13 Unique Things I Found in Germany – Chapter 2

Setelah Jerman kalah di babak semifinal Euro 2016 melawan Prancis, saya sebagai supporter tim Panzer cukup sedih dan harus move on. Daripada move on-nya sambil galau, mending saya tuangkan ke dalam bentuk tulisan. Germany, my 2nd home is always fascinating me. From this country, I’ve seen so many things that shaped my perspectives about life. 🙂

Yang namanya traveling keluar negeri atau study abroad, pasti kita akan dipertemukan dengan momen unik, yang mungkin saja terlihat ‘biasa’ untuk orang lokal namun unik bagi orang asing. Mungkin ini terjadi juga dengan kita sebagai orang Indonesia, apabila melihat bule-bule begitu kaget dengan hal-hal yang kita anggap biasa saja, karena itu sudah menjadi keseharian kita.

Tiga kali melakukan perjalanan ke Jerman sebagai Student Traveler (dan semuanya gratis!), saya sudah banyak menemukan keunikan atau hal yang berbeda yang belum pernah saya lihat, dan kurang lengkap rasanya kalau tidak saya tuangkan ke dalam tulisan.  Setelah berhasil menulis 13 Unique Things I Found in Germany di buku pertama Student Traveler, nah saya punya another 13 Unique Things I Found in Germany! Mau tau spoiler-nya? Simak di bawah ini, nantikan versi lengkapnya di buku kedua saya yah! 🙂

  1. Memberi obat yang tidak sembarangan

Baik saat di Indonesia maupun di Jerman, saya adalah orang yang cukup rajin pergi ke dokter. Di Indonesia, biasanya jika saya mengalami radang atau sakit yang disebabkan oleh kondisi badan yang drop, saya cukup datang ke dokter dan minta resep obat supaya saya lekas pulih. Di Indonesia, dokter cukup mudah membuat resep obat agar pasien bisa sembuh dari konsumsi obat tersebut. Berbeda sekali dengan apa yang saya alami di Jerman. Negara Jerman adalah salah satu negara industri kimia terbesar di dunia, tapi uniknya dokter-dokternya tidak mudah mengeluarkan resep obat.

IAP17602

Photo : schedule.sxsw.com

Saya pernah mengalami pusing kepala dan flu berat, lalu saya pergi ke dokter dengan maksud meminta obat. Saat diperiksa, dia hanya bilang saya cukup istirahat saja, dan dia tidak memberi obat apapun!

Saya kaget, lalu saya pergi ke apotek untuk membeli obat antibiotik supaya flu saya pulih. Ternyata, apotek pun tidak mau memberikan obat antibiotik kecuali dengan resep dokter. Saya salut betapa ketatnya peredaran obat-obatan di Jerman ini.

 

  1. Lorong Bir di Supermarket

Orang Jerman adalah peminum bir yang sangat kuat, maka jangan kaget kalau kamu pergi ke supermarket, kamu akan menemukan lorong-lorong bir dengan aneka merk yang jumlahnya sangat banyak. Bahkan saya pernah menemukan satu supermarket, dimana area botol-botol bir itu hampir setengah ruangan supermarket itu sendiri! Kadar alkohol-nya juga berbeda, bahkan saya menemukan bir yang tidak ada alkohol-nya (Bahasa Jerman-nya ‘Alkohol Frei’ – Bebas Alkohol).

2013-09-03 19.27.38

Jadi, bagi kamu yang beragama Islam atau memiliki pantangan minum alkohol, mohon berhati-hati ya saat membeli minuman di supermarket. Kadang ada beberapa kemasan minuman bir ada yang sedikit mirip dengan kemasan minuman biasa!

