Our Honeymoon Story : Lombok – Mandalika & Senaru

Baca cerita sebelumnya disini.

Dari Bali, saya dan suami menggunakan moda transportasi darat dan laut. Dari Ubud, kami naik Elf dengan AC menuju pelabuhan Padang Bai. Perjalanan Ubud-Padang Bai menghabiskan waktu sekitar 1 jam. Jam 12 siang kami tiba di Pelabuhan Padang Bai. Puanassse pol!

Karena tiket kami mencakup tiket Ferry, kami diantarkan ke kantor agen untuk mendapat tiket Ferry.

Ternyataada satu Ferry yang ‘mangkal’ dan akan segera berangkat. Kami langsung buru-buru menjudu Dermaga untuk naik Ferry. Kata salah satu orang agen, kapal yang akan kami naiki ini kapal baru, sehingga masih bagus. Semoga toiletnya bagus, pikir saya dalam hati. Kalau urusan perjalanan, saya sering kawatir soal kebersihan toilet. Untuk saya, perjalanan itu nyaman kalau toiletnya bersih dan bebas sampah!

Sekitar jam 1, Ferry yang kami naiki meninggalkan pelabuhan Padang Bai. Ini pertama kalinya saya naik Ferry rute Padang Bai (Bali) – Lembar (Lombok). Saya seringnya naik Ferry rute Merak – Bakauheni waktu masih mudik ke Riau dengan mobil bersama keluarga. Tidak seperti Ferry Merak-Bakauheni, Ferry Padang Bai – Lembar jauh lebih sepi penumpang dan lebih nyaman ruangannya. Saat kami naik, petugas langsung mengarahkan ke ruang AC. Disana ada banyak kursi kosong. Dulu, kalau naik Ferry ke Sumatera, ruang AC itu dikenakan tarif tambahan, tapi kalau ruang ekonomi non-AC tidak. Saya bertanya-tanya, tarif ruang AC itu resmi atau tidak ya? :p

IMG_4482

Kami akan menghabiskan waktu 4 jam di atas laut. Sebelum saya mengantuk, saya solat Dhuhur dahulu, sekalian jama’ ashar. Syukur alhamdulilah, ternyata toilet dan mushola di kapal ini bersih sekali! Dilengkapi washtafel juga lagi, oke banget!

Musholanya lebih canggih lagi, ruangannya boleh kecil, tapi ada Acnya! Masuk musola di Ferry itu seperti dapat angin surga di tengah padang pasir, Nyess banget.

Selesai saya solat dan pipis, giliran suami solat, saya jaga barang. Di ruang AC, ada dua TV flat yang lagi menayangkan film horror esek-esek Indonesia. Entah judulnya apa, pokonya disitu ada mendiang Olga Syahputra yang berperan jadi PSK Banci, terus dikejar-kejar ama setan berambut panjang. Filmnya nggilani banget deh, tapi penumpang disitu pada seneng nontonnya. Hadeuh.

Suami balik ke kursi, saya memutuskan untuk tidur di pundak suami, senangnya sekarang sudah punya shoulder to sleep on (bukan to cry on! Lol)

Kalau tidur itu jadi keahlian, saya mau tulis tidur cepat atau pelor (nempel molor) di CV saya! Tidur pulas selama sekitar 1 jam lebih di pundak suami yang empuk bikin ga sadar kalau saya lagi di kapal. Hahaha.

Bangun-bangun, saya langsung makan roti yang dibeli di Breadlife Ubud. Ga kenyang, kami lanjut makan kacang bali, my husband’s favourite snack.

Setelah saya cek jam, ternyata masih 1 jam lagi untuk sampai Lombok. Saya memutuskan untuk keluar cari angin sambil liat laut lepas.

Angin bertiup kencang, bikin kerudung saya terbang kesana-kemari. Lengan saya bersandar pada dinding kapal, mata pun tertuju pada pemandangan laut lepas. Subhanallah, akhirnya bisa lihat laut lagi.

Tiba-tiba orang-orang di sekitar saya riuh sambil melihat laut.

