Kamu Lagi Berburu Beasiswa? Pikirkan Dulu Soal ini.

“Mau Dapat Beasiswa Keluar Negeri, CarAnYa giMaNa yA?”

Buat yang pernah bergelut jadi pemburu beasiswa, mentor beasiswa, alumni beasiswa yang lagi promosiin beasiswa nya, pasti familiar banget dengan pertanyaan ini. Yang ditanya bingung sendiri jawabnya, karena jawaban nya sudah jelas, Caranya Ya Daftar! Hehehe.

Bertahun tahun sebagai pemburu dan mentor beasiswa, saya pikir ada banyak hal lain yang perlu dikupas selain pertanyaan membingungkan di atas. Sejak menerbitkan buku Student Traveler, saya pernah nerima berbagai email dan DM yang masuk menanyakan pertanyaan seputar beasiswa. Banyak pertanyaan yang cukup spesifik dan mudah saya beri jawaban berdasarkan pengalaman saya.

Melamar beasiswa itu pilihan, bukan sesuatu yang paling prestisius dan perlu diglorifikasi berlebihan. Saya bangga menjadi penerima beasiswa, karena mimpi masa kecil saya terwujud dengan beasiswa. Dan saya mengerti ada banyak orang yang berusaha meraih beasiswa untuk menggapai mimpi terpendam nya. Belakangan ini, beberapa pertanyaan bermunculan di benak saya

“Bagaimana orang memutuskan untuk lanjut sekolah?”

“Beasiswa apa yang akan mereka pilih?”

“Bagaimana cara mereka memilih kampus tujuan atau negara tujuan?”

“Apa negara impian mereka yang ingin sekolah keluar negeri?”

Akhirnya saya bertanya lewat IG Story, pertanyaan nya random, Cuma penasaran apakah masih ada pemburu beasiswa di luar sana. Apakah COVID-19 dianggap berpengaruh untuk peluang beasiswa. Dan pertanyaan lain-lain (Bisa dicek di highlight “Beasiswa” ya, Instagram : @annisaa_potter)

BEASISWA DAN COVID-19

Dari hasil polling, jawaban dari teman-teman beragam dan menarik untuk dikaji. Ternyata masih banyak pemburu beasiswa diluar sana dan sudah menentukan negara tujuan untuk studi. Niat dan Tujuan adalah modal awal dalam melamar beasiswa, tapi belum cukup. 89% orang menjawab mereka sedang berburu beasiswa. Hasil berikutnya adalah 75% teman-teman juga menganggap pandemi ini berimbas pada peluang mereka memperoleh beasiswa. Saya juga berpikir demikian, tetapi teman teman jangan khawatir. Menurut saya, beasiswa akan tetap ada dan tersedia, hanya proses pendaftaran beasiswa dan waktu mulai studi agak sedikit terganggu. Sebagian besar universitas menggeser aktivitas belajar secara online, hampir semua negara melarang masuknya orang asing masuk negara nya, jelas ini akan berpengaruh pada studi.

Beasiswa? Dugaan saya tetap ada, karena dana beasiswa itu setau saya bentuk nya dana abadi, bukan dana yang mungkin diulik ulik untuk kebutuhan lain. Untuk detailnya, saya gak punya kapasitas untuk menjelaskan (mungkin ada teman-teman di bidang ekonomi makro atau anggaran atau bidang yang terkait yang bisa menjelaskan soal dana beasiswa ini?)

Asumsi saya, memberikan beasiswa studi justru membantu mengembalikan perekenomian negara setempat. Disini kita asumsikan beasiswa bersumber dari negara yang sama dengan tempat studi. Jerman dengan beasiswa DAAD (Pemerintah Jerman),  mendatangkan mahasiswa dari luar untuk belajar ke Jerman, pastinya akan menambah uang masuk beberapa lembaga atau pelaku usaha. Mahasiswa akan nge-kost, belanja makanan di supermarket, beli pakaian, beli buku, berwisata, dan lain-lain. Intinya, uang dari mereka untuk mereka juga, ya kan? Kecuali si mahasiswa gak nge-kost (yang mana gak mungkin) dan gak makan sama sekali, uang nya di-keep buat ditabung semua, hehehe. Menurut saya, beasiswa untuk mahasiswa asing itu menstimulus ekonomi.

