The Honeymoon Story (END) : Sunset Senggigi, Taliwang, and Back to Denpasar

Untungnya, perjalanan dari pelabuhan Bangsal menuju Pantai Senggigi berlangsung sore hari, sehingga kami tidak kepanasan selama di jalan. (Baca cerita perjalanan kami sebelumnya ke Gili Trawangan disini). Memasuki area Senggigi, kami berdua memutuskan untuk solat ashar dulu di masjid. Karena Lombok dijuluki pulau Seribu Masjid, tidak sulit menemukan masjid untuk solat.

Selesai solat, saya lihat ada seorang bapak yang sedang menjual jajanan dengan sepeda motor. Saya dekati, wah ternyata jualan cilok! Duh, ngidam banget jajan cilok dari kemarin. Ternyata di Lombok ada juga ya cilok, hehe.

Sambil nunggu suami, saya menikmati cilok diberi saos sambal di pinggir jalan.

Kami pun melanjutkan perjalanan. Mendekati area Senggigi, kita melihat ada keramaian orang-orang yang sedang berjalan di tengah jalan, plus diiringi irama musik dangdut.

Di Lombok, ada tradisi namanya ‘Nyongkolan’. Kalau ada orang Lombok yang baru menikah, pengantennya akan diarak di tengah jalan, diikuti oleh orang-orang (mungkin itu warga sekampung kali ya) sambil diiringi oleh alunan musik dangdut. Eaaa, tarik mang!

Yang kita lihat saat itu adalah pawai ‘nyongkolan’. Entah kenapa saya beruntung bukan orang Lombok, dipikir-pikir malu juga ya jadi penganten baru terus diarak ke tengah jalan pake musik dangdut. Hahaha.

Akhirnya kita sampai juga di area Senggigi, sekali lagi mata kami disuguhi oleh pemandangan pantai nan indah. Ada banyak pantai di sepanjang garis pantai Senggigi yang bisa disinggahi, tiap pantai dikenakan biaya masuk yang tidak terlalu mahal. Saya dan suami memutuskan untuk singgah di salah satu pantai sampai waktu sunset tiba.

Saya agak ngantuk, mungkin kelelahan karena habis snorkeling. Akhirnya kita berinisiatif untuk sewa tikar dari salah satu warung. Kami pun gelar tikar di bawah deretan pohon kelapa. Saya berbaring sambil mencoba memejamkan mata, suami menelepon ibu untuk memberi kabar.

Ternyata saya engga bisa tidur gara-gara suami bersuara dengan hpnya. Jam 17.30 kita langsung pergi ke pinggir pantai untuk lihat sunset. Langit cukup berawan saat itu, jadi kita ga bisa lihat sunset dengan sempurna. Jam 6 sore, kita langsung pergi menuju Mataram.

Sunset

AYAM TALIWANG ASLI LOMBOK

Kami tiba di Mataram di saat hari sudah gelap, sehingga pas banget untuk makan malam. Setelah browsing-browsing dengan keyword ‘Restoran Ayam Taliwang di Lombok”, pilihan saya jatuh ke Restoran Taliwang Raya. Menurut review orang-orang, resto itu yang paling terkenal. Menemukan restonya juga tidak terlalu sulit. Pemerintah Mataram telah memusatkan satu jalan bernama Jalan Ade Irma Suryani yang khusus untuk sentra Ayam Taliwang. Memasuki jalan itu, saya bisa melihat kanan-kiri jalan ada banyak resto atau warung Taliwang.

Tiba di restoran Taliwang Raya, saya lihat restorannya agak sepi.

“Masih buka kan mba?” tanya saya ke mbak-mbak yang berdiri di dekat pintu masuk.

“Oh masih mba…” jawab dia sambil mengarahkan kita ke meja.

Di resto, ada beberapa jenis Ayam Taliwang. Kami memesan 1 ekor Ayam Bakar Taliwang Madu seharga Rp 45,000. Menurut mbak-nya, ayamnya ayam muda berumur 3 bulan, sehingga ukurannya kecil. Kami juga pesan pelecing kangkung seharga Rp 15,000, plus 2 gelas es kelapa seharga masing-masing Rp 20,000.

