Europe Day!

What’s on May 9th?

It’s Europe Day!

13178848_10153783595043392_4780927395034823381_n

Eropa ternyata punya hari jadi juga loh!
Mengutip dari postingan bu Destriani Nugroho di grup fb Erasmus Indonesia :

” 9 May – diperingati sebagai awal Eropa bersatu dan disebut Hari Eropa.

Setiap tanggal 9 Mei masyarakat negara-negara anggota Uni Eropa (UE) merayakan Hari Eropa atau Schuman Day guna memperingati pembentukan organisasi Masyarakat Eropa yang didasarkan pada deklarasi yang disampaikan mantan Menlu Perancis Robert Schuman pada 9 Mei 1950.

Dalam deklarasi yang dibacakan dihadapan media di Paris, Menlu Schuman mengusulkan pembentukan lembaga supra nasional Eropa yang bertugas untuk melakukan pengelolaan batu bara dan baja bersama-sama dan mencegah berulangnya konflik antar negara… “

Untuk merayakan Europe Day ini, kedutaan Uni Eropa di Indonesia mengadakan rangkaian acara bertemakan Eropa selama bulan Mei, mulai dari formal Reception, EU Run (Lari berjamaah), hingga nonton film! Seru ya?

Nah, sebagai alumni dari beasiswa Uni Eropa, Erasmus Mundus, saya kecipratan rejeki untuk dapat undangan Reception Day. Ada kuota khusus yang diberikan untuk alumni Erasmus, alhamdulilah saya dapat jatah untuk bisa ikutan.
Berhubung ini acara spesial yg ada dihadiri tamu-tamu spesial juga, saya penasaran banget seperti apa sih Reception Day yang akan menyuguhi masakan Eropa untuk menu makan malam. Uuuu.. Gonna be awesome and yummy.
Senin (9 Mei) sekitar jam 6.30, saya pergi menuju hotel Dharmawangsa bersama Steven Cavéll, ‘spouse’ saya. Hah spouse?
Yup, jd kan kalau acara dinner formal satu undangan itu untuk dua orang, nah jadi para alumni Erasmus antar cewe dan cowo dipasang-pasangkan sebagai spouse, supaya dapat kuota dobel. Haha. Setelah diatur mbak Eva, ‘spouse’ saya itu Steven Cavéll, alumni Erasmus yang pernah studi di Portugal tahun 2013.
Setibanya di depan hotel Dharmawangsa (mobil Steven hanya dapat parkir di bahu jalan) saya kaget melihat ada tank militer besar yang markir tidak jauh dari mobil Steven. Buset, ampe pake tank segala ya. Mungkin isu national security yg belakangan ini lagi naik sejak terjadi kasus pemboman di beberapa negara di Eropa.
Syukurlah kami tiba tepat waktu di Lobby hotel. Disitu saya bertemu dengan teman-teman alumni Erasmus lainnya, dan berkenalan ulang takut pada lupa. Hehe.
Menurut undangan elektronik yang saya terima, dress code yang disarankan adalah formal attire atau batik. Untuk Reception day ini, saya mengenakan dress polos berwarna biru gelap mengkilap sampai bawah lutut, lalu mengenakan legging hitam dan sepatu balet warna biru donker. Warna baju saya pas banget ama warna Uni Eropa, Blue!

Mbak Eva langsung mengajak ke ruang utama.  Masuk ke dalam ruangan, sudah berdiri bapak Vincent Guerrend, Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, dia menyalami semua tamu yang hadir termasuk saya. Halo pak Vincent! :p
Wow.. Ternyata acaranya berbentuk standing party. Dalam ruangan tersebut, berdiri ‘gubuk-gubuk’  makanan untuk makan malam para tamu. Ruangan sudah dipenuhi oleh para tamu undangan baik orang Indonesia maupun bule-bule yang di sinyalir mayoritas bule Eropa.
Erik teman saya menyikut lengan saya.
‘ter, ter, itu duta besar US untuk Indonesia! ‘ sambil nunjuk ke arah bapak bertubuh tinggi, kurus, dan berambut putih. Oh ternyata, tamunya ada yang dari kedutaan negara lain. Setelah saya google, nama beliau adalah Robert….
Karena acara belum resmi mulai, saya mampir ke satu booth yang ada bendera Biru-Kuning. Warna ini sudah engga asing banget buat saya, it’s a Viking country, Sweden!

