Our Honeymoon Story : Ubud Bali

Waktu duduk di bangku SMA, saya pernah nonton film “Cinta Silver” yang dibintangi oleh Luna Maya, Catherine Wilson, dan Restu Sinaga. Settingan filmnya bertempat di Bali, the Island of God. Pemandangan alam Bali yang luar biasa indah telah membius mata saya hingga membuat saya berangan-angan kalau saya nikah nanti, saya mau honeymoon dengan suami saya di Bali.

Sounds so mainstream to do honeymoon in Bali? but who cares! Hehehe.

Keinginan saya untuk honeymoon di Bali semakin kuat ketika saya nonton film Eat Pray Love. Emang sih cerita filmnya itu banyak bumbu galau, tapi lagi-lagi perhatian saya jatuh pada indahnya Ubud yang ditampilkan dalam film tersebut. Huwaaa~ I really really wanna go to Ubud for honeymoon!

Finally, I can fulfill my dream last May!

15 Mei 2015, alhamdulilah saya mengikat janji pernikahan dengan seorang lelaki Jawa nan kalem bernama Kangmas Andik Fatahillah. Setelah hubungan kami sah sebagai suami-istri, saya langsung menunaikan mimpi saya sejak SMA.. Honeymoon in Bali!

Satu bulan sebelum hari akad nikah, saya sudah berdiskusi dengan mas Andik tentang keinginan saya untuk honeymoon di Bali. Pada awalnya, kita sempat mikir-mikir soal dana (maklum kami berdua masih mahasiswa, masih belum punya penghasilan tetap). Tapi, kita percaya kalau nikah itu akan membuka rejeki, akhirnya saya dengan nekatnya membeli tiket pesawat Jakarta-Denpasar PP dengan tabungan pribadi. Prinsip saya kalau urusan travelling, now or never!

Kelamaan galau berangkat atau engga malah bikin engga berangkat, jadi bismillah dan eksekusi saja!

Bagi saya pribadi, honeymoon ini merupakan perjalanan ke-4 saya ke Bali. Lucunya, keempat perjalanan saya ke Bali itu membawa misi yang berbeda-beda. Pertama, mengikuti PIMNAS. Kedua, Backpacking dengan sahabat Ratu Rosmi Ati. Ketiga, Fieldtrip Mata Kuliah Perencanaan Lanskap. Keempat, Honeymoon!

Kumplit sudah tema perjalanan saya, jadi setiap kali ke Bali, rasanya seperti datang ke Bali untuk pertama kali. Hihi.

Karena ini perjalanan keempat saya, tidak terlalu sulit untuk menyusun itinerary perjalanan. Dan saya akan menuliskan semua pengeluaran selama honeymoon di postingan, so bagi yang sedang cari-cari info anggaran biaya, stay tune aja di cerita ini sampai habis! J

Oh ya, khusus untuk honeymoon, ada beberapa barang yang mungkin harus saya siapkan. Karena kan honeymoon engga Cuma sekedar travelling, betul? Hihihi… Pastinya barang-barang itu digunakan untuk memperlancar aktivitas honeymoon. Mau tau apa? Berhubung pembaca blog saya juga ada yang masih under 17 tahun, saya ga akan bahas lebih lanjut yaaa.. silahkan cari artikel online yang lain. Hihihi *senyum genit*

Belum aja berangkat, rejeki udah datang duluan. Senior kami asal Lombok bernama Bang Dul yang bekerja sebagai chef di Göttingen menyuruh kita untuk lanjut ke Lombok dan dia menawarkan rumah kosongnya untuk tempat menginap. Huwaaa, Alhamdulilaaah…

Awalnya saya hanya merencanakan honeymoon ke Bali aja (berhubung budget agak minim). Eh, ternyata dapat tumpangan menginap gratis di Lombok. Berhubung saya dan suami belum pernah ke Lombok (dan ingin juga bisa ke Lombok), kami terima tawaran tersebut!

Setelah Bali, Lombok akan menjadi rute kami.

