Mengenang Masa Kecil di Dufan

 

” … Lihat indahnya dunia
Milik kita semua
Walau berbeda bangsa
namun satu sodara
Alangkah indah semua
Lautan luas
Angkasa luas
Gemah riang bumi pertiwi
Kamu harapan suci
Bahagia gembira semua
Satu tujuan kita
Milik kita semuanya
Hidup senang bersama
Damai bebas merdeka … “

 

Siapa sih yang engga tahu lagu ini?

Buat generasi 90an yang pernah ke Dufan, pasti minimal tau lagu ini..

Yup, ini adalah theme song Istana Boneka, salah satu wahana fenomenal di Dunia Fantasi (Dufan), Ancol. Lagu ini selalu terngiang-ngiang di otak saya setiap kali ingat Dufan.

Memori masa kecil pasti selalu menjadi kenangan manis dan tidak bisa dilupakan.
Arena bermain adalah salah satu ruang yang menyimpan segudang kenangan masa kecil.

Waktu kecil, Dufan adalah sebuah negeri fantasi bagi kebanyakan anak-anak generasi 90an,termasuk saya. Sudah tidak terhitung berapa kali saya sudah pergi ke Dufan. Setiap tahun, ‘study tour’  sekolah selalu diadakan di Dufan, SD, SMP, SMA. Saya tidak pernah melewatkan satu pun acara tersebut, itu pun belum termasuk jalan-jalan dengan keluarga.
Tahun 1990an dan 2000an, Dufan itu sangat spesial karena menjadi satu-satunya amusement park terbesar yang ada di pulau Jawa. Tidak seperti sekarang ini yang sudah hadir amusement park lainnya seperti Transstudio, Jatim Park, dan Jungle Land. Engga heran, kalau dulu, Dufan menjadi primadona utama.
Saya selalu ingat, setiap kali akan ke Dufan, saya selalu menyusun rencana naik wahana apa dan pergi dengan siapa. Itulah keasikan tersendiri bagi saya versi anak-anak, Jika dibagikan edaran surat dari sekolah kalau kita akan pergi ke Dufan aja, itu bahagianya luar biasa.
IMG_20150829_170433

Sabtu ini, saya mengulik memori masa kecil saya di Dunia Fantasi.
Kebetulan kantor mama mengadakan acara refreshing ke Dufan, dan saya mendapat tiket gratis kesana (asik!) entah kalo jalan-jalan ke Dufan saya ga pernah nolak hehehe.
Setiap kali kembali ke Dufan, kenangan masa kecil saya muncul lagi. Teringat saat sedang antri untuk naik wahana baru lalu merasakan kembali bagaimana deg-degan nya naik wahana yang bikin jantung copot.
Let’s trace my memories..

Setiba di ancol, saya sudah bisa mencium ‘aroma’ ancol yang khas dengan bau comberan nya. Bau memang, tapi bukan ancol kalo ga ada bau kayak gini, hehe. Betul?

Memasuki gerbang dufan, saya tidak melihat banyak perubahan disana. Hanya ada penambahan fitur baru. The rest is just same like what I saw 15 years ago. Disambut oleh Komisi Putar (carousel) yang menjadi icon Dufan, saya tersenyum memandangnya.
Hello carousel.. meet again with me, adult version of me.
Saya selalu ingat setiap wahana memiliki nama Indonesia, komidi putar dinamakan Turangga rangga.
Saya tidak pernah naik komidi putar saat pertama kali datang, saya selalu menyasar wahana ekstrim terlebih dahulu, seperti Halilintar atau Ontang anting.
Setiap kali ke Dufan, saya selalu menyusun strategi, naik wahana apa yang pertama, kedua, ketiga, dan antisipasi antri.

Berhubung saya pergi bersama Fathia dan Mama, kali ini saja mengurungkan niat untuk naik wahana yang ekstrim. Kami datang saat Dufan baru saja dibuka sekitar jam 10 pagi, saya langsung menyarankan Mama dan Fathia untuk langsung pergi antri ke wahana favorit.

Selama dalam sejarah saya ke Dufan, saya hanya bisa naik 3-4 wahana saja, sisa waktu saya habis untuk ngantri. Menyingkapi itu, kami langsung pergi ke wahana favorit yang berada jauh dari gerbang, misalnya Arung Jeram dan Happy Feet.

Tidak sulit menemukan wahana Happy Feet, saya hafal sekali dengan semua letak wahana di Dufan.