IMG_4485

Eh!

Itu apa yang gerak-gerak di permukaan laut. Saya memicingkan mata.

Wah, itu lumba-lumba!

Ekspresi saya berubah dari awalnya kusam kepanasan, jadi senyum lebar. Ternyata lumba-lumbanya ada lebih dari satu, dan mereka berenang satu arah dengan Ferry. Sesekali mereka loncat, lalu nyebur lagi.

Wow jadi inget film Titanic.

Pengen manggil suami, tapi atraksi lumba-lumba terlalu sayang untuk ditinggal, akhirnya saya nikmatin sendiri aja, hehe.

Hanya dalam hitungan menit, lumba-lumbanya sudah pergi. Bye dolphins, semoga kamu tidak ditangkap oleh orang jahat ya!

Saya pun kembali ke ruangan, lalu cerita ke suami kalau ada lumba-lumba.

Suara speaker berkumandang bahwa kapal sebentar lagi akan mendarat.

Kami akan dijemput oleh saudaranya Bang Dul, namanya Bang Usi.

WELCOME TO LOMBOK!

Akhirnya kaki saya menginjak di pulau yang konon katanya tidak kalah cantik dari Bali.

Secara resmi, daftar provinsi yang sudah saya kunjungi berubah dari 12 jadi 13! Wohoo~

Kami langsung berjalan menuju area parkir, karena Bang Usi menunggu disitu.

Sesaat setelah berkenalan, saya sadar bahwa aksen bicara bang Usi persis sekali seperti bang Dul. Hehehe. Aksen yang jarang saya dengar, aksen orang Lombok! Hehe.

Karena hari semakin gelap, kita langsung pergi menuju Labu Api, daerah dimana rumah Bang Dul berada.

Dari hasil pembicaraan dengan orang asli Lombok, saya menemukan dua fakta tentang Lombok. Pertama, Lombok ini dijuluki pulau dengan seribu masjid. Masjid bertebaran dimana-mana, mungkin hampir setiap 100 meter pasti ada masjid.

Kedua, (mungkin sudah banyak yang tahu) pepatah bilang, “You can see Bali in Lombok, but you can’t see Lombok in Bali”. Mumpung di Lombok, saya mau buktikan apa benar pepatah itu!

Ketiga, orang Lombok suka makan masakan pedas. Hal ini saya buktikan saat makan malam di warung pinggir jalan. Pertama kalinya, saya nyobain Plecing Kangkung khas Lombok. Super enak, super pedas! Plecing kangkung bikin nagih!

Jarak dari Lembar ke Labu Api hanya 30 menit dengan mobil. Setiba di rumah Bang Dul, kami diajak orientasi keliling rumah Bang Dul bareng bang Usi. Rumah Bang Dul ini diapit oleh sawah-sawah milik bang Dul sendiri. Karena sudah malam, bang Usi menyarankan untuk istirahat karena besok kita akan ketemu anaknya bang Dul lalu jalan-jalan ke Senaru yang berada di kaki gunung Rinjani!

Wuah, selama ini gunung Rinjani Cuma nyampe mata dan telinga saya aja, besok saya akan liat langsung! Meski Cuma di kaki gunungnya aja, hehe.

SHOPPING DI PASAR MANDALIKA

Pagi-pagi setelah sarapan, kami menunggu Awal, anaknya bang Dul yang akan jadi guide kami. Karena tak kunjung datang, kami memutuskan untuk jalan-jalan ke pasar Mandalika yang berada di kota Mataram. Perjalanan Labu Api ke Mataram hanya memakan waktu 30 menit saja.

Saya penasaran Pasar Tradisional Mandalika itu seperti apa, soalnya pasarnya masuk dalam top list to visit versi Lonely Planet. Konon, pasar ini adalah pasar terbesar di Lombok!

Dengan mengandalkan google map, kami bisa menemukan Pasar Mandalika dengan mudah.