My 2014 New Year’s Eve was in Malmo, Sweden. <3

Di booth Sweden, saya melihat aneka brosur serta baki besar berisi potongan-potongan roti yang diberi topping. Penjaga stand, laki-laki muda bule mempersilahkan untuk nyoba, ketika saya tanya ini namanya apa, mereka bingung sendiri, haha. Yaudah saya nyoba, hmmm.. akhirnya saya bisa mencicipi keju Eropa lagi (di rumah makannya selalu keju Kraft, hihi).

Nafsu makan saya tiba-tiba meningkat, memang waktunya makan malam sih, akhirnya saya melakukan ‘Tawaf” melihat gubuk-gubuk yang tersedia di dalam ruangan bareng beberapa teman Erasmus.

Saya pergi ke sudut ruangan yang semakin jauh dari pintu masuk, kemudian saya melihat beberapa gubuk yang menjajakan makanan mulai dari European food sampai Indonesian Food. Dari makanannya, kerasa banget kalau acara ini antara Eropa-Indonesia. Pilihan makanan saya jatuh pada Ravioli!

Ravioli ini semacam pasta, tapi mirip pangsit, jadi ada isinya. saya mengenal Ravioli justru dari Masterchef US, bukan pas jalan-jalan ke Italia, haha. Saya mengambil dua buah Ravioli isi bayam. Yummy, enaknya! Raviolinya diberi mayo, jadi gurih banget.

“Eh itu ada Prabowo!!” teriak salah satu teman saya. Mata saya langsung mencari-cari apa benar ada pak Prabowo. Eh ternyata benar! Pak Prabowo sedang duduk di roundtable putih untuk VIP, dan sedang ngobrol dengan sosok yang juga tidak asing lagi, Pak Hidayat Nur Wahid. Wuih, ternyata receptionnya juga ada pejabat-pejabat negara. Mbak Eva langsung berinisiatif untuk ngajak foto bareng Erasmus alumni. Pas mbak Eva mau nyamperin, seorang lelaki muda datang menyela, diduga ajudannya. Wuih, ternyata ajudan Pak Prabowo ada tiga orang!

Di sisi lain, pak Hidayat sepertinya tidak dikawal ajudan.

Ajudan itu ternyata meminta waktu 3 menit untuk foto bersama. Kami menunggu di dekat situ, dan akhirnya kami bisa foto bareng! Saya dan Erik mengenalkan diri sebagai mahasiswa IPB. Denger kata IPB, beliau langsung tertarik, “oh ini semua IPB?” Saya jawab, “engga bapak, hanya kami berdua saja..”.

13179383_10153761447123155_5039244232438755414_n

Tahun lalu, saya tidak sengaja ketemu Ex-Cawapres RI, Pak Hatta Rajasa di bandara Soetta, kami akan menaiki pesawat yang sama. Eh tahun ini, malah ketemu Ex-Capresnya. HIhihi. Mungkin berikutnya, saya akan ketemu pak Jokowi dan JK sepaket, entah dimana. Semoga saja ketemunya sambil bawa Ecofunopoly. 😀

Selesai berfoto, ternyata MC Reception memulai acara. Di tengah ruangan, ada panggung bernuansa biru yang akan digunakan untuk pembukaan. Acara dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan dilanjutkan ke lagu Uni-Eropa, Ode to Joy. (kalau denger musiknya, pasti tau deh! Coba aja google :D).

Acara dilanjutkan dengan pembukaan oleh Menteri Perdagangan RI, Bapak Thomas Lembong. Before I met him in person, I didn’t know exactly who he is. I mean, what he has done, what is he doing now.

Menurut sumber terpercaya, beliau adalah orang yang super smart dan menguasai 8 bahasa asing. Saat beliau memulai speechnya, suddenly I remember Gita Wiryawan dan BJ Habibie. Cara ngomongnya mirip, suara berat dan very fluent in English. Wow. Kalau ngeliat beginian, orang Indonesia itu banyak yang keren dan luar biasa ya?

Acara pun resmi dibuka. Saat peresmian, si Erik Never Stop, temen gokil saja engga henti-hentinya bikin video  snapchat pake iPadnya di samping saya. Pas lagi recording, ternyata pak Prabowo berdiri di belakang kami!

