MIDDLE EAST TRIP – SAUDI ARABIA CHAPTER 1  

UNDANGAN DARI PANGERAN ARAB

 

“…Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada diduga-duga…” At-Thalaaq : 2-3

Beberapa hari setelah saya mendaftar wisuda S2 di kampus, I was thinking what I should I do after I finish my study. Then, affirmation came into my life. I was ‘forced’ to travel again. Suatu malam selepas menunaikan ibadah salat magrib, saya membuka inbox Gmail. Tiba-tiba ada email masuk dari GEPI. Hah, GEPI? Siapa ya GEPI?

Dear Founders,

 Congratulation..!

 You are selected by MiSK Foundation to attend the MiSK Global Forum in Riyadh on 15-16 November 2016 for an immersive experience of learning, innovation and leadership. There are 15 people in delegation list and you can find each other names on the email address above.

 By way of introduction, my name is Joseph, I’ll be the coordinator of this delegation as representative from GEPI. GEPI is excited to have you as a delegate, as we are committed to bring the selected individuals to the Forum with all travel, accommodation and on-ground transportation expenses covered by MiSK Foundation.

Hah? Ini apa?

Saya bengong memandang layar handphone. “Serius??”

Saya mikir-mikir ulang, kapan saya daftar program GEPI ya?

Oh! Tetiba saya ingat bulan September silam, saya dapat kiriman pesan WA dari Mentari, salah satu volunteer Ecofun.

Tari : “Kak, coba program ini kak.. cocok buat kakak”

Saya baca pesan dari Tari, pesan ini sedang mencari founders dari sebuah start-up atau social entreprise untuk ikut forum di Saudi Arabia, lalu saya amati programnya seksama, wah seru nih, waktunya Student Traveler pergi nih! Senyum saya. Eh..

Saya : “Deadline-nya hari ini ya tari? Beberapa jam lagi?”

Tari : “Hehehe, iya kak, tari juga baru banget dapet info ini.”

Alhasil, saya klik link pendaftaran online, lalu saya melakukan registrasi cepat (without even checking what I wrote!), karena tidak ada banyak waktu. Saya isi, dan langsung submit, tanpa ngecek-ngecek lagi. Diakhiri dengan keyakinan, kalau rejeki kamu Nis, inshaAllah akan dapat. Kalau engga, ya itu rejeki orang lain. #okesip

MasyaAllah, ternyata memang jadi rejeki saya. Selepas sidang tesis, saya punya niat kecil untuk melakukan umroh, tapi kepikiran, ah mana mungkin, wong kere begini gara-gara beasiswa telat cair. Inikah niat kecil yang didengar oleh Allah SWT? Subhanallah banget.. Manusia Cuma bisa berniat dan usaha, Allah yang membuka jalan, bahkan jalan yang kadang terasa tidak mungkin menurut hambaNya.

Ya ampun saya gemeter baca emailnya, ternyata GEPI ini menjadi partner program dari MiSK Global Forum, oh pantes!

Luar biasanya lagi, saya baru sadar kalau forum yang akan saya datangi ini merupakan undangan resmi dari pangeran Arab, Prince Muhammad bin Salman. Wow! Anak Ciawi diundang Pangeran Arab!

 

VISA PENUH DRAMA

Beberapa hari setelah nerima email GEPI, Saya sendiri masih ga percaya kalau saya menjadi salah satu orang yang terpilih diantara para Indonesian founders lainnya untuk ikutan MiSK Global Forum. Ternyata saya akan berangkat bersama 14 anak muda lainnya, dan beberapa sudah tidak asing lagi buat saya, diantaranya mbak Diajeng Lestari, CEO Hijup.com, muslim fashion e-commerce yang lagi digandrungi banyak kamu hawa, lalu ada suaminya, mas Ahmad Zaky, CEO Bukalapak.com. Sisanya saya baru berkenalan saat meeting pertama di kantor bukalapak. Disitu pula saya berkenalan dengan GEPI (Global Entrepreneurship Program Indonesia), semacam NGO yang bergerak untuk membangun start-up pemula di Indonesia. Perjalanan ke Arab ini terdiri dari 13 founders dari Start-up dan 2 staf GEPI.