Saya percaya beasiswa masih tersedia untuk kita yang berpaspor Indonesia. Beberapa bulan lalu saya masih mereview aplikasi program beasiswa magang (bukan full degree) yang akan berangkat tahun ini, artinya peluang masih ada. Tidak perlu Khawatir dengan COVID-19, justru “khawatir” lah jika status negara kita berubah jadi negara maju. Nah ini juga ngeliat nya dua sisi ya. Sebagai warga negara yang baik, kita pasti berharap kan Indonesia menjadi negara maju. Kalau Indonesia dianggap negara maju, then bye bye scholarship! Semua pemberi beasiswa sudah tidak akan memberi beasiswa lagi ke kita, karena asumsinya kita sudah kuat secara ekonomi, jadi tidak perlu dibantu , termasuk bantuan studi di luar negeri. Negara kita masih termasuk developing countries yang dianggap sebagai negara yang perlu bantuan beasiswa, makanya penawaran beasiswa masih beredar dimana mana. Teman-teman saya yang berkebangsaan negara maju, seperti Korea dan Jepang, bilang sulit sekali mendapatkan beasiswa keluar negeri, kalau pun ada kuota super kecil. Padahal teman teman saya ini pintar-pintar dan berasal dari kelas menengah, bukan dari keluarga kaya raya, tetap saja privilege mereka tidak setinggi kita dalam hal ketersediaan beasiswa.

TAPIII… ada tapi nya nih ya, standar kelas menengah mereka dan kita kan beda ya? Setuju ga? Saya dan teman saya orang Korea sama-sama kelas menengah. Tapi biaya hidup Korea dan Jerman itu sama (mungkin Korea lebih mahal), sedangkan biaya hidup Indonesia dan Jerman apa sama? Untuk kelas menengah level saya tentu tidak.

Misal saya bisa hidup cukup di Bogor 3 juta rupiah (kost, makan, transport), apa di Jerman 3 juta cukup? 95% teman teman negara maju yang saya kenal menerima LPDP, Langsung Pake Dana Papa. Hehehe.

Nah, sekarang pertanyaan nya, kamu mau dapet beasiswa atau mau Indonesia jadi negara maju?

Atau..

Kamu dapet beasiswa dulu, baru habis itu Indonesia berubah status jadi negara maju? Hehehe.

Mungkin kalau beasiswa bersumber dari negeri sendiri lain cerita, seperti DIKTI dan LPDP dan saya gak gitu paham perspektif uang dari negara kita digunakan untuk studi di negeri orang. (Ada yang bisa menjelaskan juga soal ini?). As far as I know, uang beasiswa yang diberikan oleh Republik Indonesia bertujuan untuk meningkatkan kapasitas SDM untuk membangun negeri, jadi penerima beasiswa dari negeri sendiri diharapkan kembali mengabdi untuk negeri. Mungkin ini juga jadi tugas penerima beasiswa untuk membuat Indonesia menjadi negara maju.

SEKOLAH KELUAR NEGERI: MAU PAKE BEASISWA ASING ATAU BEASISWA NEGERI SENDIRI?

Dari dulu saya penasaran banget sama preferensi orang seputar pertanyaan di atas. Emang sih pertanyaan jadi gak relevan buat yang berpikir “mana aja lah yang penting keterima”. Hehehe, kalau mentok gak ada pilihan, mungkin aja sih ujung-ujungnya kesitu.

Tapi, gak ada salah nya saya ngulik preferensi teman teman Instagram dan apa alasan/persepsi yang mendasar pilihan itu?

Kalau bisa milih, kamu mau mau sekolah keluarga negeri pakai beasiswa asing atau beasiswa dari negeri sendiri?

Beasiswa Asing itu sumbernya uang nya dari lembaga atau pemerintah asing, misal : Erasmus (Uni Eropa), Fulbright (USA), ADS (Australia), MEXT (Jepang), Chevening (Inggris), dll.

Beasiswa dari Negeri Sendiri itu sumbernya dari dana pemerintah RI atau lembaga/perusahaan, misal LPDP, DIKTI, Pemda (konon katanya ada beasiswa dari Pemerintah Daerah), Jatah kantor tempat kerja (biasanya buat pegawai BUMN atau perusahaan besar), atau lembaga mana pun yang memang dari Indonesia.

Seperti yang sudah kita tahu, persyaratan beasiswa itu biasanya engga jauh berbeda komponen dasar nya.

Formulir. TOEFL/IELTS.  Rekomendasi. Letter of Acceptance. Motivation Letter.

