2nd Departure to Europe – Fly with KLM

Gue selalu excited untuk menceritakan perjalanan overseas.

Alhamdulilah, setelah terpilih sebagai Exchange Student di Goettingen University, Goettingen, Jerman dari program EXPERTS Erasmus Mundus, gue bisa menjejakkan kaki kembali ke Eropa, tepatnya ke negara Jerman. Bagaikan sebuah doa yang terkabul saat gue pertama kali pergi ke Jerman tahun 2010 silam (simak ceritanya disini > baca kata-kata terakhir dari tulisan ini). Kembali lagi, Allah selalu memberi rejeki yang tidak diduga oleh hambanya. 🙂

2013-07-07 11.20.21

Kali ini, perjalanan saya bukan untuk 1-2 minggu , tetapi dalam waktu yang cukup lama, 10 bulan. Sejak lama, gue bercita-cita untuk bisa tinggal di luar negeri, dan belajar bagaimana hidup di negeri orang. Gue tidak pernah mematok negara mana yang gue inginkan untuk tinggal dan belajar (well, meski negeri impian gue yang sebenarnya adalah Inggris hehe). Ternyata, Jerman menjadi jawabannya.

Gue rasa 10 bulan akan menjadi waktu yang cukup buat gue belajar memahami kehidupan di negeri yang hampir menjadi negara adidaya.

1 September 2013

It was my departure day. I had a mixed feeling; excited, nervous, afraid, and happy. Perasaan ini tentu akan terjadi di setiap orang yang akan meninggalkan kampung halamannya, terutama gue, anak Bogor yang lahir di Bogor, besar di Bogor, sekolah di Bogor sejak TK hingga S2 (lama juga yah?). Untungnya gue terlahir dari keluarga perantauan, terbiasa hilir mudik dari Bogor ke kampung orang tua, plus gue punya hobi travelling. Ketakutan yang ada bukan takut tersesat di jalan atau tidak bisa berkomunikasi selama di perjalanan, tetapi rasa takut meninggalkan keluarga untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama. Perasaan ini harus terus diatur supaya bisa jadi strong motivation untuk belajar dengan baik di Jerman, bukan justru menggalau dan mengeluh setiap harinya. I must be strong!

Penerbangan gue ke Jerman dimulai pada jam 18.50 dengan pesawat KLM. Kenapa naik KLM? Untuk urusan tiket pesawat, semua sudah diatur oleh pihak Goettingen University (kampus tempat gue akan belajar), gue tinggal mengatakan terima atau tidak penawaran tiket itu. Beberapa bulan sebelum keberangkatan, gue diberi tawaran 2 tiket pesawat melalui email. Pertama, naik KLM. Kedua, naik Lufthansa.

Tahun 2010, gue terbang ke Leverkusen dengan pesawat Lufthansa, pesawat Jerman. Kali ini, I’m gonna try something new. I choose KLM!

KLM atau lengkapnya KLM Royal Dutch Airlines adalah pesawat milik Belanda yang punya warna khas biru. Karena gue milih pesawat Belanda, tentunya gue akan transit di Amsterdam sebelum terbang ke Jerman (yeiy! belum pernah kesitu).

Rute perjalanan yang akan gue lalui adalah Jakarta – Kuala Lumpur – Amsterdam – Hannover.

(Hannover menuju Goettingen akan menggunakan kereta cepat.)

Rute perjalanan ini akan gue hadapi sendiri, tanpa ditemani siapapun. Ini akan menjadi perjalanan solo kedua saya (sebelumnya ke Tokyo, Jepang) dan perjalanan solo Eropa untuk pertama kalinya. Perjalanan solo itu memang antara seru dan sedih. Tapi buat gue, solo travelling is awesome! Kapan lagi gue bisa solo travelling ke Eropa? :p

Gue dapet jatah bagasi yang tidak besar, yaitu 23 kg, dan gue hanya boleh bawa 1 koper. Alhasil, gue bawa koper besar dimana gue harus masukin semua barang-barang kesitu.

Jam 12.30. Gue pun meninggalkan rumah tercinta di Ciawi bersama keluarga (see you next year my home sweet home) menuju bandara Soekarno Hatta. Keberangkatan gue diantar oleh Ayah, Mama, Inna, dan Fathia. Beberapa sahabat gue juga ikut mengantar yaitu Nisty, Denda, Tahmid, dan Wenes (thanks guys!).

