2nd Departure to Europe – Wilkommen in Hannover

(Baca cerita sebelumnya disini)

Badan gue agak pegal-pegal, gue perlu exercise selama di pesawat. Untungnya ada majalah pesawat dengan rubrik step-step untuk exercise selama di pesawat. Patut dicoba nih, gue langsung praktekin tahapan exercisenya.

Suasana pesawat hening banget, kanan kiri gue liat kebanyakan orang pada baca buku. Gue sangat takjub ngeliat nenek-nenek yang masih baca buku tebal. Orang Eropa memang pada suka baca! Makanya pada pinter-pinter 😀

Kali ini, kebutuhan gue berubah menurut teori Maslow, gue lelah dan lapar, gue butuh makan dan butuh tidur. Beberapa menit setelah pesawat lepas landas, pramugari KLM langsung membagikan sembako eh, air mineral dan cookies. Tanpa ragu, gue sobek bungkusnya, dan gue menemukan empat buah cookies mini. Dalam waktu 2 menit, cookies pun habis. Dan gue masih lapar.. oh my..

Mau ga mau, gue harus nunggu sampai tiba di bandara Hannover. Mata gue pun terpejam, dan gue tidur lelap.

Alhamdulilah, gue sudah tiba di Eropa, pikir gue dalam mimpi. Gue mencoba untuk melepas segala rasa cemas, dan berusaha untuk memikirkan seperti apa ‘rumah’ gue untuk 10 bulan ke depan.

Kapten pun berseru untuk mengecangkan ikat pinggang karena pesawat sebentar lagi akan sampai.

Kalau liat jarak antara Amsterdam dan Hannover, sepertinya sih mirip Jakarta ke Semarang.

Udara kabut menyambut kedatangan gue di Hannover. Langit mendung terlihat dari luar jendela.

Setiba di bandara Hannover, gue langsung pergi menuju tempat pengambilan bagasi, karena gue harus ngejar kereta dari bandara ke Goettingen. Gue ga tau medannya, jadi harus cepet-cepet.

Setengah jam menunggu, koper pun baru keluar satu-satu dan muter. Engga sulit buat nemu koper gue, koper-koper lain kebanyakan warna hitam, koper gue sendiri muncul gonjreng berwarna biru nyala, hehe.

Dengan susah payah gue angkut koper gue dan langsung cari jalan menuju stasiun (bahnhof). Gue dorong koper yg super berat dan besar dengan tangan mungil gue.

A Big Fries, A Hot Coffee

Perut gue keruyukan, butuh asupan. Mata gue ga tertuju kemana-mana lagi kecuali logo M kuning besar, apa lagi kalau bukan one of biggest junkfood franchise, Mc Donald. Logo Mc Donald terpampang besar sekitar 500 meter dari gue berdiri. Logo itu nunjukkin arah lokasi restonya.

Mc Donald terletak di lantai 2, setara dengan lantai Departure Gate. Gue lihat bandara Hannover punya karakter yang mirip dengan bandara Cologne, salah satu kota besar di bagian Barat Jerman, yang pernah gue kunjungi 3 tahun lalu. Entah mengapa, melihat dua bandara ini seperti melihat bandara lokal Indonesia yang juga punya karakter yang mirip, seperti bandara Adisucipto (lama), bandara Ahmad Yani, dll. Apakah setiap negara punya kesamaan desain Bandara? (mungkin ada yang bisa bantu jawab?)

Mc Donald terletak di pojokan, mau ga mau gue terus dorong koper gaban gue sampai nyampe.

“One large fries please.. “ gue langsung pesan 1 kentang besar, ga tau lagi mau mesen menu apa. Yang penting bisa ganjel. Inget cerita McD di luar negeri jadi keinget pertama kali gue ke McD Singapur, gimana gue dan keluarga gue yg oon banget pas mesen makanan hahaha (pengen tahu ceritanya? Baca disini)

Mbak-mbaknya langsung ngambil satu kotak kentang goreng besar.

“2,5 euro please…”

Detik itu juga, otak gue langsung berubah jadi currency converter dadakan.

‘Edan, 40 ribu buat seporsi kentang!’ pikir gue. Gue hanya bisa perang batin, dan tetap ngeluarin koin euro ke mbaknya.

Sudah banyak orang yang memberi pesan kalau setiap kali keluar negeri, jangan pernah konversi mata uang disitu dengan nilai rupiah. Karena kalau mikir gitu terus, entar bisa ga makan-makan.

Yang bisa gue lakukan adalah konversi di otak dan keluarkan uangnya dari dompet. Hahaha.

Gue pun pindah ke konter McCafe, I need a cup of coffee. I ordered Caramel Macchiato, my fave one.

“3.5 euro..”

‘apa??? 50 ribu untuk secangkir kopi?’ pikir gue membatin. Gue tetep ngeluarin dua buah koin 2 euro.

Dalam sekejap gue sudah menghabiskan hampir 100ribu rupiah untuk sebuah kentang dan secangkir kopi.

Perbekalan beres, gue langsung cari jalan menuju stasiun.

Menyusuri koridor jalan yang sisi kanan-kirinya dilapisi oleh kaca cukup menyenangkan, gue bisa liat suasana bandara Hannover yang begitu sepi. Gue pun berpapasan dengan anak-anak TK yang sepertinya lagi studi tur ke bandara.

