#np King of Convenience – Sorry or Please, Little Kids, Parallel Lines
Sebuah rasa rindu menghantui pikiran saya belakangan ini.
Rasa rindu yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya. Hadir melalui mimpi-mimpi, kadang pun hadir di dunia nyata ini.
Beberapa hari ini, saya menerima beberapa kabar baik, dan juga membuat saya bersedih hati.
Alhamdulilah, Minggu 29 September lalu, kedua orang tua saya sudah terbang menuju Tanah Suci untuk melengkapi rukun Islam ke-5, menunaikan ibadah Haji. Ayah mengirimkan pesan singkat ke ย nomor saya di Jerman,
“Alhamdulilah Ayah dan Mama sudah tiba di Jeddah pada jam 9 pm. Kondisi kami baik-baik saja. Mohon doanya semoga dilancarkan. amin. Apendi”
Saya lega mendengarnya. Di satu sisi saya senang mendengar bahwa kedua orang tua saya baik-baik saja, di lain sisi saya cukup sedih karena tidak bisa ikut mengantar mereka ke embarkasi. Saya sudah pergi lebih awal ke benua Eropa sebelum orang tua saya pergi untuk Haji. Saya pergi, Orang Tua saya pergi, dan kedua adik saya tinggal di rumah.ย
‘Baru pertama kali ini, saya, orang tua dan kedua adik saya terpisah di tiga negara. ๐ Saya agak sedikit sedih karena tidak bisa menjaga adik saya langsung, terutama Fathia, adik saya yang paling kecil, masih berumur 8 tahun.ย
Dia tentu akan sedih melihat orang tuanya tidak bersama dia selama lebih dari satu bulan, saya sendiri meninggalkan dia selama 1 tahun, dan adik saya yang masih kuliah akan disibukkan dengan kegiatan di kampus. Suddenly, I missed my sisters so much. Disini saya merasa betapa beratnya meninggalkan adik saya yang masih kecil. Saya biasa mengantarkan dia ke sekolah setiap pagi, jika mama tidak bisa mengantar. Sekarang dia diasuh oleh Om dan Tante saya, selama Orang tua saya naik Haji.
Rasa ini sampai-sampai membuat air mata terurai di pipi saya.ย
Pada akhirnya saya merasakan menjadi anak ‘rantau’ sesungguhnya, hidup sendiri jauh dari keluarga. bertanggung jawab terhadap diri sendiri di lingkungan baru. Inikah apa yang dirasakan teman-teman saya yang merantau jauh ke IPB dari kampung halamannya?
Beberapa malam terakhir saya seringkali memimpikan kampung halaman saya. Saya bermimpi bahwa saya mendapat kesempatan pulang ke tanah air dalam waktu singkat, dan saya harus kembali ke Jerman segera.ย
Beberapa kali saya bermimpi dalam tidur. DI kamar yang sepi.
Apa ini yang disebut homesick?
Sebenarnya, saya cukup menikmati segala aktivitas yang saya lakukan selama studi di Jerman. Namun, sepertinya kesenangan disini dan rasa rindu menjadi hal yang berbeda dan tidak terkait, tapi saya rasa ada juga kaitannya.ย
Kabar baik lainnya yang saya peroleh adalah Inna, adik saya yang sedang kuliah di IPB, berhasil lolos seleksi sebagai tim paduan suara Agriaswara untuk berkompetisi di Eropa! Alhamdulilah, saya senang sekali mendengarnya.ย
Kemungkinan dia akan berkompetisi di Eropa pada bulan Maret atau April!
Saya masih berada disini sampai bulan Juni, jadi kemungkinan saya bisa menemui dia, semoga saja negaranya tidak jauh dari Jerman. ๐
September akan berakhir segera. Tak terasa sudah 1 bulan saya berada di Goettingen, kota kecil yang sangat ‘student-friendly’. Musim panas telah resmi berakhir. Dan Selamat datang musim gugur. Udara dingin telah datang dan siap menusuk tulang.ย
Saya sangat suka dengan musim gugur. Meski dingin, mata kita akan dimanjakan oleh pemandangan yang mungkin tidak bisa diperoleh di kampung halaman saya. Saat musim panas, daun masih berwarna hijau, namun saat musim gugur, warna daun senantiasa berubah menjadi jingga..
Rasa sepi saya terkadang dihapus setelah melihat daun-daun jingga berjatuhan di atas tanah.. ditemani semilir angin , Cantik sekali..ย
DI musim gugur, Perjalanan dari asrama menuju gedung les bahasa menjadi lebih syahdu saat saya mengendarai sepeda ditemani oleh daun-daun jingga yang berguguran dimana-mana. ๐
Semoga akhir September ini bisa menjadi penanda bahwa saya harus bisa lebih kuat dari sebelumnya. Saya harus menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya.ย
Goodbye September, Welcome October.ย
ย