Jam 14.00 gue tiba di bandara Soetta. Gue langsung coba ke counter KLM untuk check-in. Denger-denger kalo penerbangan internasional harus 4-5 jam sebelum berangkat, eh ternyata konternya belum buka!

“Jam 4 sore mbak baru buka” sahut staf bandara-nya ke gue. Alhasil gue balik lagi ketemu keluarga, terus ke hokben cari makan.

Engga lama dari situ, sahabat-sahabat gue pun berdatangan, dan kita pun makan bareng di Hokben. Gue senang sekali dengan waktu makan siang itu, gue bisa tertawa-tawa sepuas2nya dengan mereka, dan gue sendiri ga tau apa gue bakal bisa mendapat teman yang sama seperti mereka di Jerman. :’)

A Short Goodbye

Keasikan ngobrol, ternyata udah jam 4 sore! waktunya check-in. Kita semua langsung jalan menuju lokasi check-in.

Setiba di lokasi check-in, entah kenapa gue jadi enggan untuk masuk cepat, gue masih pengen berada di dekat keluarga dan teman-teman gue. Gue baru bisa ketemu mereka lagi tahun depan, dan itu (mungkin) waktu yang tidak sebentar. Gue pakai beberapa menit untuk stay sebentar di depan pintu masuk check-in.

IMG_3352

My Family

IMG_3350

My Bestfriends

Sambil menarik nafas, akhirnya gue memutuskan untuk masuk ke ruang check-in. Nyokap gue sendiri udah ngeluarin air mata, detik-detik sebelum gue masuk. Gue pun sungkem ke nyokap sambil berpelukan, ternyata air mata ga bisa dibendung lagi, gue pun nangis tumpah ruah, begitu juga pas pamitan ke bokap, gue peluk erat-erat bokap gue sambil menahan tangis. Lalu kedua adek gue.

“Ayah, makannya diatur, jangan makan yang aneh-aneh.. Inna,jagain Thia, bantu kerjaan Mama di rumah..” sahut gue lirih.

Gue langsung pamit dengan keempat sahabat gue, Nisty, Denda, Tahmid, dan Wenes.. I will miss them, they are my living diaries to me. 🙁

Gue pun memasuki pintu check-in. Konter check-in KLM sudah dipenuhi orang-orang yang berbaris antri untuk ‘menyetor’ kopernya.

Overweight!

Gue liat ada dua jenis antrian, Antrian yang sudah online-check-in dan yang belum online check-in.

Oh my God, gue belum online check-in. Gue keinget dulu waktu Maiza, temen gue dari Peru yang pernah nginep di rumah, dia dulu pake KLM, dan check-in online dulu sebelum ke airport. Kenapa gue bisa lupa gini ya…

Gue pun klarifikasi ke salah satu staf disitu.

“iya mbak check-in aja dulu pake handphone atau laptop” jawab masnya.

GUe langsung buru-buru buka iPod, nyambungin ke WiFi dan buka web KLM. Dipandu ama stafnya, engga nyampe 5 menit.  GUe pun beres check-in! yesss..

“mas, kalau misalnya bagasi saya lebih dikit dari jatah, kena charge ga?” tanya gue.

“kena mbak 100 USD, mau 1 kg, 2 kg, 10 kg, tetap kena, mending mbak ukur dulu deh sebelum antri (sambil nunjukin ke konter kosong yang ada timbangannya” jawab stafnya.

Karena ga yakin dengan berat koper gue, gue langsung buru-buru ke timbangan.

Gue angkat koper berat itu susah payah.

JDER! 25,5 kg!

“Nah mbak, kena charge tuh, kalau mau dikurangi aja..” sahut mas-masnya.

Ga pake mikir gue langsung nelpon nyokap.

“Halo mah? belum pulang kan? kopernya overweight nih, harus dikurangi, mama standby di pintu keluar ya, nanti nisa kasih barangnya”

Buru-buru gue buka kopernya di tengah-tengah area check-in. Untung isi kopernya tertata rapi, jd ga perlu malu buka koper dan diliat orang.

Karena gue udah antisipasi bakal overweight, gue udah tau barang apa aja yang diprioritasin untuk keluar.

pertama, bumbu pecel.

Bumbu ini berat banget, gue bawa dua pak. Gue keluarin.

kedua, jaket pinjaman dari bu Iis.

