Tips Mendapatkan Beasiswa Keluar Negeri (1)

Pintu Rejeki Bernama Beasiswa

Mendapatkan beasiswa keluar negeri bagi saya pribadi adalah salah satu pintu rejeki yang diidam-idamkan banyak anak muda, karena tidak hanya sekedar memberikan materi, tetapi juga jalan untuk mendapat ilmu yang lebih tinggi lagi. Beasiswa memberikan kita sebuah jalan untuk melihat dunia, membuka cakrawala wawasan kita, dan juga mempertemukan kita dengan sebuah kehidupan yang baru.

Tidak heran memang banyak sekali anak-anak muda memperjuangkan dirinya untuk mendapat beasiswa, termasuk saya. 🙂 Bagi seseorang yang bukan berasal dari keluarga yang mampu membiayai sekolah keluar negeri, pasti akan paham betapa beasiswa ini begitu spesial untuk didapat.

Meski saya bukan ahli dalam memberi tips mendapat beasiswa, tapi ternyata cukup banyak sekali teman-teman yang nanya-nanya tentang tips atau cara mendapat beasiswa Erasmus yang pernah saya dapatkan. Jadi, saya ingin sharing berdasarkan pengalaman pribadi ketika berjuang menjadi seorang pemburu beasiswa (scholarship hunter). Jika nanti ada yang tanya, saya cukup memberi postingan ini! (Hehe). Saya sendiri juga pernah (dan masih) mencari-cari tips untuk berburu beasiswa kok sampai detik ini! Because life is a never ending journey to learn and to study, and scholarship has a huge part of it!

Semoga postingan ini bisa memotivasi dan mendorong pembaca semua untuk melamar beasiswa dan tetap maju terus pantang mundur!

Berikut tipsnya step by step.

  • Niat dan Motivasi

Mulailah dengan niat. Yakinkan dalam hati, “saya harus dapat beasiswa”, “saya ingin studi keluar negeri”, “saya ingin melihat belahan dunia yang lain”. Seseorang yang sudah punya niat, menurut saya, bisa dibilang dia sudah 50% menuju keberhasilan mendapat beasiswa. Niat-lah yang selalu membuat kita selalu on-track dalam berjuang mendapat beasiswa. Saat S1, saya sudah niatkan diri saya untuk melamar beasiswa jika nanti lulus S1. Niat itulah yang menguatkan saya untuk memulai mencari beasiswa, menyiapkan dokumen, hingga mengirim seluruh dokumen beasiswa. Sampaikan juga ke Yang Maha Kuasa, minta ‘izin’ bahwa hambanya ini ingin berjuang mendapatkan beasiswa. Insha Allah, dengan niat yang kuat, apapun yang terjadi ke depan, kita akan terus maju sampai kita berhasil mendapatkan beasiswa!

  • Buang jauh-jauh “katanya begini, katanya begitu..”

Seringkali ada yang bertanya ke saya, “kalau mau dapet beasiswa, IPK harus di atas 3 koma sekian ya?”, “kalau mau dapet beasiswa, harus pinter banget ya?”, “Ah, beasiswa mah cuma buat orang pinter aja..” , “ah, saya ga bisa bahasa Inggris, mana bisa dapat beasiswa..” .

Di era yang begitu banyak informasi, kita seringkali mendapat banyak ‘info-info’ dengan label ‘katanya begini’ ‘katanya begitu’, sehingga itu akan menciutkan niat kita untuk melamar beasiswa. Padahal kebenarannya masih belum pasti. Setahu saya, walikota Bogor pernah mengaku kalau IPK S1 dia hanya dibawah 3, beberapa tahun kemudian dia mendapatkan beasiswa Doktor ke Australia. Beberapa teman saya juga memiliki IPK di bawah 3, tapi alhamdulilah mereka bisa mendapatkan beasiswa hanya sekali mengirimkan saja, berbeda dengan saya yang harus berjuang pontang panting, dan baru mendapatkan beasiswa setelah menghadapi berbagai penolakan, padahal IPK saya tidak di bawah 3. Semua itu misteri, hanya Tuhan yang tahu.

Janganlah terlalu sering melabelkan diri sendiri, sehingga mengurungkan niat kita. Disini banyak sekali orang-orang sudah ‘gugur’ duluan sebelum mencoba. Buang jauh-jauh segala kata ini dan kata itu dan Mulailah mencoba melamar beasiswa !

