Waktu gue nonton Eat Pray Love yang dibintangi oleh Julia Roberts, gue tertarik banget sama soundtrack lagu-lagun. banyak lagu-lagu yang ngasi sense of Europe banget. so, iseng lah gue download lagunya,,
gue pun jatuh cinta sama satu lagu instrumen singkat yang berjudul Last Tango In Paris. gue jadi penasaran dengan informasi lagu ini, akhirnya gue googling lah itu lagu. Then, akhirnya gue tau kalo ternyata judul lagu ini diambil dari sebuah film yang judul aslinya “Ultimo Tango El Parigi”, salah satu film Prancis yang populer tahun 70an. Nama inggris dari film ini Last Tango In Paris.
Berhubung gue sangat interest dengan instrumen-instrumen bernuansa Eropa, gue iseng cari lagu-lagu lain dengan titel yang sama, dan gue nemu lagi salah satu soundtrack yang enak banget. entah engga kreatif atau gimana, judul lagunya pun tetep last tango in paris, hehehe. (silahkan dengar disini).
denger lagu itu sambil memejamkan mata, gue rasanya dibawa kembali ke Eropa. ^^
Well, ga sampai disitu petualangan gue mencari “Last Tango In Paris”, pas gue lagi jalan-jalan ke Gramed, ga sengaja gue nemu novelnya! wow! Untungnya harganya ga terlalu mahal, sekitar 40ribu rupiah, gue belilah buku itu. Dengan tenang, gue baca pelan-pelan buku itu, semoga isinya sama menariknya dengan soundtracknya..
Well, setelah full-reading, ceritanya bagus, meski sedikit aneh. perlu dicatat, ceritanya sangat vulgar, budaya barat sangat keliatan banget di buku ini.
Novel ini menceritakan tentang pertemuan tak terduga antara Paul, seorang duda paruh baya dari Amerika yang stres ditinggal mati istrinya yang bunuh diri tanpa sebab (diperankan oleh Marlon Brando) dengan Jeanne, seorang wanita Prancis muda cantik yang akan segera menikah (diperankan oleh Maria Schneider) di sebuah apartemen kosong di Paris. Pada awalnya, mereka engga saling kenal, tapi punya ketertarikan satu sama lain, sampai2 membawa mereka ke hubungan fisik yang terlarang.
Mereka berdua punya cerita hidup masing-masing yang berbeda jauh. Paul yang berduka dengan istrinya, Jeanne yang bahagia dengan tunangannya.
Hubungan mereka terus berjalan dengan perjanjian bahwa merekaberjanji tidak akan menyebutkan identitas mereka satu sama lain.
tetapi, sampai istri Paul dimakamkan, Paul yang awalnya cenderung muram dan angkuh langsung berubah total jadi laki-laki yang terbuka dan ceria. Dengan blak-blakan, Paul menyatakan bahwa dia mencintai Jeanne dan ingin hidup bersama. dari situ, ketertarikan Jeanne langsung turun, menurut gue sih, Jeanne suka dengan Paul yang angkuh, bahkan dia telah menyadari kalo dia melihat Paul itu adalah laki-laki yang udah tua. Akhirnya Jeanne menyatakan bahwa dia ga mau ketemu lagi dengan Paul. Paul justru malah engga terima dengan perpisahan ini. Perpisahan ini terjadi di salah satu gedung di Paris yang sedang mengadakan kompetisi dansa Tango. Lagu “Last Tango In Paris” jadi lagu pengiring dansa itu.
Endingnya cukup tidak terduga, gue sendiri engga mau nyeritain, biar penasaran. hehe.
lupakan dengan kevulgarannya, buku ini memberikan imajinasi gue terhadap kota Paris, kota yang memiliki romantisme tersendiri yang engga bisa ditemui di negara lain, kota yang punya daya tarik yang tinggi dengan breath-taking landscape-nya. ^^
Semenjak gue suka lagu ini, Paris menjadi salah satu list kota yang ingin gue datangi. 🙂
Je veux vous qu’un jour, Paris …
