Perjalanan bersama China Railway Highspeed Train

Kepekaan Pemerintah China terhadap Sistem Transportasi

Sistem transportasi di China perlu gue acungi jempol. Kenapa? gue cukup salut dengan negara China yang ‘sadar’ bahwa masyarakat disana sangat membutuhkan transportasi yang layak dan nyaman yang bisa menghubungkan antar wilayah di China yang begitu buesaarr. Ditambah lagi, China yang diokupasi lebih dari 1 milyar penduduk (ini baru penduduk aslinya, belum penduduk asing loh) yang tersebar di area mainland China yang luaaass banget, so bakal butuh banget jalur transportasi yang nyaman dan terjangkau bagi warganya.

Pernah mendengar China Highspeed Railway atau CRH?

Sekitar tahun 2010, Pemerintah China meresmikan kereta listrik tercepatnya, bernama China Highspeed Railway atau CRH Train. CRH ini bisa disebut-sebut sebagai Shinkansen-nya China. 🙂

Gue tau informasi ini waktu lagi baca Headline koran Kompas tahun 2010.  Disitu informasinya dijelaskan bahwa perjalanan dari Shanghai ke Beijing dengan jarak sekitar 1228 km dapat ditempuh dengan kereta ini selama 4,5 jam doank! Wedan cepet banget!

Bayangin aja nih, Jarak Jakarta ke Surabaya itu sekitar 664 km, sedangkan Shanghai ke Beijing bisa dibilang 2 kalinya dari Jakarta-Surabaya. Gue ngebayangin naik kereta Jakarta ke Surabaya trus balik lagi ke Jakarta cuma 4,5 jam! Rasanya apa kayak ngedip mata ya? hehe.

Semenjak gue baca koran itu, gue jadi pengen banget bisa ngerasain sensasi naik kereta cepet. 🙂

Selang beberapa bulan setelah baca koran, gue diberi kesempatan buat mengunjungi negara China untuk kedua kalinya. Trip kedua kali ini gue dateng ke simposiun yang diadakan di kota Zhenjiang, kota kecil di sebelah barat laut dari Shanghai, kota ini berada di antara lintasan highspeed railway Shanghai dan Beijing, so bisa banget kalo mau naik kereta dari Zhenjiang ke Beijing/Shanghai. untungnya lagi, gue dapet 3 hari tambahan di luar acara utama, so I decided to go to Beijing dengan naik kereta CRH! Yeay, kesampean juga!

Tau gue bakal naik kereta itu, gue langsung search informasi selengkap-lengkapnya tentang CRH, supaya ga sekedar ‘naik’ kereta aja. Tapi gue bisa berbagi informasi melalui tulisan ini.

Membeli tiket

Berdasarkan pengalaman gue, beli tiket CRH agak-agak gampang-gampang susah. Seperti cerita gue sebelum-sebelumnya tentang China, kalau kalian engga menguasai bahasa Mandarin, memang agak sulit untuk berkomunikasi, terutama dalam membeli tiket.

Keberangkatan gue ke Beijing dengan kereta CRH ini tepat setelah simposium selesai. Gue mendarat pertama kali di Shanghai, lalu pergi ke Zhenjiang untuk simposium, dan pesawat pulang pun akan lepas landai di Shanghai. So, kemanapun gue pergi, gue harus kembali ke Shanghai. Karena jarak Zhenjiang ke Beijing lebih dekat dibanding Shanghai ke Beijing, so gue mencari tahu informasi keberangkatan kereta dari Zhenjiang ke Beijing, lalu pulangnya dari Beijing ke Shanghai. SO, rute perjalanan yang gue tetapkan adalah..

Zhenjiang – Beijing – Shanghai

Sewaktu gue lagi cari informasi tentang cara pembelian tiket, gue sempet deg-degan karena takut ga dapet tiket kereta yang sesuai dengan hari dan jam yang gue pengen. Jadwal perjalanan gue di China sangat terbatas waktunya plus tiket pesawat kepulangan sudah fix ga bisa diubah. Ditambah lagi, gue engga dapet informasi apa-apa tentang kereta CRH dari Zhenjiang ke Beijing. DI web, cuma ada info kalau Zhenjiang ada rute kereta menuju beijing. and that’s it. arrghhh, gue pusinggg…

Sebenarnya kita bisa mau beli tiket via online sebelum sampai di China, tapi gue sendiri belum ada modal duit buat beli. DI informasi yang gue dapet, kita juga bisa beli tiketnya langsung di kounter stasiun tempat kita berangkat. Kalau beli langsung, gue bertanya-tanya, “apa kita bakal dapet tiket ya?”

