SEOUL Family Trip : Ibadah, BTS, Jajan Halal di Itaewon

Welcome back to our SEOUL Family Trip post! (baca sebelumnya disini)

Agenda hari kedua kami di Seoul itu jauh lebih padat dari hari pertama. Alhamdulilah kita semua bisa istirahat cukup di apartemen, plus gue juga sempat sauna kemarin malam So, we’re ready to explore!

Jajan Di Gwangjang Market

Kalo ke Seoul, belum lengkap rasanya kalo belum ke pasar tradisional. Kenapa? Karena pasar itu saksi bisu dari peradaban masyarakat Asia. Di pasar, kita bahkan lihat kultur masyarakat lokal yang unik, beda dan mungkin gak kita temukan di negeri sendiri.

Jumat pagi, hari kedua kami, kita pergi ke pasar tradisional tertua yang ada di kota Seoul, Gwangjang Market!

Pasar ini menjadi ruang kebudayaan yang penting bagi masyarakat Korea, dan pasar-pasar tradisional masih dipelihara sampai sekarang meski sekarang kota Seoul sudah dikepung oleh aneka shopping mall yang modern.

Pasar itu menjadi rute wajib keluarga kami karena nyokap gue adalah seorang dosen ekonomi, nyokap gue bilang kalau traveling harus mampir ke pasar, katanya ada tiga alasan: 1. Untuk survey kondisi pasar buat bahan mata kuliah 2. Untuk ambil foto-foto buat slide ngajar 3. Belanja, hahaha. Gue yakin sih alasan utamanya itu yang terakhir. Hehehe. Gwangjang Market itu pasar yang sangat besar, bayangin donk, pasar ini luasnya 4 hektar dan ada lebih dari 5,000 toko! Wew!

Kiri : me-trying to make a vlog, kanan : Gwangjang Market entrance

Kita sekeluarga hanya punya waktu terbatas untuk muter-muter, untungnya di dalam pasar ada bapak-bapak berpakaian warna merah, ternyata mereka itu Tourist Helper yang bantu ngasi arah dan spot buat turis.  FYI, Gwangjang market buka dari jam 8.30 pagi – 6 sore (lebih baik datang kesini pagi)

my narcistict Dad was trying to be included at the photo while we asked the tourist helper for real

Gue sih kepengen jajan, karena Gwangjang market itu terkenal sama jajanan lokalnya (Foodie catet ya!). Si Tourist Helper ngasi tau kalo ada satu koridor panjang di sisi Timur yang jual aneka jajajan, sambil menuju kesana, ssemuanya sibuk nyantol sana sini, adek ama emak gue shopping, bokap gue selfie sama Ikan-ikan dan seaood (maklum anak perikanan), dan laki gue moto-moto bahan makanan.

Gingseng & Kimchi

Salam FPIK* IPB

*Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Nyampe di koridor jajanan, gue takjub banget , sepanjang jalan itu berjejer kedai makanan yang ramee banget, dan rapi banget. Ada kedai ddeokbokki, bibimbap, kimbap, mandoo, pokoknya banyak lah! Kayanya orang lokal dateng kesini buat sarapan pagi. Ada satu dua kedai yang masang foto-foto kedai mereka yang masuk acara TV di KBS atau Arirang. Kedai-kedai ini pun sering jadi lokasi variety show,Kpopers pasti familiar sama kedai tradisional di Gwangjang Market.

Kedai Bibimbap dalam Pasar Gwangjang

Gue mesen ddeokbokki di sebuah kedai yang sayangnya penjualnya sangat tidak ramah, dan rasa ddeokbokki nya ternyata gak seenak yang pernah gue makan di Hongdae, harganya KRW 2,500. (sorry I don’t recommend it, but you can buy in other stalls).

Nyokap gue beres belanja oleh-oleh makanan, kita pergi menuju Dongdaemun Plaza via Cheonggyecheon stream.

