Introducing Our Beloved Cats

Happy new year!

Apa kabar semua? Some of you might think this blog is dead. It’s crazy that throughout 2021, I only wrote 2 posts! :O

Gue akui gue sedang dalam fase ‘payah sekali’ dalam menulis blog, lebih tepat nya tidak ada waktu khusus yang bisa membuat gue bisa nulis dengan nyaman.

Semenjak pandemi mulai, kemudian mulai PhD di Kyoto, segala atensi beralih ke segudang hal yang harus dikerjakan dan itu membuat waktu menulis terpinggirkan. Hiks hiks.

We all experience this moment, right? Everything come at once, and you have to let go on something.

It’s funny that I didn’t write any new year resolutions karena sepertinya gue gak bisa keep up with segala resolusi yang gue buat.

Setelah mulai PhD, gue merasa unit waktu gue sangat berubah, gue seperti terjun ke dalam satu black hole yang bikin gue terjerembab di dalam situ, dan gue gak bisa keluar sampai gue bisa mendapat goal PhD yang ingin gue capai. It’s hard to explain, but on the other side, I don’t want to lose my identity as someone who loves to write anything I love 🙁

I have to make it work.. Going back writing while I’m doing tons of work in Japan. I gotta make it work.

Tahun 2022 bisa menjadi awal yang baik untuk memulai kembali menulis. Gue ingin mengawali dengan membahas sesuatu yang amat sangat gue rindukan. Dan gue baru sadar kalau gue gak pernah menulis tentang ini.. It’s about my beloved cats!

Sejak akhir 2020, gue menjalin LDR dengan kucing-kucing gue, and it is so painful buat gue berpisah dengan mereka.

Gue terhitung belum lama menjadi cat lover. Kali pertama gue resmi adopsi kucing itu di tahun 2017. Kucing yang kami temukan lahir di rumah tetangga seberang rumah, kemudian ibu nya bawa anak nya ke depan rumah kami, dan akhirnya mereka jadi permanen resident di rumah kami.

Nyeritain bagaimana kami memulai adopsi kucing dan dealing with everyone in the house bisa menjadi hal yang menarik untuk diceritakan. Before we adopt the stray cats, anggota keluarga di rumah gue gak ada yang cat lovers, dan jarang pegang-pegang kucing, bokap gue awalnya against banget liat kucing masuk rumah, dikit-dikit pasti diusir, nyokap gue juga sama, adek gue juga sempet takut ama kucing. Tahun 2017 menjadi turning point di keluarga kami yang akhirnya rumah kami menjadi semi-penampungan kucing. (gue bilang semi, karena rumah kita emang bukan tempat penampungan resmi, tapi sejak kita punya banyak kucing, banyak kucing yang datang entah dibuang orang atau mereka datang sendiri).

Adopting stray cats is the best decision I’ve ever had in my life, I’m sure my family think the same. Cats brought us joy, laugh, and even sadness. I need them more than I thought. We started with two cats, then end up with six cats, dan selama gue studi di Jepang, jumlah kucing kami menjadi 11 kucing. Bicara soal menghidupi semua kucing itu, tentu saja awalnya gue perhitungan banget, awal-awal beli makanan kucing sekilo diirit-irit banget. As time goes time, gue sadar kalau ngurus kucing gak cuma bawa kebahagiaan tapi bawa rejeki juga. Hehe.

tiga kucing ini dinamai dengan nama game-ku 🙂

Setelah satu tahun lebih tinggal di Jepang, I’m suffering homesick because of them. Gue kangen kucing gue sekangen-kangen nya. Huhuhu. Kadang gue suka iseng liat video Youtube isinya kucing-kucing, gue tiba-tiba nangis, nangis kangen. Selama gue di Jepang, gue selalu minta kirimin foto dan video kucing-kucing gue, segala gerak gerik mereka, kalau mereka bikin ulah gue selalu bilang  ke orang rumah untuk selalu direkam. Kadang-kadang gue minta video call, supaya gue bisa ‘ngobrol’ ama mereka, gue berdoa mereka gak lupa sama kehadiran gue, at least mereka bisa denger suara gue.

Huhuhuhu… I miss them so much. It’s not easy to decide whether I can go back to my country at this situation. What I can do right now is watching videos and photos of my cats.

