Tips Mendapatkan Beasiswa Keluar Negeri (2)

Simak tips mendapatkan beasiswa keluar negeri (1) disini.

Test apa yang harus saya pilih? TOEFL ITP, TOEFL iBT, TOEIC, atau IELTS?

Jawabannya, tergantung persyaratan beasiswa yang akan kamu apply. Ada yang meminta TOEFL ITP saja, ada juga yang harus TOEFL iBT atau IELTS.  Jika memang TOEFL ITP cukup, maka siapkanlah sertifikat TOEFL ITP dengan skor yang baik. Biaya Test TOEFL ITP jauh lebih murah dari test lainnya, masih dibawah Rp 500,000. Jika memang diminta TOEFL iBT, IELTS, TOEIC, persiapkanlah sebaik mungkin sebelum test. Karena biaya test-nya (menurut saya) tidak murah, TOEFL iBT itu sekitar 150 USD. Jangan sampai kita mengambil test tanpa persiapan, lalu mendapat skor yang tidak diharapkan. Beberapa lembaga bahasa juga menyediakan paket seminar singkat untuk persiapan test TOEFL atau IELTS, biayanya juga tidak murah, jadi menabunglah dari sekarang!

     2. Pribadi

Dokumen pribadi adalah dokumen-dokumen yang diperoleh dari seseorang, bisa dari diri kita sendiri atau dari orang lain. Umumnya dokumen pribadi yang dibutuhkan untuk mendapat beasiswa adalah CV, Motivation Letter, dan Surat Rekomendasi. CV dan Motivation Letter dibuat oleh si pelamar. Kedua dokumen ini sangat, sangat, sangat menentukan keberhasilan kita mendapat beasiswa. jadi maksimalkan dalam menyiapkan dokumen ini.

Curriculum Vitae (CV) / Resume 

Buatlah CV yang menarik dan sesuai format yang diminta oleh pemberi beasiswa. Jika diminta sebanyak-banyaknya, buatlah CV yang lengkap dan menceritakan semua pengalaman kita. Jika dibatasi halamannya, masukkan pengalaman atau prestasi kita yang paling top. Berikan info yang up to date, misal 5 tahun terakhir. Untuk beasiswa Erasmus, ada format CV resmi yang harus kita pakai (formatnya disini). Jangan lupa, carilah contoh CV yang sudah diisi di Internet untuk referensi, perhatikan bagaimana cara mengisi CV yang singkat, padat dan jelas, sehingga tidak bertele-tele. Buat CV yang masuk akal dan sesuai dengan keahlian dan kemampuan kita. Kejujuran sangat dihargai di dalam CV, jangan melebih-lebihkan, jangan juga merendahkan diri kita.

Motivation Letter

MotLet atau Motivation Letter adalah salah satu dokumen persyaratan beasiswa yang paling ampuh untuk mendapat beasiswa. Karena di Motlet ini, si pemberi beasiswa akan melihat ‘diri kita’ dalam Motlet tersebut. Disitu juga akan menentukan apakah kita layak untuk mendapat beasiswa atau tidak, apakah kita lebih unggul dari yang lainnya untuk dapat beasiswa. Motlet adalah sebuah esai pribadi yang kita tulis dengan menceritakan siapa diri kita, apa lata belakang kita, sejauh mana pengetahuan kita terhadap sebuah isu tertentu, mengapa kita ingin melamar beasiswa yang dituju, mengapa kita memilih universitas yang dituju, mengapa kita pantas dapat beasiswa, dan bagaimana rencana masa depan kita kelak setelah menerima beasiswa. Semua ditulis dalam bahasa Inggris, dan ada batas halaman (biasanya 1-3 halaman, tergantung persyaratan). INGAT. Motlet yang berkualitas tidak bisa dibuat dalam waktu singkat. Biasanya pelamar beasiswa ditolak beasiswa, karena motlet-nya masih belum bagus, saya sendiri mengalaminya. Setelah saya membaca ulang motlet terdahulu saya, saya sadar bahwa this is not my best motivation letter. Saya harus bisa membuat lebih. Sehingga saya membuat draft pertama, lalu meminta bantuan ke senior saya yang pernah mendapat beasiswa untuk dikoreksi baik secara isi maupun grammar bahasa Inggris. Tidak ahli dalam grammar dan menulis bahasa Inggris, bukan berarti kita tidak bisa membuat MotLet yang bagus. Kita bisa meminta bantuan ke rekan atau teman yang ahli dalam bahasa Inggris untuk mengoreksi esai kita. Alokasikan waktu yang tidak sedikit untuk membuat MotLet. Pengalaman saya pribadi, saya telah melakukan revisi sebanyak 8 kali sampai MotLet terakhir saya jadi.

