Alkisah Sehelai Jilbab

Why are you wearing that?” celetuk salah satu temen asing  sambil nunjuk-nunjuk ke arah kepala gue.

Sudah 2 bulan tinggal di Jerman, isu Agama dan budaya selalu menjadi sasaran untuk seorang minoritas dan bagi gue sendiri itu menjadi salah satu hal yang menarik untuk dikupas dalam blog ini. J

Sudah kesekian kalinya, orang asing yang tidak tahu betul dengan agama Islam bertanya dengan rasa penasaran tentang kain yang dibalut di kepala gue, ya Jilbab. Kebanyakan dari mereka bertanya “Mengapa kamu pakai jilbab?”. Mengapa? Why?

Gue kadang terheran-heran sendiri ketika ditanya itu, gue sendiri seringkali unprepared untuk menjawab pertanyaan itu. Terbiasa tinggal di kota mayoritas muslim, terbiasa menjadi muslimah berjilbab yang dikelilingi oleh kebanyakan muslimah yang juga berjilbab entah kenapa justru membuat gue terlalu nyaman. Hingga saat diberi pertanyaan ini, gue hanya bisa memberi jawaban standar, “karena ini disarankan agama”. Itu pun gue menjelaskan dengan bahasa Inggris yang berbelit-belit.

Karena sudah berkali-kali mendapat pertanyaan itu, gue sendiri jadi bertanya pada diri gue sendiri,

“kenapa gue pakai jilbab ya?”

Pertanyaan di atas bukanlah bentuk keraguan terhadap agama Islam, namun pertanyaan semacam bentuk kontemplasi terhadap logika dan spiritualitas bagi diri gue sendiri.

“Ada apa dengan sehelai jilbab yang menyelubungi kepala?”

Sebelum mendapat jawaban itu, gue ingin cerita pengalaman gue selama disini.

Sebelum gue berangkat ke Jerman, salah satu dosen gue yang pernah sekolah disana membuat ledekan sekaligus pesan, “hati-hati lo disana nanti kamu bisa lepas jilbab.. hehe”.

Awalnya sih respon gue hanya, “ya engga atuh pak.. “. Bentuk respon yang gue sendiri engga tahu apa itu benar mungkin terjadi?

Mungkin kita seringkali mendengar atau bahkan kita sendiri melihat teman perempuan baik dekat atau jauh yang memutuskan untuk menanggalkan jilbabnya.

Kalau di Indonesia, reaksi pertama mendengar kabar itu pasti kebanyakan seperti, “ih kok gitu banget sih?” atau “Wah ga kuat iman tuh!” dan lain-lain.

Intinya, perempuan yang melepas jilbab itu (seolah-olah) berubah menjadi tidak beragama.

Gue sendiri kurang tahu bagaimana sanksi dari sisi agama bagi perempuan yang menanggalkan jilbabnya dan menampakkan mahkotanya kembali ke semua orang (sekali lagi, pengetahuan agama gue masih jauh dari sempurna L ).

Seringkali gue mendengar juga kalau wanita berjilbab pergi sekolah ke negara-negara barat, misal Eropa atau Amerika. Banyak dari mereka pulang-pulang melepas jilbabnya, dan bahkan ada yang berubah secara drastis dengan berpakaian yang sangat menonjolkan aurat (misal: keliatan ketek gitu, hehe).

Awalnya, gue hanya beranggapan fenomena itu tentu diakibatkan oleh pergaulan dan lingkungan sekitar. Dan pada akhirnya, gue akui kalau gue pun mengalami beberapa kondisi yang sangat rentan untuk ‘menggoyahkan’ iman untuk bertahan dengan jilbab.