It’s funny, kalau di Indonesia, mgkn pejabat berdiri di belakang rakyat jelata seperti kami, rasanya seperti tidak pantas. Tapi kalau event Eropa ini, sepertinya lebih terlihat ‘equal’. Malah, duta besar Uni Eropa untuk Indonesia berdiri juga di belakang, tanpa duduk di seat dan diperlakukan seperti raja. Standing party itu bebas banget!

Acara resmi dibuka, MC mempersilahkan kami untuk menyantap makan malam. Yak lanjooot!

Malam itu, saya bisa mencicipi makanan yang sehari-hari tidak pernah saya makan, di Indonesia, mana pernah saya makan European Food, paling banter Sosis Bratwurst Kanzler yang siap goreng, Haha. Saya mencicipi mulai dari Smoked Salmon yang super lezat, Bitterballen (Jerman), Frikadellen, Fish and Chips (Inggris), Paella Seafood (Spanyol), Churros (Spanyol), Herring cake (French), dan masih banyak lagi.

Namanya juga orang Indonesia, rasanya engga lengkap kalau belum makan nasi, akhirnya makan malam saya perpanjang ke Nasi Campur The Dharmawangsa! *Forget the calories please*

Sambil icip-icip makanan, tidak sengaja kami berdiri dekat pak Thomas Limbong. Si Steven ternyata mau foto bareng, saya ikutan juga untuk titip foto, karena hp saya mati total.

Colek dikit, beliau langsung memberikan senyuman maksimalnya, gile ya, muda banget ini orang, udah jd entrepreneur plus menteri pulak. He has a very excellent communication skills. Sepertinya dia terbiasa mixing bahasa saat bicara, jadi alhasil nyampur-nyampur gitu ngomongnya. Berhubung beliau menteri perdagangan, saya memanfaatkan momen untuk memberikan kartu nama saya.

Saya “Pak Thomas, sorry actually I’m nothing, but I’d like to give you this.. I run a small company, we sell environmental boardgame”

He received very carefully and said “Oh I’m sorry I forgot my namecard.. ”

I said it’s fine. At the end of conversation, he said “nice to meet you mbak Nisa..”

Wah, he mentioned my name! jarang-jarang loh pejabat bisa inget nama rakyat jelat yang aku mah apa atuh dalam waktu singkat hihi. Kesan pertama bertemu pak Tom ini menyenangkan!

13055531_10208127838747486_4022429144589684039_n

Ruangan semakin dipenuhi oleh tamu-tamu, sebagian menikmati makanan, sebagian lagi asik ngobrol, dan sebagian lagi asik berfoto ria. Para Erasmus alumni pun engga mau ketinggalan foto bareng. So honoured banget nih bisa diundang atas nama alumni beasiswa Erasmus! 😀

13164440_10153761441393155_2746395054004382578_n

Acara semakin malam, musik jedag jedug mulai diputar. Menurut undangan , memang tertulis ada acara dancing. Saya kira bakal ada dancing formal ala-ala kerajaan Eropa gitu, eh ternyata malah dugem, Haha.

Selagi orang asik joget, saya asik lihat-lihat booth.

berhubung hari sudah malam, saya pulang diantar Steven ke hotel tempat saya menginap.

It was a great night. I feel so proud for being an Erasmus alumni!

Selamat hari Eropa! Yuk bagi yang bermimpi sekolah ke Eropa, daftar yuk beasiswa Erasmus!

Jangan mulai dengan kata “tapi.. ” dulu, mulailah pelajari infonya disini dan jangan menyerah ya!

Salam,

@annisaa_potter

Read More

Religion Without Violence

Pagi ini, setelah menyiapkan sarapan untuk suami, saya tidak sengaja menonton documentary film berjudul He Named Me Malala di National Geographic Channel. Malala Yousafzai adalah seorang gadis asal Pakistan yang dinobatkan sebagai penerima Nobel Peace Prize tahun 2014 atas dedikasinya terhadap pendidikan untuk wanita dan juga kejadian malang yang menimpa dirinya. Malala ditembak oleh seorang Taliban saat sedang naik bus ke sekolah. Taliban adalah kaum ekstrimis (hately to say that they do the bad things in the name of Islam) yang ingin mendirikan ‘syariat Islam’ dengan cara radikal. Salah satu misi mereka adalah melarang semua perempuan untuk mengenyam pendidikan, dan menerima kodratnya sebagai wanita yang hanya mengerjakan pekerjaan rumah, menikah muda, dan membesarkan anak.(Bagi yang ga tau Taliban itu apa, silahkan googling yah 🙂 )