Gue selalu include kucing-kucing gue  ke dalam percakapan bersama teman-teman gue, beberapa temen gue juga cat lover. Mereka syok, gimana bisa gue adopsi banyak kucing (Well, karena sistem adopsi kucing di Jepang ama di Indo tentu beda, in Indo we can adopt any stray cats freely, as long as the cat has no owner, but in Japan? it’s not that easy)

Mencari keributan tetangga

Untuk melepas rasa kangen ku yang membuncah, I dedicate this post for my beloved cats. Gue ingin berbagi profil kucing-kucing  yang menurut gue karakter mereka bener-bener unik satu sama lain. Gue akan sedikit berbagi opini tentang mereka dari sudut pandang babu-nya.

Semakin sering berinteraksi sama kucing, kita makin sadar kalau kucing juga punya personality, kayak manusia-lah. Mau kenalan ama kucing-kucing gue? Yuk lah lanjut baca tulisan ini 🙂

((Drum Roll)) I am .. now … Introducing … my Cats!

Brought to you by their dedicated babu~ 😀 😀

1. Eco

Nickname: Eco, Coco, Limo, si lemak, co-miuw, gembrot

Lahir : Agustus 2018

Jenis kelamin : Jantan

Tentang si kucing

Kucing yang paling bonding sama gue selama gue ada di rumah. Eco ini introvert, gak suka kenalan ama orang baru (kalau temen gue dateng, dia pasti langsung kabur). Sejauh ini, dia kucing ter-gembrot di rumah, makanya nama panggilannya banyak karena ukuran badan nya. Paling suka di-elus-elus, kalau dia lagi manja, biasanya dia langsung ngejatuhin badannya “gedebuk!”, itu tandanya minta digaruk bagian punggung nya. Suka tidur di atas rak, kulkas, lemari. Di siang hari dia suka chill di bangku taman sambil bengong. Eco ini kucing paling rumahan dibanding yang lain, jarang pergi-pergi jauh, gak kayak abangnya, Soleh dan adek nya, Oly. Dia juga hobi manjat ke paha orang yang duduk, trus duduk posisi loaf. Gue paling suka bobo bareng Eco.

2. Oly

Nickname : Oly, Ol-ol, Si-ol, Preman

Lahir : Agustus 2018

Jenis kelamin : Jantan

Tentang si kucing

Oly lahir bareng Eco, dia punya satu saudara yang meninggal pas bayi (kita namain Uno, terus nama Uno pindah ke Uno yang kita adopsi). Waktu lahir, muka dan badan nya burik banget, kalau lihat foto bayi dia mengenaskan banget deh. Gue sempet ngira hidup dia gak akan lama, karena badan nya ringkih banget. Oly juga suka sakit-sakitan waktu kecil. Eh takdir berkata lain. Oly tumbuh jadi kucing dewasa yang sehat dan kuat, saking kuat nya, dia mencoba mengambil tahta papanya, Luna sebagai King of the Jungle. Kelakuan nya cukup preman, suka cari ribut ama kucing lain. Rajin berantem, hingga pernah luka parah, sampe adek gue harus bawa dia ke RS. Berat badan Oly suka gak stabil, kadang gemuk, kadang kurusan. Suaranya cempreng, dan dia suka tidur bareng suami gue di kamar. Jam 4 pagi dia selalu bangun dan pergi keluar jendela. Beda banget dengan Eco, abangnya, Oly ini cukup berjiwa petualang. Oly punya hobi patroli keliling rumah, atap, halaman, sampe ke genteng tetangga.

3. Uno

Nickname : Uno, No-no, Si Sulung

Lahir : 31 Juli 2019

Jenis kelamin : Jantan

Tentang si kucing

Satu-satu nya kucing adopsi yang kita ketahui tanggal lahir nya secara lengkap (kucing lain kita cuma tahu bulan dan tahun nya). Uno lahir di bawah gantungan baju kamar gue pada tanggal 31 Juli 2022. Emak nya, Chika, menjadikan kamar tidur gue sebagai ruang bersalin gratis. Awal mula gue nemu Uno lahir itu pas gue lagi duduk sendiri di kamar, tiba-tiba denger suara bayi kucing, pas gue angkat baju yang digantung, eh Cika ama baby Uno lagi berbaring lemas. Emaknya insecure tingkat tinggi waktu Uno lahir. gue sempet taro mereka berdua di box depan pintu kamar. beberapa hari kemudian, Uno hilang. Gue kira mati dimakan dimakan musang, beberapa bulan kemudian, gue liat siluet kucing remaja yang gak gue kenal, ternyata Uno dipindah di loteng dan tiba-tiba udah gede aja! Awalnya dia nge-hiss kita, tapi lama lama dia melunak dan ngeong-ngeong minta makan. Uno juga cukup introvert dan gak gitu bawel. Spot tidur nya di atas lemari dapur. Uno ini anak sulung Chika, dan dia punya banyak adik.