Setelah meeting pertama, kami semua hanya memiliki waktu kurang dari satu bulan untuk mempersiapkan diri untuk hadir MiSK Global Forum di Saudi, ditambah lagi sebagian besar dari kami yang muslim ingin melakukan ibadah umroh. Saya langsung mencari aneka ragam info, dan muncul satu kegundahan saya setelah membaca sebuah artikel: Wanita yang bepergian tanpa Mahram ke Arab. Pada dasarnya, wanita tidak diperbolehkan untuk pergi ke Arab tanpa pendamping yang sah (Ayah, Saudara Laki-laki Kandung, atau Suami). Waduh, gimana jadinya ya?

Untungnya urusan visa sudah diserahkan ke pihak ketiga yang ditunjuk oleh MiSK Global Forum, sehingga kami hanya diminta untuk menyiapkan dokumen saja. Tapi, perjalanan visa saya dan delegasi perempuan (tanpa mahram) lain, ada mbak Reky dari Hoshizora dan Dissa dari Fingertalk tidak semulus yang dibayangkan. Mbak Matilda, agen travel bernama Travel Cue menghubungi kami terus-terusan, bilang bahwa visa kami akan sulit untuk tembus. Alasannya, karena kami pergi tanpa mahram, kecuali kami bawa mahram sendiri. Akhirnya, kami bertiga mencari cara seribu jurus agar visa kami diterima. Titik terangnya muncul saat 1 minggu sebelum keberangkatan (bahkan kami belum dapat tiket pesawat!). Kami mendadak dipanggil oleh Duta Besar Arab untuk Indonesia untuk interview agar visa kami bisa diterima. Sayangnya jadwal interview-nya bentrok dengan jadwal saya mengisi acara di Malang, alhasil saya tidak bisa datang. Untungnya, mbak Reky dan Dissa bisa hadir, dan saya deg-degan sendiri, karena takutnya visa ditolak hanya karena saya tidak memenuhi undangan dadakan ini.

Satu hari setelah hari interview, WA dari mba Matilda masuk, “Sudah beres. Visa keluar besok”.

Kiriman Whatsapp itu ibarat baru masuk masjid ber-AC di tengah gurun pasir yang panas. Ces banget! Alhamdulilah, thank you Matilda! Awww,, I’m going to Saudi soon!

Setelah visa keluar, tiket pesawat, info hotel, jadwal acara langsung berdatangan. Inilah momen terbaik saat traveling: saat beberapa hari sebelum berangkat!

CHECK-IN

Satu hal yang ter-cetar dari momen perjalanan Arab ini ketika baca tiketnya. Saya akan naik Saudia Airlines (yippie, pertama kali naik Saudia!). Lalu, di bagian bawah tiket, tertulis “Payment : Invitation Empire”. Wuidiih.. buat gue tuh artinya kayak gini: “ngapain lo nanya-nanya bayar pake apa, gue Pangeran Arab ya, so ga usah nanya deh!”

I know the ticket must be expensive, so I didn’t ‘kepo’ the price any further.

Pukul 9 pagi, saya dan teman-teman baru yang tergabung dalam #MiSKdelegates melakukan check in di terminal D untuk Saudia Airlines. Karena visa selesai menjelang keberangkatan, paspor saya titipkan ke mas Joseph GEPI yang berdomisili Jakarta. Disitulah saya tersenyum saat membuka paspor, hihihi.. my Arabian visa is now on my passport. Lalu disitu terselip sebuah ID Card, disitu tertulis..

“PT. Wirausaha Muda Sukses Sejahtera, Annisa Arsyad, Public Relation Manager.”

Hahahaha! Sejak kapan gue jadi PR Manager?

