Balada Demo Tolak Valentine’s Day

Hari Senin kemarin, gue sedang ada di Bogor untuk mengurus pekerjaan administrasi di beberapa dinas. Siang itu, gue booking gojek dari kantor dinas di Pengadilan menuju Bayu Buana Travel. Ketika gojek yang gue naiki melewati Jalan Pajajaran, tiba-tiba hujan besar. Alhasil, gojeknya melipir ke pinggir untuk mengeluarkan jas hujan. Hujan makin deras, hati gue gundah, takut kantor travelnya tutup, gue berharap semoga jalanan lancar.

Baru aja gojeknya jalan, tiba-tiba mandek. Duh, macet apaan nih, pikir gue. Mana udah gede banget lagi, dan gue banyak bawa dokumen penting (untung udah dimasukin ke map plastik). Akhirnya gojeknya nyelip-nyelip, dan kami bisa menembus keluar dari kemacetan. Setelah gue melewati lampu merah di depan Botani Square, gue menemukan salah satu penyebab macet : DEMO.

Ada barisan anak-anak muda sedang melakukan orasi, demo, you name it. sedang berteriak koar-koar di tengah hujan untuk menolak aksi Valentine’s Day. Sebagai korban macet, gue cukup kesal melihat kehadiran mereka yang berdemo, bukan karena konten apa yang mereka koarkan, tapi bagaimana mereka ‘mengambil’ hak para pengendara di jalan Pajajaran yang seharusnya bisa berkendaran normal, namun menjadi terhambat. Sekali lagi gue kesal, bukan soal materi apa yang mereka protes, tapi gimana mereka sering terlupa kalau ada bentuk ibadah lain yang sering dilupakan : tidak mengambil hak orang lain.

Gue sering banget menemui hal seperti ini di Indonesia, meneriakkan sesuatu hal yang kita yakini itu salah, tapi dengan cara yang salah, bahkan tidak dengan cara yang Islami, IMHO ya. Ini makanya kenapa gue tidak suka orang-orang berdemo, bukan karena isi yang mereka suarakan, tapi bagaimana kegiatan itu merugikan orang lain.

Gue pengen bicara dulu soal Valentine’s Day, sekali lagi gue bukan ahli agama, bukan orang yang sempurna dalam beribadah. Tapi gue pengen jujur, gue pernah ngerayain Valentine’s Day pas jaman SMP. Buat apa? Karena dulu gue masih puber, masih mencari perhatian ke teman sebaya, bahkan ke kecengan gue. Momen Valentine’s Day itu momen terbaik untuk menunjukkan sikap perhatian tanpa harus keliatan perhatian. Waktu itu, gue sama sekali engga tau kalau itu hari yang diangkat oleh agama lain, dan gue sendiri ga tau sejarah bagaimana Valentine’s Day itu lahir. Gue hanya tahu Valentine’s Day dari komik Jepang yang sangat gue gandrungi. Betapa romantisnya ngeliat tokoh cowok ganteng ngasi cokelat sebagai tanda kasih sayang kepada cewek yang dia sukai. Sebagai anak yang terlahir dengan otak kanan yang kuat, gue begitu banyak imajinasi, sambil berfantasi (bukan fantasi yang aneh-aneh loh ya :p).

Alhasil, terciptalah ide gue ingin beli coklat untuk Valentine’s Day. (Tahan dulu ya, jangan dulu ngamuk, jangan dulu ngira gue kafir). Belilah gue beberapa coklat cadbury yang bertebaran di supermarket, tidak ragu gue ngocek uang jajan gue yang masih receh untuk beli coklat semahal itu. Gue beli coklat kecil-kecil, gue bungkus dengan pita, lalu gue bagiin ke teman-teman dekat yang gue kira pantas untuk gue kasih. They were happy (ya iyalah hepi, coklat Cadburry gitu). Rasa senang gue terbayar melihat temen-temen nerima coklat dari gue di tanggal 14 Februari. Dulu gue pernah ngecengin temen les gue, yang beda SMP, dan beda keyakinan juga. Gue udah nyiapin sebungkus coklat, tapi gue urungkan saking takutnya bayangin reaksi dia apa pas dikasih coklat, coklat buat dia hanya tersimpan rapi di tas gue, dan akhirnya gue makan sendiri (sebagai bentuk kasih sayang gue terhadap diri gue sendiri, wkwk).

