2nd Departure to Europe – Transit in Amsterdam

Melanjutkan cerita sebelumnya (bisa dibaca disini)

Entah apa badan gue lelah atau memang gue nervous, setiba di bandara Schipol, gue linglung sendiri.

Gue berjalan bersama kerumunan orang-orang se-pesawat, dan gue lihat sebagian berjalan ke arah deretan mesin,

Setelah observasi sebentar, ternyata mesin itu untuk cetak boarding pass untuk yang transit.

Gambar

Gue pun langsung antri. Alhamdulilah pas make mesinnya engga katrok-katrok amat. Selembar kertas keluar dari mesin.

Okay, so I have three hours to spend in Schipol! So, what should I do?

Bukan best airport namanya kalau engga bisa ngasi sesuatu yang baru buat penumpang.

Selepas dari mesin pencetak boarding pass, gue melewati satu koridor yang kanan-kirinya itu jejeran toko.

Saat itu, waktu menunjukkan pukul 5.30 pagi, memang bukan waktunya toko buka. Tapi sebagian toko sudah pada buka.

Menariknya, gue liat toko jam Rolex yang udah buka pagi-pagi buta. Karena arah gue jalan pas ngelewatin, isenglah gue mendekati etalasai tokonya,

Jedarrrr.. gue liat satu jam tangan berkilau emas seharga 29,000 euro! Harga 1 jam itu sama dengan tiga kali lipat living cost gue selama setahun di Jerman. Apa-apaan ini?!! (lah kok gue yang ngamuk?)

Gue langsung melengos pergi, mencari toko atau tempat yang student-friendly (alias gratis).

Tibalah gue di salah satu koridor lain yang ramai dengan bule-bule yang hilir mudik.

Gue mulai tersadar kalau disitu gue seperti seorang Hobbit yang tersesat diantara orang-orang Eropa yang berlalu lalang,

badan mereka rata-rata tinggi banget, kepala gue hanya sedada atau seperut. Mungkin inilah mengapa gue nonton The Hobbit di pesawat, bagaikan sebuah pertanda…

Perhatian gue pun beralih ke satu ruangan di lantai dua yang tertulis “Rijksmuseum”. Wah museum apa tuh?

Gambar

Gue buru-buru nyari pintu masuknya, and it’s free! Horee! Saya suka museum dan saya suka yang gratisan! Pas banget.

Gue pun masuk ke ruangan itu. Di ruangan itu terdapat sekitar 20an lukisan yang terjajar rapi di semua sisi dinding, lengkap dengan papan interpretasinya (dalam dua bahasa : Inggris dan Belanda). Gue pun baca satu per satu.

Gambar

Rijkmuseum adalah museum sejarah yang menceritakan tentang kehidupan sosial masyarakat Belanda, suasana perkotaan, masa kerajaan, dan pemandangan tempo dulu di Belanda. Setiap lukisan diberi kategori tertentu seperti : burger (people), Stadt (City), dan lain-lain. Sekali lagi, gue datang ke Eropa membawa satu misi, belajar memahami seni melalui lukisan. Saat ini, menikmati lukisan menjadi hal baru buat gue, and it is so much fun. πŸ™‚

Di dalam museum itu, kita bisa tahu silsilah kerajaan Belanda, berikut dengan karakter kepemimpinan raja-rajanya, selain itu juga ada satu lukisan yang menjelaskan bagaimana kekuatan teknologi menjadi roda penggerak ekonomi di Belanda, disitu tergambar Dam untuk menahan air, Belanda berada di bawah permukaan laut (ini pelajatan IPS jaman SD banget yaaa).

Sekitar 20 menitan, gue puas menikmati museum ini, gue pun muter-muter di lantai 2.

Pas jalan, gue lihat ada deretan kursi malas (baca: kursi yang kita bisa selonjoran kaki dan posisi tidur) yang menghadap ke kaca besar dgn view pesawat yang markir. Gue pun datang menghampiri.

Wuohh, ternyata itu kursi tidur buat penumpang yang super duper capek.

Gue lihat ada beberapa orang berbaring pulas di kursi itu, hmm, kayanya boleh dicoba nih..

gue pun duduk berbaring.

Gambar

Nada hp nokia gue berbunyi. Siapa yang nelpon gue? Gue angkat..

“Halo ini dengan mbak Annisa? Mbak saya XXXX dari Hotel Pajajaran Suites, ini mau menanyakan pembayaran untuk pemesanan hotel atas nama Pak XXXXX… ”

Wah ternyata kerjaan gue sebelumnya, padahal gue udah nurunin kerjaan ini ke temen gue, kok staf hotel masih nelpon gue, hahaha.

“Mas maaf, saya sudah off dari kepanitiaan seminar, kebetulan saya sedang dalam perjalanan, apa bisa menghubungi saudari Eka? maaf ya mas..”

Si masnya langsung paham kalau gue udah ga ngurus lagi. Telpon ditutup.

Sejenak gue gue berbaring, dan melamun ke arah jendela. Tepat beberapa hari sebelum berangkat, gue masih disibukkan dengan kerjaan Fakultas yang bisa dibilang endless. Tons of jobs to do.. HIngga gue sendiri merasa kurang untuk mempersiapkan beberapa hal untuk studi ke Eropa, seperti latihan bahasa, memperlajari profil departemen tempat gue akan studi, dll. Gue pun menarik nafas dalam-dalam.

