The Honeymoon Story : Mayura Palace, Senggigi, and Gili Trawangan

Pagi kedua di Lombok.

Saya dan suami luar biasa kelelahan gara-gara motorcycle trip ke kaki gunung Rinjani kemarin. (Baca cerita honeymoon kami disini).

Tetapi kami harus recharge ulang energi, because today we’re going to Gili Trawangan! Yeiy!

Saya excited banget ke Gili Trawangan, konon katanya cantik banget. Dan waktu liat acara NatGeo Travel, Gili Trawangan itu cantik banget.

Sebelum berangkat, suami beraksi dulu di dapur dengan memasak sarapan untuk kita berdua. Dengan memakai bahan belanjaan dari pasar Mandalika kemarin, suami memutuskan untuk bikin nasi goreng!

Selagi suami masak, saya beresin rumah. Lucunya kami berdua, posisi pekerjaan rumah rada terbalik, hehe.

Muncul sepiring nasi goreng berbentuk gunung kecil di atas meja.

“Ngapain di-gini-in mas?” tanya saya heran.

“Ini namanya Nasi Goreng Rinjani, bentuknya kayak gunung, hehe…” jawab suami bangga sambil nyengir.

Cieh, mentang-mentang habis dari Rinjani, bentuk nasgornya kayak gunung, hehe..

Guten Apetit!

As always, masakan suami enak banget. Memang skill masak dia yang bikin saya klepek-klepek. :p

JALAN-JALAN DI TAMAN MAYURA

Sebelum pergi menuju pelabuhan untuk naik kapal ke Gili, kami berdua memutuskan untuk mampir mengunjungi salah satu situs bersejarah di Mataram. Rasanya kurang afdol kalau udah ke Lombok, tapi engga eksplor ibu kotanya.

Sebenarnya ada banyak situs-situs bersejarah di Mataram yang menarik untuk didatangi. Tapi karena waktu kami terbatas, kami memutuskan untuk pergi ke Taman Mayura yang berada di pusat kota Mataram. Taman Mayura saya pilih karena pertama, saya anak Landscape Architecture. Kedua, Taman Mayura ini masuk ke top ten sights di Lonely Planet.

Konon kan kerajaan Mataram itu sangat termahsyur di jamannnya. Sehingga, tentunya meninggalkan segudang cerita menarik!

Dari Labu Api menuju Mataram hanya membutuhkan waktu 30 menit. Kali ini, saya benar-benar berterima kasih dengan Google Map yang sudah membantu mengarahkan jalan menuju lokasi wisata yang akan kami datangi!

Setiba di gerbang Taman Mayura, motor kami diberhentikan dan kami harus membayar tiket masuk sebesar 20,000 untuk 2 orang. Sayangnya, mereka tidak menyediakan brosur berisi info situs Taman Mayura.

“Hanya itu aja  mbak informasinya..” jawab si bapak sambil menunjuk ke papan besar dekat gerbang. Dia juga memberi kami tiket dan selendang mini bewarna kuning untuk dipakai di pinggang. Isinya tentang sejarah singkat berdirinya Taman Mayura.

IMG_2863

Ukuran Taman Mayura tidak terlalu besar, hanya sepetak komplek yang dipagari dimana di tengahnya ada pendopo yang dikelilingi oleh kolam air. Kolamnya lumayan besar. Saat kami berkunjung, tidak banyak turis yang datang. Mata saya langsung tertuju pada pendopo di tengah kolam itu. Pendopo dengan komplek Taman Mayura dihubungkan dengan jalan setapak. Kami menyempatkan diri untuk berfoto-foto ala lovebirds yang sedang dimabuk cinta #eaaa.

IMG_2845

Kita bertemu seorang lelaki yang ternyata bekerja disitu.

“Mas, kita boleh masuk ke pendopo ga ya?” tanya saya penasaran setelah lihat gerbang menuju pendopo terkunci.

“Oh boleh-boleh, sebentar saya ambilkan kuncinya ya” jawab dia ramah.

Waaah, ternyata bisa masuk to, kirain ga boleh, untung aja nanya. Hehe.

Gue punya feeling kalau ambil foto di tengah pendopo pasti bagus hasilnya. And it’s true!