Tiket Jakarta – Denpasar PP untuk 2 orang sudah saya beli via web Traveloka seharga kurang dari 3 juta rupiah. Harganya memang agak melambung, berhubung bulan Mei ini banyak sekali yang menikah, jadi bulan Mei ini jadi bulan-nya penganten baru untuk berbulan Madu.

Kami berdua akan berhoneymoon selama 8 hari, mulai dari tanggal 19 – 26 Mei 2015. Ga kelamaan tuh? Perjalanan saya dan suami ini tidak pakai agen perjalanan, kami merencanakan semuanya sendiri, jadi mungkin saya ga bisa sebut full honeymoon kali ya, mungkin sebutannya ‘Honeypacker’ atau ‘Honeymoon Backpacker’. Hehehe.

Tanggal 19 Mei, tepatnya 3 hari setelah saya menikah, kami berdua berangkat pagi-pagi buta menuju bandara Soekarno Hatta. Pesawat yang akan kami naiki adalah Lion Air, berangkat jam 6.20 pagi. Agak sanksi sih ama Lion Air, mengingat seringnya delayed. And it’s true! Pesawat take-off jam 7.20, 1 jam dari yang direncanakan. Berhubung saya ngantuk banget, saya tidur pulas di bahu suami selama perjalanan. Hihihi.

IMG_2673

Setiba di Ngurah Rai Airport, kami langsung pergi ke pintu exit untuk menemui teman mas Andik sewaktu di Goettingen, namanya Bli Aryana, asli dari Bali. Bli Aryana membantu kami mencarikan mobil rental untuk mengantar kami ke Villa di Ubud dari airport.

Kami pun bertemu bli Aryana plus driver yang akan mengantar kami ke Ubud. Hanya bersapa-sapa singkat dengan bli Aryana, saya dan suami langsung naik mobil menuju Ubud.

“Mbak, mau lewat tol baru atau jalan biasa?” tanya Bli Agus sang driver, sesaat setelah kami berkenalan dengan dia.

Oh iya, Bali kan baru punya Tol Baru, namanya Tol Bali Mandara.

“Wah boleh bli, lewat tol aja.. belum pernah liat soalnya, hehe” jawab saya penasaran.

Biasanya perjalanan ke Bali Utara itu lewat Kuta-Denpasar, kali ini dipotong dengan jalan tol.

Memasuki gerbang tol, kami harus membayar sebesar 10ribu rupiah. Saya bisa merasakan aroma ‘baru’-nya jalan tol ini, masih mulus banget. Jalan Tol Bali Mandara berdiri di atas laut. Hal menarik dari tol di atas laut ini adalah papan informasi yang bertulisan “Hati-hati ada angin kencang”. Seumur-umur belum pernah lihat papan ini di jalan tol mana pun. Hehehe. Jalan Tol ini tidak ada hanya untuk kendaraan roda empat, tetapi juga roda dua. Cuma resiko berkendara motor di tol ini cukup tinggi karena angin yang kencang.

IMG_2675

Perjalanan menuju Ubud berlangsung sekitar 1,5 jam. Kami tiba di Villa Mandi Ubud yang terletak di Jalan Katik Lantang. Saya membayar biaya rental mobil sebesar 250ribu rupiah ke Bli Agus dan langsung turun sambil membawa barang bawaan. Saya sudah booking Villa ini sesaat setelah saya beli tiket pesawat. Saya memilih Villa Mandi Ubud ini dari hasil observasi review yang diberikan pengunjung. Rata-rata reviewnya positif, so saya book untuk 2 malam.

IMG_2786

Saya booking bamboo Villa seharga 380,000 per malam. Kami berdua tiba 2 jam sebelum waktu check-in. Tapi saya tanya apakah bisa check-in awal, eh ternyata bisa! Syukurlah..

Senangnya lagi room kami di-upgrade ke Superior Room! Waah asiknya… mungkin ini yang namanya rejeki orang yang menikah.

30 menit setelah ketibaan, kami bisa langsung beristirahat di kamar baru kami.

Seumur-umur pergi ke Bali, baru kali ini saya disambut oleh hiasan handuk berbentuk bebek dan ditaburi bunga-bunga kamboja di atas kasur putih. Huah cantiknyaa..