ID Card itu menjadi topik obrolan pertama kami yang penuh mengundang tawa. Jadi ceritanya begini, karena kami pergi ke Arab dengan visa Bisnis. Setiap orang harus melampirkan dokumen akta perusahaan dan SIUP-nya sebagai syarat wajib untuk visa. Nah, karena tidak semua orang punya akta dan SIUP serta memudahkan pengurusan visa, kami semua di-daftarkan dengan instansi yang sama, yaitu kantor mas Adhika, PT. Wirausaha Muda Sukses Sejahtera. Dan masing-masing diberi jabatan palsu. Hahaha.

Mbak Reky juga cerita “kemarin pas interview, aku ditanya kayak gini “rekan anda, Annisa mengerjakan apa saja di bidang Public Relation?” Aku bingung jawabnya gimana…”

Saya langsung ngakak. Untung visa kami semua approved. Ribet kali ya negara Arab ini.

FYI, harga visa Bisnis itu lebih mahal dari visa Umroh. Mau tau berapa? biaya per orang nya setara dengan harga iPhone 7 Plus!

Beres check-in dan nyetor koper, kami langsung menuju ruang boarding. Engga lama, kami dipanggil untuk masuk pesawat.

Bismillah, 8 jam 30 menit menuju Jeddah, kota transit pertama kami sebelum ke Riyadh.

NAIK SAUDIA, PESAWAT YANG SYAR’I

Pesawat Saudia ini benar-benar syar’i. Jadi, kita disarankan untuk switch kursi apabila kita duduk bersebelahan dengan lawan jenis yang bukan muhrim, dan pramugari juga akan membantu untuk menukar kursi-nya dengan orang lain. Untungnya di row saya, semua perempuan, ada Dissa dan seorang wanita Indonesia muda bernama Mita. Sempitnya dunia, ternyata dia alumni Erasmus juga! Langsung deh kami nyerocos.

Menjelang take off, layar depan mata saya berubah menjadi video panduan keselamatan dan tahapan saat darurat. Video pun berganti ke video bacaan doa dalam bahasa Arab.

“Allahuakbaru.. Allahuakbaru..” video doa berlatar bola dunia (liat video-nya disini). Dengan getaran pesawat yang akan take off. Memanjatkan doa di momen ini luar biasa rasanya, benar-benar terasa kalau hidup mati kita ada di tangan Allah.

Setelah video doa, layar berganti ke penayangan visual landasan pesawat yang perlahan hilang setelah pesawat lepas landas.

Sekuens-nya bagus!

Bagian dalam Saudia Airlines

Dissa dan Mita asik ngobrol tanpa henti, bikin saya jadi ikutan nimbrung buat ngerumpi juga. Selama di atas pesawat, saya mengenal lebih dekat dengan dua wanita ini, they are so smart and inspiring! Dissa adalah pendiri kafe Fingertalk, sebuah kafe yang mempekerjakan deaf people (orang tuli), Dissa fasih beberapa bahasa termasuk bahasa isyarat! Mita ini umur boleh dua taun lebih muda dari saya, tapi sudah menjadi mahasiswa S3 di Milan,Italy. Ya Alloh, pinter pinter amat ini orang.

MUSOLA DI PESAWAT

Saya ingat dulu pernah baca tentang sebuah artikel tentang melakukan solat saat perjalanan. Di artikel itu disebutkan kalau ada pesawat Saudia memiliki musola! Kepo saya tidak tertahankan, akhirnya saya colek si mbak Pramugari (hampir semua pramugari-nya orang Indonesia).

Saya : “mbak, musola dimana ya?” (kayak lagi nanya di mall :p)

Pramugari : “ada di belakang mbak..” sambil senyum.

Wuiiih, mau donk solat berdiri di pesawat. Saya pun bangkit dari kursi dan pergi ke bagian belakang pesawat. Tepat sebelum ruang cabin crew dan dapur, ada curtain gelap, pas dibuka, terhampar sebuah karpet sekitar 3×3 meter. Disitu ada satu wanita ber-abaya hitam yang sedang solat. Saya langsung mengambil air wudhu di kamar mandi, wudhu-nya agak susah sih. Kayaknya bakal keren kalau ada keran khusus wudhu  di pesawat. Hehe.