  1. Supermarket dan Pusat Belanja tutup di hari Minggu

Inilah salah satu culture shock yang pernah dialami oleh orang Indonesia, termasuk saya. Kalau di Indonesia, hari Minggu adalah hari terbaik untuk jalan-jalan ke mall/pusat belanja sambal berbelanja dan pastinya pusat belanja akan sangat ramai. Disini kondisinya berkebalikan, loh kenapa? Karena hari Minggu seluruh pusat belanja, baik minimarket, supermarket, maupun departemen store memang resmi tutup setiap hari Minggu! Awalnya saya merasa agak aneh melihat hari Minggu pusat kota begitu sepi dan tidak ada satu pun yang pergi berbelanja. Tapi, lama-lama saya malah terbiasa dan menyadari bahwa hari Minggu adalah waktu terbaik untuk melakukan rekreasi lain selain belanja. Sama halnya saat libur nasional seperti Natal, biasanya toko-toko akan tutup satu hari sebelum hari Natal, alhasil kita belanja kebutuhan sehari-hari dua hari sebelum libur, saya pernah lihat suasana Supermarket menjelang tutup, ramai sekali! Kayak ngerampok Supermarket! Hahaha.

lidl-markt_in_bad_bederkesa

Supermarket Sepi

Photo : e-businessmoms.com

 

  1. Makan Gorengan Pakai Garpu dan Pisau

Makan bersama sudah menjadi tradisi mahasiswa di asrama, salah satunya Potluck Party Berhubung saya tidak pintar masak, setiap kali ada Potluck Party, saya selalu membuat makanan yang simple, misalnya gorengan. Pernah satu kali teman saya mengadakan Potluck Party, saya membawa Tahu isi Sayuran. Tahu isi saya dihidangkan bersama makanan lainnya di satu meja, lalu kami mendapat alat makan lengkap: piring, garpu, dan pisau. Saat dipersilahkan makan, saya tiba-tiba senyum-senyum sendiri melihat teman-teman saya satu per satu satu mengambil tahu isi dengan garpunya. Lalu makan dengan cara western style (potong makanan dengan pisau, lalu tusuk dengan garpu). Biasanya kalau makan gorengan cukup pakai dua jari langsung masuk ke mulut, eh kok makan tahu isi jadi keliatan mewah banget ya dengan pisau dan garpu! Rasa geli sendiri liatnya. Hihi

IMG_4206 (1)

Potluck Party

  1. Geschenk Karte

Waktu saya pergi ke toko buku, saya menemukan deretan kartu-kartu berbahan plastik persis seperti kartu ATM yang berada di dekat kasir. Itu kartu apa ya?

Ternyata itu namanya Geschenk Karte atau Kartu Hadiah. Hampir semua pusat belanja skala besar menawarkan produk Geschenk Karte. Kartu ini berfungsi mirip dengan voucher belanja. Kita bisa memberikan hadiah ini kepada orang terdekat apabila kita tidak tahu mau memberi kado apa. Cukup membeli Geschenk Karte dan kita bisa mengisi saldo uang pada kartu tersebut, dan si orang yang mendapat kartu bisa menggunakan kartunya saat belanja.

2013-09-12 16.20.00

 

  1. Papan Informasi Pusat Belanja

Selain sebagai tempat membeli barang, beberapa pusat belanja besar di Jerman menyediakan ruang berisikan board besar untuk berbagi informasi tentang apapun. Kita bisa menuliskan informasi apakah kita sedang mencari atau ingin memberi penawaran di atas selembar kertas yang disediakan oleh pusat belanja tersebut. Board besar itu dibagi dua papan: Suche dan Biete an. Papan “Suche” adalah tempat untuk menuliskan informasi yang sedang kita cari. Misalnya, saya butuh satu kamar asrama (Wohnung) mulai tanggal 15 Januari 2015, maka ditulis “Ich Suche 1 zimmer wohnung ab 15.1.2015” lalu dilampirkan nama dan nomor kontak saya. Kertas tersebut dipasang bersama lembaran ‘Suche’ lainnya. Biete an adalah kebalikannya, kita yang menawarkan informasi (Dari kata Anbieten, artinya Penawaran). Tidak hanya mencari dan menawarkan barang, kita juga bisa menawarkan jasa baik berbayar maupun gratis. Misalnya, mencari tandem belajar bahasa.

