Living with American

Congratulations, you just got a new host family!

Ada satu email masuk dari Jaimie, American Council yang memberitahukan bahwa saya sudah mendapat host family. Sudah menjadi bagian dari program YSEALI Professional Fellow kalau saya akan tinggal di rumah orang Amerika. Ketika tahu, I am super duper excited!

Saya sudah keliling 31 negara, tapi saya baru sekali tinggal di rumah orang lokal di Jepang, itu pun hanya semalam, jadi kurang berasa. Setiap kali keluar negeri, saya selalu ingin tinggal di rumah orang asli negara itu dan merasakan hidup seperti orang lokal, bukan seperti turis atau tamu. Tidur di hotel berbintang memang enak, tapi tidur di rumah orang lokal jauh lebih asik! Akhirnya kesempatan ini datang juga, dan negara-nya gak tanggung tanggung! Kyaaa~

Saya buka email, dan baca dengan seksama, host family saya adalah seorang ibu lanjut usia berumur kisaran 70-80 tahun yang tinggal sendiri di rumahnya. Dia sudah pensiun dari pekerjaannya, sekarang aktivitas hanya ikut kegiatan relawan. Her name is Antoinette Condo. Saya akan tinggal di rumah Antoinette selama 4 minggu di kawasan Sub-Urban Arlington, Virginia. Arlington nama kotanya, Virginia nama state/provinsi-nya.

Virginia

Saya tidak sendiri, ternyata da dua orang Fellow dari Malaysia dan Filipina yang akan tinggal bersama . Duh, tiba-tiba saya keinget film serial Gilmore Girls yang mengisahkan seorang single mother dan anak gadisnya yang tinggal di sebuah kota kecil di AS. Rasa penasaran saya makin bertambah ketika mengingat film itu, disitu saya lihat neighbourhood di Amerika itu awesome! Dan moga-moga mirip seperti yang ada di Gilmore Girls, hehehe.

Disclaimer : Cerita saya ini tidak mewakili seluruh kultur orang USA, USA itu besaarr banget, dan karakter orang nya beda-beda. sama lah kayak Indonesia. 

Meet my Host Mum

Setelah mengikuti orientasi di Washington DC, saya, Azrin (Malaysia), dan Janine (Filipina) dijemput oleh Antoinette, host Mom kami dan disitu kami berkenalan. Dia terlihat sudah tua, rambutnya beruban, tapi masih strong banget! Dia jemput kita dengan nyetir sendiri, cukup langka sih nemu nenek-nenek tua nyupir sendiri. Ini keunikan pertama. Antoinette ramah sekali, dia memulai percakapan di dalam mobil dan mengantar kita ke Groceries untuk beli bahan makanan. Note: Selama program YSEALI fellow, makan pagi dan makan malam ditanggung oleh host family kita, jadi saat belanja makanan kita gak perlu bayar! Kecuali kita beli barang pribadi, kayak sabun mandi, kosmetik, dll.

Saat belanja di groceries, saya menyalakan kamera untuk merekam beberapa video untuk bahan Vlog saya. “Is that okay if I take some pictures and you are in my video?”Tanya saya sebelum memulai.

Jawabannya?

“No!”

Ternyata dia gak suka difoto atau direkam, untung aja saya nanya duluan. Kalau engga, dia pasti gak nyaman tiap saya nge-Vlog, hehehe. (so untuk menjaga privasi-nya, saya engga akan posting foto Host Mum saya ya).

Studler Tips. Tidak semua orang di dunia ini suka difoto dan nyaman diajak selfie kayak orang Indonesia pada umumnya. Sebaiknya, tanya dahulu apa dia bersedia difoto atau direkam, jika dia bilang tidak, gak perlu baper, bukan maksud dia gak suka sama kita, tapi memang ada sebagian orang yang tidak suka difoto atau fotonya tersebar di jagat maya.