Sebenanrnya gue udah bawa coat parasut milik gue sendiri. Jaket ini untuk jaga2 kalo butuh. Gue keluarin.

ketiga, aneka jenis cairan dalam botol. Cairan softlens, semprotan kaki, dll.

Cairan softlens gue taro di ransel, sisanya gue keluarin.

Gue tutup koper, gue timbang lagi, wah ternyata jadi 21 kg! masih bisa ditambah, gue tarik lagi kopernya, gue buka, gue masukin lagi.

entah berapa kali gue ngangkut, buka, tutup, ngangkut itu koper.

Finally, it’s 22,5 kg! yes!

gue finalisasi isinya, trus gue buru-buru ke pintu exit, anter barang yang dikeluarin ke nyokap.

“hosh.. hosh.. ini mah bawa pulang aja.. ga cukup soalnya” gue ngomong sambil ngos-ngosan. Disitu temen-temen gue cume cengo liat gue ngos-ngosan.

“ini beneran ga dibawa, udah masukin aja ke tas, nih pecelnya bawa satu…” kata nyokap.

Ga pake mikir, gue masukin 1 pak pecel ke tas jinjing merk Long Champ (KW super) berwarna hitam.

“ada air ga? hauss nihhh. hosh.. hoshh” tanya gue, baju gue udah basah keringat.

Aqua 600 ml muncul di depan mata gue, gue teguk setengahnya.

Gue pun pamitan lagi ke nyokap bokap, adek dan temen-temen gue.

This time, it’s a really goodbye.. :'(

Gue pun balik ke konter check-in untuk ngantri. Menunggu sekitar 30 menit, urusan check-in gue beres.

Ga pake lama, paspor gue langsung dicap, gue langsung pergi ke Gate E7.

Sesampainya di boarding room, gue langsung duduk manis, dan mulai buka iPod dan handphone. Berpamitan ke orang-orang terdekat.

Jam 6 sore, gue langsung ke musola buat solat magrib dan jama’ untuk isya. It’s gonna be a long flight. 16 hours to Amsterdam.

Jam 6.30, boarding call berkumandang. Gue langsung nyiapin paspor dan boarding pass untuk pengecekan sebelum masuk pesawat.

Amsterdam, here I come..

“Halo Selamat Malam!” sahut pramugari bule wanita yang berdiri anggun di pintu pesawat. Gue kaget juga dia bisa bahasa Indonesia, hehe..

Seat 49A. Sayangnya, itu aisle seat, bukan window seat. But, the good thing about my seat is right in front of lavatory!

Gue ini orangnya agak beser, dikit-dikit suka pipis. jadi posisi seat gue menguntungkan. ga perlu permisi ke orang sebelah. tinggal berdiri ke belakang, langsung masuk ke toilet. Hehe.

Pesawat yang gue naiki ini Airbus dengan seat 3-4-3. Dengan ukuran pesawat seperti ini, take-off dan landing pasti engga akan gubrak-gabruk, haha.

2013-09-01 22.22.25

The airplane is now ready to take off. Fasten your seatbelt.

2013-09-01 22.23.19

Sebelum menuju Amsterdam, gue terbang dulu ke Kuala Lumpur, untuk menjemput penumpang lain.

Perjalanan ke Kuala Lumpur hanya membutuhkan waktu 2 jam saja. 1 jam berada di atas udara, pramugari sudah berdiri membawa troli dan membagikan makan malam. (saat itu waktu sekitar jam 9 malam).

Awalnya gue engga terlalu lapar, karena udah makan sore di Hokben.

Pas nyium bau makanannya, hmmm.. nasi lemak.

Nafsu makan gue pun muncul. Makanlah gue, hahaha. Teri-nya mana enak banget lagi. ENgga lupa juga dengan menu cake puding sebagai dessert-nya. :9

2013-09-01 20.48.59

Beres makan, tiba-tiba gue diajak ngobrol dengan orang sebelah gue.

“Mau pergi kemana mbak?” tanya mbak itu ke gue. Mbaknya ternyata orang Indonesia, dikira Malaysia, haha.

“Mau ke Jerman mbak.. kalau mbak mau kemana?” gue pun menjawab sambil nanya balik.

“Mau ke Dublin..” jawab mbaknya pelan.

Wow, kotanya Westlife! Tiap inget Dublin, pasti inget Westlife deh, hehe.

