Refleksi Akhir 20an : Andai Dari Dulu.. (Chapter 3)

5. Frugal Living

 read previous chapter 2 here

Dua tahun mengarungi hidup dalam dunia wirausaha udah ngasi gue banyak kesempatan ketemu orang-orang baru, diantaranya orang-orang yang sudah lama melintang usaha, sukses dalam tolak ukur : untung, tapi penampilan dia tidak terlihat seperti orang yang sukses dan punya segalanya. Nah loh? Kok bisa?

Gue akhirnya menemukan satu istilah baru “Frugal Living”.

Frugal Living is simply happily living with less.

Yup, gue ketemu banyak orang dan figure yang mengadopsi hidup frugal alias sederhana, apapun kondisi ekonominya, or at least menyesuaikan kemampuan ekonomi secara pantas.

Menurut gue, tantangan terbesar saat ini buat anak-anak kelas menengah itu menahan nafsu dan mengatur keinginan. Woah, ini nih yang kadang berat.

 

Untuk case gue, gue kadang agak susah untuk nahan nafsu jajan, bawaannya pengen jajan mulu, ya ngemil snack, ngopi di kafe, nyobain ramen baru, dll. Hingga gak disadarin kebiasaan jajan ini ngebengkakin budget makan bulanan yang tidak seharusnya segitu. Belum lagi dorongan untuk liburan keluar negeri yang banyak nawarin tiket murah, tapi semurah-murahnya tuh tiket, tetep aja diluar kemampuan kita yang sesungguhnya.

Kalau boleh menilai diri sendiri, gue bukan orang yang cukup boros dan selalu mengikuti keinginan tanpa memperhitungkan kemampuan. Alhamdulilah, masa-masa aktualisasi diri dalam hal materi udah lewat. Jaman gue melek gadget itu dimulai waktu SMA, waktu jaman Nokia lagi Berjaya, tiap bulan selalu aja ada seri terbaru keluar, gue masih haus sama yang namanya hp, gue sering minta beliin hp ke ortu, dan selama periode doyan gadget, gue udah kecolongan lima handphone, mulai dari hp murah, hp baru beli, hp mahal, semua blast ilang digondol pencuri. Dari momen itu, I’m losing my appetite to gadget. Momen buruk justru ngasi banyak hikmah.. gadget udah gak lagi menarik hati gue. Sekarang milih hp pun lebih untuk alasan fungsi, dibanding prestige. Sempet sih pengen punya iPhone, dan mampu beli juga, tapi gue kembali membuat daftar pro-cons dari having an iPhone, akhirnya gue membuat kesimpulan “not buying”. Alhamdulilah sekarang gue lebih rasional terhadap benda-benda material yang membawa kepuasan sesaat.

Fakta menarik dari artikel yang gue baca, lagi-lagi ada kaitannya dengan dunia sosmed, ternyata banyak sekali orang justru membeli barang atau mengkonsumsi sesuatu lebih dari sekedar keinginan nya sendiri, but to impress other people! Tekanan sosmed gak bisa dipungkiri menjadi salah satu alasan untuk spending lebih dari yang kita butuhkan.  Gue merasa ini kurang baik untuk well being gue, membeli sesuatu untuk keinginan pribadi mungkin menyenangkan diri kita pribadi, tapi membeli untuk menyenangkan orang lain, dan kita belum tentu happy,so what’s the use?

 “We buy shit we don’t need, with money we don’t have, to impress people we don’t like.”

— George Carlin.

 

Kemudian gue mulai baca-baca biografi successful CEO and public figure, ada beberapa fakta yang mencengangkan buat gue yang bertarung untuk membatasi nafsu.

Nabi Muhammad SAW.

Gue pernah liat foto-foto replica rumah Nabi yang biasa banget, padahal kekayaan nya luar biasa. Kasurnya juga biasa aja, dan beliau adalah satu satu teladan dalam mengadopsi frugal living.