IMG_2863

Viewnya cantik banget kalau berdiri dari pendopo. Konon, Taman Mayura ini dulunya hutan yang sangat lebat, dan raja yang mimpin pada jaman itu ingin ada taman yang bisa memberikan keamanan dan keindahan. Dari Taman Mayura kita bisa melihat Pura Meru, salah satu spot wisata di kota Mataram.

Di pendopo inilah saya sadar kalau memang orang bisa ‘lihat’ Bali di Lombok, tapi tidak bisa lihat Lombok di Bali. Ada beberapa situs dan peninggalan Hindu di Mataram, sehingga beberapa sudut kota Mataram terlihat seperti Bali.

IMG_2893

Setelah puas muter-muter Taman Mayura, kita langsung berangkat menuju pelabuhan Bangsal, untuk naik boat ke Gili Trawangan.

IMG_2937

PASSING THROUGH SENGGIGI BEACH

Perjalanan dari Mataram ke Pelabuhan Bangsal memakan waktu sekitar 2 jam. But, thank God, perjalanan 2 jam ini tidak terasa karena jalurnya itu berada di pinggir pantai Senggigi!

Meninggalkan kota Mataram, kita memasuki area pantai Senggigi.

Yang lebih menarik lagi adalah jalur jalan di pinggir pantai Senggigi itu bergelombang naik turun. Sehingga kita bisa melihat indahnya pantai Senggigi dari atas. Super!

IMG_3101

Saat berada di jalan bagian atas..

“Wow cantik banget mas pantainya!!” teriak gue terkesima.

Mata mas andik terbagi dua, satu ke pantai, satu lagi ke jalan. Hehehe.

Kita pun berhenti sejenak untuk mengambil beberapa foto berdua, meski panas terik, foto sih jalan terus! :p

IMG_4626

Love in Senggigi <3

Beberapa area pinggir pantai Senggigi telah dipenuhi oleh resort-resort milik operator internasional seperti Sheraton dan Holiday Resort. Pastinya menginap disana mahal sekali.

Garis pantai Senggigi lumayan panjang. Melewati pantai Senggigi, kami memasuki area bernama Tanjung, disitulah pelabuhan Bangsal berada. Setiba di pelabuhan Bangsal, kami menunggu Awal, guide kami yang masih di jalan. Sambil menunggu, kami makan siang dengan bekal indomie goreng plus telor yang sudah kami buat pagi hari. Alhamdulilah, mengenyangkan.. Harus irit-irit karena di Gili Trawangan kami harus mengeluarkan uang lumayan untuk penginapan, makan, dan snorkeling.

Awal datang sekitar jam 2 siang, kami langsung pergi ke loket untuk memberi tiket. Untuk naik perahu tradisional, setiap orang dikenakan Rp 15,000 untuk rute Gili Trawangan. Lama perjalanan sekitar 30 menit.

Karena ini perahu lokal, tidak ada jadwal keberangkatan yang pasti, mereka menggunakan sistem “kalau penuh, perahu berangkat”. Jadi, kalau ke loket, pertanyaannya bukan “jam berapa perahu berangkat?” tetapi “berapa orang lagi supaya perahu berangkat?”.

Karena perahu masih belum penuh penumpang, kami harus menunggu sekitar 20 menit. Muncul suara dari speaker kalau perahu menuju Gili Trawangan akan segera diberangkatkan.

FYI, Perahu di Pelabuhan Bangsal punya 3 rute berdasarkan pada tiga pulau yang ada di area Gili Trawangan, yaitu Gili Trawangan, Gili Air, dan Gili Meno.

Sekitar jam 14.30, perahu pun diberangkatkan.

So excited to see Gili Trawangan!

Setibanya di Gili Trawangan, kami disambut oleh huruf-huruf besar berwarna merah bertuliskan “GILI TRAWANGAN”. Gue sudah tidak kaget lagi melihat begitu banyaknya bule-bule yang juga datang untuk berlibur. Gili Trawangan ini memang sudah jadi sasaran turis internasional.

Gue pun menengok kembali ke arah laut. Oh my God.. it’s so beautiful.. so blue.

Rasanya Adem banget lihat air laut berwarna gradasi dari biru muda sampai biru tua.

Memasuki jalan utama di Gili Trawangan, saya begitu terkesima melihat Gili Trawangan untuk pertama kalinya, kanan-kiri jalannya dipenuhi toko-toko dan resto. Jalanan sudah dipenuhi turis-turis lokal maupun asing yang berjalan kaki, ada juga yang naik sepeda. Yang unik adalah disini ada delman!

