The Honeymoon Story (END) : Sunset Senggigi, Taliwang, and Back to Denpasar

Untungnya, perjalanan dari pelabuhan Bangsal menuju Pantai Senggigi berlangsung sore hari, sehingga kami tidak kepanasan selama di jalan. (Baca cerita perjalanan kami sebelumnya ke Gili Trawangan disini). Memasuki area Senggigi, kami berdua memutuskan untuk solat ashar dulu di masjid. Karena Lombok dijuluki pulau Seribu Masjid, tidak sulit menemukan masjid untuk solat.

Selesai solat, saya lihat ada seorang bapak yang sedang menjual jajanan dengan sepeda motor. Saya dekati, wah ternyata jualan cilok! Duh, ngidam banget jajan cilok dari kemarin. Ternyata di Lombok ada juga ya cilok, hehe.

Sambil nunggu suami, saya menikmati cilok diberi saos sambal di pinggir jalan.

Kami pun melanjutkan perjalanan. Mendekati area Senggigi, kita melihat ada keramaian orang-orang yang sedang berjalan di tengah jalan, plus diiringi irama musik dangdut.

Di Lombok, ada tradisi namanya ‘Nyongkolan’. Kalau ada orang Lombok yang baru menikah, pengantennya akan (more…)

Read More

Our Love Story

by : Annisa Hasanah

reading time for the whole story : 7 minutes

WHEN WE FIRST MET ….

reading time : 3 minutes

Pada tanggal 1 September 2013, saya (Annisa) terbang ke Jerman untuk mengikuti program Master Exchange yang disupport oleh Erasmus Mundus di Georg-August Universität Göttingen. Kota yang menjadi tujuan saya belajar selama 10 bulan adalah Göttingen, sebuah kota kecil nan ramah pelajar yang berada di provinsi Lower Saxony. Niatnya sih saya pergi ke Jerman dengan misi utama untuk belajar dan mencari pengalaman, tapi ternyata keluarga besar menambahkan doa sebelum saya berangkat, agar saya juga mendapat jodoh disana, What?? Hahaha.

Setiba di kota Göttingen, saya merasa belum familiar seperti apa kehidupan dan studi di Jerman. Saya disarankan oleh senior untuk mengenalkan diri di grup FB PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) Göttingen, dengan harapan bisa mendapat arahan dalam mengambil mata kuliah. Dengan formal, saya mengenalkan diri secara formal di grup, isi postinganya sih berawal dengan “salam kenal” dan diakhiri dengan “mohon bimbingannya”. Dari pesan itu, saya mendapat banyak balasan dari anggota grup PPI Göttingen, “Selamat datang Annisa”, “salam kenal Annisa” begitulah rata-rata ucapan balasannya. Tiba-tiba muncul satu orang tak dikenal menuliskan komen “Salam kenal Annisa, Jangan lupa add fb saya ya..”.

What? Siapa nih orang? Kepedean banget nih.. Baru kenalan, minta di-add FB, :p

Komentar lelaki bernama Andik Fatahillah ini kemudian mengundang komentar-komentar dari  anggota grup lain, intinya sih si Andik Fatahillah ini seperti ‘maksud’ tertentu. Hahaha.

Berhubung saya ga kenal ni siapa orang, saya lihat pp fotonya, oh ini toh yang namanya Andik Fatahillah, dari tampangnya sih jutek-jutek gitu. Bisa juga ya cowo jutek ngasi komen agak genit gitu. Pokoknya malesin gitu deh.. :p

Tanpa melanjutkan obrolan di postingan kenalan yang saya buat, saya tetap beaktivitas seperti mahasiswa baru. Ikut orientasi, keliling asrama dan kampus, cuci mata di kota dan lain-lain. Dan satu ketika, saya ingin mengambil laundri baju saya di laundri asrama yang terletak  di gedung lain yang berjarak 40 meter dari kamar saya. Saya langsung keluar dari gedung asrama, dan tiba-tiba…

Sesosok laki-laki berbadan besar sedang berdiri di depan gedung asrama saya. Dengan gaya sok cool-nya, saya menyadari bahwa laki-laki tersebut adalah … eng-ing-eng.. Andik Fatahillah!

Bingung mau ngomong apa, saya Cuma “Eh mas, lagi apa disini?”

Mas Andik : ” ini lagi ada acara di rumah bu Heti.. ada orang Indonesia lo disini.. udah kenalan belum?”