Masuk ke musola pesawat, saya lihat di dinding ada layar yang memberikan info kiblat sesuai dengan arah kemana pesawat terbang. Saya takjub deh liat hal-hal kayak gini di pesawat, karena ga pernah saya temui di pesawat lain.

For the first time in my life, saya menunaikan ibadah zuhur dengan solat berdiri di pesawat. Momen bersujud di pesawat itu luar biasa, deru pesawat begitu terasa di kening dan telapak tangan. Subhanallah..

Baru selesai saya solat, mita disamping saya juga baru selesai. Kami ngobrol sebentar, tapi kami langsung ditegur pramugari untuk segera kembali ke kursi. Kayanya musola hanya untuk solat, dan setelah solat, ga boleh dipake untuk hal-hal lain. J

SAMBALADO PESAWAT

Karena akan dilanjut dengan perjalanan spiritual (umroh), saya sudah membekali diri dengan sebuah buku berjudul Makkah dan Madinah. Dulu banget, waktu TPA, saya banyak diceritakan soal Tariqh Islam, bagaimana kisah Rasul di Mekkah dan Madinah. Tapi sayang hampir semuanya lupa, jadi perlu refreshment lagi!

Waktu baca saya terpotong dengan aroma makanan pesawat yang selalu didamba oleh seorang Student Traveler. Setelah makanan resepsi, makanan pesawat is the best food to me!

Menunya juga Ayu Ting-Ting banget, Sambalado! Daging balado gurih lezat plus nasi kuning. Ya Allah enak banget.Hanya dalam beberapa menit saja, hot meal di depan mata langsung ludes tanpa sisa.

Selama 8 jam di udara, waktu saya habiskan dengan baca buku sambil dengerin Coldplay, sesekali nimbrung ngobrol dgn Dissa dan Mita (tiba-tiba mengarah soal jodoh, hahaha), dan kembali ke layar untuk nonton film. Tak terasa, saat cek peta di screen, pesawat kami sudah tiba di atas Arab Saudi dan sebentar lagi mendarat!

Landed soon!

SAMBUTAN TAK DIDUGA DI JEDDAH

Setelah pesawat mendarat dengan smooth, saya sudah tak sabar ingin menginjakkan kaki di tanah Arab. Setelah diberi kode untuk berjalan menuju pintu keluar, saya langsung disambut oleh cuaca nan cerah di sore hari, kami turun dari tangga terbuka, lalu berjalan menuju shuttle bus yang berjarak 10 meter dari tangga.

Assalamualaikum Jeddah~!

Saya, Dissa, dan mbak Reky sepakat untuk selalu stick together selama di Arab Saudi (karena kami datang dengan visa khusus tamu kehormatan, #duile..). Kami masuk bus pun sama-sama. Tiba-tiba..

“Mbak Nisa, mbak Dissa, mbak Reky! Keluar dari bus mbak!” teriak mas Joseph dari pintu bus.

Hah? Keluar?

Otomatis kami bertiga keluar dari bus yang penuh sesak. Sesaat setelah keluar dari bus, saya langsung melihat ada empat mobil mewah marker di samping pesawat. Disitu ada beberapa pria Arab berpakaian khas putih dan bersorban merah-putih. Mereka memegang sign berisi nama-nama kami dengan logo MiSK Global Forum.

Butuh waktu sejenak untuk mencerna apa yang terjadi, tapi intinya, kami mendapat jemputan VIP dari pesawat! Wahahaha.

Keren abis. Setelah kami semua berkumpul (sayangnya mas Naren dan Garett sudah keburu naik bus penumpang ‘reguler’, hahaha), kami disuruh masuk mobil.

Saya naik mobil sedan (sayang saya bukan pecinta otomotif, jadi ga tau itu seri apa, yang pasti sih canggih), saya satu mobil dengan mbak Ajeng dan mas Zaky. Pertama kali naik mobil mewah ala Sheikh Arab bersama CEO Hijup dan CEO Bukalapak, yak lengkap sudah hidup saya. 😀

Nunggu Supir #eaak

Mbak Ajeng nyoba aktifin internet untuk bikin Instagram stories, tapi ternyata ga berhasil. Alhasil kami duduk sambil mengagumi interior mobil, lalu mobil pun jalan dikendarai oleh salah satu pria Arab yang menunggu kami. Si driver berusaha ngajak ngobrol mas Zaky dengan bahasa Inggris yang agak pas-pasan, hehe.

