itu bahaya, justru habis dibawa lari duitnya sama rekan bisnisnya, pas gue Tanya ada kesepakatan bisnis hitam di atas putih, dia bilang Cuma pegang kepercayaan aja. Dan ampe sekarang uangnya gak balik-balik. See? Ironis emang di Indonesia ini, menganggap sesuatu bahaya, padahal ada banyak hal lain yang sama sama bahaya. Intinya membuat investasi keuangan pasti ada risikonya, risikonya itu perlu dihitung dan semua kembali ke kita. Kalau risiko itu bahaya, ya dimana mana pasti ada bahaya.

Naro uang di celengan, ada risiko dicolong. Naro uang untuk diputer usaha, ada risiko gagal, uang dibawa lari orang. Naro uang di saham ya gitu, ada risiko saham jatoh.

Justru buat gue, main saham itu menjadi ajang buat melatih diri ngadepin risiko, bikin keputusan dan mengatur emosi gue, dan ini ada ilmunya. Main saham itu gue anggap sebagai ruang belajar, bukan ajang membuat gue kaya secara instan. Pengen sih naro uang sejuta, sebulan kemudian jadi 100 juta. Tapi semua itu harus dipelajari toh? Dan ini semua perlu kesiapan mental juga, siap untuk nyisihin uang yang bisa dipake shopping cantik untuk dijadiin alat belajar yang belum tentu ngasi return cepet. Gue lihat orang yang main saham itu biasanya secara mental siap dengan risiko, karena belum banyak yang berani atau ada prioritas lain.

Warren Buffet, the richest man in the world, pertama kali beli saham waktu umur 13 tahun,  selama berproses, dia sempat rugi juga. Bayangin belajar mulai dari umur 13 tahun, semua perlu proses, dak ada yang instan. #SayNoToInstanKecualiMieInstan.

Buat pembaca yang udah punya KTP dan ada sedikit uang lebih, belajar pasar modal is recommended for you, tapi siapin mental dulu ya!

4. Gue, Lo, dan Kita Semua Emang Gak Bisa Nguasain Semua Hal

Dari kecil, kita sering ditekan untuk menguasai semua mata pelajaran, kita harus dapet nilai bagus di semua subjek. Saat besar, kita dituntut untuk menguasai bidang ilmu yang gak kita sukai,  pokoknya for sake of good score and bright future, after that, what’s the use? Padahal di dunia nyata, kalau kita gak mumpuni dalam satu bidang, kita bisa minta ahli yang  menguasai untuk ngerjain. Pendidikan formal yang gue alami cukup menekankan pada “be the best on every subject, no matter how hard you try”, tapi gak ada tujuan jelas kita ini mau jadi apa. Alhasil kita jadi orang yang mediocre, gak menguasai satu bidang yang amat sangat ditekuni dan diasah.

Waktu baca buku parenting Ayah Edy, gue juga tergelitik dengan cerita cerita gimana persepsi orang tua terhadap kesuksesan dan kebahagiaan anaknya. Banyak yang terjebak pada mindet:

 

Kuasai semua hal – dapat skor bagus di semua bidang – cari profesi yang bagus dan prospektif (suka gak suka) – dapat uang banyak – sukses dan bahagia

 

Padahal saat menjalani, kita belum tentu bisa nguasain semua bidang. Dulu gue jago matematika mungkin bukan karena gue suka matematika, tapi dorongan kalau gue harus jauh lebih baik dari yang lain. Padahal ternyata gue suka dengan kesenian, gue selalu dapat nilai bagus di kesenian, tapi still, it’s just Kesenian. Gak ada ngaruhnya untuk hidup gue kelak, kata orang-orang. Nilai bagus di Matematika dan IPA lah yang menentukan kepintaran kita. Itu pun terus belanjut sampe besar, mindset harus bisa semuanya tertanam terus selama sekolah, hingga ketika harus milih jurusan apa yang ditekuni, banyak yang milih karena jaminan masa depan, karena prospek kerja gaji besar tinggi, dll. Jarang ada yang bertanya, “apa kamu suka dengan bidang itu?” “apa modal keahlian  kamu sudah cukup?”

Hingga muncullah sekelompok mahasiswa yang merasa “salah jurusan”, ada yang gamblang bilang, ada yang ragu bilang takut salah, ada yang nerima dan menjalani dengan ikhlas. Fenomena “salah jurusan” yang gue temukan inilah salah satu efek dari bagaimana kita gak mencari tahu apa yang sebenarnya kita suka dan kuasai. Kenyataannya, manusia emang tidak dilahirkan untuk menguasai semua hal. Gue, lo, dan kita semua ini emang terlahir menguasai sesuatu hal dan tidak di hal lainnya. Ini juga gak Cuma terjadi di Indonesia, tapi di negara lain, misal India.

Film yang paling representative untuk fenomena ini adalah Three Idiots. Tokoh utamanya, cowok India punya passion di fotografi, tapi didorong orang tua nya buat jadi engineering. Profesi paling bergengsi di masyarakat untuk laki laki. Itu kenapa ni film gak bosen-bosen buat gue tonton, karena ya itu kita sibuk menguasai hal-hal yang gak kita suka, dan melewat waktu berharga untuk mengasah hal yang kita suka.

Menyukai dan menguasai ketika digabung menjadi sebuah kekuatan besar, apalagi kalau kita tahu cara monetizing skill kita sejak dini. You can finally find your Ikigai.

 

What I Love + What I’m Good at + How this could earn me money and support my living = IKIGAI

 

Gue pernah ngobrol dengan kolega yang kenal baik dengan seorang penyanyi terkenal di tanah air. Dia bercerita kalau bapaknya itu sudah memetakan potensi dan bakat anaknya sejak kecil, dan dia menemukan kalau si penyanyi ini punya talenta musik, akhirnya bapak ibunya memutuskan untuk melatih dia bermusik sejak kecil, mengikuti berbagai kompetisi, orang tua nya tidak begitu peduli matematika dia kurang bagus atau subjek lain selain musik yang nilainya kurang bagus, lalu dia dikirim ke akademi musik (dengan jalur beasiswa), sekarang? Di umur yang masih muda, dia sudah menjadi penyanyi terkenal yang dihormati di tanah air, aktif mengeluarkan album, manggung dan tentunya happy karena dia mengerjakan hal yang dia cintai. Dari hasil bekerja sebagai pemusik, dia pun menerima pendapatan yang pastinya tidak sedikit. Disitu saya juga belajar, kalau terkenal itu bonus sampingan aja, bekerja pada hal yang kita cintai sepenuhnya dan mendapat penghasilan pantas dari karya kita itulah yang menjadi tujuan utamanya.

5. Frugal Living

Continue reading Chapter 3  : Frugal Living here

Read More