6 THINGS I LEARNED FROM THE GERMANS

Sebelum saya menginjakkan kaki pertama di Jerman pada tahun 2010, saya tidak begitu familiar dengan negeri Panser, Jerman. Lebih tepatnya tidak begitu interest (Dulu, saya menaruh UK dan Jepang as my favourite countries).  HIngga saya berlabuh di kota kecil bernama Leverkusen tahun 2010 karena memenangkan kompetisi duta muda lingkungan dari Bayer, akhirnya saya ‘melihat’ negara ini. Seminggu berada di Jerman belum langsung mengubah cara pandang saya terhadap Jerman secara total. Setelah itu, lagi-lagi saya bertemu kembali dengan negara ini melalui beasiswa Erasmus. Dan selama satu tahun saya tinggal dan belajar di sebuah kota kecil bernama Goettingen, Jerman. Satu tahun itulah I changed my mind. Meski negara ini telah membuat saya kejang-kejang saat belajar bahasa Jermanb, but then I really adore this country!

IMG_1566

Saking adore-nya sama Jerman,saya ampe bikin Ecofunopoly bahasa Jerman dan main bareng anak-anak disana! lol

Sewaktu kecil, kita (more…)

Read More

Ramadhan ‘Musim Panas’ di Jerman : Puasa 19 Jam

Goettingen_Marktplatz_Oct06

 

Sumber : Wikipedia

Langit semakin gelap menandakan waktu sudah berjalan menuju malam. Udara panas kering mengenai seluruh kulit tubuh. Suasana sudut kota Göttingen yang saya lewati dengan sepeda tua begitu tenang dan sepi. Waktu sudah menunjukkan pukul 9.30 sore. Musim panas di Eropa telah memperpanjang waktu terang (daylight), sehingga pukul 9.30 masih dikatakan sore. Langit akan resmi gelap gulita pada pukul 9.45. Saya mengayuh cepat-cepat sepeda tua berwarna ungu menuju supermarket terdekat karena jam 10 malam akan tutup.

Besok adalah hari yang spesial untuk saya, karena untuk kali pertama saya akan menjalankan ibadah puasa di negeri orang. Bulan Ramadhan kali ini cukup menantang bagi saya pribadi, karena bulan Ramadhan ini dijalankan pada musim panas di benua biru. Menurut informasi yang saya baca dari koran lokal setempat, ibadah puasa di Jerman akan dilakukan selama 19 jam dalam satu hari. Reaksi pertama saya adalah lama sekali!

Sewaktu saya kecil, saya pernah menonton tayangan berita dimana sang reporter sedang melakukan wawancara jarak jauh dengan orang Indonesia yang sedang studi di Belgia yang bertemakan Ramadhan di Eropa. Orang Indonesia tersebut bercerita bahwa dia melaksanakan sahur pada pukul 6 pagi dan berbuka puasa pukul 15.30 sore.

“Wow, enak sekali!” pikir saya yang masih bocah saat itu, kalau masih bocah bawaannya selalu ingin cepat berbuka setiap kali berpuasa di bulan Ramadhan, hehe. Karena singkatnya waktu berpuasa, saya bercita-cita suatu saat nanti saya ingin merasakan bulan Ramadhan di negara empat musim. Ternyata saya tidak sadar bahwa waktu Ramadhan itu terus berubah, sehingga waktu Ramadhan tidak selalu terjadi di musim dingin saja, tetapi mungkin juga terjadi di musim panas.

Cita-cita saya akhirnya terkabul (more…)

Read More