Sudah menjadi peraturan lokal kalau menggunakan kendaraan bermotor itu dilarang disini. Disamping sulit juga mendapat bensin di pulau ini, tetapi juga ada misi lingkungan supaya pulau ini tidak polluted. Very good!

Awal langsung membawa kita untuk survei penginapan. Kami akan menghabiskan semalam saja disini, saya bilang ke Awal kalau budget penginapan kita tidak melebihi Rp 300,000 per malam. Harapannya sih harga segitu bisa dapet yang bagus, dan wajib ada AC-nya! Disini super duper panas, so AC is a must!

KIDI’S LUMBUNG

Pilihan penginapan kami jatuh pada KIDI’S LUMBUNG. Penginapan ini ditemukan oleh Awal yang sudah familiar dengan pulau Gili Trawangan (dia bekerja di salah resto di pulau ini). I fell in love with this guesthouse because of the architecture. Dengan harga Rp 300,000, kami dapat satu kamar berbentuk lumbung khas lombok plus sarapan pagi. Sayangnya tidak disediakan TV.

IMG_2958

Kidi’s Lumbung

IMG_4563

Setelah deal kamar, suami memutuskan untuk istirahat sebentar di kamar. Energi kami berdua benar-benar tersedot oleh sengatan matahari. Kami akan ketemu Awal lagi sekitar jam 5 sore untuk keliling pulau sambil melihat sunset.

Ternyata suami tidur pulas di hotel, ya ampun kesian banget ngeliatnya. Hahaha.

Jam 5 sore kita keluar dari hotel, lalu kita menyewa sepeda seharga Rp 30,000 per orang untuk 24 jam. Lumayan murah, ini pun hasil nawar (aslinya Rp 60,000).

Ditemani Awal dan pacarnya, kita berkeliling pulau Gili Trawangan dengan sepeda. One of the most recommended activity in Gili Trawangan is riding a bike!

RIDING A BIKE IN GILI TRAWANGAN

Sayangnya, sepeda saya sudah agak tua, jadi gowesnya kurang enak.

Lokasi pertama yang kita kunjungi adalah penangkaran kura-kura. Saya bisa lihat ada sepetak kolam buatan, dimana bayi-bayi penyu hidup disitu (Lucunyaaa >.<). Mungkin setelah umurnya cukup, mereka akan dilepaskan ke laut.

IMG_2959

Setelah itu, kami bersepeda menuju sisi barat pulau Gili Trawangan. Pelabuhan Gili dan penginapan kami berada di sisi timur, sehingga kami harus mengitari pulau untuk melihat sunset.

Sepanjang jalan saya bersepeda, saya hanya bisa melihat penginapan atau toko di sisi kiri, dan restoran atau bar di sisi kanan, rata-rata dipenuhi oleh bule-bule. Pulau ini memang dipenuhi oleh turis asing!

Yang menarik dari pulau ini adalah karena Lombok itu mayoritasnya muslim, di tengah pulau Gili ada mesjid besar. Dan saya lihat di dinding luar masjid ada tulisan dengan dua bahasa (Inggris/Indonesia)  “Mohon tidak melewati Masjid ini dengan Bikini”. Tulisan ini intinya memohon agar turis asing bisa pay respect dengan norma lokal disini.

Bersepeda menyusuri pinggir pantai sangat menyenangkan, tetapi menjadi tidak menyenangkan jika jalannya berubah menjadi pasir. Susah banget gowes sepeda di atas pasir! Alhasil, saya mending turun dari sepeda, dan bawa sepeda sambil jalan kaki. Hehehe.

Awal menceritakan kalau ada spot bagus di Gili Trawangan untuk melihat sunset. Spot itu ada instalasi ayunan di atas laut yang dangkal. Biasanya, orang-orang pergi kesana.

Tidak sempat browsing detail tentang Gili Trawangan, saya jadi penasaran.

Setiba di satu area cafe, saya bisa melihat ada tiga ayunan besar yang terpasang di atas pinggir laut. Disana sudah ramai pengunjung yang ingin berfoto dengan sunset dan ayunan.

“Ayo masss, kita bikin foto ala honeymoon.. hehehe” sahut saya ke suami, jauh-jauh dateng kesini, let’s make a nice photo!

