Eat PLAY Love (Chapter 2 : Meet The Blanco and The Monkey Forest)

See Bali before you die … – Anonymous

Melihat Ubud pertama kalinya adalah something that makes me so speechless. (See Chapter 1 here)

Compare to the Bali beach like Kuta or Sanur, Ubud attracted me more .. It’s a heaven on earth. Mungkin karena dari dulu gue pengen banget ke Ubud kali yaa. jadi sampe kesini itu kayak mimpi. hehe.

Gue tiba di Jalan Monkey Forest, dimana di sepanjang jalan ini berderet toko-toko bernuansa bali banget, bangunannya menggunakan kayu atau batu-batu yang cantik, plus pohon-pohon kamboja (Pulmeria sp.) yang berdiri menghiasi bagian depan toko tersebut.ย So beautiful..

Jalanan pun tidak terlalu ramai, jadi suasananya lebih syahdu.. ๐Ÿ™‚ย 

Waktu sudah hampir zuhur, gue sendiri sudah menyusun agenda, so we should stick to the schedule.

MENCARI PENGINAPAN MURAH

Next agenda, find for a place to sleep.ย 

Sebenarnya tidak sulit mencari penginapan murah, hampir di setiap rumah di Ubud menyediakan kamar-kamar untuk wisatawan dengan range harga murah sampai termahal. Pertama kali sampai di Ubud, gue ditawarin kamar per malamnya 500ribu, wuoh.. mahal bener.

Budget gue buat nginep cuma 50ribu per malam, hehe.

alhasil kita pun survei tempat lain. Setelah 10 menitan jalan kaki, gue nemu satu gang yang di mulut gang itu ada papan-papan penginapan yang ditawari fasilitas Wifi. masuklah kita ke gang itu.

Disana gue melihat ada beberapa deret rumah dengan gerbang masuknya itu berbentuk gapura khas Bali. Pagarnya pun khas Bali sekali, dari bebatuan berwarna orange yang sudah agak berlumut.

Gue masuk ke rumah pertama yang terletak di ujung dari gang.

Wow.. Setelah melewati gapura, gue langsung melihat rumah-rumah kecil khas Bali, dan diantara rumah-rumah itu ada taman yang cantiiikk banget.

“Permisi…” sahut gue, hening. “Permisi..” sekali lagi.

Keluarlah mbak-mbak dari salah satu rumah.

“Mbak ada 2 kamar kosong?” tanya gue.

“Maaf mbak, sudah penuh..” jawab mbaknya langsung.

“oh penuh ya, wah sayang sekali, oh iya, boleh tau mbak permalam berapa ya harganya?” tanya gue.

“150 ribu mbak..” balas si mbaknya dengan lembut.

‘Oh, harganya masih bisa diterima, tempatnya juga bagus lagi, sayang penuh.’ pikir gue.

Gue, denda, tahmid ama nisty langsung cabut ke rumah sebelah.

Tata letak rumah kedua ini persis banget sama rumah pertama. Kayaknya sih memang tata letak rumah ala Bali seperti ini deh. Ada dua rumah yang terpisah, dan di tengahnya ada semacam balkon. Di antara rumah-rumah dan balkon itu ada tanaman-tanaman khas Bali, seperti pohon kamboja.

Rumah kedua pun mengecewakan, kamar penuh. ๐Ÿ™

Duh, Perut gue dan temen-temen gue udah keruyukan banget, belum sarapan pagi.. >.<

kita harus segera dapat kamar! akhirnya gue lihat satu rumah yang letaknya paling dekat dengan mulut gang.

Namanya Pande Permai. Gue agak pesimis buat dapat kamar disitu, karena letaknya lebih strategis dibanding rumah kesatu dan kedua, so peluang buat penuh kamarnya lebih besar.

But, we still want to try. Masuklah gue ke Pande Permai itu..