Sama seperti pasar-pasar tradisional pada umumnya, pasar Mandalika itu semrawut dan becek. Namun ternyata benar, pasar ini luar biasa besar! Kami memasuki satu area, disitu ada banyak pedagang-pedagang yang berjualan ikan kering. Entah itu ikan apa, dan dari mana, pastinya saya belum pernah liat. Hehe.

IMG_4502

Lalu, kami pindah ke area lain, kali ini saya lihat ada beberapa bongkahan besar berwarna coklat tua mirip tanah liat setinggi 70 cm berjejer di atas meja.

“Ini apaan mas?” tanya saya sambil deketin muka ke bongkahan itu.

“Oh itu terasi..” jawab mas Andik.

Wow, terasinya gede amat!

IMG_4506

Pas dicium, iya bener! Baunya tengik ala terasi.

Mayoritas makanan Lombok itu pakai terasi, jadi wajar aja yang dijual sebongkah gini, tapi ternyata orang bisa beli ukuran kecil juga, tinggal di potong aja dari bongkahan itu 😀

Meninggalkan zona terasi, kami memasuki area sayur-sayuran. Saya berencana beli timun, karena di rumah bang Dul belum ada sayur.

Harga-harga sayuran disini masih relatif murah, satu buah timun itu harganya 1,000. Lalu, tiba-tiba mas Andik minta dibeliin kecipir, seiket harganya Cuma 1,000 juga (setelah saya lihat di supermarket di Bogor, seiketnya bisa nyampe 6,000!).

IMG_4618

Kami pun melewati ibu-ibu yang jualan jajanan pasar. Dengan 10,000, kami sudah bisa beli aneka macam jajanan. Senangnya belanja di Pasar Tradisional, harga murah, dan juga mendukung ekonomi rakyat kecil! Puas deh!

Ternyata Awal nyamperin kami di Pasar, kami ketemu di tempat parkir motor. Ternyata Awal bawa pacarnya, namanya Evi. Mereka berdua sama-sama kerja di restoran di Gili Trawangan. Insha Allah, Agustus depan mereka berencana mau nikah! Alhamdulilah.

Karena banyak bawaan, kami memutuskan untuk kembali ke rumah dulu, lalu berangkat ke Senaru.

Perjalanan dari Labu Api ke Senaru cukup panjang, karena Senaru berada di Lombok Utara. Kami akan kesana naik motor, alhamdulilah kita dapat pinjaman motor dari Awal.

RESTLESS TRIP TO SENARU

Sekitar jam 11, kami berangkat menuju Senaru. Ide kunjungan ke Senaru ini berawal dari Bang Dul. Bang Dul bilang kalau air terjun Senaru ini banyak dikunjungi turis dan terkenal banget. Kalau ke Lombok, kita wajib banget untuk kesana. Demi bang Dul, kita samperin deh! Kayak apa sih Senaru.. Hehe.

Selama di motor, kami disuguhi pemandangan hutan-hutan tropis rimbun dan jalan yang berkelok-kelok. Jalannya menguju nyali banget deh. Kami juga melewati area hutan yang ada banyak monyet Macacca. Ternyata Macacca itu dimana-mana ya.

IMG_4515

Hari itu hari Jumat, motor kami berhenti di salah satu masjid yang berada di daerah bernama Tanjung. Sambil menunggu bapak-bapak solat, saya ngobrol-ngobrol dengan Evi, ternyata perjalanan masih jauuuuh banget. Belum setengahnya, waduh?! Tadi perasaan perjalanan udah 1 jam lebih. Kalau belum nyampe setengahnya, nyampe Senaru jam berapa?

Solat Jumat selesai, kami melanjutkan perjalanan. Perut mulai keroncongan, waktunya makan siang. Awal mau mengajak kami makan sate ikan di Tanjung. Konon katanya enak.

Jam 2 siang kami tiba di warung sate ikan yang berada di pinggir jalan. Lapar tak terkira, kami langsung menyantap sate ikan yang ada di depan mata. Sayangnya warung ini tidak menyediakan lontong, hanya ada sate dan pepes ikan saja. Ikan yang dipakai itu ikan cakalang. Rasanya gurih dan pedas, bikin nagih!

