Our Love Story

by : Annisa Hasanah

reading time for the whole story : 7 minutes

WHEN WE FIRST MET ….

reading time : 3 minutes

Pada tanggal 1 September 2013, saya (Annisa) terbang ke Jerman untuk mengikuti program Master Exchange yang disupport oleh Erasmus Mundus di Georg-August Universität Göttingen. Kota yang menjadi tujuan saya belajar selama 10 bulan adalah Göttingen, sebuah kota kecil nan ramah pelajar yang berada di provinsi Lower Saxony. Niatnya sih saya pergi ke Jerman dengan misi utama untuk belajar dan mencari pengalaman, tapi ternyata keluarga besar menambahkan doa sebelum saya berangkat, agar saya juga mendapat jodoh disana, What?? Hahaha.

Setiba di kota Göttingen, saya merasa belum familiar seperti apa kehidupan dan studi di Jerman. Saya disarankan oleh senior untuk mengenalkan diri di grup FB PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) Göttingen, dengan harapan bisa mendapat arahan dalam mengambil mata kuliah. Dengan formal, saya mengenalkan diri secara formal di grup, isi postinganya sih berawal dengan “salam kenal” dan diakhiri dengan “mohon bimbingannya”. Dari pesan itu, saya mendapat banyak balasan dari anggota grup PPI Göttingen, “Selamat datang Annisa”, “salam kenal Annisa” begitulah rata-rata ucapan balasannya. Tiba-tiba muncul satu orang tak dikenal menuliskan komen “Salam kenal Annisa, Jangan lupa add fb saya ya..”.

What? Siapa nih orang? Kepedean banget nih.. Baru kenalan, minta di-add FB, :p

Komentar lelaki bernama Andik Fatahillah ini kemudian mengundang komentar-komentar dari  anggota grup lain, intinya sih si Andik Fatahillah ini seperti ‘maksud’ tertentu. Hahaha.

Berhubung saya ga kenal ni siapa orang, saya lihat pp fotonya, oh ini toh yang namanya Andik Fatahillah, dari tampangnya sih jutek-jutek gitu. Bisa juga ya cowo jutek ngasi komen agak genit gitu. Pokoknya malesin gitu deh.. :p

Tanpa melanjutkan obrolan di postingan kenalan yang saya buat, saya tetap beaktivitas seperti mahasiswa baru. Ikut orientasi, keliling asrama dan kampus, cuci mata di kota dan lain-lain. Dan satu ketika, saya ingin mengambil laundri baju saya di laundri asrama yang terletak  di gedung lain yang berjarak 40 meter dari kamar saya. Saya langsung keluar dari gedung asrama, dan tiba-tiba…

Sesosok laki-laki berbadan besar sedang berdiri di depan gedung asrama saya. Dengan gaya sok cool-nya, saya menyadari bahwa laki-laki tersebut adalah … eng-ing-eng.. Andik Fatahillah!

Bingung mau ngomong apa, saya Cuma “Eh mas, lagi apa disini?”

Mas Andik : ” ini lagi ada acara di rumah bu Heti.. ada orang Indonesia lo disini.. udah kenalan belum?”

Akhirnya perjalanan laundri saya dialihkan ke kunjungan rumah orang Indonesia. Di rumah bu Heti, saya berkenalan dengan beberapa orang Indonesia yang sedang asik kumpul-kumpul. Setelah kenalan dengan tuan rumah, bu Heti dan pak Doni, sepasang suami-istri yang sedang studi S3. Ternyata bu Heti kenal Ayah saya, sama-sama pengurus HMI).

Di rumah itu, saya dan mas Andik jadi bahan ledekan, entah saya juga ga paham kenapa tiba-tiba saya diledek ama mas Andik. Kenal juga engga. Saya cengar cengir aja disitu. Hehehe.

Setelah pertemuan tidak terduga saat itu, pertemuan saya dengan mas Andik hanya bisa dihitung dengan jari. Pertama, ketemu di Toko Turki bernama AL-IMAN pas sama-sama lagi belanja. Kedua, papasan di tengah jalan saat naik sepeda. Ketiga, ketemu di flat mbak Ella (mahasiswa Indo yang lagi S2). Daaaan… Pertemuan keempat lah menjadi titik awal kedekatan kami.

