10 Alasan Mengapa Solo Traveling itu Perlu untuk seorang Wanita (2 – End)

Baca alasan 1-5 disini!

  1. Berani mengambil keputusan dan siap dengan konsekuensinya

Seringkali seorang wanita dilanda keraguan untuk membuat keputusan dalam hidup (including me!). Tidak jarang keputusan diambil karena orang lain, sometimes we feel uncertain on making a decision, either big or small decison. By doing solo traveling, I feel braver than before. Solo traveling akan membawa diri kita sendirian tanpa ditemani siapa-siapa, ketika saya menghadapi sesuatu yang harus diputuskan cepat, saya tidak akan mungkin menelepon ke rumah, menanyakan jalan mana yang harus saya tempuh. Alam sekitar akan mendorong kita untuk berani membuat keputusan. Bingung memilih jalan di kota yang orang lokalnya tidak berbahasa Inggris? Mau nelpon bikin pulsa mahal, nanya orang bikin tambah bingung.. akhirnya we should decide on our own. Meski ternyata jalan yang kita pilih malah bikin tersesat, but at least that’s our decision and we took the consequences.

“my life, my travel, my decision!”

1545130_10202241645356330_919139615_n

  1. Menyadari bahwa semua bisa dimulai kembali dari nol

Di tengah-tengah menapaki cita-cita atau karir, kita tentu menghadapi ketidakpastian dan cenderung membuat diri kita ragu untuk keluar dari jalan yang sudah ‘terlanjur’ kita tempuh.

Hal ini saya pernah saya sebelum saya pergi menempuh studi selama satu tahun di Eropa, bahkan sepulang dari Eropa.

If this doesn’t work out, can I start over?

It’s definitely Yes.

By having a solo travel, you may understand that you can start over, for everything in life.

Pergi belajar di negeri orang bisa diartikan memulai kembali kehidupan di tempat yang baru. Tinggal di tempat baru bukanlah hal yang mudah kita terima, tidak punya kenalan, tidak ada kolega, semua harus dibangun kembali. Awalnya, mungkin akan terbesit di benak kita, “apa saya bisa bertahan disini?” “apa saya bisa memulai semuanya disini?” “apa saya akan bahagia disini?”

Ternyata semuanya bisa. Sangat bisa. Justru itu memperlebar lingkungan ‘keluarga’ kita.

Ternyata semua bisa dimulai dari nol. Sekalipun bermula dari kegagalan, semua bisa dikembalikan lagi menjadi nol.

b315968e7931c9900a5503cb46174986

www.pinterest.com

  1. Menertawakan diri sendiri, tanpa orang lain harus tahu

Terkadang kita lupa untuk bersenang-senang dengan diri sendiri, salah satunya menertawai diri sendiri, entah atas kebodohan kecil kita, kesalahan kita, atau perilaku aneh kita. Sewaktu saya solo traveling ke Warsawa, saya menemukan sebuah jalur pejalan kaki bawah tanah yang menghubungkan ke 8 jalur pejalan kaki di kota Warsawa. Menurut orang lokal, jalur ini sangat memusingkan. Karena di bagian perempatan bawah tanah, tidak mudah menemukan dimana jalur yang benar-benar akan kita tuju. Dan ternyata benar! Pusingnya luar biasa, bulak balik saya naik turun mencari arah jalan, masih belum nemu juga, mencoba tanya ke penjaga toko bawah tanah, mereka hanya menjawah dengan telapak tangan (No English!),  I feel like I’m very stupid going back and forth, suddenly I laughed at myself, saya pun menertawai diri sendiri atas kejadian ini, there was a moment in my solo traveling when I had no idea what should I do, in the end I just laughed like crazy, and no one knows, hehe. dan 30 menit lebih akhirnya saya menemukan jalur jalan yang benar.

Menurut saya, tertawa pada diri sendiri tanpa orang lain harus tahu adalah salah satu seni menikmati hidup.

10312420_10202968617770186_5602561474122015427_n

Museum of Games, Switzerland

  1. Kamu akan bertemu ‘the one

Kita selalu tidak pernah tahu kapan kita akan bertemu jodoh kita, dimana kita akan bertemu, dan siapa jodoh kita. By traveling, I met my husband, and he’s ‘the one’.

Saya bertemu suami saya saat menempuh studi di Jerman, dan suami saya saat itu sedang menempuh studi di kampus yang sama. Bertemu jodoh di saat sedang traveling adalah anugerah yang terindah yang pernah kumiliki #eaaa #kibaskerudung.

Tidak sedikit orang yang saya kenal telah menemukan jodohnya saat sedang traveling atau sekolah di luar negeri.

I was wondering if I didn’t go to Germany alone for a study, how would my life be. :p

ILW_9941

Photo by Arif Relano Oba at Mensa Goettingen

  1. Last but not least, kamu menyadari bahwa life is not about the destination, but the journey.

Bukan soal tujuan yang kita tuju, tapi perjalanan mencapai kesana.

Tujuan tidak seberapa dari proses mencapai tujuan. Momen paling excited dari traveling adalah saat akan berangkat hingga detik ketika tiba di tujuan, setelah itu semua akan kembali biasa saja. Setuju? J From solo traveling, I learn how to appreciate the process, the journey, the adventure.

Misalkan kamu dapat pintu ajaib, dan bisa memilih traveling kemanapun yang kamu mau. Apa kamu merasa cukup puas pakai pintu ajaib yang langsung membawamu kesana dibandingkan kamu harus terbang dengan pesawat selama 13 jam, lalu tersesat di jalan, ditambah lagi salah pesan makanan, dan kemudian dibantu orang asing, hingga kamu bisa mencapai tujuan yang kamu inginkan? Jalan mana yang akan kamu tempuh? 🙂

10290627_10202968139358226_411353340096667870_n

Midnight train from Goettingen to Switzerland, just stopped at Frankfurt Hbf.

Solo traveling will give you a different way of life, a soul to be found, and breathtaking moments.

So, ladies, Eager for a solo travel? Let’s go! 🙂