RAMADHAN PENUH ‘KEMENANGAN’ DI BANGKOK

“Tidak masuk akal buat saya bila sebuah capaian manusia di dunia ini terjadi tanpa ada campur tangan Tuhan, saya melihat buktinya di bulan  Ramadhan tahun lalu”

Tahun lalu, waktu masih sibuk-sibuknya mengurus project Ecofun Go ASEAN, saya dan tim sedang menghadapi kendala untuk mengadakan acara final dari project kami. Kami butuh dana yang cukup besar, dan posisi dana yang kami punya belum mencukupi. Kemudian, saya melihat ada informasi kompetisi UN Volunteer Impact ASEAN Challenge. Disitu saya baca mereka sedang mencari kelompok anak muda yang memiliki ide, project atau bisnis yang berbasis SDGs, nantinya akan dipilih tiga pemenang untuk mendapatkan hadiah berupa dana hibah dan mentorship dari mitra UN. Tidak pikir panjang, saya langsung daftarkan Ecofun ke dalam kompetisi tersebut. Selang beberapa minggu, saya mendapatkan email bahwa tim Ecofun berhasil lolos sebagai finalis, dan proses berikutnya adalah mengikuti workshop dan dilanjut ke sesi penjurian di BANGKOK.

What? Ke Bangkok? Entah saya gak ngeh baca info atau memang tidak diinfokan kalau finalis yang lolos akan diundang ke Bangkok. Pas saya cek tanggalnya, wah itu hanya beberapa hari sebelum Lebaran, tapi untungnya selesai dua hari sebelum lebaran. Mungkin ini yang namanya Berkah Ramadhan. Lagipula, rejeki itu harus dijemput bukan?

Saya menginfokan Metha dan Wulan, mereka adalah dua volunteer aktif Ecofun yang saya daftarkan ke dalam tim Ecofun, alhamdulilah mereka juga excited buat berangkat, plus saya baru tau kalau ini menjadi trip pertama mereka keluar negeri. Okay, this must be very excited for them.

Perjalanan ke negeri Gajah Putih ini akan menjadi kunjungan keempat saya dan perjalanan kedua saya di bulan Ramadhan (ada yang tau negara pertama nya?). Perjalanan ini membuat hati saya campur aduk: nervous (karena akan kompetisi), excited (finally Ecofun bisa connect lagi sama organisasi UN), happy (karena mau Thai Massage ke tempat langganan, hehehe), dan tertantang (akan diadakan selama bulan puasa).

Jiwa, raga, pikiran saya akan terkuras total untuk kompetisi, while at the same time saya tidak makan dan minum seharian. Buat saya yang belum soleh-soleh banget, jujur aja hal seperti ini menjadi tantangan buat saya, tapi bukan berarti akan jadi excuse buat saya tidak produktif hanya karena berpuasa. Udah gitu pas baca schedulenya, wah padat banget. Sempet kepikiran untuk tidak puasa (karena musafir diperbolehkan), tapi kok sayang kalau gak puasa ya? Mengingat perjalanan ke Bangkok ini juga perlu ikhtiar supaya dapat hasil yang terbaik. Tapi apa saya kuat ya menghadapi panas teriknya kota Bangkok tanpa makan dan minum?

“Okay, tenang dulu”, pikir saya dalam hati.

Memang energi dan kemampuan saya terbatas, tapi energi dan kemampuan Allah sangat tidak terbatas. “InshaAllah pasti dibantu sama Allah” sahut saya dalam hati. Akhirnya saya memutuskan untuk berpuasa.

ON-BOARD GA 861

Pagi-pagi buta saya, Meta, dan Wulan sampai di terminal 3 (saat itu terminal ini hanya digunakan untuk maskapai Garuda saja). Tak disangka, saya dapet bonus ketemu ibu dan anak imut yang viral di sosmed: Kirana dan Ibook @retnohening. Sepertiya mereka akan mudik ke Riau. Dengan pedenya saya cegat untuk minta foto, si Kirana lagi tidur di troli, hihihi. Lucunya.. Untung Ibook ngebolehin foto bareng. Tapi Kirana dan Ibooknya ini very inspiring! (Instagram gue langsung rame pas ada foto Kirana, hahaha)

Jam 10 kami take-off menuju Suvarnabhumi Airport. Mindset saya sama Garuda Indonesia ini entah kenapa aman dan nyaman, tapi kali ini engga. Beberapa kali ada turbulens, bahkan ada turbulens parah banget, pesawat serasa kayak terjun bebas selama 3 detik. Dan itu serem banget Ya Allah.

Pramugari tetap menyuguhkan makanan dan minuman di pesawat, saya minta makanan saya dibungkus (buat dimakan pas buka). 3,5 jam kemudian, pesawat GA 861 mendarat dengan selamat di Bangkok.