Setau gue Cuma itu yang paling dasar. Dari hasil polling di Instagram saya, 81% lebih memilih beasiswa asing (total responden 101 orang, 82 : asing, 19 : negeri sendiri).  Why Beasiswa Asing? Saya pun lanjut tanya lagi. Jawaban nya beragam, ada yang nyinggung soal birokrasi, peluang, hingga kebebasan berkarir.

Nah, gue ingin kupas nih, apa yang sebenarnya membedakan dua tipe beasiswa ini selain dari sumber uang nya. Berikut hasil observasi saya:

  1. Kebebasan vs Keterikatan

Ini perspektif yang paling keliatan dari dua tipe beasiswa ini. Gak bisa dipungkiri, beasiswa asing itu terkesan lebih bebas merdeka, menerima beasiswa ini kita gak ada ikatan apapun. Pemberi beasiswa juga gak bikin syarat pasca sekolah. Yang gue inget waktu tanda tangan kontrak beasiswa Erasmus, syarat yang harus gue penuhi adalah menempuh studi sampai selesai saja dan tidak ada sanksi bila saya berbuat macam-macam maka beasiswa harus dikembalikan.

Kontrak yang bebas bukan berarti bikin kita mikir untuk melakukan kegiatan diluar batas ya.

Sejauh yang saya tahu, teman-teman saya yang menerima beasiswa asing bisa menyelesaikan sekolah dengan baik. Kebebasan ini juga berlaku pada saat selesai sekolah dan merintis karir.

Beasiswa Asing biasanya tidak mendikte kita harus bagaimana selesai sekolah, biasanya mereka hanya mendorong para alumni untuk meniti karir secara professional dan memanfaatkan jejaring alumni mereka untuk mengembangkan karir dan koneksi. Saya sendiri terbantu banget dengan koneksi alumni Jerman. Beasiswa Asing juga bisa memberikan kita kesempatan untuk berkarir di luar negeri, tapi bukan jaminan akan dapat pekerjaan di luar negeri ya. Perlu dicatat nih. Menerima Beasiswa Asing tidak otomatis kita akan dapat pekerjaan di luar negeri. Masih ada faktor lain yang harus diasah, seperti kemampuan bahasa, sertifikasi, dan lain lain. Semua berpeluang untuk berkarir di luar negeri. Ada kok PNS yang menerima beasiswa dari negeri sendiri, terus memutus kontrak, dan mulai berkarir di luar negeri. J

Lalu, Beasiswa dari Negeri Sendiri?

Yup, Beasiswa ini agak sedikit berseberangan dari beasiswa Asing. Beasiswa ini lebih identik dengan keterikatan. Keterikatan ini bisa formal maupun non-formal, bisa di atas kontrak bisa juga tidak. Saya belum pernah menerima beasiswa LPDP atau DIKTI, tetapi saya punya beberapa teman yang menerima dua beasiswa tersebut. Saya temukan memang penerima beasiswa dalam negeri ini diharapkan untuk kembali mengabdi ke negeri sendiri, bisa jadi apa saja. Kalau DIKTI mungkin harus kembali jadi dosen atau peneliti. Bahkan beasiswa DIKTI sudah menetapkan aturan ikatan mengabdi, misalnya 2N +1 (N = lama masa studi). Kalau sekolah 3 tahun, berarti pulang harus mengabdi 7 tahun. Kalau saya seorang PNS, pilihan beasiswa ini bagus untuk kelangsungan karir saya di institusi asal. Itu kenapa beasiswa dari negeri sendiri lebih diincar oleh PNS atau staf BUMN. Perusahaan BUMN sendiri juga memberi jatah sekolah untuk pegawai nya yang berprestasi, tapi syaratnya harus kembali mengabdi juga.

Things to consider

Saya pernah nemu tweet cerita tentang seorang penerima beasiswa dari negeri sendiri (lebih tepat nya sumber dana dari rakyat Indonesia) yang studi di luar negeri, isi foto nya traveling kemana-mana, belanja barang branded, pokoknya mengundang orang untuk berjulid. Katanya, kok duit negara dipake buat seneng-seneng? Bukannya dipake belajar? Ini pun jadi kontroversi.

Saya sendiri sebagai mantan mahasiswa yang pernah sekolah di Eropa, tahu betul kalau tugas utama saya itu belajar, tapi apakah saya dilarang untuk jalan-jalan saat akhir pekan dan posting foto di media sosial? Kontrak beasiswa saya tidak berkata demikian, selama saya ikut kelas, ngerjain tugas, dan melakukan semua administrasi, tidak ada yang melarang saya jalan-jalan saat libur panjang atau belanja sepatu atau mantel dingin pakai uang beasiswa. Saya sendiri tidak punya hak untuk menjudge si mahasiswa yang jalan jalan dan belanja, kalau tugas belajar dia tetap dipenuhi, dan performance akademik nya bagus, Why not? Selama tidak melanggar aturan/kontrak tidak masalah.