Official Family Photo in Gwangjang Market 

Photo taken by Oppa penjaga toko

Cheonggyecheon Stream – Kanal Air Cantik di tengah Kota Seoul

Ini dia ruang hijau kesukaan gue se-antero Seoul, Cheonggyecheon stream! (Nyebutnya agak belepot emang buat orang Indonesia, simpelnya dibaca : Cong-ge-con). Cheonggyecheon stream ini sebuah kanal sungai panjang diapit oleh pathway yang berada di tengah pusat kota Seoul. Gue udah tau tempat ini jauh sebelum ke Korea, lebih tepatnya tahun 2008 waktu masih sekolah di Arsitektur Lanskap, waktu gue mau ikutan lomba esai Korea yang hadiahnya ke trip ke Korea (dan gue kalah), gue sempet baca buku tentang fakta-fakta Korea, dan gue jatuh cinta sama Cheonggyecheon stream. Mungkin karena jaman itu gue lagi belajar tentang tata hijau kota, dan dosen gue bilang Cheonggyecheon ini bukti kesuksesan Korea dalam melakukan restorasi perkotaan dengan strategi mengembalikan ruang hijau ke kota. Waktu pertama kali liat stream ini, gila emang keren banget. Panjang kanal ini sekitar 10 km, dan dilalui oleh lebih dari 20 jembatan dan beberapa titik penting. Recommended banget buat jogging atau lari disini, tapi perlu habisin minimal setengah hari.

Cheonggyecheon

Hiya, hiya…

Gue langsung ngasi bokap gue soal sejarah Cheonggyecheon stream ini (bokap gue demen juga yang beginian). FYI, proyek restorasi kanal  ini sempet mangkrak bertahun tahun seperti proyek pemerintah pada umumnya , gak disangka cheonggyecheon secakep ini dulunya kawasan kumuh parah di tahun 1950, mirip kayakkawasan kumuh pinggir sungai Ciliwung, akhirnya Presiden Lee Myung Bak ambil inisiatif dan mulai bangun lagi. Ternyata proyek ini ngabisin dana sekitar 290 juta USD yang diambil dari pajak negara. Sempet kontroversi dan dicemooh sama warga, karena mereka pikir mereka gak butuh infrastruktur umum! (kok mirip ya sama yang disini), dan akhirnya setelah proyek selesai dan launching, masyarakat bisa nikmatin fasilitas umum ini. Cheonggyecheon ini sebenarnya sarana rekreasi umum yang memadukan ruang ekologi lewat kanal sungai dan tanaman, udah gitu Korea sangat junjung tinggi identitas mereka, dan mereka masukin ke dalam nya lewat patung, lukisan dinding, bangunan bekas yang dilestarikan, dan lain-lain. Setelah jelasin ke Bokap, dia mulai sibuk foto-foto. Kita diminta buat ffoto di atas batu batu yang jadi jalan setapak kanal-nya. Meski tujuan kita sebenarnya ke Dongdaemun, kita bener bener nikmatin banget jalan kaki sepanjang Cheonggyecheon stream, bahkan di kanalnya ada ikan-ikan guede banget, airnya juga jernih. Ya Allah ngeliat suksesnya Korea bangun ini, bikin gue yakin kalau Indonesia juga bisa. Mungkin gue bisa menaruh harapan ke Kang Emil yang visinya luar biasa dalam urusan urban restoration.

Dongdaemun Plaza

Setelah jalan lebih dari sekilo, kita nyampe juga di Dongdaemun Plaza, sebenarnya ini hanya lokasi transit kita sebelum pergi jumatan ke Itaewon. Adek gue, si Inna, pengen banget kesini karena bangunan nya yang Instagrammable, bentuk plazanya unik, melengkung, desain modern futuristik dan warnanya silver. Bangunan ini mengingatkan gue sama kapal alien.

Kita Cuma foto-foto sebentar, seberang Dongdaemun Plaza ada mall megah dan depannya ada patung Brown, beruang coklat gendut sama James, cowok cantik rambut kuning yang kita kenal lewat sticker gratisan di Line app. Hehehe…

Waktu udah mau masuk jam 12, kita harus segera ke masjid untuk jumatan, Kita langsung ke stasiun Metro dekat Dongdaemun, lucunya, nama stasiun Metro-nya itu Sindang, kayak nama kelurahan gue: Sindang-sari. O, pertanda apa gerangan?