Akhirnya perjalanan laundri saya dialihkan ke kunjungan rumah orang Indonesia. Di rumah bu Heti, saya berkenalan dengan beberapa orang Indonesia yang sedang asik kumpul-kumpul. Setelah kenalan dengan tuan rumah, bu Heti dan pak Doni, sepasang suami-istri yang sedang studi S3. Ternyata bu Heti kenal Ayah saya, sama-sama pengurus HMI).

Di rumah itu, saya dan mas Andik jadi bahan ledekan, entah saya juga ga paham kenapa tiba-tiba saya diledek ama mas Andik. Kenal juga engga. Saya cengar cengir aja disitu. Hehehe.

Setelah pertemuan tidak terduga saat itu, pertemuan saya dengan mas Andik hanya bisa dihitung dengan jari. Pertama, ketemu di Toko Turki bernama AL-IMAN pas sama-sama lagi belanja. Kedua, papasan di tengah jalan saat naik sepeda. Ketiga, ketemu di flat mbak Ella (mahasiswa Indo yang lagi S2). Daaaan… Pertemuan keempat lah menjadi titik awal kedekatan kami.

Hari itu (entah hari apa, haha), saya datang ke rumah pak Nur Edy di Herman Rhein strasse untuk mendatangi pengajian anak Goettingen yang diadakan secara rutin. Saya datang siang hari, disitu saya ikut membantu mengajarkan anak-anak membaca Iqro. Ternyata hari itu adalah hari ulang tahun Niky, anaknya pak Nur Edy sehingga setelah pengajian selesai, acara dilanjutkan dengan syukuran ulang tahun.

Disitulah mulai ramai-ramai berdatangan orang Indonesia, salah satunya Ayu dan Destya. Mereka berdua ini mahasiswa exchange dari UNDIP. Entah bagaimana kita ngerumpi-ngerumpi, akhirnya obrolan kita mengarah pada jodoh.

Tiba-tiba tersebutlah nama si lelaki judes itu, (dan mereka berdua adalah teman dekatnya mas Andik). Dengan perasaan agak malu-malu (ahiw), saya nanya orangnya kayak apa. Entah kenapa, Ayu dan Destya udah kayak agen markeiting ulung. Pinter banget promosiin mas Andik! Hahaha

Ayu : “udah kamu disini aja dulu, jangan pulang dulu, nanti bentar lagi dia mau kesini”

What? terus kenapa kalo dia mau kesini?

Mulai dari detik, I feel awkward. Apalagi pas kedatangan mas Andik, OMG, what am I going to do?

Hari semakin malam, acara diakhiri dengan nonton bareng film Kingdom of Heaven. Entah gimana akhirnya (si Ayu pindah posisi duduk), saya dan mas Andik jadi duduk sebelahan. Mulailah pembicaraan antara kita berdua, obrolannya sih seputar film (untung ada film! jadi ada bahan obrolan!) Hoho.

Film beres, waktu udah menunjukkan pukul 23.00. Saya harus pulang.

Pas lagi ambil jaket dan mau keluar rumah, mas Andik nyamperin..

mas Andik (sambil senyum) : “mau dianter ga?”

Saya tertunduk sambil senyum awkward dan jawab : “boleh”

Ternyata ini cowok engga jutek-jutek amat ya, :p

Akhirnya, mulai detik itulah kami menjadi dekat:)

Reading time : 1,5 minutes

ARE YOU SERIOUS ABOUT ME?

Sejak kami menjadi dekat, kami sama-sama mencari tahu satu sama lain, istilah kerennya sih ‘kepoin’. Hahaha. Mas Andik dimata saya itu orangnya jutek (tetep yah ini mah, hehe), lebih banyak diam, ngomong seperlunya, humoris, dan gombal. Hahaha. Hal yang paling saya kepoin banget adalah umurnya. Pada awalnya saya ga tau umur mas Andik berapa, ternyata kami berdua beda 6 tahun! Tapi mas Andik dengan pedenya merasa mukanya jauh lebih muda dari umurnya. Ih, GR :p

Banyak modus-modus yang muncul sejak saat itu, mulai dari mas Andik ngajak masak bareng di rumah orang sampe ngajak ke museum.