Yang jadi masalah ketika si penerima beasiswa meninggalkan tugas akademik nya, dan uang beasiswa full digunakan untuk senang-senang, itu jelas ngaco. Apalagi pake uang rakyat.

Dari kacamata WNI, uang Rakyat Indonesia ini memang cukup sensitif dibanding Uang Rakyat dari negara lain. Saya pernah beberapa kali ikut program yang disponsori dari pajak rakyat negara yang mengundang, sempat dimention beberapa kali kalau program ini harus dijalanin dengan maksimal. Disitu saya paham kalau saya tidak boleh take for granted. Program nya juga hanya membiayai tempat tinggal, makan, dan transportasi PP ke kampus. Selebihnya kalau saya mau beli sesuatu atau pergi ke tempat lain, saya harus ngocek uang sendiri. It’s fair enough.

Polemik ini yang membuat saya lebih memilih beasiswa asing dibanding beasiswa dari negeri sendiri.  Karena saya gak mau, ketika lagi libur Natal, setelah penat mengikuti ujian akhir yang berat dan menyusun publikasi ilmiah yang jelimet, lalu saya berlibur yang tentunya pakai dana beasiswa, saya dianggap tidak menggunakan uang rakyat dengan benar karena saya posting foto liburan di Italy. Saya bukan anti beasiswa negeri sendiri, tapi menghindari perilaku zalim memanfaatkan uang rakyat yang tidak semestinya padahal bisa digunakan untuk membantu keluarga yang membutuhkan, saya jadikan beasiswa dari negeri sendiri sebagai pilihan terakhir, andai gak keterima dimana mana. Mungkin ada yang tidak setuju dengan pendapat saya, tidak apa-apa. Tapi ini prinsip yang saya pegang. 🙂

So, kamu mau ambil yang ngasi kamu kebebasan atau yang ngasi ikatan? 🙂

  1. Waktu Pencairan Beasiswa

Ini juga jadi penciri kedua beasiswa. Jatuh tempo cair nya beasiswa biasanya berbeda-beda.

Misal, beasiswa asing cair di awal bulan, sedangkan beasiswa negeri sendiri cair di akhir bulan.

Kalau masalah ketepatan waktu, kedua nya mungkin tepat waktu dan mungkin juga terlambat.

Pengalaman saya menerima beasiswa Erasmus, saya belum pernah ngalamin kasus telat cair.

Tapi saya pernah dengar penerima beasiswa dari negeri sendiri mengalami telat cair. Bahkan pencairan nya dirapel beberapa bulan. Kalau yang punya dana cadangan sih gak akan jadi masalah ya, bisa lah ditahan sebentar pake tabungan. Kalau yang gak ada tabungan? Bisa jadi masalah, gak lucu juga lagi sekolah eh berhutang, yang ngutangin heran kok dapet beasiswa tapi ngutang. J Saya dengar beasiswa dari negeri sendiri sudah mulai membaik dalam hal ketepatan waktu pencairan. Semoga terus konsisten.

Sekolah sudah selesai, Beasiswa baru cair

Saya pernah nerima beasiswa dari negeri sendiri (tapi untuk studi di dalam negeri), tepatnya dari perusahaan swasta terbesar di Indonesia. Dan pengalaman nya juga kurang mengenakan. Beasiswa saya cari 1 tahun setelah saya WISUDA! I’m not even kidding.. 50% beasiswa cair 1 tahun setelah saya wisuda, lalu sisanya cair 2 tahun setelah saya wisuda. LOL. Dari kejadian ini, saya jumpalitan nyelesain sekolah, untung bisa ngutang ke Mama, dan nebus utang setelah beasiswa cair, tanpa bunga yang melilit. Tapi saya tetap bersyukur juga beasiswa tetap cair. Masih banyak orang diluar sana yang bernasib apes, dibilang menerima beasiswa, sampe lulus beasiswa nya gak cair-cair.Lebih sedihnya lagi, konon duitnya ditilep sama makelar nya atau “orang dalam” kampus nya, miris banget deh L

Ini jadi alasan kedua kenapa saya agak-agak trauma sama beasiswa dari Indonesia. Monmaap, kayanya nasib saya emang kurang mujur.

