Enjoy (Culinary) Jakarta in 24 Hours

 

Sejak menikah dengan suami yang suka masak (dan suka makan tentunya), saya dan suami memiliki hobi bersama : hunting makanan enak. Saya pribadi sih punya misi kalau kita berdua nyobain makanan baru dan enak, saya berharap dia bisa masakin buat saya di rumah, hahaha. Kami sudah cukup banyak wisata kuliner di berbagai kota di Indonesia dan luar negeri sewaktu kami sekolah di Jerman. Pengalaman wisata kuliner terhebat kami itu waktu ke La Boqueria Market di Barcelona (ceritanya akan ada di buku kedua saya, segera! ).

Nah, kali ini, we’re going to make another culinary tour experience. Dari dulu banget, saya selalu pengen kuliner di … JAKARTA! Ibukota tanah air Indonesia yang kadang disebut dengan labirin (saking jelimetnya). Yup, only 1-2 hours from Bogor, my hometown.

Enjoy Jakarta Photo by @andifth

Anehnya meski Jakarta itu kota besar terdekat dari Bogor, misi saya untuk wisata kuliner di Jakarta selalu aja gagal. Mungkin karena dekat kali ya? Jadi, rasanya kayak “ah bisa entaran deh”. Hihihi. Weekend lalu, saya mendapat undangan pernikahan teman di Jakarta, saya cek waktu-nya, wah hari Minggu jam 19.00 malam!  Kalau PP Jakarta-Bogor dengan kendaraan umum pasti akan melelahkan. Lalu, Saya diskusi dengan suami tentang undangan ini, dan terbesit misi wisata kuliner saya di Jakarta. Why don’t we do both? Eh, kabar gembiranya, hari Senin besoknya dia dapat CTO (Compensatory Time Off) dari kantornya, jadi dia libur! Akhirnya kami sepakat untuk bermalam di Jakarta, menghadiri undangan sambil pacaran dengan wisata kuliner ria! We will do it in 24 hours!

Fish N Co , Makan Fish and Chips ala-ala Kapal Laut

Kalau jalan-jalan ke Jakarta pasti bawaannya pengen makan makanan yang ga ada di Bogor. Meski sekarang sudah banyak makanan baru yang dibawa dari Jakarta ke Bogor, tetap aja masih banyak resto yang belum ada di Bogor, salah satunya Fish N Co!

Since I’m a seafood lover, everytime I hear Fish N Co, bawaannya langsung ngiler dan inget dengan Fish N Chips. Makanan asal Inggris ini terdiri dari ikan dori fillet yang dibalut oleh tepung crispy dan pommes fries (kentang goreng stik). Pertama kali tau tentang Fish N Co waktu nonton acara TV Rekomendasi di O Channel, saya lihat dekorasi restonya bernuansa seperti di kapal laut. Menarik! Pertama kali datang ke Fish N Co dan nyicipin Fish N Chipsnya, I fell in love. Rasanya nagih, meski harganya emang kurang ramah di kantong. Hehe.

Fish N Co Grand Indonesia, Source: the-metaphor.com

Kuliner ke Fish N Co ini merupakan hasil bujukan saya ke suami yang belum pernah makan fish n chips-nya Fish N Co. Saya yakinkan kalau yang ini rasanya beda dan super enak. Then, he nodded (yeay!). Setelah waktu zuhur, kami berangkat menuju Jakarta dengan commuter line. Kami pun tiba di Grand Indonesia West Mall lantai LG sekitar jam 15.00 dengan perut lapar. Saya sudah lihat-lihat di Zomato untuk menu dan what should I order in Fish N Co, sebelumnya saya makan The Best Fish n Chips (rasa original), kali ini saya mau coba menu lain. Pilihan saya jatuh ke New York Fish N Chips. Menu ini ikannya diberi lelehan keju mozzarella, dan biasanya saya makan pakai kentang. Kali ini saya minta ganti ke Paella (Nasi Goreng Seafood ala Spanyol). Harga Rata-rata sepiring Fish N Chip adalah Rp 99,000 (belum termasuk pajak). Hal yang tidak membuat saya kecewa makan di Fish N Co adalah porsinya. Guede banget. Ikannya panjang banget sampe ga cukup di plate-nya. I have a big tummy, so Fish N Co is a true match! Suami saya nyobain yang original. Saya harap sih dia bisa nemuin secret recipe-nya dan bisa bikin sendiri di rumah, hehe.