Dari pengalaman disini, gue menemukan banyak hal-hal yang tidak gue duga sebelumnya mengenai wanita muslim di dunia ini. Ada banyak cara pandang di tiap-tiap wanita muslim di seluruh dunia ini. Bahkan beberapa diantaranya membuat gue cukup syok, karena itu (bagi gue pribadi) tidak semestinya terjadi atau dilakukan oleh wanita muslim. Gue pernah bertemu mahasiswi dari Iran di Goettingen International Office, saat itu gue dan dia sedang menunggu orang yang sama. Gadis Iran itu menggunakan jilbab, tapi poni dan rambut bagian belakangnya nongol keluar alias keliatan. Gue ketawa geli sendiri saat itu, pertanyaan pertama yang muncul dari benak gue, “kalau rambut masih nongol-ngongol gitu, untuk apa berjilbab? hehe”. Gue banyak sekali menemukan wanita Iran yang tidak pakai jilbab, namun masih berpakaian sopan dan tertutup. Iran di mata gue adalah salah satu negara Islam yang cukup kuat dan berpengaruh di dunia. Awalnya gue mengira hampir semua wanita Iran itu berjilbab dan patuh pada agama. Namun apa yang gue lihat di Jerman tentang wanita Iran ini sungguh berbeda.

Ada senior gue di departemen yang asalnya dari Iran. Dia tidak pakai kerudung, berpakaian layaknya orang Eropa. Namun ternyata pas welcome party, dia minum bir.

Itu semacam dua hal yang sangat kontradiksi bagi gue.

Dulu gue pernah baca artikel bahwa wanita-wanita Iran membuat pemberontakan akibat ketidakadilan atas kebijakan yang dibuat oleh mantan presiden Iran, Ahmadinejad. Menurut artikel itu, laki-laki sangat dominan dalam membuat keputusan, dan wanita-wanita Iran terkungkung dan tidak bebas. Misalnya, laki-laki diperbolehkan menikah lagi tanpa perlu mendapat izin dari istri pertama. Intinya, peran wanita terabaikan. Sehingga wanita-wanita Iran membuat pemberontakan dengan mengubah cara berkerudung mereka. Gue liat di artikel itu sih, mereka berjilbab dengan memunculkan jambul rambutnya. Apa mungkin wanita-wanita Iran yang gue lihat saat ini adalah salah satu produk dari kebijakan Ahmadinejad? Atau bahkan tidak ada kaitannya sama sekali dengan kebijakan sang presiden kontroversial itu?

Di sisi lain, gue sangat bersyukur tinggal di negara yang memberikan kebebasan bagi warganya untuk memutuskan kapan mereka ingin menggunakan jilbab. Gue sendiri bersyukur punya orang tua yang tidak mengatur keputusan gue berjilbab, semua keputusan ada di tangan gue sendiri, semua tanpa paksaan pihak lain, bahkan bukan dari unsur politik dan kebijakan negara. 🙂

Kemudian, saat gue sedang naik kereta dari Dresden menuju Praha, gue ketemu gadis super cantik bermata biru dan berkulit putih yang duduk di depan gue. Dia celana jins merah ketat dan kaos hitam superketat hingga lekuk-lekuk tubuhnya sangat terlihat, rambutnya terurai panjang. Gue kira dia orang Jerman atau somewhere from Europe, tapi ternyata gadis itu berasal dari Palestina!

Selama ini, setiap kali denger kata Palestina, gue selalu membayangkan peperangan, dan warganya sangat kesusahan dan sedih karena kepergian sanak saudara yang berusaha meloloskan diri atau sedang berjihad dalam perang. Gue membayangkan Palestina sudah terkepung oleh tentara Israel, dan warga Palestina terjepit di dalamnya dan engga bisa keluar. Makanya, kenapa banyak ormas-ormas Islam membela Palestina supaya bebas dari perang. Untuk wanitanya, gue membayangkan wanita-wanita Palestina itu berpakaian supertertutup. Itulah Palestina di mata gue. (bagaimana dengan kamu?). Dan apa yang gue liat di depan mata gue lagi-lagi sebuah kontradiksi.

Lalu, guru bahasa Jerman gue untuk semester ini adalah wanita muda asal Kazakhstan bernama Anara Mugslova. Dia tidak pakai jilbab. Saat hari pertama les, teman gue dari China bertanya, “bist du muslimah?” (are you muslim?)