20150519_130119

Kamarnya luas, dilengkapi AC dan TV. Ada bathtub juga loo.. (cucok banget nih buat yang honeymoon, hihihi).

20150519_130212

Karena saya dan suami berangkat pagi-pagi buta, kita berdua memutuskan untuk tidur siang. Ternyata perjalanan cukup melelahkan. Sorenya kami mau jalan-jalan ke kota Ubud.

Setelah badan agak segar habis tidur, suami menyewa motor ke staf Villa seharga 60,000 selama 24 jam. Pelayanan dari staf Villa Mandi Ubud ini tanggap dan memuaskan sekali. Beberapa menit setelah booking, motor pun datang.

Let’s go to Ubud!

Karena kita belum sempat makan siang, setiba di Ubud kita langsung cari makan. Kami langsung pergi ke Warung Ijo yang terletak di Main Road Ubud, disebelah pasar Ubud. Warung Ijo ini pertama kali saya kenal sewaktu backpacking bareng sahabat saya. Warung Ijo ini menyediakan aneka makanan Indonesia yang halal dengan harga cukup terjangkau dan lezat, dan sepertinya penjualnya itu orang Jawa. Ingat warung Ijo, jadi ingat ayam penyet pedas-nya yang bikin bibir serasa tebal dan bawaannya pengen minum terus. Hahaha.

Kami memesan Ayam Penyet, Capcay, Sate Tempe, Es Lidah Buaya. Suami engga pesan makanan berat, karena ngidam makan kambing *ups, hehe*

Setelah perut saya kenyang, perjalanan kami dilanjutkan dengan menyusuri Ubud Main Road. Hari sudah semakin gelap. Mata saya tertuju pada papan bertuliskan “LEGONG DANCE SHOW”.

Saya : “Mas, udah pernah nonton Legong? Aku belum ih, pengen liat..”

Suami : “Belum juga, yaudah kalo mau nonton..”

Saya menghampiri booth tiket yang terletak di pintu masuk. Ternyata harga nonton Legong Dance itu Rp 80,000 per orang. Dan pertunjukkan akan dimulai 10 menit lagi.

Saya melirik Suami. Let’s see this once in a lifetime, shall we?

Saya langsung mengeluarkan uang Rp 160,000 kemudian masuk ke arena pertunjukkan.

Area sekitar panggung sudah dikelilingi oleh banyak penonton, banyaknya turis-turis asing.

Tiba-tiba serombongan bapak-bapak berpakaian adat Bali berdatangan di sisi panggung dimana letak alat musik berada. Mereka mengambil posisi duduk dan siap bermain alat musik. Tak lama, alat musik tersebut dimainkan. Saya suka sekali dengan alunan musik tradisional Bali, bunyi gamelannya begitu khas dan merdu.

Sekitar 10 menit alunan musik dimainkan, datanglah dua penari Legong ke panggung dan mulai beraksi. Jari-jari lentik, mata lirik kanan kiri, dan badan bergoyang menampakkan lekuk-lekuk tubuh. Cantik sekali penari Legong ini.

IMG_2679

Pertunjukkan berlangsung selama 1 jam. Tarian yang ditampilkan ini dikemas dalam bentuk cerita Ramayanan kuno. Ada tokoh Rama dan Sita. Inti ceritanya sih, Sita, belahan jiwa Rama diculik oleh seorang monster yang ingin mempersunting paksa dia. Rama dan rekan-rekannya berjuang untuk merebut kembali Sita dari monster itu. Selama saya nonton, saya cukup terhanyut karena melihat raut-raut wajah pemain yang begitu total mendalami karakter masing-masing.

Jam 19.30 acara selesai. Kami berdua langsung pergi berbelanja air minum dan snack, lalu dilanjutkan dengan mengantar suami makan sate kambing. Hehehe. Dan kami pun kembali ke Villa.

Pagi-pagi di Hari kedua di Bali, kami pergi menuju Campuhan Ridge Walk. Tempat ini diusulkan oleh suami, katanya sih bagus kalau lihat di internet. Saya lihat di google, ternyata Campuhan ini semacam jalan setapak di antara padang rumput dengan kemiringan agak curam, cantik.