Selama sekitar 2 jam saya menonton, saya terenyuh dan terkagum atas usaha Malala untuk bersuara tentang kondisi wanita di kampong halamannya, Desa Swat di Pakistan. Malala adalah seorang muslimah, terlahir dari keluarga muslim. Malala dan Taliban, dan juga saya adalah seorang muslim. Bedanya Malala dan Taliban, Malala adalah muslim yang punya akal dan moral, tetapi, Taliban tidak punya kedua hal itu. Taliban adalah sebuah produk brainwash mengatasnamakan Islam, produk inilah yang menghasilkan citra Islam yang buruk di mata dunia.
f23f79f69ef4b1076dbd22a3bbaa1736

Malala Yousafzai, Noble Peace Winner 2014 (Source: www.pinterest.com)

Ketertarikan saya menelusuri lebih dalam tentang Agama (secara universal) berawal dari makin kisruhnya dunia ini dengan konflik yang berlandaskan agama. Saya heran mengapa dunia dan makhluk yang diciptakan Allah SWT itu sudah pada dasarnya berbeda, namun kita sering ricuh pada perbedaan yang ada di sekitar kita. Tidak usah jauh-jauh ke luar negeri, lingkungan di sekitar saya juga sering ribut pada hal-hal kecil. Ga perlu saya beri contoh, mungkin kalian yang membaca juga seringkali mengalami hal ini. Melihat kaum Taliban ini, hal yang menjadi celaka di masyarakat adalah ketika kaum ekstrimis seperti ini memimpin politik di satu Negara.

Di buku ‘A World Without Islam’ karya Graham E. Fuller, dijelaskan bahwa agama sering digunakan sebagai tameng untuk memperoleh kekuatan (power). Belajar dari sejarah-sejarah masa silam, agama seringkali digunakan oleh pemuka agama (Agama disini bukan Islam saja ya) untuk mempengaruhi rakyatnya supaya mau bersatu berperang untuk merebut sesuatu. Rakyat-rakyat jelata di doktrinasi tentang bentuk perlawanan atas dasar agama, padahal intinya si penguasa (pendoktrin) ingin merebut sesuatu untuk dirinya sendiri. Sayangnya, rakyat-rakyat jelata ini tidak dibekali ilmu yang cukup untuk berpikir rasional dan logis, sehingga mereka terdorong untuk ikut sebagai pasukan perang.
Dari pengalaman saya membaca buku, menonton film, mendengarkan ceramah, berinteraksi dengan orang, pelan-pelan saya menyadari ada empat kategori orang dari segi agama dan akalnya. (Note: Kategori ini tidak mutlak adanya, ini hanya pengetahuan empiris saya dari pengalaman pribadi).

(1) Tidak beragama, tidak punya akal (logika) dan ilmu
Kalau orang di kategori ini sih, susah ya dijelaskannya. Agama engga ada, ilmu juga ga ada. Orang-orang di kategori ini akan berakhir pada hidup yang terombang ambing dan tidak punya prinsip. Ngelakuin ini mau, ngelakuin itu mau, Tanpa tau konsekuensinya apa kepada Tuhannya, juga kepada masyarakat.

(2) Tidak beragama, punya akal dan ilmu
Kategori ini orang-orang atheis atau agnostic yang biasanya juga keras kepala kalau diajak diskusi. Saya belum pernah ketemu orang-orang kategori ini di Indonesia, tapi kalau di luar negeri banyak banget. Orang-orang kategori ini sangat keras dan teguh pada pendiriannya. Mengganggap bahwa God doesn’t existed dan amalan yang dilakukan oleh orang beragama adalah sesuatu yang sia-sia. Kalau dari pengalaman yangpernah saya alami ketika berdebat dengan orang atheis, just leave them. Saya belum sekuat para pakar ulama yang mampu berdebat dengan para atheist.

(3) Beragama, tidak punya akal dan ilmu
Orang-orang ini yang seringkali saya temui di Indonesia dan sering bikin kesal akibat kenyinyirannya. Orang-orang kategori ini biasanya lebih kemakan ego-nya sendiri dan suka lupa tempat. Ilmu yang saya maksud adalah ilmu yang lebih banyak digunakan kepada masyarakat.
Ada orang yang rajin mengepost cerita agama yang agak tendensius menyindir agama lain di dalam grup social media, padahal disitu ada anggota grup yang berasal dari agama lain. Menurut saya, orang ini lupa pada toleransi, dan menganggap dirinya itu sangat eksklusif.