Anara menjawab dengan enteng, “ Ich bin muslimah (saya seorang muslim), but I am not kind of extreme muslimahI don’t wear this thing (sambil memegang kepalanya – yang dimaksud adalah pakai jilbab), und Ich mag zweinfleisch essen (saya suka makan babi), and my family is not a strict one (keluarga saya tidak strik untuk hal-hal tersebut)

Kalau ga pakai jilbab sih masih wajar, tapi gue kaget dengan pengakuan dia kalau dia makan babi.

Lucu saat dia bilang dia bukan muslimah ekstrim. Berarti kalau sesuai definisi dia, gue adalah muslimah ekstrim yang memakai jilbab dan tidak mau makan babi. Hahaha.

Well, Itulah segelintir cerita mengapa ada beragam pandangan-pandangan bagi wanita muslim yang gue temui di Jerman ini. Dan gue rasa pengalaman ini membuat gue bertanya kembali, dan mungkin dialami oleh wanita-wanita berjilbab lainnya, “mengapa saya memakai jilbab? Sedangkan yang lain tidak?”

Sepertinya pertanyaan itu jika digabungkan dengan pengaruh lingkungan di dunia Barat akan berpotensi menggoyahkan hati wanita muslim. Mungkin saja akan muncul dua hasil akhir, menanggalkan jilbab  atau tetap bertahan dengan jilbab yang dipakai (bahkan memperkuat kembali niat kita untuk menutup aurat).

Gue sendiri terus dihujani pertanyaan, “kenapa kamu pakai jilbab? Kenapa teman kamu yang lain yang juga muslim engga berjilbab? Kenapa engga semua muslim berjilbab?”.

Gue sendiri merasa bukan seorang pemuka agama dibuat bingung untuk jawab. Gue pribadi sulit menjelaskan  dalam bahasa Inggris (I wish someday Bahasa will be used as international official language!). Akhirnya gue pun mencoba menjawab, kurang lebihnya seperti ini…

In Islam, women are asked to cover all of their body, except face and hands with proper clothes, and I wore this (jilbab) because I want to learn about how to ‘protect’ myself, and now I feel so safe and getting closer with my God..

Teman gue menjawab, “oh so because of the religion right?

Gue : “yes exactly, but for me, decision of wearing Jilbab is depend on ourselves, every woman has different time when she decide to use it

Dia pun nanya lagi, “but why the other muslim women don’t wear like you also?

“ it’s depend on her spiritual things. For me, there is no force to wear this, you can decide.. I decided to wear Jilbab when I was 16 years old, there was like a ‘spiritual call’ from nowhere, my intention to wear it was getting increased day by day, and then I decided to wear Jilbab.. and I’m happy for it

Temen gue pun mengangguk paham. Gue sedikit puas bisa menjelaskan secara tersirat ke temen gue bahwa ajaran dalam Agama Islam bukan suatu paksaan untuk umatnya. Tapi umatnya yang memutuskan apakah kita benar-benar yakin dan siap untuk itu ^^ (please correct my answer if I’m wrong, thanks).

Ada pepatah yang berkata, “When you feel like quitting, remember why you started.” Pepatah ini sepertinya cocok bagi untuk mencari tahu jawaban dari pertanyaan pertama gue. Godaan bisa datang dari mana saja, kapan saja. Salah satunya dalam mempertahankan jilbab yang gue kenakan. Jika gue bertanya ke diri gue sendiri, “kenapa gue pakai jilbab?”.

When you feel like quitting, remember why you started.”

Jawaban yang tepat adalah “why you started?”

27 Oktober 2004 adalah hari bersejarah dalam hidup gue. Hari itu gue memutuskan untuk pakai jilbab. Saat itu gue duduk di bangku SMA kelas 1. Hari itu juga adalah salah satu hari di bulan suci Ramadhan. Beberapa bulan sebelum memutuskan pakai jilbab, gue sama sekali tidak ada niatan untuk memakai jilbab, bahkan gue pernah berkumandang pada diri gue sendiri kalau gue akan pakai jilbab kalau gue sudah menikah dan punya anak (haha).

