Refleksi Akhir 20an : Andai Dari Dulu.. (Chapter 4 – End)

8. Ajaran Dogmatik

Disclaimer: This might be a sensitive topic for some people. But I do believe my blog readers are well-educated enough to respect different values that other people believe in.

(baca chapter 3 disini)

Gue terlahir dari keluarga yang cukup moderat dalam beragama. Gak ada aliran tertentu yang kita ikutin, kita mengikut apa yang dijalankan oleh orang sekitar kita, selama kita yakini itu positif secara spiritual. Bokap gue lahir dari keluarga yang lebih relijius dibanding keluarga emak gue, kalau diukur dari seringnya beribadah both wajib and Sunnah. Bokap gue ngajarin gue untuk solat, ngaji, beramal baik dari kecil, dengan cara yang agak konservatif.
Yang menarik, setiap hari minggu kan suka ada acara TV yang nayangin orang Kristen nyanyi-nyanyi atau sinetron reliji agama Kristen, waktu gue nyalain itu, dan bokap gue liat, bokap gue Cuma bilang “apaan tuh acara-acara Kristen, dosa, ganti ganti..”
Dari situ, gue sempat beranggapan kalau orang Kristen itu menyeramkan, gue sendiri gak merasa fanatik, hidup di lingkungan yang cukup dominan muslim, gue gak banyak dapet kesempatan untuk berinteraksi dengan orang yang berbeda agama. Gue baru bener-bener bisa punya temen beda agama pas SMP, dan gue penasaran banget untuk tahu tentang agama lain, tapi ragu ragu karena takut dosa. Rasanya, kalau nyari tau soal agama selain Islam itu dosa besar.
Belum lagi soal Yahudi, agama yang ‘gak pernah’ ada di Indonesia (hingga belakangan ini gue baru tau kalau ada kelompok minoritas Yahudi di Indonesia) selalu jadi bahan pembicaraan, yang berawal dari konflik Israel-Palestina. Karena Palestina sendiri mayoritas muslim dan terjajah, dan Israel yang mayoritas Yahudi menyerang lahan mereka. Hampir semua orang Indonesia memihak pada Palestina, dan menganggap Israel itu penjahat kelas berat, gue setuju sampai situ.. hingga kemudian muncul pemahaman kalau semua Yahudi itu orang jahat dan laknat. Pokoknya kalau denger kata Yahudi, itu udah pasti diasosiasikan dengan kejahatan dan musuh Islam. Inilah yang menjadi sebagian besar kepercayaan orang Islam di Indonesia (at least orang disekitar gue), dan itu terus tertanam bertahun-tahun lamanya.
Gue mengakui pendidikan agama gue masih sangat dangkal, modal belajar agama di sekolah formal, ikut kelas TPA, dan sesekali ke guru ngaji, gue sendiri mengenal agama Islam itu Cuma satu dan semua orang memercayai hal yang sama.
Masuk ke universitas, gue mulai membuka diri, dan merasa lebih nyaman pada perbedaan, kemudian gue mulai mengenal agama yang dipadu dengan politik. Awalnya gue sendiri gak peduli politik, tapi ternyata politik itu sangat kental dalam diri kita, dan itu gak lepas dari agama juga.
Politik inilah yang membuat kepecayaan orang terhadap agama jadi lebih runyam, bahkan bisa mengarah ke konflik karena munculnya perbedaan.Gue sendiri sempat kaget ketika menyadari kalau di dunia ini ada banyak orang Islam yang berbeda-beda kelompok, perbedaan nya pun beragam, dari cara beribadah, membuat keputusan, dan lain lain. Gue juga pernah diberi tau kalau memang benar aka nada banyak golongan agama Islam, dan hanya ada satu golongan yang berada di jalan yang benar.
Darisitulah gue lihat ada kelompok yang merasa berada di ajaran yang paling benar, dan mereka berusaha satu sama lain mempengaruhi agar berada di jalan yang sama. Caranya pun beragam, ada yang halus, ada yang to the point, bahkan ada yang dogmatik.
Momen-momen inilah yang kadang membuat gue pusing liat orang saling debat untuk membenarkan ajarannya, tapi sampai lupa menjadi orang yang beragama secara sesungguhnya, gue lebih banyak nemuin orang berdebat, berargumen dibanding orang yang saling berusaha respek atas pilihannya dalam menjalani agama.
