MUSEUM BATIK : KODE-KODEAN ALA ORANG JAWA

Saya kira Generasi Milenial lah yang mempelopori “kode-kodean”, ternyata jauh sebelum itu, (jauuuh dari generasi Tik Tok Alay), orang Jawa jaman dahulu lah yang memulai kode-mengkode. Bukan dengan kata-kata, tapi dengan media yang jauh lebih elegan, yaitu dengan motif Batik.

Menurut saya, sebagian besar kondisi museum di Indonesia ini menyedihkan sekali.. usang, tidak up-to-date, dan minim cerita. Derajatnya mungkin jauh dengan mall-mall yang makin terupdate. Mungkin itulah kenapa banyak generasi muda yang lebih asik tiktok-an daripada ngepoin perjuangan pahlawan memerdekakan Indonesia. Kondisi ini berbeda dengan museum yang pernah saya kunjungi di negara lain terutama di Eropa dan Amerika yang umumnya kekinian, sarat dengan cerita dan enak dilihat. (Moga-moga ini bukan gejala post-travel-abroad syndrome ya, begitu mengagumi luar negeri, lalu merendahkan negeri sendiri).

Eh, Ternyata, tidak semua seperti itu lo. Ada beberapa museum yang saya temukan sangat menarik, salah satunya museum yang baru saja saya kunjungi di kota Solo yang menjadi ciri khas kota itu sendiri: Museum Batik.

Kota Solo ini sebenarnya kota yang selalu ingin saya kunjungi, namun sayangnya sejak kecil setiap saya ikut mudik keluarga ke Madiun dengan angkutan darat, kota Solo hanya jadi tempat singgah saja., gakpernah muter-muter, apalagi bermalam. Akhirnya belasan tahun kemudian, saya kesampaian juga berwisata ke kota ini!

Buat saya, Solo itu kota penuh sejarah dan budaya. Salah satu keraton Jawa ada disini, meski saya dengar katanya kondisinya agak menyedihkan. Tapi kota Solo tetap menjadi pilihan banyak orang sebagai destinasi wisata.

Hanya ada dua hal wajib yang ingin saya lakukan ketika wisata ke Solo: nyobain angkringan dan mengunjungi museum. Sisanya Sunnah, hehe. Bermodalkan referensi dari Google Map, I found one interesting spot: Museum Batik Danar Hadi.

Wah liat museum Batik di kota tempat lahirnya batik? It’s a must!

Museum nya terletak di jalan , salah satu jalan utama di Solo. Saya datang kesana setelah makan siang dengan mbak Vidya, teman YSEALI Fellow saya yang asli orang Solo. Asiknya di Solo ini, trotoarnya lebar banget! Saya dan suami memutuskan jalan kaki dari resto Kusuma Sari ke museum yang berjarak 600 meter saja.

Ah, jarang-jarang nih jadi pejalan kaki yang enak berjalan kaki di trotoar, sampe gak kerasa kalau kami tiba di depan gedung bertuliskan Batik Danar Hadi. Saya sudah tahu merk batik ini sebelum kesini, salah satu batik berkualitas premium, sebelas dua belas dengan batik Keris, namun saya gak punya satu pun Batik Danar Hadi hehehe.

Gedungnya terlihat bangunan lama, setelah masuk ke ruang utama. Wowww… nuansa Indonesia nya kerasa banget dengan display batik yang elegan, di sisi kanan ada display beberapa koleksi Batik Danar Hadi dan di sebelah kiri ada meja panjang untuk kasir dan loket tiket.

Untuk mengikuti tur museum Batik, kita harus membayar Rp 35,000 per orang (dewasa) dan Rp 15,000 untuk pelajar. Untuk ukuran museum Indonesia, harga tiket terasa mahal, tapi kayanya museum ini worth to see, pikir saya. Saya mengeluarkan uang Rp 70,000 untuk dua tiket. Mbak Kasir langsung memberi tahu bahwa tiket sudah termasuk tour guide yang akan menjelaskan tentang isi museum. Sayangnya, selama di dalam museum kita tidak diperbolehkan ambil foto APAPUN karena alasan hak cipta. Huhuhu.