Malam itu, saya benar-benar kecapekan. Kerasa banget kalau apa yang kita lakukan lebih banyak backpacker dibanding honeymoon-nya. Makanan datang dalam waktu 20 menitan. Ayamnya menggugah selera.

IMG_3112

Guten apetit~!

IMG_3110

Bumbu ayamnya berasa banget, ada manis-manis-nya dari madu. Pelecingnya juga pedas. Saya pikir, resto ini recommended!

Karena sudah lelah luar biasa, kami memutuskan untuk langsung pulang. Awalnya mau menghabiskan malam di kota Mataram, tapi ternyata saya tidak punya energi lagi. Nyampe rumah, langsung brukk.. tertidur pulas.

KEANEHAN DI PELABUHAN LEMBAR

Pagi-pagi, saya dan suami langsung packing dan rapi-rapi rumah, karena kita mau naik kapal jadwal pagi. Suami langsung pesan taksi blue bird untuk mengantar kita ke Pelabuhan Lembar jam 9 pagi.

Kami pun berpamitan dengan saudara bang Dul di sebelah rumah, sambil mengembalikan kunci. Thank you for your hospitality! ^_^

Alhamdulilah perjalanan dari Labu Api ke Lembar berjalan lancar, tanpa macet. Setiba di area pelabuhan, tiba-tiba taksi yang kami naiki berputar balik. Di depan taksi kami, ada beberapa orang bapak-bapak yang berdiri memblok jalur masuk pelabuhan.

“Maaf bu, saya ga boleh masuk ke dalam, kalau masuk bisa berurusan sama orang-orang itu.. Maaf ya bu cuma sampai sini..” sahut bapaknya dengan raut muka ketakutan.

Suami jelasin ke saya kalau bapak-bapak itu preman pelabuhan. Mereka sengaja memblok jalan, supaya taksi atau kendaraan tidak bisa sampai loket, lalu orang yang akan naik kapal harus jalan kaki ke loket dan kapal, kemudian barang-barang bawaannya bisa dibawakan oleh preman tersebut, dan mereka dapat uang. Semacam rantai ekonomi informal (apa bisa saya sebut juga ilegal?).

Kami pun keluar dari taksi, lalu kami dikerumuni oleh preman-preman tadi. Ada bapak-bapak yang langsung buka bagasi belakang mobil untuk ambil koper.

“Oh engga perlu dibawa pak, suami saya yang akan bawa, Cuma 1 kopernya, engga ya pak..” jawab saya sedikit ketus. Untungnya mereka engga ngelunjak dan pergi dari kami.

Kami berdua jalan menuju loket dengan jarak yang agak lumayan. Saat beli tiket Ferry, petugasnya bilang kalau kami harus cepat-cepat naik kapal. Otomatis, saya dan suami langsung lari-lari supaya tidak ketinggalan kapal. Kalau nunggu kapal berikutnya lumayan lama. Ternyata perjuangan kami belum selesai, keanehan lain muncul di pelabuhan. Saat kami memasuki jembatan menuju kapal. Kami dicegat oleh seorang petugas muda berpakaian resmi. Dia ingin lihat tiket, lalu saya tunjukkan tiketnya. Setelah dia lihat, tiba-tiba dia bilang, “maaf waktu pelayanannya sudah habis”.

“hah, maksudnya gimana pak?” tanya saya heran dan panik.

Saya lihat tidak ada orang lain yang juga ingin naik kapal seperti kami. Apa maksudnya jam pelayanan sudah habis? Apa kita tidak bisa naik kapal?

Suami pun ga bisa berkata-kata lagi. Kita berdua kebingungan. Tapi anehnya, di depan mata saya, pintu kapal masih terbuka lebar. Siapapun masih bisa naik.

Petugas itu menyuruh kita menunggu disitu. Kemudian, datang satu keluarga yang sepertinya mau naik kapal. Seorang bapak berkata ke petugas muda itu, “saya titip satu saudara saya ya..”.

Petugas muda itu dengan muka rada judes, “Maaf waktu pelayanan sudah habis..”