Warren Buffet.

salah satu investor terkaya di dunia, menganut frugal living alias hidup sederhana, terlepas dari kemampuan finansialnya gak diragukan lagi bisa membeli gaya hidup mewah. Justru dia memilih tinggal di rumah sederhana yang dia beli tahun 1950an  di Nebraska. Udah gitu, dia Cuma satu mobil, itu juga mobilnya biasa banget, bukan mobil mewah. Satu hal lagi yang gue suka dari dia, dia selalu beli sarapan di McDonald. Menu yang dia beli pun tergantung kondisi pasar saham, kalau saham dia naik, dia beli menu harga 3,5 dollar. Kalau saham dia turun, dia beli menu harga 2,5 dollar. Damn, this is such a good habit! Nonton film dokumenter Warren Buffet is like slapping on my face!

Being rich isn’t always about how much money you have, but also how you could maintain a good habit. I wonder how he could control his desire? Inilah salah satu alasan gue masuk ke stock market, karena gue merasa ada hal-hal lain yang jauh lebih menarik dibanding sekedar memuaskan diri dengan barang-barang mahal.

Gak jauh-jauh, salah satu mentor bisnis gue juga nerapin frugal living, kalau lo liat dia secara langsung, lo ga akan percaya kalo dia punya rumah sakit dan running beberapa bisnis lain. Mentor bisnis gue berpakaian sederhana, belanja ke supermarket selalu pakai daftar, naik kereta PP dari rumah ke tempat kerja. Men, gue banyak ketemu orang yang sebenarnya mampu banget ngadopsi gaya hidup yang lebih wah, but they don’t want it.

Frugal living ngajarin kita untuk merasa cukup dan minimalis. Ini gak memulu hidup susah, dan gak menuruti keinginan. Kita tetap bisa menyalurkan keinginan, tapi dalam batas yang wajar, yang diukur dari kemampuan kita. Kita sering dengar istilah middle income trap atau jebakan kelas menengah yang mendorong kita menaikkan standar hidup seiring dengan naiknya kemampuan finansial, jadi rasanya selalu gak cukup. Biasa makan warteg, karena gaji naik, jadi alergi warteg, dan harus makan di mall. Biasanya pake baju gak bermerk, sekarang jadi gatel, kudu pake baju branded. Biasa pake sabun cuci muka yang ada di swalayan Giant, sekarang ngerasa alergi, dan harus ke skin care atau beli di Sephora. Yes, this is what happens to us, at least me.

Beberapa bulan terakhir, gue mencoba untuk menerapkan frugal living, dengan ngurangin kebiasaan ngopi di kafe, makan di rumah sebelum pergi, beli baju harga wajar (ini sih udah gue terapin dari lama, gue gak gitu demen belanja baju branded), gak pergi kemana mana kecuali emang ada urusan penting, dan lain lain. Habit-habit gini perlu dijalanin se-alamiah mungkin, jadi bukan kepaksa. Ibarat diet, nahan nahan sekuat tenaga, bakal ada titik gak kuat, terus balik lagi ke habit makan yang biasa. Intinya, kita gak merasa sedih, merasa misqueen, dan semua terasa baik baik aja, dan intinya cukup.

Satu poin penting dari ngadopsi frugal living itu people around you. Gaya hidup dan habit itu biasanya datang dari pengaruh orang di sekitar kita. Kadang-kadang kebocoran kita spending itu karena kebutuhan sosial yang sering dilabeli oleh rasa solidaritas pertemanan (ini kenapa gue jadi rada ansos, hehe). Gue pernah ikut kelas belly dance sekali, disitu ternyata si guru dan pesertanya bikin squad, jadi tiap mau sesi nari, mereka janjian pake baju warna apa, kalo gak punya, jadi beli, karena takut dianggap gak kompak, udah gitu beres sesi nari, mereka lanjut makan bareng di satu tempat. Tempatnya pun belum tentu pas di kantong.

