Kajian Tanaman Lanskap sebagai Pendukung Karakteristik Taman Bali

Desain lanskap atau taman Bali melibatkan filosofi budaya Bali yang menempatkan setiap komponennya. Tri Hita Karana adalah falsafah hidup masyarakat Bali yang memuat tiga unsur yang membangun keseimbangan dan keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan lingkungannya yang menjadi sumber kesejahteraan, kedamaian, dan kebahagiaan bagi kehidupan manusia (Perda Bali, 2009). Menurut falsafah tersebut, lingkungan dinilai sebagai sumber kesejahteraan yang mampu menopang kebutuhan manusia. Taman dan pekarangan merupakan ruang yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Bali. Pertamanan tradisional Bali mempunyai filosofi yang sangat tinggi sebagai unsur tanaman yang memberi kehidupan, keteduhan, kedamaian, keindahan, tempat meditasi, memuji dan menyembah kebesaran Tuhan sebagai warisan budaya Hindu di Bali (Prajoko, 2012).

Dalam (more…)

Read More

Lanskap Perdesaan Kecamatan Cerenti Riau

Manusia tidak lepas dari interaksi dengan lingkungan. Manusia dan lingkungan (atau kita sebut dengan lanskap) akan menghasilkan suatu pertukaran persepsi, perilaku, dan lain-lain. Manusia mendapat pengaruh dari lanskap, dan lanskap memperoleh pengaruh dari manusia. Pada kali ini, saya ingin sharing tentang tugas pertama saya untuk mata kuliah Interaksi Manusia dan Lanskap. Lokasi yang menjadi studi kasus daam tulisan saya adalah Lanskap Perdesaan di kecamatan Cerenti Riau.

Kecamatan Cerenti terletak di Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau. Kawasan ini merupakan kampung halaman ayah saya yang asli berdarah Melayu. Karakteristik dari kecamatan Cerenti ini adalah lanskap perdesaan yang terbentuk dari berbagai elemen lanskap baik alamiah maupun non-alamiah yang dipengaruhi oleh interaksi sosial budaya masyarakat setempat. Kecamatan Cerenti ini terletak di sepanjang jalur utama (jalan provinsi) yang dibatasi oleh kecamatan Peranap dan kota Rengat. Bentukan lahannya bergelombang (undulating).

 

 

Ilustrasi Denah Tapak Perdesaan Kecamatan Cerenti, Riau (klik untuk memperbesar)

Dari segi lanskap, tata guna lahan (land-use) di kecamatan Cerenti ini memiliki dominansi antara pemukiman dan perkebunan. Ditemukan pula lahan terbangun yang umumnya dibangun untuk pertokoan dan bangunan lain yang mendukung kegiatan ekonomi.

Struktur lanskap pemukiman di kecamatan Cerenti umumnya homogen. Dari bentuk fisik bangunan, umumnya rumah-rumah di kecamatan ini berbentuk rumah panggung. Rumah ini merupakan rumah yang dibangun pada masa lampau dan sebagian rumah panggung yang ada masih bertahan sedangkan sebagian lainnya telah diubah menjadi rumah masa kini (menggunakan semen).

 Bentuk Rumah dan pekarangan desa

Setiap rumah umumnya memiliki pekarangan depan dan belakang yang cukup luas. Pekarangan depan maupun belakang umumnya ditanami pohon-pohon buah tropis, seperti rambutan, kelapa, durian, dan lain-lain. Rumput-rumputan dan semak-semak liar tumbuh di sekitar pohon. Diantaranya tanaman semak tersebut ada beberapa jenis tanaman yang umumnya digunakan sebagai bahan makanan. Fungsi pemukiman ini digunakan sebagai area untuk memenuhi kebutuhan pangan maupun papan.

Karet

Di kecamatan ini, terdapat sungai bernama Batang Kuantan. Sungai ini merupakan anak sungai dari Sungai Indragiri. Keberadaan sungai ini sangat vital yaitu sebagai pemenuhan kebutuhan air minum bagi warga setempat. Selain itu, sungai ini digunakan oleh warga untuk kegiatan ekonomi yaitu dengan beternak ikan dan udang menggunakan keramba.  Sungai kuantan ini pun menjadi salah satu jalur transportasi yang menghubungkan pulau utama ke pulau-pulau kecil. Transportasi air yang digunakan berupa perahu, rakit, sampan, dan speed boat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perkebunan : kebutuhan ekonomi

Pasar : ruang publik sekaligus

Sungai Kuantan : Keramba (Kiri), Perahu Kayu (Kanan)

Kecamatan Cerenti memiliki landmark atau penanda yang menunjukkan identitas areanya, yaitu tugu kampung baru. Tugu ini berdiri di tengah jalan utama yang menghubungkan Cerenti dengan kota Rengat. Tugu ini terletak berdekatan dengan pasar besar yang menjadi aktivitas ekonomi utama.

 

 Tugu Kampung Baru

Dari sisi masyarakat (society), suku yang mendiami kecamatan Cerenti ini adalah suku Melayu. Budaya masyarakat Melayu sangat lekat dengan interaksi sosial yang tinggi. Mereka senang bersosialisasi, berkumpul, dan ngobrol-ngobrol. Oleh karena itu, ruang publik atau ruang sosial akan sangat penting keberadaannya untuk aktivitas mereka. Ruang publik di kecamatan Cerenti berbeda dengan di perkotaan yang umumnya berupa taman kota atau pusat perbelanjaan yang modern. Ruang sosial masyarakat Cerenti terklasifikasi dari golongan umur dan gender.