Hari itu (entah hari apa, haha), saya datang ke rumah pak Nur Edy di Herman Rhein strasse untuk mendatangi pengajian anak Goettingen yang diadakan secara rutin. Saya datang siang hari, disitu saya ikut membantu mengajarkan anak-anak membaca Iqro. Ternyata hari itu adalah hari ulang tahun Niky, anaknya pak Nur Edy sehingga setelah pengajian selesai, acara dilanjutkan dengan syukuran ulang tahun.

Disitulah mulai ramai-ramai berdatangan orang Indonesia, salah satunya Ayu dan Destya. Mereka berdua ini mahasiswa exchange dari UNDIP. Entah bagaimana kita ngerumpi-ngerumpi, akhirnya obrolan kita mengarah pada jodoh.

Tiba-tiba tersebutlah nama si lelaki judes itu, (dan mereka berdua adalah teman dekatnya mas Andik). Dengan perasaan agak malu-malu (ahiw), saya nanya orangnya kayak apa. Entah kenapa, Ayu dan Destya udah kayak agen markeiting ulung. Pinter banget promosiin mas Andik! Hahaha

Ayu : “udah kamu disini aja dulu, jangan pulang dulu, nanti bentar lagi dia mau kesini”

What? terus kenapa kalo dia mau kesini?

Mulai dari detik, I feel awkward. Apalagi pas kedatangan mas Andik, OMG, what am I going to do?

Hari semakin malam, acara diakhiri dengan nonton bareng film Kingdom of Heaven. Entah gimana akhirnya (si Ayu pindah posisi duduk), saya dan mas Andik jadi duduk sebelahan. Mulailah pembicaraan antara kita berdua, obrolannya sih seputar film (untung ada film! jadi ada bahan obrolan!) Hoho.

Film beres, waktu udah menunjukkan pukul 23.00. Saya harus pulang.

Pas lagi ambil jaket dan mau keluar rumah, mas Andik nyamperin..

mas Andik (sambil senyum) : “mau dianter ga?”

Saya tertunduk sambil senyum awkward dan jawab : “boleh”

Ternyata ini cowok engga jutek-jutek amat ya, :p

Akhirnya, mulai detik itulah kami menjadi dekat:)

Reading time : 1,5 minutes

ARE YOU SERIOUS ABOUT ME?

Sejak kami menjadi dekat, kami sama-sama mencari tahu satu sama lain, istilah kerennya sih ‘kepoin’. Hahaha. Mas Andik dimata saya itu orangnya jutek (tetep yah ini mah, hehe), lebih banyak diam, ngomong seperlunya, humoris, dan gombal. Hahaha. Hal yang paling saya kepoin banget adalah umurnya. Pada awalnya saya ga tau umur mas Andik berapa, ternyata kami berdua beda 6 tahun! Tapi mas Andik dengan pedenya merasa mukanya jauh lebih muda dari umurnya. Ih, GR :p

Banyak modus-modus yang muncul sejak saat itu, mulai dari mas Andik ngajak masak bareng di rumah orang sampe ngajak ke museum.

Karena saya penyuka museum, dia ngajakin ke museum Etnobotani, soalnya tempat dia ngambil koran (btw, dia kerja part time sebagai loper koran) itu di depan museum Etnobotani. Pas nyampe ke museumnya, eh ternyata tutup! Hahaha, akhirnya kita malah ngobrol-ngobrol di depan tangga museum.

Entah apa yang bikin saya klepek-klepek ama mas Andik, tapi satu hal yang yang jelas bikin saya klepek-klepek adalah masakannya mas Andik yang super enak. Ga salah kalau orang-orang manggil dia sebagai Chef Göttingen. Saya sendiri engga bisa masak (tapi doyan makan), dan ketemu ama cowo yang jago masak. Itu rasanya .. nyess banget.

Konon, mas Andik dididik oleh duo chef senior di Goettingen, Bang Doel Saroji dan Pak Deniey Purwanto. Hoho.

Kami sering menghabiskan waktu bersama pokoknya engga jauh dari dapur ke dapur rumah orang, haha.

Sekitar 2-3 bulan kami menjadi semakin dekat, tapi kami tidak pernah sekalipun menyinggung soal kedekatan kami dan bagaimana rencana berikutnya.

