6 THINGS I LEARNED FROM THE GERMANS

Sebelum saya menginjakkan kaki pertama di Jerman pada tahun 2010, saya tidak begitu familiar dengan negeri Panser, Jerman. Lebih tepatnya tidak begitu interest (Dulu, saya menaruh UK dan Jepang as my favourite countries).  HIngga saya berlabuh di kota kecil bernama Leverkusen tahun 2010 karena memenangkan kompetisi duta muda lingkungan dari Bayer, akhirnya saya ‘melihat’ negara ini. Seminggu berada di Jerman belum langsung mengubah cara pandang saya terhadap Jerman secara total. Setelah itu, lagi-lagi saya bertemu kembali dengan negara ini melalui beasiswa Erasmus. Dan selama satu tahun saya tinggal dan belajar di sebuah kota kecil bernama Goettingen, Jerman. Satu tahun itulah I changed my mind. Meski negara ini telah membuat saya kejang-kejang saat belajar bahasa Jermanb, but then I really adore this country!

IMG_1566

Saking adore-nya sama Jerman,saya ampe bikin Ecofunopoly bahasa Jerman dan main bareng anak-anak disana! lol

Sewaktu kecil, kita memilih negara kesukaan karena sesuatu atau objek yang kita sukai berada di negara itu, semisal : tokoh kartun, artis atau makanan yang menjadi kesukaan kita. Namun saya merasa semakin dewasa, I choose my favourite country based on the culture and the way of thinking from the people. Hal inilah yang membuat saya takjub karena dua hal itulah yang membentuk satu negara menjadi maju dan berkembang. So, I choose Germany!

Saya ingin berbagi cerita tentang bagaimana saya belajar dari Jerman, tepatnya belajar dari orang Jerman. Bagaimana keseharian mereka, bagaimana cara mereka berkomunikasi, dan bagaimana cara mereka bekerja. Beberapa tahun terakhir saya seringkali berhadapan dengan orang Jerman, perlahan saya bisa memahami sedikit-sedikit tentang mereka.(Note: tidak semua poin yang saya tulis itu mewakili semua orang Jerman ya, this is based on my personal experiences, so please correct me if I’m wrong). Menurut saya, poin-poin ini yang bisa menjadi pelajaran positif buat saya pribadi dan para pembaca. Nah, kayak gimana sih? Yuk simak “Learn from the Germans”!

  1. Straightforward

 Seperti yang sudah pernah saya ceritakan di buku Student Traveler 1, orang Jerman dikenal sebagai orang yang jujur, terus terang dan gak pakai basa basi alias straightforward. Dalam percakapan, karakter seperti ini di mata orang Indonesia terkesan kaku dan tidak ramah. Padahal, satu sisi lain yang saya kagumi dari karakter ini adalah bagaimana mereka membuat percakapan se-efisien mungkin. Tidak jarang kalau mereka sering memotong ucapan saya saat berbicara (secara gue bawel banget gituu.. hehe) dan mengarahkan ke inti pembicaraan. Mereka pun sangat jujur dalam mengemukan pendapat, if they say good, it means good, if they say awful, it means awful. Beda dengan kita, if we say good, it could be good or so-so, or very awful. Hehehe. Maka dari itu, saya senang kalau mendapat feedback dari orang Jerman terhadap karya saya, bahkan sekalipun kritik.  Awalnya saya kaget, kok mereka gitu banget ya, tapi memang begitu adanya.

DSCF0198

  1. “Perhatian”

Banyak orang bilang, kalau orang-orang di Eropa khususnya Jerman itu kaku, dingin, dan tidak ramah, seolah-olah ini diartikan bahwa mereka tidak perhatian dan tidak penolong. Ternyata anggapan itu kurang tepat. Pandangan saya berubah ketika pertama kali saya tiba di Frankfurt, saya membopong koper super besar lalu saya harus menuruni anak tangga bersama koper besar itu. Ketika saya sedang berpikir bagaimana caranya menggotong koper besar dan berat itu sambil turun tangga. Tiba-tiba ada seorang bule yang tanpa  berkata apa-apa bantuan langsung mengangkat koper saya ke bawah, lalu melanjutkan perjalanan. Alhamdulilah, ada yang nolong. Orang Jerman juga tidak segan untuk menawarkan bantuan untuk mengambil foto apabila kita sedang susah payah foto selfie (Kebanyakan bule melihat orang yang ber-selfie itu kesusahan untuk foto, padahal emang pengen selfie hehehe). Baru saja kemarin saya ikut international conference, panitianya ada dua orang Jerman, ketika saya sedang rempong menata booth. Moritz sesekali nanya, “Annisa, do you need help?”. Perhatian ya? J

IMG_1706

Selain Perhatian, Orang Jerman itu ganteng-ganteng looo. Ihikk~ Photo with Floot Band

  1. Produktif saat Jam Kerja

Naaaah, ini nih poin yang menurut saya cukup keren. Orang Jerman terkenal dengan efisiensi dan efektivitas-nya. Saya pernah baca artikel tentang Why german work fewer hours but produce more (silahkan google ya! Menarik lo) yang menceritakan tentang bagaimana fokus dan efisiennya mereka saat waktunya kerja. Engga banyak gossip, meeting singkat dan padat, no private talk, dan masih banyak lagi. Satu hal lagi yang bikin saya bener-bener takjub itu mereka ga main sosmed ketika waktunya kerja! Wow banget ga sih? Saya heran juga, mereka pernah gatel gak ya pengen buka sosmed di saat jam kerja? Kalo di Indonesia kan tiada hari tanpa sosmed. Hehe. Memang sih Jerman kalah perang dunia II, tapi kalau melihat dari cara mereka bekerja, beuh, kalahnya mereka di perang itu mungkin karena faktor jahatnya si Hitler. Film-film perang buatan Jerman banyak menceritakan bagaimana tangguhnya tentara Jerman saat berperang, seperti Stalingrad dan Das Boot.

