Studler Talk : Mengurangi Komunikasi Klise nan Sensitif

Lebaran sebentar lagi tiba. Semua pasti menyambut dengan gembira, tapi kenyataannya sebagian besar kaum millenials menyambut dengan rasa was-was dan deg-degan, bukan karena hari raya nan fitri-nya, tapi pertanyaan klise yang akan datang bertubi-tubi.

 

Kapan nikah?

Kok belum punya calon?

Udah Isi?

Kok belum hamil?

Kok baru satu anaknya?

Kok gak jadi PNS?

Kok belum lulus-lulus?

Iih sekarang gendutan ya?

Anaknya kok kurus?

Umur setahun anaknya kok belum bisa ngomong?

………………………………………….. (isi sendiri)

 

Memberi pertanyaan klise nan sensitif ini tanpa sadar sering menyinggung hati orang di hari raya idul fitri yang seharusnya dijalankan secara positif dan bahagia bersama opor ayam dan nastar. Meski alasannya pertanyaan itu hanya refleks tanpa mikir atau ga ada topik lain, dan ga ada maksud menyinggung. Tapi faktanya, tidak sedikit orang yang cukup muak dan kesal dihantui pertanyaan tersebut, bahkan beberapa hari sebelum lebaran tiba. Saya punya teman yang memutuskan tidak mudik dengan alasan menghindari pertanyaan tersebut, daripada dia kesal marah, lebih baik jaga perasaan dengan tidak ketemu saudara-saudaranya. Ada juga yang membuat t-shirt bertuliskan”Jangan Tanya Saya Kapan Nikah?” Waktu saya belum nikah, sudah gak terhitung berapa kali saya menghadapi awkward moment yang bikin saya kesal dan kepikiran untuk menghindar aja, bukan dengan maksud mutusin silaturahmi, tapi biar bisa jaga perasaan diri sendiri. Padahal waktu itu umur saya masih 24 tahun (plus jomblo), tapi rasanya kayak udah berumur 45 tahun.

 

Daaan, Mungkin saya juga pernah menjadi seorang ‘jerk’ yang mengajukan pertanyaan yang menyebalkan seperti di atas. Kalau udah pernah dihujani pertanyaan klise dari para ‘pemilik kehidupan sempurna nan fana’, saya sadar banget kalau mulai sekarang ngomong itu harus ati-ati. Pelan-pelan saya jadi belajar untuk mengatur komunikasi yang bisa meminimalisir obrolan klise dan sensitif. Saya belajar juga dari negara-negara lain seperti Jerman dan Jepang yang sangat menghargai kehidupan pribadi orang. Saya hampir gak pernah ngobrolin soal kehidupan pribadi dengan Germans or Japanese. Gak pernah sekalipun orang Jerman Tanya ke saya “Bist du verheiratet?” “Are you married?” atau “Haben Sie eine Kinder? “Udah punya anak?” Orang Jepang juga sama, mereka yang sangat terkenal sopan, pasti bertanya pertanyaan-pertanyaan low kepo detected tapi tetap asik buat dibicarakan.

 

Nah, berhubung lebaran sebentar lagi tiba, saya pengen berbagi tips gimana caranya mengurangi komunikasi klise nan sensitif saat hari raya, kumpul keluarga, reuni dst. Semoga tips ini bisa sedikit membantu dalam rangka menjaga silaturahmi dan menjaga perasaan orang yang diajak ngobrol.

 

  1. Hindari pertanyaan yang “melawan Takdir Tuhan”

 

Kapan nikah? (padahal cuma Allah yang Maha Tau)

Kapan punya anak? (Allah juga yang Maha Tau, kalau anak dibuat dari tepung sih kita bisa minta ke Bogasari)

Kapan lulus? (Allah dan dosen yang tau)

 

Sebenarnya pertanyaan di atas terdengar wajar dan biasa saja (untuk orang Indonesia), kita bisa kasih jawaban yang tawakal : “iya masih usaha, doain aja ya..”, “belum nih, inshaAllah kalau dikasi sama Allah..”. Sebenarnya gak papa banget dikasih perhatian bahkan kita didoakan semoga Allah memberikan apa yang kita harapkan.