4. Soleh

Nickname : Soleh, Oleh, Sol-sol, Syooleh, si Oleh

Lahir : Maret 2018

Jenis kelamin : Jantan

Tentang si kucing

Kucing adopsi tertua yang kita punya, Soleh. Lahir dari rahim yang sama dengan Eco dan Oly. Soleh adalah abang dari Eco dan Oly (tapi entah apakah mereka satu bapak atau bukan). Ibunya almarhum Busui. Soleh dan almarhum adiknya, Solihun lahir di rumah tetangga depan rumah. Ibu nya hobi mindah-mindahin Soleh dan Solihun waktu bayi, hingga akhirnya menetap di depan rumah kita. Sayangnya Solihun mati saat masih bayi, Soleh kehilangan adik. Niat namain Soleh itu dari nama stand-up comedian, eh ternyata nama emang doa. Soleh ini kucing yang paling punya budi pekerti, gak pernah pipis dan pup sembarangan, kalau dikasi makan engga agresif, sopan. Bersyukur kami namai Soleh. Tapi semakin beranjak dewasa, Soleh jadi gak asik, gak suka dipegang-pegang, gampang sensian. Di siang hari, dia hampir gak pernah ada di rumah, hobi nya menyendiri di makam sebelah rumah. Soleh ini juga tertib untuk urusan tidur. Jam 9 malam dia biasanya standby di ruang kerja bokap gue dengan posisi berbaring sambil nutup muka nya pake tangan. Soleh yang sekarang jutek sering kita ledekin, tapi dia nya malah makin sensi. Leh, leh kamu kenapa sih 🙁

FYI, adek gue sempet pake jasa animal communicator untuk ngobrol sama Soleh. Kata communicator nya, Soleh gak suka yang berisik-berisik dan dia suka Mama, karena suka ngasi nasi tongkol yang enak. Hahaha.

5. Uya

Nickname : Uya, Uuy, Surya

Lahir : Sekitar April 2020

Jenis kelamin : Jantan

Tentang si kucing

Uya merupakan kucing rescue yang gue ambil dari jalan Suryakencana. Gue ingat betul momen nemu Uya (nama aslinya Surya, dari nama jalan tempat kita nemu dia). Hari itu tanggal 25 Mei, bulan Ramadhan, gue lagi belanja ke toko frozen, tiba tiba hujan deras turun, gue lagi neduh ama suami, tiba-tiba liat ada mas-mas ngusir kitten yang berusaha berlindung dari hujan. gue langsung nyamperin dan negur mas-mas nya, lebih jahat lagi, Uya sempet lari ke satu toko, dan pemilik toko nya ngusir si Uya pake tongkat besi, akhirnya gue ambil Uya. Niatnya gue mau mindahin Uya ke tempat lain yang lebih aman. Si Uya masih trauma banget, dia masih kicik banget, mungkin belum sampe dua bulan. Waktu itu, kucing di rumah udah banyak, nyokap gue udah ngomel, jangan sampe nambah kucing lagi. gue ragu-ragu mau bawa Uya, awalnya gue mau ninggali Uya di depan Indomaret. Gak tega, akhirnya gue bawa dia pulang pake motor, sambil dibungkus kresek, hujan hujan. Selama di jalan, gue tatap wajah dia yang nelangsa. Daaaan, dia ngompol donk, ya Allah Uya wkwkw. Gue diam diam masukin Uya ke samping rumah, taro dia di kandang dan ditaro di depan kamar (kamar gue ama nyokap gue agak jauh). Lima hari setelah Uya dibawa ke rumah, nyokap bokap tau tentang Uya, tapi akhirnya mereka nerima. Dan sekarang Uya sudah menjadi bagian dari keluarga kami yang tumbuh sehat, dan badan nya jadi panjang banget. Uya tipe kucing yang susah gemuk, tapi malah memanjang. Uya juga punya kelakukan preman, khususnya saat dikasi makanan. Uya paling agresif dan gak sabaran kalau mau makan, dia suka ngeong sambil nepok makanan pake tangannya. Uy, uy…