Waahh,, rumahnya juga cantik banget, gue langsung keinget sama setting rumahnya Pak Ketut Liyer di film Eat Pray Love. Persis deh. It’s like heaven on earth.

“Pemisiiii…. ” teriak gue di tengah keheningan. Temen-temen gue harap-harap cemas.

seorang mas-mas keluar dari salah satu ruangan, “Ya?”

“ada kamar kosong mas? 2 kamar? ” tanya gue, berharap banget.

“oh, ada mbak!” jawab masnya langsung.

Wow, ternyata ada! Gue agak-agak kurang percaya, mengingat rumah-rumah sebelumnya penuh.

“oh beneran ada mas? 2 kamar ada kan? berapa ya semalam?” tanya gue lagi.

150 ribu per malam per kamar mbak ” jawab masnya dengan aksen Bali, agak dangdut gitu nadanya. hehe..

Gue pun langsung tanya ke temen-temen gue, apakah kita mau ambil.

Sebenarnya gue masih berharap dapat kamar 100ribu per malam per kamar buat berdua. Tapi setelah berembug, ditambah perut laper, dan tempatnya juga enak,

“oke mas, kita ambil 2 kamar ya!” jawab gue girang.

Masnya langsung bawa buku batik panjang, minta gue buat isi nama yang nginap, nomor identitas plus asal (negara).

Kamar seharga 150ribu per malam itu good price. Bednya queen size, suasana kamarnya etnik-etnik gitu, ada shower (air panas & dingin), dapat sarapan pagi (yeay! ini yang kita cari, hehe). Plus lagi, masnya bilang kalau mau renang, kita bisa pergi ke hotel yang satu lagi, yang masih satu manajemen ama Pande Permai. wow.

pandepermai

Tahmid in front of Pande Permai

Setelah taruh backpack di kamar, gue langsung ngeluarin nasi bungkus yang disiapin ama emak gue. Ga pake lama, kita langsung papadangan di depan kamar buat ngabisin nasi pake nugget dan sosis goreng. Yummmyyy…

Let’s get the energy before we go for Ubud trip!

Sebelum makan, gue udah minta tolong ke masnya buat sewain 2 motor matic. Di Ubud, engga ada kendaraan umum macam angkot, becak, atau ojek buat keliling Ubud. satu-satunya kendaraan yang umumnya dipakai turis dan terjangkau adalah motor.

Antara gue, Denda, Tahmid, dan Nisty, yang biasa bawa motor cuma Denda doank. So, H-1 minggu gue pun belajar bawa motor matic bareng Denda. Demi trip ini. Hehe. Sewa motor di Ubud harganya 50 ribu, belum termasuk bensin. Sewa berlaku ย hari, misal mulai jam 1 siang, berarti balikinnya pas telat jam siang hari besoknya.

Gue agak deg-degan sebenarnya buat bawa motor, karena gue belum pernah bawa motor buat jalan-jalan. Meski denda bilang, gue sudah dibilang bisa bawa motor dengan lancar. But, hey, Bali is not my home.ย  Pasti beda deh bawa motor di Bogor ama Bali. Tapi gue agak optimis bisa pas tau jalanan Ubud itu sepi, engga kayak Bogor yang semrawut ga karuan.

Beres makan, gue akan membuktikan diri gue kalau gue bisa bawa motor. Bismilah.

Destinasi berikutnya adalah Museum Antonio Blanco dan Monkey Sacred Forest.

Penentuan destinasi ini asalnya dari browsing di google, plus gue adalah fans berat Antonion Blanco sejak gue SD.

When I was a little, I have a dream to be a famous painter.ย 

Teman-teman gue sendiri setuju dengan destinasi yang gue tentukan. (enaknya kalo jadi ketua rombongan ya gini.. hehe).

Sesuai instruksi mas-masnya, kita perlu ambil motornya di tempat lain, 400 meter dari tempat kita nginap.