“Mbak, kok hafal banget sih dimana tempatnya?” tanya Fathia, adik bungsu saya, heran. Hahaha.

Dek, kakakmu ini fans berat Dufan, jadi peta Dufan udah di-install di otak mbak Nisa. Hehe.

Kami masuk ke wahana Happy Feet (awalnya ingin ke Arung Jeram, tapi baru buka jam 12), dimana kita akan nonton film pendek sambil duduk di kursi yang bisa bergoyang-goyang. Di wahana ini, saya sudah merasakan aneka jenis film, mulai dari Robocop, Jurassic Park, Perang Bintang, dll. Untungnya, kami tidak perlu mengantre panjang untuk bisa menikmati wahana Happy Feet.
Setelah merasakan wahana ini, saya sadar ternyata excitement saya naik wahana ini berbeda banget dibanding sekarang, dulu rasanya luar biasa senang, tapi sekarang biasa-biasa saja. *Oh Dear, I don’t want to be such a bored adult..

Kami melanjutkan perjalanan ke wahana Alap-alap atau rollercoaster kecil. Kali ini saya ingin mengajak Mama dan Fathia untuk memompa adrenalin. Mama saya orangnya penakut, tapi saya paksa untuk berani. Our 2nd luck, kita tidak perlu mengantre lama untuk bisa naik Alap-alap. Kami mengambil kursi di tengah, dan permainan dimulai..

IMG_20150829_104936

Grek,grek,grek,grek… suara kereta alap-alap yang berisik keluar. Tiba-tiba makin berisik ketika kereta berjalan menurun cepat.

“Aaaaaaaarrrrrgghhh… “ teriak semua yang naik kereta. Buat saya sih, ga serem-serem amat, tapi biar rame, saya teriak aja, haha.

Dua kali putaran, permainan selesai. Adik saya senang sekali pas tau sensasi naik roller coaster mini untuk pertama kali. Dek, entar kalo gedean, naik yang Halilintar,ya.. Hehe.

Dufan in this present day is just like Dufan in the past. Baik komposisi warna tiap wahana, bentuk bangunan, hingga fitur-fitur dekorasi taman, semua tetap sama. Inilah yang membuat saya bisa bernostalgia dengan Dufan. Mungkin ini yang disebut, the power of color. Warna bisa menjadi sebuah memori tersendiri di benak manusia.

Karena Alap-alap berada di dekat Istana Boneka, Mama saya berinisatif untuk ke Istana Boneka. Namun sepertinya masih belum buka, tapi beberapa orang sudah antri. Mata saya tertuju ke wahana Poci-poci. Sebenarnya wahana Poci-poci ini tidak menarik, namun karena kosong, ga ada yang naik, kami kesana aja sambil nunggu Istana Boneka.

PUSING!

Naik poci-poci di siang bolong bukan hal yang disarankan. Mama saya tiba-tiba kleyengan. Saya juga ikutan pusing plus kena terik matahari. Apa boleh buat, haha.

IMG_20150829_111137

Pucuk di cinta ulam pun tiba, naik poci-poci selesai, Istana Boneka baru saja dibuka. Fasad bangunan Istana Boneka juga tidak berubah. Replika bangunan-bangunan terkenal di dunia masih berdiri warna-warni. Sekitar 15 menit mengantre, kami dapat giliran naik boat.

IMG_20150829_111144

Sayup-sayup lagu Istana Boneka mulai terdengar..

“… Lihat indahnya dunia..”

“… Milik kita semua…. “

….

“Alangkah indah semua, lautan luas..”

Oooooohhh, that feeling when I hear this song. It’s so damn perfect. Like an eargasm!

Selama 15 menit, mata saya disuguhi oleh deretan boneka berkostum adat provinsi Indonesia dan negara-negara dunia. Jelas sekali, misi dari Istana Boneka untuk memamerkan keragaman budaya Indonesia dan Mancanegara. Dari Istana Boneka ini, pengunjung sudah bisa membayangkan kalau Indonesia itu negara dengan banyak budaya dan suku.

IMG_20150829_112053

 

Kalau budaya kita beragam, terus kenapa sekarang banyak yang suka nyinyir sih dengan perbedaan? Saya kadang suka sewot sendiri.

Kayanya yang suka nyinyir di sosial media harus diajak ke Istana Boneka deh. Biar di-kuliah-in para boneka tentang keberagaman, haha.