Saya sadar orang-orang seperti ini pikirannya sangat sempit, maybe some of them haven’t traveled faraway, learn to be minorities. Maybe they are just afraid already leaving their comfort zone. Saya sudah berkeliling 24 negara, sebagian perjalanan saya solo atau traveling sendiri, sekalipun saya tidak pernah melepaskan jilbab saya, juga meninggalkan solat. Saya pernah melakukan euro trip bersama teman saya beragama Hindu yang juga taat. Justru kami saling mengingatkan untuk beribadah. Saya diingatkan untuk solat, teman saya pun saya ingatkan untuk sembahyang. Saya juga pernah mengunjungi kamp konsentrasi Nazi sendirian, dan saya bertemu dengan orang-orang Israel. Alhamdulilah, sampai detik ini saya masih sehat walafiat dan tidak meninggalkan dendam pada mereka, karena mereka tidak menyerang saya.

I traveled to see the world, and I found that there are many beautiful things to see, and it brings peace to us. Makanya saya sering heran, jika sedang mengisi acara bedah buku, saya sering ditanya tentang bagaimana eksistensi saya sebagai muslim saat study abroad, apakah terancam? lalu bagaimana saya diperlakukan oleh orang asing? apakah dilecehkan? Wajar saja orang bertanya hal itu dengan prasangka awal. Mungkin jika saya tidak pernah traveling maka saya akan dihantui oleh persepsi yang sama. Maka saya selalu berpesan, ‘just go and feel it by yourself’.

Buat saya, berpegang pada agama yang diyakini itu mulai dari dalam diri sendiri, bukan sebagai ajang untuk dapat pengakuan dan eksistensi. Jika sudah yakin dan mantap, pengakuan dari orang lain hanyalah bonus saja.

(4) Beragama, punya akal dan ilmu
Menurut saya, inilah level tertinggi dalam kehidupan, this is the goal of life. Mungkin orang-orang dikategori ini yang sudah level 100% itu nabi-nabi Allah SWT dan para ulama yang ‘benar’. Saya juga memiliki beberapa panutan pemuka agama yang suka saya ikuti dakwahnya, Panutan saya ini sangat kuat dalam ilmu agamanya, juga dalam amalannya terhadap manusia. Saya mengambil contoh perilakunya, dan menggunakan akal saya untuk menentukan apakah dakwahnya benar atau tidak secara logika. Orang-orang yang benar-benar berada dalam kategori 4 ini tidak hanya kuat dalam beribadah solat, puasa, mengaji, tetapi juga suka bersedekah,menolong orang, tidak memakan hak orang lain (misal: nyodok, serobot antrian, mengambil harta yang bukan hak-nya), menebar kedamaian, menghormati sesama (tidak hanya seagama, tetapi agama lain juga), meninggikan ilmu dibanding harta dan senang memberi pengaruh agama kepada orang lain dengan cara yang damai dan tenang.

Saya mengakui, diri saya masih sangat jauh pada kategori 4, namun saya merasa amit-amit jika masuk ke dalam kategori 1 (at least saya sudah berusaha mmencari ilmu dan belajar agama), dan berharap tidak berada di kategori 2 dan 3 (meski mungkin iya, karena fase pembelajaran agama dan ilmu saya masih on-going). Saya masih bertanya-tanya pada diri sendiri, kapan saya bisa masuk pada kategori 4 dengan kadar 99%? (1% dianggap sebagai kekurangan saya sebagai seorang manusia).
Saya juga adalah penganut aliran ‘lihat dalamnya dulu, jangan luarnya dulu’. Nah loh? Maksudnya apa tuh? Saya sudah capek melihat orang-orang dengan mengenakan simbol suci, namun dalamnya, ego-nya luar biasa tinggi, kaku, bahkan terlihat seperti tidak punya akal. Saya pernah melihat orang-orang yang dari penampakannya tidak terlihat agamis, hanya berpakaian biasa saja, namun sopan, tetapi ketika melihat kesehariannya, dia sangat mengutamakan ibadah wajib dan juga saat berdiskusi dia memiliki pengetahuan agama yang sangat dalam dan filosifis, tidak melulu membahas soal tata cara-tata cara beribadah. Di sisi lain, saya menemukan beberapa orang yang terlihat begitu religious from the outside, sering post status atau berbagi artikel tentang agama sambil menunjukkan betapa kuatnya ego dia terhadap agama, namun pada implementasinya, justru sangat berbalik dari ‘simbol’ yang dia kenakan. I pay more respect on the people with the good inside than the outside.