Karena saya penyuka museum, dia ngajakin ke museum Etnobotani, soalnya tempat dia ngambil koran (btw, dia kerja part time sebagai loper koran) itu di depan museum Etnobotani. Pas nyampe ke museumnya, eh ternyata tutup! Hahaha, akhirnya kita malah ngobrol-ngobrol di depan tangga museum.

Entah apa yang bikin saya klepek-klepek ama mas Andik, tapi satu hal yang yang jelas bikin saya klepek-klepek adalah masakannya mas Andik yang super enak. Ga salah kalau orang-orang manggil dia sebagai Chef Göttingen. Saya sendiri engga bisa masak (tapi doyan makan), dan ketemu ama cowo yang jago masak. Itu rasanya .. nyess banget.

Konon, mas Andik dididik oleh duo chef senior di Goettingen, Bang Doel Saroji dan Pak Deniey Purwanto. Hoho.

Kami sering menghabiskan waktu bersama pokoknya engga jauh dari dapur ke dapur rumah orang, haha.

Sekitar 2-3 bulan kami menjadi semakin dekat, tapi kami tidak pernah sekalipun menyinggung soal kedekatan kami dan bagaimana rencana berikutnya.

I think it’s time for the hardest part.

A confession.

About how we will bring this relationship in the future.

Prinsip saya, cari pasangan itu bukan buat sebentar-sebentar.

Once I found ‘the one’, I wish that it would be a lifetime.

Finally, I asked him seriously about this.

Are you serious about me?

He finally confessed, and I’m so relieved that he has the same principle like me.

“Dari awal, aku juga ga main-main kok, aku milih kamu untuk jadi istri… ”

Gini nih hebatnya cowo pendiam. Sekali bicara, langsung bikin klepek-klepek. Haha.

OUR HAPPY DAYS IN EUROPE

Saya merasa beruntung bisa dipertemukan dengan calon pendamping hidup di benua biru nan cantik, Eropa. Tidak banyak memang yang bisa mendapat pengalaman seperti ini.

Waktu kecil saya pernah bercita-cita kalau suatu saat nanti saya ingin bertemu dengan calon suami saya saat sedang sekolah di luar negeri. It feels like I’m living in my own dream. 🙂

Kami banyak menghabiskan waktu bersama di Göttingen dengan melalui empat musim di Eropa yang memberikan pemandangan lanskap luar biasa cantik. Waktu-waktu terbaik dalam empat musim tersebut kami abadikan dalam beberapa foto, yang akan digunakan sebagai foto Pre Wedding kami nantinya. Inilah peribahasa sambil menyelam 2-3 pulau terlampaui. Hehe

Kami berdua banyak menghabiskan waktu belajar bersama di perpustakaan super nyaman bernama SUB atau di Lern-und-Studien Gebäude (semacam gedung khusus untuk belajar),

Kami pun berpetualang ke beberapa kota di Jerman dengan menggunakan free semester ticket. Pada waktu libur panjang, kami mengunjungi dua kota yang dikenal kota paling cantik di dunia, Paris dan Barcelona. Kami pun mengeksplor kota penuh sejarah kelam, Berlin, ibukota Jerman dengan mengunjungi situs-situs perang dunia II.

Sewaktu di Eropa, saya mengenalkan mas Andik ke Orang Tua melalui Skype (Thank you Skype!). Alhamdulilah orang tua saya memberikan respon positif terhadap mas Andik.

Reading time : 2,5 minutes

A LONG DISTANCE RELATIONSHIP

Karena saya mengambil program exchange yang hanya 10 bulan, sedangkan mas Andik mengambil program full Master, pada akhirnya akan ada waktu bagi kami berdua untuk berpisah. Mas Andik sendiri membiayai sekolahnya dari hasil kerja part time tidak tahu kapan dia akan pulang, karena dia harus menabung agar bisa membeli tiket pulang ke Indonesia. Well, it’s not easy for us at that time.

Bulan Juli 2014, saya menyelesaikan studi saya di Goettingen, and it’s time to go home. Kami pun berpisah di bandara Hannover.

Let’s just say that this is for a while, only for a while.

Saya tiba di Indonesia, dan melanjutkan aktivitas seperti sedia kala di IPB. Begitu juga mas Andik, melanjutkan studinya di Jerman sambil kerja part time.

Kreativität im Studium

Banyak orang bilang, kalau seseorang memiliki niat untuk menikah, insha Allah akan diberikan jalan.