Gue pun berkenalan, namanya mbak Santi. Dia pegawai PLN yang pergi ke Dublin bareng suaminya untuk sebuah conference.

Asiknya bisa keluar negeri bareng suami (mupeng ;p)

Sejak selesai dinner, alhamdulilah gue jadi ada temen ngobrol, gue pun ngobrol macem-macem dengan mbak Santi, sementara suaminya asik utak atik alat entertainment di depannya.

Engga terasa pesawat sudah mendarat di Kuala Lumpur. Karena pesawat sempat delay 1 jam di Soetta Airport, jadi penumpang yang akan ke Amsterdam disuruh buat stay di pesawat sambil nunggu penumpang lain datang. Selama jeda tersebut, datanglah awak-awak staf bandara KLIA untuk bersih-bersih. Lucunya, baru kali ini gue transit tapi ga pake keluar pesawat dulu, stay aja disitu. hehe.

Waktu sudah hampir larut malam. Pesawat pun take-off kembali sekitar jam 11.30. Sisa perjalanan gue masih 14 jam lagi menuju Amsterdam. Supaya badan gue ga kaget, gue pun maksain diri buat tidur jam segitu, supaya tubuh gue bisa nyesuain nantinya.

Dinner or Breakfast?

Satu jam setengah gue tertidur pulas. Pas gue cek jam, jam 1.30 pagi.  Gue ternyata kebangun karena suara hilir mudik pramugari yang sepertinya akan membawa troli makanan, well, I need a drink.

“Water please..” sahut gue bindeng. Hidung gue mampet kena AC yg super dingin. Oh my…

GUe teguk air minum sampai habis (segerrr), trus tiba-tiba si pramugara itu ngasi sepaket menu makanan, hah kok makan lagi?

gue cek ulang jam, jam 1.30 pagi! apakah ini breakfast? apa memang waktu makan pagi sengaja lebih awal buat ngatur jam biologis tubuh?

Gue terima aja makanannya (toh ga rugi ;p).

“Excuse me, is this for breakfast?” tanya gue heran ke Pramugara berkulit hitam yang super fasih bahasa Belandanya.

“No, this is dinner, we will give you breakfast later..” jawab Pramugaranya senyum.

Hah, dinner lagi? ebuset, perut gue masih kenyang, ini dikasi lagi. Gue tanya ke mbak Santi apa gue bisa balikin sebaki makanan itu ke mereka.

“ga bisa nis, setauku mau kamu balikin juga, pasti dibuang ama mereka..” kata mbak Santi.

Waduh mubazir atuh.. yaudah, let’s what I can eat.. gue langsung makan salad sayurnya yang dingin.

Sambil ngemil salad, gue nonton film “Silver Linings Playbook”, one of my favorite Comedy-Romance Movie 😀

Gue lanjut ngemil gue ke cake coklat dingin.. enak cakenya. :9

Selama di pesawat KLM, entah gue berapa kali diberi minum. Pramugarinya rajin banget bagi-bagiin minum.

Setelah nonton, gue sempet tertidur agak lama, sekitar 4-5 jam. Terus bangun lagi, dan langsung ditawarin minum.

Coffee please..” Kali ini gue mau nonton lagi, jadi gue kudu melek. Gue berharap ada coffee mixed atau semacam capucinno,

ternyata dikasinya kopi item, plus gula dan krimer. Tiba-tiba si pramugari nunjukkin satu botol ke gue, botolnya seperti botol wine.

Namanya pun ga gue ngerti.

What is this?” gue tanya. Si pramugarinya langsung nuangin sedikit cairan kental warna coklat ke gelas plastik.

Use with coffee,you will like it...” kata pramugarinya, terus ngeloyor pergi.

GUe dan mbak Santi heran liat minuman itu. Gue endus, hmm kayanya bukan alkohol. Langsunglah gue tuangin ke gelas kopi.

Seketika, kopi gue berubah warna jadi agak muda. Sepertinya ini krimer, bukan bir.

Gue seruput kopinya, hmm enakk.. rasanya pahit-pahit gimana gitu. Entah sugesti atau apa, tiba-tiba hidung jadi agak plong setelah minum kopinya. apa itu berkhasiat buat orang pilek? Keren juga kalo emang bener.