Pasar merupakan ruang publik untuk seluruh golongan masyarakat, mulai dari tingkatan anak-anak hingga lansia. Anak-anak umumnya berinteraksi sosial di jalan atau di tugu, lalu pria dewasa umumnya berinteraksi sosial di kedai kopi. Aktivitas yang dilakukan pria dewasa hanya sekedar ngobrol-ngobrol saja. Sedangkan kamu wanita dewasa umumnya berinteraksi di tengah kerumunan pasar selagi berbelanja. Pasar juga menjadi area rekreasi utama bagi masyarakat setempat. Hari senin merupakan hari pasar.

Selain pasar, ruang publik lainnya adalah sungai, perkebunan, pekarangan belakang rumah, dan tempat ibadah. Sungai merupakan salah satu ruang sosial bagi warga setempat khususnya ibu rumah tangga dan anak-anak. Ibu rumah tangga melakukan aktivitas seperti mencuci pakaian, perabotan rumah tangga, dan memandikan anaknya di sungai sehingga terjadi interaksi sosial saat mereka sedang mencuci. Aktivitas yang umumnya dilakukan di perkebunan adalah menakik karet (mengambil getah karet) untuk dijual hasilnya. Pria kategori remaja dan dewasa umumnya melakukan aktivitas ini sehingga perkebunan menjadi salah satu ruang penting bagi mereka.

Kedekatan masyarakat dengan alam dapat terlihat dari jenis makanan lokal setempat. Sebagian besar makanan umumnya mengambil dari lingkungan sekitar pemukiman dan dari alam, misalnya siput kecil dari sungai, ikan hasil budidaya di keramba, dan tanaman paku muda yang didapat dari semak-semak (untuk dijadikan sayur).

Pengaruh asing atau dari luar area juga dialami di perdesaan kecamatan Cerenti. Saat ini, banyak sekali bangunan rumah yang berubah dari rumah panggung menjadi rumah berpondasi semen. Pemakaian warna primer pada dinding luar dan genting membuat rumah terlihat mencolok. Dinding luar di sebagian rumah pun dilapisi oleh keramik yang umumnya digunakan untuk alas lantai. Kejadian ini disebabkan oleh salah satu anggota keluarga yang telah merantau ke kota-kota besar yang umumnya memiliki bangunan bergaya modern, mereka memperoleh persepsi baru terhadap membangun rumah, sehingga sekembalinya ke kampong halaman. Mereka mencoba merenovasi rumah

Seperti yang telah dijelaskan dalam perkuliahan Interaksi Manusia dan Lanskap pada pertemuan pertama, suatu lanskap dipengaruhi oleh kondisi alam (sumberdaya alam, bentuk lahan, iklim, dll), sosial, budaya, filosofi, politik, ekonomi, kepercayaan, teknologi, dan pengaruh asing (dari luar area/ teritori). Untuk studi kasus pada kawasan perdesaan di kecamatan Cerenti ini, karakteristik lanskap lebih banyak dipengaruhi oleh faktor ekonomi, budaya, dan pengaruh dari luar area.

Sekian dan Terima kasih.

 

Salam,

Annisa Hasanah

Mahasiswa Pascasarjana Arsitektur Lanskap IPB ‘2012

 

Read More

Eat Play Love (Last Chapter : Ecofunopoly and Fly Home)

Suatu siang yang terik di akhir bulan Maret 2012, saya dan teman-teman backpacker saya (Nisty, Denda, Tahmid)  sedang menyusuri salah satu jalan di Kuta. Kami menyebut diri kami sebagai backpacker kere dari Ciawi. hehe.

Hari itu adalah hari terakhir kami di Bali sebagai seorang backpacker, kami telah menyusuri indahnya alam Ubud sampai eksotiknya Pantai Kuta..

Untuk traveling kali ini, saya dan teman-teman ingin melakukan sesuatu yang lebih bermakna saat jalan-jalan. Kami ingin menjalankan eco-travelling. 🙂

Karena  travel kali ini bertemakan Eat PLAY Love, (kalau Julia Roberts pergi ke Italia, India, dan Bali bertemakan Eat Pray Love, yaitu untuk mencari Tuhan dan cinta) jadi kami akan mencari anak-anak buat diajak main! hehe.

Yup, perjalanan kali ini saya ingin mempromosikan game Ecofunopoly kepada anak-anak di Bali. Mengajak mereka main di saat saya travelling tentunya akan menyenangkan. Berbekal satu set game Ecofunopoly yang saya bawa dari Bogor, saya pun berjalan menyusuri jalanan di Kuta.

Hari pertama dan kedua, kami tidak menemukan anak-anak yang berkeliaran di jalan, kami juga tidak menemukan sekolah dasar yang bisa kami kunjungi untuk mengenalkan pendidikan lingkungan melalui permainan.

Hingga hari terakhir, kami pun memutuskan bahwa kami harus bertemu anak-anak atau menemukan sekolah dasar.

Saya dan Nisty berjalan menyusuri trotoar Kuta – Bali.

Panas matahari cukup menyengat, kami sudah berjalan cukup jauh di pinggir trotoar Kuta, untungnya kami baru saja menjalani misi Eat dari Eat Play Love kami, kami baru aja makan Ayam Betutu khas Bali dengan ganas saking laparnya. hahaha.

Lalu, saat saya terus berjalan, saya menemukan (more…)

Read More