 

ce46bcc563fae9b7c03ec0562aecf541

Ini coklat yang gue beli dulu.. wkwkwk.

Sumber : Pinterest

3 kali gue ‘merayakan’ Valentine;’s Day’ selama masa SMP, dan dulu dakwah tolak Valentine’s Day tidak sekencang sekarang, alhasil gue tetap merasa ‘nothing’s wrong with Valentine’s Day’. Gue engga ingat persis bagaimana gue stop ikut-ikutan Euphoria Valentine’s Day, sebenarnya bukan karena gue liat aksi demo tolak Valentine’s Day, lalu gue langsung tobat dan engga palentinan. Yang pasti, as time goes by, gue beranjak dewasa, gue mendapat pendidikan agama yang cukup damai penyampaiannya, gue sadar kalau itu bukan budaya Islam, dan sebaiknya dihindari, karena buat agama Islam, hari kasih sayang itu setiap hari, bukan hanya 14 Februari. Gue makin sadar daripada gue sibuk mikirin beli coklat apa dan dikasi ke siapa, mending gue perbanyak solawat dan bantu orang lain yang butuh, karena itu ibadah yang mengandung unsur kasih sayang (bahkan ga perlu ngocek duit besar untuk beli Cadburry). So, I stopped celebrating Valentine’s Day. Ada perasaan bersalah juga, tapi gue pikir-pikir sudah dilalui, gue hanya bisa meminta ampunan,  jika hal yang pernah gue lakukan itu salah satu bentuk dosa, semoga Allah mengampuni. Gue percaya Allah itu Maha Baik untuk hamba-Nya dan bersedia membuka pintu maaf. 🙂 

Tahun-tahun berikutnya, gue ga pernah menganggap tanggal 14 Februari itu sebagai hari spesial. It’s just like another day  dan gue ga pernah beli coklat dengan niat untuk Valentine, kalau beli pun karena pengen doank hehe. Balik lagi ke demo tolak Valentine’s Day yang gue lihat di jalan itu, sepertinya mereka ingin mengajak orang-orang seperti gue pas jaman SMP untuk tidak Valentine-an, karena itu dosa besar, sebesar mengambil hak orang lain, misalnya mem-blok jalan, hingga orang tidak bisa berkendara lancar dan tiba di tujuan tepat waktu. Memang orang-orang seperti gue pas jaman SMP perlu dididik untuk tahu kalau sebaiknya orang Muslim tidak merayakan Valentine’s Day. Gue setuju banget kalau anak-anak remaja perlu dididik sejak dini, bisa lebih memfilter budaya barat dan lebih dekat dengan agama. Tapi gue ga begitu setuju kalau caranya pake nyinyir, nasehatin tapi dengan cara nyindir, terus koar-koar teriak di jalan, trus ngehambat orang lain untuk lewat. GAK SETUJU. Kenapa?

Karena anak remaja itu keras kepala bro, gue kalo dnyinyirin waktu jaman SMP, yang ada gue bakal balik nyinyir. Anak remaja itu engga peduli salah atau engga, yang penting bisa aktualisasi diri dan merasa dapat kebebasan. Itu memang fasenya anak muda. Tapi, gue yakin kalau dididik dengan cara yang halus, damai, dan pake contoh yang baik, mereka akan sadar.

Bukannya kita diajarkan kalau misal ngajak anak kita kelak untuk rajin ibadah bukan dengan kata ini:

“Nak, ayo solat, nanti masuk neraka lo kalau engga solat”.

Tapi baiknya dengan ini:

“Nak ayo solat, supaya kita bisa masuk surga sama-sama”. Lebih adem kan?

Ibaratnya gitu sih.

Tapi maaf-maaf juga sih, kalau ada yang berkoar-koar tolak Valentine’s Day karena itu budaya barat, tapi dia engga sepenuhnya menolak budaya barat. Maksudnya dia masih mengambil beberapa budaya barat dalam kehidupannya.