2013-09-13 15.18.12

 

  1. Take it as you like’ – Donasi Barang

Belajar di luar negeri mengajarkan saya untuk lebih efisien dalam menggunakan barang. Saya mungkin saja belanja aneka macam barang untuk kebutuhan saya, tapi apakah ketika pulang ke Indonesia, saya akan bawa semua barang itu? Tentu tidak. Jatah bagasi pesawat yang terbatas akan membuat saya pusing sendiri bagaimana cara bawa semua barangnya. Ketika semester akan berakhir, artinya akan ada mahasiswa yang akan bertolak ke negara asalnya dan meninggalkan asrama secara permanen, biasanya mereka akan menaruh barang-barang yang masih berguna tapi tidak terpakai di dekat pintu masuk supaya penghuni asrama lain bisa mengambilnya secara gratis. Ketika sudah 2 minggu saya menetap di asrama, saya tiba-tiba menemukan boks-boks berisi beberapa barang dan tertulis ‘Take it as you like’. Saya setengah tidak percaya, tapi barang itu benar-benar gratis! Setelah rogoh-rogoh, akhirnya saya dapat tipe x, alat tulis, alas laptop, jas hujan, dan block note. Lumayan banget, ga perlu beli! Hehe. Sejak kejadian itu, saya berpikir bahwa selama di Jerman, tidak perlu beli banyak barang, cukup membeli barang yang amat sangat dibutuhkan saja, dan sifatnya sekali pakai. Untuk barang yang bisa dipakai ulang, saya lebih memilih untuk ‘mulung’ dulu atau tanya kenalan saya apa dia punya barang tersebut dan tidak terpakai.

2013-09-14 16.15.27

Saya sendiri banyak menggunakan barang bekas, termasuk baju. Kalau ditotal-total dengan membeli, saya sudah bisa berhemat banyak. Untuk menggunakan baju bekas, rasa gengsi harus dihilangkan. 75% dari isi lemari pakaian saya itu barang bekas hasil lungsuran dan hasil membeli di Flea Market. Alhamdulilah saya engga gengsian, dan tidak ada satu pun teman kelas saya mengejek saya, “ih kamu pakai baju bekas ya!”. Hehe. Trus, uang belanja pakaian nya dikemanakan donk? saya gunakan untuk keliling Eropa donk!

  1. Jam Konsultasi

Salah satu hal yang patut saya acungi jempol dalam budaya orang Jerman adalah efisiensi waktu. Saya sendiri mengakui bahwa saya masih belum bisa menggunakan waktu secara efisien dan tepat waktu, namun lingkungan disana mendukung saya untuk lebih efisien dalam waktu. Seringkali mahasiswa harus menemui para pegawai untuk mendiskusikan hal penting terkait akademik. Kita sendiri pasti sudah tahu bahwa pegawai pasti disibukkan dengan beban kerjanya yang sangat banyak, sehingga mereka tidak punya waktu kosong setiap waktu. Di kampus tempat saya belajar, setiap pegawai baik professor, dosen, pegawai administrasi, maupun sekretariat memiliki jam konsultasi yang terjadwal atau disebut sebagai Sprechstunde.  Jadwal nya terpampang di depan pintu ruangan dan di website resmi kampus. Apabila kita memiliki keperluan, kita cukup datang di waktu sesuai dengan Sprechstunde, sehingga tidak ada waktu yang sia-sia terbuang akibat menunggu si pegawai terlalu lama, lebih sedihnya lagi sudah lama menunggu ternyata pegawainya tidak ada. Nyesek kan? Seringkali saya melihat di Indonesia, kejadian seperti ini, sudah jauh-jauh datang dari kota lain untuk menemui si pegawai, ternyata orangnya tidak ada, padahal menurut informasi pegawai lain, si pegawai ada setiap waktu. Menurut saya membuat sprechstunde ini sangat efektif baik untuk si pegawai maupun orang yang ingin menemuinya, keduanya sama-sama di hargai waktunya.