6. Abo

Nickname : Abo, Bo, Teh Abo

Lahir : Unknown, mungkin awal tahun 2020

Jenis kelamin : Betina

Tentang si kucing

Lahir dari rahim yang sama dengan Uno. Abo lahir dengan warna kombinasi abu, hitam, putih. Tidak diketahui Abo lahir dimana, yang pasti emaknya, Chika datang membawa Abo. Waktu bayi dia hobi nge-hiss tiap kita mendekat, tapi sekarang sudah bersahabat. Abo suka dijailin ama kucing-kucing jantan lain (mungkin karena satu-satu betina di rumah saat itu kali ya?) dan dia juga sensi-an kalau ada yang jahilin dia. Abo cukup pendiam, gak cerewet, dan gak petakilan. Adek gue manggil dia teh Abo, karena dia sudah menjadi kakak dari tiga adik-adiknya yang lahir di tahun 2021!

7. Chika

Nickname : Chika, chik, cika, jablay

Lahir : Agustus 2018

Jenis kelamin : Betina

Tentang si kucing

Nah ini diaa, mama-nya Uno, Abo, Mayang (kucing ini dirawat tetangga), dan tiga kucing baru di rumah! Chika hobi banget bikin anak, sampe kita julukin jablay, dan akhirnya Chika di-steril supaya gak beranak lagi. Badan Chika gemoy seperti mama muda, suka caper, agak centil ke manusia lawan jenis haha. Suara ngeong dia khas, pendek-pendek. Chika itu gak suka sama Oly. Mereka hobi banget berantem. Awalnya Chika hanya kucing yang beredar di sekitar rumah, tapi dia sepertinya merasa rumah kita itu jadi tempat bersalin gratis.

Kucing-kucing pendatang baru yang hadir setelah gue berangkat ke Jepang

Kucing-kucing dibawah ini muncul ketika gue udah di Jepang. gue belum pernah ketemu mereka secara langsung. Tahun 2021 Chika melahirkan tiga kucing di box laundry di kamar gue. Suami gue yang pertama kali nemu Chika melahirkan. Kita sekeluarga sempat shock, tapi akhirnya kita putuskan tiga krucil kita rawat. Karena warna si krucil ini mirip ama Eco, Oly, dan Busui, akhirnya kita namain mereka:

8. Ecil

(Ecil = tengah, warna oren)

Nickname : Eco-kecil, Cil

Lahir : 2021

Jenis kelamin : Jantan

Ecil, kucing oren, yang akhirnya kita namain Eco-kecil. Ecil paling gemuk dibanding dua adeknya.

9. Ocil

Nickname : Oly-kecil, Cil, Monyet

Lahir :

Jenis kelamin : Jantan

Tentang si kucing

Ocil atau Oly-kecil. Mukanya mirip ama Uno, agak-agak mirip monyet haha, ekor nya panjang banget kayak coki coki.

10. Bucil

Nickname : Bucil, Busui kecil,cil

Lahir : Agustus 2018

Jenis kelamin : Betina

Tentang si kucing

Bucil atau Busui kecil – kucing calico (tiga warna) yang mirip dengan Busui, ibu nya Soleh, Eco, Oly. Punya ekor pendek, dan kata adek gue, Bucil cukup independen dan gak suka deket-deket orang.

Ada satu kucing lagi yang ditemuin nyokap gue di depan rumah akhir tahun 2021. Dia adalah …

11. Uta

Lahir : Unknown

Jenis kelamin : Betina

Tentang si kucing

Uta adalah kucing ras (sepertinya anggora?) yang gak punya bola mata yang ditemuin emak gue. Dia keliatannya tersesat. Uta adalah kucing buta, makanya dinamain Uta. Kita sempet mikir apa Uta ini punya orang terus nyasar, tapi sampai sekarang gak ada nyari. Dugaan terkuat adalah ada orang buang Uta di depan rumah kita (shame on you if someone did this!). Meski Uta buta, dia cukup sensitif mendengar suara dan gerak gerik. Awalnya kita mau open adopt Uta, tapi sepertinya adek gue mau ngurus dia untuk sementara waktu.