I think it’s time for the hardest part.

A confession.

About how we will bring this relationship in the future.

Prinsip saya, cari pasangan itu bukan buat sebentar-sebentar.

Once I found ‘the one’, I wish that it would be a lifetime.

Finally, I asked him seriously about this.

Are you serious about me?

He finally confessed, and I’m so relieved that he has the same principle like me.

“Dari awal, aku juga ga main-main kok, aku milih kamu untuk jadi istri… ”

Gini nih hebatnya cowo pendiam. Sekali bicara, langsung bikin klepek-klepek. Haha.

OUR HAPPY DAYS IN EUROPE

Saya merasa beruntung bisa dipertemukan dengan calon pendamping hidup di benua biru nan cantik, Eropa. Tidak banyak memang yang bisa mendapat pengalaman seperti ini.

Waktu kecil saya pernah bercita-cita kalau suatu saat nanti saya ingin bertemu dengan calon suami saya saat sedang sekolah di luar negeri. It feels like I’m living in my own dream. 🙂

Kami banyak menghabiskan waktu bersama di Göttingen dengan melalui empat musim di Eropa yang memberikan pemandangan lanskap luar biasa cantik. Waktu-waktu terbaik dalam empat musim tersebut kami abadikan dalam beberapa foto, yang akan digunakan sebagai foto Pre Wedding kami nantinya. Inilah peribahasa sambil menyelam 2-3 pulau terlampaui. Hehe

Kami berdua banyak menghabiskan waktu belajar bersama di perpustakaan super nyaman bernama SUB atau di Lern-und-Studien Gebäude (semacam gedung khusus untuk belajar),

Kami pun berpetualang ke beberapa kota di Jerman dengan menggunakan free semester ticket. Pada waktu libur panjang, kami mengunjungi dua kota yang dikenal kota paling cantik di dunia, Paris dan Barcelona. Kami pun mengeksplor kota penuh sejarah kelam, Berlin, ibukota Jerman dengan mengunjungi situs-situs perang dunia II.

Sewaktu di Eropa, saya mengenalkan mas Andik ke Orang Tua melalui Skype (Thank you Skype!). Alhamdulilah orang tua saya memberikan respon positif terhadap mas Andik.

Reading time : 2,5 minutes

A LONG DISTANCE RELATIONSHIP

Karena saya mengambil program exchange yang hanya 10 bulan, sedangkan mas Andik mengambil program full Master, pada akhirnya akan ada waktu bagi kami berdua untuk berpisah. Mas Andik sendiri membiayai sekolahnya dari hasil kerja part time tidak tahu kapan dia akan pulang, karena dia harus menabung agar bisa membeli tiket pulang ke Indonesia. Well, it’s not easy for us at that time.

Bulan Juli 2014, saya menyelesaikan studi saya di Goettingen, and it’s time to go home. Kami pun berpisah di bandara Hannover.

Let’s just say that this is for a while, only for a while.

Saya tiba di Indonesia, dan melanjutkan aktivitas seperti sedia kala di IPB. Begitu juga mas Andik, melanjutkan studinya di Jerman sambil kerja part time.

Kreativität im Studium

Banyak orang bilang, kalau seseorang memiliki niat untuk menikah, insha Allah akan diberikan jalan.

Subhanallah, ternyata benar, Allah mendengar do’a kami berdua.

Pada bulan Februari 2014, University of Göttingen, tempat kami belajar, mengadakan program kreativitas mahasiswa (semacam PKM di Indonesia) berjudul Kreativität im Studium. Mereka akan memberikan funding kepada para mahasiswa yang mengajukan proposal berisi ide kreatif yang ingin dijalankan dan butuh pendanaan.

Melihat kesempatan ini, kami berdua mengirimkan proposal dengan ide masing-masing. Saya mengajukan ide permainan board game yang sudah saya buat sejak tahun 2009, Ecofunopoly, sedangkan mas Andik mengajukan ide penelitian sosial di Gunung Merapi, Yogyakarta.

Mas Andik berharap agar penelitian ini bisa dijadikan sebagai bahan tesisnya, dan juga memberikan kesempatan dia untuk pulang ke Indonesia.