 

  1. Tunjangan Tambahan

Nah, kalau urusan tunjangan, saya bisa acungkan jempol ke beasiswa dari negeri sendiri. Biasanya beasiswa negeri sendiri suka ngasi fasilitas tambahan di luar uang saku seperti tunjangan untuk pasangan atau anak yang ikut atau tunjangan beli buku, dan lain-lain. Kalau beasiswa asing, biasanya jarang ada tunjangan, allowance beasiswa sudah termasuk biaya beli buku dan lain lain, jarang juga ada tunjangan khusus untuk anggota keluarga. Artinya, anggota keluarga harus biaya sendiri atau ngatur-ngatur dari beasiswa yang kita terima. Beasiswa dari negeri sendiri biasanya agak ramah keluarga, tapi ada satu beasiswa asing yang cukup ramah keluarga, yaitu DAAD – Beasiswa Jerman. DAAD masih memberi tunjangan untuk anggota keluarga. Dibanding Erasmus, DAAD ini lebih ramah keluarga.

Buat pemburu beasiswa yang sudah berkeluarga dan memiliki anak, ini bisa jadi pertimbangan khusus. Meski ada banyak penerima beasiswa asing yang bawa keluarga, mereka masih bisa survive dengan uang beasiswa yang ada. Cara lain untuk survive bisa dengan berjualan atau bekerja paruh waktu. Sebenarnya kalau hidup nya sederhana, bisa banget kok, gak perlu kuatir. J

  1. Proses Seleksi

Proses seleksi kedua tipe sumber beasiswa ini juga beragam, bahkan gak bisa dibedakan hanya dari asing atau negeri sendiri. Di dalam beasiswa asing, proses nya bisa beda-beda. Begitu juga negeri sendiri, proses dan aturan nya beda-beda. Ini perlu dipelajari sama pemburu beasiswa.

Misal LPDP itu mewajibkan pelamar beasiswa untuk mendapatkan surat penerimaan dari kampus yang dituju dahulu, atau biasa disebut LoA (Letter of Acceptance). LPDP akan proses lamaran beasiswa yang sudah menyertakan LoA. Untuk mendapat LoA , ada proses nya sendiri. Sebelum melamar beasiswa LPDP, Kita melamar ke kampus yang dituju, ada yang tanpa biaya, ada juga yang berbiaya. Intinya ada dua proses seleksi yang harus dijalankan. Saya pikir DIKTI juga demikian. Pemberi beasiswa dari negeri sendiri biasanya tidak ikut-ikutan dalam proses menyaring mahasiswa baru di universitas tertentu, tugas mereka hanya menyaring calon penerima beasiswa dan memberikan beasiswa sesuai syarat.

Salah satu beasiswa Asing yang mengadopsi model seperti di atas itu beasiswa Fulbright. Yang menarik, kita bisa diterima dulu beasiswa-nya, tapi melamar universitas nya bisa menyusul kemudian, bahkan dibantu sama lembaga beasiswa.

Sebagian besar beasiswa Asing biasanya terkoneksi dengan kampus tujuan. Misal beasiswa MEXT akan terhubung sama universitas di Jepang, jadi berkas yang dikirim ini ditujukan untuk melamar ke kampus sekaligus beasiswa. Sekali lagi, proses seleksi setiap beasiswa SANGAT beragam. Ini jadi tugas pemburu beasiswa untuk menelusuri proses seleksi beasiswa yang dituju.

Poin-poin yang saya sebutkan tidaklah mutlak, mungkin saja berubah, tapi itu gambaran dari hasil observasi dan pengalaman paribadi, tapi umumnya ya seperti itu. Nah, poin-poin di atas bisa dijadikan bahan pertimbangan teman-teman. Dari kondisi, kebutuhan dan tujuan  teman-teman, kira-kira beasiswa mana yang lebih cocok? Gak ada salahnya juga melamar dua-duanya, selama tidak dilarang. Tapi hati hati akan runyam kalau keterima dua-dua nya, hehehe.

 

PEMBURU BEASISWA TIPE APA KAMU?

Postingan berikut nya saya akan ngupas soal tipe pemburu beasiswa, memilih kampus tujuan atau negara tujuan studi, kriteria apa yang penting saat memilih dan menelusuri kembali apa tujuan dasar teman-teman untuk sekolah di luar negeri. J Simak postingan berikut nya ya!

Salam,

@annisaa_potter

(Buat yang baru pertama kali baca tulisan saya, silahkan visit profil Linkedin saya di LINK INI ya, salam kenal )