Gue jalan-jalan ke Beijing bareng 10 temen gue, so, jumlah seat pastinya harus 10.Dan ga mudah buat dapetin tiket untuk 10 orang dalam waktu yang bersamaan. Apalagi kalau lagi musim liburan. Mana keberangkatan gue ke Beijing itu awal bulan November, dan awal bulan November itu ada beberapa perayaan musim gugur di Beijing. wew~

Akhirnya daripada pusing-pusing, gue kontak temen Chinese gue namanya Pengfei. Untungnya dia lagi sekolah di Shanghai, jadi gue bisa tanya2 seputar gimana kalau mau beli tiket CRH. Gue sendiri ada rencana buat ketemuan ama dia kalau gue tiba di Shanghai. 🙂

Gue email ke dia, apa dia nanti bisa bantu gue buat beli-beli tiket CRH. Ternyata dia dengan baik hati merespon positif, dia bersedia bantu! Alhamdulilah.. Thanks Pengfei.

Setiba di Shanghai, gue ketemu Pengfei, dan gue menceritakan tentang rencana perjalanan gue. Ga lama diskusi, dia mengerti maksud gue, dan dia ngebawa gue ke salah satu kounter tiket di Shanghai South Railway Station. Gue inget banget saat itu udah jam 10 malem, dan konter tiket masih penuh sama antrian orang-orang (yang kebanyakan Chinese) mau beli tiket juga. FYI, konter tiket yang berada di kota-kota besar umumnya ada konter khusus yang teller-nya bisa berbahasa Inggris.

Berhubung gue ada Pengfei, jadi kita antrinya loket biasa. 🙂

Sewaktu giliran gue lagi transaksi, Pengfei mulai bicara sama mas-mas tellernya pake bahasa Mandarin. Sambil Pengfei ngobrol, mas-masnya ngeliat komputer, sepertinya kayak ngecek rute dan jadwal. Gue sendiri agak deg-degan, gue takut tiket habis, gue takut ga ada rute yang gue inginkan, pokonya gue deg2an, takut ga jadi ke Beijing.  Setelah ngobrol lumayan lama, Pengfei langsung menangkis semua rasa deg-degan gue dengan jawaban yang melegakan.

10 tiket ada dengan rute yang gue inginkan dan dengan jam yang gue inginkan pula. Alhamdulilahh..

Tapi, dengan satu catatan. ternyata untuk keberangkatan gue naik dua kali kereta. Dari Zhenjiang, gue harus naik kereta ke Nanjing. Dari Nanjing, gue naik kereta menuju Beijing. Hmm, wes lah, gue langsung booking aja. Urusan dimana itu Nanjing, gimana nanti pindah kereta, itu urusan belakangan, hehe.

Dengan mengeluarkan segepok duit hasil ngumpulin brg 10 temen gue, akhirnya terbelilah 30 kartu yang bakal jadi tiket kita naik CRH.

Harga? Harga Tiket Kereta CRH Shanghai ke Beijing atau Sebaliknya itu RMB 555 (sekitar 800ribuan rupiah).  Jadi, kalau mau bulak balik Shanghai – Beijing – Shanghai, harganya RMB 1110 atau sekitar 1,6 juta rupiah.

Perjalanan gue saat itu menghabiskan sekitar 1000 sekian yuan, dengan rute :

Zhenjiang – Nanjing – Beijing – Shanghai.

Setiap tujuan ada 1 tiket, jadi per orang ada 3 tiket.

Karena jarak Zhenjiang lebih dekat ke Beijing, tiket kberangkatan gue lebih murah. 🙂

Setelah urusan tiket beres, hati gue pun lega. Padahal belum berangkat. hehe

Gue ingin berterima kasih ke Pengfei yang sudah membantu membelikan tiket gue dkk. Thanks Pengfei!

So, gue berpesan ke kalian yang mau ke China, carilah teman yang tinggal disana! Mereka akan ngebantu banget kalau kita mau ngetrip, hehe.

Informasi harga, jadwal keberangkatan dan rute bisa dilihat disini dan disini.

Tiket China Railway High Speed Train

Menaiki Kereta 

Another Challenge.. Gimana caranya ke stasiun kereta itu?

Hehe..

Well, gue juga dibuat pusing dengan ini. Karena setelah gue beli tiket, gue tunjukin tiketnya ke panitia, supaya mereka bisa bantu nganterin ke stasiun.

Karena tiket berangkat gue ada dua (Zhenjiang ke Nanjing dan Nanjing ke Beijing), mereka memberitahukan ke gue sesuatu yang lebih memusingkan.