Minuman yang kami pesan itu lumayan so sweet. So sweet karena manis dan satu lagi, segelas berdua! Disini minuman Ice Blended di gelas beer ukuran 1 liter! Menurut menunya sih, tertulis “Perfect for Sharing”. Harganya 49,000 (belum termasuk pajak). And, yes, gede banget. Puas diminum berdua (bisa untuk foto-foto so sweet kalau mau hehe). Tidak lama setelah pesan, makanan datang. Resto ini selain cukup niat untuk dekorasi interiornya yang bernuasa kapal laut (ada ban orange, dinding kayu, dan dekorasi laut lainnya), piringnya juga niat! Fish N Chips disajikan di atas Alumunium Seafood Tray besar, jadi makannya berasa kayak makan di dalam kapal laut Inggris.

Fish and Chips Photo by @andifth

Once I cut the fish and put into my mouth, ough, it’s so so so delicious. Gurihnya ikan dori lembut ditemani dengan keju mozzarella leleh beradu dalam mulut saya. This just made my tummy awesome! Menurut Andra, teman saya orang Jakarta (dan dia lulusan Gizi pula!), Fish N Co di Grand Indonesia ini tergolong resto Fish N Chips yang termurah dari resto di Jakarta lainnya. Meski dibilang Termurah, tetap saja sih kami mengocek uang yang tidak sedikit, Hihihi. Tapi yang penting puas dan makannya sekali-kali aja!

1 Liter Ice Blended Photo by @andifth

Nasi Goreng Sabang Bang Robby ala-ala Ika Natassa

Setelah puas late lunch dengan Fish N Co, saya dan suami check in di guest house yang sudah kami book di daerah Kebon Kacang. Taruh barang dan istirahat sebentar, setelah Magrib kami langsung berangkat menuju daerah Senayan untuk menghadiri nikahan mbak Ira dan mas Dadiet (happy wedding!). Perjalanan kami lanjut ke daerah Selatan untuk menemui Mario, sobat lama saya waktu kuliah S1 di IPB. Kami ketemuan di Eat N Eat Gandaria City Mall, berhubung saya sudah super kenyang habis makan di kondangan. Saya hanya minum air putih sambil ngobrol-ngobrol dengan Mario dan Indah, teman Mario. Oke, waktu malam telah tiba. Ketika New York City disebut dengan City that never sleeps, begitu juga Jakarta. Ada beberapa tempat kuliner terkenal yang hanya buka di malam hari. Satu tempat kuliner yang saya penasaran banget adalah Nasi Goreng Sabang.

Tau Nasi Goreng Sabang ini pertama kali di novel favorit saya, Divortiare karya mbak Ika Natassa. Novel mbak Ika selalu membuat saya dan pembaca wanita lainnya terbawa dalam imajinasi karakter yang super nearly perfect, seperti Beno, seorang dokter yang tampan-mapan yang masih menyimpan rasa cinta dengan mantan istrinya, Alexandra. Mereka berdua sering makan bareng di Nasi Goreng Sabang, and made a lot of good memories there. Ternyata saya ga Cuma jadi korban karakter novel, tapi juga korban info makanan yang ada di novel. Hehe. Di novelnya, diceritain kalo nasgor Sabang itu enak banget, ampe bikin saya penasaran. Kayak apa sih? Soalnya saya pecinta nasi goreng.

Beres ketemu Mario, perjalanan kami berlanjut ke daerah Menteng, dimana Nasi Goreng Sabang itu berada. Dengan Taksi Uber, tibalah kami di Jalan Agus Salim yang ternyata kalau malam hari berubah menjadi tempat kuliner jalanan. Saya pun tiba di satu warung tenda bertuliskan “Nasi Goreng Sabang Bang Robby asli Betawi”. Saya excited banget pas sampai ke warungnya sampe-sampe suami saya bilang..