NGABUBURIT DI KHAO SAN ROAD

Tiba di Bangkok, kami langsung menuju Pullman Hotel Bangkok untuk check-in dan taruh barang di kamar. Karena hari ini masih free time, saya ajak Wulan sama Meta untuk ngabuburit di Khao San Road, sebuah jalan yang udah tidak asing lagi di telinga turis-turis mainstream. Sepertinya ini ide yang bagus untuk mengenalkan Thailand ke mereka mulai dari Khao San.

Khao San Road adalah sebuah nama jalan yang isinya berderet café, club, hotel, toko, tempat pijat, dan masih banyak lagi. Disana juga ada banyak street food yang enak dan juga aneh!

Setiap kali saya ke Bangkok, saya pasti mampir ke Khao San Road. Kalau bule-bule nyari pub buat party-party, kalau saya nyari tempat pijet! Khao San road ini surganya tempat pijet, di Khao San ini ada gang-gang sempit yang isinya tempat pijat. Di gang sempit itu, saya nemu satu tempat pijat paling enak, namanya Shewa Spa. Setiap kali ke Bangkok, saya pasti ambil Thai Massage disitu sekitar 1,5 jam. Thai Massage ini agak beda dari massage biasa, pijatannya agak sadis dikit (tukang pijat nya pake kaki juga buat mijat badan kita), tapi pas beres, badan enak banget!

Shewa Spa

Hari sudah petang, tapi belum masuk waktu berbuka. Waktu berbuka disini jam 7 malam. Sambil nunggu waktu buka, saya book Thai Massage 90 menit.  Uuuuuu~ enaknyoooo~

Waktu selesai pijat pas banget dengan waktu berbuka. Alhamdulilah. Saya bawa sekotak siomay goreng enak yang saya bawa dari Indo. Kami bertiga membatalkan puasa di tempat pijat.

TARAWIH DI MASJID CHAKRABONGSE

Waktu pertama kali wisata ke Bangkok, saya dan keluarga nginap di salah satu guest house di Khao San Road, dan menariknya kami menemukan masjid yang terletak hanya beberapa blok dari Khao San Road. Nama Masjidnya Chakrabongse. Mesjid nya berada di gang sempit, namun hanya berjarak beberapa meter saja dari jalan utama.  Dulu, saya sempat solat zuhur dan ashar di mesjidnya, nah kali ini saya mau ngerasain kayak gimana sih solat tarawih disitu.Kami bertiga jalan kaki menuju masjid. Lorong gang menuju masjid itu kita bisa melihat deretan warung-warung halal, namun malam itu sudah tutup, mungkin karena orang-orangnya juga mau pada ibadah ya.

Tepat masuk ke dalam area masjid, Azan Isya pun berkumandang.

“Allahuakbar.. Allahuakbar…”

Seketika, atmosfer Khao San Road yang gemerlap dan penuh keduniawian hilang. Nuansa relijius langsung terasa dengan melihat beberapa Thai muslim memasuki masjid, mengambil wudhu, dan mulai mengambil posisi shaf. Sungguh menarik buat saya melihat kampung muslim ini justru terletak sangat dekat dengan Khao San Road yang sangat tidak islami. Saya bertanya-tanya, apa mereka pernah bentrok ya?

Misal: Kelompok muslim merasa terganggu dengan hadirnya bule-bule yang membawa botol bir dan joget joget setengah sadar, atau justru sebaliknya warga Thai non-muslim merasa terganggu dengan suara azan, apa pernah ya?

Melihat Thai Muslim disini adem-adem saja, sepertinya mereka sudah tinggal lama disini dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Saya senang sekali melihat kaum muslim di belahan dunia lain yang menunjukkan sikap ramah dan tidak memaksakan kehendak orang lain. #IslamRamahYes

Masuk ke dalam masjid, saya mengambil shaf solat. Diawali dengan solat isya dahulu, lalu disambung ke salat tarawih 8 rakaat. Tidak ada perbedaan yang signifikan dari praktik solat di masjid ini dengan masjid dekat rumah saya di Ciawi. Hanya disitu saya melihat ibu-ibu tua yang seperti sudah tidak kuat ruku, sujud, berdiri, mereka solat dalam posisi duduk di kursi.

Selesai salat tarawih, kami disapa oleh dua perempuan yang sedang duduk di belakang jamaah solat.

Awalnya saya buka dengan bahasa Inggris, tapi mereka gak ngerti bahasa Inggris.

“Kalian dari mana?” Tanya satu perempuan dengan aksen Melayu. Thank God they can speak Malay.

Akhirnya kami bercakap-cakap dengan bahasa Melayu. Mereka bercerita kalau sebagian besar Thai Muslim tinggal di Hat Yai, daerah yang berada di perbatasan Thailand-Malaysia, bagian Selatan. Cara berpakaian mereka juga mirip dengan orang Indonesia, blus dan celana warna warni, plus jilbab di kepalanya.