Gue percaya spiritualitas orang itu terbentuk dari lingkungan, budaya, dan persepsi yang berbeda-beda. Dulu, ada anggapan sekelompok orang yang melihat seorang muslim Indonesia menimba ilmu di negara minoritas Islam, kemudian membawa pemikiran baru tentang kehidupan beragama, lalu ia dianggap melenceng, dan tidak sejalan dengan apa yang sudah diajarkan dan itu mutlak gak bisa diubah. Padahal, Allah SWT menciptakan manusia dengan otak, yang berfungsi untuk berpikir.
Hanya sayangnya, ajaran-ajaran dogmatik inilah yang tidak mendorong otak kita untuk berpikir. Pokoknya terima, gak usah dipikirin, diresapi, dan dimaknai, kalau engga gitu bakal jadi dosa.
Ajaran dogmatic inilah yang kadang-kadang membuntukan pikiran kita, akal sehat kadang gak digunakan, karena ya berpegang teguh pada ajaran yang bisa saja memberi dampak yang kurang baik, dan ini juga membuat orang gampang tersulut dan marah karena perbedaan ajarang yang ada, debat lagi deh..
Gue sendiri gak mau ngasi ngasi sampel ajaran-ajaran apa, dan perbedaan apa yang beredar, but one thing that I have to say that being a religious person (for me) means that you have to use your brain to accept all those kind of teachings. Karena kalau gak pake otak, kita akan mudah berpaham radikal, ekstrem, dan mudah membenci orang.
Ini pun termasuk soal agama-agama lain, selama ini gue melihat agama non Islam sebagai agama yang membahayakan, justru asumsi gue salah. Bukan agama yang membuat mereka bahaya, tapi orangnya sendiri yang bikin bahaya. Orang Islam juga ada yang berbahaya, tapi bukan Islamnya, tapi kelakuan orangnya.
Dulu, gue mengira semua orang Yahudi jahat dan pembenci Islam, sekarang gue punya beberapa teman Yahudi yang baik-baik dan gak semuanya mendukung Israel. Sama halnya, dengan teroris yang mengaku Islam, dan banyak orang yang gak menyalahkan agamanya, tapi si orang nya yang terpapar radikalisme. Sedihnya, agama Islam yang sering dipake jadi alat untuk konfrontasi sama orang-orang biadab, dan yang disasar itu orang-orang sulit ekonomi, karena mudah untuk disusupi pemahaman dogmatis yang negative, sehingga membunuh orang gak bersalah itu dianggap baik.
Gue geram banget kalau liat kasus bom terus denger kata “Allahuakbar”, trus nonton film-film berbau propaganda yang memadukan scene orang habis bebuat jahat sama suara azan, sedih banget liatnya. Tapi gue sendiri beruntung liat orang-orang asing yang gue temui tidak melihat itu sebagai hal yang benar, mereka sendrii paham kalau itu Cuma propaganda, dan mereka percaya orang Islam pada dasarnya orang baik. Tapiii, pasti ada juga orang yang membenci Islam.
Gue sendiri juga udah engga gitu sungkan untuk berbicara soal agama lain dengan temen-temen gue. Karena niat gue sendiri bukan untuk berpindah, dan gue percaya just because I’m having conversation about other religion doesn’t mean keimanan gue bakal turun. It’s not a threat at all, I believe that.
Gue mencari tahu tentang agama lain, supaya gue bisa belajar menghormati mereka sebagai manusia. Di Al Qur’an pun diajarkan kalau kita harus menghormati sesama manusia. Orang Kristen, Yahudi, Ateis, Zoroastrian, Mormon, apa pun itu juga diciptakan oleh Allah SWT di dunia ini dengan satu alasan. Bahkan babi pun diciptakan oleh Allah SWT untuk sebuah alasan.
Tidak melulu berpegang pada dogma juga ngajarin gue untuk lebih waras dan mencerna segala informasi yang seringkali gak mendasar dan gak jelas. Contohnya?
Pernah dengar berita tentang Pokemon itu artinya “Aku Yahudi” dalam bahasa lokal suku Yahudi? Terus Pikachu artinya “Jadilah Yahudi?” Terus tiba-tiba muncul lagi berita Hey Tayo yang juga artinya Aku Yahudi dari bahasa sebuah negeri entah dimana? Udah gitu berita ini disebar kemana-kemana, dan orang percaya gitu aja. Nah inilah kalau kadang kita baca info sambil beranggapan bahwa segala hal yang gak Islam itu ancaman besar tanpa berpikir panjang.
In the end, gue sendiri masih belajar agama, sebagai manusia yang penuh dosa, perjalanan spiritual gue gak akan pernah berhenti sampai ajal menjemput, dan semoga gue bisa menjalani kehidupan spiritual gue di jalan yang benar. Amin.