Setelah dari Groceries, kami pergi menuju rumah Antoinette, North Kensington Street.  Masuk ke area perumahan, huwaaaa… I’m going to live like American for a month! Deretan rumah rumah berhadapan satu sama lain terlihat bagus dan asri, persis kayak rumah di The Sims! Wkwkwk (ketauan anak The Sims). Sampai di depan rumah Antoinette. Rumahnya tipikal rumah Amerika, ada lawn besar berikut dengan mini porch-nya. Saya senyum senyum sendiri pas liat rumahnya mirip dengan persepsi saya dengan rumah di Amerika. Saya sukaaa banget sama rumah rumah sub urban Amerika. Kami angkut koper masing-masing ke dalam rumah. Keajaiban berikutnya adalah Antoinette gak perlu kunci pintu kalau di rumah gak ada orang. Wow! Rumahnya engga ada pagar, dan pintunya gak dikunci. Langka sekali ini, btw apa dia gak takut dicolong ya isi rumahnya?  Sangat berbeda jauh dengan rumah orang tua saya, kunci pintu rumah dilengkapi dengan aneka gembok atas, tengah, bawah, wajib dikunci mau ada orang atau gak ada orang, karena dulu sering kecolongan. Hehehe.

Janine, Azrin, saya di depan rumah Antoinette

Rumah Antoinette ini tidak kecil dan tidak juga besar, tapi nyaman banget. Masuk ke dalam rumah, saya langsung lihat ruang tamu, meja makan dan tangga menuju lantai atas. Rumah Antoinette punya empat kamar tidur, satu di bawah tiga di atas. Kami bertiga disuruh berbagi kamar mana yang mau kami tempati. Gak pakai lama, saya dan Azrin ambil kamar di atas, Janine kamar di bawah (FYI, kamar bawah lebih gede, hehe). Tapi saya pilih di atas, biar agak lebih private.

Kamar tidur saya cukup minimalis, dinding warna hijau toska da nada jendela yang bisa liat halaman dan jalan. Disitu hanya ada satu kursi goyang dan satu single bed yang terlihat nyaman dan udah ngajakin tidur. Duh ngantuk banget!

Kamar yang awalnya rapi, berubah jd berantakan setelah saya huni. Hehehe

HOUSE TOUR

Antoinette mengajak kami melihat seisi rumah dan bagaimana cara menggunakan beberapa mesin yang ada di rumah. I heard that Americans use lots of machines for doing house chores, so once you live with American family, make yourself familiar with all machines! Tur rumah dimulai di dapur, dia menunjukkan microwave, kompor listrik, hingga dishwasher. Dapur nya compact banget, bahkan tempat sampahnya ada di dalam lemari, jadi dapur engga keliatan kumuh. Menariknya lagi, di Virginia ada peraturan daerah tentang pemilahan sampah di rumah, setiap rumah tangga dikenakan iuran untuk pengelolaan sampah. Tur berlanjut ke basement, atau ruang bawah tanah, nah ini dia yang kutunggu!

Kalau sering nonton film Amerika, pasti engga asing dengan Basement. Hampir semua rumah di Amerika punya basement, biasanya basement digunakan untuk ruang entertainment, gallery, hingga ruang laundry. Turun ke basement, saya lihat ada fireplace dengan sofa empuk, sebelahnya ada TV agak jadul dan lemari berisi buku-buku bacaan dan film-film. OMG, suka banget sama ruangan iniiii.

Saat di basement, kami ditunjukkan Laundry room. Disitu ada dua mesin yang bisa kita gunakan, : mesin cuci bukaan atas dan mesin pengering baju. Disini gak perlu jemur baju manual, cukup cemplungin cucian ke dalam mesin, 1 jam kemudian, voila! Kering!  Untungnya saya pernah tinggal di Jerman, mesin-mesin ini sudah cukup familiar buat saya.

Nah, kalau di dalam rumah, apa kita harus pakai sepatu atau boleh telanjang kaki?

Sebenarnya tidak ada aturan boleh tidaknya pakai sepatu/sendal dalam rumah, tapi kalau lihat host mom saya sehari-hari menggunakan sendal rumahan, dan kadang dia sudah pakai sepatu dari dalam kamar tidurnya ketika mau pergi. Intinya bebas, mau pakai sepatu masuk kamar juga gak papa. Host mum saya tidak pernah protes. Since I’m very very Asian, saya lebih sering telanjang kaki. Tiap pakai sendal hotel pun (saya bawa dari Indo), ujung-ujungnya lepas mulu. Hehehe. Saya lebih sering pakai kaos kaki dalam rumah, karena sedang musim gugur, suhu seringkali drop di malam hari.