Jumatan di Itaewon : Khutbah Tiga Bahasa

Hanya butuh tiga stop saja untuk tiba di Itaewon station. Itaewon ini terkenal banget sama turis muslim, karena adanya masjid besar dan makanan halal. Di stasiun Itaewon, tersedia tourism center, kita bisa nanya-nanya tentang makanan halal sama lokasi masjid, staf nya akan ngasi Map Itaewon. Di dalam tourism center juga tersedia aneka booklet dan brosur tentang wisata Korea yang bisa diambil gratis, termasuk info wisata halal. Korea nih gercep juga ya, sama kayak Jepang buat nangkep pangsa wisatawan muslim. Jarak dari stasiun Itaewon ke Mesjid engga terlalu jauh, Cuma jalan agak menanjak. Dateng kesini pas jam jumatan itu gampang banget buat nemu masjid, sepanjang jalan kami lihat laki-laki yang rame-rame jalan ke satu arah, dan sudah pasti mau ke Mesjid. Nama jalan menuju masjid pun diberi nama Islam street. J Ternyata masjid nya tuh ada di bukit! (buat yang gak bisa jalan nanjak, siap siap, karena bakal naik-naik terus). Ngos-ngosan kita haha. Tapi alhamduililah tiba juga di depan bangunan bernuansa putih abu dengan dua menara di kanan-kirinya, bertuliskan aksara Arab, “Allahu Akbar”. Subhanallah…

Di area masjid sudah ramai sama jamaah yang akan solat Jumat, keliatannya jamaah disini memang lebih banyak imigran dibanding orang asli Korea sendiri (dan betul kata Hassan Lee ahjussi), bahkan di area plaza samping masjid, diberikan karpet kalau bagian dalam masjid penuh.

Ayah dan suami ninggalin kami untuk ambil air wudhu, dan kami stay di luar masjid. Kemudian, saya lihat ada rombongan ibu-ibu keluar masuk ruangan di sebelah masjid, pas gue cek, ternyata disiapin ruang solat buat perempuan. Hal yang berbeda dari masjid di luar negeri dari mesjid di Indo tuh ga ada loudspeaker outdoor yang mengumandangkan ayat-ayat suci yang kedengeran sampe luar masjid, speaker hanya ada di dalam ruangan dan area sekitar masjid dengan suara yang gak gitu gede. Ditambah lagi, khutbah jumatan dijelaskan dalam tiga bahasa : Arab, Korea, Inggris. Menurut info dari suami, imamnya itu orang asli Korea, wah penerusnya bapaknya Hassan Lee ahjussi!

Ada Taman Kanak-kanak nya juga lo!

Kuliner Lokal nan Halal

Sambil nunggu bapak-bapak beres jumat, gue, mama, dan dua adek gue mau jajan-jajan di Islamic street. Gak jauh dari gerbang masjid, ada kedai bernama Manis, kayanya gara-gara banyak turis Malaysia sama Indo, nama kedainya pake bahasa Indonesia, haha. Kedai menjual aneka Korean snack yang gurih seperti Ddeokbokki, Corndog, Kimbap, dan Oemuk! Selain Korean snack, mereka juga jualan snack Indo kayak Bakwan dan Mee-hoon. Wkwkwk. Tentunya kedai ini halal.

Kedai Manis

Dari dulu gue pengen banget makan Oemuk (otak otak ikan yang pake tusukan panjang) di Korea. Ngeliat di film Korea kok nikmat banget ya makan Oemuk pake kuah panas. Sekarang waktunya gue menikmati Oemuk sepuasnya!

Harga 1 tusuk Oemuk itu 700 won. Lumayan terjangkau untuk standar makanan Korea. Oppa yang jual ramah banget dan melayani. Si Oppa memberi gue dua tusuk Oemuk dan semangkuk kuah kaldu panas.. pas gigit… Hoaaaaahh… nikmat banget ya Allah… pas banget makan Oemuk dingin-dingin gini.