Tapiiiii, pertanyaan Klise ini tambah annoying ketika obrolan makin kepo dan judgmental malah menjadi jadi, padahal kitanya juga udah gak mau bahas lebih jauh.

 

“waduh udah nikah berapa taun? ”

” ati ati umur mu udah mau 27 lo, nanti gak ada laki laki yg mau”

“sekolah terus sih, ati ati jangan sekolah ketinggian, susah dapet suami nanti..”

“kenapa kok belum punya anak? ” (btw, lu mau biayain spp anak gue ampe kuliah?)

“itu si Juju lulus tepat waktu, IPK tinggi, dan langsung dapet kerja lo! Ayo kamu kapan…”

 

Menurut saya, orang orang seperti ini masuk ke dalam kategori Toxic People. Mereka akan terus ngulik personal life kita sampai ke akar-akarnya, mungkin mereka khilaf atau lupa kalau agama Islam mengajarkan kalau Rezeki, Jodoh, Maut itu ada di tangan Allah. Kita gak akan pernah tahu kapan itu terjadi. Bahkan orang-orang yang suka nanyain gini bukan dari inner circle kita (sebagian besar inner circle saya dijadiin tempat curhat, jadi mereka paham betul bagaimana berkomunikasi sama saya), justru biasanya orang yang kita kenal tapi gak akrab banget. Misakanl si orang ini bertanya tambah menjadi jadi dan kamu kehabisan akal, kamu pura-pura pingsan aja.

 

  1. Ganti pertanyaan “Kerja dimana? Udah kerja?” jadi “lagi sibuk apa sekarang?”

Ini juga bisa jadi alternatif dalam ngasi pertanyaan. Pertanyaan “udah kerja?” kadang terdengar gimana gitu. Kalau yang sudah kerja, bisa aja jawab “udah, sekarang kerja di PT.Tini Wini Biti”. Nah, kalau yang belum? Atau yang memutuskan untuk tidak kerja kantoran?

Perlu diketahui, sekarang ini kita udah meninggalkan era baby boomer, era yang masih beranggapan sukses itu ya kerja kantoran, menapaki hirarki perusahaan, dan punya jabatan. Sekarang ini jenis pekerjaan itu beragam, dan ada banyak cara untuk mencari rejeki.

Menurut data dari Lonely Planet, 40% pekerjaan di masa depan itu akan dipenuhi oleh freelance job. Artinya? Untuk kerja dan cari rejeki, gak perlu lagi datang ke kantor, berpakaian rapi, dan berangkat pagi pulang sore.

Jadi kalau ditanya “kerja dimana?” jawabannya “umm di rumah..”

Selain itu, sekarang sebagian besar orang memutuskan untuk berwirausaha, ada yang buka toko offline, toko online, buka café, resto, dan masih buanyak lagi.Mau usahanya kecil atau sudah besar, toh niatnya cari rejeki toh?

 

Om : “kerja dimana sekarang jang?”

Ujang : “gak kerja om.. sekarang buka usaha sendiri..”

Om : “wah, hebat, usaha apa?”

Ujang : “bikin angkringan om..”

Om : “oh angkringan..” (mulai tidak minat, kirain usahanya jual kelapa sawit atau ekspor tambang emas)

Ujang : “iya om.. ”

Om : “anak om sekarang sudah kerja di perusahaan minyak asing lo, gajinya 20 juta, dua tahun kerja langsung dipromosiin, kamu sayang banget sarjana teknik, tapi Cuma buka angkringan doank”

Ujang : “iya om, tapi alhamdulilah sekarang peminat angkringan banyak, saya udah buka 100 angkringan di 10 kota, pegawai udah 300 orang, sebulan bisa untung 200 juta, ini kemarin ada investor lokal mau minat nanam modal usaha 10 M biar bisa buka lebih banyak lapangan pekerjaan..”