Waktu sudah hampir jam 12, we should go to Arung Jeram!

Sejauh ini strategi saya (ceileh, pake strategi segala, haha) memilih wahana sudah baik, karena tidak perlu banyak mengantre. Berdasarkan pengalaman berkunjung ke Dufan, semakin siang, semakin panjang antrian masuk wahana, terutama wahana favorit. So, utamakan wahana favorit!

Arung Jeram salah satu wahana favorit, karena wahana ini bermain dengan air dan tidak terlalu seram, jadi anak-anak sampai nenek-nenek bisa naik wahana ini dengan aman. Kecuali yang takut sama air.

Datang ke pintu masuk wahana Arung Jerman, sudah ada banyak orang yang mengantre, tapi tidak sebanyak yang saya duga. Saat gerbang masuk dibuka, semua mulai saling dorong-dorong. Mulai muncul ‘kelakuan’ orang Indonesia kalau antre, nyodok, dorong-dorong dan masih banyak lagi.

Saya paling ga bisa tolerir sama yang nyodok, tiap ada yang mau nyodok, pasti saya pelototin, atau saya tegur sambil pelototin ‘ga boleh nyodok!’. Antri itu belajar berbudaya. Budaya untuk tidak mengambil hak orang lain. Saya setuju saat baca artikel bagaimana mengantre itu sebuah pelajaran yang lebih penting dari matematika.

Saya mengantre sekitar 30 menit, akhirnya kami bertiga bisa naik boat. Hp dan barang penting lain sudah dimasukkan ke kresek. We’re ready to get wet!

Boat kami berjalan, mengikuti gelombang air. Sesekali air masuk ke boat.

“Wooooo..!” teriak kita. Mama saya paling banyak kena banjuran air. Naik arung jeram itu hoki-hokian basahnya. Kadang basah banget, kadang setengah basah, kadang juga kering atau basah dikit. Tapiii, ga basah itu ga rame!

IMG_20150830_185743

Kami bertiga keluar kebasahan. Karena hari itu siang terik, saya percaya kalau dalam itungan jam, baju akan kering dengan sendirinya, apalagi kalau langsung naik wahana ekstrim, kayak Kicir-kicir, Tornado, ama Halilintar! Hehe.

Kita pergi menuju wahana yang paling baru, namanya Ice Age. Lokasi wahana ini dulunya ada wahana Rama dan Shinta (anak generasi 90an pasti tau deh wahana ini!). Konon, di Ice Age ini kita akan menyusuri ruang indoor dengan boat (seperti di Istana Boneka), tapi ada satu kali terjun. Karena penasaran, kita pergi ke Ice Age.

Oh my! Wahana baru akan buka jam 13.00, 20 menit sebelum buka, antrian Ice Age sudah panjang banget. Kami akhirnya makan dulu di taman dekat Ice Age, sambil memantau antrian Ice Age, semoga makin pendek, hehe. Antrian ternyata nambah panjang, akhirnya Mama dan Fathia pergi solat dulu. Saya sendiri lagi tidak solat, akhirnya sambil nunggu pada sholat, saya naik wahana Kicir-kicir. Musola terletak pas di sebelah Kicir-kicir.

Saat mengantre, sambil melihat orang-orang yang badannya diputar balikan dengan kicir-kicir, saya ingat bagaimana pertama kalinya nyoba wahana ini. Saya naik ini bareng sahabat saya, Nisty. Kita berdua shock saat tahu, Kicir-kicir ini benar-benar mengocok isi perut. Kaki bisa di atas, kepala bisa di bawah.Saya ingat juga dulu kacamata saya hampir copot saat naik kicir-kicir. Haha. Saya senyum-senyum sendiri mengenang masa SMP sampai giliran saya tiba.

Entah saya engga terlalu deg-degan, meski naik sendirian.

Duduk di kursi, dengan pengaman kuat. Perlahan kursi-kursi naik ke atas dan mulai berputar. Tiba-tiba kursi mulai diputar ke kanan dan ke kiri. Sesekali saya teriak excited, sesekali saya ketawa engga jelas. Ya ampun, sudah 5 tahun engga naik Kicir-kicir! Baru kerasa lagi kayak gini toh rasanya, Hahaha.