Temen gue yang gabung ke grup Darmawanita kantor suami juga ngalamin hal yang sama, mereka akan berdiskusi produk apa yang pantas untuk level mereka, kosmetik, tas, you name it.. gak beres di ibunya, anaknya juga kena, pakaian anak kudu merk apa. And it’s real happened. Gak sedikit yang kecemplung karena takut engga diterima sama kelompok mayoritas.

Alhamdulilah, seiring dengan bertambahnya umur, hasrat gue untuk bergaul sana sini, eksis sana sini kian berkurang, sekarang gue lebih senang ngabisin waktu sama temen-temen yang bikin gue nyaman, ngasi obrolan berkualitas maupun receh yang seru dan gak bikin kantong jebol.

“live life to express, not to impress”

Ini ada artikel menarik tentang frugal living : https://struggle.co/frugal-habits/

 

6. FOMO to JOMO

Lagi lagi ngomongin Social Mediaaa, gak disadari social media banyak mengubah diri gue secara positif, tapi juga secara negatif. How so? Social media itu seperti pisau, tergantung tujuan makenya gimana, kalo buat motong sayur, positif, kalo buat nusuk orang, negatif.

As time goes by, menggunakan social media waktu jaman Friendster atau Facebook di tahun 2008 tidak seganas sekarang. Older times are wayyyy much better than now.

Dulu pakai sosmed itu Cuma buat update status, liat wall orang, terus becanda-becanda doank. Sekarang? Waduh, temen temen disini pasti ngerasain deh.

Dulu gue punya akun facebook doank, terus lahir Instagram, bikin akun tahun 2012, trus gak dipake bertahun-tahun, hingga gue aktifin lagi tahun 2015 dengan tujuan untuk promosi buku dan bikin personal branding untuk buku yang diterbitkan. Sejak detik itulah, gue jadi avid user of social media. Temen-temen pake Path, gue pun mulai install Path, hanya selang beberapa bulan, gak dapet faedahnya, gue langsung uninstall. Thanks to limited memory HP, gue smackqueen ya queen buat ngapus.

Awalnya tujuan gue bersosial media untuk sharing my own thoughts, travel diary dan tentunya keperluan bisnis gue dan buku gue. Eh malah jadi kemana-mana, hingga gue sempet ngalamin sindrom FOMO, Fear of Missing Out. Rasa takut ketinggalan sesuatu yang happening, merasa aneh kalau gak cek sosmed per sekian jam, dan selalu posting apapun yang terjadi dalam hidup gue, sampe gue sadar kalau momen aslinya malah hilang akibat sibuk update sosmed! Ugh!

Seringkali kita dengan mudah menjudge semuanya  dari sebuah foto saja! Ckckck. Kenyataannya, hidup emang engga seindah foto Instagram.

Beruntungnya, gue dapat kesempatan bertemu sama orang yang mengenalkan gue dengan konsep “Well Being”!

Well being itu kalau kata  Google artinya the state of being comfortable, healthy, or happy.

Terdengar sepele, tapi semakin dalam gue cari tau, ternyata bener, I’m not in the state of well being. Well being gue keganggu, salah satunya karena sindrom FOMO ini. Alhasil, harusnya pake sosmed kita tambah happy positif, ini malah kebalikan. Akhirnya gue sadar kalo I must do something, I started to unfollow Instagram that don’t sparks joy, ceunah pake bahasa Marie Kondo.  Buat feed sosmed yang bikin happy, ketawa, dan nyaman. Gue mulai mereduce akun-akun yang suka bikin propaganda agama, sok-sokan berpolitik, karena sebenarnya bukan salah tu orang juga, tapi salahnya ngapain gue follow!

Gue pernah baca satu kata mutiara dari Gobind Vashdev yang daleemmm banget, kalau sebenarnya pain itu datang dari pengaruh luar yang datang ke kita, tapi respon kita sendiri membuat kita menderita. Akhirnya gue sadar kalau sebenarnya orang orang yang posting hal-hal yang gak gue suka itu bukan salah orangnya, salah gue kenapa baca dan mengubah itu menjadi sebuah derita/kesedihan.