9. A Definiton of Success

Beberapa kali menjadi pembicara di beberapa seminar dan workshop, satu kata yang sering beredar dalam percakapan: “Sukses”
“Bagaimana Ecofunopoly bisa menjadi sesukses seperti sekarang?”
“Apa arti sukses dalam hidup kakak?”
“Tips and trick supaya menjadi orang sukses seperti apa?
Sukses..sukses.. sukses!!!

Dari banyaknya percakapan yang gue alami dengan banyak orang, gue jadi bertanya kembali ke diri gue “Sukses itu apa?”
Gue sempet heran ya, sukses itu kalau ibarat bentuk atau benda seperti apa?
Sebuah titik, garis, lingkaran atau apa?
Ini menarik untuk dipertanyakan, karena gue juga heran kalau orang suka merespons,
“Wah hebat kamu ya nis, udah sukses..”
Sukses membawa usaha jadi untung? Mungkin iya.
Sukses karena menerbitkan buku dari blog pribadi? Mungkin iya juga.
Sukses dapat beasiswa sekolah keluar negeri yang selama ini diidam-idamkan? Mungkin iya.
Menyatakan sukses untuk beberapa hal spesifik mungkin bisa benar, jadi formulanya:

Cita-cita + usaha + berhasil = sukses

Ada lagi yang merespon, “wah lu sih dah sukses, dah gak perlu ada yang dikejar lagi. Apa apa gampang lah..”
Eh, wait, wait, jadi maksudnya, sukses itu adalah ujung dari segala kerja keras kita? Trus kalau udah diujung, then we don’t have anything to do or to achieve?
Kalau sukses sebuah ujung, lalu kapan kita merasa berada di ujung?
Apakah sukses itu sebuah capaian satu hal atau akumulasi dari berbagai capaian kita?
Apakah sukses itu kombinasi dari kemapanan finansial, membina keluarga yang samara, terkenal dan dihormati yang terus-terus menerus ada dalam hidup kita?
Atau,
Apa sukses itu kita selesai dengan diri kita sendiri, dan gak ada lagi yang harus dikejar, tanpa mengukur seberapa banyak yang sudah kita punya atau kita beri ke orang lain, intinya it’s just enough?
Gue mencoba mencari-mencari makna sukses dari beberapa figure yang gue anggap sukses di bisnis.
Disitu gue dapet beberapa pola pikir sukses mereka, ada yang bilang kalau sukses itu proses tiada akhir dan gak ada ujungnya.
Mungkin kita ingin achieve di satu titik, tapi setelah berhasil mencapai titik tersebut, dan dianggap sukses, kita pasti gak berhenti disitu, kita akan pergi ke titik yang lebih tinggi, supaya lebih sukses, dan terus terus .. jadilah sebuah garis yang tak berujung.
Gue setuju dengan paham ini, karena gue gak bisa mengartikan sebuah kesuksesan itu ibarat titik ujung yang mutlak. Dan setiap orang punya level sukses yang berbeda-beda dan menjalaninya dengan perjuangan yang berbeda pula. Gak ada garis start dan finish yang jelas, jalurnya juga gak sama panjang, gak sama mulusnya.
Seiring dengan bertambahnya dewasa, cara gue mendefinisikan sukses itu pun berubah, dari sekedar mencapai achievement satu ke yang lain, tapi sebagai sebuah garis panjang yang ujungnya adalah kematian.

Kemarin dengar podcast “orang yang selesai itu tidak pernah merasa selesai, selesai itu ya artinya mati”. Damn, ini deep banget sih.