Selain kucing-kucing di atas, adapun kucing lain-lain yang ikut berkeliaran di rumah kami  + teman main kucing-kucing kami + yang sudah pergi meninggalkan kami: Luna (diduga papa-nya dari semua kucing), Busui (Alm.), Widji (Alm.), Krisna (teman main Uya), Buntung, Si Cantik, Bella, Rambo, dan lain-lain.

Note: Semua kucing kami adalah ras kampung, kecuali Uta. Semua kucing sudah steril selain Uta.

Gimana? Lucu-lucu kan kucing-kucing gue? Hehehe..

They are our source of joy. Gue inget betul waktu pandemi mulai, gue batal berangkat ke Jepang, bisnis carut marut, satu hal yang bisa ngejaga gue waras itu dengan cara ngeliatin mereka tidur pulas di sofa. Seakan-akan gak ada rasa kuatir sama kondisi pandemi, karena mereka percaya babu nya pekerja keras dan meyakini kalau rejeki pasti ada. Nontonin mereka tidur, ngelamun, guling-guling udah cukup membuat hati damai. Bokap gue yang awal nya agak-agak anti ngeliat kucing berkeliaran di rumah, sekarang doi happy banget kalau pas ngaji ditemenin si soleh yang duduk di sebelah Qur’an. Yang lebih lucu lagi, kalau kita lagi solat taraweh bareng di rumah, Hamparan sajadah buat kucing-kucing bagaikan kasur buat mereka gogoleran dan tentunya menngurangi pahala babu nya, karena kalau mereka datang ke sajadah saat kami solat, lalu tiba tiba “bruk”, mereka menjatuhkan badan mereka beserta lemak-lemak nya, sontak kita nyengir sambil ditahan-tahan. Hahaha.. those days.. I really miss it. Semoga ada rejeki dan sehat buat pulang, biar bisa melihat kelucuan mereka meski cuma sebentar.

Kalau dari deskripsi gue tentang karakter masing-masing kucing di atas, kalian demen nya ama siapa atau kucing kalian mirip sama siapa? Drop di kolom komen ya!

Jangan lupa follow IG kucing kami ya di @ucingucingan16

 

 

 

 

 

Read More

A Game Story : Living with My Game Console

“I always knew that I was born to play..”

子供の頃 

Selama bulan Ramadhan di Jepang, saya menyisihkan waktu buat main game setelah sahur. Kalau saya tidur langsung habis sahur, biasanya perut jadi agak mual pas bangun. So, saya suka terjaga sebentar sebelum memutuskan untuk tidur kembali. Belakangan ini, saya lagi ketagihan main “Overcooked”, game kolaboratif-kompetitif buatan studio Team17 yang bertema masak-masakan. Ternyata, bermain game setelah sahur ini membawa saya flashback ke masa dulu, which I thought it’s kinda crazy. How childhood video games put permanent effects on me. I have to thank my decision to buy the Nintendo Switch this year (I literally purchased it on January 1st). I’ve been thirsty to play console for years! Also, I have to thank Alvin for showing me his Switch, I played Overcooked for the first time on his console while we’re having New Year’s Eve dinner. It was fun. 

Ritual bermain game setelah sahur itu sudah saya mulai sejak SD. Sebagai anak yang doyan banget game, Ramadhan selalu saya asosiasikan dengan main game. Saya berasumsi kalau main game itu akvitias yang membuat waktu berjalan lebih cepat, biar gak berasa puasanya, hehehe. Meski tentu pasti banyak yang komen “daripada main game mending melakukan amalan sunnah dan mengaji”. Apalah saya ini hamba yang hanya berusaha bertahan agar puasa sampai selesai, hehe. Satu memori yang saya ingat dulu, saya suka banget main game adventure macam Harvest Moon, Harry Potter, dan Crash Bandicoot. 