Om : “oh..” (langsung nelen gorengan sekilo)

 

Saya punya prinsip kalau setiap orang itu berhak milih jalan hidupnya masing-masing, dan ga ada standar kesuksesan yang sama, dan tidak perlu dibanding-bandingkan.

 

Nah, Daripada nanya “kerja dimana?” atau “udah kerja?”, lebih baik ganti jadi “lagi sibuk apa sekarang?”

Pertanyaan itu lebih universal dan ‘kekinian’. Pada dasarnya, manusia itu punya kesibukan. Tapi, sibuk itu gak Cuma kerja kantoran toh? bisa berbisnis, bisa freelance, bisa jadi relawan untuk anak-anak putus sekolah, bisa ikut program tahfidz, bisa memahat kayu, bisa ngeband, bisa les bahasa asing, bisa main sama anak, dan masih buanyak lagi. Orang yang ditanya juga enak untuk memilih kesibukan apa yang ingin dia ceritakan ke orang lain.

Belum lagi, sekarang banyak perempuan yang memutuskan untuk ‘tidak bekerja’ dan fokus membangun peradaban keluarga. Perempuan-perempuan ini ingin mendidik anaknya langsung, tanpa bantuan orang lain. Bahkan saya lihat ada komunitas ibu professional, yang anggotanya berisi ibu-ibu (baik kerja kantoran atau tidak kerja kantoran) berusaha untuk mendidik diri sendirinya supaya kelak keturunannya juga terdidik. Saya lihat web-nya, ternyata ada kursus-kursus untuk jadi ibu professional juga, wow. Jumlah massa-nya? Buanyak!

Sibuk dan produktif itu tidak melulu kerja di satu tempat kok!

3. Fokus bertanya/berkomentar apa yang sedang ia kerjakan, bukan malah mengubah pilihan hidup

Lagi asik-asik ngobrolin bisnis yang lagi dirintis, tiba-tiba komennya cuma “kok gak jadi PNS aja? jadi PNS aja lebih enak, gaji aman, gak ada PHK, pensiun dapet tunjangan… udah jadi PNS aja”

Kesel gak sih? bukan kesel karena pekerjaan sebagai PNS-nya (no offense buat teman teman PNS), tapi karena ada unsur pemaksaan terhadap pilihan hidup yang telah diambil. Mau usaha, mau PNS, mau karyawan swasta, mau pedagang online, mau stay at home mom, semua pekerjaan itu baik asal dikerjakan sungguh-sungguh.

Seorang ibu muda lagi asik bercerita soalnya anaknya yang sedang tumbuh kembang dan lucu-lucunya, ujung-ujungnya cuma dikomentarin “gak nyesel cuma ngurus anak dan gak kerja? sayang lo punya ijazah gak kepake..”

Fokuslah bertanya/komentar soal apa yang sedang dia kerjakan. Kalau orang cerita bisnis, ya komentarilah bisnisnya.. tanya produk apa yang dijual, pelanggannya siapa, dijual dimana produknya, apa yang membuat produknya beda dari kompetitor.

Kalau orang cerita pekerjaannya sebagai PNS, komentarilah apa yang sedang dia kerjakan, berapa lama ngerjainnya, berapa orang timnya, kolaborasi sama siapa.

Begitupun wanita yang sedang asik menjadi ibu muda, komentarilah tentang anaknya yang lucu, mainan apa yang biasa dipake ama anaknya, kalo tidur jam berapa.

banyak kok yang bisa dibahas, dan gak harus ganti topik dan ngarahin dia untuk menyesali pilihan hidupnya sekarang. Setiap pilihan hidup emang gak ada yang sempurna, tapi at least kita memilih karena itu panggilan dari hati. So, Be supportive!

4. Hindari pertanyaan yang berkaitan dengan fisik

Nah! ini dia nih yang sering banget bikin kita bete. “Kok gemukan sih?”