Kami langsung diarahkan ke bagian belakang gedung, ternyata gedung depan ini toko batiknya, museum nya berada di belakang. Kami langsung disambut oleh staf museum dan dikenalkan oleh seorang tour guide, seorang mbak-mbak muda yang sedang bercerita tentang kain batik di depan kami. Hanya ada tujuh orang dalam rombongan kami. Saya mencoba tune in dengan penjelasan mbaknya. Selama tur ini, saya memperoleh informasi yang luar biasa menarik. Batik sudah menjadi bagian dari kehidupan orang Indonesia, tapi engga semua tahu asal muasal Batik dan tetek bengeknya. Dan ternyata dunia Batik itu lebih besar dari yang saya duga! And, I’m sure, you’ll be gasped by the true story which I will tell you very soon!

Studler Info. HTM Museum Batik Rp 35,000 (Dewasa) dan Rp 15,000 (pelajar).

Pintu masuk museum Batik

Founder Batik Danar Hadi adalah Santoso Dullah, seorang pengusaha batik asal Solo. Kok nama batik dan penemunya beda? Kata “Danar Hadi” ini berasal dari gabungan nama istrinya “Danarsih” dan bapak mertuanya “Hadi”. Di Museum ini kita bisa melihat portrait foto keluarga besar Santoso Dullah dan Danarsih, mulai dari orang tua, mertua, sampai anak-cucu.

Museum ini terbagi dalam beberapa ruangan yang terhubung satu sama lain. Alur cerita dalam museum ini tidak berdasar pada timeline sejarah, tapi lebih pada tema. Setiap ruangan, kita bisa melihat display aneka jenis kain batik di atas meja kayu, frame-frame foto jadul terpasang di dinding bewarna putih, dan beberapa barang-barang antik. Misi lahirnya museum Batik Danar Hadi ini ada tiga : Pelestarian, pendidikan, dan aset wisata.

Pemandu menceritakan bagaimana filosofisnya orang Jawa jaman dahulu dalam melihat batik, tidak seperti saya, seorang turunan separo Jawa yang tidak begitu memahami makna setiap corak batik, haha. Kami ditunjukkan sebuah kain batik yang merupakan batik yang hanya boleh digunakan oleh kaum priyayi. Jaman kerajaan dahulu, batik itu simbol status sosial. Ada motif batik yang mencerminkan kaum priyayi, ada juga batik yang mencerminkan abdi dalem atau well.. budak. Dulu, pakai batik itu gak boleh semena-mena, dan gak bisa pilih corak sesuka hati.

Keraton Surakarta dan Keraton Yogyakarta dulu pernah bersatu, lalu kemudian pecah lewat perjanjian Giyanti. Dari perpecahan ini, lahirlah ajang saling merendahkan lewat corak batik, ada sebuah corak batik yang menunjukkan kaum priyayi di Solo, tapi di Jogja justru itu corak untuk kaum non-priyayi. Biar kaum priyayi Solo kalau ke Jogja terlihat kelas rendahan, Hahaha. Lucu banget ya berantemnya.

Dari sini, saya paham kalau orang Jawa itu tidak suka banyak bicara (kayak suami saya, hehe), tapi lebih suka menyiratkan lewat sesuatu, salah satunya batik.

Belum selesai dari situ. Untuk keluarga kerajaan, setiap kali ada sebuah kejadian maka anggota kerjaan seperti putri atau pangeran harus mengenakan batik motif tertentu. Misal saat putri raja datang bulan pertama kalinya, dia akan mengenakan kain batik kemudian diadakan acara syukuran kalau akhirnya putri ini siap untuk menikah. Hahaha. Saya datang bulan pertama kali itu kelas 5 SD, itu pun nyadarnya pas naik ayunan, gak kebayang kalau saat itu ortu saya bilang ke saya saat kelas 5, “nak kamu akan dinikahkan..” wkwkwk.