Alhamdulilah, do’a kami didengar, kami berdua sama-sama lolos program Kreativität im Studium ini!

Senangnya tidak terkira, mas Andik akan pulang ke Indonesia!

Pulang ke Indonesia tentunya akan membawa banyak hal yang belum kami selesaikan sewaktu di Jerman. 🙂

MEET THE PARENTS

Berkat Kreativitaet im Studium, bulan November 2014 mas Andik bisa pulang ke Indonesia untuk melakukan penelitian di Yogyakarta. Beberapa minggu setelah ketibaan di Indonesia, mas Andik bersilaturahmi ke rumah saya di Ciawi dan bertemu dengan Orang Tua saya.

Pada awalnya, mas Andik agak malu-malu dan bingung kapan waktu yang tepat untuk bicara serius dengan kedua orang tua saya. Akhirnya sehari sebelum mas Andik kembali ke kampung halaman, dia memberanikan diri untuk meminta izin ke orang tua untuk menikahkan saya.

Alhamdulilah, tanpa bicara neko-neko, Ayah saya merestui niat kami berdua untuk menikah. Ayah saya meminta ke mas Andik agar dalam waktu dekat keluarga mas Andik bisa datang bersilaturahmi ke rumah kami.

THE ENGAGEMENT DAY

13 Desember 2014 was our biggest day for us during the whole year.

We are finally enganged!

Disaksikan oleh kedua belah keluarga besar. Kami meresmikan pertunangan kami di rumah kecil saya tercinta di Ciawi. Kedua sahabat saya juga hadir mendampingin saya (Thank you Tahmid dan Nisty!).

Lucunya, sebelum pemasangan cincin, saya iseng nyuruh mas Andik untuk nyebutin 3 kata yang bikin mas Andik mau ama saya *tsaaaaah Saya sengaja ngetes gitu, supaya suasana acara lamaran tidak tegang-tegang amat. Hehe.

Kami pun merencanakan untuk mengadakan acara akad nikah pada tanggal 15 Mei 2015. Tanggal tersebut jatuh pada hari Jumat, yang dipercaya hari baik, juga tanggalnya yang bisa dibilang cantik, 15-05-2015. Hihihi.

Setelah lamaran, kami pun berpisah lagi, saya pergi ke Jerman selama 1 bulan untuk mengerjakan project Ecofunopoly, sedangkana mas Andik melakukan survei di Gunung Merapi. Kami pun bertemu lagi di Jerman, hanya 4 hari. Waktu sempit itu kami pakai untuk foto pre-wedding. Berkat bantuan keluarga padepokan Grüner Weg, saya dan mas Andik bisa melakukan pre-wedding photo session di Jerman.

Terima kasih tak terhingga untuk fotografer ulung, Bang Arif Relano Oba serta istrinya yang paling jago bikin pose, Mba Masyitah Syaifuddin, plus pak lurah yang baik hati selalu, bang Doel dan Mami Reni yang mau minjemin properti baju cantiknya yang bikin saya ‘wow’ pas difoto, Irfan juga yg sudah mau jadi asisten foto bang Arief, plus-plus Raqidut yang udah mau dingin-dingin nganter Tante dan Om-nya ke kastil.

Setelah itu, saya kembali ke Indonesia untuk melanjutkan aktivitas akademik saya di IPB sekaligus mempersiapkan acara pernikahan kami bulan Mei depan.

That is Our Bittersweet Story.

Thank you for reading our story!

  • inspiratif banget nih ceritanya 🙂
    jadi pengen deh keluar negeri terus dapet jodoh disana :p
    selamat yaa semoga menjadi keluarga samawa 🙂

  • Siti Lutfiyah Azizah

    Kaka.. Selamat yaa.. Semoga allah berkahi sampe akhirnya dengan keluarga barunya 🙂

    Tanggal nikah kita samaan, hehe.. Cuma kaka ambil angka 5 buat bulan, aku ambil angka 2 buat bulan nikahnya 😀

  • Salut banget sama mbak annisa. masih muda sudah keliling kemana-mana. pengen rasanya bisa sampai berkunjung antar negara seperti mbak. semoga makin sukses dan bisa menambah tempat yang ingin dikunjungi ya. salam kenal