“Kamu sudah makan?” Tanya si perempuan itu dengan ramah.

Kami jawab sudah makan. Tiba-tiba mereka memberikan tiga bungkus sup sayur ayam ke kami.

“Makanlah ini…” mereka memberi dengan Cuma-Cuma.

Satu nama yang saya ingat dari mereka, Aisyiah. Dialah yang memberikan kami makanan. MasyaAllah. Kami mengucapkan terima kasih.

Setiap kali saya traveling keluar negeri, dan ketemu saudara muslim, mereka memperlakukan kita sangat ramah seperti saudara. Kadang saya merasa sedih sekali di Indonesia, sesama muslim masih saja ada yang ribut hanya karena perbedaan pandangan atau tata cara beribadah.Belum lagi yang mudah diprovokasi dengan berita yang bawa-bawa agama, langsung bereaksi negative tanpa mengecek apa berita itu benar atau tidak. Semoga umat Islam bisa bersatu dan saling menghargai perbedaan.

“Bertemu saudara seiman yang tidak sebangsa lebih membuka mata saya bahwa Islam itu hakikatnya agama yang Ramah”

MUSOLA KEREN DI GEDUNG C-ASEAN

Masuk pada agenda utama, seluruh finalis lomba memulai hari dengan sesi workshop yang diadakan di gedung C-ASEAN Cyber World Tower. Gedungnya modern dan punya view yang bagus. Ruang workshopnya asik banget lagi, kita gak perlu duduk pake kursi formal, tapi pake bean bag yang nyaman. Acaranya padat dan interaktif, sampe gak kerasa masuk waktu break. Beberapa finalis Indonesia yang berpuasa termasuk saya tidak bergabung makan siang. Saya langsung cari tempat solat.

Workshop

Saya kaget kalau ternyata disini ada Prayer Room alias Musola. Saya kebayang panitia mungkin akan nyari ruang kosong yang gak kepake, supaya finalis yang muslim bisa solat disitu. Tapi ternyata gedung ini dilengkapi Musola, wow!

Musola-nya sendiri pake simbol modern gitu, terus musolanya bersih banget, dilengkapi sajadah dan arah kilbat. MasyaAllah.. beneran takjub banget, lebih takjub lagi saya dengar dari peserta asli Thailand, kalau gedung ini yang punya perusahaan bir di Thailand. (Hmm, kalau begini hukumnya bagaimana ya? Hehehe).

Simbol Prayer Room

Selama di Bangkok, semua waktu saya terkuras total untuk mengikuti program dan menyiapkan kompetisi. Meski kami menginap di hotel bintang lima, saya merasa hotel hanya jadi tempat buat tidur beberapa jam aja. Hotelnya ngasi breakfast, tapi engga ngasih sahur. Setelah nego, jalan tengahnya kami dapat makanan sahur, tapi bukan hot meals, hanya sekotak isi roti, selai, yoghurt, dan jus buah.  Wes, disyukuri saja. Untungnya kita juga bawa lauk kering dari Indo plus kita boleh ngebungkus makan siang dari program.

PITCHING DAY

Tibalah di Pitching Day. Untuk penjurian akhir, seluruh finalis diharuskan melakukan pitch selama 5 menit saja. Setiap tim wajib menyiapkan pitch deck atau semacam slide powerpoint berisi usulan project kita. Pitching akan dilakukan setelah break makan siang, sebelumnya kami mendapatkan nomor giliran pitching. Alhamdulilah, I got number 7! Nomor yang cukup aman buat presentasi.

Di hari pitching itu, saya tidur jam 1 pagi, bangun jam 3an untuk sahur, setelah itu gak tidur lagi karena pitch deck saya belum selesai. Bahkan dua jam sebelum waktu break, pitching saya masih belum final. OMG! Untungnya, UN menyediakan mentor bagi kami selama program,. Oh I need mentor so bad!

Saya dipertemukan oleh Rior Santos, staf UN dari Filipina yang akan membantu tim kami menyelesaikan pitch deck. Rior itu ibarat Malaikat yang datang di siang bolong itu. He is soooo helpful. Pertama dia minta kami menjelaskan the whole idea, lalu dia Tanya-tanya perihal pertanyaan sensitive yang mungkin saja ditanya oleh juri. Beruntung banget mentor saya ini orang Filipina, because his English and Communication skill are so damn good! Dia bantu mengoreksi sedikit demi sedikit pitch deck saya. Untungnya saya sedang puasa, jadi saya bisa skip makan siang dan fokus untuk menyelesaikan pitch deck (Terharunya lagi Rior sampai telat makan siang karena ikut bantuin kita). Thank you Rior!