Surat Rekomendasi (Recommendation Letter)

Surat Rekomendasi adalah sebuah surat resmi berisikan ‘testimoni’ diri kita dari orang lain. Surat rekomendasi ini memiliki peluang yang tinggi untuk berhasil mendapat beasiswa, karena pemberi beasiswa akan melihat ‘diri kita’ di mata orang lain. Jika CV dan MotLet menceritakan ‘diri kita’ menurut kita sendiri, kalau Surat Rekomendasi menceritakan ‘diri kita’ menurut orang lain.

Siapa pemberi rekomendasi yang paling baik?

Pemberi surat rekomendasi juga sebaiknya bukan orang yang sembarangan. Carilah dosen atau pimpinan/boss yang mengenal baik tentang diri kita dan bisa memberikan rekomendasi yang baik. Saya banyak diberi saran kalau sebaiknya surat rekomendasi itu diberikan oleh seseorang yang memiliki jabatan yang ‘menjual’ di suatu institusi pendidikan atau perusahaan misal Rektor, Dekan, Ketua Departemen, Direktur, atau Bos di tempat kerja. Syukur-syukur jika mereka mengenal baik tentang diri kita pribadi, dan bisa bekerjasama untuk memberikan rekomendasi yang ‘menjual’. Itu akan jadi poin plus (makanya dekatilah pimpinan-pimpinan kampus dan tempat kerja, hehe!). Tetapi jika kita merasa kurang dekat dengan pimpinan, kita bisa meminta rekomendasi ke seseorang yang sangat kenal baik dengan diri kita, misalnya dosen pembimbing akademik dan dosen pembimbing skripsi/tesis. dosen-dosen tersebut biasanya mengenal baik diri kita karena kita banyak berinteraksi. Mintalah rekomendasi secara baik-baik, siapkan form yang harus diisi oleh dosen di dalam map, komunikasikan tentang deadline pengirima beasiswa, supaya dosen bisa wanti-wanti. Meminta surat rekomendasi sangat membutuhkan kesabaran, karena kita akan berhadapan dengan orang-orang super sibuk, sehingga bersabarlah dalam meminta surat rekomendasi!

Seperti apa Format Surat Rekomendasi?

Jawabannya, tergantung persyaratan beasiswa yang akan kita lamar. Kadang-kadang ada form khusus yang cukup kita download lalu print dan diisi, ada juga yang dibuat sendiri. Jika buat sendiri, sebaiknya buat dalam format ketikan, bukan tulis tangan, supaya lebih rapi. Jika dosen meminta kita untuk membuat draftnya lebih dulu (karena alasan kesibukan), maka buatlah draft-nya! Ingat, jangan melebih-lebihkan diri kita, jangan juga merendahkan. Tulislah berdasarkan pengalaman dan menggunakan kata-kata yang tidak menyombongkan diri. Misalnya ” From my opinion, Annisa is a high motivated student, she has a strong willingness to study. She has received some achievements such as (tulis prestasi yang pernah kamu dapatkan)… ” . Sebaiknya jangan tuliskan, “Annisa is very smart and intelligent student.. she is the best among the students in the class..“. Meski mungkin dosen merasa kita anak yang pintar, sebaiknya jangan buat seperti itu, hehe.