Mereka juga diperlakukan sama seperti kami.

Tiba-tiba ada seorang bapak-bapak nyeletuk, “Eh mas, bapak ini nahkoda kapal itu lo..”

Saya dan suami terus mengamati kejadian itu. Petugas muda berwajah judes langsung memberi gestur kepala untuk masuk.

“Loh, mas kita ini gimana? Kok itu boleh masuk?” tanya saya engga terima.

Petugas muda itu bak kepergok melakukan sesuatu yang engga baik, langsung pergi ninggalin kami.

“udah mbak, masuk aja..” sahut bapak pedagang asongan di dekat saya.

Kami langsung buru-buru masuk ke kapal.

“Kok aneh banget sih mas?” tanyaku kesal ngeliat kejadian tadi.

“Itu mah keliatan banget minta duit..” jawab suami yang juga keliatan kesal.

“berani banget deh masih staf muda, mintain pungutan liar ke penumpang..” sahut saya berargumen.

“Itu mah yang nyuruh pasti atasannya, yang muda-muda gitu tinggal nurut aja.. nanti dia tinggal ngasih setoran” timpal Suami. Kok dia tau bener kejadian kayak gitu? Hehehe.

“Ya, kehidupan di pelabuhan emang keras dan banyak kejadian macam tadi..” tambahnya.

Semoga di kehidupan kita saat ini dan di masa depan, kita berdua selalu dijauhi dari praktik-praktik seperti tadi ya mas dan kita selalu diberi rejeki yang cukup dan halal.. amin.

Fiuh, akhirnya bisa bernafas lega setelah duduk di dalam kapal. Beberapa menit setelah kami duduk, kapal pun berangkat. Tidak seperti kapal keberangkatan kami ke Lombok, film yang ditayangkan di TV flat kapal itu film terbaru Hollywood, it’s Fast Furious 7! Untung aja engga disuguhi film mesum horor Indonesia. Berhubung saya udah pernah nonton, saya memilih tidur, sedangkan suami tetep nonton.

KEANEHAN (LAGI) DI PADANG BAI

Kami tiba di Padang Bai sekitar jam 2 siang. Perut lapar melanda, wajar karena sudah lewat jam makan siang, kami berdua belum makan. Sesampainya di Padang Bai, kita langsung cari Shuttle Bus AC ke Denpasar. Kita akan menginap satu malam di rumah senior kami di Goettingen, bernama Bli Aryana. Kami berniat untuk pakai jasa PERAMA BUS. Keluar dari pelabuhan, kita langsung bisa lihat ada sign “PERAMA” di pinggir jalan.

“Permisi, ada tiket ke Denpasar?” tanya suami ke bapak yang jaga di gerai PERAMA.

“Oh, adanya ke Kuta dan Sanur.. tapi bisa saja sih.. sebentar dulu ya..” jawab si bapaknya agak plin plan.

Kita disuruh menunggu dulu di kursi yang disediakan. Beberapa menit kemudian si Bapak datang menghampiri, memastikan kita mau pergi kemana. Kita sampaikan kalau kita akan ke daerah Tonja, Denpasar Utara. Lalu, bapak itu menjelaskan kalau kita engga bisa naik Perama. Eh, kenapa?

“Disini sudah aturan kalau turis domestik harus naik angkutan umum yang ada disana, Perama Bus ini untuk turis asing, kalau ketahuan sama orang sana bisa gawat..” jawab Bapak itu dengan aksen Bali.

Eh kok gitu? Bapaknya jelasin lebih detail, kalau itu sudah aturan di pelabuhan.

Aturan kok aneh banget sih?

Bapak itu nyuruh kita nunggu sebentar, dan dia pergi ke sebarang jalan.

Saya dan suami mengira keanehan hanya terjadi di Pelabuhan Lembar, tapi ternyata di Padang Bai juga ada. Hadeuh -_-“

Bapak itu datang lagi membawa orang, dia menawarkan mobilnya untuk disewa seharga Rp 250,000.

“oh maaf, kita ga cari mobil, budgetnya juga engga sampai segitu..” jawab saya langsung, ga neko-neko. Kita memang sama sekali engga berencana sewa mobil, duit sudah menipis. Kita mau pakai bus mini saja.