Hanya kurang dari 5 menit, kami sampai di sebuah gedung.

“Syukran!” Itu bahasa Arab pertama yang saya keluarkan di Arab, khusus untuk si driver.

Kami memasuki ruangan yang tidak ada penumpang lain kecuali kami. Disitu digelar karpet merah menuju loket imigrasi.

“Kayanya ini imigrasi VIP deh.. ga semua orang masuk sini.. ” celetuk salah satu dari kami.

Saya engga pernah nyangka kalau kami mendapat sambutan VIP kayak gini, tapi ga salah kan untuk dinikmati? Kapan lagi coba? :p

Kami mengantri satu per satu untuk mendapat stempel di paspor. Sesuai buku yang saya baca, kita disarankan untuk mengalokasikan waktu untuk immigration check lebih lama, karena di Arab pengecekan paspor butuh waktu yang agak lama.

And, it’s true.

Saya cukup nunggu lama, karena saya dapat giliran paling belakang. Petugas imigrasi berbadan besar memanggil saya untuk menyerahkan paspor. Sesuai tips yang say abaca di buku, wanita disarankan untuk tidak banyak mengumbar senyum, karena di Arab itu bukan menunjukkan sikap ramah, tapi malah baper. Saya berusaha stay cool.

“Here.. coffee for you! Arabian coffee!” seorang petugas imigrasi yang ramah menyodorkan secangkir kertas berisi kopi panas kepada saya dan mbak Ajeng. Kami berdua senyum-senyum bingung, tapi akhirnya kami terima kopinya. Hehe.

“Syukran!” sahut saya sambil menyeruput kopi Arab. Kalau kopi, masa’ sih saya tolak?

Rasa kopi Arab agak aneh, lebih mirip rasa teh, tapi panasnya kopi nenangin perut banget.

Keluar dari Immigration Check, kami langsung disambut oleh pria Arab bersorban, dia mengarahkan kami menuju lounge untuk beristirahat sejenak sebelum flight berikutnya ke Riyadh.

TRANSIT MEWAH DI JEDDAH

Sofa empuk warna abu-abu sudah mengajak kami untuk duduk cantik. Sesuai peraturan di Arab, laki-laki dan perempuan harus duduk terpisah. Sebagai generasi millennial kekinian, hal pertama yang saya tanyakan ke staf yang lewat: “Password Wifi, please?”

Jeddah Airport Executive Lounge

Hahaha, stafnya berbaik hati ngasi password Wifi Jeddah Executive Lounge.

Saya amazed berada di Executive Lounge. Seumur-umur transit, ga pernah dapet fasilitas kayak gini. Saya bayangin, andai bisa kembali ke Jeddah, mungkin engga ya bisa berada disini lagi?

Ternyata engga Cuma sofa empuk, kami juga disuguhi aneka jenis makanan ringan dan minuman. Di meja sudah tersaji kacang-kacang Arab di wadah yang khas Timur Tengah. Sayangnya kami memprioritaskan foto dulu sebelum ngemil, Hehehe.

Indonesian Women at MiSK

Selama transit, kami berkenalan dengan beberapa delegates lain yang sama-sama menunggu flight ke Riyadh, disitu saya ketemu orang Indonesia yang tidak berangkat bersama kami, namanya mas Dirga Yuza. Mas Yuza ini ternyata PhD student di Oxford Uni (see? I meet another extraordinary Indonesian!). Mas Yuza ini humble sekali orangnya.

