It’s Okay To Be Wrong

Waktu jadi mahasiswa di Jerman, gue pernah menantang diri gue sendiri untuk melakukan sesuatu yang belum pernah gue lakukan.

Salah satunya adalah belajar bahasa baru. Pada dasarnya, gue senang belajar bahasa, karena ini subjek yang paling dekat dengan masyarakat, sekali belajar, bisa langsung dipake. Eropa telah mengajarkan gue bahwa being bilingual is normal, being tri-lingual (bisa 3 bahasa) is also normal. Maksudnya, orang-orang di Eropa sudah terbiasa menguasai bahasa lebih dari dua. Gue sebenarnya tri-lingual sih Indonesia, Inggris, Sunda. Hehe. Gue jadi tertantang untuk belajar bahasa lain selain bahasa Inggris. Alhasil gue belajar bahasa Jerman disana, karena kepake banget untuk sehari-hari disana.

Waktu lagi buka-buka folder berisi tugas-tugas gue waktu sekolah di kampus Goettingen, tiba-tiba gue nemu file PR bahasa Spanyol gue. Haha! Gue jadi teringat kalau gue pernah ambil mata kuliah bahasa Spanyol di Jerman!

Bingung ga lo? Bahasa Spanyol tapi belajar-nya di Jerman. Gue iseng banget ambil kelas ini, karena saking penasarannya kenapa orang Eropa bisa banyak bahasa, so gue juga pasti bisa donk. Alhasil gue daftarlah kelas ini.

What made me surprise adalah semua muridnya orang Jerman, dan kelas-nya menggunakan bahasa Jerman sebagai bahasa pengantar, Jedarrr! Bahasa Jerman gue masih pas-pasan banget, lah gue malah ambil bahasa lain, tapi belajarnya pake bahasa yang belum gue kuasai. Deg-degan banget sebenarnya sih ngambil kelas ini, Gue takut gue bakal jadi mahasiswi paling bodoh dan ga bisa ngikutin jalannya kelas.

Kelas-nya sangat banyak diskusi dan percakapan, setiap kelas mulai, gue udah standby dua kamus: bahasa Inggris dan Jerman. Otak gue udah di-setting empat bahasa : Indonesia, Inggris, Jerman, Spanyol. Kalau otak gue bukan smartphone, udah nge-hang kayanya. Pak Guru-nya tau bahasa Jerman gue ga begitu lancar , sedikit-sedikit dia ngecekin if I’m okay. Guru-nya takut kali ya gue keluar busa dari mulut, saking stressnya. Alhamdulilah, gue ga kenapa-kenapa. Buku pelajarannya pake bahasa Jerman, ga ada bahasa Inggris sama sekali. Ajaibnya, gue bisa sekalian belajar bahasa Jerman loh! Hihihi.

Dan, so far gue bisa ngikutin kelasnya, dan yang terpenting, gue bisa ngerjain semua PR dan tugas dengan baik!

Setiap minggu, kita diberi PR bikin esai supaya memperbanyak kosakata bahasa Spanyol dan melancarkan kemampuan nulis. Gue selalu mengerjakan PR bahasa Spanyol dengan sepenuh hati. Nih contoh PR gue:

GS I – Trabajo escrito No.3

(Di bawah ini perintah PR-nya)

Las cosas de todos los días.

Escribe sobre las cosas que haces durante el día. Las actividades que realizas desde la mañana en que te despiertas hasta la hora en que te acuestas. Tu horario de clases en la Universidad,las horas de las comidas y los días y momentos de descanso.

Artinya: (singkatnya) ceritakan aktivitas mu sehari-hari dari pagi sampai malam.