Berapa jumlah surat rekomendasi yang harus disiapkan?

Tergantung permintaan dari pemberi beasiswa, namun rata-rata 1-2 surat rekomendasi. Jika hanya 1 saja, carilah seseorang yang sangat-sangat mengenal baik siapa kita, apa aktivitas kita, dan apa capaian kita selama mahasiswa. Jika 2 surat, buatlah satu surat dari orang yang mengenal baik kita, dan satu lagi dari orang yang memiliki jabatan tinggi dan juga bersedia memberikan rekomendasi yang baik.

REMEMBER. Time Does Matter! 

Istana tidak dibangun dalam sehari, kesuksesan orang tidak didapat dalam hitungan jam. Jadi, persiapkan semua dokumen jauh-jauh hari sebelum deadline. Karena ini akan menentukan kualitas dokumen yang kita kirimkan. Setelah mengetahui bahwa program beasiswa yang ingin kita lamar sudah dibuka, langsung cicil dokumennya satu per satu, jangan pernah menunda sampai H-1 Deadline! Kita akan butuh waktu untuk mereview isi berkas kita, mengecek kelengkapan dokumen kita, kalau dalam keadaan buru-buru, biasanya ada aja yang kurang lengkap atau missed. Sisakan H-1 atau 2 minggu sebelum Deadline hanya untuk mereview dan mengecek seluruh dokumen beasiswa.

  • Jadilah “Yang terunik”, bukan jadilah “Yang terpintar”

Ini salah satu tips khusus sih dari saya, karena berdasarkan pengalaman, semua pelamar beasiswa pasti pintar-pintar, tidak cuma pintar tapi usahanya keras juga. Pelamar beasiswa juga tidak sedikit, melainkan sangat banyak. Lalu, apakah mereka semua akan dapat beasiswa? tentu tidak. Karena setiap beasiswa pasti ada kuota setiap tahunnya. Semua pelamar beasiswa akan diseleksi dengan ketat, pelamar mana yang terbaik. Sehingga, menjadi ‘yang terpintar’ tidak cukup, kita harus menunjukkan kalau kita adalah pelamar yang ‘unik’ dan berbeda dari yang lain. Keunikan ini yang akan membuat pihak penyeleksi melirik kita. Meski terkadang proses seleksi itu misteri, kita tidak tahu bagaimana proses detailnya, tapi tunjukanlah kalau kita ini berbeda dari yang lain! tunjukkan dari dokumen yang kita kirimkan (lewat CV atau motivation letter), tunjukkan pula saat wawancara (jika ada seleksi wawancara). Keunikan bisa dilihat dari prestasi apa yang kita dapatkan, karya apa yang kita dapatkan, kegiatan apa yang pernah kita lakukan, so carilah pengalaman sebanyak-banyaknya selama menjadi mahasiswa!

  • Perhatikan Deadline dan Kirim Dokumen Persyatan Beasiswa yang Lengkap

Jika semua dokumen sudah di-review dan di-cek secara lengkap, kirimlah dokumen tersebut beberapa hari sebelum deadline. Usahakan jangan mengirim berkas mepet saat deadline. Mengirim aplikasi biasanya ada yang online, ada juga yang via pos/kurir (mengirim berkas asli). Untuk mengirim berkas online, jangan sesekali menyepelekan karena ‘hanya’ kirim online, bisa dilakukan kapan saja, termasuk saat deadline tiba. Buatlah asumsi, bagaimana jika hari H deadline, tiba-tiba mati lampu atau koneksi internet terganggu, sehingga kamu gagal kirim berkas yang sudah disiapkan jauh-jauh hari. Untuk mengirim berkas via pos/kurir, cari tahu info lama pengiriman beserta biaya kirim. melamar beasiswa keluar negeri tentunya semua berkas akan dikirim keluar negeri (ada juga lewat perantara di Indonesia), jadi alokasikan waktu pengiriman sebelum deadline. Jangan salah baca tanggal deadline! Terkadang keterlambatan pengiriman, biasanya tidak bisa dinego.