Berlaku juga untuk pangeran yang sedang mencari istri. And, this is the romantic part, ketika pangeran bertemu wanita yang disukainya, dia gak perlu bilang secara verbal atau ngegombal atau bikin kode-kode di depan itu cewek, pokonya gak pake kode-kode ala jaman sekarang yang bikin geli. Cara pangeran ini super elegan dan klasik, ngodenya pake motif batik. Ketika si pangeran lagi jatuh cinta ama si cewek, dia cukup pakai satu batik yang khusus dipakai saat jatuh cinta. Awwww…. So sweet abis.

Gak kebayang jadi wanita jaman dulu, deg-degan-nya bukan nunggu balasan chat atau ditembak, tapi liat motif batik apa yang dipake si pangeran.

Kami berpindah ke ruangan lain yang menampilkan toples-toples kaca besar berisi benda-benda yang jadi bahan dasar membuat batik mulai dari lemak binatang, lilin, gladagan, mata kucing, hingga microwax (impor dari USA supaya batik tidak cepat kusam), pewarnanya sendiri berasa dari bahan organik, seperti daun nila. Sebelahnya, berjejer kain-kain batik yang menampilkan proses membuat batik tulis asli. Penamaan fase membuat batik menggunakan istilah Jawa: Mori, klowongan, tembokan, wedelan, kerokan, biron, sogan, dan akhirnya menjadi batik. Proses bikin batik itu butuh banyak kesabaran, konon membuat sehelai kain batik Sidomulyo membutuhkan 3-4 bulan, hanya untuk sehelai kain lo! Itulah kenapa harga batik asli itu sangat mahal, karena pengerjaan nya lama. Saya dengar, kita bisa pesan batik yang asli (bukan printing) ke Danar Hadi, hanya harganya tidak bisa disebutkan (saya artikan mahal). Orderan terakhir mereka untuk custom batik itu dari keluarga Presiden Jokowi untuk pernikahan Ayang-Bobby.

Pemeliharaan batik pun sangat hati-hati. Bahan yang digunakan berasal dari bahan organik. Untuk mengusir binatang, merica Putih yang dibungkus Kain kasa diletakkan di dekat kain batik. Sedangkan untuk pewangi, kain batik menggunakan pewangi alami berupa kombinasi daun pandan, bunga mawar, kembang ramping, parutan kencur,parutan jahe,jeruk purut, dan minyak kenanga.

Studler Fact. Batik asli itu juga tidak bisa disinari lampu terlalu lama, karena akan membuat batik menjadi kusam. Museum ini mematikan lampu ketika tidak ada pengunjung agar kualitas batik tetap terjaga.

Riweuh juga yah..

Lalu, Dari mana pembatik mendapat inspirasi motif batik? Konon pembatik harus melakukan beberapa ritual, salah satunya berpuasa. Nanti dia akan mendapat ilham entar dari mana, lalu mulai membatik.

Muter-muter di museum ini, saya gak nyangka kalau jenis-jenis batik itu buanyaaaakk banget. Tergantung siapa yang buat, dimana dibuatnya, untuk apa tujuan pemakaiannya dan pada jaman apa dibuatnya. Enaknya jadi pengguna batik jaman sekarang, gak perlu risau milih batik, cukup sesuai selera saja.

Saya masuk ke ruangan batik Belanda. Ciri dari batik belanda ini punya warna lebih cerah (batik lokal Solo biasanya identic dengan warna coklat), dan dibuat oleh orang pesisir, gambarnya pun berbentuk objek ril seperti bunga, princess, kuda, dll. Menariknya lagi, saya bisa lihat batik bermotif legenda rakyat asal Eropa, seperti Hansel and Gretel dan Putri Salju!

Konon, orang Ningrat itu tidak pakai batik buatan orang pesisir, karena batik pesisir itu dikenal rendahan a.k.a tidak priyayi. Jaman dulu kental sekali urusan ningrat vs non ningrat kalo pake batik. Kemudian, Presiden RI pertama, Ir. Soekarno meminta perancang batik asal Belanda utk bikin batik motif kombinasi yang bisa meleburkan garis ningrat dan non ningrat, dan akhirnya semua orang bisa pake aneka jenis batik seperti sekarang.