Gak bisa dipungkiri perubahan fisik memang dampak dari apa yang kita lakukan: makan banyak, kurang olahraga, stress (jadi makan mulu). Tapi, kita punya hak pribadi toh mau diapain badan kita ini? Pertanyaan fisik ini kadang maksudnya mau nunjukin sikap perhatian, tapi malah terdengar nyinyir. Sering juga komentar merembes kemana-mana, dan mendadak jadi pakar nutrisi (padahal kita gak nanya).

Gak cuma komentar fisik sendiri, kadang komentarnya ke orang terdekat kita yang lain, terutama buat yang punya anak. Beberapa teman saya yang baru menjadi ibu-ibu muda beranak satu, seringkali dibuat stress kalo denger komen anaknya kurus, belum bisa jalan dengan bener, belum bisa ngomong. Bahkan ada teman saya yang gak mau datang ke posyandu terdekat. Alasannya? Karena gak mau dinyinyirin sama ibu-ibu tetangga soal fisik anaknya, dia pernah sekali datang ke posyandu, komentar yang langsung keluar dari mulut ibu-ibu itu: “kok kurus banget sih? umurnya berapa tahun? beratnya berapa? ASI gak tuh bun?” Mata ibu-ibu itu menatap tajam ke si ibu yang punya anak yang kurus seolah olah berkata “ni emaknya kagak becus ya ngurusin anak”.

Kita mudah sekali berkomentar dan membuat kesimpulan yang mengarah ke negatif, padahal kita gak tau gimana berjuangnya teman saya supaya anaknya mau makan. Kalau denger cerita dari teman teman saya yang punya anak,ujiannya itu luar biasa! Kadang saya membayangkan, apa saya bisa jadi ibu yang baik? Saya percaya semua ibu muda pasti mau kasih yang terbaik buat anaknya, dan mau belajar untuk jadi yang terbaik.

Daripada komentar fisik yang cenderung negatif, mending beri komentar yang tulus ngasi perhatian.

“mukanya pucet, kurang istirahat ya? udah makan belum?”

“wuih seger banget sekarang, rajin olahraga ya?”

Komentar fisik itu sering banget refleks dari mulut kita kalau ketemu teman lama. Alternatifnya, mungkin kita bisa ganti dengan nanya..

“Habis dari mana tadi?”

“Naik apa tadi kesini?”

“Wuih seger banget lo sekarang ya! apa nih tipsnya?”

 

5. Tanya Hobi / Update berita terkini

Hobi itu obrolan paling aman dalam pembicaraan, dan topiknya itu luassssss banget.

Mulai dari berkebun, nonton film, baca buku, bikin kue, mancing, koleksi barang, terjun payung, traveling, daki gunung, karaokean, kulineran,  dengerin musik, nge-game dan masih banyak lagi. Ngobrolin hobi itu bakal seru kalau kedua pihak sama-sama menyukai hobi tersebut.  Kalau pun salah satu gak paham juga gapapa, kan bisa jadi wawasan tambahan. Kita bisa bahas update lalu lintas mudik di Jawa, produk yang baru launching, pembangunan jalan atau taman baru, baju Koko Wakanda sampe iklan yang lagi viral macem Qerja lembur bagai Quda. Sebenarnya banyak banget yang bisa kita bahas tanpa harus bahas konten sensitif lo.

Saya sendiri paling seneng ajak orang ngobrolin review film-film terbaru, kayak film Marvel atau seri fantasy atau bahas serunya traveling di negara lain. Saya paling seneng kalau ditanya “Kemarin dari negara mana? Seru gak? “ wah, itu bisa gak habis habis ceritanya. Nah, tapi kalau ngobrolin hobi, tekankan pada kepo positif, jangan menjurus kepo yang negatif.

 

Kepo positif itu macem “Di Australia, berapa lama kemarin? Kota apa yang didatangi? Disana mahal-mahal gak makanannya? Yang khas disana apa? Dalam rangka apa kesana? Kalau mau kesana sehari harus nyiapin uang berapa ya kira-kira? Disana solatnya gimana? Kalau bulan Juli masih dingin ga ya?” Intinya jawabannya juga informatif.