Waktu ke Pakistan, gue berkenalan sama Greta Rossi, dia seorang social entrepreneur dari Italia. Bisnis sosial dia itu namanya Recipe of Well Being. Dia memberikan training dan sesi untuk ningkatin well being pemuda. Ngobrol-ngobrol sama dia, gue terkesima dengan cara dia menghindar percakapan atau hal yang gak mengenakkan dia dengan cara halus. Dia pun selalu mikir kalau mau berbuat sesuatu, dia akan bertanya ke diri sendiri “will this affect my well being?”

Gue suka dengan cara dia membangun kesadaran ini, bahkan dia sendiri cerita kalau dia betul betul mengurangi intensitas main sosmed, karena dia merasa itu mengganggu well being dia, dan dia suka menjadi seorang JOMO.

JOMO ini lawannya dari FOMO, artinya Joy of Missing Out.

Kalau FOMO itu kita takut ketinggalan, gak update, gak eksis, nah JOMO ini justru merasa senang dan present di kondisi saat ini, tanpa harus takut jadi orang kudet.

Sejak saat itulah, gue bertransformasi from FOMO to JOMO!

Caranya? Letakkan jauh-jauh smartpone, and do what you wanna do.. baca buku, nulis jurnal, main ama kucing. Gue sempet menghabiskan satu hari di weekend tanpa Smartphone, oh Damn it feels soooo goooood.. serius deh, gue berasa lagi digital detox, mengeluarkan racun-racun dari tubuh gue. Dan gue sendiri engga gampang cemas ketika gue gak buka sosmed dalam waktu lama, telat buka Whatsapp, karena semua baik baik aja kok!

Go JOMO!

7. Business Mindset

This is what I love most of being a grown business woman. Despite of my uncertainty on how far I made a progress, I’m proud that my business mindset is improving better and better. But still, karena menganut prinsip belajar tiada akhir, gue selalu merasa engga pernah cukup, haus untuk belajar hal baru.

 

Cara gue melihat dunia bisnis waktu dulu dan sekarang itu jauuuhhh beda banget. Gue sempat menganggap bisnis itu ibarat garis linear, but yup I was wrong.. it’s like a garis pergerakan saham, naik turun, semua itu gak keprediksi.

Gue bersyukur banget dua tahun terakhir diberi beberapa mentor yang bisa mendorong gue untuk mendapat pikiran yang positif, yang mengajarkan ke gue kalau gapapa if I make mistakes, wrong decision, or even a huge failure. Gak kebayang menjalani hidup berwirausaha tanpa didampingi mentor. Memang bisnis itu selayaknya perlu mentor, apalagi gue gini yang mulai bisnis dari nol. Running business can gives you mental breakdown all of sudden, sometimes running business makes you feel lonely…

Terjun di bisnis juga mengasah pola pikir gue dalam belajar dan membuat pilihan. Ketika banyak yang berasumsi, bisnis itu punya hidup yang glamor, uang tanpa batas, waktu tak terhingga, pokoknya hidup bahagia (jika diukur dari materi), that’s a wrong bro.

Mungkin asumsi ini hadir karena success-success story pebisnis yang dijual di pasaran selalu cerita ujungnya, gimana bisa dapat omzet milyaran dalam waktu singkat tanpa modal. Tapi, dapurnya, bagian tergelap jarang diceritakan. Because if those are revealed, then no one wants to run business!

Bisnis itu dunia yang tidak pasti, gak ada formula yang tepat dan berubah sangat cepat, bisnis itu like a game dengan serentetan level-level yang kadang bisa ditembus, kadang sulit ditembus, bisnis itu memaksa kita untuk menjadi seorang multitalenta tanpa ada jaminan apa-apa!

Dari pengalaman gue, sejak jadi wirausaha, gue mendadak bisa jadi akuntan dengan bikin laporan laba rugi, jadi website developer yang bisa perbaiki website, jadi customer service yang ngurusin pesana konsumen, jadi human resource manager yang mencari orang yang tepat untuk dukung usaha, hingga jadi sales promotion girl yang keliling sana sini sambil bawa produk dan berharap orang yang gue temui tertarik.