Subhanallah, ternyata benar, Allah mendengar do’a kami berdua.

Pada bulan Februari 2014, University of Göttingen, tempat kami belajar, mengadakan program kreativitas mahasiswa (semacam PKM di Indonesia) berjudul Kreativität im Studium. Mereka akan memberikan funding kepada para mahasiswa yang mengajukan proposal berisi ide kreatif yang ingin dijalankan dan butuh pendanaan.

Melihat kesempatan ini, kami berdua mengirimkan proposal dengan ide masing-masing. Saya mengajukan ide permainan board game yang sudah saya buat sejak tahun 2009, Ecofunopoly, sedangkan mas Andik mengajukan ide penelitian sosial di Gunung Merapi, Yogyakarta.

Mas Andik berharap agar penelitian ini bisa dijadikan sebagai bahan tesisnya, dan juga memberikan kesempatan dia untuk pulang ke Indonesia.

Alhamdulilah, do’a kami didengar, kami berdua sama-sama lolos program Kreativität im Studium ini!

Senangnya tidak terkira, mas Andik akan pulang ke Indonesia!

Pulang ke Indonesia tentunya akan membawa banyak hal yang belum kami selesaikan sewaktu di Jerman. 🙂

MEET THE PARENTS

Berkat Kreativitaet im Studium, bulan November 2014 mas Andik bisa pulang ke Indonesia untuk melakukan penelitian di Yogyakarta. Beberapa minggu setelah ketibaan di Indonesia, mas Andik bersilaturahmi ke rumah saya di Ciawi dan bertemu dengan Orang Tua saya.

Pada awalnya, mas Andik agak malu-malu dan bingung kapan waktu yang tepat untuk bicara serius dengan kedua orang tua saya. Akhirnya sehari sebelum mas Andik kembali ke kampung halaman, dia memberanikan diri untuk meminta izin ke orang tua untuk menikahkan saya.

Alhamdulilah, tanpa bicara neko-neko, Ayah saya merestui niat kami berdua untuk menikah. Ayah saya meminta ke mas Andik agar dalam waktu dekat keluarga mas Andik bisa datang bersilaturahmi ke rumah kami.

THE ENGAGEMENT DAY

13 Desember 2014 was our biggest day for us during the whole year.

We are finally enganged!

Disaksikan oleh kedua belah keluarga besar. Kami meresmikan pertunangan kami di rumah kecil saya tercinta di Ciawi. Kedua sahabat saya juga hadir mendampingin saya (Thank you Tahmid dan Nisty!).

Lucunya, sebelum pemasangan cincin, saya iseng nyuruh mas Andik untuk nyebutin 3 kata yang bikin mas Andik mau ama saya *tsaaaaah Saya sengaja ngetes gitu, supaya suasana acara lamaran tidak tegang-tegang amat. Hehe.

Kami pun merencanakan untuk mengadakan acara akad nikah pada tanggal 15 Mei 2015. Tanggal tersebut jatuh pada hari Jumat, yang dipercaya hari baik, juga tanggalnya yang bisa dibilang cantik, 15-05-2015. Hihihi.

Setelah lamaran, kami pun berpisah lagi, saya pergi ke Jerman selama 1 bulan untuk mengerjakan project Ecofunopoly, sedangkana mas Andik melakukan survei di Gunung Merapi. Kami pun bertemu lagi di Jerman, hanya 4 hari. Waktu sempit itu kami pakai untuk foto pre-wedding. Berkat bantuan keluarga padepokan Grüner Weg, saya dan mas Andik bisa melakukan pre-wedding photo session di Jerman.

Terima kasih tak terhingga untuk fotografer ulung, Bang Arif Relano Oba serta istrinya yang paling jago bikin pose, Mba Masyitah Syaifuddin, plus pak lurah yang baik hati selalu, bang Doel dan Mami Reni yang mau minjemin properti baju cantiknya yang bikin saya ‘wow’ pas difoto, Irfan juga yg sudah mau jadi asisten foto bang Arief, plus-plus Raqidut yang udah mau dingin-dingin nganter Tante dan Om-nya ke kastil.

Setelah itu, saya kembali ke Indonesia untuk melanjutkan aktivitas akademik saya di IPB sekaligus mempersiapkan acara pernikahan kami bulan Mei depan.

That is Our Bittersweet Story.