Karena engga ada jalan keluar, kita memutuskan untuk pergi dari situ. Saya heran kenapa kita ga boleh naik PERAMA BUS.

Kita pergi ke agen dimana dulu kita beli ambil tiket kapal pas berangkat ke Lombok, semoga kita bisa dapet bus AC ke Denpasar. Sampai di agen, kita tanya apa ada bus AC yang berangkat ke Denpasar. Mas agennya nyuruh kita duduk dulu sambil nyari info. Berhubung laper, saya dan suami duduk sejenak di ruang AC, lalu saya pergi ke warung sebelah untuk beli nasi campur. Murah banget nasi campurnya Cuma Rp 10,000 per bungkus, isinya ada nasi, telor, ati ampela, dan tempe.

Sambil nunggu info bus, kita makan dulu.

Perjuangan kami belum berakhir. Kami didatangi oleh seorang bapak-bapak, dan dia menawarkan bus-nya. Suami langsung menolak mentah-mentah karena dia bukan orang agen. Saya juga bilang kalau saya cari bus AC, dan mau lewat agen ini. Si Bapak itu tambah nyolot.

“Mana ada bus AC ke Denpasar!” jawab si bapak galak.

Beuh, galak amat ama customer?!

Suami udah pasang muka bete, akhirnya kita nyuekin si Bapak itu. Bapak itu langsung keluar ruangan, dan dia ngobrol ama orang agen. Entah apa yang dibicarakan.

Suami cerita kalau dia sepertinya supir yang cari-cari penumpang dengan agak maksa ke agen-agen, intinya engga resmi.

Bapak itu datang ke kita lagi, dan nawarin mobilnya. Harganya sesuai dengan budget kita Rp 150,000 berdua. Suami bersikeras engga mau.

Namun, ternyata orang agen jadi angkat tangan juga, dia pasrah karena bapak itu ngelobinya kuat banget supaya kita engga naik angkutan lain.

Suasana memanas di ruangan. Akhirnya, suami menyerah dan memutuskan untuk naik mobil Bapak itu.

Sedihnya lagi, mobilnya itu macam kol mini tidak ber-AC. Pasrah deh.

Perjalanan selama 1,5 jam pun kita tidak banyak bersuara. Di mobil itu, penumpangnya hanya kita berdua. Suami terus nyalain GPS di Google Map.

Alhamdulilah, kami sampai juga di Denpasar. Meski perjalanan sedikit kurang menyenangkan, tapi at least we learned something from it.

Kami janjian dengan bli Aryana di McDonald. Tidak lama setelah kami sampai, Bli Aryana datang bersama anak semata wayangnya, Lia. Ngobrol-ngobrol sebentar di McD, kami juga menceritakan agenda kami selama di Denpasar. Malamnya, saya janjian dengan Wenes dan Doli, teman seperjuangan S1 saya di Arsitektur Lanskap IPB. Kami janjian di salah satu kafe di Denpasar. Bli Aryana sendiri mau ngajak kita makan nasi ayam di Denpasar. Akhirnya kami singgah ke rumah Bli Aryana dulu untuk menaruh barang dan istirahat sebentar. Kedatangan kami bertepatan dengan datangnya istri Bli Aryana, mba Dewi. Mba Dewi adalah dosen ilmu kedokteran Universitas Udayana, dulu pernah menempuh studi doktoral di Goettingen. Kami disambut hangat oleh mbak Dewi, begitu juga Lia yang sangat talkactive. Hihi.

SORE DI SANUR

Sekitar jam 5 sore, kita diajak jalan-jalan ke pantai Sanur sebelum pergi makan malam. Saat perjalanan menuju Sanur, saya mengenal beberapa sudut-sudut kota Denpasar yang pernah saya lalui tahun 2010 silam. Saya pernah bergabung dalam tim pameran IPB dalam acara PIMNAS di Universitas Mahasaraswati, Denpasar. Ternyata mental map saya terhadap kota Denpasar masih berfungsi! *Proud*

Di pantai Sanur, saya lihat tidak banyak orang yang sedang bermain-main di pantai Sanur, tidak seramai waktu saya ke Sanur tahun 2010 dulu. Saya diajak Lia main pasir, hihihi berasa bocah ya main pasir. Sata juga mengeluarkan tongkat sakti, tongsis. Dan kami berfoto-foto ria ala-ala ABG, hahaha.