Studler Info. Kalo cari batik warna coklat, kita bilang ke pembatiknya kalau saya mau batik sogan atau batik genes” Sogan dan genes itu istilah lain untuk batik warna coklat.

Tur berlanjut ke ruangan baru, disitu saya melihat baju kesukaan saya, Encim! Saya masuk ke ruangan berisikan batik yang mendapat pengaruh dari Cina. Pada awalnya, masyarakat Cina hanya menggunakan batik untuk penutup altar saja, Motifnya itu hewan-hewan yang dipercaya sakral seperti naga,kilin, dan Phoenix.

Pada tahun 1910, orang Cina mengambil konsep batik belanda pertama kalinya, dan setelah itu batik Cina masuk ke ranah pakaian, lahirlah batik encim.  Ciri batik encim itu potongan bagian bawah bajunya itu miring. Saya suka batik encim karena lebih simple dan anggun.

Adalagi sebutan Batik Tiga Negeri, batik ini dibuat di tiga daerah berbeda, buset niat amat yey. Misal, proses awal dilakukan di Yogyakarta, proses kedua di Banyumas, proses terakhir dibuat di Pekalongan. Kainnya keliling dari kota ke kota. Wah, ini namanya #BatikTraveler!

Pada jaman perang dunia, muncul istilah Batik pagi sore. Batik ini didesain dua sisi dengan motif berbeda, motif “Pagi” itu lebih cerah, motif “Sore” lebih gelap, sehingga bisa dipakai bulak balik. Batik ini muncul karena keterbatasan suplai kain saat perang, jadilah pembatik memanfaatkan kain terbatas dengan membuat dua motif. Motif batik juga mengambil dari geografi daerah setempat, misalnya Madura yang dikeliling oleh laut, jadi motifnya ada  cumi dan kapal.

Agama Islam juga memberikan pengaruh dalam sejarah batik. Batik Islam akrab dikenal dengan nama Batik Rifaiyah. Di batik ini, tidak boleh ada motif motif badan utuh (baik manusia atau hewan), karena menurut agama Islam menggambar objek hidup utuh itu haram. ,Jadi solusinya, objek hidup tidak digambar utuh, tapi diganti benda mati yang lain, misal badan dan kaki nya hewan, kepala jadi bentuk lonceng. Bisa jadi, para Sunan ini dulu berdakwah melalui batik, menyisipkan nilai-nilai agama Islam dari produk budaya yang sudah ada. Ibarat sekarang mah para ustadz dakwah pakai Instagram atau YouTube, kalau Sunan ya pakai benda-benda yang populer di jamannya seperti Wayang dan batik. Gak masalah toh, selama pesannya tersampaikan.

Setelah puas keliling museum, pintu keluar langsung menghubungkan ke toko batik (biar pengunjung museum beli batiknya, saya iseng-iseng liat liat batiknya. Batik yang ada disitu semua batik printing, motifnya bagus-bagus, harganya bervariasi, tapi lumayan sih untuk ukuran kantong saya. Ada satu atasan batik warna biru yang menarik perhatian saya, pas saya cek price tag-nya ‘2,5 juta’. Wedewww..

Cuci mata

Tur keliling museum Danar Hadi membutuhkan waktu sekitar 1 jam, saya kira ruangannya tidak besar, ternyata besar sekali! Layout ruangannya juga njowo sekali, penuh dengan batik. Guidenya juga ramah sekali, setiap ada pertanyaan, mereka menjawab dengan santun. Desain interior ruangan ini dilakukan langsung oleh pemilik batik Danar Hadi, dan sedang didaftarkan hak patennya, oleh karena itu pengunjung dilarang ambil foto/selfie di dalam museum. Meski gak bisa foto-foto, museum ini still worth-to-see kalau kamu jalan-jalan ke Solo. Dari musem, saya jadi lebih mengenal lebih dalam tentang orang Jawa dan betapa filosofisnya mereka dalam menjalani hidup, salah satunya tertuang pada batik. Saya pikir Batik memang sangat layak menjadi UNESCO World Heritage!

Proud of Batik