Thank you for reading our story!

Read More

The Bride and The Groom

Annisa Hasanah (The Bride)

reading time : 1 minute

Lahir pada tanggal 23 Maret 1989 atau 16 Sya’ban 1409 H di Rumah Sakit Palang Merah Indonesia Kota Bogor dari pasangan Dr. H. Apendi Arsyad, MSi yang berdarah Riau dan Sudarijati, SE, MSi yang berdarah Jawa. Annisa adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Kedua adiknya bernama Inna Rahmawati (20) dan Fathia Nurul Izzah (9).

Annisa menempuh studi mulai dari TK Amaliah Ciawi Bogor, SD Amaliah Ciawi Bogor, SMPN 2 Bogor, SMAN 1 Bogor, dan Institut Pertanian Bogor program studi Arsitektur Lanskap.

Saat ini, Annisa masih menempuh studi master di Institut Pertanian Bogor. Pada tahun 2013, Annisa mendapat kesempatan untuk mengikuti program Master Exchange di Georg-August Universitaet Goettingen Jerman dengan beasiswa dari lembaga Uni-Eropa, Erasmus Mundus selama 10 bulan. Ternyata, kesempatan ini tidak hanya memberikan ilmu dan pengalaman tetapi juga mempertemukannya dengan calon pendamping hidupnya yang juga sama-sama masih menempuh studi master.

Annisa suka menggambar, bermain game, menulis blog, dan travelling. Lahir, tinggal, dan besar di Bogor membuat Annisa tidak betah berdiam diri, waktu masih berumur 6 bulan, Annisa pernah dibawa mudik ke Riau dengan menggunakan bus ekonomi, sehingga sejak kecil dia sudah melanglang buana ke rumah nenek di pedalaman Riau, bernama Cerenti, dan juga ke kampung halaman Mamanya di Madiun, Jawa Timur.

Sejak kecil, Annisa bermimpi untuk bisa menjelajahi dunia. Sampai detik ini, Annisa sudah bisa menjelajahi 21 negara di Asia, Timur Tengah, dan Eropa melalui program exchange, conference, kompetisi, workshop, dan backpacker. Cerita travelling-nya selalu ditulis di blog pribadinya, www.studentravelerdiary.wordpress.com.

Satu kenangan yang tidak pernah Annisa lupakan selama di Eropa adalah melakukan solo travelling sendirian ke Polandia, (dan pada saat itu sedang ada krisis di Ukraina), Annisa justru malah mengunjungi kamp konsentrasi Nazi terbesar dan situs-situs sejarah perang dunia II yang sangat kelam.

Annisa turut aktif dalam berbagai kegiatan lingkungan, salah satunya adalah EcoFun Community, komunitas yang dididirikan olehnya pada tahun 2009. Di tahun yang sama, Annisa juga menciptakan permainan edukatif berbasis lingkungan bernama Ecofunopoly. Permainan ini telah mengantarkannya ke berbagai penghargaan tingkat nasional dan internasional. Baru-baru ini, Annisa telah meraih Kreativitaet im Studium award dari University of Goettingen dan AKB Stiftung untuk permainan tersebut. Permainan Ecofunopoly dapat dilihat di blog ecofuncommunity.wordpress.com.

Sewaktu duduk di bangku SMP, Annisa bercita-cita agar bisa bertemu jodohnya saat masih sekolah dan sama-sama masih sekolah. She made her dream come true. 🙂

Andik Fatahillah (The Groom)

reading time : 1,5 minutes

Terlahir pada hari Selasa Kliwon, 6 Rajab 1403 Hijriah atau tanggal 19 April 1983 di Rumah Sakit Bersalin Gunung Sawo Semarang, Jawa Tengah dari pasangan (Alm.) Abdul Rochim dan Hj. Siti Miatun yang sama-sama berdarah Jawa. Merupakan anak bungsu dari enam bersaudara. Kelima kakaknya bernama Uswatun Hasanah (46), Isnaini (43), Fajarwati (41), Maria Ulfah (39) dan Nanang Sofana (36).