Meet The Indonesian Delegates for #MGF2016

Kiri-kanan: Mas Joseph (GEPI), Michael (Kartoo), Garett (Keepo), Mas Ray Rizaldy (GITS Indonesia), Mas Yuza(Oxford Uni), Sony (GEPI), Mas Amir (DailySocial.id), Mas Narenda (Dicoding), Randy (Ravelware), Darun (UI Store), Mas Zaky (Bukalapak), mbak Ajeng (Hijup.com), mbak Reky (Hoshizora), Dissa (Fingetalk) and Me (Ecofun Indonesia) ! 🙂

Meski agak kenyang, saya tetep penasaran dengan snack yang ada di executive lounge. Disitu ada beberapa mini cake unyu yang cocok untuk icip-icip dan sate buah-buahan. Air mineralnya pun keren, pake botol kaca premium, bukan plastik. Ya ampun, mimpi apa ya semalem bisa dapet beginian.Lagi asik duduk cantik sambil ngemil, satu pria Arab menghampiri kami dan meminta untuk melakukan check-in ulang di gedung lain.

Yummy~

Kami semua jalan cepat mengikuti si mas Arab itu, orang Arab itu badannya gede-gede dan jalannya cepet, jadi saya yang berbadan mungil ini harus lari-lari ngejar tempo jalannya si mas Arab. Btw, mas Arabnya cakep euy, Hahaha *maafkan aku ya hub, :p*

Mas Ganteng Pendamping Kami selama Transit

Kami keluar dari gedung Executive Lounge, pergi menuju gedung sebelah lewat parkiran. Eh! Ternyata kami disambut oleh Full Moon!

Subhanallah, bulannya gede bulat sempurna banget! Berkah banget perjalanan ke Arab ini… bahkan disambut fenomena alam yang hanya muncul sekali dalam beberapa ratus tahun.

-Kami semua tiba di bandara bernuansa jadul, saya duga ini bandara ‘umum’-nya Jeddah. Kami diminta untuk mengecek bagasi yang sudah dikeluarkan oleh staf MiSK, lalu kami diminta untuk check in kembali satu per satu. Di dalam bandara, ada banyak rombongan Jemaah umroh yang berpakaian putih-putih. Jadi engga kaget kalau umroh itu pemasukan utama-nya pemerintah Arab lo! Banyak banget!

Beres check in untuk flight ke Riyadh, kita kembali lagi menuju Executive Lounge sambil menunggu panggilan boarding.

Engga terasa mata mulai mengantuk, pas ngecek jam, waj jam 12 malam di Indonesia, jam 8 malam di Arab, memang sudah waktunya istirahat. Pengen bobo di pesawat, tapi Jeddah – Riyadh Cuma 1 jam doank.Alhasil saya tahan capeknya sampai tiba di hotel.

Pukul 8 malam lebih sedikit, delegasi Indonesia MiSK Global Forum take off menuju Riyadh, Ibu kota Saudi Arabia.

To be continued.

Baca cerita seru jalan-jalan gratis saya keliling 25 negara lainnya di buku Student Traveler. Tersedia di toko buku terdekat! Kesulitan cari bukunya? Pesan online aja di link ini!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  • Humayra Secelia Muswar

    ah potter, aku penikmat cerita2mu.. inspiratif sekali! semoga suatu saat Allah juga kabulkan impianku untuk bertamu ke Baitullah. Amiin..

    Ps: ga cuma ketawa, baca cerita ini juga menimbulkan smengat2 yg sempat padam, dan keingina lagi menghidupkan mimpi2 yang sempat ter-shut down oleh keadaan.

    BIG thanks, potter!

  • Fitri Ananda

    mbak, kamu luar biasa….
    ceria…
    keren…
    sukses selalu…

    PR manajer hehehe

    • ceritadarikotahujan

      halo mbak Fitri, salam kenal yaa..
      hehehe iya aku skrg udah resign dr PR manager, wkwkwk

  • Anisa Ramadhani

    MasyaAllah pengalaman yang sangat luar biasa kak. Btw salam kenal kak nisa, aku Ama mahasiswi IPB juga dari sarjana Bisnis 🙂 Sukses terus kak 😉

    • ceritadarikotahujan

      halo Anisa, salam kenal yahh..
      makasih udah mampir ke blog aku. 😀

      stay tune terus ya!

  • Pingback: MIDDLE EAST TRIP – SAUDI ARABIA CHAPTER 3 – Student Traveler Diary()