Kami pergi kesana untuk menikmati sunrise sambil cari keringat. Jam 6.30 pagi kami mulai jalan kaki dari jalan utama menuju area Campuhan.

Perjalanan menuju jalan setapak ternyata cukup berkeringat, karena kita harus jalan menanjak. Setiba di Campuhan Walk, saya bisa melihat hamparan padang rumput yang miring, dan ada lembahnya, di seberang lembah Villa-villa berderet menghadap Campuhan. Ternyata foto yang saya lihat di Google itu hasil editan, jadi bagus banget. Sebenarnya sih hanya padang rumput biasa, tapi jadi cantik karena ada lembahnya kali ya, hehe.

IMG_2735

Campuhan Walk

IMG_2732

Pagi itu, ada beberapa bule yang lagi jalan santai atau jogging. Selama 10 menitan saya jogging di jalan setapak Campuhan, sedangkan suami hanya jalan santai aja.

Sekitar jam 9 kami kembali ke Villa untuk sarapan. Sarapan yang disediakan oleh Villa ‘hanya’ omellete dengan jus buah saja. Dan kami pun masih sangat lapar. Akhirnya kita berdua langsung memutuskan untuk cari makan tambahan ke pusat kota Ubud. Hehehe.

Kali ini, kita pengen makan masakan lokal Bali. Dari rekomendasi teman asli Ubud, jeng Budi (travel-mate saya waktu euro trip) katanya ada nasi ayam betutu yang enak di Ubud. Namanya, Betutu Ayam Pak Sanur. Kami sempat kesulitan cari lokasi warung-nya, dan satu ketika kita lagi naik motor di daerah pasar Ubud, dan di sebelah kami ada mbak-mbak yang bawa motor juga.

Suami : “Mba Nasi Ayam Betutu Pak Sanur itu ada dimana ya?”

Mbak-mbak : “Oh ikut saya, saya juga mau kesana…”

Waah alhamdulilah, rejeki banget nemu orang yang juga mau kesana.

Ternyata Betutu Ayam Pak Sanur ini bukan terletak di jalan besar, tapi di jalan kecil, bernama jalan Arjuna. Untung kita ketemu mbak-mbak ini di jalan. Setiba di Warung, kita mengucapkan terima kasih ke mbaknya, lalu masuk ke warung tersebut. Warung Ayam Betutu Pak Sanur ini berada di dalam rumah adat Bali. Ada satu ruangan terbuka, di sisi sampingnya ada pekarangan khas Bali. Karena sudah lapar, kita langsung pesan dua porsi nasi ayam betutu.

Tidak lama, 2 piring berisi nasi dan ayam datang ke meja kami. Hmm, yummmy~ kelihatannya enak. Warna paha ayam yang kecoklatan, lalu ditemani oleh dadar telor remes dan jeroan ayam tersaji di depan mata.

Guten apetit!

f

Porsi nasi di warung ini cukup besar, bahkan saya yang suka porsi besar, kewalahan juga, sampe ngeshare nasi ke suami. Hihihi.

Harga seporsi Nasi Ayam Betutu ini ternyata tidak terlalu mahal! Rp 20,000 rupiah saja.

Udara panas mulai datang di pusat kota Ubud. Kalau panas-panas, enaknya makan yang dingin-dingin!

Saya teringat dengan booth Dairy Queen di Ubud Main Road. Udah lama banget ga makan eskrim Dairy Queen, terakhir makan es krim ini waktu di Shanghai. Ada satu produk es krim di DQ yang disajikan dalam cup, lalu konon kalau cup-nya dibalik, es krimnya ga akan tumpah. Aya-aya wae.

Saya memesan satu cup es krim Capucino ukuran medium, ternyata harganya mahal juga Rp 39,000.