Tidak kaget buat saya, melihat orang-orang banyak berpakaian yang tertutup dan islami, tapi ternyata saya melihat mereka membuang sampah sembarangan, dan menganggap perbuatan itu biasa saja. Bahkan saya pernah diserobot oleh ibu-ibu berkerudung panjang saat mengantri wudhu, ketika orang lain juga mengantri untuk hal yang sama. Saya kesal sekali melihat banyak orang yang menerapkan agama dari ibadah serta symbol yang dikenakan, tetapi ternyata buruk di perbuatannya dengan sesama. Mungkin saya pernah menjadi (bahkan hampir) menjadi orang seperti itu, untungnya saya dibekali akal oleh Allah SWT untuk dipakai dalam kehidupan sehari-hari.
Contoh lain, saya pernah diundang untuk hadir dalam forum keagamaan (waktu saya diundang pun tidak menyampaikan bahwa acaranya adalah acara keagamaan). Once I arrived there, saya melihat sekumpulan wanita-wanita berkerudung panjang yang juga siap mengikuti acara itu. Sebenarnya tidak ada yang salah dari pakaian yang mereka kenakan, namun yang saya temukan adalah seseorang yang terlihat ‘religius’ dari symbol yang dia kenakan, dia baru saja selesai makan siang di dalam ruangan, lalu dia meninggalkan sampah plastiknya disitu, ruangan itu berAC, bungkus plastiknya mengeluarkan bau makanan yang tidak semua orang suka. I used to be very idealist at that time, especially on green issues. So, that view was very annoying to me.
Lebih kesal lagi, saya hadir tepat waktu, ternyata acara baru mulai satu jam setelahnya. Karena saya sudah ada janji bimbingan dengan dosen, saya bermaksud izin meninggalkan ruangan. Ternyata respon apa yang saya dapatkan?
Orangnya hanya berkata, “wah ini acaranya baru aja mulai, bagian intinya belum dimulai, bisa ga dicancel dulu janjian ama dosennya?”
WTF? *sorry for my bad words*

Disitu saya langsung bersikeras untuk pamit (and I will never ever come back again). Nyesalnya, saya sudah naruh nomor HP saya saat registrasi. Alhasil saya di-SMS terus oleh kelompok itu, ditanya kapan akan hadir di forum itu lagi. I said, “BHAY!” *sambil melengos

Forum tersebut belum memberi contoh yang baik untuk saya, sorry.
From that moment, I believe that I must use my brain ketika sedang mencari ilmu dari tempat lain. Jika tidak, mungkin dari forum itu, saya hanya akan menjadi salah satu antek-antek golongan tersebut yang berusaha memposisikan diri dalam tangga politik nasional, dan hanya berpikir pada simbol dan ibadah, tanpa perlu memikirkan soal amalan lainnya.

Ada satu film menarik yang baru saja memenangkan Oscar, yaitu Spotlight. Film ini mengisahkan tentang sebuah tim reportasi dari Koran Boston Globe yang menginvestigasi peristiwa pencabulan anak-anak yang dilakukan oleh pastur-pastur di Boston. Kejadian ini terpendam bertahun-tahun lamanya, dan tidak ada berani yang bersuara. Tim Spotlight ini berusaha keras mengumpulkan fakta dari para korban dan keluarga, disitu diceritakan bahwa korban pencabulan itu kebanyakan dari keluarga miskin, dan mereka menganggap bahwa pastur itu bagaikan Tuhan, dan apapun perintahnya mereka akan lakukan. Anak-anak yang lugu menjadi korban dari hasrat seksual pemuka agama tersebut, dan dengan mudahnya pencabulan itu ditutupi oleh pimpinan yang memiliki kekuasaan yang sangat kuat dalam komunitasnya. Disitu saya berkesimpulan, akal kita adalah alat yang ampuh untuk menangkis hal-hal yang buruk, meski itu ber’simbol’kan agama.