Gue dan denda pun kesana buat ambil.

pas jalan, Oh Gosh! di depan mata gue, gue lihat tanjakan miring yang lumayan panjaaang banget. tempat ambil motornya itu ada di salah satu gang yang di sepanjang tanjakan itu. Edan, gue kira jalan disini datar-datar aja, ternyata engga. >.<

“wah den, ini gimana caranya gue bawa motor di jalanan gini..” tanya gue galau.

“nanti di gas aja terus nis.. bisa kok… ” jawab Denda optimis.

Gue gugup banget, makin gugup lagi pas tau motornya itu Vario, bukan Mio.

Vario kan ukurannya lebih gede dari Mio. Selama latihan, gue selalu pake Mio.

setelah urus administrasi rental motor, gue dan Denda langsung naikin motor rentalan itu.

It’s time to pick up Nisty and Tahmid.

Deg, deg, deg. I got so nervous. For the first time, I’m riding a motorcycle.

Denda terus support gue, dan akhirnya gue naiki itu motor. Bismilaah.

Wow, ternyata gue bisa bawa.. hahaha. gue juga bisa ngelewatin tanjakan curam nan panjang itu! *bangga*

kebanyakan jalan di Ubud itu satu arah, so gue perlu muter dulu buat jemput Nisty dan Tahmid di Pande Permai.

How did it feel to take my own motorcycle in Bali? It’s awesooommeeee!!!

Entah kenapa menyenangkan banget bisa bawa motor matic disini. hehe.

Let’s go to Antonio Blanco Museum!!!

Antonio Blanco – Pelukis Asing yang cinta mati dengan Indonesia.

Dari sekian banyak orang asing yang jatuh cinta dengan Indonesia, Antonio Blanco-lah salah satu yang gue ingat.

Jaman gue SD dulu, ada satu sinetron yang judulnya Api Cinta Antonio Blanco. Sinetron itu menceritakan bagaimana lika lku Antonio menjadi pelukis dan hubungan asmaranya dengan ย Ni Ronji (Penari Bali yang kemudian jadi istrinya).

Gue sukaaa banget sama sinetron ini. Antonio cukup menginsipirasi gue untuk menjadi seorang pelukis. Sebenarnya, dulu gue ga tau mahakarya apa aja yang udah dia buat dan aliran apa dalam melukis.

Dan kunjungan gue ke museum Antonio itu telah menjawab semuanya. Ternyata dia adalah pelukis wanita telanjang! Hahaha. aduuhh, shock juga pas tau, ternyata pelukis favorit gue itu beraliran ke situ. hehe.

Museum Antonio Blanco terletak di sebelah Barat Ubud. Lokasinya terletak di daerah berkontur yang luamayan curam. So, pas masuk, gue harus nge-gasin motor sekuat-kuatnya karena jalan masuk masuknya miring sekali.

Untuk masuk museum Antonio Blanco ini, setiap orang dikenakan biaya sebesar Rp 25.000,-.

Museum Antonio ini bernuansa alamiah banget. Menyatu dengan alam.

Pertama kali masuk, kita berjalan diantara pepohonan dan semak-semak tropis. Segar dipandang mata.

Area pertama yang kita datangi adalah ruang display.

disitu gue bisa liat beberapa lukisan buatan Antonio Blanco, artikel-artikel koran, dan foto keluarga, selain itu juga ada benda-benda antik khas Bali.

Disana pun ada satu TV yang menayangkan sinetron Api Cinta Antonio Blanco. Huwaaa.. sinetron-ku waktu kecil.

Gue terkesima ngeliatnya. ๐Ÿ˜€

Ruang berikutnya adalah ruang galeri. Di satu ruangan, gue bisa melihat lukisan-lukisan wanita berpose cukup vulgar yang dilukis dengan cat minyak. Geli juga sih liatnya. hehe.

AntonioBlanco1

Disitu ada mbak-mbak staf museum yang lagi nyatet-nyatet. Gue pun datang buat interogasi.

“mbak, mau tanya, aliran lukisan Antonio ini apa ya? tanya gue penasaran.

