Forbidden City : The Home of The Emperor

Have you ever heard about the city which lies in the city?

Yes, it’s called Forbidden City.. 🙂

Source : mybeijingchina.com

Selain Tembok Raksasa China, ada satu destinasi wisata yang ga boleh dilewatin oleh para turis kalau pergi ke Beijing China, yaitu Forbidden City atau disebut juga dengan Kota Terlarang.

Awalnya, gue kurang tahu menahu tentang Forbidden City. Dan awalnya gue sendiri ga terlalu tertarik untuk tahu banyak soal itu. Gue denger kata-katanya udah ‘Forbidden’ alias terlarang, berarti ga boleh didatengin donk ya? ;p

Ternyata gue salah, setelah cari tau informasi ternyata istilah Forbidden City merupakan kota terlarang pada zaman dahulu kala. Forbidden City adalah kompleks kerajaan China pada zaman dinasti Ming dan Qing selama bertahun-tahun lamanya. Disebut terlarang, karena dulunya kompleks ini tidak untuk publik, melainkan hanya untuk kaisar, selir, anggota kerajaan dan pelayan-pelayan aja. Orang-orang dalam kompleks pun jangan sekali-sekali berani berpikir buat keluar dari kompleks itu. Bisa-bisa mereka dihukum mati saat itu juga.hiiii…  (kalau baca sejarah pemerintahan China zaman dulu, duh kejaaam bangett).(lengkapnya bisa dibaca disini atau disini).

Forbidden City selesai dibangun pada tahun 1420 (younger than Borobudur ;p). Forbidden City disebut sebagai China’s most magnificent architectural complex. Kawasan ini juga dijadikan sebagai the symbolic centre of Chinese Universe. Wow~ kalau lihat peta Beijing, memang Forbidden City ini seperti intinya, A city inside the city! awesome! 🙂

Sedikit Trivia tentang Forbidden City,

  • jumlah kamar yang berada di dalam kompleksnya sebanyak 9,999 kamar (gue pernah baca di majalah kalau kita mau nidurin semua kamarnya, butuh waktu sekitar 27 tahun!)
  • 24 kaisar telah menghuni Forbidden City ini
  • China yang dulunya menganut sistem kerajaan, saat sistemnya berubah jadi komunis, kompleks ini resmi dibuka untuk umum sebagai spot wisata sejak tahun 1949

Waktu trip gue ke China tahun lalu untuk ikutan simposium di Zhenjiang, gue sudah merencanakan untuk memperpanjang perjalanan ke Beijing, dari diskusi bareng teman-teman serombongan I put Forbidden City on my list to visit! 🙂 Yuk simak cerita saya!

Getting Confused 

Saat kedatangan gue ke Beiijing, gue disambut oleh daun-daun cantik yang berguguran di sepanjang jalan. Yap, saat itu sedang musim gugur alias autumn. Untungnya, hotel yang gue dkk stay di Beijing cukup dekat dengan Forbidden City (nama hostelnya juga Forbidden City Hostel! cek disini ), cukup jalan sekitar 15-20 menitan dari hostel, sampailah kita di benteng besar yang terpampang foto besar Bapak Komunis China, Mao Ze Dong.

Mao Ze Dong, Pelopor Komunis di China

Bapak Mao ini eksis banget di China, kalian bisa nemu muka dia di semua pecahan mata uang, di tempat jual suvenir, dan masih banyak lagi. hehe.

benteng yang bergambar bapak Mao ini tepat berada di seberang Tian’anmen Square (macam lapangan buat proklamasi kemerdekaan gitu).

Pas kita mau masuk, gue dan kawan-kawan kena sedikit kebingungan dengan pintu masuknya, gue dan temen-temen gue ngira kalau benteng ini pintu masuknya Forbidden City, ternyata bukan! hehe. mana kita juga sempet salah beli tiket lagi, untungnya tiket yang udah kita beli bisa direfund, dan kita pun beli tiket sesungguhnya seharga 40 Yuan.

Entrance Ticket to Forbidden City , 40 Yuan each person

Bodohnya, gue baru inget kalau gue udah nyimpen peta digital Forbidden CIty di dalam iPod, dan disitu ada gambar yang nunjukkin pintu masuknya, hehe..

Peta Wisata Forbidden City

Kita pun jalan 10 menitan dari benteng Mao Ze Dong itu, dan gue pun menemukan gate yang sesungguhnya,

wow~

Welcome to Forbidden City, Annisa.. 🙂

berada disitu, gue merasa seperti seorang liliput yang engga punya power apa-apa. bangunan di sekeliling gue itu sangat tinggi, megah dan solid. Inilah yang membuat gue kagum dengan China, visi membangun BESARnya itu yang terus diingat orang sepanjang masa. China memang sangat suka dengan segala hal yang bersifat megah.

Kita pun masuk ke dalam kompleks itu.. menyusuri lorong berbentuk lengkungan yang langit-langitnya cukup tinggi..