Dan, Alhamdulilah hidayah itu datang di waktu yang tak terduga. Hidayah gue memakai jilbab jatuh di bulan Ramadhan. Satu malam, gue merasa mendapat ‘panggilan spiritual’ yang mengajak gue untuk memakai jilbab. This is a truth to be told. Tiba-tiba gue merasa seneng liat teman-teman sekitar gue yang berjilbab, rasanya indah, tenang dan nyaman. Zaman itu, tren hijabers masih belum ada. Perempuan pakai jilbab cukup sederhana saja. Ditambah lagi, gue liat iklan samphoo Sunsilk yang dibintangi Inneke Koesherawati yang saat itu sudah berjilbab. Wanita berjilbab bisa jadi bintang iklan sampho??!

Tentu bisa donk! di iklan itu, gue liat Inneke yang memakai jilbab putih (cantik banget) bergaya  sangat ‘fresh’ dan ‘sejuk’ dengan menampakkan raut wajah yang segar. Keseringan liat iklan itu, gue nambah terdorong untuk ingin berjilbab juga (thanks Sunsilk dan mbak Inneke!). Sebelum gue membuat keputusan berjilbab, gue bertanya-tanya ke senior-senior yang lebih dulu mendapat hidayah. Pertanyaannya itu seputar rasa bimbang dan rasa takut gue kalau memakai jilbab (sama seperti perasaan takut saat melakukan solo travelling, dan pada akhirnya apa yang gue takutkan itu sbenarnya tidak ada 🙂 ).

Hanya dalam hitungan 1-2 minggu, awalnya bimbang 100% sampai yakin 100%, gue pun memutuskan untuk pakai jilbab. Alhamdulilahirrabilalamin.

Terima kasih atas hidayah-Mu ya Allah.. Semoga saya bisa terus beristiqomah sampai akhir hayat.

Setiap kali mengingat cerita bagaimana gue memutuskan untuk berjilbab, rasa indah, nyaman, dan sejuk selalu terngiang-ngiang di memori gue.  Semua mengalir begitu saja dengan indah, tanpa ada paksaan dari siapapun. 🙂

Sampai detik ini, gue masih sangat nyaman dengan gue yang sekarang, memakai jilbab namun tetap berusaha untuk modis, hihi. (berjilbab bukan berarti tidak modis bukan? J ).

Gue hanya terus berdoa kepada Allah SWT untuk selalu dikuatkan hati gue untuk tetap selalu berada di jalan yang benar. Insha Allah. Tidak mudah goyah dengan godaan yang sifatnya hanya sesaat. Perlu diakui, tinggal sendiri di negara maju yang minoritas muslim (dimana warga aslinya justru mengedepankan nilai sains dan mengabaikan nilai-nilai agama) bukan perkara mudah bagi seorang wanita muslim, tepatnya bagi gue sendiri. Ternyata untuk bisa ‘bertahan’ hidup, bukan hanya bermodalkan otak yang pintar dan social skills yang tinggi saja, tetapi juga nilai spiritual yang harus terus dikuatkan. J

Tulisan ini hanya pandangan-pandangan saya pribadi saja, tidak ada niatan untuk menyindir secara negatif kepada siapapun. Semoga cerita saya ini bisa jadi bahan sharing bagi muslimah-muslimah yang insha Allah akan terus berada di jalan Allah SWT.

Sekian cerita dari saya. J

Salam,

Annisa Hasanah

Master Exchange Student, Georg-August Universitat Goettingen, Germany

Gambarng

  • Nisa, pulang2 jangan makan babi ya. oink2

    • ceritadarikotahujan

      Siap ndra!! 😉

  • sip, semoga tetep berhijab seterusnya amiiin 🙂

  • Semangat Annisa. Keep Istiqomah ya..

  • hana hanifah

    assalamu’alaikum kak. kak aku anak kls 12 yg mau lanjut study ke jerman juga aku berhijab kak. aku bingung ttg yg satu ini kak. aku kepingin bgt buat mempertahankan hijab aku tp aku pernah denger cerita2 ttg kakak kls kursus aku yg masih mempertahankan hijab. aku bingung bgt kak tp aku kepingin bgt mempertahankan hijab hana kak. thanks kak