Beribadah Solat di Negeri Minoritas Muslim

Terbiasa hidup di lingkungan mayoritas muslim telah membuat saya mengalami syok budaya saat saya memulai untuk belajar di negara Jerman. Mungkin kita pernah mendengar istilah “cultural shock” atau “syok budaya”. Syok budaya bisa diartikan dengan kondisi seseorang menemui beberapa hal yang tidak biasa dilakukan/dirasa/dialami di negara asalnya, namun akan menjadi bagian dari hidup dia dalam jangka waktu yang cukup lama. Maka, dia akan mengalami hal-hal yang tidak terduga sebelumnya.

Kali ini saya akan berbicara tentang cultural shock dalam hal beribadah. Sebagai seorang muslim, tentu dimanapun, kapanpun, saya harus tetap menjalankan ibadah solat lima waktu.

Biasanya kalau di Bogor (tempat tinggal saya), kalau mau solat, ya langsung solat saja. Tinggal cari Masjid atau Musola terdekat. Musola pasti selalu ada di berbagai sudut kota, di stasiun, di supermarket, di pasar, di kantor, dll. Keran air untuk wudhu pun tersedia di dekatnya. Intinya sih, Allah memberikan kemudahan dari fasilitas yang disediakan.

Berbeda sekali jika beribadah di suatu negara yang masyarakatnya mayoritas non-muslim. Dari pengalaman sebelumnya, saya seringkali mengalami kesulitan-kesulitan untuk melakukan solat. Untung saja, Agama Islam selalu memberikan kemudahan di saat kesulitan datang. Jika memang tidak ada ruang untuk solat (atau ruang yang bersih), kita diperbolehkan untuk solat dalam posisi duduk. Seringkali saya melakukan solat dalam posisi duduk, saat menunggu kereta di Shanghai, saat naik pesawat, bahkan saat perjalanan dengan bus.

Pernah suatu ketika, saya sedang berada di tengah kota Tokyo. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Karena saat itu sedang musim dingin, maka waktu gelap akan lebih cepat. Saat itu, saya belum menjalankan ibadah solat asar. Karena saya tidak tahu harus kemana, saya pun memutuskan untuk solat dalam posisi berdiri di pinggir jalan dekat telepon umum. tapi tidak melakukan sujud dan ruku (saat itu sedang gerimis). Pada awalnya, saya merasa ‘awkward’ dengan apa yang saya lakukan. tapi daripada saya tidak solat sama sekali, dan keburu masuk waktu magrib.. saya pun Solat saja dengan keadaan apapun. ๐Ÿ™‚

Lucunya, selama kurang lebih 3 minggu saya tinggal di kota Goettingen ini, saya mengalami banyak kejadian yang bisa disebut lucu, atau mungkin kejadian yang membuat saya engga tahu harus bagaimana.

1 Minggu terakhir ini, saya sudah disibukkan dengan kegiatan les intensif bahasa Jerman selama 1 bulan penuh. Jadwal kegiatannya pun padat sekali, jadi harus pintar2 mengatur waktu untuk solat zuhur dan asar. Kelas dimulai pukul 9.30, dan berakhir pada pukul 4 sore. Itu pun masih ada acara tambahan sampai jam 9 malam.

Untungnya waktu istirahat makan siang yang diberikan itu 1,5 jam. Jadi bisa diatur-atur untuk waktu makan dan solat. DI gedung tempat saya les, tentunya tidak ada musola bahkan masjid di dalamnya, jadi kalau mau solat, saya akan duduk di suatu tempat, kemudian menjalankan solat. Untuk berwudhu, saya menggunakan wastafel air di toilet. Saya sendiri kurang enak jika saya melakukan wudhu pada saat toilet ramai. Bukan maksud malu terhadap agama sendiri, tetapi saya pun perlu bisa menempatkan diri sebagai seorang minoritas.

Toilet di negara-negara Eropa pada umumnya berupa toilet kering. Jadi sebisa mungkin lantai itu tidak ada air yang berceceran. Terkadang kalau kita berwudhu, otomatis air-air cipratan akan jatuh ke lantai dan membuat lantai jadi basah. Jadi saat saya berwudhu, saya benar-benar harus berhati-hati sekali menggunakan air. Jika memang airnya agak berceceran, saya harus mengelap dengan tisu kering.

Selama kegiatan les berlangsung, saya umumnya menunaikan ibadah solat di kelas atau di kursi lobi. Kalau kursi lobi, saya harus mengecek dahulu apakah di lobi sedang ramai atau tidak. Saya akan solat di kursi lobi kalau suasana tidak terlalu ramai.

Suatu ketika, saya pernah solat di kursi lobi gedung les. Saya duduk menghadap dinding kaca bening, kaca itu bikin halaman depan gedung jadi terlihat dari dalam. Saya memulai solat, saya biarkan mata saya terbuka, supaya tidak terlihat mencurigakan. Saya pun membaca takbir, lalu membaca Al-Fatihah. Mata saya masih terus menatap lurus ke kaca bening itu. And, you know what? Tepat saat saya membaca surat-surat Al-Qur’an, seorang laki-laki dan perempuan berdiri tepat di depan mata saya, dan kemudian mereka berciuman mesra!