Intermezzzo nihhh:

tebak-tebakan : apa kehebatan anak-anak Jerman?

Jawabannya : kecil-kecil udah bisa bahasa Jerman. Hahahaha.. *maaf kalo garing*

 

Fahrkarten, Mesin Cetak Tiket Kereta

“Hallo!” sahut satu anak laki-laki berkulit hitam menyapa gue, di sampingnya ada a-le (anak bule) bermata biru yang ikut cekikikan setelah temennya nyapa gue.

“Hallo!!” balas gue riang. Gemes banget liat anak-anak bule jalan ngikutin ibu gurunya. Mungkin salah satu dari mereka beberapa tahun lagi bakal jadi pemain utama di Bayer Munchen FC atau Hannover 96 FC?

Perlu hampir 15 menit untuk sampai di stasiun kereta bandara. Hal pertama yang harus gue lakukan adalah mencari mesin pencetak tiket kereta.

Saat itu, gue berusaha untuk tidak katrok, berusaha stay cool. Seolah-olah terlihat kalo gue udah 20 kali pulang-pergi Jakarta-Hannover.

Thank God, I found the machine. It’s called Fahrkarten. Mesin berwarna orange ini tepat berdiri di tengah-tengah koridor antar jalur kereta.

Gambar

Gue memegang secarik kertas yang berisi tata cara mencetak tiket. Gue hanya menerima kode pre-book untuk tiket kereta menuju Hannover. Gue cukup entry kodenya, dan voila! Tiket pun keluar.

Di tiket juga tertera harganya, yaitu 46 euro. Dan gue ga perlu bayar (thanks Erasmus!)

Untungnya kereta sudah datang sebelum tiket gue selesai dicetak, gue langsung masuk ke kereta.

Gambar

Gue akan naik dua jenis kereta, pertama kereta Regional Bahn dari bandara ke Hannover Central Station. Lalu dilanjut lagi dengan kereta supercepat ICE menuju Goettingen Station.

Setelah berjam-jam naik pesawat, naik kereta adalah hal yang menyenangkan. Gue bisa liat pemandangan luar sambil menyeruput machiatto panas.

Perjalanan dari bandara ke stasiun sentral hanya butuh waktu sekitar 20 menitan. Sampai di Central Station, gue cek jadwal kereta berikutnya menuju Goettingen di layar TV Flat. Oke, Gue masih punya waktu luang 30 menit.

Gue pakai untuk ke toilet. Agak sulit mencari sign toilet, karena banyak banget sign-sign yang terpampang di langit-langit atap.

Gue pun nemu sign toilet, beserta pintu masuknya.

Tiba-tiba gue heran, kok pintu toiletnya bagus amat? Pokonya ga kayak toilet deh.

Gue pun masuk.

Keheranan gue terjawab pas gue tau kalau itu adalah toilet berbayar!

Engga Cuma Indonesia aja yang bikin tarif buat toilet (biasanya 1000 atau 2000 perak).

Disini ga nanggung-nanggung, 1 euro untuk sekali masuk!

Karena udah kebelet ga tahan, gue dengan rela menyumbangkan 1 euro untuk membuang air seni.

Tepat di depan gue ada palang gerbang, kayak mau masuk ke Subway, dan disebelahnya mesin dengan lubang yang siap diberi koin. Gue liat bagaimana orang masuk, dan yup I got it.

Gue pun masukin koin 1 euro dan palang pun terbuka.

Namanya juga toilet berbayar, dalemnya bener-bener bersih dan wangi. Gue pun nerima bon tanda gue udah bayar 1 euro.

Gambar

Berhubung gue udah bayar, gue habiskan waktu gue di toilet itu lebih lama. (ga mau rugi). Gue foto-foto toiletnya, cuci tangan, benerin kerudung, dll. Setelah puas, gue pun keluar.

That was the most expensive toilet fee I’ve ever spent in my whole life.… 15 ribu buat pipis.

Gue langsung pergi menuju jalur keberangkatan.

Destination :

Goettingen

Sebuah kereta ICE sudah standby di rel stasiun untuk ditumpangi. Tanpa ragu gue masuk dan langsung cari seat yang oke. I love ICE Train. Interiornya bagus, seatnya enak, dan super bersih.

Gue sudah duduk manis di salah satu kursi, ngelanjutin nyeruput kopi, dan makan kentang goreng.

Pukul 12.40, kereta pun berangkat…

Bismillah… it will takes around 40 minutes to go to Goettingen.

I turned on my iPod, and play “Failure” by King of Convenience. (watch the video if you wanna know why).

This is such a heaven to me.

Sambil memandang keluar jendela, gue tersenyum melihat diri gue sendiri.

Yes, I made it. Go to Germany by myself. Rasanya seperti menguasai dunia baru.

Gambar

Negeri Hitler ini sebentar lagi akan jadi rumah gue selama 1 tahun.

40 menit kemudian, kereta pun berhenti. Muncul suara kalau kereta ini sudah tiba di Goettingen.

Dan pertama kalinya, kaki gue berpijak di kota kecil ini. Terpampang tulisan berwarna putih,

“GÖTTINGEN”.

Gambar

Alhamdulilah, akhirnya tiba di kota Gottingen!

Let the journey begin!

~The End~

 “Travel is more than the seeing of sights; it is a change that goes on, deep and permanent, in the ideas of living.” – Miriam Beard

PS : See more posts soon on my blog. Vielen dank 😀