Menunggu giliran berfoto, saya melihat langit yang semakin lama semakin menggelap, sunset is on now!

Saat giliran kami tiba, saya siap-siap duduk di ayunan, dan suami mengayunkan ayunannya.. Hihihi. Seru juga main ayunan di atas air.

IMG_2997

Alhamdulilah, akhirnya kami bisa lihat sunset di Gili Trawangan sore itu.

IMG_2986

Hari semakin gelap, kami pun kembali ke sisi Timur untuk cari makan malam.

Ternyata semakin gelap, area resto dan bar justru semakin ramai, ditemani dengan lampu-lampu gemerlap. Gili Trawangan is going more crazy at night!

Saya melewati resto-resto mahal yang menyajikan ikan-ikan dan seafood segar, sungguh menggiurkan. Awal menyarankan agar kita makan di pasar malam, katanya murah meriah dan enak.

Setiba di pasar malam, saya bisa melihat warung-warung terbuka yang menjajakan makanan laut, seperti ikan, udang, cumi, dan lain-lain, Aneka seafood mentah yang sudah dibumbui ditaruh di atas meja, dan siap dibakar. Saya juga melihat ada satu warung dimana banyak orang bule ngantri. Eh apaan tuh ya? Kok rame bener?

Oalaah, setelah saya lihat dari dekat, ternyata itu warung nasi campur!

IMG_3014

Makanan khas di Lombok yang murah meriah adalah Nasi Campur. Kalau di Sunda sih sebutannya Nasi Rames. Nasi dicampur dengan lauk pauk dalam satu piring. Saya lihat menu lauk pauknya, ternyata Indonesia banget, ada tumis buncis, kering tempe, gorengan, telor dadar, telor balado. Pokoknya makanan sehari-hari orang Indonesia. Entah saya merasa bangga melihat bule-bule rela ngantri demi beli nasi campur, hahaha.

IMG_3016

Aneka Seafood

IMG_3018

Saya dan suami memutuskan untuk ngantri di nasi campur, bareng-bareng dengan bule lainnya. Rata-rata bule engga beli nasi putih, mereka hanya mencampur lauk pauk dengan sayuran, kadang-kadang ada yang pakai mie goreng. Saya dan suami memilih nasi dengan 2 jenis lauk harga totalnya sekitar Rp 45,000. Kami juga memesan satu sate udang dan sate ikan bakar, masing-masing harganya Rp 20,000. Penasaran aja sih, gimana rasanya makan seafood di Gili Trawangan.

Menurut saya, harga makanan dan minuman di Gili Trawangan agak lebih mahal dari harga di Pulau Lombok. Semua itu masuk akal karena semua pasokan bahan makanan dan minuman itu berasal dari pulau Lombok. Tentunya ada biaya distribusi dan lain-lain yang bikin harga makanan lebih mahal. J

Malam itu, kami menikmati makan malam dengan nasi campur dengan sate seafood dengan nuansa outdoor. Yummy~

Selesai makan malam, saya dan suami memutuskan untuk kembali ke hotel. Karena besok kita akan lihat sunrise lalu ber-snorkeling ria, jadi harus nyimpan energi!

MORNING IN GILI TRAWANGAN

Kami bangun pagi sekitar jam 5. Solat subuh lalu siap-siap ke pantai untuk lihat sunrise. Menyusuri jalan dari hotel ke pantai, ternyata masih sepi dan belum ada tanda-tanda kehidupan.

Setiba di pinggir pantai, kami hanya melihat beberapa orang yang juga akan melihat sunrise. Sayangnya, langit pagi itu agak berawan, sehingga kita tidak bisa melihat sunrise secara sempurna. But, in the end, it was nice to watch sunrise in there J

IMG_3032

Ketika hari sudah terang, perut kami lapar. Ternyata dekat penginapan, ada warkop. Saya dan suami langsung pesan 2 gelas kopi instan plus jajan snack disitu. Sengaja kami ngemil-ngemil dulu, karena sarapan yang diberikan penginapan hanya omelet dan roti, sudah dipastikan tidak akan kenyang. Hehehe.

IMG_3063

Kembali ke hotel, kami sarapan lalu packing dan berganti pakaian untuk snorkeling. Jam 10 kami bertemu Awal lagi untuk berpamitan, sekalian mengantar kami ke meeting point untuk snorkeling. Kami menggunakan jasa snorkeling dari temannya Awal, harganya Rp 100,000 per orang.