Astagfirullah, seketika saya kaget, mata saya disuguhkan oleh pemandangan dua orang yang sedang memadu kasih, dan super mesra, alhasil,bacaan saya diselingi dengan kata-kata “Astagfirullah..”. Dari situ, saya langsung memejamkan mata. Mungkin lebih baik.

Keesokan harinya, saat istirahat makan siang, saya pun ingin menunaikan solat zuhur di dalam kelas. Saat itu waktu menujukkan pukul 14.20. Kelas akan dimulai kembali pukul 14.30. Awalnya saya cukup senang saat melihat kelas masih kosong. “wah bisa solat dengan khusyuk nih” pikir saya. Saya pun duduk mengambil posisi. membaca niat, lalu mengumandangkan takbir dengan bisikan. Tiba-tiba…

“Guten Tag!” teriak seseorang dari arah pintu. Saya tersentak kaget melihat Frau Gabi, guru bahasa Jerman saya masuk kelas. Saya yang baru saja memulai rakaat pertama solat merasa tidak enak kalau tidak membalas sapaan, saya pun jadi membatalkan solat, dan menyapa “Gutten Tag Frau Gabi..” sambil tersenyum.

Saya jadi salah tingkah sendiri, sedikit kesal juga karena salat saya diganggu oleh kedatangan orang. Alhasil, saya langsung keluar kelas dan mencari kelas kosong untuk melakukan solat. Alhamdulilah, ada kelas kosong dekat situ.

Hal yang sama saya alami pada saat ada pesta makan malam di asrama teman saya asal Korea Selatan. Dia mengundang beberapa teman dekat untuk makan malam dan bersenang-senang di lounge asrama. Saat itu waktu menunjukkan pukul 9 lewat beberapa menit, dan saya belum melakukan solat Magrib.

Saat itu, suasana pesta sedang ramai-ramainya orang mengobrol, tapi makanan sdah habis. Saya pun ke toilet ke wastafel, kemudian saya mencari sofa yang jauh dari kerumunan, dan menghadap berlawanan dari posisi mereka, supaya tidak terlalu terlihat. Saya pun duduk, dan memulai solat.

Saat tahiyad akhir, saya lega karena tidak ada yang lewat di sofa dekat saya dan melihat apa yang saya lakukan. Namun saat saya mengucapkan assalamuailaikum dua kali sambil menengokan kepala ke kanan dan ke kiri. Tiba-tiba kepala Han Byeol (teman se-asrama) muncul di samping saya.

“Oh are you praying?” tanya dia agak sedikit kaget pas liat mulut saya masih berkomat-kamit, melafalkan sesuatu.

“Yeah I was praying, but now it’s finished already.. ” jawab saya sambil senyum.

“Oh sorry, I don’t know.. is it ended?” dia ngerasa ga enak.

“yeah, it’s okay, it’s finished now, don’t worry, hehe” jawab saya dengan tenang. ๐Ÿ™‚

Pada awalnya, saya cukup kaget melihat bagaimana saya harus solat disini, ingin kembali ke asrama untuk solat dengan posisi normal, namun kadang waktu tidak cukup, sehingga harus menyiasati dengan solat dalam posisi duduk.

Akan tetapi, dari pengalaman ini, saya bisa memetik suatu hal, bahwa ibadah solat adalah sebuah kebutuhan yang dilandasi niat yang tulus. Meski terkadang, kita tidak diberi tempat dan waktu yang sesuai dengan kita inginkan.

Namun, saya percaya Allah SWT itu Maha Tahu dan Maha Pendengar. Melalui solat, saya menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah SWT. Beribadah di negeri yang mayoritas penduduk non-muslim cukup banyak mengajarkan saya, bagaimana saya harus bersyukur karena di kampung halaman saya bisa beribadah dengan mudah, tanpa takut diganggu oleh siapapun, tanpa perlu merasa tidak enakan dengan lingkungan sekitar. ๐Ÿ™‚

Inshaallah, semoga selama studi disini, saya bisa terus menjalankan ibadah wajib, SOLAT di waktu yang tepat dan tempat yang tepat. amiiinn… ๐Ÿ™‚

Salam,

Annisa Hasanah

  • perjuangan ya mba ๐Ÿ™‚

  • wuah, jadi malu sendiri nih, bacanya.
    Masih suka molor sholat tepat waktu.
    Terima kasih nisa ๐Ÿ™‚
    Semoga dimudahkan selama di sana. Aamiin…

  • kamu keren banget annisa, saya terdampar liat post kamu di beijing krn maret ni saya juga mau nyentuh great wall, trus saya seneng banget km post ttg german, salah satu mimpi saya buat kesana. dan saya makin kagum dgn post kali ini, sampai begitunya, penuh perjuangan. keren

  • ica

    keren mba ๐Ÿ™‚
    btw, kenapa ndak bawa sajadah saja dan cari ruang kosong untuk solat di tempat les/di rumah temannya? supaya bisa solat sambil berdiri hehe