  • Melakukan Riset

Niat sudah. Menjernihkan pikiran sudah. Mulailah membuat riset kecil-kecilan. Riset disini artinya mencari-cari informasi seputar beasiswa yang akan kita coba. Tahap ini penting, karena kita akan mengetahui secara detil tentang beasiswa apa, syaratnya apa, bagaimana kriteria seleksinya, kapan deadlinenya, dan masih banyak lagi. Melalui Internet, kita sudah bisa dapat segudang informasi beasiswa dari segala penjuru dunia. Setiap program beasiswa kurang lebih memberikan persyaratan yang sama, hanya terkadang ada dokumen khusus yang perlu disiapkan. Disinilah kita perlu melakukan banyak riset. Misalkan ingin sekolah ke Amerika, pilihlah beasiswa Fullbright, pelajari syaratnya. Misal ingin sekolah ke Eropa, carilah beasiswa Erasmus, DAAD, dll. Ingin ke Jepang, carilah beasiswa Monbukagakusho. Setelah tahu beasiswa apa yang mau kita lamar, langsung pelajari syaratnya.

Jika masih ada yang kurang jelas, cari senior atau kenalan yang pernah dapat beasiswa tersebut, tanyalah dan mintalah tips-tips khusus. hindari pertanyaan yang kadang bikin yang ditanya kesal, seperti “untuk beasiswa Erasmus, syaratnya apa saja?”, “deadlinenya kapan?” padahal sudah jelas-jelas ada infonya. pelajari dulu beasiswanya sebelum bertanya. Disini kita perlu menggunakan otak kita sebelum bertanya. Tanyalah pertanyaan secara bertahap dan terstruktur, mulai dengan perkenalan diri dengan sopan (sekalipun kita kenal baik si penerima beasiswa tersebut), gunakan urutan nomor dalam menulis pertanyaan supaya memudahkan untuk menjawab. Jangan langsung bertanya secara membabi buta.

Ingat, riset itu penting!

  • Siapkan Dokumen Persyaratan

Tahapan ini tidak dapat dihindari, karena tanpa dokumen persyaratan beasiswa, kita tidak akan pernah dapat beasiswa. Setelah mendapat info yang lengkap seputar beasiswa yang akan kita lamar, mulailah persiapkan dokumen satu per satu. Ada dua kategori dokumen yang perlu disiapkan :

  1. Administratif

Dokumen ini terdiri dari berkas-berkas yang sifatnya administratif, dan kita perlu mendapatkannya dari sebuah instansi atau lembaga, misalnya paspor, transkrip nilai, ijazah, TOEFL,  surat keterangan belum mendapat beasiswa, surat keterangan bekerja, dan lain-lain. Ingat, untuk mendapatkan dokumen ini, semua butuh proses yang tidak bisa sebentar, urus-lah seluruh dokumen ini jauh-jauh hari sebelum deadline, karena kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi. Dokumen-dokumen tersebut perlu mendapat TTD pimpinan atau cap. Kita tahu pimpinan-pimpinan tidak hanya sekedar menandatangan dokumen kita, jadi siapkanlah lebih awal.

TOEFL/IELTS

Hampir semua beasiswa memberi syarat sertifikat TOEFL/IELTS, karena itu akan menjadi tolak ukur utama kita untuk kemampuan berbahasa. Pemberi beasiswa tidak akan memberikan beasiswa kepada orang yang tidak bisa berkomunikasi, sehingga sertifikat TOEFL menjadi penting. Beberapa program beasiswa memberi syarat minimal skor TOEFL, beberapa lagi tidak menyebutkan. Bagaimana menyikapi minimal skor yang tidak disebutkan? Jawabannya, berilah skor TOEFL yang setinggi-tingginya! Jangan mematok pada asumsi minimum skor, lakukan yang terbaik saat test. Berapapun hasilnya, terima saja dan masukkan bersama dokumen yang lain.

Jangan pernah takut memiliki skor TOEFL rendah. Tidak mampu was-wes-wos bahasa Inggris bukan berarti memiliki TOEFL yang rendah, karena kemampuan berbicara bahasa Inggris memerlukan skill yang berbeda dari TOEFL. Test TOEFL dan IELTS memerlukan strategi, karena tidak hanya bermodalkan pemahaman teori saja, tetapi juga kemampuan menguasai bentuk soal, mengejar waktu, dan masih banyak lagi. Jauh-jauh sebelum deadline beasiswa, ikutilah TOEFL prediction untuk mengukur kemampuan kita, setelah tahu. Cari tahu dimana kelemahan kita, apakah di bagian Reading, Listening, Writing, Speaking, atau Structure. Jika sudah tahu, perbanyaklah belajar dan latihan soal tentang bagian yang merupakan kelemahan kita, tetapi tidak lupa pelajari mempelajari bagian lain.

Belilah buku TOEFL yang berstandar Internasional, luangkan waktu minimal sekian jam per hari untuk belajar TOEFL sendiri. Jika merasa tidak bisa belajar sendiri, ambillah les bahasa di lembaga yang memiliki reputasi yang bagus. Untuk TOEFL, memang kita akan mengeluarkan uang. Anggaplah uang ini bagian dari investasi kita, jangan pernah merasa rugi untuk mengeluarkan uang demi meningkatkan kemampuan bahasa Inggris.

Test apa yang harus saya pilih? TOEFL ITP, TOEFL iBT, TOEIC, atau IELTS?

Simak tips berikutnya disini.