Pramugari KLM ini sangat tanggap dengan penumpang. Mbak Santi yang juga pilek-pilek pas awal, langsung dikasi air putih, tanpa dia minta. This is kind of invisible service! 😀

Gue lanjutin agenda di pesawat gue dengan nonton “The Hobbit”. Dari dulu, gue kepingin nonton ini film, cuma ga kesampean.

AKhirnya gue bisa nonton secara gratis di pesawat :9

Sayangnya filmnya ga ada subtitle bahasa inggris, dan headsetnya kurang ngasih suara yang jelas. Alhasil gue kurang total denger dialognya.  FYI, film-film di entertainment tv-nya KLM ini cukup up-to-date. Gue liat ada film baru-baru rilis, kayak After Earth, Argos, FF6 dan lain-lain.

Selama 3 jam gue nonton The Hobbit, itu pun play-pause-play-pause, karena dapet tawaran sarapan pagi, minum atau tiba-tiba gue merem. haha.

Martin Freeman lucu banget jadi Hobbit, biasa liat dia jadi Watson di Sherlock. Sekarang jadi orang cebol. hehe.

Pas jam sarapan, perut gue mulai kruyukan lagi. Kali ini menu sarapan udah ga lagi menu Asia, tapi menu bule,.. Kentang rebus, sosis ayam, dan omellete. Hmm yummy~ plus dikasi Yoghurt dan buah potong. Lekker~

2013-09-02 09.18.22

20 menit sebelum film Hobbit beres, kapten pesawat ngasi pengumuman kalau sebentar lagi pesawat akan tiba di Amsterdam! Uwoh~

Konon, Bandara Schipol Amsterdam adalah salah satu bandara terbaik di dunia, top 10. I’m curious to see how best it is. 🙂

“.. Fasten your seatbelt, the plane will be landed soon..”

Beres nonton The Hobbit, mata gue merem-melek. Kalau mau ngikuti jam Belanda, saat itu adalah jam 5 pagi. Kalau ngikutin jam Indo, saat itu jam 11.

gue harus ngeset jam tubuh gue ke waktu Belanda.

Pesawat mulai turun, “Prepare for landing…” sahut kapten.

The airplane just landed smoothly. Alhamdulilah. Landingnya mulus banget, engga gubrak gabruk, kayak pesawat domestik di Indo, ahaha.

Gue pun udah bisa lihat sign “Schipol Airport”.

Setelah pesawat markir dengan baik. Semua penumpang langsung siap-siap ambil barang-barang dan bikin barisan buat keluar.

Welcome to Amsterdam, Annisa!”

(baca cerita selanjutnya disini)

  • Nisa..! ~
    Udah lamaa bgt sejak DYLA ya ^^
    Jadi tetanggaan nih. Kapan2 ketemuan yuuk…

    • ceritadarikotahujan

      Tantiiii, kamu di Sweden ya? long time no talk… hayukk atuh sayy, enaknya ketemuan dimana nih? wah we should re-unite DYLA lagi niii, kamu ada whatsapp? 😀

  • Iya di Sweden. Berarti ketemuan di antara jerman-sweden nih.. Denmark? Hehe… Kayaknya anak2 DYLA pada makin mantap aja karirnya…
    Ada whatsapp, saya pm via facebook yaa…

  • neesha

    thanks utk sharingnya…kbetulan dlm waktu dkt sy akan mggunakan jasa klm utk ptama kali…bdsrkan tmn yg mggunakan klm thn 2011 pramugarinya kurang phatian..tp dr critamu spt sdh ada perubahan…

    btw ko aku baca di critamu klo bagasi kurang sdkt jg denda ya? bukannya klo kurang tdk apa2? klo lebih br denda? cmiiw..

  • hai kak nisa.. kenalin aku Vania dari Semarang
    kak mau tanya dong. berdasarkan pengalaman, naik lufthansa sama naik KLM lebih nyaman mana ya? soalnya aku lagi bingung buat nyari maskapai penerbangan buat ke Spanyol. Terima kasih 🙂

    • ceritadarikotahujan

      Halo Vania,
      masalah kenyamanan sih 11-12 kalau maskapai Eropa,
      tapi kalau untuk makanan aku lebih prefer KLM, soalnya ada nasi lemak, hihi. Kalau makanan Lufthansa, memang agak2 bule gitu..kalau untuk kenyamanan seat dan fasilitas ga jauh beda kok. 🙂

      selamat travelling!