Studler Tips. kalau lagi di Itaewon, gue saranin banyakin jajan-jajan dan nyobain macem-macem makanan ketimbang beli satu porsi makan berat. InshaAllah sama kenyangnya, keluar duitnya juga sama. 

Kedainya lumayan sempit dan hanya ada 3 meja untuk duduk, untung ada satu meja kosong, kami bisa duduk sambil nunggu Ayah dan mas Andik dateng. Mama gue nyobain bakwan-nya, dan rasanya hambar banget dibanding bakwan Indo yang penuh micin, hahaha. Adek gue ngidam Corndog, sosis yang dibalut roti, dan rasanya enak! Gue sempet ngidam Corndog gara-gara habis liat Triplets makan di acara The Return of Superman. Harga makanan disini cukup manusia buat kantong turis Indo yang pas-pasan. So gue puas-puasin makan disini. Minumnya? Nah, enaknya di Korea ini, hampir semua kedai ngasi air putih gratis. Mereka nyediain dispenser yang ada air panas dan dingin, berikut gelas-gelasnya. So, kita bisa hemat dengan gak beli air mineral botolan!

Beres jumatan, kedai tambah rame sama orang-orang yang baru beres jumatan dan pastinya laper banget. Untung gue dah makan, dan ayah sama mas andik udah dibeliin, mereka tinggal makan. Si Oppa nya tambah sibuk ngelayanin tamu yang bejubel! Semoga kedainya berkah dan laris ya Oppa. Thank you for serving Halal food!

Jajan habis jumatan

Agenda berikut nya adalah pergi ke Line Friends store. Ini agendanya adek gue yang bungsu karena dia ngefans berat sama BTS. Di Itaewon, ada satu Line friends store yang letaknya gak jauh dari stasiun dan masjid. Gue masih mau jajan-jajan, dan ortu mau makan nasi di restoran Indonesia deket Masjid, dua adek gue langsung pergi ke Line Friends.

Gue ama mas Andik lanjut jajan, kami beli Bungeobang (Roti isi kacang merah bentuk Ikan) yang dijual ama kakek tua di pengkolan jalan, harganya lumayan murah, 1,000 won dapet empat biji.

Bungeopbang Welfie

Di deket situ ada kedai namanya Yago Mandoo yang jual Mandoo (baca: Mandu) bahasa Korea-ya pangsit. Gue dari kemarin pengen nyobain Mandoo disini! Sayang kedainya gak halal-certified karena mereka menjual pork Mandoo, tapi mereka nyediain Mandu Vegetarian, seporsi 7,000. Wadah untuk nyimpan Mandoo juga dipisah-pisah, jadi Mandu daging engga nyatu sama Mandu sayur. Si Oppa nya ngasi satu kotak isi tujuh mandu, plus soy sauce, dan ada irisan jeruk warna kuning. Gue Tanya ke si Oppa jeruk ini diapain ke Mandu.

Mandoo

“Sorry I don’t know.. Korean just eat that with Mandoo.. I’m not Korean..”kata si Oppa

“So, where are you from?” Tanya gue Kepo.

“I am from The Philippines” sahut si Oppa sambil senyum

Oalah, dia ternyata TKF, Tenaga Kerja Filipina. Bahasa Korea dia lancar banget, gak keliatan kalau dia orang asing.

Yago Mandu

Gak Cuma Mandoo, mereka juga jual Kimbap. gue pesen Kimbap sayur doank, tanpa daging. Eh si Oppa Filipino-nya baik banget, dia ngomong sesuatu ke Ahjumma yang bikin Kimbap pake bahasa Korea, terus ngomong ke kami.

Do you want egg? In exchange of ham? I can put egg for you..” Tanya dia.

Kami bilang yes. Wah thank you…

Finally, gue dan suami beneran kenyang banget setelah makan Oemuk, Corndog, Munggeoppang, Mandoo, dan Kimbap. Hahaha. Pas gue ketemu mama di Line Friends, gue Tanya makanan di resto Indonesia kayak gimana.