Sanur

Hari semakin gelap, kami pun melanjutkan perjalanan ke lokasi dinner. Ternyata Wenes akan bergabung dengan kami, hore!

MAKAN MALAM DI NASI AYAM KADEWATAN

Kami dibawa ke Nasi Ayam Kadewatan. Wah ini nih! Budi, teman saya asli Ubud menyarankan untuk nyobain Nasi Ayam Kadewatan. Dan ternyata, restonya Cuma ada di Ubud dan Denpasar aja!

“Menu disini Cuma satu, nasi ayam aja..engga ada menu lain” kata Bli Aryana.

Suasana restorannya juga nyaman dan very nature. Kami makan di lesehan.

Makanan datang tidak lama setelah dipesan. Wenes pun datang, ternyata dia datang tidak sendiri, dia bawa temannya bernama Mas Kadek, staf LIPI lulus Chiba University, Jepang. Saya pun mengenalkan Wenes dan mas Kadek ke keluarga Bli Aryana. Dunia ternyata begitu sempit. Mas Kadek ini ternyata satu SMA dengan Bli Aryana. Haha!

Kadewatan1

Sambil menikmati nasi ayam yang super lezat, kami ngobrol-ngobrol tentang banyak hal.

Nasi Ayam Kadewatan menurut saya pas banget bumbunya, cocok di lidah saya. Berhubung kami semua ditraktir Bli Aryana, saya engga tahu harganya berapa, hehe. Terima kasih Bli!

Kadewatan2

HAVING A GOOD CONVERSATION AT MANGSI CAFE, DENPASAR

Obrolan kami pun dilanjutkan ke Mangsi Cafe. Saya janjian dengan Doli disana. Mangsi Cafe terletak tidak jauh dari Nasi Ayam Kadewatan. Mangsi Cafe ramai oleh anak-anak muda yang sedang asik nongkrong sambil ngopi. Tempat ini rekomendasi dari Doli. Teman saya yang satu ini paling tau deh kalau urusan tempat nongkrong. Meski ramai, untungnya kami dapat tempat.

Doli datang bersama pacarnya, Aya, yang juga adik kelas kami di IPB. Mereka berdua sama-sama kerja di Denpasar sebagai konsultan lanskap. Wah senang rasanya ketemu teman lama di luar kota, kan jarang-jarang bisa ketemu kayak gini.

Karena saya sudah kenyang, saya Cuma pesan segelas Capuccino. Ternyata yang lain juga udah pada makan, alhasil kami semua pesan minum aja. That night we talked a lot about random things. Mulai dari kehidupan kerja, berbagai persoalan pariwisata di Bali sampai mispersepsi kebudayaan Bali antara orang lokal dan turis. Dipikir-pikir kok berbobot banget ya obrolannya? Hehehe. Kita asik ngobrol sampai sekitar jam 10 malam.

Saya suka dengan suasana Mangsi Cafe, cozy dan artistik. Dimiliki oleh orang lokal asli Bali, tagline cafe ini : kopi lokal, usaha lokal, pemilik lokal, wajah lokal. Dilengkapi dengan gambar-gambar handmade bergaya lokal di dinding-dinding kayunya. Uniknya lagi, kafe ini tidak menyediakan Wifi. Ada salah satu frame bertulisan “NO WIFI, HAVE A GOOD CONVERSATION”. Wow, keren!

Mangsi

Ketika kafe berlomba-lomba menawarkan fasilitas free Wifi, kafe ini malah mengajak customernya untuk ngobrol-ngobrol seru tanpa gangguan hp.

Percakapan kami pun diakhiri dengan saling mendoakan satu sama lain. Semoga kita bisa sukses di jalan yang sudah kami tempuh masing-masing. Saya nyeletuk kalau probably I’ll be no longer work in the faculty, karena Dekan akan diganti dalam waktu dekat. Hihihi.