“hmm, dia ini punya aliran ekspresionis romantis mbak..” jawab si mbaknya sambil senyum.

“hooo,, tadi saya lihat di foto keluarga, ada anaknya Antonio ya mbak? apa dia ada disini sekarang?” tanya gue lagi, makin menjadi-jadi. Gue pensaran habis liat foto keluarga, ternyata Antonio punya anak laki-laki, namanya Mario Blanco.

“oh, Pak Mario ada disini kok mbak, dia tinggal disini bersama istrinya.. kalau anak perempuannya sudah ikut dengan suaminya masing-masing” jawab mbaknya lembut.

Hoo.. I see. Ternyata museum ini diteruskan oleh anaknya, Mario Blanco.

Perjalanan pun gue lanjutkan ke ruang outdoor.

Di ruang outdoor ini, kita dikasi welcome drink oleh stafnya. wuiiihh, tau aja nih si mbak kalau gue lagi haus. hehe. Kita pun menikmati teh manis dingin sambil liat-liat sekitar. Di satu sudut ada burung-burung tropis yang bertengger di satu batang besar seperti Rangkong, Beo, Nuri, dan Jalak Bali. Di sudut lain, gue lihat rumah pribadi Mario Blanco yang bukan untuk umum. Dan tepat di depan mata gue, ada bangunan buesaar, itulah museum Antonio Blanco.

Kita pun masuk ke museum itu, hmm… ternyata interior ruangnya tidak bernuansa Bali melainkan European Style. di lantai satu, lukisan berukuran besar karya antonio blanco berjejer disitu, kebanyakan lukisannya wajah atau manusia secara utuh (ada yang bugil ada juga yang engga). Sayangnya kita dilarang foto-foto di dalam museum ini.

Lantai dua pun isinya sama, lukisan-lukisan hasil goresan Antonio berjejer rapi disana. Gue sendiri mencoba untuk memahami beberapa lukisan disitu. Actually,ย I love art, tapi gue pribadi merasa tidak terlalu pintar untuk menginterpretasikan lukisan-lukisan yang terbilang unik. But I enjoyed it.. ๐Ÿ™‚

Setelah puas di dalem museum, gue, Denda, Nisty, ama Tahmid beranjak ke lantai paling atas, ke ruang terbuka. Dari atas situ kita bisa lihat pemandangan Ubud, mulai dari sawah, perumahan, bahkan pura. Selama di atas, kita habiskan waktu buat foto-foto. ๐Ÿ˜€

Gue cek jam, ternyata udah mau jam 4 sore, we should move immediately to ……..

Monkey Sacred Forest, Kebun Raya Khusus Makaka.

Dibanding dengan Museum Antonio Blanco, jarak dari penginapan ke Monkey Forest lebih dekat. Kebetulan kita udah ngelewatin area Monkey Forest, so pas menuju kesana, kita engga kesesat, alhamdulilah.

Kita sampai Monkey Forest jam 4 sore, suasana welcome area-nya asri dan hijau sekaliii..

Di lapangan parkirnya aja, langit udah ketutup ama pohon, teduh-nya.. ๐Ÿ™‚

Gue dkk memarkirkan motor di parkiran resmi dengan tertib, lalu kita berjalan menuju pintu masuk,

untuk menikmati indahnya Monkey Forest dikenakan tiket seharga Rp 20,000,- per orang.

Saat beli tiket, Engga lupa gue minta peta untuk cari spot-spot menarik disana.

Gue merasa Monkey Forest ini bisa dibilang representasi dari keindahan lanskap alami pulau Dewata.

All you can see is green, even the sky become green, because all covered by canopy trees.

And, The most important thing that you must see from this forest is The Monkey!

Yap, di Monkey Forest ini, Monyet-monyet berjenis Macacca dianggap sakral dan tidak boleh diganggu.