“rasanya sih biasa aja, porsinya gede.. tapi Ugh, lama banget mereka masaknya.. sampe ada tamu yang pergi karena kelamaan..” komen mama gue.

Nongkrong di BT21, Kafe-nya BTS

Sebagai mantan penikmat K-Pop (sekarang masih sih cuma jarang banget), gue pikir perlu juga liat-liat apa yang kekinian di Korea. Line Store ini salah satu tempat yang pas untuk wisata kekinian di Korea. Line store ini sebenarnya toko merchandise-nya Line Friends. Masuk ke dalam toko, kita bakal liat semua karakter-karakter Line Friends yang terpampang di aneka jenis souvenir resmi Line. Dan, tokonya ini SUPER INSTAGRAMMABLE.

Mereka gak Cuma ngajak pengunjung untuk belanja, tapi juga foto-foto. Ada banyak banget etalase-etalase colorful dan super cute. Udah gitu mereka muterin lagu-lagunya BTS yang nge-beat, jadi suasana toko tambah mantul. Gue yang tak kenal umur ini ampe joget-joget dikit bersama boneka ginuk-ginuk yang terpaku memandang gue joget, Emang sih nuansa warnanya dominan Pink, jadi kesannya Girly gitu, tapi yang foto-foto tetep cewe dan cowok, termasuk suami gue semangat banget minta foto-foto, karena dia suka main game di Line, jadi suka sama beruang Line, berasa ketemu sodara ya mas? Hahaha.

Tokonya terdiri dari 3 lantai, lantai paling atas itu destinasi wajib-nya para Army, BT21 Café!

BT21 ini proyek kolaborasi nya Line sama BTS dengan menghadirkan café yang menjual snack dan minuman dengan nama-nama personel BTS. Hahaha, gila ya bisa banget, apa aja bisa jadi duit dengan modal obsesi dan loyalitas fans. Berhubung gue gak ada niat belanja, Cuma foto-foto aja, gue langsung ke café aja buat ngopi. Harga kopinya lumayan pricy, di atas rata-rata harga kopi, gue Cuma pesen 1 cup buat sharing ama suami, siang-siang gini pasti bakal ngantuk banget!

Emak bapak gue gak mau kalah..

Baby Boomer Army, wkwkwk

Adek gue melihat dengan mata berbinar binary segelas minuman es warna pink dan sepiring kue di atasnya ada tempelan gambar hewan-hewan cute. Sebelum makan kuenya dengan khidmat, adek gue mulai jelasin lambang dan short history of BTS. Kue pesanan dia ini namanya Tata Blueberry Cheese bun, Tata itu sebutan buat Taekhyung salah satu personel BTS, lambanya si Tata ini entah hewan species apa soalnya kepalanya bentuk LOVE, tiap personel punya personifikasi hewan sendiri-sendiri. Ini juga berlaku untuk minuman. Tiap minuman ada minuman Rap Monster, Jimin, you name it lah for the rest ya..

Ngeliat adek gue makan, gue lebih lega karena destinasi utama adek gue tercapai, jadi gak perlu dengerin dia nanya melulu “mbak, BT21 kapan? BT21 kapan?”

Btw, gue kan VIP (sebutan untuk fans Big Bang), andai gue ngefans pas jaman SMP, terus ada Big Bang café, let’s say namanya BB21, gue bakal kayak gitu gak ya, mesen kue-nya GD. Wkwkwk.

Studler Tips. Buat Fans atau Simpatisan BTS, jangan lupa melipir ke kafe BT21. Pesan minuman dan kue sesuai personil kesukaan mu. Kalau kue personel favorit mu bukan rasa yang kamu suka, ya paksa-paksain suka yaaa.. hahaha.

Setelah nyantai sebentar dan bisa menghimpun sedikit energi di BT21, kita beranjak untuk pergi ke tujuan selanjutnya :  Namsan Tower! (cerita berikutnya disini)