Ternyata stasiun kita tiba di Nanjiang nanti akan beda dengan stasiun keberangkatan kita ke Beijing. ouch.. nambah puyeng gue..

panitinya bilang kalau nanti gue akan naik kereta dari Zhenjiang Station menuju Nanjing Station, nah habis itu gue harus naik taksi buat pergi ke Nanjing South Station yang lokasinya jauh dari Nanjing Station, Nanjing SOuth Station ini kereta CRH menuju Beijing akan lewat di stasiun ini, wew~

Gue mencoba berpikir tenang, aal iz well,  gue yakin gue bakal bisa sampe Beijing. Soalnya temen-temen gue udah percaya ama gue, hehe. Gue lakonin aja satu-satu, Yes I can make it!

Setelah dianter panitia, gue tiba di Zhenjiang Station. Stasiun ini cukup rapih dan modern (beda banget ama Gambir!).

Jangan terlalu kuatir bakal takut ga tau dimana letak peron keberangkatan, di setiap stasiun China, dipasang papan besar kayak di bandara-bandara yang nunjukin kode kereta dan jadwal keberangkatan. angka adalah angka, engga akan diubah jadi huruf mandarin ko., hehe.

Cukup hafalin kode kereta kita dan jam keberangkatan, nanti di papan itu akan diinfokan peronnya dan kapan harus masuk ke kereta.

Departure Board at the Lobby of Zhenjiang Train Station

Satu hal lagi yang sangat gue acungi jempol dari transportasi negeri asing adalah ketepatan waktunya. Jadwal keberangkatan kereta yang akan gue naiki itu jam 10.00, dan keretanya sampai tepat jam segitu. wow, bravo.

Kereta pun datang tepat pada waktunya.. 🙂

Gue dan rombongan langsung nyiapin tiketnya buat disensor di mesin untuk masuk ke peron. Gue pun ngikutin orang-orang yang lagi jalan disitu. Kalau masih ga yakin apa benar itu kereta kita, kita bisa cek di layar yang terpampang di dinding luar kereta. Cek aja rute dan jamnya 🙂

Departure Sign

Detik-detik keberangkatan CRH Train

Selama di Kereta

Kita gotong koper masing-masing, dan kita taro di ujung gerbong kereta, karena ga ada tempat khusus so, kita taro disitu aja aja, hehe.

Gue pun duduk manis di seat paling ujung dan paling belakang di kereta. Gue takjub ngeliat interior keretanya,

selain kereta yang pernah gue tumpangi di Jerman. Kereta CRH ini interiornya bener-bener manteb!

Kebersihannya juga oke banget, meski sayang selama naik kereta ini kita ga dikasih makanan gratis (jiwa mahasiswa masih kebawa saat itu).

Perjalanan di kereta pertama ini menghabiskan waktu sekitar 20 menit. Bentar banget, karena Zhenjiang ke Nanjing itu deket mungkin kayak dari Bogor ke Puncak. Sebelum berangkat, gue nyempetin diri buat ambil beberapa foto di dalem kereta.

Smillee on CRH Train 😀

Kereta pun berangkaatttt…

FIrst impress gue terhadap kereta pas udah jalan.. very smooth…

Seumur-umur, gue belum pernah naik kereta sehalus ini. Engga tuh tuh bunyi “Jdeg! Jdeg!” bunyi roda nyentuh rel.

Gue berasa kayak ga naik kereta… 😀

Sampai di Nanjing Station, kita langsung buru-buru ambil koper dan langsung cari pintu exit.

Gue dan rombongan sepakat nge-grup buat naik taksi, kita naik 3 taksi. Gue cuma ingin ngasi tau kalau naik taksi di China bikin stresss,, sangat stress, karena gue sangat emosi jiwa pas mau naik taksi di Nanjing ini karena kita perlu buru-buru naik taksi, kalau ga buru-buru, kita bakal diklakson ama taksi yang udah antri di belakangnya. Plus lagi, supir taksinya sangat ga ramah, dan dia ga mau repot ngurus soalnya bagasi kita yang berat-berat 🙁

Meski setelah antri panjang kita dapet taksi juga, gue pun nenangin diri selama perjalanan di Nanjing. Sambil ngeliat pemandangan Nanjing, gue ngobrol-ngobrol bareng temen gue. 30 menit perjalanan, kita pun sampai di Nanjing South Station. Disinilah kereta yang kita naiki akan langsung nganterin kita ke Beijing.

Kita sampai di stasiun itu H-45 menit sebelum berangkat, so kita ada waktu agak lowong buat jalan ke waiting room.