Justru teman saya ini menyemangati kalau mereka percaya saya pasti akan sukses di masa depan, bagaimanapun juga. Amiiiin… wish the same thing for you!

Mangsi2

Ki-ka : Mas Kadek (duduk), saya (duduk), Wenes , Doli, Aya

We ended the night with a real good conversation.

Keesokan paginya, saya dan suami kembali berpacking, karena hari itu adalah hari terakhir kami di Bali. Our honeymoon will be over soon. (Oh no!) Engga terasa kalau kita sudah melewati 8 hari yang penuh cerita. Pagi-pagi kami sarapan dengan jajanan pasar khas Bali yang disiapkan oleh Mba Dewi. Sambil kami sarapan di teras depan, kami melihat Mba Dewi sedang menyiapkan sesajen untuk persembahan berisi kue dan aneka kembang. Saya jadi ingat waktu dulu pertama datang ke Bali, saya pernah tidak sengaja menginjak sesajen di trotoar (aduh maaf ya).

Karena penerbangan kami ke Jakarta itu jam 6 sore, saya dan suami masih punya waktu untuk jalan-jalan. Alhamdulilah, bli Aryana bersedia menemani kami jalan-jalan. Setelah berdiskusi, kami sepakat untuk pergi ke Uluwatu. Saya dan suami sudah pernah ke Bali sebelumnya, jadi kita cari spot wisata yang kita berdua belum pernah kunjungi, dan ternyata Uluwatu!

Jam 10 kita berpamitan dengan mba Dewi dan Lia, mba Dewi tidak bisa ikut mengantar ke airport karena harus bekerja. Lia sendiri ikut mamanya ke kantor. Bli Aryana mengajak keponakannya untuk ikut jalan-jalan bersama kami.

SHORT VISIT TO PANDAWA BEACH

Perjalanan dari Denpasar ke Uluwatu membutuhkan waktu sekitar 1 jam. Tapi, sebelum ke Uluwatu, kita diajak ke pantai baru, bernama Pantai Pandawa.

Pantai Pandawa ini berada di balik tebing batu tinggi. Memasuki pantai ini, kita harus menyusuri jalan diantara tebing-tebing batu yang tinggi. Nampak pantainya dari kejauhan, wuooooohh… biru banget!

Pasirnya putih, cocok banget berdampingan dengan air laut yang biru. Menuju ke pantai, kita harus menuruni jalanan aspal. Saat menuruni jalan, di sisi tebingnya, berjejer patung-patung Dewa berukuran besar mulai dari Arjuna hingga Dharmawangsa. Bli Aryana menyarankan kita untuk turun dan berfoto dengan patung-patung. Untungnya patung-patung itu berada di balik tebing, sehingga ternaungi, kita engga kepanasan.

Puas lihat dan berfoto dengan patung, kita lanjut ke pantai.

Ternyata, kondisi di pantai begitu panas terik. Entah suhunya berapa, sampai-sampai mata saya silau karena sengatan matahari. Saya lihat suami agak lemas, akhirnya buru-buru saya ajak foto bareng dengan background pantai Pandawa. Hehehe.

Pandawa

JALAN-JALAN KE ULUWATU : HATI-HATI DENGAN MONYET MACCACA!

Engga berlama-lama, kita melanjutkan perjalanan ke Uluwatu. Sengatan panas yang tinggi bikin saya tertidur di mobil, hingga tiba di Uluwatu.

Dikenakan tiket sebesar Rp 20,000 per orang, kami mendapat selendang kuning yang harus diikat di pinggang. Memasuki area Uluwatu, kami menyusuri jalan di antara pepohonan. Disitu saya bisa melihat monyet Maccaca yang berkeliaran. Kalau pergi ke Uluwatu, kita disarankan untuk tidak memakai atau membawa barang yang memancing monyet itu untuk mengambil dari kita. Untungnya saya engga banyak pakai atribut yang aneh-aneh.

