Religion Without Violence

Pagi ini, setelah menyiapkan sarapan untuk suami, saya tidak sengaja menonton documentary film berjudul He Named Me Malala di National Geographic Channel. Malala Yousafzai adalah seorang gadis asal Pakistan yang dinobatkan sebagai penerima Nobel Peace Prize tahun 2014 atas dedikasinya terhadap pendidikan untuk wanita dan juga kejadian malang yang menimpa dirinya. Malala ditembak oleh seorang Taliban saat sedang naik bus ke sekolah. Taliban adalah kaum ekstrimis (hately to say that they do the bad things in the name of Islam) yang ingin mendirikan ‘syariat Islam’ dengan cara radikal. Salah satu misi mereka adalah melarang semua perempuan untuk mengenyam pendidikan, dan menerima kodratnya sebagai wanita yang hanya mengerjakan pekerjaan rumah, menikah muda, dan membesarkan anak.(Bagi yang ga tau Taliban itu apa, silahkan googling yah 🙂 )

Selama sekitar 2 jam saya menonton, saya terenyuh dan terkagum atas usaha Malala untuk bersuara tentang kondisi wanita di kampong halamannya, Desa Swat di Pakistan. Malala adalah seorang muslimah, terlahir dari keluarga muslim. Malala dan Taliban, dan juga saya adalah seorang muslim. Bedanya Malala dan Taliban, Malala adalah muslim yang punya akal dan moral, tetapi, Taliban tidak punya kedua hal itu. Taliban adalah sebuah produk brainwash mengatasnamakan Islam, produk inilah yang menghasilkan citra Islam yang buruk di mata dunia.
f23f79f69ef4b1076dbd22a3bbaa1736

Malala Yousafzai, Noble Peace Winner 2014 (Source: www.pinterest.com)

Ketertarikan saya menelusuri lebih dalam tentang Agama (secara universal) berawal dari makin kisruhnya dunia ini dengan konflik yang berlandaskan agama. Saya heran mengapa dunia dan makhluk yang diciptakan Allah SWT itu sudah pada dasarnya berbeda, namun kita sering ricuh pada perbedaan yang ada di sekitar kita. Tidak usah jauh-jauh ke luar negeri, lingkungan di sekitar saya juga sering ribut pada hal-hal kecil. Ga perlu saya beri contoh, mungkin kalian yang membaca juga seringkali mengalami hal ini. Melihat kaum Taliban ini, hal yang menjadi celaka di masyarakat adalah ketika kaum ekstrimis seperti ini memimpin politik di satu Negara.

Di buku ‘A World Without Islam’ karya Graham E. Fuller, dijelaskan bahwa agama sering digunakan sebagai tameng untuk memperoleh kekuatan (power). Belajar dari sejarah-sejarah masa silam, agama seringkali digunakan oleh pemuka agama (Agama disini bukan Islam saja ya) untuk mempengaruhi rakyatnya supaya mau bersatu berperang untuk merebut sesuatu. Rakyat-rakyat jelata di doktrinasi tentang bentuk perlawanan atas dasar agama, padahal intinya si penguasa (pendoktrin) ingin merebut sesuatu untuk dirinya sendiri. Sayangnya, rakyat-rakyat jelata ini tidak dibekali ilmu yang cukup untuk berpikir rasional dan logis, sehingga mereka terdorong untuk ikut sebagai pasukan perang.
Dari pengalaman saya membaca buku, menonton film, mendengarkan ceramah, berinteraksi dengan orang, pelan-pelan saya menyadari ada empat kategori orang dari segi agama dan akalnya. (Note: Kategori ini tidak mutlak adanya, ini hanya pengetahuan empiris saya dari pengalaman pribadi).

(1) Tidak beragama, tidak punya akal (logika) dan ilmu
Kalau orang di kategori ini sih, susah ya dijelaskannya. Agama engga ada, ilmu juga ga ada. Orang-orang di kategori ini akan berakhir pada hidup yang terombang ambing dan tidak punya prinsip. Ngelakuin ini mau, ngelakuin itu mau, Tanpa tau konsekuensinya apa kepada Tuhannya, juga kepada masyarakat.