Alhamdulilah, at least sudah tiba di Amsterdam sekarang, dan bisa beristirahat sejenak. Saat sibuk, gue sempat berpikir untuk menghabiskan beberapa hari pertama gue dengan beristirahat, melepas segala kesibukan pekerjaan sebelumnya. (Dan nyatanya tidak, haha).

Daaann, gue sangat butuh wifi saat itu, sesuai dengan modified-Maslow-theory, it says that WiFi is now a basic need for human (lol). Gue pun mencoba mencari-cari sinyal gratis, dan ga dapet-dapet.

Gue pun sadar kalau gue ngga ngantuk banget, gue putusin untuk pergi dari situ dan coba cari koneksi WiFi.

Mata gue mulai fokus ke arah Information Centre. Dan yang gue dapatkan adalah free lounge dengan mesin informasi yang bisa gue pakai. Gue langsung cari opsi fasilitas atau opsi internet. Sekali pencet, informasi tentang bagaimana menghubungkan gadget kita dengan WiFi disana terpampang jelas, gue cukup ikuti step-stepnya. Free WiFi di Amsterdam diberi nama “KPN”. Akses WiFi bisa diperoleh di area-area tertentu, dekat dengan outlet KPN.

Tidak sulit menemukan area yang free wifi. Ditambah lagi, area itu dilengkapi meja panjang dengan kursi, plus beberapa colokan listrik yang bisa dipakai. Gue pun coba ngenet pakai laptop sendiri.

Gambar

Connected!

Yess… gue langsung buka semua socmed gue, plus email gue. Pertama yang wajib adalah ngirim pesen ke nyokap kalau gue udah tiba dengan selamat di Amsterdam. Sisanya gue pake buat update status dan balesin komen-komen orang.

Engga terasa udah jam 8, dan penerbangan berikut adalah jam 8.55 menuju Hannover. Gue langsung rapi-rapi dan berjalan menuju gate keberangkatan.

Selama di jalan, Gue nemu satu toko buku besar! Masuklah gue ke dalem, toko ini punya dua area, buku berbahasa Inggris dan buku berbahasa Belanda.

Sepertinya, novel fiksi Mortal Instrumen lagi populer saat ini. Jadi penasaran mau liat filmnya, πŸ˜€

Gue berjalan menuju buku fiksi anak-anak, and I found my favorite children-book write, Roald Dahl!

Desain cover buku-bukunya beda banget ama yang di Indo. Gue pun nemu buku dengan judul yang engga gue ketahui (Tahmid pasti pengen banget nih!).

Gambar

Sayangnya, gue tidak ada rencana menyisihkan uang sepeser pun di Amsterdam, so gue ga beli apa-apa.

Tragedi Pecel

Gue cek jam, oh gue kudu segera cari gate.

You know what, ternyata dari toko buku ke gate itu jauuuh banget, gue panik saat tiba di imigrasi dan pengecekan barang bawaan. Tas Tenteng Long Champ gue sempat tertahan oleh staf bandara.

Gue bertanya-tanya kenapa tas gue ditahan? Gue mencoba untuk tenang, gue yakin engga ada yang aneh-aneh di tas gue.

Gue liat dua staf bandara sedang nunjuk ke layar, dan layar itu isinya barang-barang yang ada di tas jinjing gue. *makin panik*

Satu staf langsung datang menghampiri, “would you please to open your bag and put in here…” tanya dia kalem.

Gue langsung buka, dan ngeluarin semua isi tasnya ke baki yang da kasih. Eh, ya ampun! bumbu pecel gue ditaro di tas itu!

“Is this what? Food?” tanya dia heran.

“yes, it’s food” jawab gue sambil nebar senyum penuh harap.

Baki berisi barang gue pun diantar ke staf lain. Gue pun nunggu, apakah bumbu pecel terlihat mencurigakan? karena gue cuma bawa barang biasa aja, kayak dompet, paspor, tisu, dll. Apakah perjalanan 1 pak bumbu pecel gue akan berakhir di Amsterdam? Tidaaakkkk!

Staf bandara itu dateng lagi, dan ngembaliin semua barang-barang gue, termasuk bumbu pecel! yeiiyyy…

Alhamdulilah, tragedi pecel sudah terlewati.

Gue pun jalan lagi menuju gate, akhirnya gue sampai juga di gate 30. Hanya 5-10 menit setelah gue sampe di gate, pesawat pun sudah siap untuk terbang. ALhamdulilah pas waktunya.

Gue pun langsung masuk ke pesawat KLM jenis City Hopper, jadi lebih kecil dari KLM jenis Royal Dutch.

Pesawat KLM City Hopper ini seatnya 2-2. Di dalam pesawat itu, semua penumpang adalah berwajah bule kecuali gue.

Perut gue pun keruyukan minta makan, gue berdoa supaya ada makanan yg bsa gue makan selama 1 jam menuju Hannover.

Saat itu juga pesawatnya pun lepas landas menuju Hannover.

See you later Amsterdam, Deutschland… I am coming…

(baca cerita selanjutnya disini)

  • Nice story sist πŸ˜€ hope that i would be in there soon