Ternyata bener.. saya melihat ada seorang ibu yang diambil kacamata hitamnya saat si ibu lagi duduk-duduk di tangga. Heboh seketika disitu, orang-orang pada nontonin, setelah kacamata, monyet itu nyolong sendal salah satu ibu dari rombongan yang sama.Nambah heboh deh..

Kami pun menjauhi dari kerumunan yang heboh dengan monyet, dan berkeliling area Uluwatu.

Dari dulu saya pengen ke Uluwatu, karena saya bisa lihat laut dari tebing tinggi.

Uluwatu

Di Uluwatu, ada komplek Pura yang dibangun di ujung tebing. Cukup menarik penempatannya.

Hari ini sangat panas, saya berusaha menikmati perjalanan, sedangkan suami sudah terlihat capek dan kepanasan. Be strong ya dear.. this will be our last destination. *kiss*

Sekitar 1 jam kami puas berkeliling dan berfoto. Bli Aryana memanggil kami untuk meninggalkan Uluwatu dan pergi makan siang. Ternyata sudah jam 2, telat lagi makan siang. Hehehe.

MAKAN SEAFOOD DI JIMBARAN

Kali ini, Bli Aryana mengajak kami untuk mencicipi Seafood di Bali. Dia membawa kami menuju Jimbaran. Wah, dari dulu pengen banget nih ke Jimbaran, konon disana bisa banyak wisata kuliner laut yang super enak. Kami sampai di salah satu resto bernama New Furama. Restonya sepi, dan kita memilih duduk di luar menghadap laut. Wow, viewnya.. cantik. I will miss Bali Beach after I go home.

IMG_4634

Bli Aryana memesan empat porsi mixed seafood dengan nasi. Kami mendapat welcome drink berupa sirup orange dan welcome food, sup ikan dan kacang-kacangan. Setelah makan, baru kerasa kalau saya lapar.

Ternyata dari resto, saya bisa melihat landasan take off pesawat. Wah deket banget dari Ngurah Rai!

Jadi aman deh kalau mau berangkat dari sini ke airport.

Makanan pun datang, dan wuooowww… benar-benar menggugah selera.

Sepiring besar berisi ikan bakar, sate udang, cumi crispy, kerang plus sambal terhidang di depan mata saya. I’m a big fan of seafood. Kind of heaven to me!

IMG_4635

Guten apetit~

Kami makan tanpa suara dan penuh semangat, sambil mendengar desiran ombak yang menghampiri pantai. Subhanallah.. nikmatnya~

GOODBYE BALI!

Sebelum pergi ke airport, saya ingin mampir ke Krisna untuk beli beberapa oleh-oleh. Orangtua menitipkan minuman herbal asli Bali, dan saya membelikan beberapa makanan dan aromaterapi. Jam 4 sore kami berangkat menuju airport. Di airport, kami berpamitan ke Bli Aryana dan mengucapkan banyak terima kasih atas bantuannya selama kami jalan-jalan di Denpasar. Engga kebayang kalau engga ada Bli Aryana, pasti bakal rempong banget. Hehehe.

Setelah check-in, kami sempat dibingungkan oleh jadwal keberangkatan ke Jakarta, karena sempat berubah-ubah. Hingga terlambat sekitar 30 menit, pesawat yang kami naiki take off juga. Saya dan suami meninggalkan Bali dengan perasaan bahagia, tentunya meninggalkan sejuta kenangan yang tidak pernah kami lupa dan menjadi bagian cerita dalam pernikahan kami.

Pesan saya pribadi, buat yang mau menikah, agendakanlah honeymoon sesaat setelah menikah, meski hanya dua hari atau empat hari, meski hanya dekat rumah, atau jauh dari rumah. Karena momen honeymoon adalah momen yang benar-benar untuk berdua. Konon menurut artikel yang saya baca, kualitas rumah tangga di masa yang akan datang bisa diukur salah satunya dari bagaimana pasangan menghabiskan masa bulan madu mereka (ini sih boleh percaya atau tidak ya). Hehe.

Intinya sih, let’s go for a honeymoon to all lovebirds!

-THE END-

With Love,

Mr. & Mrs. Fatahillah

IMG_4467