(2) Tidak beragama, punya akal dan ilmu
Kategori ini orang-orang atheis atau agnostic yang biasanya juga keras kepala kalau diajak diskusi. Saya belum pernah ketemu orang-orang kategori ini di Indonesia, tapi kalau di luar negeri banyak banget. Orang-orang kategori ini sangat keras dan teguh pada pendiriannya. Mengganggap bahwa God doesn’t existed dan amalan yang dilakukan oleh orang beragama adalah sesuatu yang sia-sia. Kalau dari pengalaman yangpernah saya alami ketika berdebat dengan orang atheis, just leave them. Saya belum sekuat para pakar ulama yang mampu berdebat dengan para atheist.

(3) Beragama, tidak punya akal dan ilmu
Orang-orang ini yang seringkali saya temui di Indonesia dan sering bikin kesal akibat kenyinyirannya. Orang-orang kategori ini biasanya lebih kemakan ego-nya sendiri dan suka lupa tempat. Ilmu yang saya maksud adalah ilmu yang lebih banyak digunakan kepada masyarakat.
Ada orang yang rajin mengepost cerita agama yang agak tendensius menyindir agama lain di dalam grup social media, padahal disitu ada anggota grup yang berasal dari agama lain. Menurut saya, orang ini lupa pada toleransi, dan menganggap dirinya itu sangat eksklusif.

Saya sadar orang-orang seperti ini pikirannya sangat sempit, maybe some of them haven’t traveled faraway, learn to be minorities. Maybe they are just afraid already leaving their comfort zone. Saya sudah berkeliling 24 negara, sebagian perjalanan saya solo atau traveling sendiri, sekalipun saya tidak pernah melepaskan jilbab saya, juga meninggalkan solat. Saya pernah melakukan euro trip bersama teman saya beragama Hindu yang juga taat. Justru kami saling mengingatkan untuk beribadah. Saya diingatkan untuk solat, teman saya pun saya ingatkan untuk sembahyang. Saya juga pernah mengunjungi kamp konsentrasi Nazi sendirian, dan saya bertemu dengan orang-orang Israel. Alhamdulilah, sampai detik ini saya masih sehat walafiat dan tidak meninggalkan dendam pada mereka, karena mereka tidak menyerang saya.

I traveled to see the world, and I found that there are many beautiful things to see, and it brings peace to us. Makanya saya sering heran, jika sedang mengisi acara bedah buku, saya sering ditanya tentang bagaimana eksistensi saya sebagai muslim saat study abroad, apakah terancam? lalu bagaimana saya diperlakukan oleh orang asing? apakah dilecehkan? Wajar saja orang bertanya hal itu dengan prasangka awal. Mungkin jika saya tidak pernah traveling maka saya akan dihantui oleh persepsi yang sama. Maka saya selalu berpesan, ‘just go and feel it by yourself’.

Buat saya, berpegang pada agama yang diyakini itu mulai dari dalam diri sendiri, bukan sebagai ajang untuk dapat pengakuan dan eksistensi. Jika sudah yakin dan mantap, pengakuan dari orang lain hanyalah bonus saja.

(4) Beragama, punya akal dan ilmu
Menurut saya, inilah level tertinggi dalam kehidupan, this is the goal of life. Mungkin orang-orang dikategori ini yang sudah level 100% itu nabi-nabi Allah SWT dan para ulama yang ‘benar’. Saya juga memiliki beberapa panutan pemuka agama yang suka saya ikuti dakwahnya, Panutan saya ini sangat kuat dalam ilmu agamanya, juga dalam amalannya terhadap manusia. Saya mengambil contoh perilakunya, dan menggunakan akal saya untuk menentukan apakah dakwahnya benar atau tidak secara logika. Orang-orang yang benar-benar berada dalam kategori 4 ini tidak hanya kuat dalam beribadah solat, puasa, mengaji, tetapi juga suka bersedekah,menolong orang, tidak memakan hak orang lain (misal: nyodok, serobot antrian, mengambil harta yang bukan hak-nya), menebar kedamaian, menghormati sesama (tidak hanya seagama, tetapi agama lain juga), meninggikan ilmu dibanding harta dan senang memberi pengaruh agama kepada orang lain dengan cara yang damai dan tenang.