Dulu saat bulan puasa, saya sempat main “Harry Potter & The Chamber of Secrets” di Play Station 1, as a Potterhead since I was 12 y.o. Playing this HP game is a must for a gamer like me. Plot game sendiri ngikutin persis kayak di novel-nya, which was more exciting. Mulai dari ngendaliin mobil biru-nya Weasley ke the Burrow sampai bertarung melawan Basilisk. Oh gosh, I feel like I can remember everything! Mulai dari soundtrack-nya yang agak agak creepy, visual grafis nya yang bakal bikin mata anak anak Gen-Z puyeng (jaman dulu sih grafiknya masih terlihat wow, hehe), sampai sound effect-nya kayak suara “ugh, agh” tiap Harry manjat dan “Flipendo!” mantra andalan Harry di game yang gak ada di novel, kalau diplesetin bisa jadi “Nintendo!” wkwkwk. Masih kebayang excitement saya yang bikin momen post-sahur sangat indah. I would give anything to time travel back in those days.

Mungkin saya harus berterima kasih ke tetangga saudara saya yang jatuh bangkrut saat itu. Kalau mereka engga bangkrut, saya mungkin gak akan pernah punya PlayStation sendiri. Sodara saya bilang kalau ada tetangga-nya yang bangkrut dan lagi jual-jualin barang milik mereka untuk menebus hutang. Dan entah gimana, Mama saya beli PlayStation 1 bekas milik mereka. This is a blessing in disguise. Masih ingat betul saya gimana rasanya ngeliat PS1 di ruang TV. Rumah bagaikan surga, saya udah gak perlu lagi ngantri main PS di rumah sodara. Namun, PlayStation 1 bukanlah game console pertama yang saya punya. Jauh sebelum PS1, game console pertama yang pernah hadir di rumah itu Nintendo “abal-abal”. Saya bilang abal-abal karena merk console nya bukan Nintendo (entah apa merk-nya), sepertinya game console buatan China yang meniru Nintendo dan kasetnya berisi game Nintendo seperti Ice Climber, Mario Bros, dan Contra (sampai tamat nih main nya!). Dulu, ayah saya sering proyekan di Batam, as you know, yang dikenal dengan pulau yang jual banyak aneka jenis elektronik mulai dari tape recorder, handphone, sampai game. Suatu hari Ayah pulang membawa sebuah kotak besar game console (sayangnya saya lupa merknya apa) ke rumah. Saya duduk di bangku kelas 2 SD, my prime time to learn new things. And I learned it from my very first game console. 

If I can remember my childhood days, I never separate it with games. I play games, even I live with them. I remember how simple my life was back then, I found a reason to wake up every morning.. to play games! Andai saya udah mengenal istilah Ikigai dari kecil, maybe my little-me will say ‘game is my ikigai!’ 🙂 Sayangnya saat itu saya tidak tumbuh dengan ide bahwa game akan menjadi masa depan saya. Saat itu, istilah pro-gamer tidak ada, bahkan saya pun tidak tahu menahu dunia game design. I found no one in my family who does any kind of work related to games. No enabling environment to convince me to take ‘gaming’ as my future. I was too far from the industry, even though I play with the product all the time. 

What goes around, comes back around.

 

環境ゲーム

Sepertinya ada kilatan petir yang menyambar otak saya ketika saya sedang duduk brainstorming bersama peserta conference di Malaysia. Saat itu, kami diminta untuk menciptakan sebuah ide sebagai solusi mengatasi dampak perubahan iklim. Saat itu saya masih mahasiswa semester 4, masa sedang menggebu-gebu nya sama isu perubahan iklim. Disitu tercetus ide di kepala saya untuk membuat simulation game seperti the Sims, tapi perintahnya di-custom agar pemain bisa menerapkan gaya hidup ramah lingkungan. Ide yang menarik, namun sayang saya gak ngerti cara bikin game digital. Alhasil saya putar otak kembali, dan muncullah ide board game ECOFUNOPOLY. Yang tentunya tak bisa saya sangka, ide board game yang sebenarnya iseng-iseng berhadiah ini ternyata malah menjadi proyek yang mengubah hidup saya dan akhirnya mengarahkan saya kembali ke dunia gaming, meski mungkin misi yang saya bawa bersama game Ecofunopoly itu berbeda dengan misi bermain saya waktu kecil. Berangkat dari keilmuan berbasis ekologi yang saya tempuh saat kuliah, ternyata berakhir kembali ke sesuatu yang sebenarnya sangat saya cintai.. Game.