Ga banyak yang menarik dari stasiun Nanjing. Jam 11 kita langsung naik kereta CRH menuju Beijing. perjalanan akan menghabiskan waktu sekitar 4 jam. Yuk mariii…

Gue pun mencoba menaikkan mood gue untuk menikmati kereta ini. Gue pun mulai berfoto-foto.

Interior Kereta CRH yang modern

Once again, gue bener-bener engga berasa naik kereta, engga tuh badan jadi ga imbang gara-gara keretanya goyang. Mulusss bangett… Gue sempat ketiduran di kereta ini, dan pas kebangunan, dan setengah ga sadar, gue heran gue lagi ada dimana.. hehe.

Sambil dengerin iPod kesayangan, gue melihat pemandangan kawasan sub-urban China. Yang gue lihat hanyalah padang rumput atau hamparan tanah kosong, atau ada juga beberapa bangunan dan tiang listrik. Engga banyak view menarik sih dari luar, tapi yang menarik adalah speed-nya.

Sebenarnya kalau udah di dalam kereta, kita ga berasa naik kereta cepet. Gue coba cek speednya di layar kaca , woww,, udah sekitar 236 km/ha! dan itu belum maksimum! Gue perhatiin seksama, angkanya terus naik dan naik, dan wow.. tembus sampe 350 km/ha! Cepet banget.. gue penasaran gimana kalau gue berdiri beberapa meter sebelah kereta CRH ini. Akan secepat apa ya. Hehehe.

Masih penasaran ama speed-nya, gue coba fokus memandangi luar jendela, gue ngeliat tiang listrik yang selalu ada di setiap beberapa meter, tiang itu lewat gitu. gue fokus liatin tiang-tiang yang dilewatin, woww… cepet banget! tiangnya lewat dalam sekedip aja.. sssett… sseett… seeett… (mungkin begitu kedengarannya kalau ada bunyinya, hehe).

View Dari Jendela Kereta (too fast to enjoy it, lol)

Menuju angka 300 km/h!

 Selama perjalanan, gue membayangkan gimana rasanya kalau ada kereta secepat ini Indonesia, lebih hebatnya lagi, kalau ada kereta yang bisa menghubungkan antar pulau, misal ada lintasan kereta dari Aceh (Sumatera) sampai Banyuwangi (Jawa), mungkin dengen kecepatan setinggi CRH ini, Aceh ke Banyuwangi mungkin bisa menghabiskan waktu hanya sekitar 12 jam aja kali ya.

Gue sebagai penggemar transportasi kereta, gue selalu bercita-cita mungkin suatu saat nanti Indonesia akan punya kereta api yang lebih baik dari sekarang.

Sekitar jam 4, kita pun tiba di Beijing. Disambut dengan cuaca mendung dan udara dingin menusuk, kita pun dengan lega bisa bilang, ” Wow, finally we arrived in Beijing!!!” 😀

Untuk CRH ini, harga tiketnya memang terbilang mahal (apalagi buat kantong mahasiswa). berhubung saat itu waktu gue sempit, jadi waktu lebih penting dibanding uang. Gue ambil kereta cepet ini aja, sekalian ngerasain gimana sih sensasinya, 🙂 Gue recommended banget buat yang pertama kali travel ke Shanghai dan ada rencana mau ke Beijing, kalau ada uang lebih, coba deh naik kereta cepet ini, dijamin maknyus.. hehe.

Let’s Travel With Train! It’s Fast, It’s EcoFriendly also! 😀

Gue bersama CRH Train yang gue naiki tiba di Beijing 🙂

  • oni chaniago

    oh man,,gila jalan2nya modal berani iyeu teh..
    thanks for sharing

    • sevenofcloud

      hahaha, yup semua berawal dr nekat, hihi. yap sama-sama! ^^

  • salam kenal mba, rencana saya mw ke beijing tgl, 12 april trus nyambung tgl. 17 by train ke guangzhou, nach kereta dengan katagori mana niy yg hrs aku ambil yg. Gtrain ato yg T train. yg hardseat yaa (yg lebih murah lah), maklum sekeluarga b4 org gituw.

    ditunggu jawabannya asap yaa. makasiy

    Salam
    Qifty

    • ceritadarikotahujan

      Halo mbak Qifty, untuk memilih kereta sebenarnya tergantung pada budget dan waktu mbak selama travelling, kalau budget terbatas dan waktu agak lowong, ambil saja T train, tapi jika budget banyak dan waktu sempit, ambil saja G train (kapan lagi loh mbak naik kereta cepat, hehe). tapi kalau budget sedikit dan waktu sempit, itu mbak tinggal menentukan sendiri baiknya gimana, hehehe. kalau bawa keluarga, sara saya utamakan kenyamanan, mungkin G train oke! 😀