Saya mengakui, diri saya masih sangat jauh pada kategori 4, namun saya merasa amit-amit jika masuk ke dalam kategori 1 (at least saya sudah berusaha mmencari ilmu dan belajar agama), dan berharap tidak berada di kategori 2 dan 3 (meski mungkin iya, karena fase pembelajaran agama dan ilmu saya masih on-going). Saya masih bertanya-tanya pada diri sendiri, kapan saya bisa masuk pada kategori 4 dengan kadar 99%? (1% dianggap sebagai kekurangan saya sebagai seorang manusia).
Saya juga adalah penganut aliran ‘lihat dalamnya dulu, jangan luarnya dulu’. Nah loh? Maksudnya apa tuh? Saya sudah capek melihat orang-orang dengan mengenakan simbol suci, namun dalamnya, ego-nya luar biasa tinggi, kaku, bahkan terlihat seperti tidak punya akal. Saya pernah melihat orang-orang yang dari penampakannya tidak terlihat agamis, hanya berpakaian biasa saja, namun sopan, tetapi ketika melihat kesehariannya, dia sangat mengutamakan ibadah wajib dan juga saat berdiskusi dia memiliki pengetahuan agama yang sangat dalam dan filosifis, tidak melulu membahas soal tata cara-tata cara beribadah. Di sisi lain, saya menemukan beberapa orang yang terlihat begitu religious from the outside, sering post status atau berbagi artikel tentang agama sambil menunjukkan betapa kuatnya ego dia terhadap agama, namun pada implementasinya, justru sangat berbalik dari ‘simbol’ yang dia kenakan. I pay more respect on the people with the good inside than the outside.

Tidak kaget buat saya, melihat orang-orang banyak berpakaian yang tertutup dan islami, tapi ternyata saya melihat mereka membuang sampah sembarangan, dan menganggap perbuatan itu biasa saja. Bahkan saya pernah diserobot oleh ibu-ibu berkerudung panjang saat mengantri wudhu, ketika orang lain juga mengantri untuk hal yang sama. Saya kesal sekali melihat banyak orang yang menerapkan agama dari ibadah serta symbol yang dikenakan, tetapi ternyata buruk di perbuatannya dengan sesama. Mungkin saya pernah menjadi (bahkan hampir) menjadi orang seperti itu, untungnya saya dibekali akal oleh Allah SWT untuk dipakai dalam kehidupan sehari-hari.
Contoh lain, saya pernah diundang untuk hadir dalam forum keagamaan (waktu saya diundang pun tidak menyampaikan bahwa acaranya adalah acara keagamaan). Once I arrived there, saya melihat sekumpulan wanita-wanita berkerudung panjang yang juga siap mengikuti acara itu. Sebenarnya tidak ada yang salah dari pakaian yang mereka kenakan, namun yang saya temukan adalah seseorang yang terlihat ‘religius’ dari symbol yang dia kenakan, dia baru saja selesai makan siang di dalam ruangan, lalu dia meninggalkan sampah plastiknya disitu, ruangan itu berAC, bungkus plastiknya mengeluarkan bau makanan yang tidak semua orang suka. I used to be very idealist at that time, especially on green issues. So, that view was very annoying to me.
Lebih kesal lagi, saya hadir tepat waktu, ternyata acara baru mulai satu jam setelahnya. Karena saya sudah ada janji bimbingan dengan dosen, saya bermaksud izin meninggalkan ruangan. Ternyata respon apa yang saya dapatkan?
Orangnya hanya berkata, “wah ini acaranya baru aja mulai, bagian intinya belum dimulai, bisa ga dicancel dulu janjian ama dosennya?”
WTF? *sorry for my bad words*

Disitu saya langsung bersikeras untuk pamit (and I will never ever come back again). Nyesalnya, saya sudah naruh nomor HP saya saat registrasi. Alhasil saya di-SMS terus oleh kelompok itu, ditanya kapan akan hadir di forum itu lagi. I said, “BHAY!” *sambil melengos

Forum tersebut belum memberi contoh yang baik untuk saya, sorry.
From that moment, I believe that I must use my brain ketika sedang mencari ilmu dari tempat lain. Jika tidak, mungkin dari forum itu, saya hanya akan menjadi salah satu antek-antek golongan tersebut yang berusaha memposisikan diri dalam tangga politik nasional, dan hanya berpikir pada simbol dan ibadah, tanpa perlu memikirkan soal amalan lainnya.