Studler Tips. Tinggal di rumah host family ini berarti kita punya alamat tinggal sementara selama di AS. Nah, selama saya disana, saya manfaatkan untuk belanja online barang-barang yang gak bisa saya dapetin di Indonesia via Ebay atau Amazon. Saya pun beli buku bekas dan board game dan dikirim ke alamat host family. Psst, Amazon sering ngasih free ongkir lo untuk US residence!

MAKAN-MAKAN

Saya tidak pernah menemukan tipikal makanan khas Amerika selama disana. disana makanan apa aja ada. Antoinette penyuka keju, jadi dia sering menyajikan makanan dengan keju, yummy!

Makan malam pertama saya di rumah Antoinette, saya disuguhi tumis asparagus, butter, dan mashed potato. Enak banget! Inget Asparagus panjang gini jadi inget Dinner scene di film American Beauty.

“Please pass me that F* Asparagus!” – Lester Burnham

Karena Saya dan Azrin dari Malaysia muslim, Antoinette tahu kami harus makan makanan halal. Jadi, kami diberi kebebasan untuk masak sendiri, meski kadang-kadang dia menyiapkan makanan untuk kita, dan inshaAllah terjamin halal. Selama di US, sarapan pagi saya seringnya American style : sereal dan susu, siangnya saya suka bawa bekal nasi lauk plus buah pisang atau apel ke kantor, malamnya masak makanan Asia atau kadang makan di luar.

SEJARAH IMIGRAN 

Tinggal bersama Antoinette, kami sering menghabiskan waktu bersama di malam hari, dinner bareng, masak bareng, dan bersihin dapur bareng. Disitu dia banyak bercerita tentang sejarah keluarganya.  Mungkin teman-teman sudah tahu ya kalau Amerika itu bagaikan melting pot, orangnya kebanyakan imigran dari negara lain. Maka, banyak yang bilang gak ada orang asli Amerika, kecuali kaum Indian yang populasinya menurun karena sempat dibantai oleh pendatang. Kebanyakan orang Amerika itu berketurunan Irish, Italian, German, Asian, Arabian, dll.  Nenek moyangnya merantau ke Amerika, dan hidup dan beranak pinak disini. Ini berlaku juga untuk Antoinette. Dia berketurunan Italia. Kakek neneknya asli dari Italia, kemudian saat perang dunia II pecah. Denger ceritanya sedih deh, kayak di film perang. Kakek nya dia itu sempat terancam jadi prisoner of war (kalau gak salah kakeknya tentara) ketika Italia dipegang oleh Diktator Musolini. Ancaman itu engga Cuma untuk kakeknya tapi sekeluarga, termasuk ibunya Antoinette. Takut ancaman dibunuh, ibunya diungsikan ke Amerika Serikat naik kapal kecil. Dia suruh kami membayangkan ketika seorang ibu pasrah berpisah sama anaknya di beda benua pada saat itu, dan lihat anaknya naik kapal bersama adik-adiknya ke negeri orang.

That must be very hard for her..” kata Antoinette sambil memandang bingkai foto keluarganya.

Jujur sih, saya sendiri gak mau membayangkan bila saya hidup di jaman perang dunia II. Nonton filmnya aja saya udah ngeri sendiri. People don’t many options during those hard times. Cerita Antoinette hanya satu dari sekian puluh bahkan ratus juta imigran yang merantai dari daerah asalnya ke Amerika.

Ibu Antoinettetumbuh besar di Tennessee, bagian Selatan AS, dia pun lahir dan dibesarkan disana, tapi setelah itu dia pindah ke Arlington. Saya akhirnya ngeh kalau Southern accent dia keliatan banget. Southern accent bukan aksen favorit saya untuk saya kuasai, tapi saya suka Southern accent karena unik dan kocak. Hehe. Mengingatkan saya dengan film Django Unchained, Forrest Gump sama Kingsman 2 : The Golden Circle.

Pasti pernah dengar y’all, yonder, momma, reckon, ain’t kan?  That’s Southern Accent!