IMG_4519

Perut saya dan suami engga puas diisi ikan aja, kami lihat ada warung makan di seberang jalan.

Kami memutuskan makan disitu, nama warungnya warung Aya.

Warung itu menjual makanan khas lombok. Ada menu nasi warteg, disini sebutannya nasi campur. Ada juga menu lain, seperti nasi pelecing aneka lauk. Saya pesan nasi pelecing ayam, dan suami pelecing ikan Lindung (semacam ikan belut). Awal dan pacarnya pesan nasi campur.

Ternyata ekspektasi saya dengan pelecing di warung ini salah. Saya kira, saya akan dapat kangkung plus toge dan diatasnya diberi sambal pelecing. Tapi yang saya dapatkan adalah sayuran bening (bayam) dengan ayam diberi bumbu pelecing. Karena sudah lapar, saya lahap semua makanannya. Enak juga bumbu pelecingnya.

IMG_4521

Saat saya lihat menu nasi campur untuk awal, ternyata nasi campur itu nasi dengan teri, kacang, tempe, urap, dan telur dadar porsi kecil.

IMG_4523

Pada akhirnya saya kecewa berat dengan warung Aya ini. Kenapa?

Ketika saya lihat bon pembayaran, saya menemukan harga yang tidak lazim dari pesanan saya.

Masa’ pesanan saya nasi pelecing ayam itu dihargai 30ribu rupiah, lalu pesanan mas Andik yang tidak jauh beda, nasi pelecing lindung itu 20ribu rupiah, lalu nasi campur-nya Awal Cuma 12ribu rupiah?!

Ga masuk akal banget nih harga, menunya Cuma nasi+ayam+sayur bening diharga 30ribu, selisih 10ribu kalau lauknya ikan, it doesn’t make sense to me!

Saya pun lihat di tulisan tangan pada bonnya, ada beberapa coretan di angka harga, wah jangan-jangan harganya nembak nih.. Menurut saya sih, tidak masuk akal makan di warung kecil, menunya kayak gitu, harganya 30ribu. Saya kecewa banget makan di warung Aya. Dan saya ga rekomen.

Perjalanan kami terus dilanjutkan. Perut kenyang, ternyata larinya ke kepala, ngantukkk.

Semilir angin bikin kepala tambah berat. Oh kapankah kita sampai..

Jam 3 sore kami resmi tiba di kaki gunung Rijani, saya bisa melihat puncak gunung Rinjani dari kejauhan. Subhanallah..

Jalanan pun berubah dari datar menuju tanjakan.

Motor engga henti-hentinya nge-gas, mudah-mudahan ga mogok.

Akhirnya, setelah 3 jam lebih perjalanan, kami pun tiba di pintu masuk Air Terjun Senaru!

Tiket masuknya dikenakan 5,000 per orang. Di Senaru ini ada dua air terjun, pertama, Tiu Kelep. Kedua, Sindanggila. Dari pintu masuk menuju air terjun Sindanggila, kita perlu menuruni banyak anak tangga. Semakin mendekati air terjun, semakin kuat suara air yang jatuh.

Tidak lebih dari 30 menit jalan, kita sampai di air terjun Sindanggila. Wuoh, deras sekali airnya. Dulu pernah lihat air terjun di Curug Nangka, tapi derasnya engga sebesar ini.

IMG_2792

Berhubung saya capek di jalan, saya pengen duduk dulu aja ngeliat air terjunnya dari jauh, yang lain langsung pada ganti baju untuk basah-basahan di bawah air terjun.

Sambil duduk mandangin air terjun, saya lihat ada beberapa pendaki gunung berwajah Asia (mungkin dari Cina atau Taiwan) datang. Mereka sepertinya habis naik puncak Rinjani, dan Senaru ini menjadi destinasi terakhir.  Mereka taruh backpack, langsung nyebur ke kolam air terjun. Ada pula turis-turis Eropa juga datang untuk sekedar lihat dan berfoto.