Saat ini banyak sekali saya menemui orang-orang yang benar-benar tidak percaya pada agama, ingin membebaskan diri dari agama, karena pernah mengalami kejadian yang berakhir kekesalan, kebencian, dan kekecewaan tinggi. Kekecewaan ini membawa dirinya menjadi acuh dan merasa agama tidak esensial lagi bagi kehidupannya, karena orang-orang beragama di sekitarnya telah memperburuk keadaannya. Hingga, dia meng-universal-kan kesalahan satu orang tersebut sebagai kesalahan seluruh golongan agama. Alhasil muncullah paham anti-terhadap-agama tersebut.
Alhamduliah, saya masih berpegang pada iman saya dengan agama Islam. Saya berprinsip bahwa kesalahan satu orang bukanlah kesalahan satu umat. Kadang tidak mudah untuk berpikir kemudian, pengalaman saya traveling ke beberapa Negara seringkali membuat saya berpikir bahwa perilaku satu orang mencerminkan perilaku bangsanya. Padahal tidak demikian. Jika berpikir begitu, maka kedamaian tidak akan pernah ada di dunia. Isu terror bom juga hangat sekali sampai detik ini. Seringkali mendengar kata terror bom, selalu diindentikkan dengan Islam. Satu orang pelaku bom yang ‘mengaku’ Islam, apakah artinya pelaku bom itu semua orang Islam? Bukan begitu kan?

Kesimpulannya, amalkan agama dengan akal dan ilmu kita, interpretasi Al-Qur’an dan Hadist dengan perasaan damai dan rendahkan ego dalam diri. Dunia ini sudah terlalu banyak dengan doktrinasi, konspirasi, penipuan berita media, hasutan, dan lain-lain. Senjata terbaik yang bisa digunakan ada di dalam diri kita, yaitu otak. We have given by the God a brain to think and to decide. Kita bisa terbuka untuk belajar apa pun, tapi kita perlu juga mengasah akal dan logika kita, supaya terhindar dari ajaran-ajaran orang yang menghasut pada hal yang tidak baik. From the history in the past, violence in the name of religion didn’t generate a better world.
Tulisan ini hanyalah sekedar opini dan unek-unek dari saya yang sebenanrnya sudah lama terpendam, akhirnya baru sekarang aja ditulis. Apalah saya ini yang cuma seonggok remah-remah gorengan. Hehehe. Ini hanya bentuk kecil suara saya tentang apa yang saya lihat tentang dunia. There are a lot of things to see and feel from this huge God’s creation.

My question now is:
Can we build a religious world society without violence? Can we?

PS. After you read this, call me ‘Kafir’ or ‘Liberal’ or everything you like if you think I am. But, I believe, only Allah SWT , my God can judge me. Yes, I’m not a good muslim and willing to go to a heaven, but at least I try to be it by using my brain and logic. 🙂

Read More

24 Hours Summer in Austria

“… Raindrops on roses and whiskers on kittens ..
.. Bright copper kettles and warm woollen mittens …
… Brown paper packages tied up with strings …
These are a few of my favorite things …. ?

– My Favourite Things – Julie Andrews from Sound of Music movie

Pernah nonton film Sound of Music?

Film legedaris tahun 60an ini menceritakan tentang seorang postulant bernama Fraulein Maria (Julie Andrews) yang dikirim ke rumah keluarga Von Trapp untuk mengasuh enam anaknya. Disitulah Fraulein Maria mengajak anak-anak tersebut berpetualang sambil bernyanyi-nyanyi. Setting film ini berlokasi di kota Salzburg, Austria pada saat Perang Dunia II berlangsung, dan film ini diangkat dari kisah nyata.

Hal yang menarik bagi saya adalah film tersebut menyuguhi indahnya pemandangan alam Salzburg.  Dipadukan dengan alunan soundtrack lagu-lagu ala Broadway, film ini menjadi sangat membekas di benak para penonton termasuk saya, sampai-sampai lagu My Favourite Things dimainkan ulang oleh pianis Jazz cilik asal Indonesia, Joey Alexander, bahkan bisa mengantar dia ke ajang Grammy Awards!

Oke singkat cerita sih, I really really wanna go to Salzburg someday! I wanna have my own ‘Sound of Music’ experience!

5. day two (43)

Setelah (more…)

Read More