Tentang kehidupan pribadi-nya, dia engga begitu terbuka untuk cerita, tapi yang saya dengar, dia sudah dua kali menikah, dan sekarang dia tinggal sendiri. Suami pertama nya tentara angkatan laut, dan pernah ikut WW II. Dan yang bikin dia lebih keren adalah anaknya kerja di CIA, alias badan intelijen Amerika. Karena anaknya kerja di CIA, dia engga boleh ketemu siapapun kecuali keluarganya, so bukannya dia gak mau ketemu kita, tapi kalau dia ketemu kita di rumah ini, dia harus buat report siapa aja orang yang ditemui plus profilnya. Intinya, rempong. Ternyata gak enak juga ya kerja di badan intelijen, although it looks cool to have a job in CIA. Alhasil host mum saya selalu pergi dari rumah untuk jenguk cucunya di rumah anaknya.

Host mum saya sudah pensiun, jadi aktivitasnya kebanyakan kegiatan  sosial, mulai volunteer di gereja, jaga cucu, olahraga, dan traveling! The coolest thing of her is she can travel by car on her own!

Bayangin umur segitu, masih berani nyupir sendiri ke state lain. Dia bahkan pernah nyetir ke Kentucky selama 12 jam, sendirian! I wish I could do that when I’m old, dan jika Allah memberi saya umur panjang. Host mum saya ini wanita yang sangat independen, baik dari pemikirannya maupun kesehariannya. Urusan rumah tangga dia kerjain sendiri, tanpa pembantu. Dari pemikirannya, dia cukup berwawasan luas, dia rajin dengar audiobook, dan yang saya suka dari dia adalah dia penyuka seni lukisan! Satu malam, saya mention kalau saya penyuka Impressionist painting, lalu dia membuka buku-buku lukisan yang dia punya, dan kami berdiskusi seputar lukisan. Ini hal yang bikin saya kangen kalau berada di luar negeri. Di Indonesia, saya jarang sekali menemukan orang yang memiliki ketertarikan di dunia yang saya sukai, I find none in my circle so far. Kebanyakan ngomongin gossip sama politik. Hehehe. Saat tahu saya mau ke New York, dia memberikan rekomendasi museum yang ada koleksi Impressionist. Untungnya, kedua teman fellow saya juga penyuka seni.  Kami pernah dibawa Antoinette ke Phillips Collection di 21th Street DC untuk melihat koleksi nya Renoir dan Rothko.

Selama tinggal bersama Antoinette, kami bertiga pernah dibawa jalan-jalan keliling DC untuk melihat FDR (Franklin Delano Roosevelt) Memorial, Abraham Lincoln Memorial, dan Marthin Luther King Memorial. Dia gak Cuma anter kita muter muter memorial, tapi dia juga berbagi pandangan nya tentang tokoh-tokoh Amerika tersebut.  DAN, DIA BENCI BANGET SAMA DONALD TRUMP! Saya ngeh kalau dia sangat idealis ketika bicara soal politik. Padahal, host mum saya ini seorang Republican. Sejak Trump kepilih dia menjadi apolitic. Saat saya berada disana, Virginia state sedang ada pilkada untuk senat daerah (macam anggota DPRD) sama State Governor. Hampir tiap hari orang ketok pintu kasih brosur partai (Disana gak maen pasang spanduk dimana, apalagi baliho gede kayak baliho Cak Imin, mahal cuy!). Antoinette selalu tidak menyambut dengan senang tiap ada yang ngasih brosur. Well, sebenarnya gak Cuma Antoinette aja sih yang begitu, hampir semua orang Amerika di East Coast lagi kesal banget sama pemerintahan Trump. (Kalau bahas soal Presiden Orange selama saya disana bisa panjang nih!)

Di AS, dua partai besar yang sering lolos ke ajang pilpres AS itu : Democrate Party (partainya Obama, Bill Clinton) dan Republican Party (Donald Trump, George W Bush).

Kebencian dia ke Trump juga sempat dilontarkan dalam bentuk jokes yang bikin saya kaget. Satu hari, saya pergi jalan jalan di DC, lalu saya cari starbucks untuk ngangetin badan. Dan starbucks terdekat yang saya temukan itu ada di dalam gedung Trump International Hotel. Pergilah saya ke Starbucks itu.

Saat saya pulang, Antoinette menyapa dengan ramah dan tanya “Did you have some fun in DC?”

saya cerita kalau saya melipir ke Starbucks di Trump International Hotel. Tiba-tiba dia respon,

Do not ever step into my house again when you go there!!!

Waduw.

Saya doakan semoga Presiden AS cepet ganti

#2020GantiPresidenUSA