Jam 3 sore, I made my first pitching in front of seven judges. Jurinya berasal dari ILO, FAO, ASEAN Foundation, UNV, dan masih banyak lagi. Nervous? Jangan ditanya lagi! But I’m so relieved, semua kerja keras saya dam tim sudah terbayar dengan lima menit presentasi tadi. Hasilnya? Tugas saya hanya sampai disini, sisanya let God do the rest.

Setelah picthing, acaranya dilanjutkan ke excursion alias jalan-jalan!

 

Tim Ecofun : Wulan, Meta, and Me

LIVE ANNOUCEMENT DARI TOILET

Pengumuman dilakukan di hari terakhir program (H-2 sebelum lebaran).Namun sayangnya saya tidak bisa ikut program sampai selesai karena saya harus mudik ke Riau dan tiket sudah keburu dibeli. Alhasil saya skip waktu pengumuman, sehari sebelum pengumuman, saya sudah briefing Wulan dan Meta untuk prepare for the best and worst. Bukan GE-ER, but I called it optimist. Menang gak menang kita harus siap. Pengumuman dilakukan jam 10 pagi, sedangkan pesawat saya take off jam 7 pagi dan mendarat jam 10 pagi di Soetta. Kemungkinan saat pengumuman, saya masih berada di dalam pesawat. Pokoknya sesaat setelah landing, saya harus online (Saya titip hari pengumuman dibuat Live Instagram, jadi saya bisa nonton). Tiba di lobi kedatangan bandara Soetta, tiba-tiba saya kebelet, oke ke toilet dulu. Saking gak mau melewatkan  momen, saya buka Instagram di dalam toilet.Oh ternyata baru akan pengumuman! Wah pas banget waktunya, meski saya duduk di toilet. Takut ada orang yang mau masuk toilet, akhirnya saya keluar dan berdiri di depan washtafel, mantengin Insta LIVE. Duh deg-degan, kalau kami gak menang, saya harus putar otak lagi buat cari dana untuk final program Ecofun.

Sinyalnya agak kurang oke, jadi gambarnya rada burem dan suaranya juga ilang-muncul. Lalu, saya dengar kalau tim Tune Map (yang juga dari Indonesia) disebut dan maju ke depan, wah selamat dapet juara 3! Setelah mereka turun dari panggung, saya dengar sayup sayup suara MC.. “…ECOFUN!”

Disitu saya denger teriakan rame dan tepukan tangan dari hall acara. Wah Ecofun juara dua! Alhamdulilah ya Allah, seneng banget. Saya lihat Meta dan Wulan maju ke panggung, berfoto dengan papan yang gak kebaca sama sekali, lalu Wulan memberikan speech kemenangan (yang sudah saya latih sejak semalam, hehe). Siapa yang juara satu ya? Pikir saya.

Lalu saya kirim comment di InstaLIVE, “juara satu nya siapa?”

Lalu dibalas oleh si Fulan (gak tau siapa nih) yang pegang hp untuk LIVE, “Loh, Ecofun yang juara satu! Ini udahan pengumuman nya!”

EH?

Perasaan tadi kan pengumumannya mulai dari Tune Map kan, terus Ecofun?

Ternyata saya salah, sebelum saya join LIVE Instagram, ternyata sudah diumumkan juara ketiga, yaitu Nino Nina dari Filipina.

Oh.. My.. God.. (ala ala Valley Girl)

We got 1st Winner! Alhamdulilah… Mau sujud syukur di toilet, tapi gak bisa. Akhirnya saya keluar cari tempat duduk, lalu senyum senyum sendiri. Biar gak keliatan kayak orang gila, saya senyum-senyum sambil ngeliatin HP (biar keliatan kayak lagi liat gambar lucu, padahal mah engga).

Allah SWT memberikan hadiah lebaran yang terbaik dengan memberikan kami gelar juara 1 UN Volunteer Impact ASEAN Challenge. Gak henti-hentinya saya mengucapkan syukur. Ketika saya ragu apa saya akan kuat dan mampu menghadapi semua ini di bulan Ramadhan, ternyata semua terpatahkan. Terima kasih ya Allah untuk Ramadhan kali ini, kami memperoleh “Kemenangan” yang tidak disangka-sangka.

Hikmah dari perjalanan ke Bangkok di bulan Ramadhan tahun lalu adalah manusia memang punya keterbatasan, tapi itu bukan alasan buat tidak berusaha semaksimal mungkin. Allah selalu mendengar semua niat kita, semua keluh kesah kita, dan Dia-lah yang tahu apa yang paling baik buat kita.  Alhamdulilah, alhamdulilah.

Saking saya happy dengar kabar ini, pas tiba di conveyor belt. Saya lihat koper biru terang saya berdiri di pinggir conveyor belt, ternyata itu koper terakhir, dan karena gak ada yang ambil, kopernya dipinggirin. Hahaha.

Simak Press release kompetisinya disini.