“Tuh cari ada Beno ga lagi makan nasi goreng” celetuk suami saya ngeledek.

“Hahaha, ya ga ada lah, adanya Beno Fatahilah.. “ ledek saya.

Nasi Goreng Bang Roby Photo by @andifth

Kami didatangi abang penjualnya sambil menyodorkan menu makanan. Hmm, what should I order ya?

Disitu saya nemu ada nasi goreng Santri, ternyata artinya nasi goreng polos (engga pakai telur atau lauk apa apa) dengan harga termurah Rp 16,000. Lalu, dibawahnya ada nasgor telor, ayam, sosis, sampai nasgor Gila. Saya kira nasgor gila itu nasi campur mie, ternyata bukan.

“Nasgor Gila itu nasi campur telor, sosis, ayam, ama sayur” kata si abangnya. Harga Nasi Gila seporsi Rp 24,000.

Kami pesan satu porsi nasgor telur dan nasgor Gila untuk take away. Berhubung kami masih kenyang. Nasgor Sabang akan dijadikan menu sarapan pagi kami besok! Untung di Guest House disediakan Microwave , jadi tinggal angetin aja. Dengan membayar Rp 41,000, kami mengangkut dua box nasi goreng Sabang yang konon jadi tambah laku gara-gara novelnya mbak Ika Natassa, saya korbannya, Hihihi.

Besok paginya, suami saya angetin nasgornya dan menyajikan di piring plastik. Dari warnanya, menggiurkan banget. Saya menyendokan satu suap nasi ke mulut saya. Hmm, nasi nya pera, jadi agak keras tapi bumbunya.. hmmm, enak! Nasgornya berwarna gelap, dan rasanya mengingatkan saya dengan nasgor kesukaan saya waktu kecil dulu, warungnya suka mangkal di dekat pos polisi perempatan ciawi (sayang sekarang udah ga ada). Rasanya gurih dan porsinya besar banget!

 

Nasi Goreng Sabang

Dengan penuh lahap, kami berdua menikmati sarapan nasgor di guest house iCorner Residence. Perfect food to start my day!

Ragusa Ice Cream ala Tempo Doeloe

I love something old school, especially for food!

Jakarta, kota yang sudah memiliki peradaban sejak jaman dahulu kala telah meninggalkan banyak jejak sejarah yang saat ini masih ada, salah satunya kuliner. Jalan-jalan di Jakarta kurang lengkap rasanya kalau belum nyobain makanan dingin untuk mengatasi panas teriknya kota Jakarta. Ada satu es krim jadul yang terkenal banget di daerah Gambir, namanya Es Krim Ragusa. Es krim ini disebut-sebut dengan es krim kesukaannya orang tua jaman dulu, jadi rasanya agak berbeda dari es krim yang ada sekarang. Kayak apa sih? Setelah check out dari guest house, kami langsung pergi menuju Jalan Veteran 1 untuk membayar rasa penasaran saya.

Setelah saya browsing di Internet, Es Krim Ragusa itu sudah berdiri sejak tahun 1932, pertama kali dibuat oleh dua orang Italia bernama Luigie Ragusa dan Vincenzo Ragusa. Awalnya mereka datang ke Jakarta untuk belajar jahit, eh pas main ke Bandung, mereka kenalan dengan pemilik peternakan sapi, dan munculah ide jualan es krim. Es Krim Ragusa pertama kali dijual di Pasar Gambir, lalu karena peminatnya mereka bikin toko sendiri di Citadelweg (sekarang Jalan Veteran 1 no.10). Kemudian terjadi pernikahan antara Ragusa dengan seorang wanita Indonesia peranakan bernama Liliana. Kemudian, duo Ragusa kembali ke Italia dan menghibahkan resto es krim ini ke keluarga Liliana, dan akhirnya dipegang oleh Hj. Sias Mawarni. Menariknya lagi, Hj. Sias adalah wanita Indonesia keturunan Tionghoa yang sudah menjadi mualaf berpuluh-puluh tahun loh! *sometimes history can tell you a very beautiful story, without any sensitivity of SARA*