Saya dan suami ber-ice cream date di Cafe DQ. One cup for two. (Romantis sekaligus ngirit, hihihi)

Setelah Bali, kami akan berangkat ke Lombok, untungnya di Ubud ada banyak agen-agen perjalanan yang menawarkan kendaraan PP dari Ubud ke berbagai kota di Lombok. Di dekat Cafe DQ, ada agen perjalanan yang menawarkan jasa shuttle bus ke Pelabuhan Lembar, Lombok. Harga tiket dari Ubud ke Lembar seharga Rp 110,000 per orang. Karena kami tidak banyak waktu untuk survei dari agen ke agen, kami langsung beli tiketnya disitu. Tiket sudah termasuk kendaraan dari Ubud ke pelabuhan Padangbai dan tiket Ferry dari Padangbai ke Lembar.

Selama Honeymoon, sebenarnya kami ingin tidak banyak jalan-jalan biar engga capek-capek banget. Tapi pas tahu kita berdua belum pernah ke Kintamani, area dataran tinggi di Bali Utara. Kami tergiur untuk kesana. Setelah cari-cari info, ternyata Kintamani bisa dicapai sekitar 1 jam dengan motor. Only 1 hour, so we decided to go!

Sayangnya kami berdua lupa bawa jaket, (sudah kebayang kalau Bali-Lombok itu bakal panas terik, tapi lupa kalau Bali-Lombok juga punya dataran tinggi!), akhirnya suami beli sweater diskonan di salah satu outlet di Ubud. Karena suami bawa motor, jadi rentan kena angin. Kalau saya sih cukup berlindung di balik badannya aja *uhuk*

Jam 11 siang kami memulai perjalanan kami ke Bali bagian utara.

Menuju Kintamani, kita melewati Sawah Teras Tegalalang yang konon terkenal dengan subak-nya.

Motor kami terus melaju, menyurusi jalan menanjak. Mata saya disuguhi oleh lanskap pedesaan Bali yang cantik, dilatari oleh Gunung dan bukit.

“Wuoh!” teriak saya takjub.

Ketika kami sudah berada di ketinggian, saya bisa melihat danau Batur yang luar biasa cantik! Danaunya luas sekali, diapit oleh bukit. Saya selalu ingat kalau danau Batur itu selalu menjadi pertanyaan di TTS Kompas, hehehe. Finally I can see what it looks like.

“Maaaaas, kita pokoknya harus ke danau-nya yaaaa…” rayu saya ga sabaran.

IMG_2782

Tepat kita bisa melihat Danau Batur dari kejauhan, motor kami diberhentikan oleh beberapa Bapak-bapak di pinggir jalan. Kami berdua harus membayar retribusi memasuki area wisata. Kami harus membayar Rp 35,000. Lalu, kami diberi 4 lembar tiket, 2 berwarna putih dan, 2 berwarna pink. Setelah saya cek, seharusnya kita cukup membayar Rp 32,000 untuk berdua, dengan rincian per orang Rp  15,000 untuk Tiket Danau Batur dan Rp 1,000 untuk premi. So, Rp 3,000-nya kemana? Ke kantong pribadi mereka lah. Bayangkan aja kalau sehari ada 500 turis yang datang, banyak sekali ya yang mereka peroleh?

Di Bali, pungli-pungli seperti ini banyak terjadi, jadi tetap waspada aja ya!

Lupakan pungli, mari sejenak kita menikmati indahnya Danau Batur.

Untuk mendekati danaunya, kita harus menuruni jalan menurun agak curam. Motor sewaan kita sudah lumayan tua, jadi kita agak was-was.

Di dekat danau Batur, ada pemandian air panas yang katanya recommended untuk didatangi. Waktu kami terbatas, jadi kami hanya sekedar sightseeing di Danau Batur saja.

IMG_2772

Love in Batur Lake *judul baru drama Korea, launching 2016, hehe*

Sekitar jam 2 siang kami kembali menuju Ubud. Tapi sebelum itu, kami mau mampir ke Sawah Teras Tegalalang. Tegalalang inilah yang menjadi salah satu lokasi shooting film Cinta Silver. Jadi, sawah teras ini membawa kesan tersendiri untuk saya.