How small the humans are.. 🙂

From Gate to Gate

Setelah melewati lorong itu, mata kita disuguhi oleh pemandangan yang cukup membuat kita terdiam sesaat. Yang gue liat adalah lapangan yang besar luas, dan dengan megahnya bangunan seperti benteng ada di situ. Nama bangunan itu Gate of Supreme Harmony. Bangunan ini dipakai untuk menerima tamu dan acara banquet.

me in front of Supreme Harmony, so big and wiiiddeeee…

Pas lagi asyiknya jalan-jalan sekitar situ, gue liat ada segorombolan orang berpakaian hitam lagi jalan menuju gate berikutnya, gue rasa pejabat yang dateng, tapi gue ga tau siapa, foto ae lah, siapa tau bener-bener orang penting.

Kedatangan tamu

Bangunan berikutnya adalah Hall of Supreme Harmony, hall ini hall terbesar yang ada di dalam kompleks, pas gue sampe situ, ternyata lagi ada syuting.. gue berharap ada Andy Lau atau Jimmy Lin, eh ternyata ga ada -_-“

Gue pun langsung jalan menuju bangunan berikutnya.

Karena waktu jalan-jalan gue terbatas, gue hanya bisa jalan lurusss aja, ga belok-belok. padahal di sebelah kanan kiri itu berderat kamar-kamar kecil berwarna merah, kalau waktu gue panjang, gue pengen bikin misi buat masuk ke kamarnya satu-satu ampe gue peot. hehe.

bangunan berikutnya yang gue lewati adalah Hall of Preserving Harmony. Bangunan ini ada kamar tempat selir raja tidur, konon menurut informasi setempat, ada satu selir raja yang gantung diri disitu, sepertinya dia stres hidup di situ, hehe.

Setelah hall itu, akhirnya sampailah gue di gate terakhir, yaitu Gate of Heavenly Purity. Setelah gate ini, kita langsung diantarkan ke pintu masuk selatan atau juga pintu exit buat yang masuk dari arah utara.

Gate of Heavenly Purity

Things that I knew after visiting Forbidden City

Marble Carriageway

Di depan hall of Supreme Harmony, ada satu pemandangan menarik, diantara tanggga ada ukiran batu yang menggambarkan 7 naga diantara awan-awan. Menurut sumber, lukisan ini menunjukkan bahwa 7 naga ini sedang memperebutkan  pearl untuk diberikan ke raja. Ukirannya menarik 🙂

The Door with 81 gold studs

Pernahkah kamu mendengar bahwa menurut orang China semakin tinggi angka yang kamu dapat semakin hoki hidup kamu?

China banyak banget filosofi hidupnya, sampai-sampai desain bangunan pun diperhitungkan dengan detil.

Angka 8 itu angka keberuntungan buat orang China, karena angkanya engga terputus, (coba deh kalo nulis angka 8 ;p)

Nah tapi untuk beberapa hal, angka 9 justru jadi angka keberuntungan, kunci dari Chinese design adalah harmonisasi yin and yang. Angka ganjil adalah yang, salah satunya angka 9.

ini bisa dilihat di pintu-pintu yang ada di Forbidden City.

satu pintu umumnya dipasang semacam knob emas yang disebut dengan brass stud, dan ternyata kalau diitung-itung, totalnya ada 81 atau 9×9. wow~

Adi took a photo shoot in front of the door with 81 brass studs  (the gold one)

the height of the hard element

Untuk orang berbadan sekecil gue, berada disitu memang seperti tidak proporsional. Gue seperti berada di Gulliver’s Travel, dan gue liliputnya, semuanya serba besar, luas dan tinggi. Mau dinding, pintu, jendela, bahkan pagarnya!

,.. The fence’s height is higher than my body, *sigh* lol

Setelah puas 2 jam keliling Forbidden City, kita pu ngaso bentar sambil foto-foto di bench yang nempel di dinding kompleks.

You may look us smiling, but if you focused on the wall, can you imagine if the servants want to escape from the forbidden city?the structure is very strong and has high elevation, I’m not sure if the servants prefer to escape than stay inside, 🙂

FYI, Forbidden City dibuka dari jam 8.30 sampai jam 6 sore, namun disesuaikan juga dengan musim saat itu, kalau winter, waktu buka akan lebih sempit.

Waktu sudah menunjukkan hampir jam 12, gue dan rombongan harus segera balik ke hostel buat packing dan kembali ke Shanghai. Bye Forbidden City.. 

The Exit (Even the Exit Gate is still huuugeee… :D)

Ingin belajar sejarah kerajaan China secara langsung? Forbidden City is recommended place to learn it!

 

 

 

 

 

Salam,

Annisa, Indonesian girl who fallin’ in love with Beijing 😀

  • Leo

    Seneng deh liat Annisa senang…
    kalo kulinernya gmn?

  • shy

    THANKU SO MUCH! UR BLOG IS SO HELPING MY PRESENTATION :”)