(Di bawah ini esai original buatan gue)

Me levanto a las cinco de la manana. Despues yo oro a las cinco y cuarto de la manana. Me ducho siempre despues de orar. Me desayuno a las siete de la manana. Empieza voy a la universitat a las ocho de la manana. Dos veces a la semana voy a clases de espanol y aleman. La clase de español comienza de la diez de la mañana a las doce del mediodía. La clase de alemán comienza de la cuatro y cuarto de la tarde a las seis menos cuarto. del mediodía. Una vez a la semana voy a clases de “Forestal en Alemania” y “Diseno de la Biometria”. Los lunes, la clase de “Forestal en Alemania” comienza de la cuatro de la tarde a las seis de la tarde. Los viernes, la clase de “Forestal en Alemania” comienza de la ocho de la mañana a las tres del mediodía.

Normalmente, los miercoles trabajo como entrega de periódico. A menudo voy a la centro de ciudad en Göttingen. Por los mediodías, primero voy a la cafetería, después como con amigos, y luego estudio en biblioteca. Me salió del estudio a las cinco de la tarde. Los sábados siempre voy a la casa de mi amigo y ceño con mis amigos. Los domingos voy a la ciudad sobre Niedersachsen. A veces jugo bádminton en gimnasio. Me ceno a las siete de la tarde. A menudo estudio en casa desde ocho de la noche y diez de la noche. Me acuesto a las once de la noche.

Ngerti ga? Coba pake google translate yaa.

PR gue ini diprint dalam kertas lalu diberikan ke pak Guru. Semua PR bahasa Spanyol gue selalu berakhir dengan  coretan merah yang penuh, artinya ada yang salah. Bisa salah penggunaan kata, atau penempatan kata, atau penggunaan artikel, atau kesalahan yang ga gue tau apa, (tulisan si Senor ini keriting kayak Bakmi Mewah, susah dibaca). Belajar bahasa mengajarkan gue bahwa it’s okay to be wrong. Ga ada yang salah menjadi seorang yang salah, asal kita tau dimana kesalahan dan mau memperbaiki.

Belajar itu ga perlu fokus untuk menjadi sempurna, tapi fokus pada proses. Gue seringkali lupa bahkan takut untuk salah ketika terjun dalam dunia baru, dunia yang ga pernah gue sentuh. Gue juga sering miris ngeliat anak muda terlihat takut untuk menjawab, alasannya karena takut terlihat bodoh di mata orang lain. Dan kadang ini yang menjadi alasan banyak orang untuk ga mau pindah ruang, dan tetap stay di zona nyaman, karena disitu we look smart and perfect, tidak perlu banyak kesalahan yang harus dibuat, karena kita sudah menguasainya.

Ada pepatah  bagus yang bilang, “If you are the smartest person in the room, then you are in the wrong room”.

Gue selalu berpesan kepada diri gue untuk jangan sekali kali takut mencoba hal baru, meski gue menjadi orang terbodoh dalam ruangan, itu artinya gue punya kesempatan untuk berkembang. Saat ini, gue terjun ke dunia baru yang penuh dengan tantangan dan ketidakpastian. Kalau gue hanya pakai kepintaran akademik gue, gue akan selamanya meras pinter dan ga mau belajar hal baru. Padahal selesai gue S2, masih banyak hal di dunia ini yang perlu dipelajari. I feel like I didn’t learn anything. Perasaan kayak gini muncul saat selesai S1, dan akan muncul lagi selesai S2. I know nothing. I only know what the lecturers asked me to do. What they have shaped me into something they really want, not something that the world needs. It’s a bittertruth, but I have to admit it.

Penasaran, apakah disini teman-teman termasuk golongan pemain yang aman dan stay di zona nyaman atau masuk ke golongan pemain yang suka tantangan dan berani untuk salah?

Ternyata keisengan gue ngambil kelas bahasa Spanyol ini menyadarkan kembali akan sesuatu: untuk berani mencoba hal baru.

Mucha Gracias Espanyol!

Nah pertanyaan terakhir, apakah gue masih bisa berbahasa Spanyol? :p

Baca cerita seru Traveling gratis saya ke berbagai negara di buku Student Traveler ya! Buku tersedia di Gramedia, Gunung Agung dan toko buku terdekat. Pesan online bisa ke www.penebar-swadaya.net.