  • Rajin membuka Email dan Perbanyak Berdoa

Setelah berkas dikirim, tunggu informasi apakah berkas sudah diterima atau belum, apakah lengkap atau tidak. Rajinlah membuka Email, karena bisa jadi berkas kita tidak lengkap, dan mereka meminta kita untuk mengirim lagi. Setelah kirim berkas, jangan langsung dilupakan begitu saja. Keep in touch dengan email pribadi kita hingga pengumuman tiba. Sambil menunggu pengumuman, perbanyak berdoa. pastinya deg-degan luar biasa, bersiap-siaplah dengan segala hasilnya. Optimis tetapi juga mempersiapkan yang terburuk, memang hal ini tidak mudah (dari pengalaman saya). Tapi, insha Allah, semua sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa, apapun hasilnya pasti akan menjadi yang terbaik untuk kita 🙂

Masih belum lolos…

Sudah kirim berkas lengkap, kirimnya juga jauh-jauh sebelum deadline, isi-nya juga sempurna, kok saya belum lolos ya? (Saya lebih suka menggunakan kata ‘belum lolos’ dibanding ‘tidak lolos’). Seperti bagian awal dari postingan ini, Beasiswa adalah salah satu pintu rejeki. Jika ternyata belum lolos, berarti itu masih belum menjadi rejeki kita.

Menyerah saja? Kembalilah ke niat awal, apakah kita ingin menghentikan perjuangan mencari beasiswa sampai disini saja, atau tetap melanjutkan apa pun yang terjadi. Sudah sering saya mendapatkan banyak penolakan saat melamar beasiswa, entahlah berapa jumlahnya, tapi jika saya ditolak beasiswa yang pertama kali saya lamar, lalu saya menyerah begitu saja. Mungkin saya tidak akan tahu bahwa Allah swt sudah menyiapkan rejeki beasiswa di tahun berikutnya. Who knows.. 🙂

Saya mungkin menyesal menerima banyak penolakan, tapi saya akan lebih menyesal jika saya tidak pernah mencoba. Karena ditolak dan tidak mencoba adalah sesuatu yang tidak sama. Penolakan banyak mengajarkan banyak hal, dan justru membangkitkan semangat kita untuk lebih berusaha, dan juga bersikap lapang dada. Tapi tidak mencoba, tidak mengajarkan kita apa-apa. Mungkin awalnya saat pertama mendaftar beasiswa kita penuh dengan ambisi, namun perlahan-lahan kita akan cenderung bersikap optimis, dibanding ambisius. Teman saya juga sudah mengalami berbagai penolakan, siapa sangka di tahun-tahun berikutnya, dia malah dapat dua beasiswa ke Eropa di waktu yang sama! Gimana engga amazing coba?

Intinya tidak ada yang tidak mungkin, penentu kelolosan beasiswa tidak hanya dilihat dari satu faktor saja, tidak cuma IPK, tidak cuma prestasi, tidak kemampuan bahasa Inggris, dan lain-lain. Semua faktor saling melengkapi. Saat melamar beasiswa, kesabaran kita akan diuji. Disitulah yang menentukan siapa yang pantas mendapatkannya. Satu faktor lain yang tidak kalah penting adalah faktor X. Apa itu? Luck. Saya juga percaya faktor keberuntungan (luck) menentukan kita untuk mendapat beasiswa, dan keberuntungan itu tidak pandang bulu. Maka, perbanyaklah berdoa dan ikhtiar semoga kita mendapat keberuntungan!

Selamat berburu beasiswa!

  • Annisa Hasanah
  • Penerima beasiswa Erasmus Mundus ‘Master Exchange Program’ tahun 2013-2014
  • Penerima beasiswa Bakrie Graduate Fellowship tahun 2015

1146643_10201172854197219_410958948_n