Tepat kita masuk sini, macacca itu udah berkeliatan di jalan, di pager, di pepohonan, bahkan bisa ke punggung pengunjung!

Baru pertama kali gue ngeliat monyet hampir di segala arah, ada yang lagi makan, manjat, tidur,

lebih unyunya lagi, gue pertama kali liat emak monyet ama anaknya yang lagi nangkelย di perut emaknya, kayanya lagi nyusuin. hihihi.

FYI, Monkey Forest di Ubud ini adalah cagar alam sekaligus area wisata alam. Makanya di dalam hutan ini ada banyak pohon-pohon tinggi yang dibiarkan secara alami. Satwa yang mendominasi hutan ini adalah Monyet Makaka (Macaca fascicularis).

Makaka

Gue melihat satu jalan menurun ke bawah, disana banyak orang berbondong-bondong jalan ke arah situ.

“eh disitu kayaknya ada tempat seru deh.. kesana yuk!” ajak gue ke temen-temen gue.

Kita pun menyusuri jalan batu yang menurun itu.. Sekitar 200 meteran, kita pun sampai di jembatan batu, di ujung kanan-kirinya ada patung singa khas Bali, gue lihat suatu squareย yang dikelilingi oleh pohon-pohon yang tinggi dan rimbun dan di tengahnya ada kolam berbentuk kotak. Oh I know this place!

Ini salah satu lokasi syuting Eat, Pray, Love!

Ada adegan pas Liz (Julia Roberts) naik sepeda keliling Bali, dan dia sempat ngelewatin area ini. wow~

pas gue tau tempat ini, ketauan banget filmnya kurang masuk akal, soalnya jalur menuju area ini engga aksesibel untuk sepeda. haha (movie’s logic, lol)

Gue cukup terkesima liat kolamnya, kolam itu dipagari oleh pagar baru yang sudah berlumut dan di beberapa sisi ada patung yang ngeluarin air. air jatuh ke kolam itu. very Balinese… ๐Ÿ™‚

Gue dan teman-teman gue mencoba buat mengeksplor daerah itu.. dari hasil googling daerah ini adalah tempat “bathing temple” berada.

Keindahan panorama Monkey Forest Ubud ini memang engga bisa dijelaskan dengan kata-kata… gue terbuai dengan view hijauan pohon, batu-batu berlumut, suara aliran air yang tenang… it’s like nature is calling me to stay forever in there,, ๐Ÿ™‚

Hari semakin sore, jadi kita ga bisa lama-lama di satu tempat, kita pun pergi ke spot lain..

Tragedi Makaka

Kita pun tiba di salah satu spot, dimana disitu ada temple lagi (gue lupa itu temple apa). Gue juga nemu pendopo besar yang kosong.

Gue dkk pun duduk-duduk disitu… Namun siapa sangka ternyata duduk di pinggir pendopo itu memancing Makaka dateng buat nyerang kita.

Gue melihat ada banyak makaka yang berkeliaran di segala sudut.

Gue dan temen-temen ga bawa makanan, tapi entah kenapa Makaka disitu sangat agresif ke arah gue dkk.

“Ih ngeri deh..” sahut Nisty pas liat Makaka pelan-pelan menghampiri kita.

Saat itu, gue lagi ngeluarin barang dari dalam tas. Gue ngeluarin dompet gue dan dompetnya gue taro di lantai pendopo tepat samping gue duduk. Niatnya mau ngambil sesuatu dari dompet. Sambil gue rapi-rapiin tas, gue ngobrol-ngobrol ama Denda. Tiba-tiba….

“Nisa awasss!!!!!” teriak teman gue. Mata gue langsung ke dompet gue, dan gue liat ada satu Makaka yang hampir ngambil dompet gue!!

“Oh my God!!” teriak gue *bule-bule dikit syoknya hehe*.

Buru-buru gue ambil dompetnya trus masukin lagi ke tas. Ngeriiiii..

Kalau si Makaka itu beneran ngambil dompet gue, trus dia kabur, gimana gue bisa ambil balik ya?