2013-10-28 07.59.07-2

Sprechstunde

 

  1. Direct Communication Style

Budaya orang Jerman tentang gaya komunikasi mereka yang begitu direct dan straight forward mungkin akan sedikit mengagetkan orang Indonesia untuk pertama kalinya. Maklum, kultur orang Indonesia sendiri terbiasa dengan berbasa-basi dan rasanya kalau ngomong to the point itu nampak tidak pantas. Hehe. Meski saya sudah dengar-dengar sedikit bagaimana iritnya mereka berbicara dan tidak pakai basa basi. Maka, jangan kaget kalau mereka terlihat kaku dan agak galak. Padahal mereka tidak bermaksud menunjukkan ketidakramahan, tapi ya seperti itu cara berbicaranya. Dari pengalaman yang pernah saya lakukan, berdiskusi dengan orang Jerman itu tidak pakai basa basi, apalagi pakai cari muka, hehe. Kita mau nanya apa, langsung tanya tanpa bertele-tele, dan dia akan langsung jawab tanpa bertele-tele. Mungkin inilah salah satu kunci keberhasilan perusahaan Jerman yang memiliki reputasi yang baik di mata dunia. They are known by their effectiveness and efficiency, include their communication.

10. Weihnachtsmarktk.a German Christmas Market

Weihnachtsmarkt adalah the most favourite main attraction saat musim dingin di Jerman. Pasar Natal ini dimulai pada awal Desember hingga pertengahan Januari, dan ada di hampir seluruh kota di Jerman. Tradisi pasar natal ini tidak hanya ditujukan untuk orang Kristiani saja tetapi sudah menjadi bentuk kebudayaan di Jerman yang sudah berlangsung lama. Weihnachtsmarkt umumnya dibangun di pusat kota, yang terdiri dari bangunan-bangunan rumah kayu ukuran mini yang dilengkapi oleh aneka dekorasi natal. Rumah kayu ini menjual aneka souvenir dan menjajakan makanan dan minuman yang cocok untuk dinikmati saat musim dingin, salah duanya adalah Sosis Bratwurst dan Gluhwein.  Namun keduanya tidak bisa dikonsumsi oleh muslim, karena sosisnya mengandung babi dan Gluhwein sendiri itu minuman apel beralkohol. Namun jangan khawatir, masih ada jajanan lain yang tidak kalah enak dan aman dikonsumsi oleh muslim, salah satu favorit saya adalah Schmalzkuchen. Ada juga aneka jenis kacang manis yang bisa dicicipi. Untuk minuman, gerai yang menjajakan gluhwein menyediakan Kinderpunch, semacam sari apel untuk anak-anak, jadi bebas alkohol. Saya lihat sih inti pasar ini mirip dengan konsep pasar malam di Indonesia, tapi dekorasinya pasar di Jerman sangat jauh lebih cantik dan lebih niat, dan tentunya lebih rapi dan tidak banyak sampah bertebaran di jalan. Hehe.

IMG_5194

 

  1. Percepatan Beasiswa

Ini adalah salah satu ‘keajaiban’ yang pernah saya alami sewaktu sekolah di Eropa, dan (mungkin) akan sulit saya alami di negeri sendiri. Saya bisa sekolah di Eropa berkat beasiswa yang diberikan oleh yayasan Uni-Eropa, Erasmus Mundus. Setiap bulannya saya selalu mendapat uang saku bulanan yang menjadi hak saya .Pertama kalinya saya tiba di Jerman, saya langsung mengurus administrasi beasiswa dan mendapatkan uang saku bulan pertama dari pihak universitas. Pada bulan pertama, uang saku saya langsung habis untuk membayar kewajiban yang jumlahnya tidak sedikit. Alhasil, saya tidak punya uang lagi untuk sehari-hari. Saya pun pergi ke international office, dan mengajukan permohonan percepatan pencairan beasiswa bulan kedua dengan alasan uangnya sudah habis untuk membayar kewajiban yang tidak bisa ditunda. Eh, ternyata diterima!