Andik kecil menempuh studinya mulai dari TK Tarbiyatul Athfal di Kaliwungu, dan sempat mengalami pindah sekolah dasar sebanyak tiga kali yang di mulai dari Madrasah Ibtidaiyah Al-Husain Krakitan Magelang, SDN 1 Plantaran Kaliwungu Kendal dan dilanjutkan di SDN 2 Girirejo Tempuran Magelang. Andik kecil juga sempat nyantri di Pondok Pesantren Nurul Qur’an Kaliputih Tempuran Magelang selama 4 tahun yang kemudian dilanjutkan nyantri di Pondok Pesantren Sunan Pandan Aran Sleman selama 3 tahun, juga menempuh studi Madrasah Tsanawiyah ditempat yang sama. Masa SMA dihabiskan di Kaliwungu Kendal dengan masuk ke SMA 1 Kaliwungu dan tergabung dalam ex-skul TaeKwonDo yang menjadi passionnya saat itu, meski sempat mengikuti beberapa kejuaran nampaknya dewi fortuna belum berpihak untuk menjadikannya juara .

Kemudian, terinspirasi oleh ayam kampung peliharaan Ibu di halaman belakang rumah membuat Andik muda memberanikan diri untuk mendaftar ke Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang dan akhirnya lolos tanpa tes melalui program siswa berprestasi. Pasca lulus S1, sempat bekerja disalah satu chicken farm di Semarang yang kemudian menemukan passionnya bersama Palang Merah Indonesia (PMI). Kurun waktu 2007 – 2010 berafiliasi dengan PMI dalam program Community Based Avian influenza Control Project (CBAIC). Ternyata kebersamaan selama tiga tahun lebih tersebut membawa kesan tersendiri bagi Andik, yaitu munculnya passion untuk bekerja di community development project. Alhasil, selepas dari PMI bergabunglah dia dengan Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Sumberdaya Pembangunan (LPPSP) Semarang.

Setahun berlalu, Andik memutuskan untuk mengambil pendidikan master, dan lagi-lagi berjodoh dengan Fakultas Peternakan UNDIP Semarang karena diterima sebagai mahasiswa S2 Magister Ilmu Ternak dengan beasiswa BPKLN Kemendiknas di tahun 2011. Pada tahun 2012 berkesempatan mengikuti program exchange-student selama satu tahun di Georg-August Universitaet Goettingen Jerman dengan beasiswa yang sama dari BPKLN Kemendiknas. Agustus 2013, perasaan dilema melanda karena harus memutuskan apakah kembali ke tanah air atau nekat melanjutkan studi masternya di Uni-Goettingen. Dengan modal nekat dan doa restu dari sang Ibunda, serta semangat „Man Jadda Wa Jadda“ – „Jer Basuki Mowo Beyo“ maka dilanjutkan lah studi full master-nya di Uni-Goettingen meskipun tanpa dukungan beasiswa. Ternyata, kenekatan ini tidak hanya memberikan ilmu dan pengalaman tetapi juga mempertemukannya dengan calon pendamping hidupnya yang juga sama-sama menempuh studi master di Goettingen, iya calon itu adalah Annisa Hasanah .

Awal Desember 2014, dengan membaca Bismillah nekat melamar Annisa, Alhamdulillah lamaran diterima dan berangan-angan menikah di tahun 2015. Mei 2014, Allah membukakan jalan untuk rencana besar itu, Andik dan Annisa sama-sama meraih Kreativitaet im Studium award dari University of Goettingen dan AKB Stiftung, yang memberikan kesempatan bagi Andik untuk melakukan riset thesis di lereng Gunung Merapi, dan sekaligus tentunya untuk bersilaturahiem ke keluarga Annisa serta melangsungkan acara lamaran. Saat ini Andik sedang menyelesaikan tugas akhirnya untuk meraih gelar master of science dari Sustainable International Agriculture University of Goettingen.

meraih Kreativitaet im Studium award dari University of Goettingen dan AKB Stiftung, yang memberikan kesempatan bag i Andik untuk melakukan riset thesis di lereng Gunung Merapi, dan sekaligus tentunya untuk bersilaturahiem ke keluarga Annisa serta melangsungkan acara lamaran. Saat ini Andik sedang menyelesaikan tugas akhirnya untuk meraih gelar master of science dari Sustainable International Agriculture University of Goettingen.

tersebut. Permainan Ecofunopoly dapat dilihat di blog ecofuncommunity.wordpress.com.

Sewaktu duduk di bangku SMP, Annisa bercita-cita agar bisa bertemu jodohnya saat masih sekolah dan sama-sama m

asih sekolah. She made her dream come true. 🙂

Read More