In the end, semua aktivitas yang multitalenta itu gak menjamin apa-apa kalau itu gak berhasil. kalo kerja, kemungkinan terburuknya paling gaji dipotong, tapi at least you’ll get paid.

Kalo usaha, with all of your efforts, money, energy, time, once you failed, gak ada yang mau ganti.

Because it’s all your own responsibility.

Belum lagi berurusan sama orang-orang yang menjadi support system kita, jangan harap semua orang mau menjalani value yang kita pegang dalam usaha. Dalam perjalanan nya, ada aja yang bohong, gak amanah, banyak menuntut, banyak ngasi alesan ini itu, bahkan ampe nilep duit usaha. Awal-awalnya syok, tapi lama-lama gue belajar memanage itu semua.

Tapi terlepas dari datang dan perginya orang yang gak kita harapkan, banyak juga malaikat-malaikat dan orang baik yang datang membantu gue menjalani usaha.

so, cara pandang gue engga  lagi sekedar membanding-bandingnya untung rugi materi.. kalau pahit ya pahit aja, pahit ini sebuah rasa yang wajar terjadi dalam hidup. Kalau manis, ya manis, tapi gue ingat ini engga selamanya.

Gue suka banget dengan paparan Yuval Noah Harari buku Sapiens tentang bagaimana perasaan kita itu dibentuk dari proses kimia, bukan dari lingkungan yang memberikan ke kita.

Bahagia itu datang karena kita mengeluarkan hormone yang bikin bahagia, misal kita menang lomba juara I pertama kali nya, seketika kita mengeluarkan hormon bahagia.  Belum tentu juga setiap kali menang lomba, kita bakal ngeluarin hormone yang sama. Itu kenapa ada orang yang kita pikir harusnya bahagia karena punya uang banyak, rumah bagus, bisnis sukses, tapi dia merasa gak bahagia. Karena faktor utamanya bukan materi atau lingkungan yang memberi dia, tapi bagaimana cara dia merespon itu semua.

Contoh lain, kira-kira kalau ada uang 1000 dolar dikasi Cuma Cuma ke orang miskin yang hidup nyari duit biar bisa makan sehari hari sama uang 10,000 dolar dikasi ke seorang manajer korporat dengan gaji dua digit tiap bulan dan sudah punya asset, kira-kira siapa yang lebih bahagia?

Who knows, depends on how you transform that money gift into your chemical response.

Dugaan gue sih orang miskin, karena selama ini dia jarang pegang 1000 dolar, bisa pegang 100 ribu per hari aja mungkin sudah cukup membahagiakan, sedangkan si manajer yang sudah terbiasa dengan angka besar, memahami asset, mungkin 10,000 dolar gak ada apa-apanya buat dia, jadi ya biasa aja.

Ini pun terjadi sama kita hampir di setiap kesempatan, ibarat kita dapat seloyang cheese cake. Potongan pertama rasanya luar biasa nikmat, potongan kedua masih enak, ketiga mulai ngerasa penuh, potongan keempat udah gak gitu nikmat soalnya kenyang, dst.

biasa dapet duit 5 juta sebulan, tiba tiba pas dapet 10 juta, rasanya seneng banget. Terus dapet 10 juta yang kedua, ketiga, dst.. rasanya malah biasa aja, pengennya dapet 20 juta.

So, did you get my point? 

Business mindset inilah yang ngajarin gue kalau semuanya itu ga ada yang instan, relatif dan gak ada yang abadi. Yang gue bisa lakukan ya menyesuaikan diri, menyusun strategi, lagi untung-untungnya atau lagi rugi ruginya bersikaplah sewajarnya, belajar untuk merasa cukup dan bersyukur. That’s part of business mindset.

8. Ajaran Dogmatik 

Continue reading Chapter 4  : Ajaran Dogmatik here