Saya merasa ini cukup ajaib, mengingat bahwa di Indonesia pencairan beasiswa on-time saja masih jarang ditemukan. I hate to say this, but it’s true. Mungkin para pembaca yang pernah mendapat beasiswa ‘lokal’ ada yang pernah mengalaminya. Saya melihat teman-teman saya mendapat penundaan pencairan beasiswa selama berbulan-bulan, hingga semester selesai, baru beasiswa cair. Padahal, mereka membutuhkan uangnya untuk operasional sehari-hari. Tidak semua orang memiliki tabungan untuk menalangi biaya hidup dan operasional pendidikan, alhasil mereka harus meminjam dulu ke orang tua atau kerabat terdekat. Hal yang sama juga pernah terjadi pada diri saya sendiri, saya pun pernah mendapat beasiswa ‘lokal’ tetapi ajaib-nya satu tahun setelah saya dinobatkan sebagai penerima beasiswa tersebut, beasiswa belum cair juga. Alhasil, saya menunggak SPP, dan satu tahun itu adalah waktu saya melakukan penelitian dan perlu dicatat, melakukan penelitian itu tidak gratis. Saya sendiri kelabakan menghadapinya. Beruntung saya masih bisa mencari pekerjaan paruh waktu dan punya orang tua yang masih mampu meminjamkan uang. Bayangkan jika ada mahasiswa yang nasibnya tidak seberuntung saya? Saya yakin fokus pada bagaimana caranya mencari uang, bukannya fokus dalam menyelesaikan studi.

Dari cerita ini, saya bisa menyimpulkan, jangankan mempercepat pencairan beasiswa di negeri sendiri, bisa cair on-time saja saya sudah acungkan sepuluh jempol.

  1. Cuci Baju dengan Koin

Umumnya, setiap asrama memiliki ruang laundry untuk penghuni asrama-nya. Sistemnya sangat praktis, setiap penghuni memiliki kunci khusus untuk masuk ke ruang laundry sehingga bisa mencuci kapan saja. Pertama kali saya mencuci baju, saya melihat ada mesin yang memiliki lubang untuk memasukkan koin Euro. Pertama, baju dimasukkan ke mesin cuci yang kosong, lalu kita memasukkan koin euro ke dalam mesin sesuai dengan kode mesinnya, lalu tekan start.

2013-09-05 08.44.11

Apakah mungkin cucian kita dicuri? Sejauh ini, saya belum pernah kehilangan baju, tapi pernah ada penghuni yang kehilangan jaket bermerk lalu dia membuat announcement di ruang laundry dengan nada emosi. Hehe. Entah itu dicuri atau tertukar. Memang kadang-kadang jika cucian kita sudah selesai, lalu ada orang datang untuk mencuci dan semua mesin cuci penuh, orang itu tidak segan-segan mengeluarkan cucian kita dari mesinnya, lalu dia menggunakan mesin cucinya.

2013-09-05 08.44.02

 

  1. Tata cara makan Eropa vs Asia

 

Masak bersama adalah salah satu aktivitas pertukaran budaya yang sering dilakukan mahasiswa. Sewaktu saya mengambil kelas intensif bahasa Jerman, lembaga bahasa mengadakan acara Kochenabend (Cooking Night) yang bertujuan untuk meningkatkan interaksi bahasa Jerman antar pesertanya. Disitu, saya berkumpul dengan para peserta lain yang berasal dari negara Asia maupun Eropa. Kami memasak pai kentang bersama-sama, lalu menikmati masakannya bersama-sama. Disitulah saya menemukan perbedaan cara makan orang Eropa dan Asia. Kami makan dengan piring kaca, pisau, dan garpu. Saya amati, orang Eropa makan sangat tenang dan tanpa suara, berkebalikan dengan orang Asia yang makan sambil bergumam, bersuara, dan alat makan pun ikut berbunyi. Ternyata table manner-nya berbeda. Kira-kira yang benar itu yang mana ya? :p

2013-09-24 19.44.54

Pernah mengalami hal yang sama? Silahkan share cerita kalian yaa. Anyway, ini masih spoiler loh! Nantikan lengkapnya di buku Student Traveler 2! 🙂

” You get educated by traveling “

– Solange Knowles