 

Nah, kepo negatif tuh macem gini:

“Kemarin ke Korea ya? Wuih lagi tajir nih… mana oleh-olehnya? Emang dikasi cuti sama bos buat jalan-jalan? Kok perginya sendirian? suami gak diajakin? Daripada buang buang duit ke Korea, mending dipake Umroh deh.. Kok bisa sih dapet beasiswa? Ah, lu mah pinter sih, gak kayak gue, males”

 

Paham kan bedanya? Atau ada yang pernah ngalamin ini?

 

Kalau pengalaman pribadi saya sih suka dikait-kaitin ama yang lain, misal perihal punya anak. Orang gampang banget menjadi judgmental dan nyambung-nyambungin satu urusan pribadi ke urusan lain.

“Traveling terus sih, gimana mau punya anak, suami ditinggal terus..”

“Pergi-pergi terus, suami gak diajak? Kasian gak pernah diajak.. “ (padahal suami saya kerja, dan saya juga traveling karena dalam rangka urusan bisnis).

Saya Cuma bisa elus dada, dan sebisa mungkin cari orang lain yang bisa diajak ngobrol soal ternak lele.

6, Meski kurang lazim di Indonesia, kita bisa bahas soal cuaca dan sejarah.

Di luar negeri, sangat wajar orang ngobrol soal cuaca, karena cuaca mereka berubah sepanjang waktu, mereka harus update info cuaca. Waktu di Jerman, saya terbiasa ngobrolin soal cuaca, misal kemarin ada hujan salju, tapi besoknya tiba-tiba muncul matahari. Orang Jerman yg pernah saya ajak bicara tau banget history dari musim ke musim selama beberapa tahun terakhir. Sayang nya karena di Indonesia cuaca itu paling Banter ya panas atau hujan. Jadi gak banyak yg bisa diceritain, tapi berhubung Indonesia ini daerah rawan bencana, kita juga bisa lo bahas tentang prakiraan hujan, kondisi sungai, kesiapsiagaan warga, dan lain lain. Berhubung saya baru kerja bareng sama PMI, ternyata saya baru tahu kalau kesiapsiagaan warga Indonesia masih harus ditingkatkan lo.

Selain itu, kita bisa bahas sejarah atau fakta unik yang kita pernah dengar atau baca, meski saya juga gak yakin apa semua orang di Indonesia tertarik, tapi at least bisa dicoba. Waktu saya di Amerika, saya kenalan sama staf senior dari US Embassy, pas tau kami dari Indonesia, dia langsung cerita kalau penjajah jaman dulu bisa dapet wilayah New York itu hasil barter sama Pulau Banda Indonesia, serunya lagi dulu Yale University itu dibangun pake hasil jual rempah-rempah Indonesia. Keren ya?

Kita juga bisa bahas fakta unik atau hal lucu lainnya yang lebih ringan, bisa ambil dari YouTube, akun Instagram komedi, dan masih banyak lagi. Boleh lah bahas lawakan komedian atau komika Indonesia. Hidup ini kan harus dibawa happy dan penuh tawa!

 

Kuncinya, more positivity, less negativity! Perbanyak bahasan positif, kurangi obrolan nge-judge, very personal, dan rentan melukai hati orang. InshaAllah silaturahmi makin lancar.

 

Tulisan ini bukan bermaksud nyinyir, tapi hanya sedikit kritik dari saya yang pernah tersakiti (ini kok kayak akun Facebook alay ya?), saya ingin menyuarakan pendapat saya dan juga teman-teman yang pernah dan mungkin sedang mengalami situasi seperti ini.

 

Tak bisa dipungkiri, di luar sana, masih banyak yang akan mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan klise, pokonya kalau ada yang mulai Tanya,

“Kamu kapan nik… “

 

Buru-buru aja pingsan di tempat.

 

Selamat mudik, selamat kembali bersama keluarga, selamat liburan!