Karena Suami capek banget bawa motor, dia pengen minum sesuatu. Di pnggir sawah teras, ada beberapa cafe yang menjual makanan dan minuman, dan juga menjual pemandangan sawah terasnya. Kami mampir ke salah satu Cafe, memesan kopi hitam dan es buah seharga total Rp 57,000. Kalau Cafe yang menjual view cantik, pasti harga makanannya mahal. No surprise J

Puas dari sawah teras, kami langsung kembali ke Villa, karena waktu sewa motor sudah hampir habis, dan harus dikembalikan. Sebelum ke Villa kami membeli makan malam dahulu dan isi bensin. Coz we want to spend our last night in Ubud a bit longer in Villa. *winked*

Hari ketiga dan hari terakhir di Ubud.

Pagi harinya, kami hanya berkemas dan sarapan saja. Kami sengaja menyiapkan energi untuk perjalanan yang cukup lama ke Lombok. Jam 10 kita check out dari hotel. Dan senangnya lagi, Villa Mandi ini menawarkan jasa shuttle bus gratis ke pusat kota Ubud, tapi hanya pada jam-jam tertentu. Jam keberangkatan kami ke Lombok dari pusat kota itu jam 11. Jadwal shuttle bus dari Villa ke kota ada pada jam 10. Pas banget! Jadi kita ga perlu sewa kendaraan seharga Rp 50,000 sekali jalan ke kota.

Saat check out, kami sangat diperlakukan secara ramah oleh resepsionis dan juga manajer Villa bernama Bli Wayan. Mereka menanyakan kesan-kesan kami selama menginap. Ternyata Bli Wayan ikut naik mobil bersama kami ke pusat kota Ubud. Bli Wayan meminta saya untuk menuliskan testimoni Villa di website traveloka (Done with it!).

Service Villa Mandi Ubud top deh! Harga terjangkau, kamar di-upgrade, pelayanan memuaskan!

IMG_2791

Tiba di pusat kota Ubud, saya belanja perbekalan roti untuk di jalan, sambil ngopi-ngopi di Breadlife. Jam 11 pas, kami pergi ke agen, ternyata kendaraan Elf berwarna putih sudah markir di depan kantor agennya. Kami pun langsung berangkat!

Lombok , We’re coming!

To be continued.

NB : Saya ingin sharing tentang catatan pengeluaran perjalanan honeymoon saya. Mungkin bisa jadi referensi buat teman-teman yang mau ber-honeypacker (honeymoon ala backpacker, hehehe).

Catatan pengeluaran Honeymoon 19 – 21 Mei 2015

Tiket Pesawat PP Jakarta – Denpasar 2 orang (Peak season) : Rp 2,900,000

Villa Mandi Ubud Superior Room 2 malam                             : Rp 771,000

19 Mei

Belanja circle K             50,000
Tol                                 10,000
parkir                            5,000
Carter mobil                  250,000
Sarapan Bakmi GM       71,000
Sewa Motor                  50,000
Makan Warung Ijo          60,000
Nonton Legong 2 orang 160,000
beli Sendal                    50,000
Belanja Alfamart            105,000
Damri                           110,000
Total 921,000
20 Mei

Tiket kintamani              35,000
Makan Ayam betutu       47,000
Es krim DQ                   39,000
Isi bensin                      40,000
Makan Warung Ijo        67,000
Parkir Sawah Teras        5,000
Makan cafe sawah teras 60,000
Toilet                            3,000
Tiket ubud-Lombok       220,000
Total                             516,000

21 Mei
Roti Breadlife plus capucino 50,000

Total : Rp 5,158,000

  • wah villanya muraah, tapi mesti nabung buat akomodasi ke sananya hihi.. kapan2 deh hanimun 😀

  • Siti Lutfiyah Azizah

    I like the post ka.. Cenderung informatif..
    Ga terlalu berlebihan karena euforia pasangan baru :).
    Selalu kagum ama dewasa dan ramenya kaka yg pada tempatnya, hehe.

  • Ubud emang cocok buat yg nyari ketenangan, apalagi buat yg lagi honeymoon ^.^
    Sayang ya ngga nyobain ayam kedewatan…