1st Ecofunopoly Playtesting – June 2009

Meski semua terasa berjalan alami, keputusan yang diambil saat kita dewasa bukanlah hal yang mudah. As we know, the more we grow older, the farther we are from choosing the thing we love, which makes us choose the realistic path to our lives. Dengan segala hiruk pikuk kehidupan yang telah saya lalui, saya beruntung sekali diberi jalan oleh Allah untuk kembali melakukan hal yang saya cintai sejak kecil, sepaket dengan adjustment untuk menjalankan model yang sustain lewat jalur entrepreneurship. Engga mudah untuk menjalankan pilihan yang kita cintai tanpa menemukan model yang tepat. Membawa ECOFUNOPOLY ke dunia bisnis is like riding a thrilling ride for me, but I do learn a lot.

Afirmasi terhadap dunia gaming semakin menguat ketika saya berada di ambang keraguan. Saya sedang mencari sebuah jawaban yang tidak bisa saya temukan dari dunia bisnis. I need this answer from a different standpoint. Saya ingat waktu saya baru lulus S2 dengan rasa traumatik (yes, I was traumatized instead of joyful). I promise to myself, “I won’t go back to study again!” namun beberapa bulan kemudian, saya revisi statement saya “well, it’s possible to study again.. with an important note: it has to be something that I really love, it came from me, not from others, not from the current trend or demand”

And, here I am now.. holding my status as a PhD student, who said right from the very first time I met my supervisor “I’m interested in games, I’m interested in climate change education, I want to learn both of them”.

Mungkin terdengar gila kalau dipikir-pikir, I have no degree to support this idea of doing gaming research. Tapi gue jadi lebih fearless (plus nekat) sejak gue mulai berbisnis tanpa modal apa-apa, I start everything from scratch, and I believe if I can survive in entrepreneurial world, so does in academia. So here I am.. bringing games into my academia.

Kalau melihat diri sendiri di posisi sekarang ini, jadi mahasiswa PhD yang mau bikin riset tentang sesuatu yang pernah memberi impact ke masa kecil saya, kadang masih banyak yang gak percaya kalau saya beneran mau riset tentang game, hehe. Mungkin game masih dianggap kayak main-main kah? jadi kelihatannya tidak researchable. Ah mereka aja yang kurang jauh mainnya :p

To me, I found it very cool to spend a lot of time researching games. Reading lots of literature of how researchers test the game, measure the learning effect, examine the features and factors that can engage people better. How interesting!

 Terlebih lagi, saya belajarnya di negara yang salah satu basis ekonomi utamanya itu Game!  

Siapa sih yang gak tumbuh bersama SEGA, Nintendo, Sony Playstation, Namco, Bandai, or you name it. Enabling environment yang saya dapet gak kaleng-kaleng, langsung di Jepang, plus di Kyoto pula! 

Kyoto di mata banyak orang lebih sering dikenal sebagai “Yogyakarta”-nya Jepang, kota yang kaya akan budaya dan sejarah, penuh dengan kuil-kuil dan bangunan tradisional. But did you know that Nintendo company was born here in Kyoto?

 

任天堂 

Ya, Nintendo (kanji: 任天堂) lahir disini, di Kyoto. dan kamu tahu kapan Nintendo lahir? Tahun 1889. Jauh sebelum almarhum nenek saya lahir. Nintendo pertama kali buka toko kecil di Kyoto dengan menjajakan Hanafuda, game kartu bergambar bunga. Buat penggemar Korea, mungkin lebih familiar sama Hwatu, card game yang dimainkan di film Minari sama Space Sweepers. Hanafuda dan Hwatu agak mirip. Satu hal yang bikin saya respect sama Jepang itu bagaimana mereka memulai segalanya lebih awal. Gak cuma game, tapi industri lain. Saya sempat ke museum Pocky di Osaka, terkejut sekali bagaimana Pocky ditemukan tahun 1955, empat tahun sebelum Ayah saya lahir. Gak kebayang memang tahun 1889 itu kayak apa, apakah warga Jepang sudah game-friendly atau belum, tapi yang bikin salut adalah gimana Nintendo bisa terus bertahan dan konsisten melahirkan game-game ciamik. That consistency is another level, bro. Setelah baca perjalanan Nintendo udah lebih dari seabad, rentang waktu Ecofun masih belum ada apa-apanya, instead of making me insecure, it is actually telling me ‘you have time, don’t worry’.