Karena ngeri, kita langsung siap-siap mau kabur dari situ. Eh ternyata urusan sama Makaka belum beres.

Sekarang Denda yang jadi korban. Tiba-tiba ada satu Makaka lain datang dan langsung manjat ke punggung Denda!

“aduhh.. itu makaka, gimana donk..” gue panik, si Nisty jerit-jerit, Tahmid syok.

gue, Nisty, ama Tahmid ngerasa ngeri.. gue yakin banget Denda ketakutan parah.
Makaka itu pun jambak rambutnya Denda. oh my!!

“aaarrhhh..” Denda teriak, tapi ga berdaya dijambak ama si Monyet.

“Tenang den tenang.. lo diem aja..” kata gue.

Beberapa detik kemudian, si Makaka itu turun dari punggung Denda trus kabur.

hufffttt… semua lega. turis-turis yang berdiri ga jauh dari tempat kita cuma nyengir-nyengir kuda ngeliat insiden itu.. hahaha

Oke, sekarang kita harus segera pergi dari sini!!!

Kita pun langsung cari pintu Exit.

MAKAN MALAM KALAP DI WARUNG IJO (HALAL)

Sepertinya insiden serangan Makaka ngasi dampak besar untuk perut kita. Keluar dari Monkey Forest, perut kita keruyukan banget.

Kita pun memutuskan buat makan malam. Saat itu, waktu sudah menunjukkan pukul 6.

“eh nis, tadi pas kita on the way kesini, gue liat ada restoran muslim gitu di pinggir jalan, warna bangunannya ijo.. kayaknya murah deh, gue sekilas liat menu-menunya yang dipajang di depan, kayaknya oke..” kata Tahmid.

“oh gitu yaudah kita kesana aja yuk!” gue pun bersemangat buat makan.

Kita pun ambil motor sewaan masing-masing di parkiran, trus cabut ke lokasi dinner.

Ternyata Tahmid benar, di antara Puri Ubud dan Pasar Ubud, ada bangunan kecil bercat hijau, disitu tertulis “warung Ijo” plus ada logo Halal. Daftar menu yang dipajang pun nunjukin harga yang terjangkau, mulai dari Rp 10.000 sampai Rp. 20.000.

Pas masuk ke resto, ternyata tidak ada pengunjung, kecuali kita. Disana meja-mejanya berbentuk lesehan.

Pelayan restonya langsung ngasi daftar menu setelah kita duduk.

“Inget ya budget kita makan malam ini kudu diirit-irit, ingat hari esok” gue ngingetin yang lain. Gue langsung teringat dengan anggaran biaya backpacker kita yang lumayan terbatas.

Temen-temen gue cuma manggut-manggut aja, udah kelaperan kali yaa..

Pas liat daftar menu, kok kayanya enak-enak semua. jadi pengen mesen macem-macem.

“eh kayanya gue pesen menu ayam-nasi ga kenyang deh, btw kita pesen satu menu untuk rame-rame yuk!” gue bilang kayak gitu seolah-olah gue lupa ama omongan gue sebelumnya. Nafsu makan gue mulai liar lagi.

Yang lain setuju. Akhirnya gue pesen menu paket ayam geprek ama nasi, minumnya teh tawar panas (niat ngirit minum, kalau makan gpp deh enak). Temen-temen gue juga mesen menu paket lauk ama nasi dan mereka pesen minuman manis.

Nisty yang kehausan, mesen es jeruk.

Denger kata es jeruk, gue jadi kepingin juga. “Ngga, ngga, ngga, ” pikir gue. Inget budget.

Untuk menu rame-an, kita pesen 1 porsi Mie Goreng.

Beres mesen, kita pun menunggu dengan perut lapar sekali.

Pengunjung resto mulai bertambah. Ada dua bule dateng, mereka pesen nasi goreng ama mie goreng.