 IMG_1554

  1. Well-organized

Saya punya teman orang Jerman namanya Thea Hamm. Saya sempat jadi guru les bahasa Indonesia-nya Thea waktu dia menjadi research student di IPB. Setiap kali les, dia selalu menggerutu tentang bagaimana jadwal disini tidak jelas dan sering berubah-ubah. Dia mengakui kalau dia orangnya well-organized (begitu juga orang Jerman lainnya sih, hehe), jadi kalau ada perubahan sedikit, dia langsung kesel banget. Misalnya pagi dia bikin janji dengan Profesornya, lalu tiba-tiba Profesornya batalin, jadi dia bikin agenda baru, eh tiba-tiba dia dikabari kalau Profesornya minta ketemu! Hahaha. Denger curhatan Thea, saya paham bagaimana hidup mahasiswa ditentukan dari jadwal dosennya. Kalau udah nunggu dosen berjam-jam, terus tiba-tiba ga bisa ditemui, hmm saya sih udah biasa. #TapiTetepKZLjugaSih. Yah, apalah arti mahasiswa.

IMG_20150929_193106

Ini Thea Hamm waktu saya ajakin pijet lulur di salong Rengganis. Hihihi

  1. On Time

Moritz Goeldner, kolega saya yang saya temui di IFRC Conference, mulai gelisah ketika jam 9.30 pagi acara belum dimulai juga (di jadwal tertulis acara dimulai jam 9). Sebagai orang Indonesia sih saya engga kaget, hehehe (saya sendiri juga masih sering ngaret). Acaranya pun dimulai jam 9.40 dan dia hanya bisa geleng-geleng. Hahaha. Sudah rahasia umum kalau orang Jerman juga terkenal dengan kedisiplinan-nya. Mostly mereka datang ke satu event on time. Contoh lain lagi, saat Moritz dan Daniel sedang menjadi time keeper sesi panel. Setiap pembicara mendapat waktu 8 menit untuk presentasi. Namanya speaker Indonesia pasti kan suka ada ngaret-ngaretnya ya, mereka makin meninggikan kertas bertuliskan “0 minutes” alias waktu habis. Hahaha. Tapi anehnya, kereta cepat ICE milik Jerman seringkali terlambat datang loh.

  1. More interest on your brain, less on your status

Inilah yang bikin para kaum intelektual atau kaum terdidik di Indonesia jadi galau saat di ujung masa studi di Jerman. Tiga kali saya menginjakkan kaki ke Jerman, semuanya bukan karena status sosial saya apa atau saya anaknya siapa, melainkan dari pemikiran dan usaha saya. Selama setahun saya tinggal di Jerman, orang Jerman tidak melihat saya anak siapa, atau merk coat apa yang saya pakai atau seberapa besar rumah tinggal saya. Orang Jerman sangat menghargai orang yang memiliki ide brilian dan inovasi. Mereka menyukai orang-orang yang pintar. So, If you want to survive in Germany, you have to be smart. I can’t say that I’m smart, but I still have my own idealism, dan saya tumpahkan ke dalam sebuah karya.

DSCF0207

Photo machen mit Moritz Goldner von Hamburg TU

Pertama kalinya Ecofunopoly memenangkan kompetisi internasional itu dari perusahaan Jerman, Bayer. Lalu, saya menerima award dari kampus berkat membawa riset tentang studi edukasi lingkungan dengan Ecofunopoly, lalu saya mendapat email dari Professor di Jerman untuk bergabung ke dalam grup peneliti dan menuangkan ide saya sebagai pengembang permainan sains, dan baru-baru ini saya dihubungi oleh peneliti dari Hamburg yang sangat penasaran dengan Ecofunopoly. I feel so welcomed. Apresiasi mereka begitu besar terhadap ide saya. Mereka paham betul nilai apa yang ingin saya angkat dari ide saya, meski tentu tidak lepas dari kritikan. Cara pikir mereka cukup mendalam dan jauh ke depan. Itu kenapa kadang-kadang karya saya tidak begitu dilirik di Indonesia, tapi sangat disukai oleh orang asing. Hihihi.  

DSCF0199

Hmm, ini mungkin yang menjadi alasan kenapa saya masih ‘nempel’ dengan Jerman. Selain menjadi bagian alumni Jerman, saya merasa masih connected walaupun saya sudah tidak di Jerman lagi. Dan, mungkin poin terakhir ini yang membuat benak saya berkata, “Oh wajar saja banyak orang Indonesia yang pintar dan cerdas lebih memilih berkarya di luar, dan engga mau pulang ke tanah air!”.

Nah, buat yang pernah kerja, tinggal, sekolah bareng orang Jerman, ada yang mau ngasih poin tambahan? Atau mau sekedar share pengalaman serunya berurusan dengan orang Jerman? Share di kolom komen ya!

Baca cerita seru saya Traveling gratis ke berbagai negara di buku Student Traveler ya! Buku tersedia di Gramedia, Gunung Agung dan toko buku terdekat. Pesan online bisa ke www.penebar-swadaya.net.

 

  • Fitri Ananda

    Orang Jerman itu resikan alias bersih-bersih, rumah rapi contohnya. Menurut saya sih..