Ragusa Photo by @andifth

Karena sarapan kami agak telat sekitar jam 9, kami masih cukup kenyang saat jam makan siang. Saya dan suami memutuskan untuk ‘lunch’ dengan makan es krim saja. Tiba di depan papan bertuliskan “Ragusa Es Italia” kami masuk dan duduk di kursi rotan di bagian depan. Thank God ga terlalu rame. DI jam-jam tertentu, kalau mau makan kesini harus waiting list alias antri. Tempatnya tidak terlalu besar dan sangat jadul. Seorang waiter mendatangi kami dan mengulurkan daftar menu-nya. Saya memesan menu favorit : Spagetti Ice Cream, dan suami saya pesan : Banana Split. Masing-masing harganya Rp 35,000 (menu lainnya ada yang Rp 15,000 dan Rp 20,000). Enaknya kalau jalan-jalan berdua, kita bisa pesan menu beda lalu sharing! Sambil menunggu pesanan, suami saya motret-motret dan saya sendiri mengamati interior ruangan. Interiornya jadul banget, dan disitu ada pigura-pigura foto bergambar kondisi bangunan Toko Es Krim jaman dulu. Waiter datang membawa dua mangkuk berbentuk elips dan dua gelas air dingin. Satu keunikan dari Es Krim Ragusa adalah tanpa bahan pengawet, jadi mudah sekali leleh. Spagetti Ice Cream itu ternyata es krim Vanila yang dicetak dengan mesin pembuat spaghetti, lalu dilumuri coklat dan ditaburin kacang dan jeli warna-warni.

Spagetti Ice Cream Photo by @andifth

Udara panas Jakarta kayak gini, makan es krim is a perfect choice!

“Hmmm…” gumam saya sambil mengemut es krim di mulut. Now I feel the difference.

Teksturnya lebih lembut, dan gampang cair, jadi harus cepet-cepet dimakan. Coklatnya mengingatkan saya dengan gerobak es yang menjual popsicle lalu dicelupin ke coklat cair (yang nantinya akan beku), nah mirip nih coklatnya! Duh kangen masa kecil jadinya. Kacangnya juga enak dan crunchy. Suami saya bilang kacangnya disangrai dulu, jadi lebih crunchy. Saya nyolek banana split punya suami saya, hmm enak juga, tapi sayang pisangnya agak kurang matang. Saya ngemut-ngemut es krim manis ditemani oleh angina semriwing dan sesekali melihat commuter line yang lewat di lintasan rel depan toko. Toko Es Ragusa juga berseberangan dengan Mesjid Istiqlal.

Wisata kuliner tempo dulu itu engga  cuma soal rasa di mulut, tapi juga merasakan atmosfer jaman dulu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

In just less than 30 minutes, I finished my first Raguse Ice Cream with full of joy! Makan es krim disini akan dikasih satu gelas air dingin segar. Buat yang mau sekalian makan berat di Ragusa, ada menu sate ayam, ketoprak, dan menu makan lainnya yang dijual disebelah toko es. Ada abang-abang yang keliling nawarin makan siang di dalam toko.

Wisata kuliner tempo dulu itu engga  cuma soal rasa di mulut, tapi juga merasakan atmosfer jaman dulu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Waktu kecil, saya tumbuh dengan lagu-lagu betawi Benjamin S dan Ida Royani yang suka diputar mama saya. Buat saya, Jakarta itu tidak sekedar modernisme dan metropolisnya saja, tapi kekentalan sejarah-nya dari masa ke masa inilah yang selalu saya kagumi.

Ingin rasanya saya nyanyi duet bareng suami saya ala ala Benyamin dan Ida Royani, “Bang disini aaaje ban.. ogah ah disane aaaaje!”

Enjoy Jakarta!

PS. Special thanks to Uber Taxi for giving us many free rides! 🙂