IMG_3065

Untungnya siang itu cerah dan lautnya bener-bener cantik. Sebelum naik kapal, kami mengukur kaki untuk mendapat fin. Setelah menerima fin, kami langsung naik boat.

Disitulah kami berpamitan dengan Awal dan pacarnya, terima kasih sudah mau mendampingi kami ya!

IMG_3069

SNORKELING IN GILI

Di dalam satu boat, hanya dua pasang orang Indonesia saja, sisanya bule-bule.

IMG_3070

Kami ditemani oleh guide lokal yang berbahasa Inggris aksen Lombok, jadi rada-rada engga paham deh, hahaha.

Kapal yang saya naiki itu ada kaca di lantainya, jadi kita bisa lihat bawah laut. Wow.

Kapal kami berangkat, setiap orang diberikan google plus alat bernafas.

Ini kali keempat saya bersnorkeling, pertama di Karimun Jawa, kedua di Anyer, ketiga di Krakatau.

IMG_3067

Saya excited untuk snorkeling, karena saya baru aja bisa menyelam ke arah dasar laut. Meski masih berani 2 meter dari permukaan laut, tapi yaa boleh laah. Hehe.

Tiba di spot pertama, kami diberi arahan area mana yang boleh kita susuri lalu kita diperbolehkan nyemplung.

Lama engga nyemplung ke laut, saya ambil pelampung baju untuk jaga-jaga.

Malunya lagi, engga ada satu orang pun yang pakai pelampung saat nyemplung ke laut! Haha. Mereka dengan cueknya nyebur dan berenang menggunakan kaki mereka.

Tapi apa boleh buat, saya tidak pakai pelampung, tapi saya Cuma pegang pelampungnya aja. In case capek berenang.

Sesaat setelah nyebur, akhirnya saya bisa merasakan kembali gimana rasanya berenang di laut. Subhanallah luar biasa… ditambah suami ikutan berenang di samping saya untuk pertama kalinya, hihi.

Saya pun menyusuri area sekitar kapal yang terparkir, sambil sesekali melihat ke dasar laut. Melihat terumbu karang dan ikan laut. Cantiknya~

IMG_3082

Kami diberi waktu 30 menit, lalu kapal kami berangkat menuju spot berikutnya.

Spot berikutnya adalah Turtle spot!

Kalau beruntung kita bisa lihat kura-kura yang berenang di bawah laut. Lucky us, si guide menunjukkan kura-kura yang berada di bawah kami. Woooo, gede banget kura-kuranya.

Selama satu hari, kami mengunjungi 3 spot snorkeling. Perjalanan kami berakhir di pulau Gili Air. Kami diberi kesempatan untuk berganti baju dan makan siang di pulau ini sebelum kembali ke Gili Trawangan. Berhubung saya dan suami mau langsung ke Lombok, kami langsung naik kapal dari Gili Air menuju Bangsal, dan tidak ikut rombongan.

Kami dikagetkan oleh restoran yang diarahkan oleh guide kapal untuk makan siang. Ternyata harganya luar biasa mahal! Karena udah tanggung duduk, kita Cuma pesan 1 kelapa batok seharga Rp 33,000. Sambil minum air kelapa, kita gantian mandi dan ganti baju.

Sekitar jam 2 siang, kita meninggalkan pulau Gili Air dengan perut lapar. Karena terlalu shock dengan harga makanan restoran tadi, kita memutuskan untuk makan di dekat pelabuhan Bangsal.

Hanya 20 menit untuk tiba di Pelabuhan Bangsal, kami langsung ambil motor dan cari warung makan. Untungnya kami nemu warung nasi campur di pinggir jalan. Suami pesan nasi campur seharga Rp 12,000 dan saya pesan ayam goreng kampung plus nasi seharga Rp 20,000. Kami makan dengan khidmat dan lahap. Hehe.

Sekitar jam 3 sore, kami kembali menuju Labu Api, rumah bang Dul.

Sebelum ke Labu Api, kami berencana melihat sunset di Senggigi dan singgah di Mataram untuk makan malam dengan Ayam Taliwang yang asli.

Penasaran ceritanya?

Simak disini ya!

*To Be Continued*