Seperti kata Om Wishnu Tama, CEO NET TV, yang baru aja dikomen ama netizen di Instagram kalau Valentine’s Day itu budaya barat (nulis nya ga pake santai lagi, kayak orang marah-marah. Terus Om Wishnu bales dengan anteng,

“Ya benar Valentine’s Day itu budaya barat, sama seperti T-Shirt yang anda pakai, dan Universal Studio yang anda kunjungi..”. Lalu gue cek IG-nya, ternyata si netizen itu pake produk barat, dan pergi wisata ke Universal Studio yang menjadi produk Barat. Wkwkwkwk. Alhasil di-bully deh itu si netizen. Hahaha. (pernah nemu orang mirip kayak gini ga? Gue sih sering :p). Budaya itu bercampur padu, bahkan sudah bokeh kalau pake bahasa Fotografi.

Bener juga sih, kalau mau koar-koar tolak Valentine’s Day, berarti dia kudu benar-benar tidak nyentuh budaya Barat sama sekali. Selama traveling ke 28 negara, gue berusaha menghormati budaya setempat, tanpa perlu gue bikin demo protes tolak aksi apapun, karena takut keimanan gue berkurang. Waktu sekolah di Jerman, ada beberapa hari yang mirip seperti Valentine’s Day, salah satunya Nicholaus Tag. Ini semacam perayaan umat Kristiani beberapa minggu sebelum hari Natal. Suatu pagi, gue dikasih hadiah sama temen se-flat gue yang menganut agama Kristen berupa coklat dan pajangan mini pohon cemara yang unyu.

“Frohe Nikolaustag!” kata Dorota sambil senyum. (Selamat hari Nikolas!)

Gue yang masih bulukan baru bangun terus dapet hadiah ya gimana engga seneng. Gue hanya bisa bilang Danke Schoen dan nerima hadiahnya. Intinya sih menurut gue, ngehormatin orang lain yang merayakan perayaannya itu sah-sah aja. Karena menghormati orang lain juga bentuk ibadah. Ya kan?

Balik lagi ke aksi demo pas ujan-ujanan tadi, sebenarnya gapapa sih mereka berkoar-koar gitu, tapi menurut gue ada baiknya aksi demo itu dialihkan ke bentuk aktivitas sosialisasi tolak valentine yang lebih tepat sasaran, langsung ke cabe-cabean yang jarang dapat kajian Agama (tapi please, gue engga termasuk cabe-cabean ya, hanya mengambil jalan yang salah aja), atau terong-terongan juga boleh. Kalau demonya depan botani square, terus kendaraan lalu lalang, dan gue yakin semua yang naik kendaraan pasti lagi mikirin hal lain, atau lagi buru-buru (termasuk gue). Mana sempet gue baca semua papan aksi demo. Daripada capek-capek keluar urat dan ngabisin pita suara teriak teriak, itu pun ga kedengeran karena suara hujan lebih keras. Mending buat kemping inspiratif, kalau acara goes to school, yang ngasih pendidikan fun tentang bagaimana sebaiknya kita melihat Valentine’s Day. Yang pasti, gue sudah stop merayakan hari Valentine’s Day.

35770174-Protesters-crowd-walking-in-a-demonstration-vector-illustration-Stock-Vector

Source : 123RF.com

Hmm, Ikut demo juga gapapa sih, asal menghormati orang lain. Gue pernah lihat orang Korea demo di Bandara Incheon, orang-orang berdiri di pinggir trotoar dan tertib,  jadi engga bikin jalanan macet, semua berjalan seperti biasa. nah buat gue itu demo yang bagus. Terus demonya juga engga korupsi. Maksudnya korupsi waktu orang lain. Karena korupsi itu dosa loh, termasuk ambil hak waktu orang lain. Ya kan? Bayangin loh itu demo di tugu kujang itu, berapa menit waktu yang dikorupsi mereka karena memperlambat laju jalan. Untung saja saya bisa sampai kantor travel on time, jadi bisa menyelesaikan urusan dokumen visa saya untuk keberangkatan ke luar negeri bulan depan. Alhamdulilah.