There is no single definition of success; everyone can define their own success.

Mertua gue yang engga beres sekolah, kemudian fokus dagang di pasar, hingga bisa beli property tanah dan nyekolahin semua anaknya sampe jadi sarjana, termasuk suami gue, dan sekarang mertua gue hidup sederhana saja. Apa itu sukses? Buat gue iya.
Seseorang yang dari keluarga kurang mampu, kemudian belajar rajin, hingga dapat beasiswa keluar negeri, kemudian pulang mengabdi sebagai PNS, meski gajinya mungkin tidak seberapa dari temannya yang kerja di perusahaan swasta. Apa itu sukses? For me, it’s a yes, if he doesn’t compare his salary with others. That will makes him less successful.
Sukses gak ada satu measurement, standar sukses hidup di Indonesia bukan cuma hidup bahagia dengan satu pasangan dan dua anak, kerja mapan tanpa resiko dipecar, jabatan dan gaji naik tiap tahun, punya rumah standar KPR, liburan setahun dua kali dengan satu mobil Avanza.

Not that simple Ferguso…

Buat gue, kita bisa bikin standar kesuksesan ke diri sendiri, tanpa harus mendapat pengakuan sukses dari orang lain, kecuali orang itu selalu bersama kita dalam suka dan duka, dan paham betul upside down-nya kita.
Buat gue, gak bisa disebut sukses kalau Cuma dilihat kulitnya, hasilnya atau endingnya, tanpa lihat prosesnya. Kalau kayak gitu, bisa –bisa malah jadi toxic success, seperti kasus penipuan Umroh First Travel atau Fyre Festival. Kita ingin jadi Anniesa Hasibuan dan Andik Surrachman yang bisa keliling dunia, shopping mewah, diakui sukses banyak orang, tapi ternyata prosesnya nipu orang gak bersalah hanya demi mengejar kenikmatan semu.
Daripada ingin jadi mereka, mending jadi kami aja, pasangan Annisa Hasanah dan Andik Fatahillah yang masih ngayal-ngayal untuk bisa liburan keluar negeri tanpa biaya, hunting voucher makanan enak yang jarang kita beli, dan dapet jatah hotel gratis! That’s our success story! hehehe :p

Last but not least, I would like to thank to Allah SWT for giving me such a wonderful life during my 20s. I’m so happy to receive all blessings, trusts and opportunities from You.

Anyway thanks for reading my Going 30 reflection story! Drop your thought or story here on comment box ya.

Read More

Refleksi Akhir 20an : Andai Dari Dulu.. (Chapter 3)

5. Frugal Living

 read previous chapter 2 here

Dua tahun mengarungi hidup dalam dunia wirausaha udah ngasi gue banyak kesempatan ketemu orang-orang baru, diantaranya orang-orang yang sudah lama melintang usaha, sukses dalam tolak ukur : untung, tapi penampilan dia tidak terlihat seperti orang yang sukses dan punya segalanya. Nah loh? Kok bisa?

Gue akhirnya menemukan satu istilah baru “Frugal Living”.

Frugal Living is simply happily living with less.

Yup, gue ketemu banyak orang dan figure yang mengadopsi hidup frugal alias sederhana, apapun kondisi ekonominya, or at least menyesuaikan kemampuan ekonomi secara pantas.

Menurut gue, tantangan terbesar saat ini buat (more…)

Read More

Refleksi Akhir 20an : Andai Dari Dulu..(Chapter 1)

Note : This post is divided into several chapters. Please take your time to read it, no need to rush, each story will takes 3-4 minutes reading. So enjoy reading!

Helow, helow~

Apa kabar? Ya ampun udah lama banget gue gak bikin post disini. I feel so much guilty for being a passive blogger lately. Buat gue, menulis itu penting untuk menjaga kesehatan mental gue. Tapi jarangnya gue nulis ini memang dikarenakan oleh keputusan gue untuk mengambil prioritas lain, yaitu ngurusin tetek bengek usaha yang membutuhkan fokus dan konsentrasi tingggi, udah gitu masih upside down. Gue sadar kalau ada banyak hal yang perlu dikorbankan, salah satunya keluangan waktu untuk menulis. Tapi, a lot of things happened to me in the past few months, belajar dari kegagalan satu ke kegagalan lainnya. Gue dapat kesempatan belajar hal-hal baru yang selama ini gak pernah gue tau, lewat buku, Instagram, ketemu orang, seminar, dll. Dan akhirnya gue tersadar kalau bertambah dewasa itu berarti kita semakin mematangkan diri.. wawasan, karakter, hingga pola pikir. Beuh berat amat sih ini ngomongnya?