Ada satu film menarik yang baru saja memenangkan Oscar, yaitu Spotlight. Film ini mengisahkan tentang sebuah tim reportasi dari Koran Boston Globe yang menginvestigasi peristiwa pencabulan anak-anak yang dilakukan oleh pastur-pastur di Boston. Kejadian ini terpendam bertahun-tahun lamanya, dan tidak ada berani yang bersuara. Tim Spotlight ini berusaha keras mengumpulkan fakta dari para korban dan keluarga, disitu diceritakan bahwa korban pencabulan itu kebanyakan dari keluarga miskin, dan mereka menganggap bahwa pastur itu bagaikan Tuhan, dan apapun perintahnya mereka akan lakukan. Anak-anak yang lugu menjadi korban dari hasrat seksual pemuka agama tersebut, dan dengan mudahnya pencabulan itu ditutupi oleh pimpinan yang memiliki kekuasaan yang sangat kuat dalam komunitasnya. Disitu saya berkesimpulan, akal kita adalah alat yang ampuh untuk menangkis hal-hal yang buruk, meski itu ber’simbol’kan agama.

Saat ini banyak sekali saya menemui orang-orang yang benar-benar tidak percaya pada agama, ingin membebaskan diri dari agama, karena pernah mengalami kejadian yang berakhir kekesalan, kebencian, dan kekecewaan tinggi. Kekecewaan ini membawa dirinya menjadi acuh dan merasa agama tidak esensial lagi bagi kehidupannya, karena orang-orang beragama di sekitarnya telah memperburuk keadaannya. Hingga, dia meng-universal-kan kesalahan satu orang tersebut sebagai kesalahan seluruh golongan agama. Alhasil muncullah paham anti-terhadap-agama tersebut.
Alhamduliah, saya masih berpegang pada iman saya dengan agama Islam. Saya berprinsip bahwa kesalahan satu orang bukanlah kesalahan satu umat. Kadang tidak mudah untuk berpikir kemudian, pengalaman saya traveling ke beberapa Negara seringkali membuat saya berpikir bahwa perilaku satu orang mencerminkan perilaku bangsanya. Padahal tidak demikian. Jika berpikir begitu, maka kedamaian tidak akan pernah ada di dunia. Isu terror bom juga hangat sekali sampai detik ini. Seringkali mendengar kata terror bom, selalu diindentikkan dengan Islam. Satu orang pelaku bom yang ‘mengaku’ Islam, apakah artinya pelaku bom itu semua orang Islam? Bukan begitu kan?

Kesimpulannya, amalkan agama dengan akal dan ilmu kita, interpretasi Al-Qur’an dan Hadist dengan perasaan damai dan rendahkan ego dalam diri. Dunia ini sudah terlalu banyak dengan doktrinasi, konspirasi, penipuan berita media, hasutan, dan lain-lain. Senjata terbaik yang bisa digunakan ada di dalam diri kita, yaitu otak. We have given by the God a brain to think and to decide. Kita bisa terbuka untuk belajar apa pun, tapi kita perlu juga mengasah akal dan logika kita, supaya terhindar dari ajaran-ajaran orang yang menghasut pada hal yang tidak baik. From the history in the past, violence in the name of religion didn’t generate a better world.
Tulisan ini hanyalah sekedar opini dan unek-unek dari saya yang sebenanrnya sudah lama terpendam, akhirnya baru sekarang aja ditulis. Apalah saya ini yang cuma seonggok remah-remah gorengan. Hehehe. Ini hanya bentuk kecil suara saya tentang apa yang saya lihat tentang dunia. There are a lot of things to see and feel from this huge God’s creation.

My question now is:
Can we build a religious world society without violence? Can we?

PS. After you read this, call me ‘Kafir’ or ‘Liberal’ or everything you like if you think I am. But, I believe, only Allah SWT , my God can judge me. Yes, I’m not a good muslim and willing to go to a heaven, but at least I try to be it by using my brain and logic. 🙂