Perhatian saya kembali ke tingkat suami yang menggelikan, dia bergaya sok-sok-an bertapa di bawah air terjun.

IMG_2808

Dari hasil nguping dari turis sebelah yang lagi ngobrolin soal dimana Air Terjun satunya lagi, Tiu Kelep, ternyata masih jauh dari sini. Wah sepertinya ga cukup deh waktunya, pikir saya.

Karena sudah jauh-jauh ke Senaru, saya juga tidak mau melewatkan momen basah-basahan di bawah air terjun. Akhirnya saya ikutan turun dan ngerasain percikan derasnya air terjun Sindanggila (kenapa sih ada nama gila-nya?).

Seger juga kena air gunung. Setelah semua basah, kami langsung ganti baju dan bersiap-siap untuk pulang. Perjalanan pulang akan memakan waktu yang sama dengan berangkat! O..o..

Saya teringat hutan lebat yang kami lewati tadi siang, perasaan saya disitu tidak ada tiang-tiang lampu. Jadi, kalau kita kesitu malam, berarti gelap banget donk?

Entah saya ketakutan sendiri saat perjalanan pulang. Karena awal dan pacarnya tidak kembali ke Labu Api, tapi mereka nginap di Tanjung. Kami akan berpisah di Tanjung, dan besok bertemu lagi di pelabuhan untuk pergi ke Gili Trawangan.

Saya minta mas Andik untuk cari jalan pulang yang lain. Kata Awal ada jalan lain, tapi lebih lama dibanding lewat hutan. Mas Andik ngeyakinin saya untuk pulang lewat rute yang sama, dan dia percaya pasti banyak kendaraan yang lewat. Haduh, tetep aja saya parno -_-“

Hal menakutkan bermunculan di otak saya saat pulang, selain masalah keamanan, masalah bensin juga jadi perhatian saya. Selama perjalanan menuju Senaru, pom bensin hanya bisa dihitung jari.

Mau tidak mau kita harus isi bensin eceran, 1 liter harganya 10ribu rupiah, selisih 2ribuan dengan bensin di pom bensin.

Ternyata boros juga isi bensin eceran.

Saat perjalanan pulang, kami melewati pantai yang sebentar lagi akan ada momen sunset, wow!

Kami berhenti sebentar, lalu memandangi matahari yang akan terbenam. Mataharinya bulat sempurna. Diam-diam awal mengabadikan kami berdua dengan pemandangan sunset. Terima kasih Awal!

IMG_4619

Lalu, perjalanan dilanjutkan kembali.

Motor kami pun berpisah dengan motor Awal. Hal ini menandakan bahwa sebentar lagi kita akan memasuki area hutan gelap itu! Hiiii…

Saya deg-degan plus parno banget. Mas Andik nyuruh saya buat baca solawat agar perjalanan kita dilindungi oleh Allat SWT.

Sejauh mata memandang, semuanya gelap gulita. Sesekali ada motor yang lewat itu pun Cuma 1 atau 2 motor. Saya nengok ke belakang, hiiii gelap.. ga ada kendaraan di belakang motor kami.

Saya berdoa semoga ada kendaraan lain yang berada di dekat kami. Untungnya ada beberapa mobil di depan kami, jadi suasana tidak terlalu gelap dan sunyi.

Sekitar jam 10 malam, kami tiba dengan selamat di rumah Labu Api. Huah Capeknya luar biasa, 6 jam di jalan!

Gile bener, honeymoon ke Lombok ini lebih banyak adventoure-nya dibanding romance-nya!

Baca cerita honeymoon seru saya ke Senggigi dan Gili Trawangan disini.

Pengeluaran Honeymoon 21-22 Mei 2015

Belanja Indomaret Labu Api 75,000
Sate Ikan                              45,000
Bensin                                  50,000
Makan resto Aya                  98,000
Kopi                                       7,000
Makan Malam                      41,000
Belanja di mandalika            40,000

TOTAL                       Rp 281,000