Nintendo’s original headquarters (1889–1950s) in Shimogyo-ku, Kyoto

Ternyata perjalanan Nintendo juga gak mulus-mulus amat. Di buku ‘Range’ karya David Epstein, ada sebuah chapter yang menceritakan seorang laki-laki bernama Gunpei Yokoi. Dia direkrut oleh Nintendo untuk membuat game baru saat Nintendo lagi di ambang kebangkrutan. Surprisingly, Nintendo dulu sempat pivot ke bisnis lain, mulai dari kuliner, taksi, sampe hotel, bukannya cuan, Nintendo malah punya hutang besar. Gunpei Yokoi hadir menyelamatkan perusahaan dengan melahirkan game “Ultra Hand” yang terjual 1,2 juta kopi. Dari penjualan game tersebut, Nintendo berhasil melunasi hutang nya. Gunpei Yokoi terus melahirkan berbagai jenis game yang melejit di pasaran. Karena keberhasilannya mendesain permainan, Presiden Nintendo meminta dia untuk menjalankan R&D untuk pertama kalinya. Dengan penuh kagum saya membaca perjalanan Gunpei Yokoi yang cukup anti-mainstream dalam merancang game. Gunpei Yokoi meninggal tahun 1994, but his philosophy didn’t die with him. Sampai saat ini, Nintendo masih menganut filosofi “Literal Thinking with Withering Technology” atau 枯れた技術の水平思考 “Kareta Gijutsu no Suihei Shikō” dalam proses Research and Development. Dia salah satu orang yang berjasa besar dalam keberhasilan Nintendo sekarang.  

Cerita Nintendo di atas menjadi bagian dari proses discovery saya selama menempuh studi di Jepang. Saya juga belum membahas tentang dunia tabletop game (bakal saya bahas secara terpisah ya), yang mana tabletop game ini menjadi lini utama dari bisnis Ecofun. Game itu memiliki genre yang sangat luas, dan saya tidak mau membatasi diri untuk memilih genre game yang yang saya mau. I am very much open to any kind of games. Rasa penasaran saya semakin memuncak untuk menggali lebih dalam seluk beluk dunia game dan perkembangannya dari masa ke masa.

Back again to my research, I am currently thinking hard to find what I really want to find out in this research. I hope this post can be a stamp to remind me that I should keep going. As Jimin said to himself, “Jimin you’re nice, keep going!”  And of course, I would be happy to write more about games! Dipikir-pikir saya jarang banget nulis soal games ya, malah banyakan nulis soal traveling, andai badanku bisa dibelah-belah, satu nulis game, satu nulis traveling, satu nulis jurnal, Hehe.

I am just happy to be where I am today.

Tiba-tiba, saya teringat mas Hangga, tetangga saya di Shugakuin pernah bilang “asik banget nge-riset tentang apa yang kamu senengin”.  

YES, OF COURSE I AM! 🙂 

I love games, I play games, and I am researching about games!

If you are new to games and curious about it, here are my recommendations to start:

  1.  “High Scores” Documentary on Netflix
  2. “It’s All A Game” Book by Tristan Donovan
  3. Video Games and Pandemic : https://www.washingtonpost.com/technology/2021/03/20/video-games-pandemic-friends/
  4. Dark Side of the Video Game Industry by Hasan Minhaj https://www.youtube.com/watch?v=pLAi_cmly6Q
  5. Settler of Catan, a board game designed by a German dentist https://www.youtube.com/watch?v=niTSTcZkriA

 

Read More

Dear Woman, Shall We Make A Progress?

Foto Joe Biden dan Barack Obama saling berpelukan lagi beredar di social media, Obama ngasi selamat ke Joe atas kemenangan dia sebagai presiden AS yang ke-46, sepertinya warga AS (dan banyak orang di belahan dunia lain) sedang merayakan post-Trump administration dengan gegap gempita. Menurut gue, kepemimpinan Trump layak diberi pasal penistaan karakter pria, hehehe. Tepat tanggal 20 Januari 2021, Joe Biden resmi jadi Presiden AS dan Trump resmi masuk  daftar “the US president who only served one term”.

But, let’s forget those men for a while, seeing this bromance of Biden and Obama in one photo, Michelle Obama and Dr. Jill Biden just popped up in my mind. I really adore Biden and Obama couples; both of them are strong, full of respect and supportive. They see themselves as self-driven individuals as well as complementary couples. Nothing contradicts but reinforces one another.

Satu lagi (more…)

Read More