Permainan selesai, saya mendatangi Mama dan Fathia yang baru selesai solat. Kita memutuskan untuk mengantre ke Ice Age. Berhubung tiket Dufan sekarang mahal sekali, (harga normal Rp 270,000 weekend, tapi lagi ada diskon 50% di bulan Agustus, jadi hanya Rp 135,000) saya harus memanfaatkan waktu di Dufan sepuas-puasnya. Biar engga mati penasaran, kita harus naik Ice Age.

IMG_20150829_150107

Selama 2 jam kami mengantre, akhirnya kami bisa naik boat. Mama saya ketar-ketir membayangkan terjunnya bakal kayak apa. Saya juga rada deg-degan sih, bayangin apakah terjunnya lebih ekstrim dari Rama Shinta. Saat boat sudah jalan, kami disuguhi oleh karakter-karakter Ice Age yang berbicara sambil mengeluarkan suara-suara patahan es, suara air, dll. Kemudian, kami langsung memasuki area yang gelap, .. oh ini dia.. bentar lagi terjun.. saya bisa lihat ada goa gelap.. perlahan boat-nya memasuki goa itu.. daaaan….

Syuuunggg… JEBUR!!

Sekian detik perahu itu terjun bebas, semua yang naik perahu kena cipratan air.

Semua penumpang boat teriak dan tertawa riuh, mungkin girang merasakan sensasi terjun dalam gelap. Tapi beberapa detik setelah terjun, boat kembali ke posisi awal. Hah, Cuma gini doank?

Saya kecewa karena durasi wahananya singkat banget. Mungkin engga nyampe 10 menit.

Tidak terasa hari sudah sore, kami melanjutkan perjalanan ke wahana baru di sebelah Ice Age, Hello Kitty. Hello Kitty ini hanya menyuguhkan film untuk ditonton saja. Adik saya penyuka Hello Kitty, jadi kita biarkan dia menikmati fitur-fitur Hello Kitty yang tersedia, engga lupa sambil foto-foto.

Sekitar jam 5 sore, kita pergi ke area Komidi Putar, tempat pertemuan dengan teman-teman rombongan yang sudah dijanjikan. Sambil menunggu rombongan, kami bertiga naik Komidi Putar. Buat saya, naik Komidi Putar itu klasik. Sensasinya tidak seheboh wahana ekstrim, but still it’s classic and a must-ride list. Corak komidi putar yang masih sama seperti dulu, lalu memandanginya sambil kita berputar-putar di atas kuda. It’s still an awesome thing to do in Amusement Park.

IMG_20150829_164442

Mungkin terdengar lebay, tapi menurut saya, wahana-wahana di Dufan itu bisa dianggap sebagai representasi sebuah pilihan hidup. Halilintar, yang diawali dari sesuatu yang biasa, lalu muncul klimaks berupa terjunan bebas, lalu aneka tantangan yang bikin kita putar balik, dan pada akhirnya kembali ke posisi semula. Naik Halilintar itu ibarat mengambil pilihan beresiko tinggi dalam hidup. Sama halnya dengan naik Tornado, Kicir-kicir, dan wahana ekstrim lainnya.

Komidi Putar, gajah beledug, dan burung tempur juga ibarat mengambil pilihan beresiko rendah dalam hidup, jadi hanya terus berputar-putar mengikuti poros, tidak ada klimaks yang bikin jantung mau copot, hanya gitu-gitu saja.

So, what’s your choice?

Setelah naik Komidi Putar, muncul pawai drum band beserta penari-penari berkostum warna-warni. Pawai itu memperingati ultah Dufan yang ke-30 tahun (4 years older than me!). Pawai ini juga menjadi typical activities yang bisa dinikmati di Dufan. Kemeriahan penari-penari dengan kostum yang heboh dan colorful menambah suasana Dufan menjadi lebih marak. Sore hari, saya tutup waktu bermain saya dengan memandangi Giant Wheel yang sedang berputar-putar.

IMG_20150829_165929

Dari hasil napak tilas, ternyata Dufan masih belum tergantikan sebagai one of my favourite playground. Meski belum pernah ke amusement park lain yang terbilang baru, seperti Trans studio dan Jungle Land, saya yakin sensasi bermainnya pasti akan berbeda. Kenangan Dufan masih terus membekas, dan membuat sensasi bermain saya lebih seru dan membawa banyak kenangan, meski itu sudah dilakukan berulang kali. Dufan adalah saksi bisu kebahagiaan saya sejak TK, SD, SMP, SMA, Kuliah hingga saya sudah tidak single lagi! Hihi.

I love you, Dufan!

So proud for being 90s generation!