Kali ini, postingan pertama gue di tahun 2019 engga bahas soal traveling. Tapi hal lain yang gue pikir patut gue bagi ke para pembaca, yang sepertinya pembaca tulisan gue ini lebih muda dari gue (ya gak sih?).

FYI, bentar lagi gue akan meninggalkan status being twenty something, sebulan lagi (jika Allah kasih umur) gue akan berumur 30 tahun! Tiga puluh tahun? OMG..

Waktu gue kecil liat orang umur 30 tahun itu kayak udah tua banget ya, hehehe.. dan bentar lagi gue akan menjadi early thirty something.

Excited? Hmmm.. gue belum ada jawaban yang tepat untuk ini.

Yang pasti, being late 20s cukup banyak memberi pelajaran hidup buat, hingga gue seringkali berpikir “andai gue tau ini dari dulu..”. Rasanya seperti ucapan penyesalan, tapi bukan untuk menyatakan kemunduran diri, tapi refleksi ke depan biar lebih getol lagi untuk membuka diri akan hal-hal baru.

Berada di fase umur akhir 20an, gue selalu diingatkan lagi tentang “apa tujuan hidup lo?” “apa sih yang lo kejer selama ini?” pokoknya mencari tau makna menjalani hidup, pelan-pelan gue menemukan petunjuk-petunjuk yang mengarah pada jawaban yang gue cari. Umur segini tuh biasanya akan mikir mikir soal eksistensi diri, kemapanan, social life hingga urusan duit.

Okay, Gue pengen bahas sesuatu yang jauh lebih noble dari pengejaran yang terasa gak ada habisnya, tentang sesuatu yang bikin gue nyesel kenapa gue gak tau dari dulu, sesuatu yang gue yakin bakal berdampak dalam hidup gue dan gue pikir sepertinya penting banget gue share ke para pembaca, siapa tau kalian bisa lebih eling (sadar) lebih awal dari gue. Terlepas dari seberapa eksis lo di dunia nyata atau dunia maya, seberapa tajir lo dari hasil kerja keras lo, yang terpenting adalah mindset, mindset, mindset. Cara lo berpikir akan menentukan lo akan menjadi apa di kemudian hari. Kita seringkali merasa percaya kalau apa yang kita pahami, apa yang kita percayai ini sudah sempurna. Kalau dari pengalaman gue sih, bahaya banget kalau masih punya mindset kayak gitu! Gue sekarang percaya kalau pola pikir itu akan berkembang, ketika kita mau ngebuka diri akan hal baru, bahkan pada hal yang gak kita percaya.

Gue ingin nulis ini karena gue yakin ada banyak orang diluar sana yang berada di posisi gue sekarang, yang lagi nyari makna hidup, mengejar mimpi, menaikkan kualitas hidup, pusing dengan social pressure dan in the end, become a life success!

Moga-moga pembaca disini tidak sedang terjebak dalam hidup yang salah ya, mungkin gak terjebak, hanya belum tau aja. Oke, gue pengen berbagi beberapa poin penting yang cukup membuat pola pikir gue jauh lebih baik dan bijak.

  1. Financial Literacy a.k.a Melek Keuangan

Lahir dari keluarga kelas menengah yang selama ini menganut prinsip hidup ala Poor Dad. “Poor Dad” adalah sebuah istilah yang dipopulerkan oleh buku Rich Dad Poor Dad karangan Robert Kiyosaki, istilah ini merupakan sebuah mindset yang sering tertanam pada kelompok kelas menengah yang gak dapet pendidikan keuangan sejak dini. Gampangnya gini, kita diberi gambaran hidup bahwa kita terlahir di dunia itu harus mengikuti formula berikut:

(1) happy-happy jadi anak kecil

(2) masuk ke sekolah formal bertahun-tahun, jadilah yang terbaik secara akademik

(3) cari kerja yang bonafit dan aman dari pemecatan (no matter how much you hate the work, but at least you’ll get a good money and you won’t get fired

(4) work, work, work, have a stable career, be the best employee, don’t make any mistake, get promotion, get a raise

(5)  build a nice house, nice car, holiday abroad twice a year.