Nasi Goreng ama Mie Goreng emang favorit banget ya buat bule.

Trus dateng lagi bule Korea, mereka duduk di seberang kita.

Ada lagi bule cewe berambut blondie, sepertinya dia udah langganan makan di resto ini, akrab banget ama pelayannya.

Lucunya, dia cuma pesen tempe goreng! haha.

Namun sayang, kata pelayannya tempenya lagi kosong.

oh too bad, this is my last day in here..” jawab bulenya. Ya ampunn,, dia mau farewell dengan tempe goreng ternyata. sabar ya le.

gue dan temen-temen cekikan liat bule-bule pada mesen makanan. Cekikikan ini juga bisa diartikan sebagai rasa bangga terhadap masakan Indonesia yang begitu disukai ama turis asing. ๐Ÿ™‚

Alhamdulilah, mie goreng pun datang. and it looks delicious.

ga pake lama, kita langsung sabet Mie Gorengnya rame-rame..

Ekspresi gue, Nisty, Denda, dan Tahmid sama pas makan Mie Goreng. “enak banget..”

Mie-nya enak, pas perut kita laper berat. Sendok kita pun saling beradu, merebutkan mie di atas piring.

Engga nyampe lima menit, mie pun habis.

WarungIjo

“Duh mana nih pesenan yang lain” keluh gue (ketauan banget lapernya).

Beberapa menit kemudian, makanan pun tiba.

Ayam gepreknya terlihat pedas dan enak. trus gue liat jus jeruk nisty, ya ampun seger banget kayanya.

pas ngelirik teh tawar panas punya gue, yah.. butek.

Si Nisty nyeruput es jeruk segarnya.. “hm, manis banget,… seger… ” Nisty mukanya kayak dapet angin Sorga.

“nyoba donk” gue ga mau kalah. sruutt… ya Allah enak banget. manis dan dingin.

“mas es jeruk satu lagi ya!” teriak gue.yang lain otomatis pada ketawa, “katanya mau ngirit nis.. hehe”

hehe. ga tahan gue dengan godaan es jeruk segar.

Itadakimasu!

Gue pun makan dengan hikmat, mungkin lebih ke arah kalap.

Lama-lama gue baru ngeh kalo ayamnya luar biasa pedes. beberapa menit setelah makan, tiba-tiba kita langsung keringetan.

Ingus gue mulai meler. Tisu standby deket piring gue.

“gilak pedes banget!!” teriak gue. Temen-temen gue juga pada berkeringat.

sebagai penetralisir, es jeruk gue sedot sedikit-sedikit, eh lama-lama tinggal dikit. dan nasi-ayamnya masih banyak!

“aduh minum gue mau abis.. gimana donk” keluh gue.

“es jeruk gue udah abis nis” si nisty nunjuk ke gelasnya. Denda ama Tahmid juga kepedesan.

“es teh manis satu lagi mas!” teriak gue , ga tahan kepedesan. Semua temen gue nyengir, sedikit nyindir karena misi ngirit gue gagal.

Ga tahan banget ini pedesnya!

Beres makan dengan menyisakan mulut yang panas, kita menghitung kartu-kartu kuning berisi info menu makanan dan harga kita. Setiap kartu menunjukkan satu menu.

Kartu-kartu berserakan di meja kita, baru ‘ngeh’ kalau pesanan kita banyak banget!

“Gila, banyak banget ini kartunya, padahal yang pesen cuma 4 orang! ” kata Tahmid ketawa.

Kita semua hanya menutup makan malam dengan ketawa lepas. Let’s say this is our guilty pleasure. Hehe.

Rata-rata per orang kena sekitar Rp 40,000. Our mission to ‘ngirit’ is failed.

Setelah makan malam, kita kembali ke penginapan untuk istirahat. Besok pagi kita akan pergi menuju area pantai Bali yang sangat terkenal oleh turis, Kuta!

RatRosAt

Salam traveler kere Ciawi dari Ubud!