(6) Pensiun, bahagia di masa tua.

Selesai.

Inilah mindset yang tertanam dalam diri gue selama ini, kerja keras, jadi yang terbaik, disitulah kita bakal bahagia. Jadilah gue orang yang mengikuti pola itu, dan ada satu hal yang terlewat: Pendidikan Keuangan. Ternyata selama ini gue hidup di mindset Poor Dad. Tanpa bermaksud menyalahkan siapa siapa, termasuk ortu yang sudah membesarkan gue, gue baru ngeh sama pendidikan keuangan saat jadi orang dewasa. Itu kenapa fase kanak-kanak dan fase ABG gue hanya melihat uang sebagai alat untuk membeli kesenangan, beli mainan, beli makanan, dll. Gue tidak paham akan kekuatan memiliki pendidikan keuangan akan mengubah the way I think about money.

Pendidikan keuangan emang gak diajarkan di sekolah (guru-guru sekolah kita sendiri sebagian besar masuk ke dalam golongan Poor Dad), karena sistem pendidikan kita menganut mindset Poor Dad. Guru-guru sekolah juga mungkin sebagian besar menganut formula yang gue jelaskan tadi. Gue sekalipun gak pernah diberi saran sama guru “Annisa, perkuat skill keuangan mu, maka kamu bisa jadi apa saja dikemudian hari, tanpa harus bergantung pada active income..”

Saran-saran umum yang dikasi ke gue sebagai seorang murid “belajar yang rajin, nanti bakal diterima di universitas ternama..” “jadilah murid paling pinter, nanti bakal dapet kerjaan yang bagus, gaji besar..”

Semua saran itu gak salah, hanya ada bagian yang missing. Gue sadar kalau banyak orang termasuk gue hidup dalam pengejaran pasif income, dan tidak tahu banyak soal pasif income. Inilah pendidikan yang didapat oleh “Rich Dad”, istilah yang menggambarkan orang yang melek finansial dan tahu kalau kita gak bisa terus-terusan ngejer active income dari profesi yang kita tekuni.

Jadi, maksudnya jadi karyawan itu jelek? Jadi paling pinter itu jelek?

Nah, disini gue pun tidak bermaksud mendiskritkan profesi karyawan dan orang pintar lalu mendefinisikan kelompok “Rich Dad” itu para pengusaha. Bukan, bukan itu maksudnya.

Yang gue ingin tekankan adalah betapa kelompok Poor Dad ini menganggungkan formula di atas tadi, dan mengesampingkan pendidikan keuangan. Seolah-olah urusan uang itu baru boleh dibicarakan kalau sudah dewasa dan akan ngalir dengan sendirinya. Gue sering membayangkan waktu umur 12 tahun gue udah melek finansial, uang uang THR lebaran gue engga akan angus begitu aja untuk memuaskan nafsu membeli ini itu.

Itulah kenapa sekarang seminar tentang financial literacy bertaburan dimana-mana, banyak orang yang mengalami masalah keuangan atau ingin membicarakan soal keuangan, tapi gak tau kemana. Bukannya mereka kere atau gak punya, sekali lagi menjadi melek keuangan itu engga didasari pada status pekerjaan (mau karyawan, mau freelance, mau usaha, bebas) dan status keuangan kita sekarang, mau banyak duit, lagi ngutang. Bangun mindset melek finansial itulah yang harus dimulai sejak dini, apapun profesi kita. This financial knowledge has impacted me most to these days.. gapapalah sekarang masih snob-snob dulu. Hehehe.

Syukur alhamdulilah, sekarang gue dan orang-orang sekitar gue sama sama senang diajak upgrade diri untuk lebih melek finansial. Gue mau berterima kasih juga sama akun @jouska_id yang makin meyakinkan diri gue untuk menaruh pendidikan keuangan sebagai ilmu baru yang harus terus dipegang.

  1. Am I a True Enterpreneur?

 

Continue reading Chapter 2 : Am I a True Enterpreneur? here

Read More